Prajurit SMA

Prajurit SMA
Merana


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu sejak Tim Ke-12 dan Kompi Bantuan dikirimkan ke Benteng Girinhi sebagai bantuan. Meski tidak ‘banyak’ pekerjaan yang mereka dapatkan, namun pengalaman saat pertempuran pertama dan informasi tentang pergerakan musuh dapat membuat mereka berguna di sini. Karena kedua hal tersebut dapat dikirim pada markas pusat, sehingga tindakan lanjutan untuk kedua unit dapat ditentukan sesuai informasi yang mereka kirimkan.


Tidak ada korban pada penyerangan pertama Peleton Khusus Aliansi, dan pasukan Arevelk yang ditempatkan di Benteng Girinhi sangat beruntung dengan adanya unit kecil dan sedang tersebut. Jika penyerangan terjadi, dan Tim Ke-12 tidak di tempatkan pada benteng, dapat dipastikan mereka akan menderita kerugian sangat besar. Sementara itu, adanya Kompi Bantuan dapat memperkuat pasukan dengan senjata berat mereka.


Setelah pertempuran, tidak adanya korban di pihak Tim Ke-12 mungkin karena mereka benar-benar unit elit dan berpengalaman di pertempuran simulasi dan nyata.


Seperti layaknya rutinitas sehari-hari, beberapa tentara kompi bantuan berolah raga bersama prajurit Arevelk, meski yang kedua belah pihak lakukan hanya lari laun dengan santai dan bertukar ilmu beladiri yang dikuasai masing-masing tentara. Mereka berkomunikasi dengan berbagai cara, termasuk berlatih bersama tersebut.


(olog note: lari laun sama aja ama joging)


Setelah makan pagi, Nio dan sepuluh tentara pemanah Arevelk berdiri di atas tembok pada salah satu sisi benteng. Busur panah yang kesepuluh tentara tersebut gunakan merupakan adaptasi dari panah otomatis milik kontingen ‘dunia lain’, namun Nio menganggap senjata tersebut tidak jauh berbeda dengan crossbow pada masa abad pertengahan. Tapi, beberapa dari tentara pemanah mengklaim jika crossbow milik mereka merupakan ‘balista kecil’ agar dapat dioperasikan oleh satu prajurit dan dibawa kemana saja degan sangat mudah.


Pengaruh yang dibawa Pasukan Ekspedisi sudah mampu merubah cara pandang militer Arevelk tentang cara berperang, namun entah bagaimana dengan pengaruh yang Pasukan Perdamaian bawa baik atau salah, itu tergantung bagaimana kedua belah pihak menanggapinya. Mereka adalah pasukan yang lebih besar daripada Pasukan Ekspedisi, dan mereka telah membuat beberapa perubahan, khususnya tentang senjata.


Tidak ada pergerakan musuh seperti yang dirumorkan hingga hari ini. Namun, mereka melihat binatang karnivora berukuran kerbau memasuki lagi hutan setelah semalaman berkeliaran mencari mangsa.


“Sial, ternyata mereka tetap berkeliaran hingga matahari meninggi,” ucap salah satu tentara di dekat Nio.


Dengan teropong miliknya, Nio melihat ke arah yang ditunjuk oleh tentara di sampingnya, yaitu hewan karnivora yang memiliki tubuh panjang, dengan kaki mirip kucing besar seperti singa atau harimau, dan kepala memanjang sehingga sangat jauh berbeda dengan karnivora di dunia asalnya. Hewan terebut bernama Metsik, dan tersebar luas di seluruh Benua Andzrev dan benua terdekat. Sangat mudah untuk membedakan Metsik jantan dan betina. Untuk jantan, seluruh tubuhnya berwarna gelap, dengan ujung ekor runcing dan berwarna mencolok serta tambahan dua ekor kecil. Sedangkan Metsik betina, bagian punggung berwarna merah cerah dan ujung ekor runcing.


“Apa nama binatang melata itu?” jari telunjuk Nio menunjuk ke arah sekawanan anjing berkaki panjang yang memasuki kembali hutan.


“Itu hewan yang Anda sebut dengan ‘anjing melata’. Mereka mampu melipat kaki cukup pendek hingga tubuh mereka menyentuh tanah, dan akan memanjangkan lagi kaki mereka untuk berlari mengejar mangsa. Namanya Koer,” salah satu tentara pemanah menjawab pertanyaannya.


Itu cukup berbeda dengan yang ia lihat ketika Kekaisaran Luan menggunakan binatang tersebut untuk melawan Pasukan Ekspedisi, karena mereka terus bergerak dengan kaki pendek dan sama sekali tidak terlihat memanjangkan lagi kaki mereka. Namun, Nio merasa itulah taktik berburu atau melawan binatang tersebut. Karena dengan cara berjalan yang hampir mendekati melata, musuh atau buruan mereka akan sulit melihat keberadaan Koer-Koer tersebut.


(olog note: bukan koar-koar loh ya…)


Menurut Nio – yang bukan anggota pecinta hewan – dia tetap merasa menggunakan hewan dalam penyerangan suatu peperangan adalah hal yang cukup efektif, meski itu melanggar hak asasi binatang. Beberapa jenis binatang dan monster, satu ekor dari beberapa jenis hewan tertentu memiliki kekuatan setara satu regu atau peleton. Jika dalam penyerangan melibatkan sekawanan Koer dalam jumlah ratusan, maka satu kompi infanteri reguler dapat dikalahkan dalam waktu beberapa menit pertarungan.


Arevelk memang menggunakan beberapa jenis binatang untuk berperang, namun hanya sebatas menarik persenjataan yang berat seperti meriam dan trebuchet, serta menarik gerobak berisi tentara untuk perjalanan jauh dan menjaga prajurit tidak kelelahan ketika bertarung. Hanya kuda yang dilibatkan langsung di tengah peperangan, karena pasukan kavaleri akan kehilangan banyak kekuatan tanpa kuda.


“Ya, situasi di sini masih aman tanpa adanya pergerakan tentara Aliansi, hanya penyerangan beberapa minggu lalu yang berhasil ditangani Tim Ke-12.”


Di lain sisi, sebagai komandan Kompi Bantuan 002, salah satu tugasnya adalah melapor ke markas pusat. Staf Komunikasinya berusaha terus menghubungkan sinyal unit tersebut terhadap sinyal Pusat Komunikasi dan Kontrol. Dengan begitu, mereka dan Tim Ke-12 tidak akan ketinggalan berita apapun dari markas pusat, sehingga pekerjaan mereka dapat dipastikan tetap berjalan lancar.


“Ada berita untukku dan Letnan Nio, … dan untuk para komandan pasukan Benteng Girinhi?”


Baek-Ki dapat mendengar jika lawan bicaranya mengatakan hal itu dengan nada tidak menyenangkan, begitu pula dengan dua personel Staf Komunikasinya yang juga mendengarkan percakapan antara komandan mereka berdua dengan salah satu staf Pusat Komunikasi dan Kontrol. Namun, mereka sama sekali tidak dapat menemukan alasan dari pembicaraan yang tiba-tiba merubah suasana tersebut, sehingga Baek-Ki memerintahkan salah satu tentaranya untuk memanggil Nio sekaligus komandan pasukan Arevelk di Benteng Girinhi.


Meski pemberontakan masih berupa rumor, dan belum ada satupun tentara yang bertugas di benteng mendengar pergerakan pasukan pemberontak, namun rasanya ancaman tersebut sangatlah nyata. Baek-Ki menyetujui pendapat Nio jika pemberontakan yang dialami Arevelk akan berimbas pada Persekutuan, tapi tidak berpengaruh apapun pada Pasukan Perdamaian. Satu-satunya dampak yang akan dialami Pasukan Perdamaian jika pasukan pemberontak yang dimaksud mulai bergerak dan menunjukkan ancaman adalah mereka pasti setidaknya harus mengirimkan bantuan apapun itu bentuknya.


Pria salah satu perwira kontingen Korea Utara tersebut juga pernah mendengar pendapat Nio jika pemberontakan terjadi, maka Benteng Girinhi akan menjadi titik terlemah dan sangat mudah dikalahkan. Pada akhirnya, Baek-Ki dan para tentaranya harus sadar dan waspada. Karena mereka berada di antara dua ancaman.


“Tuan Nio, untuk apa Anda mengajak saya dan para komandan?”


“Aku juga tidak tahu, Pak Baek-Ki hanya menyuruh kita untuk menemuinya. Benar kan, Pak?”


Nio berbicara seperti itu setelah membawa empat komandan unit dan seorang komandan utama pasukan Arevelk yang ditempatkan di Benteng Girinhi ke tempat Kim Baek-Ki berada.


Dia dan kelima orang penting pada pasukan di benteng itu memasuki salah satu tenda yang berisi alat-alat yang diperlukan untuk berkomunikasi dengan lancar, seperti penerima sinyal dan mesin telegram yang digunakan jika sinyal radio mengalami gangguan mendadak dan tengah diperbaiki.


Reaksi kelima komandan ketika memasuki ruang komunikasi sama ketika mereka melihat senapan mesin berat atau turret berlaras ganda 40mm yang jauh lebih hebat dari senapan mesin dan senapan serbu. Mereka memperhatikan sekeliling dengan wajah bingung yang bercampur dengan rasa penasaran pada setiap alat-alat di tempat itu.


“Staf Pusat Komunikasi dan Kontrol sepertinya punya informasi untuk kita… dan sepertinya cukup penting.”


Nio menerima satu handsfree, begitu juga dengan kelima komandan tersebut.


Seperti yang Nio duga, mereka berdua tampak sangat kebingungan dengan alat kecil yang salah satu bawahan Baek-Ki berikan pada mereka. Nio tahu jika dia tidak dapat mengatakan “masukkan benda itu ke telingamu”, atau mereka benar-benar akan memasukkan handsfree ke dalam lubang telinga mereka.

__ADS_1


“Biar saya bantu memakaikan alat itu.”


“Sebenarnya untuk apa benda kecil ini, Tuan Nio?” salah satu komandan bertanya sambil menatap handsfree yang dipegangnya, dan sesekali mengendus benda tersebut.


Nio terlebih dulu memakaikan handsfree pada komandan tertinggi pasukan Arevelk di Benteng Girinhi. Dia bernama Donem, dan menatap takut terhadap benda kecil yang mulai ditempelkan ke lubang telinganya.


Di lain sisi, Nio juga tidak dapat membiarkan kelima komandan tersebut memakai sendiri, dan yang dia takutkan adalah mereka tidak memakai alat tersebut ke telinga namun ke lubang-lubang lain yang ada di tubuh mereka.


“Letnan Satu Nio di sini. Apa informasi yang pusat dapatkan?” ucap Nio setelah membantu kelima komandan itu memakai handsfree ke telinga kanan masing-masing.


“Sebelumnya, Jenderal Angga berterimakasih denganmu dan seluruh anggota tim-mu. Kalian telah mengalahkan kembali unit khusus musuh,” ucap salah satu staf Pusat Komunikasi dan Kontrol.


“Uwah…! Apa di dalam benda kecil ini ada manusia? Rasanya aku mendengar suara dari benda ini!” ucap Donem dengan wajah dan nada bersemangat bercampur kagum dan bingung. Begitu pula dengan keempat komandan bawahan pria itu, dan mengetuk-ketuk handsfree yang terpasang di telinga masing-masing dengan tujuan apakah di dalam benda kecil itu benar-benar terdapat manusia.


Staf yang berbicara dengan Nio sudah tahu jika yang mengatakan hal tersebut adalah tentara Arevelk. Baik Nio, Baek-Ki, dan Staf Pusat Komunikasi dan Kontrol memaklumi reaksi pria-pria tersebut dengan teknologi asal dunia mereka.


“Mereka hampir seperti tentara infanteri modern, dan mereka sepertinya memiliki kemampuan gerilya. Omong-omong, kami berhasil menawan sisa unit khusus musuh,” Nio memilih mengabaikan perilaku ‘primitif’ Donem dan keempat bawahannya, dan melanjutkan pembicaraan dengan lawan bicaranya yang berjarak seratus kilometer dari tempatnya berada sekarang.


“Baiklah, kami akan mengirimkan unit penjemput untuk mengambil para tawanan. Lalu, mari kembali ke topik utama, militer Arevelk mengirimkan pasukan tambahan untuk mempertahankan Benteng Girinhi dan wilayah terdekat. Tapi, mereka diserang di tengah perjalanan dan dikalahkan. Ratusan tentara Arevelk gugur ketika penyerangan mendadak tersebut,”


Kedua alis Nio menurun dengan tajam, sehingga ekspresinya sekarang terkejut bercampur marah. Hal pertama yang dia pikirkan tentang pengiriman pasukan tambahan untuk Benteng Girinhi adalah “Apakah mereka tidak mendengarkan kata-kataku kalau menempatkan pasukan dalam jumlah besar di benteng ini rencana yang berisiko?”


“Tidak mungkin Aliansi yang menyerang, bukan?” ucap Baek-Ki yang mengetahui Nio terlambat menanggapi informasi tersebut.


“Jika musuh yang menyerang, kita pasti mendapatkan informasi dari unit pasukan Arevelk terdekat yang melihat pergerakan Aliansi. Jadi, kemungkinan besar hal yang tidak diinginkan Arevelk telah terjadi.” Nio memberikan apa yang dia pikirkan.


Sesuai dengan kesan pertamanya terhadap Nio, Baek-Ki tahu jika Nio adalah tentara remaja yang masih memiliki sifat anak muda pada umumnya. Namun ketenangannya dalam berpikir untuk memprediksi sesuatu dan merencanakan tindakan atas prediksinya membuat pria itu harus merubah pandangannya terhadap Nio.


Ada beberapa alasan yang membuat dia menyetujui pemberian kode nama ‘Mayat Hidup’ kepada Nio. Seseorang akan kesulitan untuk bertindak, ketika berhadapan dengan masalah yang sangat besar di saat bersamaan, namun Nio akan langsung melakukan tindakan namun tepat dengan situasi yang sedang dihadapinya. Dan Nio dikenal akan menemukan cara termudah untuk menyelesaikan suatu masalah dengan cara ‘mengejar’ langsung ke targetnya, mirip dengan mayat hidup yang akan mengejar orang lain yang telah menarik perhatiannya dan akan terus mengejar hingga mendapatkan targetnya meski ada sangat banyak halangan.


“Untuk masalah besar itu, Tuan Zvail meminta beberapa pasukan di Benteng Girinhi untuk dikirimkan menjadi pasukan tambahan untuk melawan pasukan yang telah menyerang pasukan bantuan.”


“Sialan, saranku benar-benar tidak berguna,” Nio beberapa kali mengeluarkan kata-kata kotor yang ditujukan kepada seseorang yang telah meminta pendapatnya mengenai situasi seperti yang sedang terjadi sekarang.


“Tidak…” jawab Nio singkat.


Dia kemudian melanjutkan perkataannya setelah menenangkan dirinya sendiri. Di dekatnya ada lima komandan Arevelk yang memimpin pasukan di benteng itu, dan tidak baik mengejek jenderal mereka dengan kata-kata kotor meski mereka sama sekali tidak tahu apa yang ia katakan.


“Pak Donem, bagaimana menurutmu tentang mengirimkan beberapa pasukan mu untuk menjadi pasukan tambahan bagi pasukan yang akan melawan pemberontak lagi?”


“Jadi pemberontakan sudah dimulai?!” wajah Donem benar-benar menunjukkan ekspresi tidak percaya yang teramat. Dan keempat bawahannya memasang ekspresi yang sama dan menggumamkan sesuatu.


Memandang Nio dan Kim Baek-Ki yang menatapnya untuk segera memberikan jawaban, Donem berpikir sedikit tentang dampak jika Aliansi menyerang dengan tiba-tiba ketika sebagian pasukan yang mempertahankan Benteng Girinhi sudah dalam perjalanan. Dia berada dalam dilema yang membuatnya pusing jika harus memikirkannya sendirian, sehingga Donem memutuskan melakukan diskusi singkat dengan empat bawahannya.


Menurut Nio, penumpasan pemberontak harus segera dilakukan jika Arevelk tidak ingin melemah pada perang ini. Namun, pada kenyatannya tindakan yang dilakukan Zvail yang Nio harapkan mampu menghadapi serangan dua sisi (melawan Aliansi dan pemberontak) sama sekali tidak dia harapkan. Jika prediksinya tepat, pasukan dari benteng yang dikirimkan menjadi pasukan bantuan akan diserang oleh pasukan yang sudah menyerang pasukan tambahan sebelumnya. Sebagai orang yang telah dimintai saran oleh jenderal tertinggi di militer Kerajaan Arevelk, Nio merasa bertanggung jawab atas semua tindakan Zvail yang telah menerima saran darinya, bahkan jika pria itu melakukan tindakan yang sama sekali tidak menggunakan saran darinya.


Sesekali Donem dan keempat komandan bawahannya melirik Nio, dan itu sangat mengganggunya. Jika dia menerima konsultasi dari Donem mengenai masalah ini, tentu saja Nio akan dengan senang hati membantunya dengan bantuan Mayor Baek-Ki yang lebih senior darinya. Di lain sisi, Nio merasa perang ini secara bertahap menjadi lebih rumit. Rumit yang dimaksud mungkin Periode Perang Besar yang pernah dia dengar benar-benar melibatkan banyak sekali negara di dunia ini, dan itu adalah hal yang tidak ingin Nio lihat dan terlibat di dalamnya.


“Sebenarnya, kami masih khawatir jika musuh yang menyerang pasukan tambahan untuk kita juga menyerang kita yang dikirimkan sebagai bantuan untuk melawan musuh. Namun, sepertinya itu hal yang sangat serius dan mustahil untuk dihindari,” ucap Donem yang masih dalam situasi kebingungan untuk memutuskan tindakan atas permintaan Zvail tersebut.


Sementara itu, Donem tahu jika ‘orang yang diramalkan’ di depannya pasti akan memberikan saran yang berguna dan membuat situasi sedikit tenang. Namun, dia menyadari jika tidak baik terlalu mengandalkan orang luar dalam masalah nasional sementara dia tahu jika Nio telah memenangkan banyak pertempuran. Dengan begitu, dia telah menyematkan gelar ‘tentara berpengalaman’ kepada Nio.


“Tapi, Tuan Zvail sudah memintaku memberikan beberapa saran untuk menghadapi pemberontak jika hal itu terjadi. Sekarang, pemberontakan sudah dimulai, dan pengiriman pasukan tambahan yang tidak diinginkan membuat Arevelk kehilangan banyak prajurit. Itu hal yang merugikan bagi kalian. Sebagai orang yang telah dimintai permintaan seperti itu, aku merasa sangat bertanggung jawab atas hasil akhir dari setiap tindakan Tuan Zvail.”


Perwira muda seperti letnan satu muda di sampingnya tidak diproduksi masal oleh pabrik, dan biasanya tentara seperti itu dibentuk oleh pengalaman yang panjang, melelahkan, dan menyakitkan. Di lain sisi, Baek-Ki pernah mendengar salah satu perwira TNI yang pernah berkata kasar di depan panglima TNI pada masa itu ketika dia masih berpangkat bintara. Alasan tentara itu berkata kotor terhadap atasannya mungkin hampir sama dengan Nio, karena saat itu Indonesia hampir berkonflik senjata dengan Singapura dan Malaysia yang merupakan anggota dari organisasi FPDA.


(olog note: FPDA adalah hubungan pertahanan dengan anggota Britania Raya, Australia, Selandia Baru, Malaysia, dan Singapura. Kelima negara tersebut sepakat akan saling membantu jika mendapatkan ancaman dan serangan)


Meski Nio hanya mengumpati Zvail di tempat yang jauh dari pria itu berada, namun Baek-Ki merasa karakter yang Nio miliki mirip dengan salah satu tentara yang dia kagumi itu. Lebih tepatnya, Nio adalah versi muda dari tentara tersebut.

__ADS_1


Nio bukanlah orang yang akan membantu seseorang lagi jika orang yang meminta tolong padanya sama sekali tidak mendengarkan tanggapan darinya. Namun, dia adalah prajurit sekarang, dan bukanlah remaja biasa yang masih labil dan mudah tersinggung. Akal sehat dan pemikiran yang logis sangat dibutuhkan di tengah situasi rumit seperti sekarang, sehingga Nio memilih mengabaikan perasaan kesal dan memikirkan saran yang tepat untuk permintaan Zvail untuk mengirimkan pasukan bantuan.


Dia tidak dapat menjawab permintaan Zvail dengan jawaban “Enggak” begitu saja, paling tidak dia merasa harus memberikan alasan yang logis atas jawabannya.


“Rasanya aku bisa membayangkan wajah Tuan Zvail kalau permintaannya ditolak,” ucap Nio dan ditanggapi dengan wajah lesu dari Donem dan keempat bawahannya.


Saat ini, Nio hanya menginginkan misi yang tidak harus membuatnya terlibat dalam situasi memusingkan seperti sekarang. Namun, dia tidak diijinkan mundur sebelum tugas yang diberikan padanya selesai, meski itu harus membuatnya banyak berpikir hingga kepala terasa ingin meledak. Itu artinya, dia harus menyelesaikan masalah yang rumit itu sebelum berkembang menjadi masalah yang jauh lebih besar dan buruk dari kata ‘rumit’.


Dia bisa mendengar suara-suara ceria dari beberapa personel kompi bantuan dan anggotanya yang sedang mempersiapkan makan siang bersama di lapangan utama Benteng Girinhi. Dia tidak ingin kesenangan mereka terganggu oleh serangan mendadak musuh… walau itu adalah hal yang tidak mungkin dapat dihindari jika sudah terjadi.


“Kalau diperintahkan, kami siap mengirimkan lima ribu tentara sebagai bantuan,” ucap Donem dengan wajah yakin jika Nio dan Baek-Ki menyetujuinya.


“Aku harap Anda jangan terlalu yakin jika tindakan itu mampu membuat Arevelk mampu menangangi pemberontak,” balas Baek-Ki yang membuat ekspresi percaya diri Donem luntur, begitu pula dengan keempat bawahannya.


“Itu terlalu banyak. Lebih baik Anda tidak mengirimkan tentara untuk bantuan. Kita juga tidak tahu kapan Aliansi akan menyerang benteng ini. Jika pasukan Arevelk yang kuat dapat dikalahkan oleh pemberontak, dapat dipastikan mereka memiliki jumlah kekuatan yang besar.”


“Lalu apa yang akan kita lakukan, hah?! Terus diam di dalam tembok (benteng) dan membiarkan pemberontak bergerak semakin leluasa dan memperkuat diri? Kau hanya orang dunia lain yang tidak tahu apa-apa tentang kami! Jadi jangan berusaha menghalangi kami mengirimkan bantuan yang diminta Tuan Zvail, orang dunia lain!”


Setelah merasakan sesuatu mengenai berbagai perkataan yang Nio lontarkan mengenai situasi sekarang, Donem akhirnya mengatakan hal tersebut selepas beberapa menit menahan perasan itu.


“Letnan Nio dan Mayor Kim Baek-Ki, apa di sana sedang terjadi sesuatu?” tanya salah satu staf Pusat Komunikasi dan Kontrol.


Nio kemudian dengan wajah datar menanggapi pertanyaan staf markas pusat yang menjadi lawab bicaranya, “Tidak ada masalah di sini. Sepertinya Tuan Donem ingin berbicara tentang permintaan pengiriman pasukan bantuan itu. Oh ya, dia adalah komandan tertinggi pasukan di Benteng Girinhi.”


Nio bergegas keluar tenda setelah melepas handsfree dan memutus tautan lalu memberikannya ke bawahan Baek-Ki… dan menendang salah satu kursi kosong. Kursi itu terhempas ke tanah dengan keras, dan ditinggalkan begitu saja oleh Nio yang hampir keluar dari tenda, namun salah satu bawahan Donem berusaha mencegahnya.


“Selesaikan masalah ini dulu, sialan!” ucap salah satu bawahan Donem.


“Aku tidak menghalangi apa yang ingin kalian lakukan. Jadi, kalian bebas menanggapi permintaan Tuan Zvail, namun jangan libatkan aku jika keputusan itu akhirnya membuat kalian menyesal.”


Sebelum salah satu bawahan Donem tersebut menanggapi perkataan Nio, pria tersebut sudah melangkah menjauhi tenda sebanyak beberapa langkah. Sementara itu, Kim Baek-Ki mengatakan kepada lawan bicaranya jika keributan yang terjadi adalah ulah dari tentara yang mencoba menangkap tikus yang sebesar anak kambing.


Melewati beberapa tentara Arevelk yang menyapanya, Nio berjalan dengan napas berat dan wajah yang menyeramkan. Hanya mendengar perkataan Donem dan bawahannya itu membuatnya muak. Itu membuatnya ingin segera mengajukan surat permintaan agar segera diakhiri masa tugasnya di dunia ini, dan ditempatkan kembali di Garnisun Karanganyar atau manapun yang dapat membuatnya menghindari mendapatkan rekan seperti mereka. Donem dan anak buahnya telah membuat Nio yang merana dengan situasi sekarang menjadikannya tidak tahan lagi. Mereka telah mencuri ketenangannya dalam berpikir dengan akal sehat, dan membuatnya tidak ingin memikirkan apapun untuk sekarang.


Dia berdiri di salah satu sisi tembok benteng, lalu membenturkan dahinya di dinding kemudian berbicara dengan wajah datar:


“Kenapa mereka berbicara seolah-olah rencana yang belum kukatakan tidak akan berguna?”


Nio meletakkan dahinya yang memerah akibat benturan di dinding benteng dengan mata yang begitu dingin, dan membuat perasaan kesal dan gelisah yang campur aduk mengganggu hatinya. Dia memang menyadari jika pengalamannya tidak sebanyak perwira senior, namun tidak ada yang salah dengan memberikan saran dan tanggapan menurutnya. Dia beruntung Donem dan bawahannya bukanlah musuhnya, tetapi cepat atau lambat pasti akan ada perubahan dari perang ini.


Nio menggertakkan giginya, dan berbicara di dalam hati andai jika dia memiliki pengalaman dan saran yang lebih baik, sehingga situasi seperti tadi tidak akan tercipta.


“Mereka hanya tidak menyadari potensi dari diri Anda, Tuanku,” Hevaz berjalan mendekatinya dengan senyuman yang cerah, lalu meletakkan kedua telapak tangan di pundak Nio dan sedikit meremasnya dengan harapan membuat Nio sedikit tenang.


“Hevaz, bagaimana jika aku tidak dikirimkan bertugas di dunia ini?” rasa jengkel menyertai perkataan Nio tersebut.


“Saya akan memaksa Anda untuk ke dunia ini, dan menghadapkan Anda pada para Dewata agar mereka segera menjadikan anda pahlawan.”


Nio mengangkat kembali kepalanya dengan dahi yang memerah, lalu melihat tidak hanya ada Hevaz di dekatnya. Edera, Huvu, Ebal, dan remaja Demihuman (Pembunuh Senyap) berada di dekatnya dengan ekspresi yang tenang dan hangat.


“Heh, jadi kalian tadi menguping pembicaraan kami, ya?”


Dia berbicara, bukan sebagai teguran tetapi mencemaskan apa yang terjadi pada mereka jika menguping pembicaraan yang dia lakukan beberapa saat lalu.


“Anda bahkan menyelesaikan pertempuran beberapa hari lalu sebelum kami tiba. Itu menunjukkan jika tidak salah menunjuk Anda sebagai ‘orang yang diramalkan’.”


Huvu benar, dan itu hal yang mengagumkan dalam pertempuran bersenjata. Nio dan bawahannya lebih dari sekadar tentara remaja. Mereka adalah tentara terbaik.


“Mereka bahkan tidak becus dalam mengawasi para tawanan, padahal mereka memiliki tentara yang jauh lebih banyak dari kalian,” ucap Ebal.

__ADS_1


“’Yah, maksudku, mereka bahkan tidak memikirkan risiko jika mengirimkan pasukan tambahan, tetapi musuh masih bersembunyi dan siap menyerang mereka kapan saja.”


“Tuan Nio, mereka tidak akan mendapatkan kerugian jika hanya satu tentara yang dikirimkan sebagai bantuan,” ucap Hevaz dengan wajah yakin akan sesuatu.


__ADS_2