
Nio nampak tertawa bersama anak-anak pengungsi yang seluruhnya berjumlah 20 orang. Dia dan beberapa sukarelawan pengajar serta beberapa prajurit membagikan makanan ringan dan susu kemasan kepada anak-anak dan remaja awal. Kegiatan ini hanya kiliing time yang dilakukan Nio saat dirinya tidak diikutsertakan dalam misi yang Regu pimpinannya laksanakan. Melihat anak-anak pengungsi yang berebut makanan ringan darinya dan beberapa sukarelawan, Nio kembali memutar rekaman masa lalunya saat dia masih kecil.
Saat dia masih berusia 6 tahun, Nio sering berkelahi dengan anak-anak lain demi beberapa makanan ringan yang dibagikan mahasiswa aktivis. Saat itu, dia hanya tinggal bersama ayahnya, dan ayahnya belum menikah dengan ibu kakaknya.
Ayahnya yang bekerja sebagai buruh pabrik, jarang memberikannya uang jajan. Sebaliknya, ayah Nio sering menyuruhnya untuk menahan diri saat tidak ada makanan di rumah. Hampir setiap hari dia dan ayahnya mengkonsumsi mi instan yang berharga murah, itulah yang menyebabkan Nio ‘kecanduan’ terhadap makanan itu.
Sambil tersenyum hangat, Nio memberikan beberapa bungkus coklat dan permen kepada anak-anak yang mengerumuninya. Bagi orang-orang yang jarang melihat Nio, mereka menganggap jika Nio adalah prajurit remaja yang cukup tegas, namun mereka kini melihat senyum Nio yang begitu hangat. Mungkin karena anak-anak ini membuat pemuda itu mengingat kenangan lama yang membuatnya kesal sendiri saat mengingatnya.
Anak-anak pengungsi sebelumnya sangat sulit untuk dekat dengan prajurit Pasukan Ekspedisi yang sering membantu urusan keamanan mereka. Lalu, saat pengajar sukarela memiliki waktu senggang, mereka membeli beberapa makanan ringan di minimarket dengan uang mereka sendiri, dan membagikan kepada anak-anak dengan bantuan bahasa dari Nio.
Hal ini cukup untuk menarik perhatian anak-anak dan para remaja untuk belajar bersama pengajar sukarela, tentu saja setelah mereka selesai mengajar para prajurit yang ‘putus sekolah’.
Ya, itulah tugas sebenarnya dari Lisa dan Arunika serta 28 pengajar sukarela lainnya. Mereka dibayar dengan uang anggaran Pasukan Ekspedisi, dan tanpa bantuan pemerintah. Jendral pasukan ini ingin prajurit remajanya melanjutkan sekolah yang terhenti di tengah jalan akibat perang dua tahun yang lalu.
Prajurit remaja yang berminat dengan hal ini tentu saja sangat senang, dan dengan semangat belajar setelah latihan atau menjalankan misi. Pekerjaan ini juga menjadi pengalaman tak terlupakan bagi para pengajar, karena mereka bisa melihat suasana kehidupan militer, dan jangan lupakan suasana dunia lain yang menurut mereka tak ada bedanya dengan Indonesia.
**
Ketika cahaya siang menembus awan, di tempat kosong di dekat sekolah bahasa dan sekolah prajurit, delapan anak laki-laki dan perempuan berkumpul, menatap Nio dengan mata cerah. Nio tidak asing dengan anak-anak di depannya, dia cukup sering bertemu dengan mereka untuk urusan membagikan makanan ringan.
Sambil menahan lapar, Nio berdiri terpaku di tanah kosong di area wilayah khusus Pasukan Ekspedisi. Dia menatap satu persatu wajah anak-anak dunia lain ini, untuk memastikan tidak ada satupun diantara mereka yang memiliki niat buruk.
“Jadi, pada dasarnya kalian ingin aku menjadi guru kalian?”
“Betul…!!!” kata anak-anak dengan nada bersemangat.
“Kami juga ingin belajar seperti teman-teman anda, Tuan Nio…!”
Nio yang nampak kebingungan, menatap kakaknya dan dua temannya yang tampak senang sendiri sambil berdiri di sampingnya.
“Kakak, aku ingin anak-anak ini bermain saja, jadi apa yang harus kulakukan?” bisik Nio dengan kakaknya.
“Ah, jangan seperti itu, kau bisa mengajar mereka sedikit. Tentu saja, kau pasti tidak bisa mengajari mereka berhitung,” jawab Arunika yang membuat teman-temannya tertawa dan membuat simbol kerutan di dahi Nio.
Nio yang hanya bisa pasrah menghela napas. Sepertinya, ini semua dimulai ketika beberapa anak menyebarkan berita di lingkungan bermain mereka di pengungsian mengenai Nio seorang jenius dan ahli bela diri. Biasanya, waktu siang adalah saat Nio makan siang di kantin dan melakukan pekerjaan seorang komandan Regu.
“Ijin bertanya!” salah satu anak Demihuman kucing mengangkat tangan.
“Ya! Apa yang ingin kau tanyakan?” Nio menjawabnya dengan semangat juga dan melupakan jika mengajar anak-anak adalah tugas berat.
“Apa kau bisa mengalahkan minotaur sampai mati hanya dengan menatapnya?” menanggapi pertanyaan anak itu Nio hanya bisa menahan tawa.
Dia berkata di dalam hatinya sambil tertawa, “Siapa yang membuat rumor itu…?”
“Ijin bertanya, apa kau benar-benar menghajar Panglima Ragh hingga sekarat?”
“Ya… ya… itu memang benar. Tapi aku memastikan kalau dia tidak sampai sekarat.”
Lalu anak yang lain bertanya lagi kepada Nio, “Ijin bertanya, benarkah anda mengalahkan raja naga api sendirian.”
Lalu Nio menjawabnya, “Bukan, tapi hampir seluruh pasukan ini bersatu untuk mengalahkan makhluk yang kalian sebut dengan raja naga api.”
Nio ingin menghela napas lagi, tapi salah satu teman Arunika berkata, “Laki-laki tidak baik kalau sering menghela napas loh….”
Lalu, ketika mata Nio dengan kakaknya bertemu, Arunika memberinya acungan jempol dan tatapan tulus penuh keyakinan padanya dan berkata, “Adikku ini, dia bisa melakukan apa saja!”
Nio menggaruk belakang kepalanya sebagai ganti menghela napas. Semua orang pasti pernah melewati fase dimana mereka mengidolakan tokoh kartun atau pahlawan super favorit. Kesan pertama penting pada saat-saat seperti ini, bagaimanapun mereka hanyalah anak-anak, jadi Nio tidak mempermasalahkannya.
“Baiklah, terimakasih sudah mengajukan diri sebagai murid ku. Akulah Nio Candramawa yang hebat!”
__ADS_1
Lalu setelah itu hanya terdengar suara mesin kendaraan tempur, dan pasukan yang sedang berlatih, dengan kata lain semua orang yang ada di sekitar Nio diam.
“Um… yah… aku hanya bisa gerakan silat yang sedehana sih. Lalu aku menggabungkan seluruh gerakan sederhana itu menjadi satu, dan jadilah beladiri buatan ku sendiri. Maaf, tapi aku masih pemula dan tidak bisa mengajari kalian banyak hal.”
“Kami tidak peduli. Ajari kami jurus andalan anda!”
Bingung dengan permintaan anak-anak, Nio berkata di dalam hatinya, “Sial, sepertinya aku tidak punya pilihan.” Lalu dia berdiri di depan sebuah batang pohon kering. Dia menekuk kakinya, dan melakukan sikap kuda-kuda dasar, lalu menarik napas dalam-dalam. Dia menghembuskan napasnya dengan cepat dan meninju batang pohon di depannya. Tinjunya menghantam batang pohon dengan cepat, dan bergetar kuat dan hampir patah. Nio menghembuskan napas pelan dan kembali ke posisinya. Kemudian dia menghadap anak-anak lagi dan berkata, “Bagaimana dengan itu?” dengan wajah percaya diri.
“Apa? Itu terlalu cepat, aku tidak bisa melihat apa yang terjadi.”
“Itu hanya pukulah biasa!”
“Sepertinya sangat lemah….”
“Buat batang pohon itu tumbang!”
“Aku ingin uang ku kembali!”
“Memangnya kalian membayarku apa…!?” jawab Nio atas pertanyaan terakhir.
Nio sudah kehabisan akal, dia merasa ingin memukul anak-anak imut di depannya.
“Y-yah, tadi itu cuma pemanasan. Aku sebenarnya punya jurus rahasia, salah satu jurus rahasia silat buatanku. Aku menamai jurus ini ‘Tendangan Gaya Pertama: tendangan memutar.”
Lalu anak-anak mulai terlihat serius melihat teknik yang akan diperlihatkan Nio.
Mereka berkata, “Yang itu sepertinya keren.”
Lalu Nio menjawab, “Itu hanya nama!”
Nio berbalik ke batang pohon, lalu melompat dengan semangat dan melakukan tendangan memutar.
Tiba-tiba pandangan Nio beralih ke delapan kendaraan militer yang melintas di jalanan, dan memasuki gerbang benteng. Itu adalah transportasi Regu penjelajah 1, dan terlihat juga beberapa helikopter pengangkut besar dan serang mendarat di landasan pacu.
“Dia bahkan tidak bisa membunuh serangga dengan tendangan lemah itu…”
“Aku mau pulang. Ayo pulang dan bermain boneka.”
Arunika dan teman-temannya mencoba mencegah anak-anak itu meninggalkan ‘pelajaran’ sambil berkata, “H-hei, tunggu kalian….” Tapi itu sia-sia, dan satu per satu anak-anak meninggalkan Nio yang ingin segera menghampiri anggota Regunya.
**
Kantong mayat?
Liben dan tiga anggota Regu laki-laki terlihat menenteng kantong mayat, dan berjalan turun dari helikopter pengangkut bersama seluruh penumpang. Beberapa orang berlari untuk menyaksikan mereka kembali dari misi yang berbahaya.
Sucipto yang sedang menyesap kopi hitam instan yang diseduh pada gelas kertas telah menantikan kepulangan unit yang dikabarkan melakukan pertempuran dengan pasukan musuh, dan unit itu adalah Regu penjelajah 1 dan beberapa prajurit Grup Tempur 5 dan 6. Jendral ini bergegas keluar dari ruang kerjanya untuk memberi selamat kepada unit yang baru pulang itu.
Beberapa Regu penjelajah dikirimkan untuk melaksanakan misi di perbatasan Negara Yekirnovo dan Kekaisaran Luan, serta melaksanakan misi ke wilayah Kekaisaran untuk mendapatkan kota yang akan dijadikan basis pertahanan garis depan lagi. Tetapi, seluruh unit yang dikirimkan diberikan waktu dua hingga tiga hari, dan sekarang adalah hari terakhir pelaksanaan misi. Hampir seluruh prajurit pulang dengan wajah senang dan tenang, kecuali Regu penjelajah 1.
Sucipto yang berusaha berjalan sambil mengatasi perutnya yang buncit merasakan ketegangan yang mucul dari helikopter pengangkut yang digunakan Regu penjelajah 1. Bahkan ketegangan itu terasa seperti sehabis mengalami kekalahan perang, atau melihat teman terbunuh di medan perang.
Sucipto sendiri adalah Jendral bintang tiga yang sudah banyak melalui misi perang di luar negeri sebagai bagian dari Pasukan Perdamaian PBB. Jadi, dia bisa merasakan jika hawa tidak mengenakan ini sebagai tanda jika ada satu prajurit gugur.
Disisi lain, pria berusia 48 tahun itu melihat Nio sedang menatap rekan-rekannya yang sedang menenteng katong mayat. Mata Nio berkaca-kaca, dan daerah sekitar matanya memerah, dia memang menahan tangis saat melihat kantong mayat yang ditenteng Liben dan ketiga bawahannya.
Kantong mayat yang dibawa merupakan tanda jika teknologi modern masih bisa dikalahkan dengan pasukan dengan senjata pasukan jaman pertengahan.
“Tidak….”
__ADS_1
Itu adalah perkataan lemah dari mulut Nio yang bergetar, seperti anak kecil yang hampir menangis.
“Aku tidak ingin teman-temanku mati….”
Tubuh Nio gemetar saat melihat bawahannya yang perempuan berjalan sambil menangis setelah turun dari helikopter pengangkut besar. Bawahan laki-laki yang lain sebagian nampak menahan tangis dengan cara menggigit bibir mereka, dan menutupi wajah dengan helm tempur mereka. Lalu, Jendral Sucipto memegang bahu Nio sambil sedikit meremasnya. Tentu saja itu mengejutkannya, dan membuatnya tak sadar mengalirkan sedikit air mata.
“Jangan menangis, Nio. Aku tahu air mata yang kau teteskan itu demi temanmu yang gugur. Tapi, jadikan itu motivasi bagi yang lain agar tidak meremehkan musuh yang terlihat lemah!”
“Sialan!”
Nio menutup matanya dengan siku kanannya dan bahunya gemetar, dan Sucipto tetap hening sambil melihat kantong mayat yang berisi jasad Sersan Chandra dimasukkan kedalam kendaraan medis.
Sucipto sadar jika Nio masih seorang remaja yang kebetulan menjadi prajurit, dia tidak melarang Nio untuk menangisi temannya yang bernama Chandra itu gugur. Sebagai prajurit, mereka tahu betul bahwa mereka harus menekan kesedihan sampai pertempuran berakhir. Kalau tidak, mereka hanya bergabung dengan teman mereka sebagai mayat. Pengalaman mereka memungkinkan untuk mengendalikan emosi dan mempertahankan diri dalam bertahan hidup. Itu adalah kesadaran manusia yang telah beradaptasi dengan kegilaan medan perang, dan bertugas sebagai senjata hidup untuk melindungi rakyat.
Anggota Regu penjelajah 1 berduka dengan cara mereka masing-masing.
Lalu, Nio melihat tiga jurnalis yang terlihat syok saat turun dari kabin helikopter pengangkut besar. Ketiga jurnalis itu berjalan mendekati Nio yang berdiri mematung sambil menatap mereka dengan mata memerah karena tangisan.
“Ma-maafkan kami. Prajurit bernama Chandra itu gugur karena melindungi kami…”
Tatapan dingin yang Nio berikan kepada jurnalis senior itu membuat mereka merinding.
“Kau menyesal!?”
Nio menjawab setelah pernyataan jurnalis senior itu yang mengatakannya dengan begitu tenang, seakan-akan hanya menjadi penyesalan sesaat lalu kembali bersenang-senang di atas penderitaan orang lain.
“Kau meminta maaf!? Berhentilah mengatakan omong kosong dengan suara lemah lembutmu itu!”
Butuh beberapa saat bagi ketiga jurnalis itu untuk memproses apa yang baru saja mereka dengar.
Wajah Nio berubah menjadi menakutkan, dan membuat ketiga jurnalis itu tertekan dengan kuat. Lalu, Nio berkata dengan nada cukup keras:
“Tentu saja, aku yakin kalian tidak terlalu menyesal dengan situasi ini, karena kalian berpikir tugas prajurit memang untuk melindungi golongan rakyat seperti kalian kan!?. Kalian bisa bilang kalau kalian tidak pernah menyebarkan berita buruk tentang kami, tidak pernah memuji kami ketika sedang mempertarukan nyawa di dunia antah berantah ini! Itu artinya, kami hanya dianggap sebagai babi pembawa uang menurut kalian! Dia pasti gugur karena menuruti ego tololmu itu! Salah satu temanku baru saja melewatiku dibungkus dengan kantong mayat. Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan omong kosong mu sekarang. Kalian harus bertaggung jawab, dasar sialan, brengsek!”
“Ap-apa yang kau katakan? Kami brengsek?” jawab jurnalis senior berusaha melarikan diri dari tuduhan Nio.
“Lalu apa? Apa kau pikir aku tidak peduli saat temanku mati? Oh, benar, bagi kalian, Tentara Pelajar hanyalah Tentara Pelajar. Kami adalah babi pekerja yang tidak bisa dibandingkan dengan manusia mulia sepertimu, kan!?”
Dibombardir dengan tuduhan yang tak terbayangkan dari Nio, pikiran ketiga jurnalis benar-benar kosong.
Tidak ada prajurit yang berusaha menenangkan Nio, mereka melihat pemuda itu sudah dikuasai oleh kemarahan dan kesedihan. Bisa saja dia menyerang ketiga jurnalis itu, dan melukai mereka. Ekspresi Nio benar-benar menakutkan sekarang, matanya memelototi ketiga jurnalis hingga lutut mereka bertiga lemas. Napas Nio yang begitu berat membuat hawa di sekitar pemuda itu mengerikan.
Seseorang yang tahu jika Arunika adalah kakak Nio, mencari gadis itu agar Nio sedikit tenang. Meski mereka harus berkeliling ke seluruh sudut benteng untuk mencari Arunika, tapi ini demi keselamatan ketiga jurnalis yang sedang terjebak dalam masalah yang runyam.
Pada akhirnya, Arunika turun dari kendaraan taktis dan berlari ke arah Nio yang terlihat bukan Nio. Ya, Nio yang Arunika kenal tetap tenang dalam masalah terberat sekalipun. Tapi, sekarang Nio benar-benar sudah berubah sejak bergabung dengan militer.
“Kakak?”
Nada suara Nio dingin, tetapi itu sama sekali tidak membuat Arunika gentar. Arunika tidak mundur saat melihat ekspresi menakutkan Nio yang baru pertama kali dia lihat, dia tidak menyalahkan Nio untuk masalah ini. Arunika menyadari jika Nio berbicara dengan seseorang yang tidak akan mendengarkannya, apapun yang Nio katakan dan perbuat.
“Kau sudah tenang?”
Kata-kata lembut dari kakaknya, merubah amarah Nio menjadi tangisan yang tulus, dan itu dia tujukan kepada Chandra yang sedang beristirahat dalam tenang, dan dalam waktu yang sangat lama.
Nio tidak bisa menahan diri untuk memeluk Arunika meski disaksikan banyak orang. Hanya ini yang dia bisa lakukan untuk meredakan amarah yang tadi sempat menguasai hatinya. Tentu saja, tatapan orang tertuju pada Pembantu Letnan Satu Nio.
Arunika selalu berpikir jika Nio terlalu baik untuk perang ini, apalagi tujuan utama adiknya menjadi tentara untuk melindungi dirnya.
Di sisi lain, Sucipto telah mengenal Nio selama enam bulan, sejak Pasukan Ekspedisi Dunia Lain dibentuk. Selama itu, dia menjabat menjadi jendral pasukan ini, yang berarti selama ini dia selalu menjadi nomor satu. Meski begitu, prajurit remaja yang sedang menangis di pundak kakaknya adalah prajurit dengan talenta misterius di medan perang.
__ADS_1
Sucipto di dalam hati bergumam, “Seperitnya hanya gadis ini yang bisa menjinakkan Nio.”
Nasib mereka yang menjadi prajurit adalah mati di tempat tergelap di medan perang, dibuang seperti alat yang telah digunakan, dilucuti hak dan martabat sebagai manusia, dan beristirahat dengan tenang di kuburan dengan batu nisan berukirkan nama mereka yang gugur.