
Di ruang tamu rumah Nio yang tidak sepanas udara luar, keheningan berlangsung. Nio dan Herlina duduk di sofa panjang, dengan meja kaca memisahkan mereka berdua dengan Surya Roso Asmoro – disingkat Suroso – yang duduk di depan mereka. Di atas meja ada sebuah teko besar berisi es teh. Di teras rumah terparkir sejumlah mobli berwarna hitam, dan kurang dari 15 ‘pengawal’ sedang menikmati es teh yang disajikan tuan rumah sambil mengeluh pemanasan global yang menyebabkan suhu udara naik.
Tim jurnalis sedang berkeliling Karanganyar sambil menunggu mereka dan Nio melakukan ‘aksi’, sehingga rumah Nio dipenuhi orang-orang dari pemerintahan.
Nio dan Herlina baru saja selesai mendengarkan penjelasan Suroso, selain pria tersebut mengetahui rencana Nio untuk memecahkan beberapa kasus besar.Selain sulit dipercaya, informasi yang mereka berdua dapatkan dari Suroso membuat mereka tercengang.
Suara pasukan pengawal di luar yang sedang bercanda memecahkan keheningan sementara ini, dan jakun Nio bergerak naik turun akibat ketidaktahuannya atas informasi yang disebutkan Suroso.
Nio menyeka keringat yang mengalir di dahinya, wajahnya menunjukkan ekspresi tidak nyaman. Nio menggelengkan kepalanya pelan sebelum dia bertanya pada Suroso, “Pak, ijinkan saya mengulangi apa yang saya dengar dari Anda. Dengan tanpa ijin, tiga penyihir melakukan upacara pembukaan Gerbang Tak Sempurna di Area Terlarang malam tadi, dan menyebabkan kekacauan di sana?”
“Jika kita tidak segera melakukan operasi pertempuran, mungkin akan terjadi hal buruk di kota ini,” Herlina mengatakan prediksinya.
Nio dan Herlina dengan ekspresi serius menatap layar monitor yang baru saja diletakkan di atas meja oleh salah satu pengawal Suroso. Yang mereka lihat adalah sebuah Gerbang Tak Sempurna berdiameter lima puluh meter terbuka, dan mengeluarkan puluhan tentara Aliansi bersenjata senapan, dan sejumlah monster dilepaskan untuk menyerang anggota polisi dan militer di sana.
Suroso buka suara setelah video yang disaksikan Nio dan Herlina berakhir, “Kami sudah mengabari media tentang situasi ini, dan meminta kerja sama mereka.”
“Media yang terlalu bebas akan senang mendengar kabar itu, Pak,” ucap Nio dengan nada sarkas.
Nio berpikir media akan melakukan sesuatu terhadap informasi pemberian Suroso, sehingga kepanikan masyarakat akan bertambah parah. Setelah perang, media sering memilih topik konflik bersenjata untuk berita mereka, namun tak jarang usaha mereka menyebabkan perasaan orang-orang tidak nyaman.
“Tapi, tidak ada cara untuk menyebarkan berita lebih cepat dibanding media online. Kamu mungkin kurang mempercayai media yang dengan mudahnya menyebarkan berita dengan ditambah sedikit ‘bumbu. Tapi, aku akan berusaha membatasi informasi yang perusahaan media sebarkan. Berita yang dilebih-lebihkan atau dikurangi kandungannya akan menjadi racun bagi masyarakat,” jawab Suroso dengan ekspresi wajah tegang.
“Diktator juga melakukan pembatasan informasi,” ucapan Nio menyebabkan Suroso tidak memiliki cara untuk membalasnya.
“Nio!” Herlina berusaha menghentikan Nio.
“Nih anak jalan pikirnya gimana, ya?” ucap Suroso di dalam hati dengan jengkel, namun ditutupi oleh ekspresinya yang tenang. “Tidak apa-apa,” jawab Suroso.
“Bagaimanapun, adanya penyihir yang membuka Gerbang tanpa ijin adalah bentuk ancaman. Namun, cepatnya Pasukan Perdamaian mendapatkan berita juga tak kalah mengerikan. Tadi pagi, Jenderal Angga memberiku laporan; adanya penumpukan pasukan di Tanah Suci yang dikuasai Kekaisaran Luan. Mereka memperkirakan pasukan yang dikumpulkan sekitar 200.000 tentara bersenjata senapan, puluhan ribu monster, sejumlah Wyvern, dan seekor binatang mirip dinosaurus berukuran lebih besar dari paus biru.”
“200.000?! Apa Anda serius,Pak?!” Herlina menyemburkan es teh, dan hampir mengenai wajah Nio.
__ADS_1
“Aku juga tidak tahu, hanya pasukan di sana yang tahu,” jawab Suroso.
Nio mengangguk seolah-olah dia memahami sesuatu, “Ini bahaya. Pasukan Perdamaian dan Karanganyar dalam ancaman.”
“Kontingen Arevelk, Hayvan, dan Yekirnovo sepakat jika binatang raksasa yang dibawa Aliansi adalah Raja Naga Bumi. Kami melakukan semua yang kami bisa untuk memastikan ancaman Aliansi dengan menumpuk pasukan tidak menjadi pertempuran.”
Nio dan Suroso memasang ekspresi gelisah yang sama, namun Herlina tidak paham dengan ‘Raja Naga Bumi’ yang baru saja disebutkan.
“Apa itu Raja Naga Bumi?” Herlina menanyai Nio yang masih memegangi dagunya.
“Sangat sulit melawan makhluk itu meski bisa dibunuh dengan senjata yang TNI miliki,” Nio mengatakan pengalamannya menghadapi dua Raja Naga di dunia lain.
“Nio, berapa banyak yang kamu ketahui tentang Raja Naga?”
Nio menjawab pertanyaan Herlina, “Aku pernah mendengar cerita dari tentara dunia lain kalau ada beberapa Raja Naga. Yang pernah TNI hadapi adalah Raja Naga Api dan Raja Naga Angin, dan perlu aset berharga seperti peluru kendali untuk membunuh monster dunia lain itu. Orang-orang dunia lain menyebut para Raja Naga seperti malapetaka atau bencana.”
“Kenapa mereka diberi nama elemen yang ada di dunia?”
“Mungkin karena kekuatan dasar yang para Raja Naga miliki.”
Suroso mengerutkan keningnya dan Herlina menutup mulutnya saat mereka membayangkan kekuatan binatang buas fantasi yang pernah dihadapi TNI di dunia lain. Mereka berdua tenggelam dalam bayangan jika monster tersebut menjadi senjata Aliansi untuk melawan TNI dengan segala keterbatasannya.
“Tapi…” Ekspresi Nio semakin serius saat dia dan Suroso saling bertatapan. Lalu dia melanjutkan perkataannya, “Aku tidak tahu kekuatan sebenarnya Raja Naga Bumi, tapi penyerangan pasukan kecil Aliansi yang tiba-tiba jelas bentuk pengalih perhatian.”
“Pengalihan?” Suroso semakin gelisah, tetapi setelah beberapa saat melakukan pemikiran yang mendalam dia berkata, “Nio, itu bahkan tidak terpikirkan.Tapi, bukankah masih ada cara untuk menghadapinya?”
“Ketika lawan mengirimkan unit kecil untuk membuat kegaduhan, pasukan utama musuh pasti sedang melakukan persiapan. Meski seluruh pasukan yang membuat kekacauan dibantai, pasukan utama dalam jumlah besar sudah selesai melakukan persiapan. Dengan kata lain, unit Aliansi yang menyerang semalam dikirim untuk melakukan pengorbanan agar kita tidak memiliki waktu mempersiapkan diri.”
“Kamu pikir penyerangan Area Terlarang semalam adalah pembuka sebelum pertunjukan utama?” tanya Suroso.
“Hanya itu yang dapat saya pikirkan, Pak. Bahkan jika kita bisa mengalahkan pasukan pengalih perhatian, Aliansi tetap melanjutkan persiapannya. Tidak ada cara untuk mengetahui siapa yang akan diserang, apakah itu Karanganyar atau negara anggota Persekutuan lainnya.”
__ADS_1
Hanya dengan tiga penyihir membuka Gerbang tanpa ijin sehingga menciptakan jalan bagi Aliansi menyerang Area Terlarang, Nio kembali menunda pekerjaannya. Bahkan jika Kompi 406-32 berhasil menangani unit kecil yang dikirim Aliansi untuk mengacau, Aliansi tetap melanjutkan rencananya.
Nio melanjutkan, “Dengan kata lain, Aliansi mengirim unit untuk menciptakan kegaduhan adalah memberi waktu pasukan utama bersiap menyerang sasaran. Mereka tahu kita tetap membutuhkan waktu untuk mempersiapkan rencana bertahan atau membalas serangan.”
“Itu taktik yang sangat sistematis. Mereka ternyata tidak selemah yang dipikirkan para perwira militer,” Suroso menghela napas betapa longgarnya pemikiran para perwira di hari damai.
Setelah meminum es teh, Suroso kembali menatap Nio dan berkata, “Nio, teorimu sangat masuk akal. Pemikiranmu benar-benar luar biasa. Meskipun saat ini perwira Markas Besar masih berdebat tentang tujuan musuh menyerang Area Terlarang, tapi kamu menemukan alasannya dengan singkat. Kenapa sampai sekarang kamu tidak mau menerima posisi sebagai perwira TNI?”
Nio menjawab dengan santai, “Karena saya terlanjur nyaman dengan TRIP.”
Suroso menatap penuh tanya pada seorang pemuda yang menjawab pertanyaannya dengan sangat yakin.
“Nio, apa kamu tahu banyak tentang taktik dan strategi perang?” tanya Suroso.
“Tidak terlalu. Tapi, karena tugas jadi saya berpikir harus belajar tentang kedua hal itu walau dalam prakteknya saya terapkan dengan sedikit modifikasi.”
“Begitu… padahal aku mengira kamu memiliki minat yang sama dengan seseorang?”
“Kenapa orang secara otomatis akan menyamakanku dengan orang ‘itu’ jika aku berhasil menebak dengan benar taktik musuh dan memenangkan pertempuran dengan taktikku?” karena pembicaraan yang cukup ‘gelap’, Nio mengisi obrolan dengan lelucon.
“Pak, apa yang Anda ingin saya lakukan?” Nio berbicara seperti itu dengan tatapan mata lesu.
Suroso mengangkat gelasnya dan menyeruput teh dingin. Tenggorokan yang dibasahi air dingin, dan ruangan yang sejuk karena AC membuat Suroso berpikir jernih untuk menjawab pertanyaan Nio, “Aku ingin kamu membantu Komando Pasukan Utama TNI bersiap jika sasaran musuh ternyata Karanganyar.”
“Kenapa anggota TRIP dan pasukan campuran seperti saya harus membantu Komando Pasukan Utama TNI?” saat Nio menjawab dengan kalimat seperti itu, dia melhat Herlina memasang ekspresi terkejut. Dia merasa Herlina mengetahui sesuatu sehingga dia bertanya, “Mayor, apa maksudnya TRIP dan Komando Pasukan Utama TNI yang tak jarang saling bertentangan tiba-tiba harus saling membantu?”
Herlina menatap Nio dengan ekspresi wajah tercengang, “Tunggu, Nio, kau tidak tahu sistem itu? Bukannya kamu dapat pelajaran itu saat kamu menjalani pendidikan kilat?”
“Aku tidak tahu ada pelajaran seperti itu. Aku tidak terlalu suka belajar, jadi aku mendengarkan penjelasan sambil tidur.”
“Kenapa kau melakukan itu!” Herlina menyembunyikan ekspresi malunya terhadap Suroso karena telah memiliki bawahan seperti Nio. “Selama operasi darurat, TRIP dan TNI dapat disatukan untuk menahan atau memukul balik musuh. Walau TRIP dan TNI sering berbeda pendapat, tapi ada kemungkinan perwira TRIP menjadi pemimpin peleton yang berisi anggota TNI, sehingga harus ada kesadaran untuk melupakan masalah semacam itu.”
__ADS_1
“Nio, tidak peduli seberapa ragumu terhadap kerjasama bersama pasukan utama, yang kita perlukan adalah kesiapan dan kecepatan. Aku ingin bantuanmu untuk menghadapi musuh yang mengancam.”
“Nio, aku tahu keinginan utamamu adalah menemukan dalang proyek Obat Kuat, misteri Desa Bacem, dan proyek Tentara Unggulan yang meresahkan pikiranmu. Tapi, Nio, tolong, demi negara maukah kamu membantu, hanya untuk sementara ini? Aku akan memberimu dan semua anggota unitmu waktu liburan tambahan.”