Prajurit SMA

Prajurit SMA
Seseorang yang akan menjadi hadiahnya


__ADS_3

Persediaan makanan untuk Yekirnovo dan Arevelk sebagian adalah bantuan dari Indonesia, Korea Utara, dan Rusia berkat kerja sama yang kelima negara tersebut hingga terbentuknya Persekutuan. Sebagian bahan makanan seperti sayur dan buah tumbuh dengan obat perangsang pertumbuhan, sehingga hasil panen dapat lebih cepat dari waktu seharusnya. Namun, mengingat sekarang mereka masih memiliki konflik dengan Aliansi, maka Indonesia, Rusia, dan Korea Utara harus memasok makanan buatan pabrik untuk prajurit dan perwakilan mereka di dunia ini, setidaknya kualitas rasa dan aroma sama dengan makanan ‘asli’ hasil pertanian.


Karena Arevelk telah membangun hubungan dengan Indonesia sejak kedatangan pertama mereka di dunia ini, masakan mereka memiliki gaya campuran akibat dari perdagangan yang dilakukan kedua negara. Ini menghasilkan rasa unik, karena akibat dari bahan makanan dunia ini dikombinasikan dengan bahan makanan dari ‘dunia lain’. Semua perwakilan kontingen Indonesia, Korea Utara, dan Rusia terpesona dengan hidangan tidak biasa yang dihidangkan kepada mereka dan dengan senang hati menikmati makan malam mereka.


Arevelk bereksperimen dengan mengolah biji-bijian dari buah tertentu, lalu mengeringkannya dengan cara digoreng tanpa minyak hingga menghitam dan sangat kering sebelum menggiling nya sampai menghasilkan bubuk halus. Para koki yang bekerja sama dengan petani berhasil menemukan sejenis minuman baru yang terinspirasi dari ‘kopi’ yang dikenalkan kontingen ‘dunia lain’. Sehingga, kontingen ‘dunia lain’ merasa jika aroma dan rasa dari ‘kopi’ hasil percobaan koki terbaik Arevelk sangat berbeda dengan kopi yang biasa mereka konsumsi – kopi instan dengan merek berlambang kapal api.


Nio berjalan ke ruang makan bersama anggota laki-laki Tim Ke-12, mereka semua mengenakan seragam harian lengkap dengan pistol dan pisau tarung di pinggang dan paha… kecuali Nio yang mendapatkan tambahan berupa sebuah karambit. Dia dan bawahannya mengikuti seorang pelayan pria berpakaian tradisional Arevelk dan berwajah cerah yang berjalan di depan mereka.


Biasanya tentara diberi waktu cuti beberapa hari untuk menghilangkan stres yang menumpuk selama penugasan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Tapi, dalam kasus Pasukan Perdamaian, dunia asal mereka tidak selalu terhubung dan hanya mengandalkan Gerbang tak sempurna – yang terbatas pada kegiatan tertentu seperti pengiriman logistik atau personel tambahan. Tempat terdekat yang bisa mereka sebut ‘tempat bersantai’ adalah kota-kota sekitar Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Baru, atau fasilitas yang didapatkan tamu undangan perwakilan kontingen ‘dunia lain’.


Tempat penginapan mereka dengan para siswa Akademi Angkatan Laut yang melakukan program pendidikan ‘khusus’ di wilayah perairan Arevelk dan Yekirnovo berada di lokasi yang berbeda.


Dengan rencana mengirimkan kapal perang tambahan untuk memperkuat Unit Laut dan Perairan Pasukan Perdamaian, mereka membutuhkan tenaga tambahan yang akan ditugaskan khusus di dunia ini. Itu adalah pelatihan yang lama dan berbahaya, mengingat dunia ini dipenuhi dengan rahasia dan hal-hal berbahaya yang melebihi ancaman Perang Dunia Ke-3. Bisa dikatakan, hanya mengirimkan sebuah kapal kelas penghancur 300 meter dan beberapa kapal selam kelas 100 meter tidak cukup untuk memperkuat unit laut pasukan ini.


Jika Pasukan Perdamaian mengirimkan beberapa kapal perang untuk melengkapi Unit Laut dan Perairan mereka, itu akan membangun sebuah armada baru yang dapat dikenal sebagai ‘Armada Khusus Dunia Baru’. Selama tidak ada halangan seperti ancaman dari negara-negara adidaya di dunia asal, rencana itu bisa saja diwujudkan dalam waktu dekat. Adanya Rusia di Persekutuan dan Pasukan Perdamaian, mereka dapat melawan negara yang menghalangi niat mereka untuk menghentikan perang dengan Aliansi.


Mari kembali ke acara makan malam para perwakilan kontingen ‘dunia lain’.


Tempat makan yang merupakan area aula berukuran cukup luas, dengan puluhan pilar setinggi sepuluh meter yang dihiasi pahatan bertema alam sebagai penyangga atap yang berbentuk kubah setengah lingkaran. Jika dilihat dari kejauhan, orang-orang bisa salah mengira jika aula penginapan ini adalah tempat ibadah, mengingat adanya kubah pada bagian atapnya.


Sepatu bot anggota Tim Ke-12 dan tamu undangan dari perwakilan Korea Utara dan Rusia mengeluarkan suara langkah kaki yang menggema di ruangan seluas hangar – yang dapat menampung sebuah skuadron dengan tambahan sebuah pesawat tanker. Mereka semua terlihat segar setelah mandi di pemandian penginapan ini, sambil sesekali bercanda ketika berjalan ke ruang makan.


Meski penerangan hanya mengandalkan cahaya dari ratusan lilin besar yang tergantung di pilar atau atap, setidaknya itu cukup terang menurut orang-orang ‘dunia lain’ yang mengunjungi penginapan ini. Rasanya masih terlalu sulit dan dini untuk menyediakan daya listrik di dunia ini, kecuali menggunakan pembangkit listrik dengan sumber daya terbarukan, seperti air atau matahari. Namun, kedua negara dunia ini belum merencanakan kerja sama dalam bidang tersebut, terutama mengenai masalah dana dan mereka masih berkonflik dengan Aliansi.


Makan malam disajikan dengan gaya prasmanan, seperti yang dilakukan pada sebagian besar hotel di Indonesia. Para juru masak merasa percaya diri dengan makanan mereka yang sajikan kepada perwakilan negara sekutu mereka. Mereka menyajikan segunung umbi-umbian dengan sesuatu semacam keju yang meleleh. Itu adalah makanan pokok negara ini selain gandum yang berharga cukup mahal untuk masa perang seperti sekarang.


Nio mengambil dua buah umbi seukuran mangga, olahan telur unggas dunia ini yang dibuat semacam telur orak-arik. Hidangan itu nampak menggugah selera dan sangat mengenyangkan, namun Nio merasa dirinya harus membiasakan diri dengan makanan negara ini jika sewaktu-waktu dia kembali lagi ke sini.


Keberadaan perwakilan kontingen ‘dunia lain’ adalah hal baru bagi staf penginapan ini. Jadi, para koki dan pelayan penginapan sangat bersemangat memberi makan dan melayani sekelompok prajurit ‘dunia lain’ – yang sebagian masih dalam masa pertumbuhan.


Meja makan berbentuk persegi panjang yang benar-benar panjang, membentang dengan panjang sekitar delapan meter dan lebar tiga meter. Sehingga, sebuah peleton berjumlah 50 anggota dengan tambahan beberapa orang dapat duduk bersama di tempat makan ini. Tim Ke-12 duduk bersama sambil menatap ruang makan yang cukup besar untuk menampung beberapa tank tempur utama bermeriam railgun.


Para perempuan mungkin telah memiliki rencana ingin duduk di samping Nio atau anggota laki-laki incaran mereka, tetapi Nio memerintahkan agar pria dan perempuan duduk secara terpisah. Sehingga, mereka sekarang duduk berhadap-hadapan di depan orang yang bukan tipe mereka.


“Tentang kegiatan kita di hari selanjutnya, apa sudah ada kabar dari pusat, Bima?” Nio bertanya ketika dia mengunyah gigitan terakhir makanannya.


“Saya pikir belum, mereka belum mengirimkan detali tugas atau kegiatan hari selanjutnya,” jawab Bima dari tempatnya.


Para juru masak sangat senang setelah semua orang makan dengan sepenuh hati. Mereka berkeliling untuk merekomendasikan jenis roti atau sup bagi prajurit yang ingin tambah.


“Lagipula, sinyal kita dengan pusat tidak selalu terhubung jika kita tidak meminta dihubungkan atau mereka yang memiliki informasi untuk kita,”


Tim ini memutuskan untuk memulai pembicaraan dengan topik tertentu.


“Apa ada hal yang mengganggumu, Letnan Nio?” tanya Hassan.


Merayakan hari-hari tertentu ketika situasi perang bukanlah hal yang wajar, kecuali hal tersebut benar-benar wajib dilakukan. Mengenai hal yang Nio pikirkan, dia sendiri merasa jika ada sesuatu yang memang mengganggu pikirannya.


Dia berpikir sejenak setelah menyesap anggur tanpa alkoholnya. Dari semua tamu undangan perwakilan kontingen ‘dunia lain’, mungkin hanya Nio yang memikirkan sesuatu – yang lebih mirip dengan mengkhawatirkan sesuatu.


Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran atau yang tidak ingin dia pikirkan, dia akan mengabaikannya dengan melakukan sesuatu. Dia akan menganggap semua itu tidak ada. Karena itu hanya perkiraannya saja, dan belum tentu terjadi.

__ADS_1


“Aku hanya merasa kita jangan mengendurkan kewaspadaan… ya… hanya itu.”


“Ya ampun…”


Nio melihat sekeliling sambil meminum minumannya pada saat anggotanya terkekeh mendengar jawabannya yang tidak jelas.


Dia mencoba untuk mengatur emosi dan pikiran yang membuatnya tidak nyaman setelah mengatakan hal mengenai adanya orang Indonesia di pihak Aliansi pada Jonathan dua hari lalu. Dia memutuskan untuk menyingkirkan hal-hal yang tidak jelas dengan memikirkan atau membayangkan hal lain yang membuatnya nyaman.


Dia harus menerima hal itu, namun dia juga harus melawannya. Dan itulah penyebab kacaunya pikirannya dan suasana hatinya. Suatu hari, cepat atau lambat, dia akan bertarung lagi di medan perang dan mungkin akan bertemu dengan mereka lagi. Atau, setidaknya begitulah pikirnya…


Nio yang tiba-tiba teringat kembali pertemuan mengejutkan ketika pertempuran besar pertama melawan Aliansi, tanpa dia sadari membuatnya sangat khawatir dan membuat hatinya pedih. Setidaknya, perasaan dan ingatan itu tidak mempengarui pekerjaannya.


**


Tidak bisa tidur nyenyak malam ini, Nio bangun lebih awal. Omong-omong, dunia ini memiliki satu hari selama 22 jam dan satu tahun selama 388 hari. Nio mengambil jam tangan yang khusus diproduksi bagi prajurit yang dikirimkan ke dunia ini, sehingga waktu telah disetel selama 22 jam. Dia melihat waktu masih menunjukkan pukul 01.00 malam waktu setempat.


Dia menahan diri untuk membangunkan Hassan dan diam-diam keluar dari kamarnya sebelum terbit fajar. Beberapa staf penginapan masih bekerja saat dini hari, jadi dia memilih jalur lain untuk memasuki area taman, di mana hamparan bunga menyambutnya.


Kemudian, dia berjalan lagi ke arah halaman, lalu menuruni tangga pendek yang dicat berwarna merah. Setelah menuruni tangga, Nio melihat danau kecil yang memantulkan sinar dua bulan dengan airnya yang tenang. Tempat ini cukup dekat dengan jalan besar, namun tidak ada warga yang beraktivitas pada waktu ini, mereka semua memilih untuk tidur atau melakukan kegiatan malam.


Nio menatap pantulan bulan dan langit berbintang yang dipantulkan air permukaan danau, sambil merasakan keheningan yang menenangkan hati, seolah hanya ada dirinya di dunia ini.


Saat Nio berdiri di tepi danau, dia membayangkan jika apa yang dia lihat adalah gambaran suasana laut dunia ini. Tapi, tidak ada angin untuk membuat gelombang. Yang bergerak hanyalah pantulan bulan dan langit berbintang yang hanya dapat dilihat di wilayah tanpa polusi cahaya.


Dia melihat pemandangan itu dengan tujuan menenangkan pikiran dan hatinya – dari hal-hal yang tak perlu dipikirkan dengan berlebihan. Namun, dia merasa ada seseorang yang berjalan mendekat ke arahnya.


“…Tuan Nio?”


Suara itu.


“Ratu Sheyn…? Apa yang kamu lakukan di sini, padahal masih tengah malam?”


“Aku tidak bisa tidur dengan tenang jika tidak berada di kamarku sendiri, jadi aku baru saja bangun,”


Mereka berjalan ke arah sebuah bangku panjang kayu, dan sambil menahan rasa malu Sheyn duduk di sebelah Nio.


“Bagaimana menurutmu dengan perang ini?”


“Menurutku? Jika tidak ada perang sebelumnya, mungkin aku tidak akan menjadi prajurit. Salah… tapi aku tetap memiliki pikiran untuk tetap menjadi prajurit, meski itu hanya prajurit kontrak. Lalu, untuk perang dengan Aliansi, itu adalah konflik yang seharusnya tidak pernah ada. Tapi, ini semua yang memulai mereka, kami hanya bertugas menjaga negeri dan dunia kami dari ancaman mereka.”


“Jadi, kalau kamu tidak memutuskan menjadi prajurit, kesempatan kita untuk bertemu tidak ada…”


“Hmmm?” Nio memasang wajah kebingungan karena perkataan yang diucapkan Sheyn tidak terlalu jelas dan hampir tak bisa didengar.


“Ah… maksudku, mengenai negara yang memprakarsai pembentukan Aliansi, itu adalah Kekaisaran Luan dan Hrabro. Artinya, ayahku sendiri yang memulai perang dengan Indonesia.”


“…Dan kami hanya tinggal melayani tantangan orang itu saja.”


Setelah sekian lama, mereka bisa berbicara empat mata dengan suasana tenang. Yang dikatakan Nio mungkin bernada bercanda, karena untuk memecahkan kebekuan di antara mereka berdua. Sayangnya, yang dikatakan Sheyn adalah pilihan buruk ayahnya sendiri yang membentuk Aliansi, dan Nio tidak bisa menemukan cara untuk menanggapinya dengan kata yang pas.


Setelah dua belas wilayah bawahan Kekaisaran Luan memisahkan diri dan membentuk negara baru yang bernama Yekirnovo, dengan Sheyn sebagai ratu pertama, itu adalah saat dimana Bogat memulai ulahnya (menurut Nio). Namun, bukan berarti terbentuknya Kerajaan Yekirnovo atau dikuasainya sebagian wilayah Tanah Suci oleh Indonesia adalah tujuan utama Aliansi terbentuk untuk memerangi mereka, Nio berpikir ada tujuan lain dari mereka yang akan terungkap di masa mendatang.

__ADS_1


“Bagaimana perasaanmu ketika melawan ayahmu sendiri?” tanya Nio.


Nio merasa jika dirinya telah mengatakan pertanyaan yang salah. Terbukti dengan wajah Sheyn yang tiba-tiba berubah – seperti orang yang memendam dendam terlalu lama kepada seseorang. Dia ingin Sheyn melupakan pertanyaannya… namun gadis itu telah membuka mulut untuk menjawab pertanyaan darinya.


“Sebenarnya, aku sudah tidak peduli dengannya, dan adik laki-laki ku yang terbunuh di perang sebelumnya. Itu semua adalah ulah mereka sendiri untuk berperang dengan dunia dan negara asalmu, Tuan Nio. Aku hanya memiliki tujuan membangun negara yang menghargai semua ras, membentuk kerja sama yang lebih erat dengan Indonesia, dan melindungi Kambana.”


Nio tidak akan mempertanyakan berapa jumlah saudara yang dimiliki Sheyn. Tetapi setelah mendengar ucapan gadis itu, Nio berpikir jika dia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi dengan Bogat, bahkan dia sangat tenang ketika mengatakan tidak peduli adik laki-lakinya yang terbunuh di perang sebelumnya. Tapi, nada ucapan Sheyn bukanlah tentang seseorang yang tidak menyukai keluarganya, tetapi lebih seperti seorang anak yang membiarkan orang tuanya melakukan hal yang dia sukai.


Nio terdiam, seolah ragu-ragu untuk menjawab atau menanggapi perkataan Sheyn. Gadis itu tersenyum cerah, meski itu memperlihatkan bekas luka di wajahnya dengan jelas. Berkat senyumannya, Nio ikut tersenyum tipis, seolah-olah perkataan Sheyn tadi hanya dia anggap keinginan gadis itu untuk mengeluarkan segala unek-unek di pikirannya.


“Kau pasti juga punya hal yang mengganggu pikiranmu ‘kan, Tuan Nio?” Sheyn bertanya.


Nio membeku di tempat dengan wajah menegang, dan menatap Sheyn seolah-olah gadis itu memiliki kemampuan membaca pikiran seseorang. Bibir Sheyn membentuk senyuman dengan sangat jelas… dan mampu membuat jantung Nio berdetak cepat.


“Jika kamu ingin berbicara sesuatu lagi, aku akan siap untuk mendengarkan,” ucap Nio dengan wajah percaya diri yang tinggi.


Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, itulah kata yang ingin Sheyn ucapkan.


Saat Nio menatap Sheyn untuk berbicara, cahaya matahari yang menandakan awal pagi telah bersinar dengan cerah. Cahaya fajar menyinari kegelapan malam, dan bintang-bintang berkedip di langit fajar.


Dan dengan langit awal pagi sebagai latar belakang…


“Aku hanya tidak ingin kau mati di perang ini. Aku ingin kau dan semua orang bersamaku hingga akhir perang. Jadi, aku tidak akan menyukaimu jika kau mati .”


Kata-kata itu meresap ke dalam hati Nio seperti saat dia mendengar suara hujan yang menenangkan. Ya, Nio tahu jika Sheyn tidak ingin kehilangan orang yang menjadi penghubung antara Yekirnovo dengan Indonesia.


“Baiklah, mari kita berjuang bersama.”


Sheyn merasa Nio tidak paham dengan makna perkataannya dan berbicara di dalam hati dengan nada sedih, “Ah, bukan itu maksudku.”


Ah… ya sudahlah…


Mungkin hati Sheyn dibagi menjadi beberapa tempat, seperti tempat untuk Yekirnovo, Kambana, dan Persekutuan, namun Nio memiliki tempat khusus di sana. Sheyn menempatkan Nio pada ruang khusus di sana. Namun, setidaknya bersama Nio telah membuatnya merasa ‘terhibur’ atau ‘bahagia’.


Di sisi lain, Sheyn merasakan kesedihan saat dia menatap cakrawala. Sekarang, tanpa diragukan lagi, adalah waktu yang tepat baginya untuk mengatakannya. Tetapi dia masih goyah, diliputi rasa malu, dan berhasil mengatakan kata-kata yang membuat Nio justru memaknai perkataannya dengan jawaban yang tidak dia harapkan.


Dia memang benar-benar tidak akan membiarkan sekutunya (Nio) mati. Jadi dia memutuskan untuk mengatakannya lebih cepat dari rencananya, tetapi…


**


Ketika teman sekamar Sheyn, Ivy bangun, dia melihat Sheyn tidak ada di kamar yang mereka berdua huni. Dia tidak merasa jengkel atau semacamnya, dan duduk bersama di meja untuk sarapan.


Nio masih duduk dengan seluruh bawahannya – yang membuat kesempatan bagi para gadis menjadi sangat kecil. Sedangkan Ivy melihat wajah Sheyn antara sedih dan malu-malu, dia sendiri tidak tahu alasan mengapa ratu Kerajaan Arevelk yang dijuluki ‘Prajurit Perempuan Terkuat’ memasang ekspresi rumit seperti itu.


“Ivy, kupikir aku akan melakukannya sekali lagi.”


“Hmmm… apa yang akan Anda lakukan, Yang Mulia Sheyn?”


Sheyn melihat ekspresi Ivy yang ingin tahu, dia sedikit gelisah dan kemudian melanjutkan dengan bisikan lembut. Nio yang melihat hanya memakan makananya tanpa ada rasa penasaran sedikitpun. Namun… Sigiz, Edera, Zariv, Lux, Zefanya, Ika, Gita, Ro Ga Eun, Nam Ae Ri, Ratna, bahkan sang adik – Kambana – melirik dengan ekspresi penasaran yang telah memuncak.


Gadis-gadis itu melirik Sheyn seperti buronan yang telah ditemukan, dan sedikit demi sedikit melangkah mendekati tempat gadis itu berada.

__ADS_1


“Aku akan mengatakan lagi pada Tuan Nio… kalau aku… mencintainya.”


Sigiz, Edera, Lux, Zariv, dan Sheyn sudah tahu jika mereka semua mencintai satu pria yang sama. Sedangkan para gadis lain yang juga tertarik dengan pemuda itu, tentu saja tidak paham dengan perkataan Sheyn. Jadi mereka tidak bereaksi berlebihan seakan-akan akan ada pertandingan untuk merebut hadiah… dimana seseorang yang akan menjadi hadiahnya.


__ADS_2