
Walau rumah jauh dari kesan kuno, dan bahkan lebih modern dibanding hotel terbaik di Jawa Tengah, namun ada sebuah sangkar dengan burung perkutut di dalamnya. Diletakkan di lantai ketika pertemuan berlangsung, namun entah apa tujuan pemiliknya melakukan hal tersebut. Bangsawan Jawa memelihara burung perkutut sebagai alat menaikkan pamor rumah atau mengangkat derajat. Dan, bunyi kicaunya yang dianggap membawa keberuntungan bisa didengar hingga ruang pertemuan.
Suara yang indah, begitu pikir Arunika. Dibandingkan dengan suara kicau burung perkutut milik kakeknya, suara obrolan orang-orang di ruang pertemuan lebih keras. Duduk di sofa dan dikeliling keluarga, membuatnya merasa tidak enak untuk pergi untuk alasan sepele.
“… Setelah sekian lama Arunika menjalani masa-masa pemberontakannya, dia akhirnya memilih mengikuti jalan yang sama yang dilakukan ibunya sebelum keluar rumah untuk menikah lagi dengan buruh pabrik. Bahkan, dia akan menikah dengan orang cukup berjasa di perang.”
Bahkan percakapan setelah beberapa menit dia duduk mendampingi Arunika sudah membuat telinga Nio panas. Tetap saja, dia tidak memiliki hak mengikuti dan menanggapi setiap obrolan kedua keluarga. Nio muak dengan keluarga Arunika yang terlalu mempercayai keluarga Darsono. Dia merasa mereka bisa tertawa dan mengobrol hangat karena tidak mengetahui masa lalu Darsono.
“Anda tidak perlu melebih-lebihkan tentang saya,” ucap Darsono, seolah-olah dia memang melakukan banyak jasa pada perang sebelumnya.
“Ah, ini hari yang luar biasa. Kamu akan menjadi calon yang baik untuk Arunika.”
Pria tua duduk di kursi goyang, mulut terbuka lebar ketika tertawa, terus memuji Darsono. Wajah tegasnya menunjukkan Supardi dulunya memang seorang tentara, walau tanpa tanda-tanda dia pernah mengikuti pertempuran.
“Arunika bisa menjadi salah satu perempuan tercantik di dunia. Tidak heran mengapa Darsono langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.”
Katanya, tidak ada gadis di bumi yang benar-benar suka disebut ‘cantik’ oleh orang asing. Tetapi, mengingat betapa banyak pujian yang dia terima dari keluarga Darsono, dia semakin ragu untuk menolak seluruh pujian untuknya.
Arunika sendiri duduk di sofa panjang yang tampak sangat mahal, dan langsung berhadapan dengan keluarga Darsono. Ada enam orang yang duduk di sofa ruang pertemuan, yang membahas perjodohan. Namun, hanya orang tua Darsono dan Supardi yang aktif dalam percakapan. Nio duduk di sisi kiri Arunika, mengenakan seragam lapangan dengan sedikit noda darah yang sangat sulit dihilangkan, dan sedang duduk diam. Ekspresi Nio tidak bisa ditebak, selain karena wajahnya ditutupi masker buff hitam.
Ketika Arunika memberitahu Nio tentang lamaran pernikahan yang dia terima, dia mengira Nio akan meledak dalam amarah besar. Itulah sebabnya dia saat ini bisa duduk tenang, menunggu proses pertemuan keluarga yang akan menikahkan anak mereka, walau Arunika tidak ingin menebak perasaan Nio.
Tapi, dia tidak bisa berharap Nio berdiri dan melakukan kekacauan untuk merusak rencana pernikahannya. Adegan seperti itu hanya bisa dilakukan pemeran sinetron bertema perselingkuhan yang sangat digemari kaum ibu-ibu.
Tapi, mengapa aku merasa Nio tidak mempedulikanku?
Arunika melirik ke sekeliling ruangan saat dia merenungkan hal tersebut, dan akhirnya menatap cermin di sebelah pintu masuk ruang pertemuan setelah melirik mata Nio yang ‘menutup’ sebelah. Bingkai kaca diukir oleh pemahat secara elegan, seolah-olah pemiliknya ingin menunjukkan kelasnya di masyarakat dengan ukiran tersebut. Arunika terus menatap wajahnya pada cermin, wajah yang telah dirias dengan tebal tidak seperti biasanya. Lalu, kembali mendengarkan percakapan di mana Nio tidak dilibatkan di dalamnya.
Nio sama sekali tidak bergerak, terus menatap lurus ke arah Darsono yang tampak bahagia, dan tetap duduk tegak walau mulai tidak merasakan kenyamanan dalam pertemuan keluarga ini.
Setelah Arunika melihat betapa tenangnya Nio, dia merasakan mata seseorang melirik padanya.
Pria tentara berpangkat mayor itu duduk tepat di hadapannya, lalu menunjukkan senyum hangat dan membuat pipi Arunika. Perempuan itu segera memperbaiki sikap duduknya untuk mencegah orang-orang menyadari tingkahnya.
Namun, tiba-tiba Supardi bertanya pada Arunika walau sebenarnya dia sedang menyindir seseorang, “Arunika, kenapa laki-laki di sampingmu tidak membuka maskernya? Apa dia tidak ingin wajahnya dilihat orang-orang, atau mungkin dia tidak tahu kalau itu perbuatan tidak sopan?”
“Oh, jadi sekarang memakai masker di pertemuan keluarga adalah tindakan ilegal?” gumam Nio di dalam hati dengan nada jengkel.
Supardi melihat tanda pangkat di kerah pakaian lapangan Nio, dua buah balok berwarna hitam yang menunjukkan pangkat perwira pertama letnan satu. Walau dia purna tugas di pangkat pembantu letnan satu, Supardi yakin Nio tidak bisa apa-apa terhadap orang yang lebih tua. Dia akan dianggap melakukan ‘kejahatan’ jika melakukan tindakan melawan atau semacamnya terhadap orang tua.
Hampir sebelas tahun kematian orang tua mereka, Nio sangat berubah setelah ikut berperang sebagai anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar. Tidak ada yang membayangkan Nio akan keluar dari ancaman ‘masa depan suram’, dan dia tampak jauh lebih tinggi dibanding 7 tahun lalu.
“Katakan pada kakekmu, apa dia dan tamu-tamunya akan merasa nyaman setelah aku membuka masker,” Nio berbisik pada Arunika, dan mengakibatkan keluarga Darsono memasang ekspresi mengancam seolah-olah tidak menginjinkan dirinya berada di dekat Arunika dalam jarak satu kilometer.
“Memangnya kenapa, kau sedang sakit?” tanya Arunika.
“Jangan buat kakekmu dan para tamu menunggu. Jujur saja, aku ingin segera keluar dari rumah ini.”
Arunika bisa membayangkan perasaan Nio sehingga dia bisa berkata seperti itu. Percakapan keluarga yang hangat dan disertai tawa, tidak ada Nio di dalamnya. Dia masih memiliki kakek, bibi, dan paman untuk disebut keluarga. Namun, apakah Nio masih memiliki orang yang bisa dipanggil saudara selain dirinya?
“Tidak menuruti perintah orang tua namanya dosa, loh,” ucapan Darsono menciptakan simbol kekesalan di dahi Nio.
“Apa orang ini masih memiliki hubungan keluarga dengan Anda?” tanya ayah Darsono.
__ADS_1
Arunika membuka mulut untuk menjawab ‘iya’, namun Supardi segera mengatakan, “Dia anak dari laki-laki yang membuat anakku menderita bersamanya.”
Nio hampir berdiri untuk membalas perkataan orang tua itu, namun kesadarannya memerintahkannya untuk berusaha tetap tenang. Tatapan orang-orang di ruangan ini menciptakan perasaan yang lebih parah dibanding ‘sakit hati’. Nio bahkan baru bertemu kakek Arunika sekali ini, namun dia telah mendapatkan kata-kata menyakitkan dari orang tua itu di hari pertamanya bertemu ‘kakek’.
Wajah semua orang termasuk Arunika menunjukkan bahwa mereka tidak sabar Nio melakukan perintah Supardi. Nio hanya berharap mereka tidak tertawa setelah dia memperlihatkan wajahnya, sesuai permintaan sang kakek. Dia menarik ke bawah buff yang menutupi setengah bagian wajahnya, dan hanya memperlihatkan bagian atas kepala hingga mata.
Jika Nio berpikir reaksi orang-orang yang ‘dibenci’ adalah tertawa, maka tebakannya salah. Tentu saja tidak ada orang yang bisa tertawa mengejek ketika melihat wajah seseorang dihiasi bekas luka sayatan benda tajam dan luka bakar yang mengerikan di setengah bagian mukanya. Bekas luka bakar yang menjalar dari wajah bagian kanan hingga leher mengakibatkan ibu Darsono dan Arunika menutupi mulutnya dengan eskspresi takut yang tak dibuat-buat.
Para pria tentu saja menunjukkan wajah terkejut, lalu berusaha menghilangkan ingatan tentang pemandangan menjijikkan yang baru saja mereka lihat. Darsono dan ayahnya segera memalingkan wajah, dan Supardi menunduk sambil menggelengkan kepalanya setelah melihat peristiwa hasil dari rasa penasaran mereka.
Melihat kondisi fisik Nio, Darsono yakin Arunika akan sangat mudah jatuh dalam pelukannya. Dia lalu duduk dengan tenang, sehingga lambang sebuah melati di kerahnya terlihat di mata Nio. Dia tumbuh di keluarga yang tidak akan membuatnya tersingkir dalam kehidupan masyarakat dengan mudah, kecuali ‘rahasia’ yang mereka miliki terbongkar. Keistimewaan Darsono memberinya kelebihan yang tidak dimiliki Nio, dalam hal penampilan fisik khususnya.
Situasi yang membuatnya dipermalukan menumbuhkan perasaan khusus di hati Nio. Walau dia tidak memiliki dendam terhadap musuh perangnya, sayangnya pria di depannya – sesama tentara – membuat Nio memiliki rasa balas dendam yang baru saja tumbuh.
Wajah Nio yang terekspos sangat jelas tidak menunjukkan ekspresi marah maupun malu. Tetapi, hati Nio merasakan keinginan untuk menghabisi sejumlah orang yang membuat Arunika duduk menjauh darinya. Pekerjaannya untuk membantu sebuah tim jurnalis membuat Nio membuat ‘daftar’ orang-orang yang akan ‘dilenyapkan’.
“Ba-bagaimana kalau kita keluar meninggalkan ruangan dan membiarkan dua sejoli ini bercakap-cakap?” ibu Darsono berkata seperti itu dengan ekspresi menahan takut dan berjalan keluar sebelum ada yang menjawab sarannya.
“Apa aku juga harus keluar?” tanya Nio setelah memakai kembali masker buff-nya.
“Tentu saja, bodoh,” yang menjawab Arunika, yang langsung dituruti oleh Nio dengan perasaan dan pikiran hanya dipenuhi keingnan melakukan ‘pembalasan’.
Setelah mereka semua meninggalkan ruang pertemuan, hanya tersisa Darsono dan Arunika.
Yang menyertai mereka berdua adalah keheningan. Arunika menghela napas ringan, walau dia memiliki perasaan bersalah pada Nio. Di sisi lain, Darsono memperlihatkan wajah tenang.
“Nio… apa dia marah?” kata Arunika.
“Dia tidak mudah marah. Jika dia marah, berarti dia hanya terbawa suasana,” jawab Darsono dengan dengan santai senyuman yang Arunika tidak pahami maknanya.
“Kenapa kau sangat mengkhawatirkan Nio?” ucapan Darsono disertai dengan ekspresi tidak menyukasi sesuatu, membuat Arunika merasa sedikit bersalah.
Arunika kesulitan menemukan cara berbicara dengan pria di depannya. Dia merasa Darsono dan Nio menyembunyikan sesuatu, terbukti pria itu berkata seolah-olah cukup mengenal Nio. Begitu juga dengan Nio, namun dia terlihat sama sekali tidak memiliki kesan baik terhadap Darsono dan kakeknya.
“Aku merasa tidak enak pada Nio. Sebenarnya, hanya aku keluarga yang dimiliki Nio. Lagipula, keluarga kakekku dalam kondisi rumit setelah kedatangan Nio di rumah ini. Aku tidak berpikir keluarga kita akan menerima Nio di dalamnya. Mereka memperlakukan Nio seperti orang asing. Walau aku mendapatkan hak waris atas ibuku, tapi Nio tidak.”
Arunika tidak bisa apa yang terjadi pada Nio jika dia benar-benar menikah. Dia memutuskan memberi tahu hal tersebut pada Darsono, berharap melupakan peristiwa tadi dan mulai menganggap Nio keluarganya.
“Yah, aku mengajukan lamaran pernikahan ini karena keluargaku ingin membangun hubungan dengan keluarga kakekmu. Nio sama sekali tidak ada hubungannya dalam hal ini. Anggap saja dia anak kecil yang bermain-main di kondangan.”
“Apa…?” Arunika ingin membalas ucapan Darsono seolah-olah Nio memang orang luar yang seharusnya tidak datang pada pertemuan keluarga. Namun, tatapan dingin Darsono membuatnya tidak bisa mengucapkan kalimat penolakan atas kata-katanya itu.
“Nio sangat ceroboh. Luka yang dia dapatkan adalah hasil dari kecerobohannya. Menjaga diri saja tidak bisa, bagaimana mau menjaga dirimu? Jadi, jangan salahkan Markas Besar karena sudah mengirimkan dia ke medan perang di dunia lain dan membuatnya terluka.”
Arunika tidak bisa berkata-kata atas ucapan tak terduga dari Darsono. Walau kecerobohan Nio merupakan salah satu sifatnya, namun tidak mungkin akan terus melakukan tindakan ceroboh di medan perang yang mempertaruhkan kehidupan. Pasti ada alasa lain di balik luka mengerikan yang Nio derita, sehingga menyebabkan dia mendapatkan perlakukan tidak menyenangkan.
Dia rela mendengar perkataan Darsono yang manis dan hanya menunjukkan kelebihannya. Ada saat ketika Arunika memimpikan pasangan hidup seperti pangeran dongeng. Mimpi yang dia miliki adalah bertemu pangeran tampan yang jatuh cinta padanya, melindungi dan menyelamatkannya dari bahaya. Jika benar-benar ada seorang pangeran atau penyihir, dia ingin mengembalikan waktu dan mengatakan pada Nio bahwa dia tidak ingin menikah yang entah akan membuatnya bahagia atau menderita.
Namun, dia sudah berada dalam situasi yang membuatnya tidak bisa mundur lagi. Arunika hanya bisa terus maju demi kebahagiaannya dan keluarganya, serta berharap hal-hal baik menimpa Nio. Dia sebenarnya muak dengan pernikahan karena dasar bisnis atau politik, namun bersikap sempurna dan menutupi kekurangan demi calon pasangan harus diperlihatkan oleh wanita keluarga Arunika.
Darsono lalu berkata, “Tentu saja aku menyadari kondisimu dan Nio, Arunika. Tapi, yang akan menikahimu adalah aku, bukannya Nio. Apa kau ingin mengkhianati kakekmu yang berharap banyak pada kita?.”
“Aku tidak ingin membuat kakek sedih. Aku tahu kakek dan keluargamu sudah mempersiapkan semuanya untuk lamaran ini,” jawab Arunika dengan murung.
__ADS_1
“Ingat, Nio bukan anak kecil, dia bahkan seorang perwira sekarang. Dia pasti bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan kita.”
Darsono lalu berdiri dari tempatnya duduk, lalu menatap Arunia dengan senyuman dan menunjukkan sikap orang berpendidikan saat dia mengajak Arunika keluar ruang pertemuan.
“Apa kamu ingin berjalan-jalan sambil membahas pernikahan kita?”
Arunika mengangguk. Itu adalah satu-satunya hal yang bisa lakukan.
Pasangan itu meninggalkan ruangan, berjalan di sekeliling taman berlantai rumput. Sebuah kolam dibangun di tengah taman, dengan puluhan ikan hias hidup di dalamnya.
“Kita harus mengabaikan Nio yang sepertinya tidak suka pada pernikahan kita. Demi kebahagiaan dan hubungan keluarga kita, semua rasa tidak nyaman harus disingkirkan.”
Wajah Arunika semakin murung ketika mengetahui jika dia menikah, Nio akan berjuang sendirian.
Tetapi, Darsono berpikir jika Nio akan melawan, maka dia akan bermain api. Keluarganya masih memiliki hubungan dengan pemerintahan presiden sebelum Suroso, dan telah mengajukan calon pesaing Suroso pada pemilihan yang akan datang. Mereka terus menghubungi orang-orang di pemerintahan sebelumnya yang bersembunyi di suatu tempat, untuk berencana kembali berkuasa di negeri ini. Mencoba melawan mereka seperti berusaha melawan pemerintahan itu sendiri. Jika Nio menolak pernikahan mereka berdua, dia akan dihancurkan hingga tidak meninggalkan jejak bahwa dia pernah hidup di dunia ini.
“Yah, aku tahu dia bukan lagi anak kecil. Tapi, mengabaikannya mungkin akan melemahkannya,” ucap Arunika saat dia menatap Darsono.
“Tapi, kau akan mendapatkan semua yang kau tidak dapatkan, jadi hiduplah bersamaku. Aku akan membuatmu menjadi perempuan paling bahagia di dunia.”
Perkataan Darsono membuat Arunika membayangkan kehidupan Nio tanpa dirinya, walau hal itu sia-sia karena ada banyak gadis di sekeliling Nio dan tertarik padanya.
“Apa yang kau butuhkan dariku untuk membuktikan kata-katamu?” tanya Arunika.
Darsono menatap langit, seperti sedang memikirkan sesuatu, “Ada sesuatu yang kuinginkan darimu.”
Tiba-tiba, Darsono melingkarkan lengannya di pinggang Arunika lalu menarik gadis itu agar lebih dekat padanya. Dirinya yang sangat dekat dengan pria tampan membuat jantung Arunika berdetak kencang.
“Berkat kecantikanmu, kau membuatku gila. Jika aku melakukan sesuatu yang membuatmu membenciku, kau boleh pergi. Tapi, kalau tidak…” Darsono mendekatkan wajahnya pada wajah Arunika setelah mengatakan hal itu. Arunika memalingkan pipinya yang memerah.
“Kau terlalu banyak bicara,” ucap Arunika.
“Aku sungguh-sungguh.”
Apa yang dilakukan Darsono adalah kejutan baginya, dan pria itu masih merangkul dirinya. Nio tidak pernah melakukan hal seperti ini, begitu pikir Arunika.
“Aku mencintaimu. Jika aku memiliki seseorang sepertimu, aku akan sangat beruntung. Apa kamu mau melakukannya?”
Arunika melihat bibir Darsono mendekatinya setelah mengucapkan hal itu untuknya. Arunika menutup mata.
Taman hijau dengan sejumlah pohon yang dipangkas rapi, suara air mancur sudah cukup untuk sedikit menenangkan Nio. Dia berjalan di jalan batu berjajar di taman, mencari kamar mandi saat ‘panggilan alam’ tidak bisa lagi ditolak.
Aku memang jauh dari sialan itu. Kenapa kakak berpenampilan cantik hanya untuk sialan itu, apa masalah dia? Dia bahkan tidak perlu perhatian padaku. Semua kemuraman di hati Nio diperparah oleh Darsono yang akan segera memiliki Arunika.
Arunika adalah cinta pertama Nio yang membuatnya mulai tertarik terhadap lawan jenis, dan bagian terburuknya adalah Arunika yang akan melupakan atau mengabaikan perasaannya yang sungguh-sungguh. Nio berpikir hubungannya dengan Arunika akan tetap berjalan hingga dia tidak perlu dikirim ke luar negeri dalam waktu lama, tetapi sekarang Arunika memakai pakaian terbaiknya dan mendiskusikan pernikahan. Nio tidak begitu yakin Arunika akan kembali menerima perasaannya.
Selain itu, tatapan orang tua Darsono dan kakeknya terasa tidak menginginkan keberadaannya, seolah-olah mengatakan, “Arunika bukan orang biasa. Jangan berani-berani bertingkah seolah kau boleh mendekati dia.”
Apa yang aku inginkan hanya kebahagiaan Arunika. Tapi kenapa harus dengan sialan itu…?
Tepat ketika dia berbelok di sudut jalan, menatap ke kolam dengan air mancur karena tidak ada hal bagus untuk membuatnya fokus, Nio berhenti. Dia melihat Arunika dan Darsono berbicara di dekat kolam. Dia tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan, tetapi jika matanya tidak menipu dirinya, mereka tampak sedang bersenang-senang.
“!!!”
__ADS_1
Nio melihat Darsono mendekati Arunika, dengan bibir keduanya sangat dekat.
Tubuh Nio menegang, seolah dia mendapatkan tembakan di jantung. Keringat mengalir dari setiap pori di tubuhnya. Kemudian dia berbalik dari tempatnya saat ini, dan berjalan menjauhi kolam. Nio pikir rasa sakit hatinya sudah tidak bisa ditahan.