
“Apa yang kau katakan?!”
Sebuah bangunan sederhana, namun dikelilingi pagar setinggi empat meter berdiri antara rumah-rumah warga. Walaupun lingkungan sekitar tenang, namun kalimat penuh amarah dari seseorang di dalam bangunan membuatnya mencolok. Pagar tinggi yang dilindungi oleh kawat bersilet pada bagian atasnya membuat bangunan tersebut sangat kontras dengan rumah-rumah sekitar yang sederhana tanpa perlindungan berlebihan.
Yang berteriak adalah raja Kerajaan Salodki, Takobi. Pada salah satu ruangan di bangunan ini, dia duduk bersama beberapa komandan Aliansi, dan sejumlah prajurit yang berhasil melarikan diri dari pertempuran di Teluk Tanduk. Dia berteriak sambil menggebrak meja, hampir cukup kuat untuk membelahnya menjadi dua. Usaha para komandan untuk menenangkan Takobi tidak dipedulikan olehnya. Para komandan duduk dengan wajah sama pucatnya seperti tahanan kasus berat yang akan dieksekusi mati.
Hal itu wajar. Tentu saja amarah sang penguasa Salodki mengganas setelah tidur siangnya terganggu, ditambah berita pejuang Aliansi yang gagal memukul mundur pasukan Indonesia dari Teluk Tanduk.
Berkat informasi dari salah satu agen Aliansi, Tam, mereka mampu membuat rencana mempertahankan Salodki melalui Teluk Tanduk. Untuk melawan pasukan amfibi Indonesia, Aliansi mendapatkan senjata artileri pertahanan pesisir dan senapan mesin berat dari Pahlawan Naf*su. Sayangnya, semua usaha Aliansi hancur dalam satu malam.
Angkatan Laut Aliansi berhasil menjinakkan beberapa Naga Laut untuk melawan baja-baja mengapung Indonesia yang disebut ‘kapal perang’. Namun, nasib senjata hidup tersebut sama dengan artileri pertahanan pesisir dan pasukan Aliansi yang bertugas mempertahankan pantai Teluk Tanduk. Naga Laut seharusnya memiliki kekuatan yang setara dengan kapal selam ringan, namun dihancurkan berkeping-keping dengan sihir peledak dahsya milik pasukan Indonesia.
Raja Takobi bukanlah satu-satunya orang yang kesal karena kecewa. Di sisi lain, kekalahan Aliansi di Teluk Tanduk adalah hasil dari patroli dan penyelidikan yang tidak menyeluruh dan hanya berdasar pada informasi terbatas dari Pahlawan Amarah, mantan pejuang Indonesia. Tidak dipungkiri lagi, informasi adalah penyebab utama kekalahan atau kemenangan besar suatu angkatan bersenjata.
“Kenapa angkatan laut Indonesia datang lebih cepat dari perkiraan?!”
Walau Pahlawan Amarah memberi tahu jika kapal-kapal perang baja Indonesia mampu melaju cepat, namun laut utara yang tenang seharusnya tidak memiliki angin yang cukup kuat agar sebuah kapal berlayar cepat, kecuali terdapat tenaga pendayung tambahan. Sayangnya, kapal-kapal Indonesia tidak digerakkan oleh layar dengan bantuan angin. Berkat itu, kapal-kapal perang lawan mampu berlayar jauh lebih cepat dari Naga Laut.
Aliansi sedang berupaya meningkatkan peralatan persenjataan dengan bantuan para Pahlawan, demi mengimbangi kekuatan teknologi besar dari dunia lain. Mereka memerlukan alat deteksi dan komunikasi untuk menghindari kekalahan besar yang merugikan.
Tetapi, ada satu informasi yang sulit diterima, dan terlalu tidak masuk akal untuk disebut kebetulan. Yakni informasi tentang seorang prajurit Indonesia yang ‘hampir’ berhasil membunuh Pahlawan Penyesalan.
“Kami sedang melakukan penyelidikan dan pengejaran untuk menangkap Pahlawan Harapan. Tapi, kami hanya bisa membayangkan Pahlawan Penyesalan hampir terbunuh adalah suatu kebetulan!” ucap salah satu komandan Pasukan Aliansi.
“Indonesia mungkin memiliki senjata kuat yang dapat merepotkan para Pahlawan. Tapi aku benar-benar tidak bisa membayangkan seorang prajurit tanpa Berkah Dewa dapat melukai Pahlawan Penyesalan,” Takobi berkata sambil menggigit ujung kuku jempolnya.
Medan pertempuran yang berkabut, ditambah aliran energi magis di area Teluk Tanduk yang sangat lemah, mungkin alasan terbunuhnya banyak prajurit Aliansi yang kekalahan Pahlawan Penyesalan.
Informasi yang beredar adalah pasukan darat Indonesia didukung oleh pasukan Demihuman dan Utusan membantai pasukan Aliansi secara membabi-buta. Mereka bertempur seolah-olah prajurit Aliansi hanyalah target imajiner saat latihan, dan berjuang bahkan tidak mempertimbangkan kemungkinan terbunuh. Artinya, moral pasukan Indonesia yang membunuh banyak penyihir tempur Aliansi jauh lebih tinggi.
__ADS_1
Kemudian, pasukan darat didukung oleh kapal-kapal perang yang bertugas mencegah Aliansi memberi bantuan tembakan melalui laut. Berkat hal itu, seekor Naga Laut dan beberapa kapal perang bersenjata seratus meriam hancur.
Yang paling tidak masuk akal tetaplah Pahlawan Harapan yang mampu melukai Pahlawan Penyesalan tanpa Bberkah Dewata.
Hal itu membuatnya semakin jelas jika Pahlawan Harapan dipenuhi oleh keajaiban. Karena itu, Aliansi harus menangkapnya. Semangat untuk melakukan hal itu semakin membara.
“Pertempuran di Teluk Tanduk kemungkinan tetap berlanjut. Musuh mungkin merencanakan serangan untuk membersihkan pasukan di sana. Mengapa ada musuh seperti mereka di dunia ini?” keluh salah satu komandan.
Hanya dengan kekuatan kecil, pasukan di Teluk Tanduk dapat ditaklukan, bahkan sebagian besar dihabisi. Apakah mereka bagian dari pasukan elit?
“Yang terpenting, mengapa Aliansi hanya mengirimkan kekuatan kecil untuk mempertahankan Teluk Tanduk?” pertanyaan tersebut dari Takobi yang diucapkan dengan wajah kesal.
“Mohon maaf, Yang Mulia. Kami di sini hanyalah komandan bawahan, dan tidak ada hubungan langsung dengan puluhan ribu pasukan yang mempertahankan Teluk Tanduk,” jawab salah satu komandan yang lain.
Serangan di Teluk Tanduk terlalu menghancurkan untuk disebut serangan ofensif pertama Indonesia sejak kedatangan mereka di dunia ini, itu menurut orang-orang di bangunan ini. Sebagai contoh, mengapa Indonesia terlalu percaya diri mengerahkan seluruh kapal perang mereka di dunia ini untuk menggempur pertahanan Teluk Tanduk? Bagaimana bisa Demihuman dan tentara yang hanya mengandalkan teknologi mampu mengalahkan penyihir tempur? Dan lihat bagaimana mudahnya seekor Naga Laut dibunuh oleh senjata misterius lawan. Semua pikiran orang kosong, dan tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hanya dengan sedikit pasukan di darat, kapal-kapal perang Indonesia terlindungi dengan baik dari rencana serangan Sihir Artileri penyihir tempur Aliansi.
“Kita juga mendapatkan beberapa infomasi dari tentara kita yang selamat.”
“Yah, seharusnya penyihir bisa mengirimkan laporan dengan cepat sebelum serangan.”
Isi laporan tersebut adalah musuh melakukan pertempuran dengan cepat, dengan perkiraan sebenarnya musuh bukan bertempur. Itu terlihat dari arah serangan musuh yang terarah setelah beberapa saat pertempuran dimulai, bukan sejak awal pembukaan pertarungan. Tetapi, lawan terlalu siap untuk misi non-pertempuran.
Laporan tentang pertemuan dengan pasukan tanpa tujuan jelas adalah hal konyol. Hal itu ditambah mereka mampu mengalahkan sebagian batalyon yang dipimpin Pahlawan Penyesalan. Jika itu bukan pertempuran yang bahkan musuh tidak merencanakannya dari awal dan hanya keinginan Tuhan yang berkehendak, lawan pasti memiliki seorang komandan kontrol sangat hebat.
“Menurut laporan, serangan terarah musuh baru dilakukan setelah beberapa menit pertempuran. Jenis pertempuran yang lawan lakukan adalah menyerang dengan menyebar, lalu melancarkan seragan terpusat setelah kita terpojok. Yang bisa Anda lakukan hanya tercengang, Yang Mulia,” kata salah satu komandan.
Dari awal pertempuran di Teluk Tanduk, hanya Aliansi yang menderita kerugian. Hal itu merupakan hasil dari perbedaan dari kekuatan kedua belah pihak. Seharusnya artileri pertahanan pesisir mampu mengalahkan paling tidak sebagaian kecil pasukan amfibi Indonesia. Tapi, biasanya tembakan artileri yang tepat sasaran mengandalkan kebetulan dan keberuntungan. Lagipula, sebagian artileri pertahanan pesisir dihancurkan sebelum mereka menghujani kapal-kapal perang Indonesia.
Jika tujuan sebenarnya Persekutuan mengirimkan pasukan ke Kerajaan Salodki adalah menyerang Aliansi dari arah barat, menyebarkan pasukan ke beberapa titik yang telah ditandai akan menjadi salah satu pilihan. Tapi, hanya kapal perang dan sedikit pasukan darat yang dikirimkan oleh Persekutuan, dan pertahanan Aliansi menjadi sia-sia berkat pasukan kecil tersebut. Tentu saja keberadaan seorang tentara dunia lain yang mengalahkan banyak penyihir tempur Aliansi adalah kejutan tambahan dalam pertempuran itu.
__ADS_1
Artileri pertahanan pesisir dan senapan mesin berat dikawal oleh ribuan infanteri senapan dan sejumlah penyihir. Tapi, dengan tenang infanteri lawan yang datang entah dari mana begitu tenang menghancurkan beberapa artileri dan senapan mesin, dan mereka begitu sulit dikejar.
Walaupun pasukan Aliansi di Kerajaan Salodki harus bertahan, mereka perlahan-lahan pasti akan kelelahan. Perintah melakukan pertempuran ketika kondisi seperti itu harus dipertanyakan. Kekalahan Pahlawan Penyesalan pasti menurunkan moral pasukan walau tidak signifikan.
Tapi, sebelumnya Aliansi mendapatkan informasi dari agen utama mereka, Tam, bahwa Indonesia akan mengirimkan pasukan dan kapal kecil untuk melakukan serangan kejutan. Namun, sebagai pasukan kejut, lawan hanya dibekali senapan standar bagi pasukan Persekutuan dan senjata standar suku-suku petarung Demuhuman.
Dalam perang informasi, kebenaran belum tentu terjamin. Bahkan jika suatu informasi tampak dipenuhi kebenaran, itu tidak terlalu membantu dalam pertempuran lapangan. Dan itulah sebabnya orang-orang di tempat ini harus mencurigai setiap kemungkinan kebohongan atau kebocoran informasi.
“Jika semua ini tentang informasi, bagaimana menurut kalian,” ucap Takobi.
Jika tidak ada informasi yang dibuat-buat, mereka tidak perlu menjawab pertanyaan Raja Takobi dengan bertele-tele.
Tentu saja para agen Aliansi telah disebar ke seluruh penjuru wilayah Arevelk dan Yekirnovo, serta negara-negara dari benua tetangga yang berpotensi menjadi anggota Persekutuan. Agen utama Aliansi adalah seorang pria bernama Tam, bertugas menjadi pengungsi di kamp yang didirikan Persekutuan di Tanah Suci, kemudian melaporkan segala sesuatu tentang tempat tersebut.
Semua orang tidak bisa menuduh Tam begitu saja karena dia agen paling diandalkan Aliansi. Tidak ada bukti bahwa salah satu atau beberapa agen Aliansi sengaja memocorkan atau memberkan Aliansi informasi palsu tentang pergerakan Pasukan Persekutuan. Aliansi pasti dibebani dengan masalah yang sangat besar karena tidak ada penjelasan untuk situasi tersebut. Benar-benar meresahkan, hingga mungkin beberapa komandan di sekitar Takobi akan menangis.
“Saya menganggap adanya agen ganda, atau pengkhianatan. Namun, belum ada bukti tentang kemungkian tersebut,” ucap salah satu komandan.
Komandan yang lain menanggapi, “Saya masih menganggap jika ada pekhianat yang dengan sengaja memberikan informasi palsu kepada kita.”
“Tapi, agen ganda atau pengkhianat sangat tidak mungkin. Hanya beberapa orang yang mengetahui rencana membangun pertahanan di Teluk Tanduk demi menghambat pergerakan perlawanan Persekutuan.”
“Mungkin saja ada orang yang memang mengetahui Persekutuan akan mengirimkan Indonesia dalam pertempuran di Teluk Tanduk, namun dia dengan sengaja merahasiakan dan memberikan kita informasi palsu.”
Pada titik ini, Aliansi telah kalah dalam kekuatan informasi. Hanya masalah waktu hingga sejumlah orang di Aliansi berpikir seperti itu, bahkan menganggap Aliansi kalah tentang segalanya dari Persekutuan walau organisasi tersebut kehilangan sebagian kekuatan akibat salah satu kontingen memutuskan menarik pasukannya.
Tapi, gagasan bahwa Persekutuan melemah telah ditolak. Namun, di sisi lain Aliansi juga memiliki beberapa senjata rahasia dengan kekuatan pemberian para Dewata.
Tentu saja Aliansi berharap para Dewata memihak di pihak mereka, dan memberikan kekuatan untuk menghancurkan Persekutuan sebelum Periode Perang Besar benar-benar terjadi. Aliansi berencana mengalahkan Indonesia pada perang ini sebelum menyatakan perang ‘lagi’ pada dunia lain. Tentu saja Aliansi memerlukan kekuatan dan sekutu tambahan sebelum memulai Periode Perang Besar, mereka tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan para Pahlawan dan Utusan Dewa Surga.
__ADS_1