Prajurit SMA

Prajurit SMA
Kehilangan momentum


__ADS_3


Sebelumnya maaf, aku sudah tidak update sangat lama.


Begini kira-kira cover depan novel cetaknya. Kenapa tidak ada unsur Sci-Fi seperti cerita di platform? Karena aku buat latar saat TNI masih mengandalkan baja tua mereka, ketika era seri SS2 berkuasa.


Jadi, pembaca yang mendapatkan bukunya akan melihat duet Leopard, Harimau (masih senjata eksperimental), Badak, Tarantula, Cobra,


sama Scorpion.


Selain seri SS2, akan ada SS3 (masih berupa senjata eksperimental) yang digunakan dalam ceritanya. Alasannya? Karena SS3 adalah satu-satunya senapan yang dapat menembakkan proyektil kaliber 7,62mm buatan Indonesia setahuku.


Kalo tertarik dengan edisi terbit cetak dari Prajurit SMA, silakan chat pribadi denganku. Tentang harga, aku juga belum tahu pastinya.


**


“Whooooo! Whooooo!”


Teriakan pasukan berkuda Pasukan Penumpas Pemberontak terdengar lebih keras dari sebelumnya.


“Apa?! Serangan lagi?!” Ofra mengumpati teriakkan perang pasukan Arevelk yang membuatnya muak. Dia tidak mungkin bisa tidur nyenyak karena itu.


Dari serangan awal, selama tiga hari tiga malam, Ofra dan pasukannya telah sesekali melakukan serangan dengan pasukan kavaleri lebih besar dari infanteri.


Tampaknya pasukan gabungan Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo tahu ada taktik tersembunyi yang pemberontak sembunyikan, jadi mereka memilih tidak bergegas menusuk ke formasi seperti yang mereka lakukan sebelumnya.


Kuda-kuda Pasukan Penumpas Pemberontak menghasilkan badai debu akibat hentakan kaki mereka. Setelah melihat musuh, komandan pemanah berkuda memerintahkan bawahannya untuk menembakkan sebanyak-banyaknya anak panah, lalu mundur.


Yang dilihat Ofra adalah taktik yang sama saja. Ketika pasukannya berusaha mengejar pasukan Kerajaan dan sekutunya, mereka mundur secepat mungkin.


“Kalian pengecut! Kalian hanya bisa menyerang lalu lari! Apa kalian tidak bisa bertarung secara langsung?!” Ofra berteriak.


Untuk menghadapi serangan yang terus menerus dari pasukan Kerajaan, selama tiga hari para pemberontak bertempur dengan mempertahankan formasi bertahan yang dikenal sebagai formasi ‘kotak dalam lingkaran’ dalam taktik pertempuran era perang saudara Jepang.


Berkat formasi tersebut, para jumlah korban dari pihak pemberontak berkurang, tetapi moral para tentara telah merosot. Sebagian prajurit pemberontak bahkan memilih berkhianat dan kembali atau bunuh diri daripada mendapatkan hukuman atas perbuatan mereka.


Para pemberontak tidak tahu kapan mereka akan diserang, mereka tidak akan bisa lengah, tidak akan bisa melakukan serangan balik, itu sudah cukup untuk melelahkan hati mereka.


Bisa dikatakan, bahkan jika para pemberontak mengetahui kedatangan pasukan Kerajaan, mereka akan dengan mudah lengah walau berusaha waspada. Dan jelas jika mereka goyah, Nio melihat hal tersebut sebagai peluang bagus dan melancarkan serangan.


Terlebih lagi komandan pasukan kedua kerajaan memilih pertempuran malam, sehingga para pemberontak sulit menemukan posisi musuh walau telah mengirimkan pengintai. Apapun yang mereka usahakan, pasukan Kerajaan yang berjumlah kecil itu bergerak dengan sangat cepat.


Memang benar, karena mudah terlihat di siang hari, Nio mengajukan usulan untuk bertempur ketika malam, dan para komandan Pasukan Penumpas Pemberontak menyetujuinya atas berbagai pertimbangan yang membutuhkan reaksi cepat. Ketika pertempuran malam, para pemberontak pasti akan kelelahan setelahnya. Formasi ‘kotak dalam lingkaran’ yang bekerja dengan baik melawan pasukan Kerajaan tidak cocok untuk bergerak. kecepatan berbaris pasukan pemberontak tampak melambat.


Semua itu adalah situasi yang Nio harapkan dan inginkan. Saat dia membonceng Sigiz di belakangnya, pasukan yang ia pimpin ketika pertempuran sekarang sekitar 500 prajurit berkuda. Namun, jumlah ratusan tersebut mampu mempermainkan jumlah puluhan ribu pemberontak.


“Mereka mundur. Ratu… ehem! Sigiz, perintahkan pasukan untuk mundur. Kita tidak perlu mengejar para pemberontak meski aku yakin mereka sangat kelelahan.”


Sigiz tersenyum mendengar Nio yang berusaha bersikap biasa dengannya lalu menjawab, “Apa yang kamu rencanakan setelah ini?”


Bukan berarti Sigiz menganggap Nio adalah Jenderal Tamu yang tidak paham situasi. Jelas-jelas Pasukan Penumpas Pemberontak mendapatkan keuntungan dari musuh yang mundur dalam keadaan kelelahan. Gadis ‘berumur’ itu hanya ingin mendengar alasan Nio, dan dia akan memarahi pria itu jika alasannya tidak masuk akal.


“Mereka akan bergerak ke perkemahan dalam keadaan kelelahan, dan aku mendapatkan informasi dari Peleton Pengintai jika musuh memerlukan waktu paling lambat hingga malam hari untuk mencapainya. Mereka mungkin akan kelelahan dalam perjalanan kembali, dan sampai di perkemahan agak terlambat. Aku mengusulkan untuk beristirahat sejenak, lalu mengikuti mereka, lalu kembali menyerang.”


Peleton Pengintai yang dibawa kontingen Korea Utara dilengkapi dengan kendaraan taktis dan drone intai seukuran burung walet. Mereka adalah bantuan Pasukan Perdamaian untuk Nio dan pasukan Kerajaan dan kontingen Kerajaan Yekirnovo untuk menumpas pemberontak. Mereka beranggapan hama tersebut harus dimusnahkan secepatnya, lalu melanjutkan perjuangan menghadapi Aliansi yang semakin mengancam.


Tidak dapat dibantah jika Pasukan Penumpas Pemberontak ‘harus’ menerima bantuan dari Pasukan Perdamaian. Jika para komandan menolak, mereka sendiri akan mengalami kesulitan.


**


Pasukan pemberontak berhasil beristirahat hingga matahari terbit. Tidak ada gangguan dari pasukan musuh, namun tetap tidak bisa membuat mereka tenang.


“Akhirnya, malam membiarkan kita beristirahat,” ucap Ofra, menatap langit timur dengan wajah mengantuk.


Rencana awal pemberontak untuk menguasai kota Tohora sempat tertunda, namun mereka merasa harus bersyukur karena dapat beristirahat dari serbuan musuh. Bahkan jika pemberontak berhasil mencapai Benteng Girinhi, dan bergabung bersama Aliansi untuk menguasainya, mereka tetap tidak bisa tenang. Prajurit pemberontak merasa mereka tak mampu menghentikan serangan pasukan penunggang kuda yang terasa menggunakan taktik baru yang belum pernah digunakan dalam perang sebelumnya.


Siksaan lahir batin yang dialami Ofra dan para tentaranya terasa sangat mengganggu. Menatap para prajuritnya yang tidur di tanah, atau di dalam tenda beralaskan rumput, Ofra kembali ke dalam tendanya.


Tidak ada satupun prajurit yang melakukan jaga malam, sehingga Ofra tidak tidur karena mengalami kekhawatiran berlebihan. Tentara juga tidak bisa menunjukkan kekuatannya jika kurang tidur, sehingga Ofra membiarkan prajuritnya tidur dalam berbagai pose dan tempat. Melakukan pertempuran dengan sempurna adalah hal yang diinginkan seluruh komandan.


Karena terlalu lelah, dia ingin segera tidur..


“Whoooo! Whoooo!”


Dor!! Dor!!


Suara perpaduan teriakkan penuh semangat ribuan prajurit, derap langkah kuda yang berlari, benturan pedang dengan perisai, dan letusan dari dua buah tembakan merupakan terompet perang yang membangunkan seluruh prajurit pemberontak di pagi hari yang bisa dipastikan menjadi awal hari yang cerah ini.


Dua ledakan membunuh dua tentara pemberontak yang terbangun untuk buang air kecil, dan melubangi kepala mereka yang terlindungi helm logam tipis. Itu akibat dari lesatan proyektil 7,62mm dari senapan Nio yang ditembak dari jarak 500 meter di atas kuda yang dikemudikan Sigiz.

__ADS_1


Selama dua hari mereka melakukan pertempuran yang melelahkan siang hingga malam, dan pada hari ketiga, pemberontak menghadapi serangan musuh di malam hari. Ofra merasa pertempuran akan terjadi di malam hari, tapi musuh bertindak tidak seperti yang ia harapkan. Ofra kesal dengan perkiraannya yang sangat jauh meleset.


Didorong oleh kekesalan, Ofra bertanya, “Dari mana mereka menyerang?”


“Dari arah timur! Kali ini mereka tidak hanya membawa pasukan berkuda! Perkiraan jumlah terendah pasukan musuh sekitar 40.000. Kami memperkirakan itu adalah jumlah sebenarnya musuh!”


“Ha! Be-beralih ke formasi tertutup! Bergerak cepat!” Ofra mengeluarkan amarahnya dengan panik.


Formasi ‘kotak dalam lingkaran’ adalah taktik yang ia dapatkan dari seorang bawahan salah satu pahlawan Aliansi. Dia menerima bantuan Aliansi selama itu membuatnya menghancurkan Arevelk, dan menjadi raja selanjutnya, lalu bergabung bersama Aliansi untuk menghancurkan negeri asal pasukan hijau beserta sekutunya.


Langkah awal yang akan Aliansi ambil untuk mengalahkan musuh dalam Periode Perang Besar adalah melatih para pahlawan, dan mencari Pahlawan Harapan. Dan itulah yang membuat banyak komandan militer Arevelk yang tertarik, namun tidak memiliki nyali akibat bersekutunya Arevelk serta Yekirnovo dengan Indonesia dan rekan-rekannya.


Ofra dan pasukannya adalah sekawanan orang yang memiliki cukup nyali untuk memecah Arevelk, mengumpulkan kekuatan, lalu bergabung dengan Aliansi untuk memperoleh kehormatan dari Perang Terakhir yang merupakan penutup dari semua perang pada Periode Perang Besar.


Formasi ‘kotak dalam lingkaran’ sangat efektif menghadapi serangan mandadak yang datang dari segala arah, tetapi lemah melawan serangan yang datang dari satu arah. Jika mereka bertempur seperti ini, para pemberontak akan menanggung banyak korban.


Prajurit Kerajaan Arevelk sangat terampil, dan para komandan diambil dari yang terbaik dari yang terbaik. Namun, tidak semua unit yang tersebar di seluruh negeri tersebut memiliki kemampuan tempur yang setara satu sama lain, semua itu tergantung komandan yang memimpin dan taktik yang ia putuskan.


Salah satu komandan terbaik Arevelk yang memutuskan melawan negerinya sendiri, Ofra, melihat kondisi pasukannya yang buruk. Mereka mengharapkan dapat beristirahat hingga siang, namun akhirnya mereka tersentak oleh serangan yang diawali dengan suara tembakan tersebut. Pasukan pemberontak lelah karena tidak bisa cukup tidur, dan ini adalah pukulan terahir bagi semangat mereka yang sudah runtuh.


Mengatur ulang formasi juga membutuhkan waktu yang tidak singkat. Dan sementara itu, pasukan musuh yang besar menghasilkan badai debu yang membumbung tinggi, lalu menyerbu masuk.


Dengan begitu, tirai pertempuran Pasukan Penumpas Pemberontak gabungan dari seorang prajurit Indonesia, Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo menghadapi pasukan pemberontak telah diangkat.


Teriakkan perang terdengar tanpa henti dari Pasukan Penumpas Pemberontak dan pemberontak.


Kedua belah pihak bertempur dengan haus darah yang meresap di medan perang, seolah-oleh penebus dari hati prajurit Arevelk yang terluka akibat ulah pemberontak, dan pemberontak yang tidak menyukai langkah Arevelk bersekutu dengan Indonesia. Medan perang dipenuhi dengan tanda-tanda kematian, sehingga semua tentara dapat merasakannya di tulang mereka.


Pasukan gabungan Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo membentuk formasi menyerang berbentuk anak panah, dengan pusat pasukan Arevelk dan kedua sisi ditempati penunggang kuda Yekirnovo. Taktik tersebut adalah gabungan dari saran Nio dan para komandan yang menginginkan peran seluruh kontingen setara, dengan pasukan terdepan adalah penunggang kuda terbaik.


“Semuanya! Majulah!” Nio menggantikan Sigiz untuk meneriakkan seluruh komandan agar bertugas sesuai posisi yang telah ditetapkan. Teriakkan Nio dilanjutkan oleh seluruh komandan. Sigiz tersenyum sambil mengendalikan kudanya, dan menatap Nio yang duduk di belakangnya. Dengan teriakkan nyaring Nio, seluruh prajurit terdorong maju, tekad mereka yang dicemari rasa takut seketika hancur.


Nio memiringkan tubuhnya sambil menjaga keseimbangan di atas kuda yang berlari untuk menghindari selongsong kosong terpental dan mengenai tubuh Sigiz. Dia menembak beberapa kali, dan seluruh proyektil tepat menembus dada dan kepala prajurit pemberontak.


Berkat serangan tak tertahankan dari Nio, Hevaz, dan para Pembunuh Senyap, para prajurit pemberontak bersiap untuk melarikan diri. Namun, pasukan di ujung terdepan formasi anak panah menembus pertahanan rapat pemberontak, dan banyak tentara pemberontak tak dapat mengatasinya. Dengan kekuatan pasukan penunggang kuda terbaik dari kontingen Arevelk dan Yekirnovo, mereka memotong langsung formasi pemberontak.


Hal utama yang menjadi salah satu faktor terpenting dalam peperangan adalah jumlah. Dengan jumlah, pasukan dapat mengendalikan kemenangan dan kekalahan. Tapi, strategi kuat yang para komandan susun bersama Nio ternyata memiliki sejumlah masalah.


Sun Tzu mengatakan bahwa ada sejumlah taktik bagi pasukan kecil untuk mengalahkan pasukan besar, “Jika musuh tenang, ganggu mereka. Jika kalian memiliki persediaan makanan yang cukup, buat musuh kelaparan. Jika kalian mendirikan perkemahan di lokasi yang menguntungkan, paksa musuh untuk menyerang kalian.”


Hal itu sama dengan apa yang Nio katakan, “Berdiri di tanah menunggu mereka yang begerak dari tempat yang jauh. Menunggu musuh yang lelah dengan bergerak santai. Menunggu musuh yang lapar dengan perut kenyang. Maka kamu telah menguasai kekuatan,” hal itu adalah pandangan penting yang dipegang oleh tokoh sejarah tersebut.


Pasukan pendobrak yang dipimpin Hevaz, dibantu oleh Pembunuh Senyap dan sejumlah pasukan kavaleri dengan mudah menghabisi para prajurit pemberontak. Sabit besar Hevaz mampu membelah dan memenggal tubuh kuda serta tentara dengan mudah, lalu cakar, tombak panjang, dan senjata ringan Pembunuh Senyap serta kavaleri menghabisi satu persatu tentara infanteri yang berbaris rapat.


Nio merasa bahwa pembantaian sepihak ini akan menjadi kemenangan, Hevaz malah berpikir sebaliknya.


Hevaz terbang cepat sambil membelah kepala tentara musuh yang berusaha mendekati kuda yang ditunggangi Nio serta Sigiz. Dia meninggalkan komando pasukan pendobrak kepada Edera, dibantu Huvu dan Ebal.


“Tuan Nio! Pasukan musuh mulai mendapatkan kendali atas diri mereka!” Hevaz melapor kepada Nio sambil melayang-layang di atas tumpukan mayat tentara musuh dan kuda mereka.


“Cih. Ternyata mereka lebih terorganisir dari yang kukira!” jawab Nio sambil mengganti magasin pada senapan serbu-nya.


“Sepertinya kita harus melakukan serangan total, Tuan Nio. Aku tidak ingin mereka mengendalikan pertempuran ini,” sambung Sigiz dengan wajah agak cemas.


Nio beserta para komandan merencanakan agar mereka menggunakan momentum awal yang menguntungkan sebagai kekuatan utama untuk membersihkan pasukan musuh, tetapi tampaknya rencana yang mereka susun tidak akan berjalan sesuai rencana. Musuh telah bersatu kembali dan menyusun formasi lagi lebih cepat dari yang Nio duga.


Dalam sekejap, semangat pasukan kontingen Arevelk memudar. Nio telah menerima komando walau tidak terlalu mempelajari taktik pertempuran kuno. Dia menyadari bahwa pemberontak masih memiliki kekuatan untuk dengan mudah mendorong mereka kembali.


“Sepertinya kita tidak bisa menyelesaikan pertarungan ini dengan cara biasa,” merasakan pertarungan yang sengit di sekelilingnya, Nio juga melawan musuh-musuhnya dengan senapan miliknya.


Di sisi lain, Ofra menggertakkan giginya, dan merasakan hal yang sama dengan Nio.


Pasukan pemberontak berusaha menekan jumlah korban di pihak mereka, dan melancarkan serangan balik setelah mengumpulkan kembali kekuatan, tetapi tidak lagi merasa menjamin kemenangan teraih. Kemenangan ini terasa sulit walau mereka berhadapan dengan pasukan berjumlah 3.000 tentara.


Kemungkinan, pemberontak tak mampu melawan secara penuh karena kelelahan akibat kurang tidur dan moral yang menurun. Tapi yang lebih penting…


“Apa-apaan Utusan dan para manusia setengah binatang itu?!” Ofra berteriak.


Seperti penyerangan besar pertama Aliansi terhadap pasukan Indonesia, Nio merasa tidak ada salahnya mencoba beberapa taktik yang ia pelajari dari buku-buku dari tokoh sejarah terkenal dengan lawan pertama pasukan pemberontak.


Taktik yang digunakan pemberontak masih sama dengan Aliansi sebelum berevolusi menjadi pasukan modern, yakni bergerak dalam formasi rapat, pedang dan tombak saling bekerja sama membunuh pasukan garis depan. Dengan pasukan pendobrak yang bergerak sangat lincah, Pasukan Penumpas Pemberontak masih bisa melancarkan serangan satu sisi.


Jika pasukan berkuda Arevelk dan Yekirnovo tidak mampu menembus pagar perisai dan tombak panjang pemberontak, gaya bertarung unik dari Demihuman dan kekuatan luar biasa Hevaz memang cocok digunakan sebagai pendobrak. Mereka akan dengan mudah untuk menghindari dan melewati rintangan yang dibuat musuh, lalu bertarung untuk mengalahkan musuh. Namun, jumlah prajurit musuh terlalu banyak, dan para Demihuman tak mampu menghadapi puluhan tombak serta pedang sekaligus.


Tidak hanya itu, pasukan tidak dapat hanya mengandalkan Hevaz untuk menembus dan menghancurkan formasi ‘testudo’ yang kokoh musuh. Formasi kura-kura yang melindungi sejumlah prajurit dari segala sisi memang tampak sulit ditembus, dan memerlukan usaha ekstra untuk membongkarnya. Formasi tersebut memang tidak bisa menahan serangan cepat pasukan berkuda, namun Nio dan para komandan tidak ingin mengorbankan nyawa para prajurit.


“Mengapa para Demihuman kotor dan Yang Mulia Hevaz berpihak pada Persekutuan?!” Ofra bertaanya-tanya.


Karena Aliansi sangat membutuhkan kekuatan besar, sehingga mereka akan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Menjajah suku-suku dengan berbagai taktik, menculik dan memaksa para Demihuman dan budak menjadi tentara, mengeksploitasi sumber daya secara besar-besaran sebagai senjata telah dilakukan Aliansi.

__ADS_1


Kemampuan bertarung para Demihuman tidak perlu ditanyakan, mereka layaknya pembunuh yang tak mampu disentuh. Bahkan, Demihuman yang tinggal di benua-benua lain di dunia ini dikatakan jauh lebih hebat dari Demihuman di Benua Andzrev. Di masa lalu, negara-negara besar di benua ini, kecuali Arevelk, menjajah suku-suku Demihuman yang tak terhitung jumlahnya untuk dijadikan tentara atau budak. Intinya, Demihuman telah dijadikan alat dan senjata ‘gratis’, yang dapat diperintahkan bekerja layaknya ternak dan bertarung walau mereka tidak mau.


“Tapi, bukankah mereka Pembunuh Senyap yang dimiliki Aliansi?!” Ofra berkata dengan wajah panik, walau pasukannya telah menahan serbuan para Demihuman yang dibantu Hevaz. “Apakah Persekutuan menggunakan kekuatan mereka untuk membuat para Demihuman itu berperang bersama mereka?!”


Meskipun sulit dipercaya, usaha para Pembunuh Senyap dan Hevaz menghancurkan barisan kuat khas Arevelk yang digunakan pemberontak pada pertempuran ini membuahkan hasil yang jelas. Bahkan, Ofra tidak menyadari bahwa jumlah prajurit musuh yang menyerang pasukannya berjumlah jauh lebih sedikit. Dia tidak menyadarinya, hingga Ofra menganggap Persekutuan mengirimkan pasukan besar untuk melawan pasukannya.


“Heh. Aku pernah mendengar Penyihir Agung dan Yang Mulia Hevaz telah mengangkat Pahlawan Harapan. Karena itu, mungkin taktik ini adalah ciptaannya. Menarik! Jika aku memenangkan pertempuran ini, kepala Pahlawan Harapan aku ku jadikan pajangan!” Ofra tidak bisa menahan tawa yang meledak dari dalam dirinya.


Tentu saja, karena dia belum pernah melihat ada seseorang bahkan sebuah negeri yang mampu merekrut pasukan Demihuman untuk berperang, kecuali memaksa mereka dengan cara mengancam atau menghancurkan desa mereka. Namun, saat ini para Demihuman telah bergerak mundur bersama kavaleri Arevelk serta Yekirnovo.


“Mereka berhasil kita buat mundur. Apa yang harus kami lakukan?” Ofra tersenyum saat melihat Hevaz memerintahkan para Demihuman untuk mundur.


Tentu saja, kemampuan tempur Demihuman adalah ancaman. Akan jauh mematikan jika mereka berada dalam pasukan besar dengan jumlah lebih dari 50.000 tentara. Ada kemungkinan jika Persekutuan mengalami kekalahan dalam pertempuran ini, mereka akan mengirimkan pasukan elit Arevelk yang berisi Demihuman dan monster yang terlatih.


“Bisakah membuat para Demihuman meninggalkan Persekutuan?!” Ofra mempertanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah jelas.


Karena ini adalah masa perang yang dialami negeri-negeri di Benua Andzrev dan sekitarnya, pihak-pihak yang terlibat pasti akan melakukan segala cara untuk memenangkan perang. Namun, bukan berarti pemberontak dan Aliansi tidak tahu kekuatan sebenarnya negara-negara Persekutuan. Di dunia ini dan yang satunya, ada banyak perang yang hanya dilakukan demi sesuatu atau dengan penyebab yang sebenarnya sangat sepele.


Semua perang harus dihadapi, meski ada harapan untuk menghindari perang tersebut. Lebih baik bersiap untuk berperang daripada berharap perang itu tidak akan datang sama sekali.


(olog note: wuihh, tumben nih author bijak:v)


Tentunya, karena kehormatan yang dijanjikan oleh perang ini, Ofra beranggapan bersekutu oleh Aliansi akan menguntungkan karena mereka dikabarkan memiliki seorang pahlawan yang memiliki ‘Berkah Dewa’ dapat menciptakan teknologi dari negeri asal musuh.


Lalu, salah satu komandan Persekutuan memiliki kemampuan menyusun taktik yang mengesankan, dan mengalahkan pasukan berjumlah besar dengan pasukan kecil. Dengan kemampuan tempur yang mengesankan, Aliansi menginginkan seseorang yang memiliki keahlian seperti itu, di sisi lain mereka juga menginginkan Pahlawan Harapan.


“Yah, mereka sudah kehilangan momentum,” Ofra tersenyum.


Yang pasti, penunggang kuda yang berpengalaman dan sangat berkualitas sangat menakutkan. Ofra mengira, memadukan pasukan senapan milik Aliansi dengan berkuda akan menghasilkan daya gempur dahsyat. Namun, dia sama sekali tidak pernah melihat cara bertempur menggunakan senapan. Lagipula, pasukan pemanah penunggang kuda memerlukan latihan hingga bertahun-tahun, walau mereka sama-sama bertarung dari jarak jauh.


Selain itu, Ofra berencana akan menggunakan ratusan gerobak yang digunakan mengangkut prajurit dan perbekalan sebagai senjata. Dia akan memerintahkan pemanah dan pasukan infanteri dengan tombak panjang untuk berada di gerobak, dan melancarkan serangan balik yang sama menghancurkannya dengan gerobak baja milik pasukan musuh dari dunia lain.


“Mereka salah memilih tempat ini sebagai lokasi pertempuran. Ini akan menjadi pertempuran yang menjatuhkan orang-orang bodoh itu,” ucap Ofra.


Gerobak terbuka yang ditarik sepuluh kuda dan diisi sepuluh hingga lima belas tentara akan menghasilkan kecepatan dan kekuatan yang diperlukan untuk mengurangi jumlah penunggang kuda musuh yang sangat terampil.


Sebagai komandan yang berpengalaman, Ofra tahu beberapa medan di Kerajaan Arevelk yang menurutnya akan menguntungkannya, sehingga dia dapat merencanakan tempat yang paling baik untuk menunjukkan kekuatan dari taktiknya.


Mengendarai gerobak yang hanya diisi olehnya serta sejumlah persenjataan, Ofra berteriak tanpa rasa takut, “Aku akan mengakhiri pertempuran ini dengan tanganku sendiri!”


Saat pasukan gerobak pemberontak maju ke depan, unit yang dipimpin Lux mengeluarkan teriakkan perang.


“Terus bertarung! Kita akan memenangkan pertarungan ini!” Lux berteriak, saat pasukan penunggang kuda yang ia pimpin menerobos barisan depan dengan mantap.


Lux pernah melawan pemberontak, dan menyebabkan prajuritnya menderita. Jika ada pertempuran yang akan mengalahkan para pemberontak, ia akan mengikutinya.


Itulah mengapa Lux tahu bahwa dia tidak memiliki rekan yang bisa diandalkan daripada seorang tentara Indonesia.


“Serangan musuh datang dari sisi kiri!” Lux mendapatkan laporan dari seorang tentara. “Mereka datang!”


Terkadang, Lux memiliki keraguan apakah dia memiliki kelayakan untuk menjadi jenderal. Saat ini, dia mencoba yang terbaik untuk mengatasi keraguannya sendiri.


Dia tidak berperan banyak dalam pembuatan taktik dalam pertarungan saat ini, sehingga dia berusaha sebaik mungkin melaksanakan perannya. Namun, Nio telah memberi peringatan bahwa pasukan kavaleri berat dengan tombak panjang akan bergerak lambat, sehingga lemah terhadap serangan samping.


Namun, Lux melihat beberapa prajurit infanteri musuh menaiki gerobak, dan menusuk tentaranya lalu menjauh dengan cepat.


Ratusan gerobak terbuka yang diisi sejumlah tentara infanteri dengan tombak panjang dan pemanah bergerak ke segala arah. Ukuran kuda dan gerobak yang diisi prajurit, lalu melakukan serangan cepat menimbulkan gelombang serangan yang tak dapat diantisipasi.


Lux gentar, dan sepertinya tentaranya merasakan hal yang sama saat melihat unit gerobak mendekat dan menciptakan badai debu.


“Bertarung dengan teguh! Jika kita bisa menahan mereka, kemenangan akan menjadi milik kita!” Lux berteriak sekuat tenaga, tapi tidak mencapai para tentaranya.


Pasukan yang dipimpin Lux telah jatuh dalam keadaan panik dan ketakutan.


Suara prajurit yang terbunuh oleh pasukan yang berada pada gerobak terdengar memilukan.


Kedua pasukan telah bentrok, dan saling berteriak.


Unit gerobak sangat mudah menghancurkan garis depan, dan membelah formasi anak panah Pasukan Penumpas Pemberontak menjadi dua


Ofra mengayunkan pedang besarnya, menebas tubuh pasukan musuh yang berusaha melawannya.


Prajurit-prajurit pemberontak mengeluarkan seruan perang yang mengguncang medan perang, seolah-oleh berusaha mengembalikan moral mereka.


“Apa-apaan pasukan gerobak itu?! Apa mungkin kita bisa mengalahkan mereka?!” Lux mengertakkan giginya.


Dia takut tidak dapat memenuhi kepercayaan yang Sigiz dan Nio yang ia terima, daripada kematiannya sendiri. Fakta bahwa dia tak mampu melindungi orang-orangnya, membuat Lux amat menyesal dan sulit diungkapkan dalam kata-kata. Bawahan kesayangannya diubah menjadi mayat, satu demi satu.


Melihat Lux yang meratap, berteriak ke langit, Ofra mengarahkan kuda-kuda yang menarik kudanya ke gadis tersebut. Dia berencana membunuh gadis itu, yang sudah terlihat tidak memiliki semangat bertarung lagi.

__ADS_1


Nio dan Sigiz tidak ada di sini, pasukan pendobrak dan unit yang dipimpin Kosh Her kesulitan untuk menangani ratusan gerobak yang menyebalkan. Puluhan musuh mengepung Lux, dan menyebabkannya menatap mereka dengan wajah putus asa. Dia berusaha mengeratkan kembali pegangan pada gagang pedangnya, namun keberanian tetap tidak ada.


__ADS_2