Prajurit SMA

Prajurit SMA
Patah hati seorang prajurit


__ADS_3

“Wooah…, Bima, aku nggak nyangka kamu bakal ngelempar ember ke anu Letnan Nio. Serius, apa yang kamu pikirkan saat melakukannya?”


Aksi yang dilakukan Bima sepertinya telah membangkitkan sesuatu dalam diri Hassan, karena dia memandang Bima dengan tatapan kagum.


“Apa maksudnya?!” teriak Bima.


Ferdi menyambung pembicaraan, “Ukuran bukanlah yang terpenting. Tapi hanya karena area kita dengan para perempuan dibatasi dengan tembok, ini bukan berarti kalian bisa membicarakan hal itu, karena bisa saja mereka mendengarnya” . Itu seperti yang diharapkan dari seorang mantan pengajar di salah satu SMP di wilayahnya, yakni Garnisun Sumbawa Barat.


Dengan begitu, Bima melirik Nio – yang mengambang di air dan mulutnya berbusa – seperti terkena peluru nyasar dengan ember menutupi anunya yang tersiksa. Bima mengabaikannya, meskipun sedikit rasa bersalah ada di dalam hatinya.


“Yah, Pengajar (Ferdi) benar. Mungkin seharusnya kita melakukan hal ini ketika obrolan malam,” ucap orang yang memulai event pemilik anu terbesar, Sigit.


… Sementara itu, ukuran rudal Nio menurut mereka tidak masuk akal, dan para laki-laki bertanya-tanya bagaimana anu Nio bisa seperti itu… dan pastinya mereka tidak memiliki sesuatu untuk mengeceknya.


“Umm… para perempuan sepertinya sedang membicarakan sesuatu.”


Wajah semua orang menoleh ke arah Yogi – yang sedang menempelkan telinganya di tembok pembatas dengan alat penyadap suara di telinganya.


“Kenapa dia bisa membawa alat itu ke sini?” ucap wakil kapten Tim Ke-12, Hassan.


“Seperti yang diharapkan anggota termuda kita. Tapi, Yogi, sepertinya kau terlalu banyak membaca komik Jepang,” ucap Agus.


“Ya, sepertinya dia sedang membicarakan otot dan sesuatu yang ‘panas’,” ucap Ardi yang meminjam alat penyadap suara milik Agus.


Namun, sebenarnya gadis-gadis di sisi lain tembok pembatas juga mencoba menguping pembicaraan para laki-laki tanpa alat penyadap suara, dan hanya mendapatkan informasi seadanya.


“Oh ya, otot mereka sepertinya panas.”


“Ya. Dan meskipun kita hampir tidak bisa melihatnya, aku suka ketika melihat mereka lari sambil bertelanjang dada dan kaki, itu memperlihatkan otot tubuh, betis, dan pergelangan kaki yang nampak kokoh.”


“Oh, dan aku melihat ini pertama kali saat aku bergabung dengan Tim Ke-12. Sebenarnya, aku sangat suka tampilan tangan Letnan Nio ketika dia memegang rokok!”


“Ya, kau benar Ika, saat tangan Letnan Nio berkeringat dan dia menyisingkan lengan bajunya, aku bisa melihat tangan coklat gelapnya yang belang… dengan pembuluh darah yang timbul di antara otot-otot itu…”


Gita dan Ika sama-sama panas ketika membicarakan hal itu, dan gadis-gadis lainnya mulai bereaksi sama dengan mereka berdua.


Kemudian, Gita melanjutkan perkataannya, “Dan bekas luka yang dia miliki sangat keren. Itu terlihat seperti bekas dari luka yang menyakitkan… itu… itu… agak… kalian bisa membayangkan ekspresi Letnan dan para laki-laki saat mereka terluka dan mendapatkan bekas luka seperti itu.”


Gita, Ika, Zefanya, Sheyn membayangkan para laki-laki memamerkan bekas luka dan membandingkannya.


Aku mendapatkan bekas luka ini saat bertarung di tempat ini, atau, aku mendapatkan yang ini ketika pedang musuh hampir memenggal kepala seorang perempuan, atau, luka yang ini kudapatkan ketika kabur dari penjara musuh. Ini adalah jenis cerita yang hanya bisa dilakukan para laki-laki, dan sangat jarang para perempuan memperlihatkan bahkan memamerkan bekas luka yang mereka miliki.


Gadis-gadis itu tidak tahu alasan apa bagi mereka yang beralih dari obrolan mengenai pria ke cerita bagaimana para laki-laki mendapatkan bekas luka dan otot mereka, tapi begitulah sifat dari obrolan bebas. Para laki-laki mungkin juga melakukan hal yang sama ketika obrolan semakin lama dan melenceng jauh dari topik utama.


Tapi, itu mengingatkan Zefanya dan Sheyn mengenai bekas luka yang cukup banyak di tubuh Nio, yang membuatnya meringis seperti bisa merasakan penyebab bekas luka tersebut. Bekas luka di dada, pinggul, dan tangan yang merusak penampilan sempurna pemuda itu. Yang paling menonjol dari semua bekas luka di tubuh Nio adalah pada bagian wajah dan lehernya. Semua anggota Tim Ke-12 tidak pernah bertanya bagaimana kapten mereka mendapatkannya, tetapi setiap bekas luka itu adalah pengingat dari pertempuran dan pertarungan yang Nio jalani. Kebanyakan dari bekas luka yang dimiliki Nio mungkin adalah kenang-kenangan dari pertempuran besar pertama dengan Aliansi.


Dan saat tersadar dari khayalannya, wajah gadis-gadis menjadi semakin merah. Mereka memperhatikan hal-hal seperti perbedaan warna kulit asli para pria dengan warna kulit coklat gelap yang berotot mereka yang menjadi bukti lamanya mereka di medan perang.


Nio mungkin akan segera berhenti dari fase remaja dan akan memasuki fase dewasa awal, tetapi melalui tubuhnya tak diragukan lagi dia telah menjadi pria yang tampan … menurut penilaian perempuan Indonesia atau Asia kebanyakan. Para gadis Tim Ke-12 sering mendapatkan kesempatan untuk melihat para anggota pria saat mengenakan kaos seragam – yang memperlihatkan lekuk tubuh mereka, dan para anggota perempuan sulit untuk mengabaikan hal itu.


“Ratu Sigiz…”


Ratu negara tuan rumah, Sigiz, melirik ke arah gadis-gadis Indonesia, Korea Utara, dan Rusia Tim Ke-12 , lalu ada juga Sheyn, Kambana, Zarif, Edera, Lux yang mengelilingi dirinya seperti sekelompok singa yang memojokkan mangsa tak berdaya.


“Ada apa?” Sigiz menjawab dengan wajah tegang.


Mereka semakin mendekat, dan jumlah mereka banyak. Mata mereka nampak berkilau saat mereka mengamati setiap jengkal tubuh Sigiz, dan itu membuatnya merasa cukup terintimidasi.


“Kulit Anda sangat halus, Ratu Sigiz.”


“Tidak ada kulit yang belang, tidak ada bekas luka… bisakah aku menyentuhnya?”


“Tenang saja, Yang Mulia, aku akan menyentuhnya selama satu… tidak, tiga detik.”


“Eh… tunggu…”


Upaya perlawanan Sigiz terhadap gadis-gadis ‘dunia lain’ terhenti dalam sekejap. Tangan menggerayangi tubuhnya dari segala arah, dan membelai kulitnya. Sigiz hanya bisa menjerit sambil sesekali mendesah pelan. Lalu, tak terdengar lagi suara dari wilayah para pria.


**


Para pria yang sedikit pusing, dan Nio yang telah melewati cobaan berat, dan para gadis yang terlalu banyak bermain-main kelelahan sebelum menyelesaikan mandi mereka. Semuanya meninggalkan pemandian dan menghabiskan waktu bersantai di ruang khusus.


Ini adalah penginapan – atau para tamu undangan dari ‘dunia lain’ menyebutnya dengan hotel – terbaik yang dimiliki Kerajaan Arevelk. Meskipun bangunan ini bergaya kuno, namun beberapa teknologi baru terus ditambah – seperti jendela kaca dan sofa lembut yang diimpor dari Indonesia. Pihak tuan rumah memesan banyak sofa besar yang dapat digunakan satu atau dua orang untuk berbaring atau tidur.

__ADS_1


Ruang bersantai tidak didinginkan dengan AC, tetapi menggunakan ventilasi yang berjumlah cukup banyak pada bangunan ini, sehingga udara sejuk dapat memasuki ruangan. Para pelayan yang mengenakan pakaian pelayan tradisional Arevelk berjalan di ruangan ini, dan membawa nampan berisi teko berisi minuman dan gelas.


Sofa-sofa dengan label bertuliskan [100% BUATAN INDONESIA] yang belum dilepas sangat empuk dan cukup nyaman untuk digunakan tempat tidur. Tenggelam dalam kenyamanan, Nio memejamkan mata beberapa menit, tetapi kemudian membuka kelopak matanya lagi karena takut tertidur.


Satu bulan lebih dia dan bawahannya tidur di tempat tidur lapangan ketika menjalankan tugas menjaga Zona Perbatasan Ke-21. Kali ini, tim tersebut untuk sementara diistirahatkan dari kegiatan dan tugas, yang berarti perintah bagi mereka untuk menjadi perwakilan kontingen Indonesia adalah kesempatan untuk berlibur di saat rekan-rekan mereka yang lain sibuk melaksanakan tugas. Nio bisa membayangkan wajah-wajah prajurit yang iri jika mereka tahu para perwakilan kontingen masing-masing negara dapat bersantai di penginapan semewah ini. Dia merasa tidak bisa terus hidup di garis depan, dan layak mendapatkan pemandangan baru.


“… Tempat di sebelahmu kosong?”


Nio mendongak, dan dia tahu betul bahwa suara itu milik Gita. Dia tahu jika gadis itu ingin duduk di tempat kosong pada sofa yang dia tempati, dan dia mengangguk pelan sebagai jawaban. Gita kemudian duduk di sampingnya di sofa. Namun dia kembali merasakan jika orang yang duduk di sofa yang sama dengannya semakin banyak, tak hanya Gita saja.


Nio melihat Sigiz dan gadis-gadis lainnya, bahkan gadis Tim Ke-12 duduk di sekitarnya, dan memenuhi sofa yang dia tempati. Rambut mereka masih nampak basah, dan ekspresi mereka semua membuat Nio terdiam.


Menurut Nio, jika hal ini hanya dibiarkan – dan dia tidak segera mengambil tindakan untuk menjauhi para gadis, mungkin dia akan terkena masalah. Itu terbukti dengan para laki-laki dan beberapa pengunjung penginapan – yang menatapnya tajam dengan senjata di tangan dan siap untuk membunuhnya jika dia tidak segera menyingkir dari tempatnya.


Tapi, Nio merasa tidak bisa membiarkan kesempatan yang mungkin hanya akan terjadi sekali dalam seumur hidupnya ini. Jadi, dia akan terus berada di tempatnya sambil dikelelilingi gadis-gadis, dan akan mengurusi para pria itu setelah dia menikmati hal ini. Dia tersenyum kurang ajar ke arah bawahannya dan pria lainnya, sehingga mereka mengaktifkan senapan dari mode aman ke mode otomatis penuh. Hingga seorang pelayan ras Demihuman bertelinga kucing mendekatinya dengan gerakan terlatih, kemudian mengulurkan nampan berisi gelas dan teko yang entah apa isinya.


“Teko ini berisi anggur tanpa alkohol. Ini produk spesial untuk kontingen negara Indonesia dari Arevelk. Jadi, kami sangat bangga dengan kualitas produk anggur tanpa alkohol kami. Kami harap Anda menikmatinya.”


“Terimakasih.”


“Terimakasih banyak.”


Nio dan Hevaz berterimakasih banyak kepada pelayan dan menerima minuman yang dia tawarkan. Perempuan bertelinga kucing itu tersenyum pada mereka, atau mungkin pada Nio.


“Eh, Hevaz?!”


“Kenapa Anda terkejut seperit itu, Tuanku?”


Wajah Hevaz terlihat tidak memiliki kesalahan apapun, meski dia dengan tiba-tiba di samping Nio tanpa disadari pemuda itu. Nio menyerah untuk menasehati Hevaz – meski dia belum pernah berbicara yang sifatnya nasehat dengan gadis itu – dan memilih menikmati kesempatan langka ini dengan tambahan seorang gadis, yakni Hevaz.


“Sayangnya, di masa-masa perang seperti sekarang, tidak banyak variasi makanan yang tersedia. Jadi kami harap Anda tidak keberatan dengan pilihan hidangan yang terbatas.”


Negara-negara anggota Aliansi menutup perbatasan mereka untuk Arevelk dan Yekirnovo, sehingga hubungan perdagangan mereka tidak jelas kelanjutannya. Pertanian yang baru saja dikembangkan setelah melihat banyaknya produk pertanian dari Indonesia, belum cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Bangsawan pemerintahan memerintahkan bangsawan daerah agar mereka menyuruh warga di wilayah masing-masing untuk membuka lahan pertanian baru, atau membuka lumbung lalu dibagi-bagikan hingga masa panen tiba. Setidaknya, persediaan makanan di lumbung masing-masing wilayah Arevelk masih cukup untuk beberapa puluh tahun ke depan, sehingga mereka bisa menyimpan kembali hasil panen untuk masa mendatang.


Memang sebelumnya Arevelk mengandalkan perdagangan untuk mengatasi kekurangan pangan. Tetapi, ketika perang dengan Aliansi meletus, negara-negara anggota perkumpulan tersebut seakan-akan telah menutup diri, dan memutus hubungan dengan Arevelk dan negara baru yang bernama Yekirnovo.


Mereka tidak bisa memberi makan penduduknya dengan makanan sintetis – atau makanan buatan pabrik yang memiliki tampilan dan rasa yang sama dengan makanan aslinya dengan bahan-bahan kimia tertentu yang aman dikonsumsi – seperti yang diberikan negara Indonesia terhadap penduduknya ketika perang dengan bangsa dunia lain meletus hingga selesai. Namun, setelah perang dengan dunia lain selesai, dan hanya tersisa masalah dengan Aliansi, Indonesia tidak lagi memberikan makanan buatan pabrik bagi warga, dan mereka bisa menghidupkan lagi aktivitas pertanian yang sempat mati selama perang.


“Pemandangan di sini sangat indah, tenang, dan di manapun Anda memandang, pemandangannya sangat indah.”


“Kalau yang seperti ini, Karanganyar juga punya, Ratu Sigiz. Mungkin kau harus mendatangi tempat-tempat wisata di Kota Karanganyar suatu saat nanti. Kau akan bisa menikmati pemandangan indah Gunung Lawu, dan memakan makanan yang mungkin ingin kau rasakan.”


Nio tidak bisa selalu mengatakan jika tempat yang memiliki pemandangan indah adalah Bali, Nusa Tenggara, atau Papua, dia merasa harus mempromosikan tempatnya lahir sehingga akan menjadi tempat wisata saingan ketiga lokasi tersebut.


“Ah, mungkin Anda harus mencoba memakan ‘bahan peledak’, Ratu Sigiz,” kata Jonathan tanpa permisi.


“Sialan, jangan ingatkan itu lagi.”


Jonathan terkekeh saat dirinya berhasil membuat Nio menahan malu setelah teringat kenangan ketika masih menjadi personel amatir Kompi 406 Garnisun Karanganyar. Nio hampir tak sadarkan diri setelah mencicipi bahan peledak C-400 yang memilki kandungan bahan kimia jauh lebih berbahaya dari bahan peledak C-4, hingga akhirnya Jonathan dan Rio memukul kepala Nio agar dia tak menjilat lebih banyak bahan peledak tersebut. Untungnya, dia hanya mengalami pusing setelah menjilat bahan peledak di ujung jarinya, dan tidak jadi sekarat.


Wilayah Kota Iztok yang merupakan lokasi berdirinya penginapan ini jauh dari garis depan, dan berkat itu ancaman bagi tamu-tamu mereka tidak sampai ke wilayah ini hingga detik ini. Tidak ada laporan mengenai musuh yang melintasi perbatasan. Tidak ada tembakan meriam yang bergema dari kejauhan. Tidak ada panggilan untuk melakukan persiapan untuk menghadapi pertarungan. Nio tidak terbiasa dengan suasana santai ini, dan terus mengingat pertarungan besar pertama dengan Aliansi.


Dia tidak memiliki bayangan jika suatu saat dirinya akan menjadi tentara, bahkan dia tidak pernah berpikir jika perang tidak akan terjadi selama dia hidup. Sejak menjadi prajurit amatir, dia telah melihat banyak temannya mati di tangan musuh – yang membawa bendera Kekaisaran Luan, dan keributan suasana pertarungan dan latihan seperti telah menjadi latar belakang sehari-harinya. Dia hampir tidak pernah bersantai dengan cukup selama bertugas, bahkan jika dia mendapatkan waktu yang bisa dijadikan untuk bersantai, pasti akan ada beberapa gangguan.


Tapi meski begitu… dia mulai merasa jika dia bisa menerima apa yang tersedia untuknya di sini.


Bagi Nio, menjadi prajurit benar-benar bukanlah impiannya, namun menjadi prajurit untuk melindungi orang-orang yang ingin dia lindungi adalah sebuah keharusnya menurutnya. Dan kehidupan yang penuh dengan kekerasan, keringat, darah, jiwa korsa, dan persaudaraan adalah kehidupan seorang prajurit yang mengesankan dan tak terlupakan, dan itulah arti menjadi prajurit menurut Nio demi untuk mencapai sesuatu yang ingin dicapai. Meski perdamaian dengan Aliansi tidak akan datang besok atau dalam waktu dekat, memberikan perdamaian bagi dunia ini dan dunia asalnya adalah hal yang harus dilakukan sejak dia memutuskan menjadi prajurit, meski itu memerlukan perjuangan yang panjang dan melelahkan tubuh dan jiwa.


Tidak diragukan lagi, Nio merasa takut saat bertarung melawan musuh-musuhnya. Tetapi, jika dia tidak menekan rasa takutnya, itu berarti membiarkan musuh-musuh terus mengganggu perdamaian kedua dunia. Tetapi, pada akhirnya dia bisa melewati semua pertarungan besar dan kecil, dan berhasil bertahan hidup hingga sekarang dengan menekan rasa takut. Dia bahkan tidak bisa lagi mencatat jumlah musuh yang dia habisi sendiri, itu karena dia menekan rasa kasihan dan takutnya terhadap musuh.


Dia juga takut dan patah hati ketika ‘sahabat’ dan ‘mantan’ kekasihnya berada di pihak musuh dan berjuang bersama mereka. Dan begitu dia menyadari perasaan itu, dia tidak bisa membiarkannya terus memenuhi pikiran dan perasaannya atau itu akan mempengaruhi dirinya. Jika mereka berdua menyatakan diri menjadi musuh Indonesia, mau tidak mau Nio tetap harus menghadapinya sambil menekan rasa takut, tanpa harus membiarkan dirinya pasrah menghadapi hal itu.


Nio merasa Jonathan beruntung, karena dia belum tahu jika Indah dan Rio berada di pihak Aliansi. Dia merasa harus membayangkan bagaimana reaksi Jonathan jika dia bertemu dengan mereka berdua di masa mendatang.


**


Nio berada di kamarnya untuk beristirahat atau melakukan sesuatu untuk menenangkan pikiran dan mengusir rasa lelah di tubuhnya. Dia berbagi kamar dengan Hassan, tetapi wakil-nya belum juga kembali. Tempat tidur mereka telah disiapkan saat mereka mengunjungi pemandian, ada dua ranjang terpisah di ruangan yang seluas 4 meter ini. Dia dengan senang hati membantingkan diri ke atas seprai yang bersih dan bermalas-malasan untuk sementara hingga waktu kegiatan selanjutnya tiba.


Dia masih sedikit pusing setelah bersantai –dengan banyak gadis – dan memikirkan banyak hal lain yang menyangkut konflik dengan Aliansi. Setelah dia berada di kamar ini, semua ketegangan telah terkuras dari tubuhnya, dan merasakan lembutnya seprai yang berwarna ungu.


Begitu dia terlentang, dan menatap langit-langit kayu yang ditata secara artistik, ingatan yang muncul samar-samar mucul di benaknya.


Dia berpikir untuk mengambil langkah jika bertemu lagi dengan Rio dan Indah… di medan perang. Jika seseorang memanggilnya pengecut karena tak mengambil keputusan ketika berhadapan dengan mereka berdua, tentu saja dia tidak keberatan. Mengingat dia pernah mendengar jika para pahlawan memiliki sedikit kekuatan dewa – yang sangat kuat, sehingga kemungkinan untuknya kalah mungkin tetap ada – jika bertarung dengan cara biasa. Semakin dia membayangkan situasi tersebut, itu membuatnya semakin tertekan.

__ADS_1


Janji untuk berjuang bersama adalah hal yang dibuat oleh Nio, Jonathan, dan Rio setelah memutuskan bersama-sama bergabung Tentara Pelajar untuk Garnisun Karanganyar. Dia hanya bisa mengandalkan Jonathan – yang belum terpengaruhi hal tertentu yang menjerumuskannya untuk menjadi ‘pengkhianat’.


“… Nio.”


Nio termenung ke dalam pikirannya yang semakin dalam.


“Woy, Nio.”


Bahkan dia bisa memikirkan kemungkinan terburuk jika Jonathan terpengaruh untuk berkhianat.


“Woy, aku memanggilmu tahu!”


Nio tersentak lalu melihat sekelilingnya, lalu matanya hanya tertuju pada Jonathan, yang rupanya mampir ke kamarnya pada beberapa saat yang lalu. Dia berdiri di depan pintu, membuat wajah yang dirinya belum pernah lihat sebelumnya. Jonathan nampak jengkel terhadapnya, seperti teman yang sudah menikung pacarnya.


“A-apa?”


Jonathan menghela napas berat lalu berkata, “Kau tahu, kupikir kau terlihat berbeda, kawan.”


Dia kemudian menarik salah satu kursi yang tersedia di kamar ini, dan meletakkannya di depan ranjang yang ditempati Nio. Dia menatap Nio – yang terlihat seperti memiliki beban pikiran seberat kapal induk kelas Ir. Soekarno.


“Katakan padaku, apa yang membuatmu berekspresi aneh seperti itu?”


Nio melihat Jonathan telah mengenakan seragam harian, dan belum berganti ke seragam upacara untuk acara-acara penting. Dia kemudian duduk di tepi ranjang, dengan berkali-kali menghenbuskan napas berat. Dia merasa berbohong terhadap Jonathan adalah hal yang sia-sia, dan mengatakan semua yang ada di pikirannya bukanlah hal yang buruk.


“Kau yakin, dapat dan tetap akan merahasiakannya?”


“Aku tidak akan berjanji, tapi aku akan bersumpah akan merahasiakan setiap kata yang kau keluarkan.”


Jonathan merasa ada yang janggal, karena Nio sebelumnya tidak pernah menyuruhnya merahasiakan sesuatu. Lalu, dia teringat sesuatu – sebuah informasi mengenai pahlawan yang dimiliki Aliansi.


“Apa itu tentang para pahlawan yang dimiliki musuh?”


“Kekuatan sahabat lama memang luar biasa…”


Jonathan tersenyum mendengar perkataan dari Nio tersebut. Lalu, Nio melanjutkan perkataannya:


“… Benar. Tapi kau pasti belum tahu kalau ada tiga orang Indonesia yang terpanggil dan menjadi pahlawan.”


“Hah? Jadi benar-benar ada orang Indonesia di pihak musuh?” Jonathan berbicara dengan begitu lirih, sampai-sampai orang dalam jarak 1 meter tidak akan mendengarnya… kecuali menggunakan perangkat penyadap suara.


“Ya… lalu, aku pernah bertemu dengan mereka.”


“Siapa? Apa mereka orang yang kita kenal? Katakan padaku. Aku sudah bersumpah sebelumnya, bukan?”


Nio tidak bisa menahannya lebih lama lagi, atau itu akan menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja, bahkan bisa saja besok. Apalagi dia telah melihat kesungguhan yang terukir di wajah Jonathan. Tapi siapa yang tahu?


Nio menghela napas berat lagi, seperti akan memberikan kabar duka kepada seseorang.


“Rio dan Indah. Aku bertemu mereka ketika pertempuran pertama kita dengan Aliansi.”


Jonathan menutup setengah wajahnya dengan telapak tangannya, dan matanya menunjukkan tatapan tak percaya yang sesungguhnya – hampir seperti orang yang mendapatkan kabar duka yang mendadak. Napasnya mulai tak beraturan, dan dia beberapa kali menghentakkan kaki ke lantai.


Itu adalah ciri khas Jonathan ketika suasana hatinya sedang sedih atau kebingungan mengenai sesuatu, dan itu terlihat sama sekali tidak menunjukkan perasaan palsu.


Begitu dia mendengar fakta ini, dia tidak bisa mengabaikannya lagi, dan menatap Nio seperti orang yang ditinggal mati kekasihnya.


Dan sekarang, mereka berdua telah menyadari jika jumlah musuh mereka bertambah. Namun, Jonathan belum bisa memasukkan Indah ke dalam daftar musuhnya, sebelum dia melihat apa yang telah gadis itu lakukan terhadap prajurit TNI dan sekutunya. Dia akan memasukkan Indah dan Rio kedalam daftar musuhnya setelah melihat bukti perbuatan mereka berdua terhadap rekan-rekannya, termasuk Nio.


Meski begitu, keingannya untuk mengatakan semua itu adalah keinginan egois Nio meski semua hal yang dia katakan tetap akan terlihat di masa depan. Dia bisa saja menolak keinginannya sendiri untuk mengatakan hal itu, karena bisa saja berdampak pada Jonathan.


“Terimakasih sudah memberitahuku tentang itu. Sekarang aku lega jika orang yang akan kita lawan adalah orang yang kita kenal.”


Nio mengerutkan alisnya hingga menunjukkan ekspresi kebingungan yang berlebihan, dan dia merasa sesak ketika melihat senyum sedih di wajah Jonathan.


**


Informasi singkat mengenai SP-1 Pindad:


PT Pindad mengambil lisensi dari senjata jenis full batle rifle BM59 dari Italia.


SP-1 merupakan singkatan dari Senapan Panjang -1, menggunakan peluru kaliber 7,62X51mm, dan masih digunakan oleh lembaga pendidikan Sekolah Calon Bintara dan Sekolah Calon Tamtama. Pada saat TNI masih bernama ABRI, senjata ini digunakan dalam Operasi Seroja tahun 1975.


__ADS_1


(ilustrasi SP-1 , sumber gambar google)


__ADS_2