
20 Februari 2321, pukul 10.45 WIB.
**
Di luar kota bawah tanah Kota Karanganyar….
Suasana kota yang belum pulih ini terlihat seperti biasanya, meski di beberapa tempat masih saja ada kelompok yang melakukan aksi demo tentang perang yang masih terjadi.
Bahkan sebelum perang melawan pasukan dunia lain terjadi, si penjuru negeri sudah sangat sering terjadi demo. Saat itu ancaman perang dunia ke-3 adalah hal yang masyarakat khawatirkan. Bahkan Indonesia dikabarkan bisa saja terlibat pada perang itu.
Meski seluruh ahli di bidang peperangan di seluruh dunia beranggapan jika perang melawan pasukan dunia lain adalah perang dunia ke-3 yang sesungguhnya. Karena hampir semua negara diseluruh dunia terlibat dengan perang melawan musuh dari dunia yang berbeda.
Demo yang terjadi hari ini terjadi dengan sebab kebanyakan dari mereka tidak percaya dengan pasukan muda yang belum lama dibentuk, dan terus mendesak pemerintah pusat untuk segera menurunkan pasukan penuh Pasukan Utama dan membuat musuh kembali ke dunianya.
Entah pemerintah tutup telinga tentang masalah ini atau lebih memilih bertindak. Tapi siapa yang tahu…?
Surat kabar yang terbit hari ini memuat berbagai berita. Hari ini seluruh orang yang membeli koran sangat antusias dengan sebuah berita pada koran yang mereka baca.
Berita yang ada di koran memang sangat beragam.
Hasil peperangan kemarin, kenaikan pangkat beberapa perwira tinggi militer, beberapa wilayah yang ditaklukan pasukan dunia lain, ekonomi yang belum tumbuh sejak peperangan, perang dunia ke-3 melawan pasukan dunia lain dan Regu 3 yang dipimpin Nio.
Regu 3 menjadi bahan pemberitaan utama pada surat kabar, bahkan foto beberapa anggota Regu 3 terpampang pada halaman depan koran.
Koran memuat berita tentang keberhasilan Regu 3 melumpuhkan 3 orang prajurit musuh dan menemukan satu korban hilang.
Satu korban hilang yang dimaksud disini adalah seorang anak kecil korban mutilasi yang kelompok pencari Regu 3 temukan. Meski hal itu adalah pukulan keras bagi keluarga yang ditinggal, disisi lain keluarga yang kehilanga sangat berterimakasih pada Regu 3.
Meski beberapa pihak tidak menyukai Regu pimpinan Sersan Satu Nio itu karena bukannya menangkap hidup-hidup musuh dan justru membawa mayat 3 orang prajurit dunia lain tersebut.
Pada pihak lain sangat kagum dengan pencapaian para prajurit muda itu dalam melumpuhkan musuh. Justru lebih banyak pihak yang memuji dibanding ‘menjelekkan’.
Mereka seakan berkata, “Mereka masih muda, tapi sangat hebat ya?” “Andaikan aku masih muda” “Pimpinan mereka sepertinya tampan”.
Maaf, lebih baik lupakan ungkapan warga yang terakhir. Entah apa yang terjadi jika Nio mendengar orang memujinya ‘tampan’.
sebenarnya berita tidak hanya disebarkan melalui media cetak semacam koran dan sejenisnya.
Meski saluran TV nasional belum pulih, namun saluran penyiaran radio masih dapat beroperasi dan menjadi media penyaluran berita utama saat perang.
Selain itu masih banyak warga yang memiliki radio dibanding televisi.
Tentu saja berita yang disiarkan mengenai kabar perang terkini, dan pada hari ini membahas tentang Regu 3.
**
Di kota bawah tanah Kota Karanganyar….
Seluruh orang ramai-ramai membaca koran yang dikirimkan pada hari ini. Meski setiap hari tempat ini selalu mendapatkan kiriman koran, namun orang-orang yang membaca belum pernah seantusias seperti saat ini.
“Ini Nio dan Sima kan?”
“Jangan lupakan ada Rio dan Arista juga disitu.”
“Sial, mereka sepertinya meninggalkan ku.”
__ADS_1
“Mungkin seharusnya aku ikut seleksi pasukan khusus itu.”
“Agar satu Regu dengan Sersan Nio kan?”
Prajurit di seluruh Regu mulai membicarakan rekan-rekan mereka yang mengikuti pelatihan menjadi Pasukan Pelajar Khusus.
Tentu saja Nio menjadi salah satu subjek pembicaraan mereka.
Sementara itu di ruang kerja Herlina, dia menggunting berita yang memuat tentang Nio dan menyimpannya di sebuah berkas.
“Mungkin ini bisa berguna,” gumam Herlina saat meletakkan potongan berita koran pada sela-sela kertas berkas.
Arunika yang mendapatkan korang setelah Lisa mengambilkannya terlihat tersenyum dengan adikknya yang ada di berita koran hari ini.
“Sepertinya aku semakin menyukai Nio…,” ucap Lisa saat masih ada Arunika di sampingnya.
Dengan tatapan tajam Arunika menjawab, “Coba saja rebut dia dariku.
Kemudian keduanya memperlihatkan pandangan menantang satu sama lain.
Nike tak henti-hentinya mengulang untuk membaca berita yang memuat Nio, bahkan dia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Herlina.
Dia menggunting foto dan berita yang memuat Nio kemudian menempelkannya pada buku harian miliknya dengan wajah bahagia.
**
Di tempat pelatihan calon Pasukan Pelajar Khusus….
Berita itu juga sudah sampai di seluruh orang di tempat ini.
“Padahal tampangnya pemalas begitu.”
“Apa benar mereka menemukan korban mutilasi?”
“Aku ragu komandan mereka memberi komando yang benar.”
“Mungkin saja prajurit musuh sudah putus asa dan membiarkan Regu 3 untuk membunuh mereka.”
Meski tidak seluruh prajurit tidak membicarakan Nio dengan kesan meremehkan, namun masih banyak orang yang memuji langsung seluruh anggota Regu 3 didepan mereka, termasuk Nio.
Di depan tempat pelatihan sudah banyak wartawan lokal yang meminta untuk mewawancarai Nio dan beberapa anggota Regu 3.
Namun Mayor Sugeng memerintahkan para prajurit pelatih untuk meminta para wartawan untuk tidak mengganggu para prajurit yang hendak melakukan tes.
Tentu saja seluruh wartawan terlihat sangat kesal dan lebih memilih untuk meninggalkan tempat pelatihan.
“Ya ampun, kenapa mereka mendadak terkenal begini?” keluh salah satu pelatih sambil sedikit menghela napas.
“Bukannya bagus, sepertinya mereka akan mendapatkan kenaikan pangkat istimewa,” jawab salah satu rekannya.
“Wah, aku terancam menjadi bawahan Sersan Nio dong?”
Setelah mendengar perkataan rekannya itu seluruh pelatih tertawa karena tak bisa membayangkan Nio yang menjadi atasan para pelatih.
Di barak prajurit laki-laki terlihat seluruh penghuni tempat ini sedang mempersiapkan semuanya untuk menjalani tes terkahir.
__ADS_1
Tes terakhir yang akan mereka jalani adalah bertahan hidup dan akan dilakukan di gunung Lawu.
Tetap saja seluruh mata tertuju pada Nio yang sedang melepaskan baju dan terlihat sangat banyak bekas luka sayatan benda tajam.
Meski sebagian adalah luka yang belum mengering, tetapi Nio terlihat tetap biasa saja dengan keadaannya itu.
“Sepertinya aku mendadak menjadi pusat perhatian,” gumam Nio.
“Sebenarnya siapa yang menyebarkan berita tentang itu sih?” sambung Rio.
Setelah itu Nio menganggukan kepala tanda setuju dengan perkataan Rio itu.
Beberapa saat kemudian Nio mengenakan perlengkapan terakhir, yaitu rompi.
Setelah itu dia mempersiapkan ransel beserta isi yang harus dibawa, termasuk beberapa bungkus mi instan yang tersisa.
**
Seluruh Regu sudah berbaris di halaman tempat pelatihan dan siap untuk diberangkatkan.
Seluruh prajurit meletakkan ransel beserta senapan di depan mereka, termasuk Nio yang telah mendapatkan senapan pengganti.
kemudian seluruh pelatih tiba dan membawa sebuah kotak yang saat dibuka berisi ransum bagi prajurit.
“Setiap Regu akan mendapatkan jatah ransum 2 buah dan akan dipegang oleh Komandan Regu!” ucap salah satu pelatih.
Para pelatih membagikan 2 buah ransum kepada pemimpin Regu yang berbaris di barisan terdepan, termasuk Nio yang menerika 2 buah ransum di tangannya.
Tentang pembagian ransum yang hanya 2 buah, beberapa prajurit terlihat berekspresi ‘resah’.
Tentu saja, karena tes terakhir ini akan di laksanakan selama seminggu dan 2 buah ransum harus dibagi untuk 32 anggota Regu.
Apalagi sebuah ransum adalah jatah makan satu orang prajurit untuk satu hari. Apalagi menu ransum yang enak membuat prajurit tidak rela untuk membaginya pada orang lain.
Sementara itu, 20 orang pelatih menaiki mobil pengangkut. Karena mereka bertugas untuk mengawasi jalannya tes ini, pelatih harus berangkat lebih dulu untuk membuat jalur.
Setelah itu, seluruh Regu siap untuk dilepaskan untuk melakukan tes terakhir. Mereka akan berjalan kaki atau berlari atau menurut kemampuan masing-masing anggota Regu.
Namun di depan gerbang tempat pelatihan masih ada beberapa wartawan yang memotret anggota Rregu yang keluar dari gerbang dan menuju ke arah gunung Lawu.
**
Di tempat lain yang tentu saja bukan di rumah kosong atau di bawah pohon beringin….
Ilhiya dan Ivy terlihat berdiri di pinggir jalan dan dilewati begitu saja prajurit yang akan mengikutI tes terakhir.
Termasuk Nio yang sedang berlari dan memperhatikan Ivy yang sedang bersama seseorang yang belum ia ketahui.
“Apa saya harus mengkuti dia?” tanya Ivy.
“Kupikir tidak, lebih baik menunggu hingga dia kembali,” jawab Ilhiya.
“Baik.”
Karena mereka berdua belum mendapatkan jawaban yang lengkap dari Nio tentang ‘ramalan’ itu. tentu saja ramalan yang dimaskud adalah ramalan yang ada di dunia mereka.
__ADS_1
Karena Nio mungkin orang yang sangat dibutuhkan dunia itu, atau mungkin seluruh prajurit di Indonesia?, siapa yang tahu….