
Ini adalah waktu kurang lebih empat tahun sebelum terjadinya perang dengan dunia lain. Kehidupan Nio yang tidak mengesankan sebelum dia menjadi prajurit, dan awal dia bertemu dengan salah satu orang yang pernah menjadi ‘mimpi buruknya’.
**
Seperti biasa, Nio berjalan kaki setelah waktu pulang sekolah tiba, bersama Arunika dan Tania yang berjalan di depannya sambil membicarakan pelajaran hari ini. Tania tidak sering pulang bersama mereka berdua, karena dia tidak tinggal di area pinggiran kota. Gadis ini hanya ingin melakukan sesi belajar secara pribadi bersama Arunika.
Tentu saja Nio tidak mengerti apa yang mereka berdua bicarakan, karena hal itu menyangkut pelajaran matematika, pelajaran yang paling dia benci dan tidak kuasai. Nilai 20 adalah nilai tertinggi pada pelajaran matematika yang pernah Nio dapatkan, bahkan mampu membuatnya terharu.
Kecuali saat sedang membicarakan pelajaran sejarah, dia akan sungguh-sungguh membicarakan pelejaran tersebut dengan lawan bicaranya. Tapi, peminat pelajaran sejarah tidak sebanyak matematika atau pelajaran yang lain. Karena pelajaran ini terkenal membosankan, dan selalu membicarakan masa lalu yang memusingkan.
Bahkan kakak dan guru-gurunya tidak mengerti dengan Nio, padahal dia sangat menguasai pelajaran-pelajaran diluar matematika, misalnya pelajaran bahasa asing dan sejarah. Pada kedua pelajaran tersebut, dia selalu mendapatkan nilai tertinggi di kelas, bahkan dari seluruh siswa kelas 10.
Beberapa orang mengatakan jika Nio memang tidak menguasai matematika karena keturunan, beberapa lagi menganggap Nio terkena phobia matematika. Karena saat melihat sekumpulan soal matematika, Nio akan mengeluh sakit kepala dan pusing yang hebat.
Meskipun dia sering dihajar Arunika karena tidak bisa mengerjakan soal matematika untuk siswa SMP kelas 1, Nio tetap tidak bisa mengatasi masalahnya dengan matematika.
Orang berkelahi di jalur pejalan kaki, dan tempat-tempat yang tersembunyi adalah pemandangan yang biasa, terutama bagi warga yang tinggal di pinggiran kota. Para preman yang berkelahi karena berebut wilayah, sekumpulan remaja yang melakukan aksi kenakalan, adalah hal yang tingkatnya cukup tinggi di area pinggiran kota Karanganyar.
Tania cukup beruntung, karena dia tinggal di rumah yang tidak berada di area pinggiran kota. Dia cukup khawatir dengan Arunika, yang seorang perempuan tinggal di area berbahaya ini. Sementara itu, dia tidak terlalu mengkhawatirkan Nio, karena sebagai laki-laki dia pasti tahu caranya menghadapi hal ini.
Tapi, Nio masih punya batas dalam menghadapi sesuatu, meski dia sempat belajar beladiri. Dia bisa memaksakan diri untuk menghadapi masalah yang sering terjadi di pinggiran kota, tapi taruhannya tetap nyawa.
Untuk masalah yang satu ini, Nio tidak yakin bisa menanganinya sendiri. Bahkan polisi sekalipun sudah bosan untuk berhadapan dengan geng satu ini. Meski polisi menangkap beberapa dari mereka, akan ada orang yang mengisi posisi orang yang tertangkap tersebut, dan membuat anggota geng ini seakan-akan tidak pernah bisa habis meski sudah dilakukan penangkapan berkali-kali.
Pemimpin geng ini, laki-laki bernama Baron, yang merupakan anak dari salah satu anggota DPRD Karanganyar. Anggota geng yang ia bentuk jumlahnya selalu konsisten, yakni 32 orang, setara dengan jumlah personel satu Regu jika dalam militer.
Perbuatan yang sering dilakukan geng tanpa nama ini adalah prostitusi online, tawuran, perbuatan vandalisme di tempat umum, bahkan tempat ibadah menjadi sasaran vandalisme anggota geng ini.
Tapi, karena status Baron yang merupakan anak dari anggota DPRD, dia selalu terhindar dari penangkapan, tapi tidak dengan anggota geng nya yang kebanyakan berasal dari kalangan warga pinggiran kota yang tidak bisa menyewa kuasa hukum.
Arunika juga salah satu pihak yang selalu diganggu oleh Baron, karena laki-laki itu selalu menginginkan gadis ini sebagai ‘salah satu’ istrinya. Tidak ada yang tahu jumlah pasti wanita milik Baron, tapi beberapa sumber mengatakan jika dia memiliki sekitar 5 istri di umurnya yang menginjak 16 tahun.
Tentu saja tidak ada pria yang tidak iri dengan yang didapatkan Baron, tapi mereka lebih memilih untuk tidak berurusan dengan laki-laki itu dan geng nya.
Nio memasang wajah waspada, dan menyruh Arunika dan Tania untuk mundur. Sementara itu, kemunculan Baron dan anggota geng nya bisa membuat warga langsung mencari tempat perlindungan dan menjauh dari gerombolan remaja ini.
“Baru selesai ngajar ya? Mau aku ajari pelajaran biologi? Kau pasti belum tahu bagaimana proses manusia berkembang biak.”
Seperti biasa, ketika bertemu Arunika, Baron akan mengatakan perkataan yang berbau seksual. Ekspresi wajahnya sekarang yang menunjukkan senyum menyeringai tapi menjijikan, membuat siapapun yang berani menghajarnya akan benar-benar memukul wajah Baron sampai hancur.
Anggota geng nya berdiri di belakang laki-laki itu sambil menyeringai juga. Situasi yang sepi, membuat mereka mendapatkan kesempatan untuk melakukan hal yang mereka sukai, termasuk kejahatan seksual terhadap perempuan yang melewati jalan kecil yang gelap ini. Tapi, jalan inilah satu-satunya jalur untuk menuju tempat tinggal Nio dan Arunika.
Jantung Nio berpacu cepat, karena dia tidak yakin bisa melindungi kedua gadis ini, sementara Baron memiliki banyak anak buah. Bahkan jika Nio membawa senjata, seperti balok kayu, dia berpikir tidak bisa menghadapi puluhan remaja itu dengan mudah. Tapi, dia tidak ingin kakaknya dan Tania diapa-apakan oleh Baron dan anggota geng nya.
Baron melangkah maju, mendorong Nio hingga terjatuh, lalu memegang tangan Arunika yang merupakan perempuan yang paling ia inginkan. Anggota geng Baron mentertawakan Nio yang terlihat menatap tajam ke arah mereka.
“Menyingkir dari kakakku…!”
Tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Arunika, dia berkata, “Hah…!? Kenapa kau berani bicara seperti itu padaku? Kalau begitu, kau mau mati dengan cara apa?”
Arunika mencoba melepaskan tangannya yang digenggam, dan Tania berdiri dengan badan gemetar. Kakaknya merupakan seorang tentara, tapi dia berada jauh dari kota ini, jadi dia tidak mungkin berteriak untuk memanggil kakaknya.
32 anggota geng ini mengelilingi mereka, dan bersiap untuk melakukan sesuatu terhadap Nio yang sudah berdiri.
Wanita yang bersama Baron mungkin hanya mengincar harta yang dimiliki laki-laki itu, bahkan orang tuanya tidak keberatan dengan perilakunya. Baron menyadari hal itu, tapi yang dia inginkan hanyalah kesenangan dan banyak wanita untuk melayaninya.
Nio melihat dua orang bersiap untuk melayangkan tinjunya, tapi Nio berhasil menghindar dan membalas dengan tendangan mendatar yang mengenai pinggul salah satu dari kedua orang itu. Semua anggota geng ini terkejut dengan Nio yang berani melawan rekan mereka.
“Sepertinya dia sudah bosan hidup, sepertinya dia memilih mati dengan cara mudah.”
Baron memerintahkan anak buahnya untuk menghajar Nio, agar dia bisa mendapatkan kakaknya. Tapi, Arunika tidak pasrah begitu saja, dengan bantuan Tania dia berusaha melepaskan diri dari genggaman Baron. Tapi, Baron mendorong Tania hingga terjatuh, dan berusaha membawa Arunika pergi dari tempat tawuran ini.
Nio sudah berhasil melawan anak buah Baron yang berkelahi dengan tangan kosong, mereka bukan tandingan Nio meski dia menderita luka memar di wajah. Sementara itu, masih tersisa beberapa orang yang bersenjata balok kayu.
Mereka maju bersamaan dengan mengangkat balok kayu mereka, tapi Nio berlari menghindari mereka dan mendekati Baron yang berusaha membawa pergi Arunika, dan Tania yang berusaha mencari pertolongan dikejar beberapa anak buah Baron yang membawa balok kayu dan pipa besi. Tania harus berlari secepat yang dia bisa agar Arunika selamat, dan Nio tidak perlu berkelahi dengan anak buah laki-laki itu.
Puluhan balok kayu dan pipa besi melayang dan mengejar Nio yang masih berlari, beberapa benda yang dilemparkan itu tidak mengenai Nio, tapi satu pipa besi menghantam belakang kepalanya dan tempat yang terkena benda itu mengeluarkan darah.
Nio yang sudah tersungkur merupakan kesempatan bagi mereka, salah satu anak buah Baron mengunci pergerakan Nio dan memaksanya untuk berdiri.
__ADS_1
Baron menyerahkan Arunika kepada salah satu anak buahnya, tapi ini adalah kesempatan Arunika untuk melarikan diri dan mencari pertolongan untuk adiknya. Arunika yang berlari lebih cepat dari anak buah Baron, meninggalkan Nio yang dikelilingi anggota geng itu. Dia memohon kepada Tuhan agar diberi kesempatan untuk mencari pertolongan, dan menolong Nio yang semakin terdesak.
Nio tahu kakaknya tidak meninggalkanya begitu saja, tapi berniat mencari pertolongan untuknya, dia percaya dengan Arunika.
“Brengsek, lebih baik tadi aku menikmatinya dulu sebelum jalang itu kabur!”
Urat kepala Nio muncul saat Baron memanggil kakaknya dengan panggilan kotor seperti itu.
“Lebih baik kau tidak memanggil kakakku seperti itu.”
“Heh, memangnya kenapa? Apa kau benar-benar sudah mau mati?”
Seluruh anak buah Baron tertawa dengan keras, tapi Nio tidak bisa bereaksi apapun karena tubuhnya sudah dikunci.
“Kalau kau sudah mati, kupastikan kau melihatku menikmati tubuh kakakmu dari surga sana.”
Dengan senyum menyeringai, Baron mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya. Melihat pisau di genggaman Baron membuat jantung Nio berdetak semakin cepat, tapi dia tidak ingin mati sekarang. Selama dia belum membuat Baron menyesal, Arunika akan terus berada di tengah bahaya anak buah Baron dan laki-laki itu sendiri.
“Sepertinya menyiksamu terlebih dulu tidak terlalu buruk.”
Baron menempelkan pisaunya ke pipi kanan Nio, dan menyayatnya. Tapi, sayatan itu dangkal, dan membuat Nio kesakitan. Dia tidak berteriak, meski rasa sakitnya menjalar ke seluruh tubuhnya. Nio menggigit bibirnya untuk menahan sakit, dan berusaha untuk bertahan.
Lalu, salah satu anak buah Baron menyarankan, “Bos, lebih baik kita mengambil sedikit kulit bocah ini dan memaksanya untuk memakan kulitnya sendiri.”
Bahkan Baron sendiri tidak terpikirkan cara itu, dan tubuh Nio langsung merinding setelah mendengar saran mengerikan seperti itu.
Baron bertepuk tangan sebagai apresiasi anak buahnya yang telah memberikan saran yang manarik, dan cara itu mungkin bisa membuat mental Nio runtuh dan tidak berani macam-macam dengan mereka, lalu menyerahkan kakaknya kepada Baron.
Baron membuat satu sayatan baru di sebelah sayatan sebelumnya yang sudah mengeluarkan darah hingga menetes ke tanah. Saat laki-laki itu membuat sayatan baru, Nio mengginggit birinya semakin kuat hingga dia ingin berteriak, tapi dia masih berusaha untuk menahannya.
“Woy, Brengsek? Kenapa kau tidak berteriak hah?”
Nio menatap tajam ke arah wajah Baron yang memasang ekspresi yang sangan ingin Nio hancurkan. Darah yang menetes semakin banyak, hingga cipratannya mengenai sepatu Nio. Keringat dingin yang keluar, dan jantungnya yang berdetak semakin kuat adalah kondisi saat ini dari Nio.
“Apa kau ingin aku berteriak hah?”
“Tentu saja, rasanya tidak lengkap kalau tidak mendengar jeritan orang yang sedang dilukai.”
**
(Kilas balik berakhir)
Pengobatan yang Nio terima setelah kehilangan sebagian kecil kulit pipinya sangatlah tidak memadai. Nio menolak keinginan Arunika untuk membawanya ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan yang jauh lebih baik. Tapi, itu artinya kakaknya akan mengeluarkan banyak uang untuk mengganti sebagian kecil kulit pipi kanannya yang sudah dibuang ke got.
Arunika terus mendesak Nio agar mau dibawa ke rumah sakit, namun yang dia terima adalah adiknya yang kabur beberapa hari dari rumah. Nio ingin lukanya sembuh dengan obat yang dia beli di apotek dengan harga murah, setidaknya dia membeli obat ini dengan uang nya sendiri dan tanpa meminta kakaknya.
Baron melihat bekas luka di pipi kanan Nio dengan senyum menyeringai. Dia juga melihat lengan jaket kanan Nio yang berkibar, yang menandakan Nio tidak memiliki tangan kanan.
Sebagian orang, tangan kiri adalah tangan terlemah dibanding tangan kanan. Dan Baron yakin jika Nio tidak bisa melawan anak buahnya hanya dengan satu tangan yang tersisa.
“Rasanya menyenangkan saat menguliti pipimu. Kali ini, giliran pipi kananmu yang akan ku kuliti. Tapi, aku akan memastikan kau memakan kulit mu sendiri.”
“Bicara apa sih? Itu Cuma masa lalu, dan sekarang giliranku untuk membalas perbuatanmu dulu.”
Baron dan anak buahnya hanya tertawa keras setelah mendengar perkataan Nio yang begitu percaya diri. Tapi, Nio hanya mendengus dan melakukan peregangan karena lebih dari satu minggu dia hanya berbaring di kasur rumah sakit.
Anak buah Baron yang dulu pernah dikalahkan Nio dalam perkelahian tangan kosong, sekarang mereka membawa pisau sebagai senjata. Sisanya membawa balok kayu dan pipa besi sebagai senjata, yang tentunya tak seberbahaya karambit.
Nio hanya bisa bertarung dengan tangan kosong, dan dia yakin dengan kemampuannya sekarang.
Meski dia adalah prajurit, tapi dia adalah pihak yang benar kali ini, dan Baron serta anak buahnya adalah pihak yang diperbolehkan untuk dilawan dan dikalahkan.
Saat menjalani pendidikan menjadi anggota Pasukan Pelajar Khusus, pelatihnya pernah mengatakan, “Siapapun orangnya, jika dia sudah menginjak-injak harga dirimu, selama kamu benar sikat saja!”. Tapi Nio sudah lupa kegiatan apa yang dia jalani saat pelatihnya mengatakan kata-kata keren seperti itu.
Intinya, Nio hanya ingin memberikan pelajaran dan mendidik gerombolan preman ini.
“Aku sekarang tentara, jangan main-main.”
Beberapa anak buah Baron tertawa setelah mendengar perkataan Nio, bahkan Baron adalah yang tawanya paling keras. Sisanya, mereka bergidik setelah Nio menyatakan kalau dia adalah tentara.
__ADS_1
Masih sambil setengan tertawa, Baron berkata, “Palingan cuma tentara gadungan.”
Urat di dahi Nio semakin terlihat, dia lalu mengambil langkah maju untuk mendekati gerombolan remaja nakal ini. Anak buah Baron yang berpikir kalau Nio benar-benar tentara, mereka memilih untuk mundur setelah melihat wajah Nio yang memiliki beberapa bekas luka sayatan.
Karena Nio tidak membawa sandal, dia terpaksa kabur dari rumah sakit dengan mengenakan sepatu bot yang lupa dia cuci hingga baunya entah seperti apa. Saat melangkah, suara alas sepatu yang keras yang sedang beradu dengan tanah terdengar.
Saat memberikan pelajaran kepada preman-preman ini, Nio harus menang.
Dengan cepat Nio meraih kerah kemeja hitam Baron, dan membanting tubuh laki-laki ini di tanah, sekarang posisi Baron tengkurap di tanah.
Bahkan anak buah laki-laki itu tidak melihat Nio bergerak mendekati bos mereka, gerakan Nio terlalu cepat. Mereka menganggap jika Nio masih seorang tentara amatir, tapi setelah melihat bos mereka dibanting dengan keras, beberapa dari mereka memutuskan untuk menyelamatkan diri masing-masing.
Nio memegang kuat tangan kanan Baron, dan memelintirnya supaya dia tidak memberontak.
“Aku tidak peduli kau anak anggota dewan atau apalah, tapi kau sudah melukai kakakku. Sekarang adalah kesempatanku untuk membalas semua perbuatanmu padaku. Aku tidak peduli kau nanti akan mati atau hal yang lebih buruk lainnya, karena pihak yang benar adalah aku.”
Baron memiringkan kepalanya ke kanan, dan matanya melirik tajam ke arah Nio yang memasang wajah dingin. Laki-laki itu meludahkan air lurnya ke tanah, karena dia tidak bisa meludah ke arah wajah Nio yang ada di atasnya.
Dua anak buah Baron mengangkat tinggi-tinggi pipa besi yang mereka pegang, dan menebaskannya ke kepala Nio. Hanya dengan menunduk, Nio berhasil menghindari tebasan pipa besi yang jika terkena bisa memecahkan kepalanya.
Pipa kedua preman itu saling berbenturan dan menyebabkan suara dentingan yang keras. Nio memaksa Baron untuk berdiri, dia masih memelintir tangan laki-laki itu agar dia tidak kabur.
“Kalau kau melukai ku, kupastikan identitas tentara palsu mu tersebar luas.”
“Sayangnya, aku tentara sungguhan yang melewati banyak pertempuran. Rasanya aku sangat menyesal sudah melindungi orang seperti mu.”
Nio menatap seluruh anak buah Baron yang tersisa, dan memerintahkan mereka untuk melarikan diri atau menyerahkan diri ke polisi. Namun, tentu saja beberapa dari mereka lebih memilih setia terhadap bos mereka, sisanya mengangkat tangan dan pergi dengan terkencing-kencing.
Pemuda ini menyeringai dan berkata didalam hati, “Kukira mereka keras, ternyata cuma kertas.”
Dengan mudah Baron melepaskan diri dari cengkraman Nio, meski dia merasakan sakit di tangannya. Kini, di depan Nio selain ada Baron, 5 anak buahnya yang paling setia sudah menunggu perintah untuk menghajar pria yang melukai bos mereka.
Nio mempersiapkan diri untuk menghadapi ke lima orang itu, beserta Baron.
Ke lima preman maju bersamaan dengan senjata pipa besi, dan Nio memantapkan diri untuk menghadapi mereka. Nio mencengkram pergelangan tangan salah satu dari mereka, dan memelintirnya untuk kemudian membanting tubuh preman tersebut ke tanah. Nio menggunakan preman yang dia banting sebagai tameng, yang menyebabkan rekan-rekannya ragu untuk menyerang.
“Ini sudah berakhir, apa kalian mau seperti ku?”
Nio memperlihatkab bekas luka di pipi kanannya, dan membuat keempat preman yang menyerangnya menjatuhkan pipa besi dan mengangkat tangan.
Mereka mengeluarkan suara yang benar-benar ketakutan setelah Nio berdiri sambil melepaskan tangan rekan mereka yang hampir patah.
Ekspresi Baron sekarang adalah campuran perasaan yang rumit dan marah, kesal setelah diejek, dan air mata mengalir di pipinya.
Nio melangkah maju lagi dengan langkah berat, ujung sepatu bot nya yang keras siap menyambut wajah menyedihkan Baron.
“Aku minta, berhentilah berbuat seperti ini, dan biarkan aku dan kakakku hidup tenang.”
Meski hanya kata-kata, sepertinya Nio menuangkan semua kekuatannya ke dalam kata-kata itu.
Beberapa saat kemudian terdengar suara menderu dari mesin kendaraan militer, karena Nio sudah hafal setiap bunyi mesin kendaraan militer. Lalu, seorang perempuan muda muncul dari ujung gang, dengan puluhan prajurit di belakangnya.
Prajurit di belakang perempuan itu tidak asing bagi Nio, dan para prajurit itu sepertinya juga mengenal Nio.
“Indah…? Kenapa dia bisa membawa seluruh Kompi 406?”
Indah berlari cepat ke arah Nio yang masih mengintimidasi Baron. Sementara laki-laki itu gemetar saat anggota militer berada di area ini, dan dia berpikir jika pasukan ini akan menangkapnya.
“Akhirnya… akhirnya aku kali ini bisa menyelamatkan mu….”
Indah berdiri di depan Nio dengan tatapan terharu, setelah pencapaiannya yang telah sukses membuat Nio terkejut.
Beberapa prajurit yang ada di tempat ini berlari ke arah Nio sambil meneriakkan namannya.
“Sial, mereka pasti sedang mencari ku.”
Nio langsung menarik tangan Indah, dan berlari cepat menjauhi puluhan anggota Kompi 406 yang rindu dengan Nio, tanpa mengetahui kalau Nio sedang menjadi ‘buronan’ dengan hadiah yang besar.
**
__ADS_1
Maaf telat update, karena semalam saya lebih memilih menonton Persija lawan Persib. Untung Persija menang, bisa di jadiin semangat lah…:v