
Beberapa jam kemudian, gempa susulan terjadi. Bumi bergetar sekali lagi, dan bangunan yang hampir hancur, sekarang benar-benar rubuh. Seluruh orang yang masih mengumpulkan mayat-mayat prajurit dan monster gemetar ketakutan.
“Baiklah, kita kembali!”
Meninggalkan wajah-wajah warga ibukota yang menyedihkan, Nio dengan bangga kembali memimpin Regu penjelajah 1, dimana kendaraan yang dia tumpangi membawa kelima gadis Indonesia yang dia selamatkan. Nio dan beberapa perwira menawarkan jas mereka untuk menutupi tubuh para gadis ini yang setengah telanjang, hanya sebuah kain yang menutupi tubuh mereka, itu pakaian khas para budak di negara ini.
Setelah sepuluh menit berkendara, Liben menghentikan kendaraannya saat melihat sekumpulan orang dan gerobak kuda. Terdapat pula Grup Tempur 1 dan 4 di ladang gandum yang terbakar ini, sepertinya mereka selesai mengevakuasi warga Kekaisaran yang akan ‘membelot’.
“Sial, tanganku bergerak sendiri dan menghajarnya.”
Liben mengangguk dengan wajah pucat, dia tidak bisa membayangkan jika dia berada di posisi si panglima.
“Komandan, saya rasa ini akan menjadi masalah besar. Kaisar negara ini sudah menyatakan dengan Indonesia sekali lagi kan?”
Aliran darah di otak Nio telah mereda, namun masih bisa merasakan pusing setelah mendengarkan pertanyaan Chandra tersebut. Tapi, aliran darah di wajah Nio masih belum berhenti, itu membuat khawatir anggota medis. Terpaksa, saat tiba di markas pusat, Nio akan menjalani opersi kecil untuk menjahit lukanya.
Bahkan Sucipto mulai khawatir tentang alasan apa yang akan dia berikan untuk masalah deklarasi perang Kekaisaran Luan dan Kerajaan Hrabro ini.
**
31 Oktober 2321, pukul 10.37 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, pagi hari.
**
Pengungsi, pembelot Kekaisaran, atau pekerja sukarela adalah ratusan warga pinggiran ibukota Kekaisaran yang memilih memihak TNI. Karena pasukan ini telah bergerak cepat untuk menyelamatkan mereka dari bencana gempa. Daripada pasukan Kekaisaran yang justru berlari sambil terkencing-kencing saat gempa melanda dan meninggalkan warga dalam bahaya.
Mereka rela bekerja apa saja untuk pasukan ini, dan TNI bebas untuk memberikan mereka imbalan atau tidak pada kinerja mereka nantinya. Memang, pasukan ini sedang membutuhkan tenaga untuk membangun infrastruktur pendukung lainnya, namun belum ada kabar mengenai anggaran untuk membayar pekerja.
Lagipula, TNI sebelumnya berhasil menguasai wilayah pinggiran ibukota Kekaisaran, dan mendapatkan basis pertahanan garis depan di sana. Jadi, jika pertempuran benar-benar pecah, maka wilayah tersebut bisa dijadikan media pengepungan pasukan Kekaisaran.
Sudah satu minggu setelah insiden tidak menyenangkan di ibukota Kekaisaran Luan, dan pernyataan perang Bogat di depan para perwira TNI adalah hal paling bodoh yang pernah mereka dengar. Apalagi mereka bergumam mengenai perkataan Bogat dengan perkataan, “Aku baru pertama kali melihat kepala negara se-tolol ini”.
Sebagian pengungsi melihat benteng kura-kura, dan mengatakan jika peradaban dunia di balik Gerbang tak jauh berbeda dengan Kekaisaran setelah melihat benteng pasukan ini. TNI membangun benteng di sini hanya untuk perlindungan dari keadaan darurat, karena tanpa benteng pun pertahanan pasukan ini masih sangat kuat dengan puluhan turret yang mengelilingi tempat ini.
Suara menderu dari kendaraan lapis baja pengangkut personel yang mengangkut pengungsi berkeliling benteng membuat awan debu di jalan beton.
Para warga dari ras Demihuman tidak menyangka jika akan mendapatkan perlakuan baik dari pasukan hijau ini, bahkan mereka tidak diperlakukan seperti budak walau dulu mereka diperlakukan seperti itu.
Bertentangan dengan pandangan militer lama yang tidak banyak memikirkan kehidupan manusia, pasukan ini terbiasa melakukan misi bantuan bencana untuk menyelamatkan manusia.
Di dunia ini, pemerintah bebas memperlakukan warganya, bahkan beberapa negara mendapatkan penghasilan utama dari menjual budak-budak yang diambil dari warga mereka sendiri. Ratusan warga yang mengungsi ini termasuk kelompok yang beruntung karena bertemu dengan pasukan baik hati. Meskipun mereka khawatir tentang bagaimana menjalani hari berikutnya di lingkungan baru, mereka masih berdoa dengan rasa syukur bahwa mereka selamat dari bencana ini.
Beberapa budak wanita dari ras Demihuman memegang tangan anggota Regu penjelajah yang menyelamatkan mereka. Nio bahkan dikelilingi oleh lima gadis Indonesia yang berhasil diselamatkan, meski dalam bayang-bayang ratusan warga Indonesia lainnya yang belum terselamatkan.
Mengingat bahasa semua bangsa di dunia ini sama, jadi pasukan yang paham bahasa dunia ini tidak kesulitan memahami apa yang para warga pengungsi ini katakan. Jika TNI adalah pasukan dari negeri yang suka menjarah dan membantai, maka tidak ada kehidupan untuk mereka pada hari ini.
Para pengungsi hanya bisa bersyukur atas pengorbanan pasukan hijau ini, bahkan beberapa orang mampu melihat kepahitan yang di alami pasukan yang menyelamatkan mereka. Namun, para prajurit mencoba untuk menutupi kepahitan kehidupan mereka menjadi tentara dengan menunjukkan senyum kepada anak-anak dari ras Demihuman.
Berbagai pertanyaan mengenai pasukan hijau ini memasuki pikiran para pengungsi, mereka bahkan lebih memikirkan kelanjutan kehidupan pasukan ini daripada diri mereka. Karena mereka berasal kalangan budak, maka tidak ada keberatan jika mereka kembali menjadi budak.
“Jika mereka terus melakukan kebaikan kepada kita, bagaimana para prajurit ini mendapatkan uang?”
“Sekarang bukan waktunya untuk mengkhawatirkan orang lain. Kita juga dalam kesulitan, apa yang akan kita mulai dari sekarang?”
“Ya kau benar, tapi prajurit sehebat mereka seharusnya dibayar dengan mahal.”
Tidak peduli apa yang mereka katakan, pengungsi benar-benar prihatin. Sedangkan di negara asal pasukan hijau ini, keserakahan para ‘bangsawan’ tidak bisa dipadamkan.
Tapi, para pengungsi berdoa kepada tuhan masing-masing agar pasukan hijau yang telah menyelamatkan mereka akan lebih dihargai oleh negara mereka, dan mendapatkan bangsawan yang baik hati.
**
__ADS_1
Kebanyakan budak adalah orang-orang dari ras Demihuman dengan usia diantara 15-25 tahun, sedangkan dari ras manusia kebanyakan dari mereka berusia 17-48 tahun, dengan pekerjaan menjual diri atau menjadi pencuri.
Bisa saja TNI membiarkan para warga pinggiran ibukota Kekaisaran dan berkata, “Kita serahkan saja pada Tuhan.”
Puluhan tenda darurat didirikan, dan penuh dengan orang-orang yang mulai bisa hidup nyaman. Beberapa dari mereka mungkin adalah korban gempa yang terluka, namun para dokter militer mengobati mereka dengan mudah.
Tugas Regu penjelajah 1 dan 10 Regu penjelajah lainnya adalah berkomunikasi dengan para pengungsi, membangun hubungan baik dengan mereka, dan mengumpulkan pengetahuan tentang ras Demihuman yang menakjubkan.
Sucipto sedang melakukan panggilan dengan Presiden mengenai penyelamatan lima orang gadis Indonesia, dan membicarakan satu masalah lagi yang membuat Suroso memegang kepalanya.
“Apa tujuanmu membawa pengungsi hah, bagaimana cara kalian berkomunikasi dengan mereka!?”
“Siap! Tentang itu kami memiliki beberapa prajurit yang fasih berbahasa dunia ini.”
Rencananya adalah membangun kamp pengungsian di dekat benteng untuk para pengungsi, dengan dana yang berasal dari pemotongan gaji prajurit Pasukan Ekspedisi. Jika mereka mengumumkan hal ini kepada para prajurit, mereka akan mengeluh dan terpaksa memakan mi instan, karena tidak ada uang untuk membuat ransum nasi rendang dan opor ayam dari akibat pemotongan anggaran.
Sementara itu, para peneliti akan dapat meneliti para pengungsi yang berasal dari ras Demihuman, dan memperoleh pemahaman mengenai ras seperti mereka.
“Tapi, bagaimana pasukan musuh? Apa mereka melakukan kontak senjata dengan kalian?”
Suroso membicarakan deklarasi perang yang diumumkan Kaisar Bogat, karena hal itu termasuk hal yang sangat penting meski TNI dapat memastikan kemenangan mereka.
“Siap! Pasukan Kekaisaran hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan menyerang. Jadi kami masih memiliki waktu untuk mempersiapkan diri.”
Suroso mengerutkan alisnya, kemudian menyetujui untuk menerima para pengungsi, dan mengharapkan jika Pasukan Ekspedisi bisa menjaga diri di dunia lain.
Jika Pasukan Ekspedisi menampung pengungsi, mungkin akan menyebabkan segalam macam masalah. Musuh mungkin telah menyusup di antara pengungsi dan melakukan tindakan sabotase.
Jendral pasukan ini harus melapor ke Kemenhan tentang bagaimana menangani para pengungsi yang tidak mampu untuk dirawat sendiri.
**
Nio berhenti di tempat setelah mendengar namanya dipanggil.
Sementara dia harus berada di tengah pengungsi selama beberapa jam, sebelum akhirnya Nio melarikan diri karena semakin banyak pengungsi yang mendekatinya.
“Selamat untuk jabatan barunya.”
Sudut mata Nio berkedut saat Gio berkata seperti itu. Lagipula, Nio tidak harus membayar segalanya untuk mengurus pengungsi dari uangnya sendiri. Tetapi Nio akan bertugas mengatur perlindungan para pengungsi, itulah jabatan baru Nio sekarang selain menjadi Komandan Regu penjelajah 1.
Nio berpikir masalah pertama adalah tentang makanan, karena untuk masalah tempat tinggal, para pengungsi bisa tinggal dalam tenda darurat sementara waktu. Karena barak-barak masih terbatas dan hanya khusus bagi para prajurit. Jika Nio mengajukan permintaan dengan tim ransum, dia bisa menyelesaikan masalah makanan para pengungsi. Memang, mereka bisa memakan jatah makan tempur, tetapi para pengungsi tidak bisa memilih.
Peltu Gio mengajak Nio untuk ke menara pengawas pada sisi utara benteng. Jari telunjuk dan tengah Gio mengapit sebatang rokok dengan asap kecil. Dia sempat menawari Nio satu bungkus rokok simpanannya, namun Nio hanya mengambil satu batang dan menikmati rokok pemberian seniornya itu. Ini cukup untuk meringankan beban pikiran Nio tentang mengurus para pengungsi.
Nio menilai jika Gio adalah senior yang cukup bisa diandalkan, meski untuk beberapa hal hanya Nio yang bisa melakukannya. Meski pangkat mereka sama, senioritas tetap diutamakan. Di sisi lain, Gio cukup menyukai Nio yang bertindak melebihi tugas Tentara Pelajar, dan terlalu sering terlibat dalam urusan yang sangat penting. Penampilan Nio yang sekarang, cukup untuk membuat beberapa orang bergidik, karena wajah Nio terlalu banyak dihiasi dengan luka sayatan benda tajam.
“Apa mengurus para pengungsi sangat menyusahkan? Saranku, jangan bertindak bodoh saat menangani para pengungsi. Jika kau membutuhkan sesuatu untuk kebutuhan para pengungsi, kau tinggal mengatakannya padaku.”
Nio mengambil satu hisapan rokok, kemudian membuang asapnya dari mulutnya dan menyiapkan jawaban untuk perkataan Gio.
“Ah, ya, itu… lagipula yang paling dibutuhkan untuk mengurus para pengungsi adalah bahasa, dan aku tidak ada masalah dengan itu. Untuk beberapa hal, aku mungkin akan merepotkanmu, bang Gio.”
Nio menggaruk kepalanya dengan selingan menghisap rokok. Perasaan Nio sedang buruk, dan Gio terlihat berusaha membantu mengurangi beban pikiran Nio.
“Itulah, tugas senior. Komunikasi yang buruk antara junior dan senior bisa berakibat buruk, jadi sering-seringlah merepotkanku.”
Gio menghisap rokoknya dan tersenyum ke arah tanah luas yang disebut dengan Tanah Suci ini. Gio melihat jam tangannya, sekarang adalah waktunya untuk berkomunikasi dengan istrinya.
“Kita akan membicarakannya lain waktu.”
“Ya.”
__ADS_1
**
Meskipun Nio tidak bisa melihat apa yang akan terjadi di masa depan, dia harus menangani para pengungsi dengan hati-hati. Setidaknya pekerjaan ini tidak Nio kerjakan sendirian, seluruh anggota Regunya dan 2 Regu penjelajah adalah pembantu milik Nio dalam menjalankan tugas mengurus para pengungsi.
Bagaimanapun, Nio harus memberi mereka sesuatu untuk dimakan.
Bagaimanapun, Nio harus membawa yang terluka ke tim medis.
Bagaimanapun, Nio harus membagikan pakaian.
Semua itu tugas yang melelahkan dan membutuhkan waktu lama jika dikerjakan seorang diri.
Orang tua atau remaja dapat merawat anak-anak, itu bisa meringankan tugas tim pengawas mereka.
Sepetak tanah seluas dua kilometer persegi disediakan untuk tempat mendirikan tempat tinggal para pengungsi. Beberapa prajurit dibantu pengungsi pria sedang membangun perkemahan dan tempat tinggal sementara untuk para pengungsi.
Chandra adalah mahasiswa teknik sipil sebelum memutuskan bergabung dengan Tentara Pelajar, jadi untuk urusan ini dia sangat bisa diandalkan. Orang dengan pengalaman seperti itu sangat dibutuhkan dalam situasi seperti ini. Meski begitu, dia cukup frustasi dengan Nio yang terlalu banyak menuntut, mulai luas setiap bangunan dan sebagainya. Dia menilai jika Nio adalah orang yang perfeksionis, tapi pada akhirnya dia mengetahui sebuah rahasia jika Nio adalah prajurit pemalas dari para senior.
Nio bersyukur tidak pernah kuliah, apalagi masuk jurusan teknik sipil.
Yah, Nio memang menjadi pelayan masyarakat sekarang.
**
Melakukan tugas memang sangat melelahkan, tetapi begitu perintah untuk membangun rumah bagi pengungsi dimulai, ratusan prajurit Pasukan Ekspedisi bekerja dengan cepat.
Dalam sekejap, mereka menebang pohon dengan gergaji mesin, lalu mengeruk tanah dengan eskavator, lalu mengangkut tanah dengan truk besar, setelah itu mereka dengan mudah membangun sebuah rumah dengan bahan bangunan semi permanen.
Menurut data yang memuat identitas para pengungsi, beberapa dari budak ras Demihuman mampu menggunakan sihir. Namun, didepan teknologi yang sudah datang di dunia ini, setelah ini mungkin sihir mereka harus digantikan dengan alat-alat berat ini.
Dua helikopter serang melintas di atas para pengungsi yang sedang menyaksikan pembangunan ini dengan suara yang mengerikan.
Seluruh pengungsi terkejut dalam hening, mereka bersyukur dengan kebaikan yang mereka terima.
Nio melihat seorang remaja dari ras Demihuman bertelinga kucing yang berdiri terlalu dekat dengan jalur truk pengangkut melintas.
“Nona, tolong sedikit menjauh dari sini. Sebentar lagi tempat tinggal untukmu akan selesai.”
Tubuh gadis ini putih, dan mengenakan pakaian yang diberikan untuknya dan pengungsi perempuan lainnya. Untuk gadis kucing ini, dia mengenakan rok panjang dan kaos oblong. Dia menatap Nio dengan mata berkaca-kaca.
Di dalam hati, Nio terkejut setengah mati saat melihat gadis ini hampir menangis, “Ini bukan salahku kan? Aku bahkan tidak menyentuhnya.”
“Tuan, apa anda akan meminta bayaran pada kami setelah semua yang kami dapatkan?”
“Maaf nona, kami tidak berhak mendapatkan bayaran dari kalian. Lebih baik kamu gunakan semua harta yang dimiliki untuk masa depan mu.”
Nio merasa jika dia barusan mengatakan sesuatu yang keren di mata gadis ini, dia menyombongkan diri di dalam hati. Nio merasa jika dia belum mendata identitas gadis ini, lalu dia menyiapkan kertas yang berisi data identitas para pengungsi.
“Nona, siapa namamu?, berapa usiamu?”
“Nama saya Edera tuan, usia saya sekarang 17 tahun.”
Nio tidak bisa melihat wajah Edera secara keseluruhan, karena poni rambutnya menutupi wajah sebelah kanannya. Namun, Nio tidak bisa meminta dia memperlihatkan wajahnya, karena bisa saja gadis ini akan merasa tidak nyaman.
Nio kemudian mengajak Edera untuk menjauh dari tempat kendaraan berat berlalu lalang, beberapa pekerja mulai memperingatkan, “Ini bahaya!”
**
(Ilustrasi Nio, edisi ndak bisa nggambar...*_*)
__ADS_1