Prajurit SMA

Prajurit SMA
Membandingkan kualitas kuli


__ADS_3

Tempat tinggal sementara bagi para pengungsi dan sukarelawan yang direkrut menjadi personel informan Pasukan Perdamaian telah dibangun kembali, dengan bahan bangunan paling banyak dipasok oleh Arevelk, dan untuk tenaga kerja Yekirnovo mengirimkan ‘kuli’ terbaik mereka. Setengah bulan sejak kedatangan gelombang pertama kontingen Pasukan Perdamaian, tempat yang dulunya dipenuhi dengan mayat manusia serta monster dan genangan darah, telah berubah dalam beberapa hari yang singkat ini.


Tempat ini harus diperbaiki dan ditata kembali seperti kota kecil, karena Arevelk dan Yekirnovo telah mengirimkan kontingen mereka yang berjumlah ratusan ribu personel militer dan staf umum. Sheyn juga mengirim semua ksatria Barisan para Mawar untuk belajar bahasa Indonesia, dan jika tertarik mereka juga bisa belajar bahasa Korea atau Rusia, itu semua tergantung peminat. Itu artinya bangunan sekolah bahasa harus dibangun kembali dan membutuhkan tenaga kerja tambahan.


Awalnya, ketika sukarelawan yang diundang pemerintah Indonesia untuk diberikan penghargaan menggambarkan kota dengan bangunan tinggi dan makanan pinggir jalan yang enak, hampir semua prajurit kontingen Arevelk dan Yekirnovo ingin pergi ke Indonesia dan belajar di sana.


Namun, kontingen pasukan Perdamaian Yekirnovo dan Arevelk yang berjumlah 120.000, hanya para petinggi mereka yang bisa berbicara bahasa Indonesia, dan itupun hanya ucapan biasa yang mudah diingat, tidak mungkin mereka bisa ke luar negeri dan belajar di sana. Pemerintah juga tidak bisa menerima mereka begitu saja, karena ada banyak hal lain yang harus diurus. Paling tidak, syarat minimal bagi mereka adalah harus bisa bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia, sehingga Pasukan Perdamaian memutuskan membangun kembali sekolah bagi prajurit yang berminat di area pengungsi.


Area itu juga merupakan rumah bagi cendekiawan yang merupakan penerjemah dan personel informan resmi kontingen Arevelk dan Yekirnovo untuk kontingen dari dunia lain. Mungkin ini adalah tempat yang lebih baik untuk belajar bahasa dunia lain daripada harus ke Indonesia, dan kelompok pengungsi anak-anak juga bisa belajar banyak hal tentang ilmu pengetahuan yang dipelajari anak-anak dunia lain.


Meski pasukan elit dan khusus milik Yekirnovo dan Arevelk terbiasa bertugas di lapangan, kebanyakan dari mereka tetaplah bangsawan. Terkurung untuk belajar di ruangan kecil dengan penyejuk ruangan berupa jendela yang terbuka, mengingat pasokan listrik masih terbatas dan masih dikhususkan untuk kontingen Indonesia, Korea Utara, dan Rusia, membuat banyak tekanan untuk mereka. Intinya, para prajurit elit yang tebiasa tinggal di ruangan luas, dan sekarang harus menghadapi pembelajaran di ruangan sempit, akan menjadi sumber stres.


Karena itu, menyediakan kebutuhan bagi kontingen Yekirnovo dan Arevelk adalah hal yang penting. Selain itu, Pasukan Perdamaian juga tidak mungkin membiarkan personel penting seperti utusan menteri luar negeri mereka untuk tinggal di rumah sementara dan tenda darurat, serta membuat para prajurit terus tinggal di tenda adalah hal yang tidak mungkin. Karena itu, kelima negara anggota Sekutu memutuskan untuk tidak menggunakan rencana tentang kamp sementara, dan memutuskan membangun lebih banyak bangunan permanen daripada yang sementara.


Selain menggali sumur setelah menemukan sumber air bawah tanah dan membangun tangki penyimpanan air, pasukan juga harus menggali saluran air yang memadai dan menyiapkan fasilitas pemurnian air. Untuk memberi daya pada semua fasilitas tersebut, termasuk memasok kebutuhan listrik, pasukan menggunakan ratusan panel tenaga surya. Melalui pembangunan kembali dalam waktu singkat ini, kamp perlahan-lahan menjadi jauh lebih besar daripada sebelumnya.


Toko dan fasilitas serupa mulai dibangun kembali, agar prajurit maupun pengungsi dan sukarelawan yang ingin membeli kebutuhan pokok tidak harus pergi ke kota terdekat yang berjarak cukup jauh. Tentu saja toko dan fasilitas serupa dijalankan kepada para pengungsi dan sukarelawan yang dibayar Arevelk dan Yekirnovo.


Para personel kontingen Yekirnovo dan Arevelk tidak keberatan dengan keberadaan toko dan minimarket, serta fasilitas serupa. Anak-anak dan remaja pengungsi serta sukarelawan bisa dipekerjakan di sana. Jauh lebih mudah dan lebih dekat untuk membeli barang-barang dari minimarket daripada pergi ke kota terdekat dan keluar masuk Gerbang menuju Karanganyar yang menyusahkan.


Ada sangat banyak bangkai wyvern maupun naga perang yang berceceran di wilayah Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Lain, dan itu adalah ladang uang tambahan bagi pengungsi dan sukarelawan jika mereka sedang tidak mendapatkan perintah dari pasukan. Mereka bisa menggunakan uang yang terkumpul untuk membangun sendiri rumah atau membangun fasilitas lainnya, dan pasukan bersedia menyediakan peralatan yang berupa masker gas, pakaian pelindung, dan barang-barang lainnya untuk mereka.


Keberadaan minimarket dan fasilitas serupa ternyata menarik kembali pedagang dan bangsawan Yekirnovo dan Arevelk. Para perempuan bangsawan dan ksatria Barisan para Mawar semakin sering datang untuk membeli barang-barang dari Indonesia. Di tempat tersebut mereka bisa membeli pakaian yang diimpor dari Indonesia dan Rusia, teh dari Korea Utara, dan barang mewah lainnya kecuali mobil mewah.


Para utusan Arevelk dan Yekirnovo yang datang untuk belajar juga mengunjungi minimarket dan fasilitas serupa yang didirikan kontingen Indonesia, Rusia, dan Korea Utara. Selain itu, kontingen ketiga negara tersebut juga mengunjungi. Mereka tidak hanya membeli buatan dunia asal mereka, tetapi juga produk lokal yang dijual pedagang Yekirnovo dan Arevelk.


Jumlah pengunjung wilayah Pasukan Perdamaian yang semakin meningkat, membuat fasilitas seperti minimarket mengalami perluasan. Terlihat dari jumlah barang yang dijual semakin meningkat, namun tidak cukup orang untuk membantu dalam impor dan ekspor, dan penyihir yang terlibat juga ditambah demi personel untuk membuka Gerbang menuju Karanganyar terpenuhi.


Anak-anak dan orang tua yang sepertinya mampu untuk bekerja diperjakan sebagai staf toko tambahan. Para pelayan yang dibawa pedagang, utusan, dan ksatria bangsawan secara sukarela membantu. Ini karena setelah melihat katalog barang-barang dari dunia lain, terutama pakaian perempuan, mereka menyadari bahwa fasilitas yang disebut ‘minimarket’ menyediakan semua yang mereka butuhkan dan inginkan meski itu tidak terlalu dibutuhkan.


Akibatnya, para prajurit muda bujangan dari Rusia, Indonesia, dan Korea Utara tertarik dengan pelayan dan staf perempuan toko, yang berasal dari kalangan pengungsi dan sukarelawan, dan menyebabkan pelanggan meningkat.


Tanpa disadari, pertumbuhan ekonomi di sini telah tumbuh sangat cepat dan pesat daripada ketika masa Pasukan Ekspedisi.


Di mana ada tempat yang menguntungkan, di situ akan ada pedagang. Namun, kehadiran kelompok-kelompok pedagang yang terlalu banyak membuat resah. Lagipula, pasukan tidak menyediakan tempat untuk mereka tinggal dan tidak ada warung untuk tempat mereka makan. Para pedagang yang datang harus berkemah di area yang berbahaya di luar wilayah wewenang Pasukan Perdamaian. Itu artinya mungkin akan ada kelompok perampok berkeliaran. Untuk menjaga para pedagang, sukarelawan yang dulunya tentara bayaran yang berjuang bersama Pasukan Ekspedisi bekerja untuk para pedagang dengan imbalan setimpal.


Jika pasukan meminta mereka untuk tidak datang, maka para pedagang tersebut tidak akan datang, dan pasokan barang akan berhenti datang. Mereka tidak bisa terus mengandalkan Pasukan Perdamaian, dan karenanya mereka menyewa kelompok tentara bayaran. Karena mereka mempekerjakan sangat banyak tentara bayaran, artinya tempat untuk mereka tinggal juga dibutuhkan, yang berarti lebih banyak pembangunan.


Mereka meminta tolong para pekerja yang dipekerjakan pasukan untuk membangun benteng, artinya mereka mempekerjakan para ‘kuli' yang masih memiliki rasa takut ketika dikirimkan ke dunia lain. Namun, para ‘kuli’ tersebut merupakan sekelompok pria yang direkrut oleh pemerintah untuk membantu pasukan melakukan pembangunan fasilitas di Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Baru, dengan bayaran yang lumayan. Tanpa ragu, mereka meminta tolong para tukang dari Indonesia… yang terlihat galak untuk membangun bangunan baru. Tentu saja mereka juga akan menyediakan kebutuhan para kuli, jika itu termasuk rokok, kopi atau minuman berenergi, dan gorengan mereka tentunya membutuhkan bantuan kontingen Indonesia.


Para suku yang terkenal dengan kemampuan pengrajin seperti ‘Orang Kerdil’ dan tukang kayu yang didatangkan dari Arevelk dan Yekirnovo. Suku ‘Orang Kerdil’… yang sering disebut dengan istilah ‘Dwarf’ di novel ringan dan manga fantasi buatan Jepang, di dunia ini mereka disebut dengan ras ‘Ipotxak’. Ras Ipotxak tersebar di seluruh dunia ini, dan memiliki satu kelebihan yang membuatnya sangat disegani oleh ras manusia maupun ras Demihuman, yakni mereka memiliki kemampuan pengrajin maupun membuat sesuatu dengan kualitas yang sangat baik daripada buatan manusia. Sehingga oleh prajurit kotingen Indonesia kemampuan para pekerja dari ras Ipotxak dibanding-bandingkan dengan kualitas kuli yang didatangkan dari Indonesia.


Para pedagang dari Arevelk yang memerlukan banyak asisten dan pekerja menyebabkan banyaknya ras pendatang yang disebut dengan Demihuman, yang berasal dari suku-suku yang bervariasi yang ada di Kerajaan Arevelk. Orang-orang dari ras Demihuman memiliki telinga kucing, telinga rubah, telinga kelinci, dan manusia setengah monster lainnya.


Sementara itu, suku-suku ras Demihuman yang tinggal di Kerajaan Yekirnovo masih ragu untuk menerima pekerjaan di Tanah Suci… yang dekat dengan Kekaisaran Luan. Mereka masih memiliki perasaan takut terhadap negara tersebut… karena masa lalu suku-suku Demuhuman lainnya yang kelam… seperti diperbudak secara paksa. Tidak ada yang bisa memaksa mereka, meski tawaran pekerjaan yang mereka dapatkan memang menggiurkan.


Dengan cara ini, segala suku dan ras yang ada di Kerajaan Yekirnovo dan Arevelk terus berdatangan ke Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Baru. Tempat-tempat penting yang terus dibangun, dikombinasikan dengan masuknya budaya Indonesia, dan sedikit dari Rusia dan Korea Utara yang bertemu dengan budaya dan suku-suku lokal… membuat tempat ini hampir seperti kota.


**


Di salah satu area latihan, kapten Tim Ke-12 Korps Pengintaian dan Pertempuran bertemu dengan 12 anggotanya yang telah berkumpul. Wakil kapten tim, Sersan Mayor Hassan memberi hormat kepada kapten tim. Seluruh anggota mengikutinya memberi hormat dan menyuarakan salam mereka ketika Nio berdiri di depan mereka. Nio membalas hormat dan salam bawahan barunya, dan melirik mereka.


Dari 12 anggota Tim Ke-12, 2 diantaranya berasal dari kontingen Korea Utara dan 1 orang berasal dari Rusia. Ketiga orang tersebut adalah rekomendasi langsung yang Nio terima, karena katanya akan semakin menarik jika anggota tidak hanya berasal dari kontingan Indonesia saja. Karena, salah satu tim setengah anggotanya adalah kontingen dari Rusia dan Korea Utara, jadi Nio tidak keberatan jika ada 3 orang dari luar kontingen Indonesia yang menjadi bawahannya.


“Aku yakin kalian sudah mendengar tugas pertama kita. Aku harap kalian tidak kecewa dengan tugas yang diberikan atasan kita.”


Itu adalah harapan Nio supaya anggotanya tidak protes kepadanya atas perintah pertama yang didapatkan. Sayangnya, wajah sebagian besar anggota tim menunjukkan perasaan tidak puas atas ‘ketidakadilan’ yang mereka dapatkan atas perintah pertama mereka. Nio sendiri yakin jika para anggota pasti memiliki lusinan kata-kata yang ingin diucapkan sebagai protes. Bukan kejutan kecil jika tim tempur ini mendapatkan tugas pertama berlatih bersama kontingen Arevelk dan Yekirnovo, karena garis depan telah dijaga oleh tim dan pasukan lainnya.


Nio kemudian mengalihkan pikirannya dari hal itu, dan mengarahkan pandangan ke arah anggotanya. Dia bisa merasakan jika tim ini berisi dengan orang-orang yang disiplin dan penuh dengan kepercayaan diri. Peralatan dan senjata mereka dipoles dengan baik, dan memang tampak siap untuk dikirimkan ke garis depan.

__ADS_1


“Teman-teman, banggalah karena kalian akan memamerkan teknologi kepada rekan-rekan kita yang bersenjatakan pedang dan panah.”


Bagi prajurit kontingen Arevelk dan Yekirnovo yang tidak paham dengan bahasa Indonesia tidak merasa tersinggung dengan perkataan Nio. Namun bagi yang paham isi dari perkataan Nio, ucapan itu termasuk ke dalam usaha untuk memamerkan kehebatan senjata mereka, tapi mereka tidak bisa membalas atau semacamnya atau mereka akan terkena masalah… karena pimpinan tim itu adalah Letnan Satu Nio Candranala.


Dari tempat yang tidak cukup jauh dengan Tim Ke-12 berbaris, Angga bersama panglima pasukan Arevelk dan salah satu jendral kontingen Yekirnovo mengamati mereka dengan teropong. Teknologi itu baru pertama kali dilihat oleh Zvail meski ini bukan kali pertama adanya perwakilan TNI di dunia ini.


“Nio benar-benar memilih anggota yang berbakat di bawah komandonya,” kata Zvail memuji Nio dan Angga menyetujuinya.


Tim Ke-12 baru terbentuk beberapa hari yang lalu, dan mereka memiliki kapten yang memiliki pengalaman cukup banyak di dunia lain ini. Hal itu membuat pekerjaan mereka lebih nyaman, dan bisa bertugas dengan efektif berkat koneksi dan pengetahuan kecil Nio mengenai Benua Andzrev.


“Tim khusus yang kalian bentuk lainnya terlihat kasar dan kurang humor.”


“Seperti yang Anda katakan, Tuan Zvail. Itu karena kapten mereka. Jika Nio tidak mau dikirimkan lagi ke dunia ini, itu adalah masalah bagi kami. Meski begitu, dia tidak ingin disebut ‘istimewa’.”


“Saya mengerti.”


Meskipun Zvail tidak tahu apakah semua prajurit Indonesia seperti Angga yang dilihat dari penampilannya adalah tentara yang serius dan bermatabat. Sedangkan Nio… santai? Tidak mudah ditebak? Atau mungkin makhluk yang misterius? Pada akhirnya semua itu ditutupi dengan segala prestasi yang didapatkannya.


Tidak peduli keadaanya, seorang pria normal akan dipenuhi dengan kebencian setelah dikeroyok ratusan orang. Jendral kontingen Kerajaan Yekirnovo yang bernama Kosh Her tahu bahwa negara yang dia layani berhutang kepada Nio, karena Nio belum mengambil keuntungan dari kejadian pengeroyokan ratusan ksatria Barisan para Mawar yang dia alami. Itu adalah kasus yang sangat langka yang membuat Nio istimewa di mata Zvail dan Kosh Her.


Yekirnovo dan Arevelk akan melakukan apa saja untuk mendapatkan hubungan kerjasama di segala bidang dengan Indonesia dan sekutunya… demi mencegah kejadian yang dialami Nio terbongkar. Menurut mereka, sepatah kata dari Nio mengenai kejadian yang menimpa dirinya akan berakibat buruk dan mungkin bisa saja membuat Kerajaan Yekirnovo akan berumur pendek.


Setelah meyakinkan diri mereka sendiri dan mengumpulkan banyak keberanian, Kosh Her dan Zvail bertanya bersamaan pada Angga, “"Lalu, apa yang akan mereka lakukan?”"


“Mari saya tunjukkan.”


Angga menunjuk salah satu area latihan, dan sebuah acara khusus yang dilarang untuk anak-anak.


**


Sekumpulan prajurit di sana adalah tujuan mereka… dengan kata lain mereka adalah perwira, dan para prajurit kontingen Arevelk dan Yekirnovo. Tim Ke-12 telah menyiapkan jarak tembak di sini agar mereka dapat merasakan perasaan ketika menembakkan senjata. Selain itu, mereka juga akan memahami kekuatan sebenarnya dari tongkat baja hitam panjang yang dimiliki kontingen dari dunia lain. Itulah tujuan utama diadakannya kegiatan ‘pamer’ yang dilakukan kontingen Indonesia.


Untuk memastikan tidak adanya peluru nyasar, anggota tim menyiapkan target di depan mereka yang berupa karung pasir seukuran manusia yang dilapisi zirah logam milik kontingen Arevelk. Di belakang mereka adalah parit yang dulunya dipertahankan Nio bersama Regu penjelajah 1.


“Hei, ijinkan aku mencoba senjata aneh mu itu.”


Sekitar 20 prajurit Arevelk dan Yekirnovo memiliki pemikiran yang sama dengan seorang prajurit yang berkata seperti itu barusan.


Mereka berdiri di garis tembak. Mereka mengikuti arahan, dan dengan kuat memegang senapan, membidik, lalu menarik pelatuknya. Hentakan keras alias recoil yang dihasilkan dari tembakan membuat beberapa dari mereka hampir terjungkal, dan beberapa lagi matanya berair.


Nio bertanya pada salah satu prajurit, “Bagaimana rasanya menggunakan senapan?” tapi dia tidak menjawab pertanyaannya. Prajurit yang ditanyai Nio mengira dia mencoba mengintimidasi dirinya. Karena itu, dia memandang tongkat baja hitam panjang yang dia pegang dengan diam.


Tembakan pertama membuat membuat mereka hampir terpental.


Tembakan kedua membuat para prajurit Arevelk dan Yekirnovo yang mencoba terpesona dengan kekuatan senapan.


Tembakan ketiga membuat kekuatan senapan seperti ada di tubuh mereka.


Tembakan keempat membuat mereka ingin memiliki senapan dan pistol.


Dan kemudian, setelah beberapa tembakan yang membuat bahu sakit para prajuritnya, Zvail dan Kosh Her membayangkan jika posisi mereka adalah musuh yang berperang dengan Indonesia dan sekutunya, mereka akan dapat dihancurkan dengan sangat mudah dalam hitungan hari. Kabar baiknya, pemimpin mereka berhasil membuat Persekutuan bersama Indonesia dan sekutunya.


Lalu, mereka membayangkan pasukan Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo dilengkapi dengan senjata-senjata brutal seperti itu.


Selanjutnya, mereka memperagakan senapan mesin ringan 7.62mm dan senapan mesin berat 12.7mm. Setelah melihat barisan sasaran yang berupa karung pasir yang dilapisi zirah logam hancur dalam sekejap, kontingen Arevelk dan Yekirnovo yang menyaksikan bisa membayangkan Pasukan Aliansi dikalahkan dalam pertempuran beberapa waktu lalu.


Setelah itu ada pertanyaan.


“Bagaimana kalian membuat senjata seperti ini?”

__ADS_1


Tentu saja mereka… bahkan Nio tidak bisa mengajari para prajurit dan pengrajin Yekirnovo dan Arevelk cara membuatnya. Satu lagi, bahkan jika mereka memberi tahu orang-orang dunia lain ini, mereka mungkin tidak bisa memahaminya. Namun, jika mereka ingin diajari membongkar dan memasang kembali setiap komponen senapan, hal itu bisa dipertimbangkan sesuai ijin yang diberikan.


Apa yang dipahami kontingen Arevelk dan Yekirnovo adalah bahwa senjata-senjata yang disebut senapan ini adalah sebuah benda dengan sekumpulan bagian rumit yang tak terhitung jumlahnya. Itu adalah buah dari teknologi yang lebih maju daripada hadiah-hadiah dari yang diberikan Indonesia, Rusia, dan Korea Utara untuk Yekirnovo dan Arevelk.


Dan setelah itu muncul sebuah pertanyaan dari salah satu perwira kontingen Yekirnovo, “Apakah kita bisa membelinya?”


Tapi, Nio dan bawahannya tidak bisa memberi mereka jawaban yang mereka inginkan. Tentu saja senjata-senjata seperti ini tidak bisa dijual belikan begitu saja seperti cilok. Prajurit-prajurit kontingen Indonesia dan sekutunya tidak sebodoh itu menjual senjata kepada mereka meski mereka bukanlah musuh atau semacamnya.


Bahkan jika Indonesia dan sekutunya setuju untuk menjualnya, para petinggi militer Yekirnovo dan Arevelk akan mencurigai adanya penipuan atau trik licik perdagangan. Lalu mengapa mereka bertanya? Karena senjata seperti itu tidak bisa diabaikan kekuatannya.


Untuk mencegah kehilangan atau pencurian, gudang senjata cadangan Pasukan Perdamaian dijaga ketat, dan dipasangi puluhan kamera pengawas di setiap sisi tempat di gudang senjata. Lalu, para prajurit diancam dengan hukuman yang sangat berat bila menjual atau sekedar membocorkan desain senapan kepada orang lain. Nio mengawasi ketat orang-orang yang tertarik mencoba senapan mereka.


Anggota Tim Ke-12 adalah instruktur yang baik hati, yang dengan sabar menjelaskan cara memuat magasin, membidik, dan cara menarik pelatuk, tanpa mengendurkan pengawasan mereka terhadap mereka.


Seluruh prajurit mengembalikan senapan ke anggota Nio, dan meninggalkan lapangan tembak setelah berterimakasih kepada instruktur mereka atas waktunya.


“Ah~ kita akan memulai demonstrasi mortir 81mm.”


Nio meminta orang-orang yang tertarik untuk mendekat.


Di dalam parit, ada 3 buah benda silinder berdiri miring dengan dua kaki. Silinder itu terlihat seperti tabung yang terbuat dari logam hitam. Tabung-tabung itu mengarah ke padang rumput di kejauhan.


Ketika penonton yang ingin melihat jauh lebih banyak dari demonstrasi senapan, Nio berteriak, “Ini sangat berbahaya, silahkan mundur 20 langkah ke belakang!” dan para penonton tidak punya pilihan selain menuruti perintah Nio.


Dengan perintah seorang komandan, 9 operator masing-masing mortir memulai tugas mereka.


Satu orang mulai menyelaraskan bidikan ke arah tiang bidik berwarna putih, satu orang lagi menyiapkan proyektil mortir yang siap ditembakkan, dan satu orang bertugas mengambil proyektil yang telah disiapkan dengan kedua tangan, dan memasukkan setengah dari seluruh badan proyektil ke dalam laras mortir, tetapi belum melepaskannya.


Komandan penembak berteriak sambil melipat jarinya ketika dia menghitung mundur, “Lima! Empat! Tiga! Dua!”


“Tembakkan!” “Satu!” kedua kata itu berbunyi bersamaan.


Operator yang memegang proyektil mortir melepaskannya, dan segera menunduk untuk menghindari cedera.


Setelah itu, proyektil meluncur ke bawah laras karena tarikan gravitasi. Ujung ekor dari proyektil berisi dengan propelan. Jarak tembak sesuai dengan jumlah propelan. Begitu ujung ekor menghantam pin penembak di pangkal laras, itu memicu ledakan… yang mirip dengan mekanisme penembakan peluru senapan. Ledakan yang dihasilkan oleh propelan yang meledak meluncurkan proyektil dari tabung.


Lidah api kemudian terlihat menyembur dari mulut tabung peluncur, dan kemudian menerbangkan proyektil mortir. Namun nyala api dengan gelombang kejut muncul lebih dulu sebelum proyektil meluncur dengan lintasan melengkung.


Setelah melihatnya, para penonton takut dengan ledakan yang jauh lebih keras daripada senapan. Lalu…


“Ledakan~sekarang!”


Sedetik setelah itu terdengar suara ledakan yang sangat keras yang disertai dengan gumpalan asap hitam yang membumbung dari tempat ledakan. Dan kemudian, mortir-mortir yang lain terus menembak. Proyektil itu menciptakan kawah sedalam 10 centimeter yang dihasilkan dari ledakannya. Pada akhirnya, ada sepuluh proyektil mortir yang ditembakkan.


Para prajurit kontingen Arevelk dan Yekirnovo yang melihat bisa membayangkan Pasukan Aliansi yang hancur berkeping-keping dengan senjata itu. Selain itu, mereka juga membayangkan perang sesungguhnya yang disertai dengan ledakan dari senjata yang bisa menghancurkan benteng tersebut.


“Maaf, tapi… berapa jarak tembakan maksimum senjata ini?”


Nio mengingat-ingat spesifikasi dari senjata yang dibuat oleh perusahaan dalam negeri itu, “Hmmm, kira-kira sejauh 3 kilometer atau lebih,” Nio berpikir tidak perlu menjelaskan spesifikasi senjata yang dimiliki pasukan secara akurat.


Di dunia ini, medan perang tidak seluas itu, bahkan jangkauan senapan sundut hanya mencapai 100 meter, dan jangkauan meriam hanya mencapai 900 meter.


“Ah, aku juga punya pertanyaan… berapa banyak senjata seperti ini yang pasukan kalian miliki?”


“Maaf, aku tidak bisa memberitahu kalian detail yang tepat. Setiap orang memiliki satu… maksudku setiap prajurit akan mendapatkan satu senapan.”


“Semuanya?! Berapa banyak prajurit yang Indonesia miliki?”


Setelah itu, mereka melihat Kosh Her, Zvail, dan Angga mengawasi mereka.

__ADS_1


“Sungguh beruntung kita bersukutu dengan mereka…”


Ternyata masih ada bangsa bodoh yang menyatakan perang terhadap musuh seperti ini, itulah pikiran mereka terhadap Aliansi.


__ADS_2