
27 hari berlalu sejak Tim Ke-12 dikirimkan ke garis depan untuk menjaga Zona Perbatasan Ke-21.
Tidak ada penyerangan maupun tanda-tanda pergerakan dari pasukan musuh terdekat, dan seperti yang telah menjadi rutinitas kapten tim, Nio menuliskan laporan kegiatan kemarin dan dua hari yang lalu dengan santai sambil mendengarkan beberapa anggotanya yang melakukan kegiatan masing-masing.
Sejak awal penugasan ke zona ini, Tim Ke-12 baru mengalami satu kali pertempuran, dan tidak ada korban jiwa atau luka, itu seperti yang diharapkan dari tim yang diisi prajurit elit dan dipimpin kapten berpengalaman.
“Letnan, ada panggilan dari Kapten Lee Baek Ho untukmu.”
Bima terlihat selalu memasang wajah galak, meski dia tidak segalak yang dibayangkan. Dia adalah pelatih calon prajurit Tentara Pelajar di Garnisun Blitar, dan mendapatkan julukan ‘Penyiksa Masa Muda’ dikalangan calon prajurit. ‘Pemarah’ adalah kode nama yang diberikan Nio untuk pemuda itu karena dianggap lebih cocok dan tidak terlalu mengintimidasi daripada memberikannya kode nama ‘Penyiksa’.
Nio meletakkan pulpennya setelah laporan dari Bima didengarnya, dan keduanya berjalan ke salah satu tenda yang berfungsi tempat sumber daya dan komunikasi dengan markas pusat. Karena itu di tenda ini terdapat serangkaian kabel dan beberapa benda berbentuk kubus yang merupakan penyimpan daya listrik alias baterai.
Nio memasang headphone komunikasi radio di telinga kanan dengan santai, dan mengucapkan salam dengan atasan langsungnya tersebut.
“Selamat siang Kapten Baek Ho.”
“Selamat siang Nio. Kuharap kalian makan dengan benar di sana. Pekerjaan yang hebat selama 27 hari ini, seperti biasa.”
Nio bergumam jika cara bicara pria itu seperti ibu-ibu yang mencemaskan anaknya yang mengikuti persami di sekolah. Nio bisa mendengar jika ruang kerja atasannya cukup sibuk, sehingga terdengar suara beberapa orang berteriak atau menggerutu.
Sesuai dengan kesan pertamanya, Mayat Hidup adalah tipe orang yang tenang dan sedikit pendiam untuk beberapa alasan. Ada beberapa anggota tim yang meminta Nio untuk menitipkan salam mereka untuk Baek Ho.
“Letnan Nio, aku akan memulai dengan pemberangkatan anggota tambahan untuk tim mu…”
Sambil mendengarkan percakapan Kapten Lee Baek Ho dan Nio yang melanjutkan pertukaran kata mereka, Bima menghabiskan waktu di tempat ini dengan mencoba menghubungkan sinyal komunikasi Tim Ke-12 dengan unit penjaga perbatasan terdekat. Tim ini butuh kabar tentang kondisi zona perbatasan terdekat dan saling berkomunikasi satu sama lain.
Di sekeliling tenda tempat Nio dan Bima berada, ada beberapa anggota yang menjadikan tempat ini sebagai tempat berkumpul. Nio sama sekali tidak terganggu dengan suara berisik anggota yang lain, namun wajah Bima menunjukkan ekspresi tidak tanah dengan suara berisik dari luar, seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Nio lalu memberikan isyarat kepada Bima untuk menahan diri, namun dirinya juga merasa resah dengan emosi Bima yang terlihat kurang stabil tersebut.
Yang lain sedang berkumpul di tenda atau memantau keadaan bersama Hendra di atas pohon. Dan suara-suara ceria mereka bisa terdengar dari tempat Nio berada.
Jika tidak ada panggilan dari pusat seperti sekarang, Nio akan lebih memilih menghabiskan waktu di meja kerjanya untuk mengurus laporan dan dokumen lainnya. Hassan sesekali melakukan pembicaraan Nio mengenai perencanaan pekerjaan esok hari, dan anggota lain sesekali mengganggu mereka dengan cara bernyanyi dengan suara yang tidak karuan, hampir mirip dengan nyanyian orang yang terkena gangguan jiwa. Tenda para laki-laki seperti markas pusat yang bisa berfungsi untuk semua hal, termasuk bisa digunakan Hevaz dan Edera untuk bekerja sama menggoda Nio yang sedang bekerja.
Nio, sebagai pemimpin tim tampaknya tidak keberatan dengan anggotanya yang sering mengusilinya, selama mereka tidak melupakan tugas utama memantau perbatasan. Dia akan tetap diam meski anggotanya membuang beberapa peluru untuk berburu ayam ‘purba’ atau hewan dunia ini yang bisa dimakan, tentu saja mereka berkonsultasi dengan Edera dan Hevaz agar bisa membedakan hewan yang bisa dimakan dan tidak bisa dimakan. Dia juga akan memerintahkan anggotanya untuk melepaskan beberapa tembakan peringatan bila melihat musuh berusaha mendekati garis perbatasan, dan dia akan menghajar anggotanya jika terbukti melukai musuh yang tidak berusaha melakukan tindakan yang membahayakan anggota tim ini.
Melihat suasana yang damai ini (namun tidak untuk Bima yang terlihat ingin berteriak untuk meminta teman-temannya diam) Nio berbicara dengan Baek Ho sambil menyesap kopi dari cangkir, yang membuatkannya adalah Zefanya. Gadis itu juga membuatkan kopi dari bubuk instan untuk Bima, namun tujuan utamanya tetaplah Nio.
Seolah ingin mengganggu percakapan penting antara Nio dan Lee Baek Ho, terdengar suara kucing dengan cukup keras.
Nio sedikit terkejut mendengar suara kucing, namun dia menebak-nebak pemilik kucing tersebut.
“Apa Nona Ilhiya ada di sana, Kapten?”
“Oh, ya. Ternyata kamu mengenal salah satu perwira pasukan penyihir Kerajaan Arevelk, ya? Selain Nona Ilhiya, Ratu Sigiz juga ada di sini.”
“Sudah kuduga.”
Di tempat Baek Ho berkomunikasi dengan Mayat Hidup, Ilhiya terlihat ingin mengatakan sesuatu kepada Nio untuk menggantikan ratunya yang terlihat berdiri dengan wajah tersipu. Ilhiya memeluk kucing yang dia temukan ketika pertama kali mengunjungi Karanganyar, alias kucing itu ‘mantan’ kucing liar yang naik kelas menjadi peliharaan perwira pasukan penyihir Arevelk.
Keberadaan kucing peliharaan Ilhiya yang terlihat masih kecil ternyata mampu membuat Demihuman bertelinga kucing (salah satunya Edera) resah. Karena di dunia ini hanya ada Demihuman setengah kucing, keberadaan kucing asli yang dibawa langsung dari Indonesia adalah keberadaan baru di dunia ini, dan satu-satunya di dunia ini. Para Demihuman setengah kucing merasa resah dan mengira nenek moyang mereka adalah kucing asli seperti yang dipelihara Ilhiya.
“Nona Ilhiya sepertinya ingin berbicara dengan mu.”
“Oh, biar aku bicara dengannya.”
Karena tidak tahu cara memasang headfree komunikasi radio di telinganya, Baek Ho terpaksa membantu gadis itu untuk memasangkannya. Dia sedikit terkejut ketika bisa mendengar suara seseorang yang tidak ada di dekatnya, dan hampir sama dengan sihir komunikasi yang para penyihir kerajaan kuasai namun dengan jangkauan lebih terbatas. Ilhiya menilai jika alat komunikasi kecil di telinganya tidak memiliki batas jarak jika ingin menggunakannya.
“Tuan Nio, ngomong-ngomong kucing yang kudapatkan dari negaramu ternyata sangat berguna. Dia hampir setiap hari memburu binatang pengganggu yang merusak bahan makanan istana. Dia menyebabkan hama di ruang penyimpanan makanan Istana Awan berkurang dengan sangat banyak. Semua hama yang didapatkan lalu dimakan olehnya, apa itu wajar?”
Mendengar perkataan Ilhiya yang memelihara kucing ‘dunia lain’ membuat sedikit senyum di bibir Nio. Rasanya aneh jika ada orang dunia lain yang memelihara binatang ‘dunia lain’.
__ADS_1
“Siapa nama kucing itu?” Nio mencoba bertanya sebelum memasuki pembicaraan yang sesungguhnya.
“Olog.”
“Darimana kamu dapatkan nama itu, apa itu kata-kata bahasa dunia ini? Aku belum mendengarnya.”
“Apa nama itu kurang layak? Kupikir itu nama yang bagus meski tidak ada artinya.”
Sepertinya nama itu memang tidak ada didalam bahasa dunia ini, dan mungkin akan menjadi kata baru yang ditambahkan ke dalam kamus. Namun penemu kata itu harus menentukan artinya dengan sungguh-sungguh.
“Lalu, apa yang ingin kamu bicarakan?”
Ilihiya memandang wajah Sigiz yang menyuruhnya untuk berbicara, namun gadis itu bertanya pada ratunya mengapa tidak dia sendiri yang berbicara dengan Nio. Sigiz menjawab jika Ilihiya hanya perlu mengatakan pesan darinya untuk Nio, dan kalau Nio bertanya dia hanya perlu menjawab “Sigiz sedang berhalangan hadir”.
“Ummm. 3 hari lagi akan ada perayaan upacara ‘Pergantian Tahun’. Lalu, kamu akan menjadi tamu untuk merayakan upacara di Istana Awan. Ini adalah undangan langsung dari Yang Mulia Sigiz, jadi kamu tidak berhak untuk menolaknya!”
Sigiz mengacungkan kedua jempolnya ketika melihat Ilhiya sangat totalitas dalam melaksanakan perintah. Lee Baek Ho yang belum terlalu menguasai bahasa dunia ini hanya bisa memandang dengan wajah polos Ilhiya yang berbicara dengan Nio, dan memilih mengerjakan beberapa dokumen yang memiliki batas waktu penyerahan hari ini dan besok.
Lah kok maksa, begitulah pikir Nio tentang undangan yang dikatakan Ilhiya.
Nio memasang seperti orang yang sedang berpikir (meski yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana orang dunia ini merayakan dunia lain… dan dada Sigiz serta beberapa gadis lain), Mayat Hidup tampaknya telah menemukan jawaban dari undangan yang terkesan memaksa itu.
Lee Baek Ho meminta lagi headfree yang masih digunakan Ilhiya setelah melewati batas waktu yang disepakati mereka berdua. Sementara itu, Sigiz menggunakan otoritasnya sebagai pemimpin sebuah negara untuk mencegah Baek Ho yang berusaha meminta alat komunikasi itu.
Daripada membuat Sigiz cemberut dan hubungan yang sudah dibuat dengan Arevelk retak hanya gara-gara dia memaksa untuk meminta lagi alat komunikasinya, Baek Ho menendang kursinya dan mendudukinya lagi. Sigiz yang melihat prajurit kontingen Korea Utara itu kesal justru tersenyum seolah-olah kemenangan sudah dia raih.
“Apa sesuatu terjadi?”
Wajah Ilhiya terlihat kebingungan, dan melepas headfree di telinganya yang sepertinya terputus dengan sinyal Tim Ke-12.
“Apa ada masalah, Nona Ilhiya?”
Sigiz memandang orang Korea Utara itu dengan tatapan curiga, tetapi dia melihat jika Baek Ho tidak melakukan suatu hal yang menyebabkan komunikasi antara Ilhiya dan Nio terputus tiba-tiba.
Lagipula, menara komunikasi belum selesai dibangun seluruhnya, dan mengandalkan sinyal darurat jika ingin berkomunikasi dengan personel yang melaksanakan misi di luar markas pusat, tentu saja dengan jangkauan sinyal yang terbatas juga.
Kedua gadis itu kemudian keluar dari ruang staf Korps Pengintaian dan Pertempuran setelah mengetahui komunikasi mereka terputus tiba-tiba. Wajah murung mereka menjadi perhatian seluruh pria di ruangan ini, karena sama sekali tidak menyembunyikan kecantikan mereka berdua. Bahkan Lee Baek Ho hampir saja terpesona dengan Sigiz dan Ilhiya, namun menyingkirkan khayalannya setelah teringat dengan anak dan istrinya di rumah serta kedekatan Nio dengan mereka.
Sigiz merasa setidaknya kabar jika Nio diundang ke Istana Awan telah tersampaikan, dan urusan diterima atau tidak oleh Nio adalah hal yang tidak perlu dikhawatirkan. Namun dia tetap khawatir dengan pemuda itu dan timnya setelah sambungan antar mereka berdua terputus, dan membayangkan jika musuh tiba-tiba menyerang perkemahan tim tersebut.
Sesaat setelah Sigiz dan Ilhiya keluar dari ruangan dan baru berjalan beberapa meter dari pintu masuk, wajah Baek Ho memperlihatkan senyum menyeringai. Dia mengambil lagi alat komunikasi dan meminta staf komunikasi untuk menghubungkannya dengan sinyal Tim Ke-12 yang sempat terputus.
“Kenapa sambungan tiba-tiba terputus? Apa yang terjadi, Bima?”
Bima memeriksa lagi apakah sinyal tim ini dengan pusat masih terhubung atau benar-benar terputus dengan tiba-tiba.
“Sudah tersambung lagi, silahkan dicoba.”
Nio memasang alat komunikasi setelah Bima menghubungkan sinyal ke markas pusat, dan dapat mendengar suara atasannya.
“Aku masih terhubung dengan Nio, kan?”
“Ya, Anda masih terhubung denganku, Kapten Baek Ho.”
Nio memberinya jawaban setengah hati setelah sambungannya terputus beberapa saat, dan menatap Bima yang terlihat sedang berusaha mempertahankan sinyal tetap terhubung. Ada cukup banyak tombol yang fungsinya tidak terlalu Nio pahami, namun Bima terlihat sangat ahli dalam urusan komunikasi.
Atasannya kemudian mengatakan sekali lagi jika Tim Ke-12 akan mendapatkan tambahan anggota, dan Nio masih menjadi kapten tim ini. Jumlah anggota tambahan sebanyak 8 orang sedang dalam perjalanan udara menuju Zona Perbatasan Ke-21, dan membawa perlengkapan tambahan berupa kendaraan dan logistik.
Menurut Lee Baek Ho, Tim Ke-12 adalah satu-satunya tim Korps Pengintaian dan Pertempuran dengan anggota paling sedikit. Hanya tim itu yang beranggotakan 12 orang, sedangkan tim lainnya berjumlah antara 20 hingga 24 anggota.
__ADS_1
Sementara itu, Nio lebih menyukai sedikit anggota yang berkualitas, karena pengaturan yang lebih mudah yang berasal dari pengalamannya memimpin sebuah regu. Namun, memiliki lebih banyak anggota dalam sebuah tim memiliki beberapa keuntungan, salah satunya memungkinkan membagi tim menjadi dua kelompok, dimana satu kelompok bertugas berpatroli di sepanjang garis Zona Perbatasan Ke-21 dan kelompok yang satunya mengamankan perkemahan dan mengurusi hal-hal lain, lalu tugas itu bisa dilakukan secara bergantian.
Kedua sambungan kemudian terputus setelah Nio mendapatkan kabar jika anggota tambahan akan tiba 3 jam lagi.
**
Sebuah benteng dibangun sekitar 5 kilometer dari garis perbatasan antara wilayah Tanah Suci yang dikuasai pasukan ‘dunia lain’. Benteng yang diperkuat dengan tembok setinggi 5 meter dengan beberapa balista di atasnya membuatnya salah satu struktur paling megah yang dimiliki Kekaisaran Luan selain Istana Kaisar dan jembatan yang membentang di sungai terbesar di benua ini, sekaligus menjadi parit alami untuk mempertahankan istana dari serbuan musuh.
Namun, sejak pasukan Indonesia tiba dan membalas perbuatan mereka atas perang sebelumnya, ada beberapa kapal yang memiliki meriam besar di atasnya (tankboat). Senjata milik pasukan Indonesia itu melintas di Sungai Turku dengan kecepatan melebihi kapal perang mereka, dan melepaskan beberapa tembakan yang menghancurkan beberapa sisi istana dan pangkalan militer di dekat ibukota hingga hampir hancur dengan ledakan besar yang dihasilkan peluru meriam pada kapal tersebut. Itu merupakan salah satu hasil dari operasi pengeboman sebelum Pasukan Ekspedisi kembali ke Indonesia, dan meninggalkan Unit Laut dan Air di dunia ini untuk sementara hingga berganti nama Unit Laut dan Air Pasukan Perdamaian (ketika Pasukan Ekspedisi ditarik kembali, prajurit TNI AL yang ditinggal di dunia lain hampir menghancurkan ibukota Kekaisaran Luan dengan senjata nuklir yang diangkut pada kapal penghancur).
Bagaimanapun, dengan teknologi yang dimiliki oleh negara-negara di dunia ini, benteng dan menara lonceng setinggi 30 meter telah menjadi bangunan termegah. Dengan benteng setinggi antara 4 hingga 8 meter, lalu terdapat senjata dan pemanah di atasnya, mereka akan memiliki pertahanan kuat. Jumlah benteng di suatu negara juga menjadi simbol kekuatan suatu negara.
Untuk saat ini, mari kita ubah ceritanya.
Pada salah satu ruangan di benteng terdepan milik Kekaisaran Luan alias Aliansi ini,terdapat lima orang yang sepertinya komandan pasukan yang ditempatkan garis terdepan ini. Artinya, mereka ditempatkan di wilayah yang berhadapan langsung dengan wilayah musuh (Persekutuan).
Ruangan ini diterang dengan beberapa lilin berukuran sedang. Demi menjaga kekuatan benteng, ruangan-ruangan yang ada sengaja tidak dilengkap dengan semacam jendela. Jika ingin udara masuk ke dalam ruangan, seseorang hanya perlu membuka pintu untuk merasakan udara sejuk. Namun, pintu selalu ditutup rapat jika ada rapat atau pertemuan penting, sehingga orang di dalamnya harus menahan gerah hingga pertemuan berakhir.
Namun, kekalahan memalukan mereka ketika 400 pasukan berkuda berencana menyerbu pasukan kecil musuh yang berjaga di perbatasan berakhir dengan kegagalan. Hanya 98 prajurit yang berhasil menyelamatkan diri dan bisa kembali dengan kondisi terluka akibat perlawanan tak terduga dari lawan kecil mereka. Perlawanan yang diberikan dua ‘capung besi’ membuat pasukan itu hampir musnah, hingga ke-98 prajurit tersebut harus mati-matian untuk menyelamatkan diri dari kekuatan tak masuk akal dari tunggangan musuh tersebut.
Kekalahan itu menghantui pikiran kelima perwira pasukan di benteng ini, masing-masing dari mereka memiliki ekspresi suram di wajah mereka yang mendekati ekspresi marah bercampur putus asa.
Perintah tak masuk akal dari Aliansi membuat mereka kehilangan cukup banyak prajurit. Namun sebagian juga salah perwira pasukan di benteng ini yang hanya mengirmkan 400 prajurit berkuda daripada mengerahkan seluruh kekuatan mereka yang berjumlah 5.000 prajurit.
Mereka sangat yakin jika benteng yang mereka pertahankan tidak mampu ditembus siapapun, namun keyakinan itu segera menghilang dan digantikan dengan perasaan marah dan bingung.
Aliansi adalah kekuatan terbesar dunia ini sejak mereka menyatakan akan menghancurkan nagara asal pasukan musuh, dan mengembalikan Tanah Suci ke kekuasaan Kekaisaran Luan serta menaklukan Yekirnovo untuk dijadikan wilayah Luan kembali. Mereka memiliki kekuatan militer yang luar biasa dan kekayaan luar biasa yang berasal dari keenam negara anggotanya, dengan Kekaisaran Luan sebagai pemilik kekuatan terbesar diantara negara anggota lainnya.
Bahkan seorang anak akan tahu bahwa itu alasan Pasukan Aliansi ditakuti oleh negara-negara di benua lain.
Sekarang, pasukan di benteng ini kembali menerima pesan untuk menyerang kembali pasukan musuh yang menjaga perbatasan. Alias mereka harus kembali melawan musuh yang mengalahkan mereka di pertarungan pertama beberapa hari lalu.
Pasukan ini hanya memiliki tentara manusia dan tanpa monster satu pun. Monster atau Demihuman yang memiliki kecerdasan lebih rendah dari manusia diperlakukan seperti kuda perang.
“Hanya dengan tiga ‘gerobak baja’ dan ‘capung besi’ mereka hampir menghancurkan pasukan yang kita kirimkan.”
Perwira Aliansi yang berasal dari Kekaisaran Sirds mendapatkan tanggapan atas ucapannya dengan wajah murung keempat perwira lainnya.
“Kabar baiknya, hanya sepuluh orang menjadi tawanan musuh,” jawab perwira Aliansi yang berasal dari Kerajaan Salodki.
Di peperangan dunia ini, semakin sedikit prajurit yang dimiliki yang mati atau menjadi tawanan musuh, itu semakin bagus. Jika nasib baik menyertai para tawanan, mereka kemungkinan besar dijual menjadi budak, namun jika nasib buruk yang menghampiri para prajurit yang tertawan akan berakhir dieksekusi mati.
“Kita juga belum tahu sosok bersayap yang membantu kelompok kecil musuh. Apa dia utusan dewa atau semacamnya?”
“Utusan dewa? Apakah orang yang diramalkan sudah turun?”
Perwira yang berasal dari Kekaisaran Luan tertawa lalu berkata, “Hahahahah ~ tidak mungkin orang yang diramalkan sudah turun. Tapi, jika dia turun, mungkin dia salah satu dari kesembilan pahlawan.”
Sambil mendesah, mereka mengingat kondisi ketika kesembilan pahlawan yang melayani Aliansi ‘kabur’ dari medan perang ketika pasukan bantuan untuk musuh tiba dan mengalahkan 300.000 tentara mereka. Namun, tetap saja mereka berterimaksih atas bantuan dan ilmu yang diberikan kesembilan pahlawan, karena berkat mereka Aliansi berhasil membunuh ribuan prajurit musuh.
Kelima perwira kembali membicarakan topik utama, yakni perintah untuk menyerang lagi kelompok musuh yang mereka hadapi sebelumnya.
“Yang kita perlukan hanya mengirim seluruh prajurit di benteng ini. Apa sulitnya membunuh anggota kelompok musuh yang memiliki gerobak baja?” perwira lainnya menanggapi perkataan perwira asal Kerajaan Biez itu sambil membayangkan pasukan merekalah yang memiliki ‘gerobak baja’.
“Senjata mereka sepertinya lebih kuat dari sebelumnya, mungkin itu yang membuat kelompok kecil tersebut mengalahkan 400 prajurit kita.”
Benteng yang berdiri di dekat garis perbatasan ini adalah garis depan yang sangat berbahaya, tempat ratusan prajurit mereka tewas. Sekarang, dengan sisa prajurit mereka harus melawan kelompok musuh yang belum sempat mereka kalahkan.
Selain itu, jika jumlah besar mereka mampu mengalahkan jumlah kecil musuh, itu akan menjadi kemenangan yang luar biasa yang bisa mereka persembahkan untuk Aliansi.
__ADS_1
Dengan begitu, mereka mempersiapkan seluruh kekuatan untuk menyerang kembali musuh yang berjumlah kecil tersebut.