
Selain sakit, Nio hanya bisa melihat kegelapan dan sunyi yang luar biasa. Itu mengingatkannya pada neraka, tapi dia yakin tidak memiliki banyak dosa besar yang membuatnya dimasukan ke neraka tanpa ‘pengadilan’ terlebih dulu.
Di tengah kesunyian, ada sesuatu yang menepuk pipi Nio beberapa kali. Seseorang dengan suara familiar memanggil namanya. Suara lembut dan dewasa, seperti sosok perempuan dengan wajah samar berbicara padanya ketika tiba-tiba berada di wilayah Kekaisaran Duiwel. Sosok itu memanggil namanya berkali-kali, lalu sejumlah layar seperti TV layar lebar muncul di sekelilingnya. Di sekitarnya, Nio melihat beberapa sosok bertubuh besar, berkepala binatang memandangnya dengan tatapan menakutkan. Mereka membuat Nio yakin bahwa inilah proses awal sebelum pendosa disiksa dalam neraka paling dasar.
Tapi, sepertinya Nio terlalu banyak berpikir bahwa inilah tempat tinggalnya untuk selama-lamanya.
Seluruh tubuhnya begitu dingin, dan saat bernapas Nio tampak sesak dan kesulitan saat sosok-sosok raksasa mengerikan mengepungnya. Dia hampir tidak dapat bernapas, di hidungnya tercium aroma darah meski tidak ada darah di tempat ini. Saat menerima proyektil di tubuhnya, mungkin paru-parunya mengalami kerusakan dan membuatnya merasa mati lemas.
“Kau akan baik-baik saja, aku akan memberimu kekuatan.”
Kata-kata yang diucapkan sosok perempuan yang belum memunculkan diri masuk ke telinga satu dan keluar telinga lainnya ketika kepanikan belum menghilang dari dirinya.
Salah satu layar memperlihatkan Nio yang telah ditemukan pasca pertarungan dengan Darsono didorong masuk ke ruang operasi, dengan beberapa sosok berpakaian hitam mengelilinginya seperti pengawal. Adanya Hevaz membuat Nio berpikir dialah yang membawa orang-orang berpakaian serba hitam yang tampak berasal dari sekte sesat ‘mengawal’ dirinya, namun mereka lebih mendekati legenda ‘ The Reaper’. Tidak ada satupun tenaga medis yang menangani Nio dapat melihat keberadaan makhluk pengendali jiwa orang mati itu.
Menyadari dirinya masih hidup ketika prosedur operasi dimulai, Nio melihat ke layar lainnya, namun begitu dia melihat rekaman yang ditampilkan, dia hampir berteriak.
Di sana, ditampilkan dirinya dibaringkan di atas ranjang operasi dengan kulit gosong, beberapa bagian daging terkoyak hingga memperlihatkan tulang, mata kirinya tercungkil, dan yang paling mengejutkan alat penunjang kehidupan menunjukkan dia masih bernyawa. Itu terlihat seperti gambaran masa depan penuh penderitaan.
Sosok perempuan itu menampakkan dirinya, wajah cantiknya terlihat. Tetapi, tatapan matanya yang dingin seolah-olah masa bodoh apakah di masa depan Nio akan berakhir seperti dalam layar atau takdir akan berkata lain. Sambil menunjuk rekaman mengerikan tubuh hancur Nio, dia berkata:
“Bagaimana jika itu dirimu di masa depan, Pahlawan Harapan? Apakah orang-orang masih berharap pada dirimu yang tak berdaya seperti itu?”
__ADS_1
Nio menatap mata perempuan itu yang berkilauan terlepas tatapan sinis yang diterimanya. Perempuan di depannya mendekatinya hingga jarak antara mereka berdua hanya satu telapak kaki.
“Segera setelah kau keluar dari dasar neraka ini, aku akan mengucapkan selamat tinggal. Di tanganku adalah perjanjian kematian. Artinya, aku akan melindungimu dari kematian karena aku sendiri Dewi Kematian itu. Tetapi, jika kau mati, jiwa mu akan kekal di dunia bawah dan melayani ku. Omong-omong, kau pasti mengetahui tentang perang terakhir umat manusia yang akan terjadi menjelang kiamat. Tanpa kau sadari, banyak negara di kedua dunia bersiap menghdapi peristiwa besar itu. Aku bisa membuatmu tetap melayani bangsamu dalam perang itu dengan membuatmu sulit dikalahkan, kau bebas memilih. “
Mata Nio tetap tertuju pada dua peristiwa tentang dirinya, dengan salah stau kejadian tidak dapat dihindari lagi. Sudah lama perang menghancurkan segalanya, termasuk kehidupannya. Batas yang memisahkan dua dunia hancur, menyebabkan berbagai kekacauan. Tapi, setiap potongan peristiwa membentuk sejarah, dengan adanya banyak tokoh di dalamnya. Jika Nio menanggapi keinginan hatinya, dia tidak ingin berbagai hal buruk menimpa dirinya walau itu merubah cerita yang telah ditentukan. Dia percaya adanya takdir yang dapat diubah.
Perlahan-lahan, jumlah layar di sekeliling Nio bertambah, dan mulai terlihat hal-hal aneh yang ditayangkan. Ada jejak kaki berwarna merah, tumpukan tubuh manusia setinggi bangunan. Semakin lama tayangan berlangsung, semakin banyak hal-hal mengganggu mental yang dia lihat, karena seluruh rekaman menunjukkan gambaran dunia yang hancur. Setelah melihat seluruh gambaran tersebut, Nio bertanya-tanya apakah dirinya dapat merubah takdir dunia ini.
Perang batin yang dialami Nio semakin membuatnya tidak nyaman. Dia merasa kehancuran begitu dekat, dan tidak ada cara untuk menghindarinya. Perang bahkan belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian, dan semakin gila.
Jika kedua dunia ingin selalu mengingat perang terbesar sebelum dunia hancur, mereka dapat merekamnya walau tidak ada yang bisa menontonnya dan merasa senang karenanya. Saat ini, dia melihat rekaman pertarungan dengan gambar semut yang mengganggu, dan penuh teriakkan kematian alih-alih seruan perang penuh semangat. Saat rekaman sedikit jernih, sesuatu yang terjadi selanjutnya membuat Nio ingin muntah meski terbiasa melihat mayat berserakan.
Jika perang yang masih berlangsung ini adalah ‘Perang Dunia Ketiga’ yang sangat menghancurkan, bagaimana dengan perang yang mengakhiri peradaban ini hingga membuat Nio sangat terganggu? Itu bukan imajinasi, Nio meyakinkan dirinya untuk menanggapi tawaran Dewi Kematian.
“Tunjuk pilihan yang menurutmu membuatmu menjadi yang terkuat,” ucap Dewi Kematian.
Saat Nio menunjuk salah satu pilihan, dirinya yang masih ditengah-tengah operasi terbangun dan membuatnya terkejut. Dewi Kematian hanya menatap malas ke salah satu layar, melihat para ‘anak buahnya’ berbuat iseng saat Nio berada di tengah hidup dan mati. Dia kembali melirik wajah Nio yang menunjukkan ekspresi ketakutan jika dirinya benar-benar akan menjadi bawahan perempuan cantik di depannya.
Dokter yang menangani jalannya operasi berusaha membius lagi Nio yang kejang-kejang luar biasa, lalu darah yang keluar dari mulutnya cukup membuat dokter gelisah. Melihat dirinya yang terancam, Nio merasakan takut terbesar sepanjang hidupnya.
“Kau tidak ingin merubah pilihanmu?” tanya kembali Dewi Kematian setelah Nio menunjuk pilihannya.
__ADS_1
Nio menjawabnya meski dengan ekspresi resah, “Jika itu bisa membuatku tak terkalahkan, aku tidak menyesali pilihanku.”
“Anak pintar,” Dewi Kematian berkata dan tersenyum puas. Lalu mendekatkan wajahnya pada muka Nio, dan apa yang terjadi selanjutnya membuat Nio menghilang dari hadapannya.
**
Hal pertama yang Nio dengar adalah grafik detak jantung di samping ranjangnya. Dia merasa seperti dibungkus sesuatu yang hangat dan lembut, namun selimut itu langsung dia singkirkan karena membuatnya gerah. Dia merasa cahaya lebih redup dari biasanya. Nio tidak tahu apa yang dimasukkan ke dalam mulutnya ketika operasi berlangsung, dia meringis karena pahit yang dirasakan.
Dia kembali ke kesadaran dengan perasaan seperti menghadapi peristiwa yang mengguncang mental. Nio sendiri bahkan terkejut bahwa dia masih hidup. Zefanya masuk ke bidang penglihatannya. Gadis itu memakai hoodie abu-abu miliknya, dan mata biru gadis itu menatap basah saat menatapnya. Pupil biru Zefanya terlihat sangat alami dan berkilau. Menyadari Zefanya tetap cantik, Nio menatapnya sebentar.
“Hai say…” Nio tidak melanjutkan kalimatnya, sesuatu yang masuk ke tenggorokannya membuatnya tersedak dan terbatuk beberapa kali.
Zefanya mengusap matanya dengan kuat, dan menggigit bibir bawahnya. Dia akhirnya tersenyum haru, namun tangisan dapat pecah kapan saja. Zefanya berusaha keras untuk tidak menangis. Dengan mata yang berkaca-kaca Zefanya berkata, “Hai, sayang. Selamat kembali.”
Nio tersenyum pahit, “Jika aku melihat bidadari di depanku, apa aku sudah di surga?”
“Kita masih di neraka.”
“Heheh, aku berusaha membuat gombalan tahu,” kata Nio dengan ekspresi bercanda.
Nio memaksa tubuhnya yang belum pulih untuk duduk, lalu melihat ke luar jendela dan melihat bahwa langit gelap dihiasi bulan purnama sempurna seolah-olah mengintip mereka berdua.
__ADS_1
“Berapa lama aku tak sadarkan diri?” Nio bertanya pada Zefanya.
“Dua hari. Kau telah melewati operasi besar. Dokter hampir menyerah menanganimu. Tetapi, jantungmu masih berdetak. Kau masih memiliki keinginan untuk terus hidup. Kamu telah melakukan yang terbaik,” jawab Zefanya. Dia membelai dada Nio dengan jari telunjuknya dan mengetuk dua kali pada bagian jantungnya. Nio merasa berdebar, namun Zefanya merona.