
Pemerintah resmi mendirikan Markas Besar Tentara Pelajar di Kota Karanganyar, dengan pusatnya sebuah bangunan bekas gedung olahraga. Setelah peresmian yang dilaksanakan sebelum kepulangan Pasukan Ekspedisi, Kepala Staf Tentara Pelajar menempati tempat ini.
Bangunan setinggi 3 lantai ini merupakan tempat dilaksanakannya upacara kenaikan pangkat dan pemberian penghargaan terhadap prajurit yang telah menunjukkan keberanian, ketabahan tekadnya, dan sifat kepahlawanan yang melampaui panggilan kewajiban dalam tugas operasi militer. Area bangunan ini ditutup untuk sipil, dan hanya kalangan khusus saja yang diperbolehkan memasuki bangunan ini, salah satunya keluarga prajurit.
Beberapa ratus meter dari bangunan adalah tempat berdirinya Gerbang sempurna yang kini tak ada lagi di sana. Sebelumnya, pagar pembatas setinggi 2 meter dibangun mengelilingi Gerbang, dan kini pagar pembatas itu hanya mengelilingi sebuah area kosong seluas 20 meter. Di salah satu sisi pagar pembatas berdiri tugu peringatan setinggi 8 meter, sebagai simbol ucapan terimakasih rakyat terhadap para pejuang muda yang melindungi Kota Karanganyar dari serangan musuh pasca perang.
Tidak ada yang keberatan dengan pembangunan Markas Besar Tentara Pelajar di kota ini, karena bisa digunakan sebagai simbol perlawanan dari sebuah peristiwa pasca perang yang dikenal dengan ‘Insiden Hari Kemerdekaan’.
Lagipula, Area Terlarang yang seluas 5 kilometer bisa digunakan untuk membangun berbagai fasilitas yang berhubungan dengan Tentara Pelajar. Sehingga, lahan yang digunakan untuk membangun Markas Besar hanyalah sebagian dari keseluruhan luas Area Terlarang. Sehingga, pemerintah berencana akan membangun Pusat Perhubungan yang berfungsi sebagai jalur masuk dan keluar bagi perwakilan Indonesia dan dunia lain.
Dipilihnya Kota Karanganyar tak lepas dengan adanya ‘penghubung’ yang telah dibangun kembali oleh para penyihir Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo, sehingga Gerbang bisa terbuka di area yang telah di tentukan, dengan syarat Gerbang tersebut hanya akan terbuka di dalah Area Terlarang. Jadi, rencana untuk memperkuat militer adalah langkah awal negara untuk mengirimkan kembali perwakilan Indonesia dan TNI ke dunia lain.
Langkah tersebut diambil kembali dengan harapan perang dengan musuh akan cepat menemui tahap akhirnya, dan perdamaian kedua pihak dapat diraih. Sehingga negara tidak perlu lagi mengorbankan prajurit terbaik untuk bertahan dari segala serangan musuh. Senjata mahal yang hancur bukanlah kerugian bagi negara, namun nyawa seorang prajurit jauh lebih berharga dari apapun.
Musuh seperti tidak memiliki rencana untuk berdamai dengan Indonesia, dan terus melancarkan serangan kecil hingga besar-besaran untuk melawan Pasukan Ekspedisi. Untuk memperkuat pasukan yang akan dikirimkan ke dunia lain beberapa waktu setelah upacara, Kementerian Pertahanan telah menyiapkan prajurit dan senjata terbaik. Negara sekutu juga menyatakan diri untuk membantu rencana pengiriman ‘Pasukan Perdamaian’ dengan mengirimkan sedikit tentara dan bantuan dalam bentuk lainnya.
Dan dengan demikian, pemerintah telah sepakat untuk kembali mengirimkan pasukan baru yang diberi nama ‘Pasukan Perdamaian’. Pasukan tersebut akan berjuang bersama negara-negara sekutu Indonesia, dengan tujuan meraih perdamaian dan menghentikan perang dengan dunia lain.
**
Beberapa waktu setelah upacara kenaikan pangkat dan pemberian penghargaan untuk prajurit Pasukan Ekspedisi dan sukarelawan.
Para prajurit dan sukarelawan berbaris dengan beberapa barisan untuk menerima penghargaan, para prajurit yang gugur juga ikut berbaris namun dalam bentuk foto yang dibariskan sedemikian rupa. Perwakilan keluarga prajurit yang gugur adalah penerima pangkat dan penghargaan mereka, mereka menekan rasa sedih dan tetap merasa bangga dengan anak, suami, dan kekasih mereka yang gugur di medan perang dunia lain.
Seorang perempuan dengan seragam lapangan dan ikat lengan berlambang Tentara Pelajar, dia terlihat masih berusia sekitar 20 tahun-an. Gadis prajurit Tentara Pelajar tersebut membawa foto Jendral Sucipto yang dibingkai dengan ukiran yang indah, dan dikalungkan tanda kehormatan Bintang Kartika Eka Paksi Utama. Dia tidak berdiri sendirian, di samping kanannya ada seorang perempuan yang berusia sekitar 40 tahun-an yang merupakan istri Sucipto adan ibu sang gadis, serta seorang remaja laki-laki yang berusia 15 tahun-an yang merupakan adiknya.
Sang ibu terlihat tidak bisa menyembunyikan rasa kehilangan terhadap prajurit kebanggannya yang juga seorang suami. Lalu, adik si gadis hanya bisa menunduk dan mengepalkan tangan dengan sangat kuat demi menahan rasa marah dan benci terhadap musuh yang telah membuat ayahnya gugur. Sementara si gadis sendiri yang berpangkat Prajurit Satu Tentara Pelajar berdiri sambil membawa foto ayahnya dengan wajah tegar, tapi matanya yang berkaca-kaca tetap tidak bisa menyembunyikan rasa kehilangannya.
Keberadaan anggota keluarga Sucipto di barisan terdepan membuat Nio dengan mudah mengenali mereka jika itu adalah tujuannya. Dia masih menyimpan surat milik Sucipto untuk diberikan kepada anggota keluarganya, dan ini Nio anggap sebagai ‘perintah terakhir’ Sucipto untunya.
Nio sendiri telah menerima kenaikan pangkat dan penghargaan, dia secara resmi berpangkat Letnan Satu Tentara Pelajar dan mendapatkan tanda kehormatan Bintang Kartika Eka Paksi Pratama. Seluruh prajurit Pasukan Ekspedisi juga menerima kenaikan pangkat satu dan dua tingkat lebih tinggi setelah mendapatkan rekomendasi langsung dari Presiden, dan penghargaan serupa seperti yang didapatkan Nio.
Prajurit Pasukan Ekspedisi masih berdiri di tempat masing-masing, dan melihat para sukarelawan yang mayoritas berasal dari kalangan ras Demihuman dan tentara bayaran yang berjuang bersama mendapatkan penghargaan yang dianugerahkan oleh Presiden berupa Bintang Mahaputera Adiprana.
Di antara para sukarelawan yang berbaris untuk mendapatkan penghargaan tersebut, Nio melihat Lux, Zariv, dan Edera yang ikut berbaris dengan mereka. Nio tidak terkejut atau semacamnya karena tidak diberitahu oleh mereka yang akan menjadi perwaklian untuk datang ke Indonesia, dan dia hanya tersenyum melihat ketiga gadis dan para sukarelawan mendapatkan penghargaan yang pantas mereka terima karena membantu menjaga kejayaan Republik Indonesia bersama Pasukan Ekspedisi.
Hanya saja, Nio harus bisa senang dalam batas sewajarnya setelah menerima semua itu, karena ada keluarga prajurit yang menerima penghargaan tinggi dalam keadaan telah gugur dengan terhormat. Dia merasa tidak bisa bahagia dengan berlebihan disaat ada banyak orang yang kehilangan prajurit kebanggan mereka. Terlebih mereka telah berjuang mati-matian hingga bantuan yang diharapkan kedatangannya tiba, dan memberikan kemenangan ini agar dapat membuat prajurit yang hidup terus berjuang.
Di lain sisi, Herlina yang kini mendapatkan kenaikan pangkat satu pangkat lebih tinggi, dan berpangkat Mayor merasa ‘kesal’. Atau tepatnya merasa jika pangkat antara dirinya dan Nio semakin jauh saja, dan kesempatannya untuk lebih dekat dengan Nio cukup kecil. Herlina berharap jika dia sedikit lebih lambat untuk bergabung dengan Tentara Pelajar, sehingga dia sekarang bisa berpangkat sama dengan Nio dan membuat kesempatannya untuk mendekati Nio lebih besar.
Dari tempatnya berdiri sekarang, Herlina bisa melihat jika gadis-gadis dunia lain yang dekat dengan Nio mengarahkan pandangan mereka ke arah pemuda itu. Bahkan dia juga melihat Sigiz dan Sheyn di tempat para tamu undangan berada, dan hanya melirik Nio saja. Sementara itu, ada cukup banyak pria yang mengarahkan pandangan mereka ke gadis-gadis dunia lain.
“Aku harap dunia lain tidak ada…”
Herlina mengatakan itu dengan harapan tidak ada ‘pesaingnya’ untuk mendapatkan Nio, karena dia mendengar jika hampir semua gadis-gadis dunia yang dekat Nio adalah tipe pemuda tersebut. Tapi Herlina juga berpikir, “Tapi… kalau Gerbang tidak ada, perang tidak akan terjadi, lalu Tentara Pelajar tidak terbentuk, jadi kesempatanku bertemu Nio tidak ada…”
Semakin Herliana memikirkan hal itu, gadis itu semakin tidak mengerti dengan alur pikirannya, dan hanya tertuju pada Nio dan Nio.
Arunika berdiri dari tempat yang khusus disediakan untuk keluarga prajurit, dan melihat dari tempat terbaik. Di sampingnya, Lisa hanya memperhatikan Nio yang telah resmi menjadi perwira Tentara pelajar, begitu juga dengan Arunika.
Namun, kanaikan pangkat yang didapatkan Nio ternyata bisa membuat kedua gadis itu merasa cemas. Karena itu artinya tugas Nio sebagai prajurit semakin banyak, apalagi dengan adanya rencana pengiriman Pasukan Perdamaian. Nio sudah diumumkan menjadi salah satu prajurit yang akan dikirimkan kembali ke dunia lain, demi menghentikan perang dan mencapai perdamaian. Dengan begitu, mereka berdua tidak akan sering sering bertemu dengan Nio, dan akan bertemu kembali dalam waktu yang cukup lama saat Nio mendapatkan jatah cuti yang singkat.
Intinya, ada beberapa gadis yang merasa cemas dengan perasaan mereka dengan Nio. Tapi, mereka tidak bisa menganggu tugas pemuda itu hanya gara-gara perasaan mereka.
20.32 WIB…
Waktu telah berganti dengan malam hari, tetapi suasana Kota Karanganyar seperti tidak ada matinya. Meski di desa-desa yang jauh dari pusat kota, suasana di sana masih ramai dengan orang-orang yang pulang kerja atau sekedar melakukan ronda malam.
Lalu, di Markas Besar Tentara Pelajar masih sangat ramai dengan para prajurit dan undangan yang menghadiri upacara ini. Bahkan terlihat juga ada beberapa perwakilan dari negara ASEAN, negara anggota G20, dan negara-negara sekutu Indonesia. Selain menyaksikan para prajurit yang pernah berjuang di dunia lain diberi penghargaan dan kenaikan pangkat, para undangan dari luar negeri juga ingin melihat sendiri penduduk dunia lain yang berjuang bersama Pasukan Ekspedisi. Karena pada perang sebelumnya, hanya manusia biasa yang mereka lawan, sehingga melihat langsung ras yang disebut dengan Demihuman adalah hal yang menakjubkan.
Lalu, Nio bisa kembali ke tempat Arunika berada, dimana dia menghadiri acara ini bersama Lisa. Lisa adalah salah satu warga sipil selain staf wartawan yang hadir di tempat ini, dia mendapatkan ijin khusus setelah Nio memohon agar gadis itu bisa menghadiri acara ini untuk menemani Arunika.
Tapi, beberapa orang justru memanfaatkan acara ini untuk berkenalan dengan para prajurit perempuan atau sipil. Di tempat yang tak jauh dari tempat tamu undangan, pasukan Sigiz duduk di tempat yang telah disediakan dan mengomentari suasana dunia ini. Beberapa dari mereka bahkan mencoba berkenalan dengan prajurit perempuan dengan bahasa Indonesia sebisanya, setidaknya mereka adalah prajurit elit Arevelk dan Yekirnovo yang telah belajar kalimat dasar dalam bahasa Indonesia, contohnya kalimat yang digunakan untuk berkenalan atau hanya sekedar memperkenalkan diri.
Lalu Nio melihat Arunika dan Lisa terlihat tidak nyaman dengan 15 perwira dan tamu undangan bujangan yang mengelilingi mereka dan melontarkan beberapa pertanyaan yang menyinggung masalah asmara mereka berdua.
Nio sebenarnya ingin membiarkan mereka berkenalan dengan satu atau dua laki-laki, sehingga Nio tidak perlu khawatir dengan pekerjaannya karena tidak perlu lagi berpikir dengan berlebihan keadaan percintaan kakak dan teman kakaknya itu. Tapi, tindakan Nio tidak seperti yang diinginkan pikirannya, dia bergerak atas perintah perasaanya sendiri.
Arunika dan Lisa melihat Nio yang berjalan ke arah mereka, dan mereka mencoba melarikan diri kepungan para laki-laki. Tapi, mereka seperti tidak akan membiarkan kedua gadis tersebut untuk menjauh dari mereka.
Nio memaksakan dirinya untuk membelah puluhan laki-laki yang mengepung Arunika dan Lisa, hal itu membuat beberapa laki-laki tersebut tidak menyukai tindakan Nio.
__ADS_1
Pemuda itu kemudian melingkarkan kedua tangannya ke leher kedua gadis tersebut, dan memasang wajah seperti sehabis mendapatkan kemenangan besar. Melihat aksi Nio yang seakan-akan adalah pemilik kedua gadis itu, seluruh laki-laki bujangan yang mencoba peruntungannya dengan mendekati Arunika dan Lisa berjalan menjauhi mereka bertiga dengan hati yang patah, beberapa lagi disertai dengan umpatan.
“Dasar brengsek…”
“Bajingan itu… kenapa dia bisa mendapatkan dua perempuan sekaligus…”
Senyuman Nio semakin lebar setelah mendengar ucapan seperti itu, tapi tidak dengan Arunika dan Lisa.
Kedua gadis itu melihat tangan besar Nio yang melingkar di leher mereka, dan tangan tersebut terlihat sangat kuat dan berat. Meski salah satu tangan tersebut bukanlah tangan asli, tapi sama beratnya dengan tangan asli. Itulah kedua tangan yang telah melindungi mereka berdua dari ancaman musuh dari dunia lain.
Arunika dan Lisa sama sekali tidak terganggu dengan perlakukan Nio seperti ini, dan ingin momen ini sering mereka dapatkan. Perlahan-lahan, pipi keduanya memerah, dan tidak ingin Nio pergi untuk saat ini.
Sementara itu, Sheyn yang membawa beberapa ksatria Barisan para Mawar juga tak menjadi target bagi beberapa perwira TNI yang bujangan atau tamu undangan dari negara sekutu yang tertarik dengan mereka. Beberapa ksatria yang Sheyn bawa adalah para komandan pasukan dan beberapa ksatria terbaiknya.
Mawar Kuning, dengan nama asli Seish, dia terlihat sama sekali tidak tertarik dengan perwira TNI bujangan yang mencoba berkenalan dengannya. Meski dia mengerti perkataan yang mereka katakan, Seish terlihat hanya menanggapinya dengan senyuman, lalu pergi ke tempat Sheyn berada.
Gadis salah satu komandan Barisan para Mawar yang memiliki rambut berwarna keperakan, atau dirinya mendapatkan julukan Mawar Putih yang bernama asli Uto justru menanggapi laki-laki yang mendekatinya dengan perkataan yang kasar. Anehnya, beberapa laki-laki yang mendapatkan jawaban kasar dari Uto justru merasa senang, dan semakin ingin mendekati gadis itu.
Lalu, komandan Barisan para Mawar yang memiliki rambut berwarna kemerahan menanggapi laki-laki yang mendekatinya dengan senang hati, dan berbicara dengan biasa bersama beberapa perwira bujangan TNI. Wajah gadis yang bernama Gozoa terlihat ‘dewasa’, dan itulah yang menjadi daya tarik laki-laki untuk berkenalan dengannya. Namun, Gozoa menanggapi mereka hanya untuk menghindari hal-hal yang merepotkan, alias dirinya tidak terlalu tertarik dengan perwira bujangan, kecuali beberapa orang tertentu.
Bersama beberapa perwira dan tamu undangan perempuan duduk bersama dan melakukan beberapa topik pembicaraan bersama Sigiz dan Sheyn. Sigiz dan Sheyn hanya tertarik dengan produk kecantikan yang dibicarakan, karena mereka mengagumi kecantikan perempuan Indonesia yang terlihat sederhana tapi elegan meski hanya dengan riasan tipis.
Selain itu, kemampuan berbahasa Indonesia Sigiz dan Sheyn yang terdengar sangat fasih membuat orang-orang yang berbicara dengan mereka berdua kagum.
“Anda terlalu memuji, Ratu. Justru kami sangat mengangumi kecantikan anda yang terlihat alami.”
Perkataan salah satu perwira perempuan yang baru saja naik pangkat ke Kapten Infanteri membuat Sigiz merasa heran.
“Yah… tapi saya belum pernah menggunakan produk kecantikan seperti kalian. Tapi saya sering menggunakan bahan alami yang diracik pelayan terbaik istana, yang berfungsi membuat kulit saya selalu terlihat terawat.”
“Jadi perempuan dunia lain seperti anda juga menggunakan bahan alami untuk merawat tubuh?”
Lalu, seorang tamu undangan menyambung perkataan perwira perempuan tersebut, “Yah… sejak sejak perang selesai, bahan-bahan alami yang kami gunakan saat uang menipis dan tidak cukup untuk membeli kosmetik semakin langka.”
Setelah perkataan tamu undangan perempuan tersebut, dengan bersamaan seluruh perempuan yang berada di sekeliling Sigiz dan Sheyn terlihat menghela napas dan berwajah lemas. Meski hati Sigiz sedikit merasa lega, setelah para perempuan Indonesia tidak mengatakan jika ada sihir yang bisa membuat wajah awet muda. Karena ‘kutukan’ yang keluarganya terima menyebabkan dirinya seperti remaja berusia 25 tahun-an meski usia aslinya 60 tahun.
Tapi, Sheyn dan Sigiz sama sama merasa perkataan mereka adalah jalan untuk mempererat hubungan kedua negara yang mereka pimpin dengan Indonesia. Meski mereka bukanlah bagsawan atau perwira terkenal, setidaknya ada beberapa orang yang bisa diajak untuk mendukung hubungan Indonesia dan negeri yang mereka kuasai.
Salah satu perwira perempuan TNI menjawab pernyataan Sheyn, “Tentu saja, karena negeri kalian juga telah membantu banyak Indonesia di perang sebelumnya.”
“Benar, pasti ada banyak rakyat yang mendukung Indonesia mempererat hubungan dengan seluruh negara di dunia lain.”
Setelah itu, oborlan ‘gadis’ mereka berlanjut meski masih ada beberapa laki-laki, baik dari kalangan prajurit TNI bujangan dan tamu undangan yang tertarik dengan kedua ratu tersebut.
Lalu, keduanya menoleh ke arah yang sama, yakni ke arah Nio yang sedang merangkul dua gadis. Mereka merasa jika meski Arunika dan Lisa adalah orang terdekat Nio, pemuda itu tidak seharusnya melupakan mereka setelah bertemu kembali dengan kedua gadis tersebut.
Tiba tiba Sheyn berdiri tanpa bicara apapun ke arah Nio berada, dan Sigiz memiliki tujuan yang sama dengannya.
“Mohon maaf sebesar-besarnya, sebenarnya saya ingin menemui seseorang. Apa boleh saya meninggalkan pembicaraan ini?”
“Oh… silahkan…”
Sigiz kemudian menyusul Sheyn mendekati Nio yang belum juga melepaskan rangkulannya dari kedua gadis tersebut. Saat melihat kedua ratu tersebut berjalan ke arah Nio, para perempuan yang berbicara dengan mereka sebelumnya merasa jika mereka berdua tidak akan kembali untuk melakukan pembicaraan. Karena dia adalah Nio, jadi menurut mereka wajar saja jika kedua ratu tersebut ingin bertemu dengannya.
Tidak ada pertengkaran antar perempuan yang terjadi setelah kedatangan Sigiz dan Sheyn ditengah Arunika dan Lisa yang masih ingin merasakan hal langka dari Nio ini. Untungnya, kedatangan kedua ratu tersebut tidak membuat Nio melepaskan rangkulannya, tapi pemuda tersebut tidak bisa bereaksi semestinya.
“Kakak, apa kamu menikmati itu?”
Sigiz menanyakan hal itu sambil tersenyum yang penuh ‘makna’. Tapi, Arunika semakin menempelkan tubuhnya ke Nio, dan berhasil membuat alis Sigiz berkedut.
“Yah, aku sangat menikmatinya… apa kau juga mau, Ratu?”
“Tidak perlu, aku sudah sering diperlakukan seperti itu oleh Tuan Nio.”
“Masa?”
Arunika tahu jika yang dikatakan Sigiz adalah bualan, dan merasa jika yang dilakukannya benar-benar sudah membuatnya kesal.
“Tunggu… dia memanggilmu kakak. Kan, Arunika?”
Reaksi Lisa ketika mendengar Sigiz memanggil sahabatnya dengan panggilan ‘kakak’ memang tak terduga.
__ADS_1
Lalu, Lux, Zariv, dan Edera adalah gadis-gadis dunia lain yang datang berikutnya. Nio hanya tersenyum puas dengan apa yang dia dapatkan, dan mendengarkan adu mulut antar gadis di dekatnya.
Acara sebenarnya telah selesai, namun Suroso berdiri di mimbar setelah memberikan penghargaan terhadap prajurit Pasukan Ekspedisi dan sukarelawan. Melihat hal itu, Nio melepas rangkulannya dari Lisa dan kakaknya, dan menyimak apa yang akan dikatakan presiden muda tersebut.
Suroso sama sekali tidak membawa catatan seperti saat pertemuan resmi, karena memang ini adalah acara tambahan yang memang ingin Suroso lakukan.
“Saya ingin mengatakan beberapa patah kata mengenai perjuangan prajurit Pasukan Ekspedisi dan sukarelawan.”
“Ada banyak tawanan yang didapatkan mereka, dan kita bisa menggunakan para tawanan sebagai sumber informasi mengenai rencana musuh kedepannya. Informasi terpenting yang kami dapatkan adalah musuh telah membentuk kekuatan besar yang disebut Aliansi.”
“Aliansi telah melakukan pertempuran pertama mereka dengan tujuan menghabisi Pasukan Ekspedisi dan merebut kembali Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Baru. Mereka adalah musuh yang telah membunuh prajurit-prajurit terbaik kami.”
“Indonesia dan negara-negara sekutu Indonesia telah sepakat untuk mengirimkan pasukan baru yang kami beri nama ‘Pasukan Perdamaian.”
“Sesuai namanya, selain menjaga keamanan negara dari dunia lain, pasukan ini akan bertugas menghentikan perang dan membawakan perdamaian bagi kedua dunia. Mungkin beberapa dari saudara telah mendengar berita ini, tapi saya akan memeberitahukan kembali berita ini.”
“Kami tidak akan mengulangi kesalahan sebelumnya, dimana kami hanya membekali pasukan dengan persenjataan tua yang lebih pantas dimuseumkan daripada digunakan bertempur kembali. Kami akan mengirimkan prajurit-prajurit yang terpilih, pasukan khusus, dan persenjataan terbaru yang jauh lebih kuat.”
“Seperti yang dikatakan prajurit-prajurit Pasukan Ekspedisi dan sukarelawan, dunia lain memiliki banyak hal yang sangat berbahaya dan rahasia-rahasia lainnya. Selain menjaga keamanan negara dari dunia lain, Pasukan Perdamaian memiliki tugas untuk melanjutkan penjelajahan Pasukan Ekspedisi. Karena mereka baru memetakan sebuah wilayah yang bernama Benua Andzrev.”
Layar besar di belakang Suroso telah berubah gambar, dan memperlihatkan ilustrasi Benua Andzerv. Banyak orang yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil foto, sehingga pembicaraan Suroso sedikit terganggu. Setelah semua orang mengambil foto Benua Andzrev, Suroso melanjutkan pembicaraannya.
“Meskipun ada saran agar tidak mengirimkan pasukan lagi ke dunia lain, karena belum tentu Gerbang akan terbuka lagi di Indonesia. Namun, tidak membuka kemungkinan jika ada negara yang berencana membuka lagi Gerbang, dan membukanya di salah satu negara di dunia ini. Jadi, tugas Pasukan Perdamaian di sana adalah untuk mencegah hal-hal yang jika terjadi akan berakhir buruk bagi dunia ini.”
“Perang pertama dengan Aliansi mungkin membuat negara-negara lain di dunia lain bergabung dengan perang tidak berguna itu. ‘Badai Besi di Bulan Juni’ adalah nama yang saya berikan untuk perang yang membuat banyak sekali prajurit terbaik bangsa gugur.”
“Bagi prajurit Pasukan Ekspedisi yang masih hidup, saya harapkan kalian melanjutkan perjuangan kalian. Ada pertanyaan dari saya untuk kalian para prajurit Pasukan Ekspedisi yang telah melalui pertarungan dengan musuh yang berjumlah jauh lebih banyak dari kalian. Apa yang membuat kalian tidak mundur dan terus berjuang, padahal waktu itu Gerbang telah tertutup dan kalian tidak terhubung dengan Indonesia untuk sementara?”
Wajah para prajurit Pasukan Ekspedisi terlihat kebingungan dengan ‘pertanyaan mudah’ yang ditanyakan Suroso. Mereka merasa tidak bisa menjawab dengan alasa “Ingin melindungi Sang Merah Putih di belakang kami”, karena itu adalah jawaban yang terlalu biasa.
“Maju kena mundur kena…”
Salah satu prajurit Pasukan Ekspedisi yang berasal dari Tentara Pelajar menjawab dengan asal-asalan seperti itu, dan prajurit itu ialah Liben. Dia bisa menjawab seperti itu karena ketika pertempuran benteng telah dikepung dari segala arah, jadi jika pasukan akan mundur maka mereka akan diserang musuh.
Tapi, Suroso masih mencari jawaban dari prajurit lainnya, dan menahan tawa dengan jawaban yang diberikan Liben.
“Ya udah, kita bisanya cuma maju doang sih… karena dalam pasukan Indonesia, dibutuhkan lebih banyak keberanian untuk mundur daripada maju.”
(olog note: yang suka sejarah pasti tahu tokoh yang pernah mengatakan kata-kata itu.)
Seorang prajurit tanpa menyebutkan namanya terlebih dahulu menjawabnya seperti itu, dan membuat sebagian besar pasang pandangan diarahkan padanya.
Arunika hanya duduk diam seolah-olah tidak mendengar apapun, padahal yang menjawab pertanyaan dari Suroso adalah Nio sendiri. Sementara itu, Nio hanya duduk diam dengan perasaan tak karuan karena mengutip salah satu kata-kata dari tokoh sejarah Perang Dunia II, dia merasa jika kata-katanya sangat tidak ada hubungannya dengan pertanyaan Suroso.
Suasana tempat yang tiba-tiba cukup hening setelah dia mengatakan jawabannya, membuat perasaan Nio semakin tidak karuan. Sehingga dia sekarang sangat ingin segera keluar dari tempat ini, dan mengubur dirinya daripada menanggung rasa malu yang besar.
“Benar... itu baru komandan kami…!”
Suara itu, berasal dari Sidik dan terdengar sama sekali tidak malu dengan nadanya yang cukup keras.
Sementara itu, orang-orang yang akhirnya tahu jika jawaban itu berasal dari Nio bertanya-tanya dengan apa yang terjadi dengannya hingga kehilangan tangan dan mata kanannya.
Namun, setelah mendengar jawaban Nio sebelumnya, itu membuat mereka yakin jika Nio tidak membiarkan dirinya mundur dari pertarungan.
Lalu, Suroso berkata setelah mendengar jawaban dari Nio, tapi dia berkata sambil sedikit tersenyum.
“Kalian ini… musuh berjumlah 300.000, dan jumlah sisa pasukan sebelum kedatangan pasukan bantuan tinggal 14.809 prajurit dengan amunisi yang sangat terbatas. Padahal maut sudah didepan mata jika kalian terus bertarung dengan sisa tenaga, tapi kalian tetap mengejar target dan melawannya. Itu berarti ada dua kemungkinan, kalian sudah gila atau kalian memang prajurit terbaik yang bangsa ini miliki.”
Padahal Nio bisa menjawab seperti itu karena melihat sendiri benteng yang dikepung oleh musuh dari segala arah. Jika dia memilih mundur, dia sama saja memilih maju karena sama-sama akan melawan musuh.
“Baiklah, kita memang tidak bisa main-main dengan pasukan negara ini.”
“Apa maksudmu?”
Lux sendiri mengatakan itu setelah melihat perjuangan yang kelewat percaya diri dari Pasukan Ekspedisi. Dia menanggapi perkataan salah satu bawahannya dengan wajah sangat serius.
“Atau kita akan berhadapan dengan senjata terkuat di dunia.”
**
__ADS_1
(ilustrasi Benua Andzrev, sumber gambar pribadi)