
50 penyihir elit milik Kerajaan Arevelk berdiri di depan pasukan bantuan, dan melakukan persiapan membuka Gerbang tak sempurna yang nantinya akan dimasuki pasukan dan seluruh peralatan tempur. Seluruh jurnalis dari Indonesia, Korea Utara, dan Rusia yang mendapatkan ijin meliput kejadian ini menanti momen terbukanya Gerbang.
Seluruh penyihir berdiri dan berbaris di atas jalan 8 lajur Kota Karanganyar, dan berdiri membelakangi tugu peringatan sambil mengucapkan mantra yang cukup panjang. Setidaknya, keberadaan sihir mulai diterima dan beberapa kelompok masyarakat menyamakan sihir milik dunia lain dengan sihir yang dimiliki para dukun.
Seluruh prajurit tentunya menunggu para penyihir yang masih melakukan persiapan dengan sangat sabar, dan para tentara Rusia terpaksa menggunakan perangkat yang bisa membuat badan sejuk. Suhu di tempat ini diprediksi mencapai 36 derajat celcius, dan banyak tentara yang harus menahan diri agar tidak mengeluh dengan keadaan.
Tanah air akan mengalami krisis jika Pasukan Ekspedisi kalah dalam perang. Pasukan bantuan akan melakukan tugas sebaik mungkin, dan memahami jika perang nantinya akan melelahkan. Hati mereka telah dihabiskan untuk bersabar, dan marah terhadap musuh-musuh yang sedang berperang dengan Pasukan Ekspedisi.
Rakyat yang baik akan mengerti memahami keadaan mereka yang menahan rasa takut, dan menjunjung rasa optimisme terhadap kemenangan yang akan diraih setelah keluar dari Gerbang dan ikut berperang bersama Pasukan Ekspedisi.
Prajurit dituntut untuk menekan rasa takut, namun ekspresi tegang diwajah mereka terlalu jelas, tentu saja masih ada harapan.
Kapten Surya, yang saat ini menjabat sebagai Komandan Kompi 406-32 menggantikan Kapten Herlina yang dikirimkan ke Pasukan Ekspedisi melirik sekilas ke belakangnya. Ada ratusan prajurit penjaga Kota Karanganyar yang pernah bertempur dengan pasukan dunia lain, sebelum perang ini. Mereka memiliki pengalaman tempur langsung melawan musuh dari dunia lain. Itu sebabnya wajah mereka lebih menunjukkan kesiapan untuk bertarung, dibanding rasa tegang dan gugup.
Anggota Kompi 302 Garnisun Semarang, dan anggota Pasukan Pelajar Khusus, Ika yang pernah menjadi bawahan Nio saat pelatihan menahan rasa gugup. Gadis yang memilki tinggi badan jauh diatas tentara Rusia dan Korea Utara memikirkan kondisi pasukan di sana, terutama mantan komandannya, yakni Nio. Tepatnya yang paling banyak memenuhi pikiran Ika adalah Nio.
Sementara itu, Arista dan Sima yang sama-sama juga pernah bertarung bersama Nio berharap pemuda itu bersabar menunggu, dan dapat terus berjuang jika bantuan datang terlambat.
Lalu, Dina yang dulunya menjadi perawat di Pusat Kesehatan Prajurit Pasukan Ekspedisi kini menjadi anggota Unit Medis. Memang, kebanyakan anggota unit ini adalah tentara medis, namun ada segelintir sukarelawan yang mengajukan diri menjadi anggota medis tambahan. Gadis ini hanya memikirkan kondisi Nio di sana, dan memikirkan apa yang harus dia lakukan jika Nio kembali terluka parah. Dina dan beberapa orang lainnya adalah sukarelawan muda yang bersemangat dan penuh cinta terhadap negara mereka.
Nugroho menatap para sukarelawan dari samping Suroso setelah mendampingnya berpidato.
“Mereka ingin sekali ke medan perang. Tetapi apa yang bisa mereka lakukan ketika akhirnya tiba? Mengecewakan, sungguh sialan diriku ini yang mengijinkan mereka ke medan perang,” seorang patriot hampir menangis.
Nugroho berpikir jika para sukarelawan seharusnya melindungi tanah air mereka, mereka seharusnya bangga akan hal itu. Sebaliknya, seakan-akan pengalaman perang sebelumnya cukup dijadikan pengalaman, dengan ‘polosnya’ para sukarelawan mengajukan diri untuk membantu di medan perang. Dan sekarang itu mungkin akan mengantar para pemuda ke jalan yang menjanjikan kematian.
Komitmen untuk mengorbankan diri berasal dari rasa tanggung jawab untuk mempertahankan negeri agar tetap ada di peta dunia.
“Jika para pemuda ini akan mengorbankan diri untuk tanah air, maka setidaknya harus ada orang untuk menemani mereka di jalan itu. Bagaimana bisa aku membiarkan mereka mati di sana?”
Meski begitu, para sukarelawan ikut berbaris bersama tentara dengan wajah bangga, dan perasaan gugup. Suroso tidak tahan melihat keluarga prajurit yang tampak gelisah yang akan mengucapkan selamat tinggal bagi anak, ayah atau ibu, dan kekasih mereka.
“Pak, ijin berbicara…”
Suroso menoleh ke arah Nugroho yang menatapnya dengan wajah muram, dia kemudian mengijinkan panglimanya untuk berbicara.
“Ijinkan saya pergi bersama para prajurit ke medan perang.”
“Jendral?”
Nugroho kemudian melanjutkan perkataannya, “Yang dibutuhkan para pemuda adalah orang dewasa yang akan menemani dan membimbing mereka. Saya berjanji tidak akan menjadi beban bagi mereka yang sedang berjuang!”
Negara ini adalah rumah keluarganya, Nugroho adalah seorang ayah, bahkan jika dia tidak ada di dekat anaknya. Meskipun begitu, dia tidak menyesali hal itu, dan bersumpah di dalam hati untuk berjuang bersama Pasukan Ekspedisi di dunia lain.
Presiden Provolfsky dan Dubes Kim Sun An tidak bisa menanggapi apa-apa atas tindakan Nugroho, justru mereka merasa kagum.
Tekad sang panglima untuk berbagi tenaga tak tergoyahkan. Meskipun demikian, dia juga memikirkan kesulitan apa yang akan menimpa di sana nanti.
Setelah sekitar 10 menit para penyihir yang khusus dikirimkan Kerajaan Arevelk selesai melakukan persiapan. Hembusan angin yang menerbangkan banyak debu dan dedaunan kering terasa cukup kuat, bendera yang dipegang beberapa prajurit berkibar dengan kuat juga. Lalu, beberapa saat muncul spiral ungu yang hampir memenuhi jalan provinsi ini.
Diameter spiral ungu tersebut sedikit lebih kecil dari yang muncul ketika perang sebelumnya, setidaknya sebuah jet tempur bisa melewati benda itu tanpa dibongkar, atau berdiamater sekitar 50 meter.
Seluruh orang yang menyaksikan hal ini merasa takjub, dan pasti ada beberapa prajurit yang semakin gugup setelah Gerbang tak sempurna terbuka. Dengan teriakan penuh harapan dari seluruh prajurit saat Gerbang tak sempurna terbuka, jalur ke tujuan pasukan bantuan telah terbuka dengan sempurna. Tidak ada keraguan lagi yang mencemari hati para prajurit ketika Gerbang terbuka.
__ADS_1
Ditengah-tengah semua itu, para prajurit mulai berpikir untuk melakukan segala yang mereka bisa untuk bertarung di sana. Karena mereka tahu persis apa yang diharapkan Pasukan Ekspedisi, yakni bala bantuan yang telah diharapkan kedatangannya.
“Saatnya menghajar lawan kecil yang kurang ajar!”
**
600 kilometer dari perbatasan Kerajaan Arevelk dan Negara Yekirnovo, Sigiz berdiri di hadapan 150.000 tentara terbaiknya dan berasal dari berbagai kesatuan. Inilah penyebab Sigiz tidak berada di Tanah Suci dan masih berada di negaranya.
Dia sibuk untuk mengumpulkan sebagian kekuatan militer negara untuk dijadikan bantuan Pasukan Ekspedisi. Meski berhasil mengumpulkan pasukan yang bisa dibilang sangat besar, Sigiz tetap tidak puas dengan ini. Hin berhasil membujuk Sigiz untuk membawa pasukan yang sudah terkumpul, daripada terus menghimpun kekuatan yang lebih besar yang akan membuat waktu termakan percuma.
Pasukan yang dulunya dikomandani Lux bertanya-tanya mengenai keberadaan jendral mereka tersebut. Menurut mereka, tanpa gertakan keras dari gadis itu, pasukan akan terasa lebih sepi dan sedikit tidak bersemangat.
Sigiz memiliki keinginan kuat untuk melindungi seseorang, dan supaya perang ini cepat berakhir. Melihat tekad Sigiz yang sangat besar demi seseorang, mengingatkan Hin saat berjuang untuk merebut hati istrinya.
Selain itu, jika perang ini berakhir, Kerajaan akan bisa menerima ‘bayaran’ dari Indonesia atas bantuan membukakan Gerbang tak sempurna bagi pasukan bantuan.
Sebuah Gerbang tak sempurna yang cukup besar terbuka setelah beberapa penyihir elit dan Sigiz membacakan mantra dan melakukan beberapa persiapan.
Mempercepat waktu tibanya pasukan ini di Tanah Suci diharapkan mempercepat juga kemenangan diraih Pasukan Ekspedisi dan bantuan lainnya.
Sebelum memimpin pasukannya untuk memasuki Gerbang tak sempurna, seorang pembawa pesan muncul di depan Sigiz dengan tiba-tiba. Biasanya orang yang bertugas sebagai pembawa pesan adalah penyihir yang memiliki kemampuan berpindah dengan sangat cepat, atau lebih sering disebut sebagai kemampuan berteleportasi.
“Jadi Yekirnovo juga sudah selesai melakukan persiapan, ya?”
Selain hal itu, di surat juga tertulis jika Negara Yekirnovo mengirimkan 80.000 tentara dan pasukan penyihir elit yang jumlahnya dirahasiakan.
“Saya berharap anda menyelamatkan orang yang diramalkan, Yang Mulia…”
“Anda tenang saja, Guru. Secepatnya saya akan berjuang bersama dia dan mengakhiri perang ini.”
Lalu, Penyihir Agung menggenggam kedua tangannya dan berkata, “Semoga perang besar ini menjadi perang terakhir.”
Wajah Sigiz sedikit mendung, mengingat dia sedikit lama meninggalkan bawahannya berjuang bersama Pasukan Ekspedisi. Begitu pula dengan Ivy, yang menyusul Sigiz tanpa ijin dan meninggalkan Liben berjuang di medan perang.
“Aku berharap banyak pada kalian, prajuritku…!!!”
**
Pada tengah malam, serangan Pasukan Aliansi dilanjutkan. Mereka melakukan serangan bagian sisi timur benteng sejak beberapa jam lalu. Baku tembak yang terjadi cukup lama menguras amunisi yang diharapkan bisa dihemat jika perang terjadi dalam waktu lama.
Suara genderang meraung menakutkan dalam kegelapan malam, dan suara raungan dan senjata yang ditimbulkan lebih dari 30.000 pasukan monster adalah sebuah sinyal. Pasukan monster yang telatih terus bergerak ke sisi timur benteng dengan cepat.
“Mereka masih memiliki pasukan monster…!?”
Ketika Nio menyipitkan mata, segudang troll, goblin kecil, sedang, dan besar, minotaur, dan orc bergerak dengan cepat.
Semua senjata api menembakan amunisi. Dengan tidak adanya waktu untuk bernapas dalam rentetan tembakan otomatis penuh, tembakan memenuhi medan perang dengan potongan timah dan kilatan cahaya. Serangan senapan mesin berat 20mm dan meriam kendaraan lapis baja serta mortir mengubah monster menjadi potongan daging beraroma busuk. Pasukan menghentikan musuh dengan granat dan menjatuhkan musuh dengan senapan serbu.
Namun, tujuan Pasukan Aliansi mengirimkan pasukan monster bukanlah serangan mendadak tengah malam. Serangan ini hanyalah pengalihan untuk dapat menyerang sisi lain benteng.
Pasukan Ekspedisi telah mengatur ulang pembagian posisi penjagaan benteng, dengan Pasukan Ekspedisi bertanggung jawab atas area yang rusak akibat penyerangan sebelumnya, dan pasukan pengungsi bertanggung jawab atas area yang tidak begitu rusak.
Bagian barat benteng yang menjadi sasaran serangan malam relatif rusak ringan dan sebagian besar dapat ditangani oleh pasukan pengungsi. Terutama karena ada juga prajurit Pasukan Ekspedisi yang bergabung dengan pasukan ini dan dipaksa bertempur dengan pedang dan perisai, karena senapan mulai kehabisan amunisi, setidaknya granat masih tersisa beberapa ratus buah.
__ADS_1
Lalu, ratusan titik cahaya berwarna kekuningan terbang mendekati barisan parit pertahanan. Saat menyadari benda terbang berwarna kuning itu, seluruh komandan mulai resah.
“Brengsek! Awas serangan panah…! Semua menunduk!”
Pasukan Aliansi melakukan lebih dari sekedar mengulangi gelombang serangan dengan terautur, dan pasukan monster menyerang dengan membabi buta dan tidak teratur. Pasukan pemanah dengan jangkauan dan akurasi yang sangat baik ditempatkan di berbagai titik untuk menembak dengan jitu komandan Pasukan Ekspedisi. Dalam hal ini, Pahlawan Amarah, alias Rio juga dilibatkan dalam pertarungan jarak jauh.
Seluruh prajurit yang berada di parit maupun yang berjuang di medan terbuka memayungi diri dan teman dengan perisai anti huru-hara maupun memungut perisai milik musuh untuk melindungi diri dari hujan panah api. Namun, perisai yang digunakan para prajurit tidak berguna saat ratusan peluru sihir yang dilepaskan Rio menerjang mereka. Ada puluhan tentara yang tewas saat serangan yang dilakukan Rio, dia melakukannya tanpa rasa bersalah sama sekali.
Lalu, saat hujan panah api usai, kini terlihat lagi kilatan cahaya berwarna biru terang dari langit. Dilihat dari pergerakannya, kilatan cahaya melesat hampir secepat peluru senapan penembak jitu dengan kecepatan 1.000 meter per detik.
Saat kilatan cahaya yang mirip dengan panah sihir jatuh ke tanah dan menghantam prajurit pasukan pengungsi, serangan itu menembus tubuh prajurit hingga bagian tubuh yang terkena berlubang. Yang melepaskan serangan tersebut adalah Pahlawan Kesedihan, alias Indah. Dia sudah menekan rasa penyesalan dan sedih yang memenuhi hati saat harus berhadapan dengan pasukan asal negaranya.
Rasa takut karena menjadi sasaran yang entah kapan dan di mana terjadinya akan menghilangkan semangat juang pasukan pengungsi. Semangat juang para pengungsi yang tidak memiliki pengalaman tempur, dengan cepat hilang dan banyak tentara yang terbunuh dalam penyerangan sisi barat benteng saat sisi timur masih diperjuangkan. Namun berbeda cerita dengan tentara bayaran, yang saling bekerja sama bersama prajurit Pasukan Ekspedisi yang bertempur dengan pedang dan perisai.
Operasi Pasukan Aliansi yang mengepung Tanah Suci sangat sederhana. Yakni jangan berhenti melakukan serangan bergelombang untuk menguras tenaga musuh.
Bagian Tanah Suci telah dibentengi oleh Pasukan Ekspedisi, dan kekuatannya telah dibuktikan dengan kekalahan sepihak pasukan gabungan lima negara dan Kekaisaran yang menelan korban total lebih dari 200.000 prajurit. Meski jumlah personel telah berkurang, masih banyak prajurit Pasukan Ekspedisi yang memiliki keahlian bertempur rahasia, dan senjata yang masih belum digunakan sebelum keadaan benar-benar terdesak.
Seluruh jendral Pasukan Aliansi tahu sendiri bahwa tidak akan mudah untuk menjatuhkan Pasukan Ekspedisi dalam pertempuran langsung yang menentukan. Tapi mereka tetap memaksakan serangan, tentu saja ada alasannya.
Tujuan Pasukan Aliansi terus melakukan serangan besar-besaran adalah untuk menguras tentara Pasukan Ekspedisi. Mereka masih memiliki bala bantuan dari negara-negara aliansi lain, tapi Pasukan Ekspedisi tidak memiliki bala bantuan, itu yang mereka yakini sejak berhasil menutup Gerbang sempurna. Dengan kata lain, semakin lama dan sering mereka melakukan serangan, Pasukan Ekspedisi akan semakin lemah.
Keuntungan terbesar memiliki pasukan besar adalah anda bisa bertarung tanpa henti dengan melakukan serangan secara bergelombang.
“Menang benar persenjataan pasukan Indonesia menakutkan, tapi bagaimanapun kami memiliki para pahlawan. Perang adalah pertarungan antar manusia…”
Meski memiliki teknologi yang mengerikan, Pahlawan Amarah memiliki senapan sihir dan Pahlawan Nafsu yang bisa menciptakan senjata serupa hanya dengan melihat sekali senjata yang ingin dibuat.
Setiap korps Pasukan Aliansi yang memiliki jumlah tentara antara 40.000 hingga 60.000 harus membagi pasukan menjadi tiga, dan memerintahkan masing-masing bagian untuk bertempur dalam tiga kali sekali. Tujuan melakukan taktik ini adalah membuat musuh kelelahan. Para jendral tidak memerintahkan pasukannya untuk dapat menerobos barisan musuh, tetapi mencoba meminimalkan kerusakan pasukan sendiri.
Para pahlawan dan jendral Pasukan Aliansi terus menciptakan taktik baru tanpa keluar dari tenda peristirahatan. Kecuali Pahlawan Amarah, Pahlawan Kesedihan dan Pahlawan Iri Hati yang bertempur langsung. Pasukan Aliansi yang muncul terus menerus, dan tidak peduli seberapa banyak dari mereka yang terbunuh, seolah-olah mereka memiliki pasukan tak terbatas.
**
Setelah pertempuran hari ini yang terasa tanpa akhir, Pasukan Ekspedisi benar-benar muak. Diantara mereka pasti ada prajurit yang kurang tidur, bahkan tidak tidur sejak pertempuran hari pertama.
Stres dan kurang tidur adalah dua sisi mata koin yang sama. Apa yang terjadi jika para tentara tidak tidur, sementara mereka harus bertempur melawan pasukan musuh di perang besar ini?
Pertama-tama, jika kurang tidur terus berlanjut, para tentara tidak akan bisa mengistirahatkan otak dan tubuh mereka, artinya mereka menjadi lebih stres. Jika itu terjadi, mereka tidak akan bisa tidur lebih lama karena stres, dan mereka akan kurang tidur. Jika ini terus berlanjut, itu tidak berbeda dengan siklus lingkaran setan.
Gejala-gejala tersebut perlahan terlihat, dan terjadi dengan tentara Pasukan Ekspedisi dan pasukan pengungsi, baik apakah mereka sukarelawan amatir, tentara bayaran berpengalaman, maupun personel Tentara Pelajar veteran. Ini dengan lembut menembus ke dalam tubuh, dan perlahan tapi pasti mengikir pikiran dan fisik.
Pada saat terompet tanda mundur dibunyikan dari pihak Pasukan Aliansi, sejumlah mayat tentara Pasukan Aliansi dan potongan daging seperti kuda, manusia, dan monster berserakan di sepanjang mata memandang.
“Untuk sekarang, ini adalah kemenangan, tapi… betapa melelahkan untuk meraihnya.”
Yang paling merepotkan adalah saat para prajurit menghadapi sekawanan monster jenis troll dan orc. Makhluk besar dengan saraf tumpul yang tidak sensitif dengan rasa sakit akan terus maju meski tubuh dipenuh dengan puluhan peluru senapan mesin dan panah. Bahkan jika mereka dikalahkan, itu membutuhkan amunisi yang banyak.
Sejauh pertempuran ini, Pasukan Ekspedisi berhasil melalui dan menghadapi semuanya. Dan para tentara Pasukan Ekspedisi adalah manusia. Mudah membayangkan apa yang terjadi jika situasi ini terus berlanjut.
Namun, berjuang selama 24 jam sehari bukanlah jalan yang baik.
“Bisakah kamu bertarung selama 24 jam?”
__ADS_1