Prajurit SMA

Prajurit SMA
39. Penghargaan dan kenaikan pangkat


__ADS_3

29 April 2321, pukul 10.12 WIB.


**


Prajurit yang seharusnya lulus tidak ada di barak, dia sudah dibawa ke rumah sakit karena kesehatannya yang semakin memburuk. Posisi prajurit itu sudah diisi Nio, dan prajurit itu menerimanya dengan lapang dada dan menyempatkan diri untuk mengucapkan selamat pada Nio.


Seluruh orang di dalam barak prajurit laki-laki terlihat sibuk. Semuanya memakai seragam tempur biasa karena hari ini mereka akan kembali ke Kesatuan awal.


Semua orang memasukkan lagi perlengkapan dan barang bawaan ke ransel. Tidak lupa merapikan tempat tidur sebelum meninggalkan tempat ini. Menjaga kerapian tetap harus dijaga, meski di medan tempur para prajurit dapat tidur beralaskan batu.


Namun pada hari ini suasananya berbeda. Saling merasa canggung mulai terjadi seperti hari pertama pelatihan. Tidak ada suara orang yang saling berbicara, semua orang fokus pada urusan masing-masing.


Kecuali Nio, Sima dan Rio yang terlihat sedang menahan tawa. Alasan mereka menahan tawa karena hal yang membuat Nio hampir tidak lulus, yaitu tidak mengerjakan soal matematika yang berjumlah 15 buah. Nio akan mendapatkan nilai sempurna pada ujian pengetahuan umum jika mengerjakan soal matematika.


Nilai sempurna juga didapatkan Nio pada ujian psikologi dan pengetahuan militer. Namun pada tes fisik Nio hanya mendapatkan nilai rata-rata.


Menjadi pasukan khusus tidak hanya memerlukan fisik yang tangguh, namun otak yang encer agar misi yang dilaksanakan dapat diselesaikan dengan mulus.


Ada satu hal lagi yang membuat suasana hari ini terasa berbeda. Orang-orang yang merasakan hal berbeda pada hari ini juga hanya anggota Regu 3, termasuk Nio.


Sebenarnya seluruh Regu di pelatihan ini sudah dibubarkan karena masa pelatihan yang sudah selesai. Namun sistem pembagian Regu masih ada, namun akan dibentuk lagi saat masa pelatihan yang akan datang.


Bisa dikatakan hari ini spesial bagi seluruh anggota Regu 3, termasuk Nio selaku ‘mantan’ Komandan Regunya.


Beberapa orang juga menunggu hari ini selain para anggota Regu 3. Herlina dan Arunika termasuk yang sangat menanti hari yang sedikit mendung ini.


Terutama Arunika yang merupakan keluarga Nio diundang pada upacara pemberian penghargaan oleh Komando Pusat Tentara Pelajar.


Hanya keluarga dan atasan para anggota Regu 3 saja yang diundang pada acara ini, serta para bagian yang menggagas pembentukan Pasukan Pelajar Khusus.


Itu artinya seluruh petinggi TNI di seluruh Satuan akan menghadiri acara ini.


Komando Pusat Tentara Pelajar bertempat di Markas Besar TNI AD, tempat itu masih berada dalam wilayah pemerintahan sementara Jakarta.


**


4 truk pengangkut personel telah tiba untuk membawa para prajurit kembali ke Kesatuan masing-masing. Truk pengangkut itu milik Kompi 302 kota bawah tanah Kota Semarang, dan yang dua lagi milik Kompi 406 kota bawah tanah Kota Karanganyar.


Nio dan anggota Regu 3 lainnya tidak menaiki truk itu karena tujuan mereka yang berbeda. Setelah semua prajurit kedua Kompi menaiki truk pengangkut, mereka kemudian meninggalkan tempat pelatihan sambil menyanyikan yel-yel penuh semangat.


Di luar pagar suasana lebih ramai dengan warga. Beberapa warga berdiri di pinggir jalan dengan wajah senang, seperti melepas kepulangan para peserta pelatihan. Itu membuat peserta yang lulus dan tidak lulus sama-sama senang dan bangga.


Beberapa saat kemudian, saat halaman semula kosong kini terdapat 4 buah mobil lapis baja dengan senapan mesin diatasnya. Selain itu ada 2 buah mobil lapis baja biasa tanpa senjata. Semua kendaraan itu akan digunakan seluruh anggota Regu 3 dan keluarga masing-masing untuk ke tempat diadakan upacara kenaikan pangkat.


Keamanan adalah nomor satu, itu sebebnya di masing-masing kendaraan disediakan senjata semacam granat dan senapan cadangan. Selain itu masing-masing prajurit Regu 3 juga membawa senapan yang menambah keaman saat perjalanan.


Seluruh orang yang akan berangkat tinggal menunggu keluarga masing-masing tiba di tempat pelatihan. Mereka menunggu sambil bermain-main atau duduk sambil melamun.


Beberapa saat kemudian ada satu mobil lapis baja biasa milik Kompi 406 yang mengangkut keluarga anggota Regu 3 yang berasal dari Satuan itu.


Sesaat kemudian, jenis kendaraan yang sama juga tiba di tempat ini dan mengangkut keluarga anggota Regu 3 yang berasal dari Satuan itu.


Namun tidak semua prajurit memiliki keluarga, selain keluarga jauh yang menjadi perwakilan untuk menghadiri upacara ini. Intinya orang yang dianggap keluarga oleh anggota Regu 3 akan diundang untuk menghadiri acara ini.


Arunika yang mengenakan seragam kerja yang dapat dipakai pada acara resmi yang berupa kemeja putih dan jas hitam serta rok setinggi lutut.


Arunika mendekati Nio yang tengah duduk sambil menundukkan kepala dan menutupnya dengan helm tempurnya.


“Di acara penting jangan tidur, bangun…!” ucap Arunika sambil menggoyang-goyangkan bahu adiknya dengan kasar.


“Aku perlu menyiapkan tenaga untuk perjalanan jauh nanti…,” jawab Nio dengan nada yang terkesan datar.


“Berdiri…!” Arunika justru menarik lengan Nio untuk memaksanya berdiri meski terlihat keberatan dengan Nio yang memang membawa perlengkapan yang banyak.


“Iya-iya…,” Nio menuruti perintah kakaknya dan setelah itu membuat Arunika terkejut.


Arunika benar-benar terkejut dengan yang dilakukan Nio meski sudah beberapa kali melakukan ini.


“Hey, apa kau tidak malu dilihat orang-orang!?” ucap Arunika sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Nio yang belum mandi pagi ini dan hanya memakai parfum sebagai penangkal bau badannya.


“Aku menang kak, aku berhasil melampau batasku…,” ucap Nio dengan nada terharu sambil semakain mengeratkan pelukannya pada Arunika.


“Iya, aku tahu kau akan berhasil melalui itu semua meski dengan sedikit kejutan.”


Nio seketika melepaskan pelukan pada Arunika dan terlihat keringat mulai bercucuran dari dahinya yang terlindungi helm tempur.


“Kenapa kau tidak mengerjakan soal matematikanya hah?” ucap Arunika sambil memperlihatkan senyum kejam yang membuat Nio merinding.


Rio dan Sima yang hendak mendekati Nio dan Arunika mengurungkan niat mereka karena melihat senyum Arunika yang menandakan sesuatu. Tepatnya Rio menghentikan Sima agar tidak semakin mendekat dengan sepasang saudara itu.


“Kenapa, bukannya itu kakaknya Nio yang sedang tersenyum?” tanya Sima dengan wajah polosnya.


Namun Rio yang sudah kenal dengan guru matematika itu berkata, “Aku merasa Nio terancam.”

__ADS_1


Setelah itu Arunika menjepit leher Nio dengan sikunya hingga Nio meronta-ronta minta dilepaskan. Meski Nio terlihat lebih kuat dari Arunika, tetap saja kakaknya tidak dapat diremehkan.


**


Setelah perjalanan yang melelahkan selama 12 jam tanpa henti, seluruh orang turun dari mobil lapis baja yang berhenti di halaman parkir Markas Pusat TNI AD.


Seluruh orang melakukan berbagai pose untuk melemaskan tubuh mereka yang kaku karena terus duduk selama perjalanan.


Tempat ini dijaga satu buah artileri pertahanan udara, sebuah peluncur rudal anti pesawat, 2 tank serbu, 5 kendaraan lapis baja serang.


Karena Markas Pusat TNI AD masih dalam kompleks pemerintahan sementara yang termasuk Istana Negara, jadi keamanan tempat ini harus berlebihan.


Beberapa jam sekali helikopter tempur dan pesawat tempur juga melintas diatas tempat ini.


Seluruh anggota Regu menyimpan peralatan di loker yang disediakan dan kotak penyimpanan senapan.


“Apa kita harus memakai pakaian ini?” ucap Nio yang memegang setelan baju yang dibagikan kepada seluruh anggota Regu 3 yang masih mengenakan seragam tempur.


“Iya, karena Menteri Pertahanan juga hadir diacara ini,” ucap perempuan yang membagikan setelah pakaian kepada seluruh anggota Regu 3.


Seluruh mata anggota Regu 3 terbelalak setelah mendengar perkataan itu.


“Ja-jadi kita menghadap orang yang penting?” gumam beberapa orang.


Anggota laki-laki dan perempuan mengganti pakaian di tempat yang terpisah namun berdekatan dan dijaga 5 orang prajurit.


Setelan rapi sudah dikenakan seluruh prajurit muda itu, mereka terlihat elegan dengan kemeja putih dan jas hitam yang dikenakan.


Arunika juga memakai jenis pakaian yang sejenis dengan mereka, namun yang ia kenakan adalah seragam kerjanya sewaktu masih menjadi guru dan kebetulan pakaian bagus yang tersisa setelah ‘ledakan Gerbang’ terjadi.


Sementara Ika yang memiliki badan paling tinggi di tempat ini terlihat tidak mengenakan rok seperti prajurit lainnya. Ika justru memakai celana hitam panjang seperti yang dikenakan anggota laki-laki.


Di tambah rambut yang sudah dipotong pendek akan membuat orang yang pertama kali melihat Ika akan mengira dia seorang laki-laki.


“Siapa pria cantik itu?” tanya Arunika dengan polosnya.


“Dia perempuan kak, namanya Ika,” jawab Nio ketus.


“Hah…!?”


Ika berjalan dari ruang ganti bersama anggota perempuan yang lain dengan ‘gagahnya’.


Namun Ika tampak tidak suka dengan pakaian yang ia kenakan sekarang, karena berbeda sendiri dibandingkan seluruh perempuan di tempat ini yang hampir mengenakan pakaian yang sejenis.


“Maaf, kami tidak memiliki rok dengan ukuran nona. Sekali lagi mohon maaf,” ucap perempuan yang bertugas memberikan pakaian ganti pada seluruh anggota Regu 3.


**


Upacara diadakan di aula tempat ini dan dihadiri puluhan orang penting TNI AD. Termasuk Komandan Utama Tentara Pelajar yang juga menjadi Jendral Besar TNI AD yang bernama Nugroho.


Di sampingnya duduk petinggi militer lainnya dan seseorang yang sangat penting, yaitu sang Menteri pertahanan yang bernama Sutomo Rustoni.


Di depan mimbar ada sebuah meja yang berisi berbagai benda, termasuk lencana dan tanda pangkat.


Keluarga anggota Regu 3 duduk di tempat yang sudah disediakan dan berada di barisan terdepan.


Seluruh anggota Regu 3 berbaris dengan rapi di hadapan jajaran orang penting di TNI dan Kementerian Pertahanan.


Namun mereka tidak menyembunyikan rasa gugup sama sekali. Termasuk Nio yang sudah gemetar diseluruh badannya dan meneguk ludahnya hingga jakunnya bergerak naik turun.


Pembawa acara berdiri dari tempatnya dan mengucapkan salam seluruh agama di Indonesia. Kemudian melanjutkan urutan acara selanjutnya, yaitu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.


Setelah itu, acara dilanjutkan pidato dari Jendral Besar TNI yang juga Komandan Pusat Tentara Pelajar.


Pidato Nugroho bersifat membangun semangat perjuangan untuk memenangkan perang ini.


Apalagi dihadapannya ada sekelompok anak muda yang bisa dibilang ‘berprestasi’. Itu mungkin akan menyebarkan semangat kepada seluruh pemuda di negeri ini.


Apa lagi acara pemberian penghargaan disiarkan di radio dan banyak wartawan di tempat ini.


Acara kemudian dilanjutkan dengan pidato dari sang Menteri Pertahanan yang sering disapa Tomo itu. Tema pidatonya hampir sama dengan yang dibacakan Nugroho, namun lebih bersifat membangun dari pada mengobarkan semangat tempur.


Setelah itu, acara telah tiba di bagian utama yang membuat Nio semakin gugup dan para wartawan memusatkan kamera pada sang Jendral dan Menteri pertahanan yang akan memberikan penghargaan dan kenaikan pangkat pada seluruh anggota Regu 3.


Yang menerima penghargaan pertama adalah sang Komandan Regu, yaitu Nio yang masih berdiri mematung sebelum si pembawa acara menyebut namanya sebanyak tiga kali.


Nio menerima surat penghargaan atas jasa yang ia lakukan dari Menteri Pertahanan Tomo. Kemudian dilanjutkan pemberian tanda pangkat yang baru pada Nio yang dilakukan oleh Nugroho.


Pangkat Nio naik dari semula berpangkat Sersan Satu menjadi Pembantu Letnan Satu (Peltu), dua tingkat dibawah Herlina selaku Kapten Kompi 406.


Setelah itu pemberian penghargaan pada anggota Regu 3 dan pemberian tanda pangkat yang baru.


Para anggota Regu 3 yang semula berpangkat Parajurit Satu dan Sersan Satu, masing-masing naik satu pangkat dan menjadi Sersan Dua dan Sersan Kepala.

__ADS_1


Selain penghargaan dan kenaikan pangkat, mereka juga mendapatkan uang dan masing-masing menerima sejumlah Rp 10.000.000,00.


**


Nio menghadap Arunika yang terlihat terharu dan tersenyum bangga kepada Nio yang sudah menjadi jajaran Bintara Tinggi.


Jika Nio membuat prestasi lagi, dia akan dijanjika untuk diprosikan menjadi Letnan Satu hingga Kapten. Tentu saja tergantung misi dan prestasi yang dibuat Nio saat melakukan misi.


“Ayo berfoto bersama,” ucap Nio.


“Tapi, apa kita punya smartphone atau kamera,” jawab Arunika yang membuat Nio seketika diam.


Smartphone miliknya tidak memiliki fitur kamera, dan hanya smartphone yang dijual secara umum saja yang memiliki fitur kamera. Sedangkan smartphone milik Nio adalah fasilitas yang ia terima saat naik pangkat menjadi Sersan Satu dulu.


Di tempat ini beberapa orang menyempatkan diri untuk berfoto bersama dengan keluarga atau undangan acara ini.


Nio juga menerima ajakan dari orang yang hadir diacara ini dan dia menerima dengan senang hati.


Beberapa sesi berfoto kemudian, Nio kembali pada Arunika yang terlihat hanya memakan makanan yang disediakan dengan wajah kesal.


Nio menyadari hal yang membuat kakaknya terlihat kesal dan mencari cara agar kakaknya kembali normal.


Dia melihat ‘tukang foto’ yang dibayar untuk merekam momen penting acara ini dan berkata, “Maaf, biasakah anda memfoto kami?”


“Oh, tentu saja,” jawab si tukang foto dengan senang hati saat yang memintanya seseorang yang penting.


Nio dan tukang foto tadi menuju tempat Arunika yang masih terlihat cemberut.


“Kakak, ayo kita berfoto bersama,” kata Nio.


Arunika melirik orang yang dibawa Nio dan dia menyadari jika orang itu tukang foto acara ini.


“Oke,” jawab Arunika datar meski didalam hatinya merasa bahagia.


Nio dan Arunika kemudian berdiri berdampingan dan memperlihatkan pose ‘formal’.


Kemudian setelah melakukan pose formal, Nio mengajak kakaknya untuk melakukan pose bebas.


Arunika kemudian merangkul tangan kanan Nio dan tersenyum lebar, begitu juga Nio.


“Mohon tunggu sebentar, saya akan mencetak fotonya dulu,” kata Si tukang foto.


“Ya, silahkan,” jawab Nio.


Nio dan Arunika kemudian duduk di kursi yang didepannya disediakan berbagai makanan.


Beberapa saat kemudian si tukang foto tadi kembali sambil membawa 4 lembar foto.


Nio menerima cetakan foto tersebut kemudian si tukang foto meninggalkan Nio dan Arunika untuk memotret momen lain.


Nio membagi pada kakaknya dua buah cetakan foto yang masing-masing memperlihatkan dua pose berbeda yang mereka lakukan tadi.


Nio hanya menahan tawa saat Arunika dan dia tersenyum lebar.


“Kenapa tertawa, apa aku terlihat jelek?” tanya Arunika denga kesal.


“Tidak, tidak, kupikir kakak sangat manis di foto ini.”


Di samping Nio terlihat Ika yang seperti ingin mengatakan sesuatu sambil memegang sebuah kamera.


"Ko-Komandan, bolehkah aku berfoto bersama mu?" ucap Ika dengan gugup yang membuat Arunika terkejut.


"Boleh kok," Jawab Nio dengan santai nya meski didalam hati dia merasa kesal.


Ika dan Nio berdiri bersebelahan dan membuat orang yang melihatnya menahan tawa.


Sementara itu, Nio berusaha untuk menahan malu dan kesal hingga sesi pemotretan selesai.


Perbandingan tinggi Nio dan Ika hampir 20 cm, dan Nio terlihat seperti adiknya Ika jika dia berdiri disampingnya.


"Terimakasih Komandan," ucap Ika setelah sesi pemotretan selesai.


"Sama-sama, tapi jangan memanggilku Komandan lagi. Karena setelah ini kita akan kembali ke Kesatuan awal dan berada dibawah pimpinan Komandan masing-masing," jelas Nio yang membuat Ika sedikit lega.


"Baiklah, terimakasih Peltu Nio,"


"Ya, sama-sama."


Nio merasa cukup aneh jika seseorang menyebut namanya dengan pangkat barunya.


Sementara itu, Arunika masih terlihat duduk tenang di tempatnya.


"Apa-apaan tadi, kenapa ada perempuan yang jauh lebih tinggi dari mu?" ucap Arunika sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Hei kak, bukannya dia juga lebih tinggi darimu?" jawab Nio yang membuat Arunika berhenti tertawa.


"Iya sih, tapi aku merasa heran. Kenapa ada perempuan yang sangat tinggi seperti dia?"


__ADS_2