Prajurit SMA

Prajurit SMA
114. Buronan sudah ditemukan


__ADS_3

Ada berita khusus di TV untuk wilayah Soloraya tentang Nio yang kabur dari rumah sakit. Berita itu terlalu cepat tersebar hanya karena Suroso membuat status di media sosialnya mengenai Nio yang kabur dari rumah sakit. Hadiah yang ditawarkan bagi warga yang berhasil menemukan Nio cukup besar, sekitar 12 juta rupiah, termasuk bonus yang masih dirahasiakan.


Arunika yang duduk di bangku rumah sakit, terlihat ingin segera menghantam wajah adiknya yang masih belum ditemukan hingga malam ini. Sementara itu, seluruh polisi yang ada di kota-kota dalam wilayah Soloraya melakukan pencarian terhadap Nio. Dengan hadiah yang ditawarkan, tentu saja orang-orang akan bersungguh-sungguh mencari buronan tersebut. Tanpa poster, dan hanya berbekal foto yang disebarkan Suroso, orang-orang mulai mencari Nio demi uang 12 juta rupiah.


Arunika mengangkat kepalanya ketika Sigiz dan beberapa pengawalnya berdiri di depannya. Di luar rumah sakit, terparkir puluhan kuda dan sebuah kereta kuda yang tentu saja kendaraan yang digunakan rombongan Kerajaan yang bertujuan ingin menjenguk Nio. Hal itu menarik perhatian seluruh orang yang melintas di depan rumah sakit militer ini, dan mengambil foto kereta kuda yang jauh lebih mewah dari kereta kuda di keraton-keraton Jawa.


Sigiz menatap ‘kakaknya’ yang baik hati dan tersayang, kakak yang lebih muda 35 tahun darinya.


Pada saat Sigiz tiba di rumah sakit, TV menyiarkan berita pencarian seseorang yang bernama Nio. Itu adalah kesempatan yang dimiliki Sigiz untuk menunjukkan kebolehan orang-orang dunia lain dalam mencari seseorang dalam waktu singkat.


“Sepertinya kalian sangat kerepotan ya…?”


Arunika yang terkejut dengan kemampuan bahasa Indonesia Sigiz hanya bisa mengangguk, dan melanjutkan rencananya untuk menghajar Nio jika dia sudah tertangkap.


“Jangan tanya lagi, padahal seluruh polisi dan tentara Garnisun Karanganyar sudah dikerahkan. Tapi, orang itu masih belum juga ditemukan.”


Satu lagi, seluruh prajurit yang berada di Garnisun Karanganyar dikerahkan untuk mencari satu orang saja. Jumlah mereka sekitar 600 prajurit, dengan 5 helikopter serang sebagai pemantau udara, dan beberapa pesawat tanpa awak dengan tugas yang sama seperti helikopter serang.


Pihak yang dibawa Sigiz untuk menjenguk Nio adalah beberapa bangsawan yang sedang menempuh pendidikan di sekolah bahasa yang didirikan di Tanah Suci, jangan lupakan Lux dan Zariv juga dibawa Sigiz. Sementara Ivy, dia sedang melepas rindu dengan Liben di kantin markas pusat Pasukan Ekspedisi. Ilihiya hanya berminat pada teknologi militer Pasukan Ekspedisi, jadi dia berkeliling di gudang senjata di sana.


“Jangan khawatir, kakak. Kami akan membantu pasukan negara ini untuk mencari Tuan Nio.”


Sigiz tidak memberikan waktu Arunika untuk merespon nama panggilannya itu, Arunika hanya memegang kepala karena kini ada dua orang yang membuat kepalanya semakin pusing. Untuk saat ini Arunika belum tahu alasan Sigiz memanggilnya ‘kakak’.


“Yah, tidak semua pasukan negara ini dikerahkan hanya untuk mencari satu orang. Tapi kami sangat berterimakasih dengan bantuan anda, Ratu Sigiz.”


Suroso yang datang entah dari mana sedang berjalan mendekat ke rombongan Sigiz, dia dikawal 10 pasukan pengawal. Bangsawan yang dibawa Sigiz bergidik saat melihat tubuh tegap pengawal Presiden, meski tubuh mereka di tutupi jas dan tidak mengenakan zirah logam, tapi hanya dilihat dari luar mereka nampak lebih kuat dari yang terlihat.


Karyawan rumah sakit tidak bisa bekerja dengan biasa setelah kedatangan Suroso dan pengawalnya. Mereka juga ingin melihat wajah ratu dunia lain, dan mengomentari pakaian yang dikenakan para bangsawannya.


Setelah beberapa kali melakukan pertemuan dengan Suroso, Sigiz kini dapat lebih santai saat berbicara dengan pria itu. Saat kali pertama melakukan pertemuan dengan Presiden, Sigiz tidak bisa santai dan selalu bersikap gugup.


“Zariv, apa kau sudah menemukan aura Tuan Nio? Jangan sampai salah membedakan auranya dengan aura orang lain.”


Gadis berambut hitam dengan panjang sebahu itu memejamkan matanya, dan mencoba menemukan aura Nio seperti yang diperintahkan ratunya. Zariv sedang tidak berada dalam mode tentara bayarannya, tepatnya dia sudah menjadi salah satu bawahan Sigiz.


Dia sudah melihat kemampuan Zariv dalam hal mata-mata dan sabotase, dan untuk urusan menemukan aura seseorang adalah hal kecil bagi Zariv. Itulah yang menyebabkan Sigiz merekrut Zariv, dan menjadikannya pengawal dan tangan kanan jika Ivy dan Lux sedang bertugas.


Zariv merasakan jika ada beberapa orang yang memiliki aura dingin seperti yang dimiliki Nio, dan dia memilah semua itu untuk menemukan aura yang benar-benar milik Nio. Dia dapat melihat aura seseorang dalam radius 100 kilometer, jadi kemungkinan untuk menemukan Nio di area Soloraya cukup besar jika Zariv tidak salah menemukan aura milik Nio.


Bagi penyihir tingkat menengah seperti Zariv, membedakan aura seseorang adalah tugas yang melelahkan, apalagi melakukan tugas itu di dunia lain yang tidak memiliki sumber energi sihir. Tidak seperti Sigiz yang tubuhnya memiliki energi sihir hampir tak terbatas, penyihir tingkat menengah tidak memiliki fisik yang kuat untuk menampung energi sihir yang besar.


Sekitar 15 menit mencari dan memilah aura yang hampir sama dengan milik Nio, Zariv akhirnya menemukan keberadaan Nio.


“Dia bersama seorang perempuan, dan dengan napas yang memburu.”


Wajah Zariv dan Sigiz seketika memerah saat mendengar suara napas Nio dan seorang perempuan yang bersama pemuda itu. Napas mereka yang memburu, membuat mereka berdua menganggap jika Nio dan perempuan itu sedang melakukan sesuatu.


“Zariv, bawa aku ke tempat Tuan Nio berada.”


“Siap, Ratu!”


Tubuh semua orang menegang setelah Zariv dan Sigiz berubah menjadi asap hitam. Asap hitam tersebut salah satu efek dari semacam sihir ‘teleportasi’ jika penggunanya ingin segera mencapai tujuan atau target. Selain meninggalkan asap hitam, efek dari penggunaan sihir teleportasi salah satunya si pengguna meninggalkan bulu hitam seperti milik burung gagak.


Mereka yang bukan orang dunia lain mencoba tidak terkejut lagi dengan hal ini, karena Indonesia kini telah terhubung dengan dunia lain yang penuh dengan hal fantasi, termasuk keberadaan sihir.


**


Nio sedikit berdarah, tetapi luka itu tidak ada apa-apanya bagi Nio. Dia dan Indah telah mencapai lingkungan tempat tinggalnya dulu. Lingkungan inilah yang menjadi tempat tinggal Indah setelah keluar dari kota bawah tanah.


Indah terengah-engah setelah dipaksa berlari oleh Nio, dia yang tidak memiliki fisik kuat hampir tidak sanggup berlari untuk mencapai rumahnya. Nio menyadari jika dia telah membuat Indah sangat kelelahan, mereka berdua beristirahat di teras toko yang sudah lama di tutup.


Karena berlari adalah menu latihan sehari-hari Nio, berlari dari kejaran Kompi 406 adalah hal yang mudah baginya. Nio memiliki keuntungan dari gang yang sempit dan membuat kendaraan tidak muat untuk melaju di jalan gang. Jika mereka memutuskan berlari untuk mengejar Nio, tentu saja mereka sanga kesulitan karena membawa beban berat, senapan mereka memiliki berat sekitar 5 kilogram dan rompi memiliki berat sekitar 1 kilogram.


Sambil mengatur kembali napasnya, Indah berkata, “Kenapa kau berlari dari mereka? Padahal mereka cuma mau bantu kamu.”


“Heh? Mau membantuku? Memangnya siapa yang memanggil mereka?”


“Aku.”


Nio tidak bisa menjawab perkataan Indah setelah gadis itu menjawab dengan memasang wajah polos, seakan-akan yang dilakukannya adalah tindakan heroik.


Saat Nio melakukan perkelahian dengan geng pimpinan Baron, Indah sedang berjalan pulang dari tempat kerja paruh waktunya. Jalan yang sering dia lalui saat pulang memang gang yang menjadi tempat Nio berkelahi melawan anggota geng Baron. Tanpa berpikir, dia menyadari pemuda yang mengenakan kacamata dan sedang dikeroyok itu adalah Nio.


Saat itu kebetulan beberapa anggota Kompi 406 melakukan patroli di dekat lokasi perkelahian, dan beberapa Regu lainnya berpatroli tak jauh dari mereka. Indah memanggil mereka dan mencoba meminta agar Nio yang sedang dihadang puluhan preman diselamatkan. Saat mendengar nama Nio, salah satu prajurit melapor pada Rio untuk mengirimkan bantuan kepada Nio.


Seketika, setelah mendengar nama Nio, Rio membawa 3 Regu dan langsung menuju tempat Nio dan anggota geng Baron berada. Rio dan prajurit yang cukup dekat dengan Nio saat itu sangat ingin bertemu pemuda tersebut.

__ADS_1


Ya, itu adalah cara bagaimana beberapa anggota Kompi 406 mengetahui Nio dan membuat pemuda itu mengira jika mereka adalah bagian dari pasukan yang mencarinya.


“Aku kabur dari rumah sakit.”


Indah tersenyum kecut setelah mendengar jawaban Nio, dia berharap Nio memberikan jawaban yang cocok dengan pelariannya saat ini.


“Kenapa kau kabur?”


Indah melihat lengan jaket Nio yang terbang, dan memegangnya. Yang dia rasakan hanyalah kain, dan tidak ada bagian tubuh yang ditutupi lengan jaket itu. Mata Indah melebar dan tubuhnya gemetar setelah menyadari jika tangan kanan Nio tidak ada, dia menelan ludah karena merasa melakukan hal yang salah.


“Itu alasan kenapa aku kabur.”


Nio memaklumi reaksi Indah setelah memegang lengan jaketnya, dia hanya tersenyum kecil sambil bersandar pada tembok bangunan.


“Ma- maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu,” Indah benar-benar gugup dan badannya gemetar saat Nio hanya mengangguk, dan mengeluarkan ponsel dari saku celana untuk memeriksa waktu.


Hari ini sudah memasuki waktu malam, dan orang-orang mulai kembali dari pekerjaan masing-masing dan kembali ke kediaman masing-masing untuk beristirahat.


Indah tidak akan bertanya tentang kacamata yang dipakai Nio, dia tidak ingin dianggap perempuan yang banyak bertanya oleh Nio.


“Apa kamu mau istirahat di rumah ku?”


Melihat Nio yang nampak belum mandi berhari-hari, membuat Indah menawarkan hal itu kepada Nio. Tebakan Indah memang tidak salah, karena saat Nio masih tak sadarkan diri, dia tidak tersentuh air sama sekali.


Mata Nio bersinar, pemuda itu menganggap jika rumah Indah adalah tempat bersembunyi yang cukup aman. Karena area ini sangat jarang disentuh polisi yang melakukan tugas patroli, dan lingkungan yang cukup tidak aman adalah hal yang mambuat polisi dan tentara jarang berpatroli di area pinggiran kota. Meski tingkat kejahatan tak setinggi di kota-kota pinggiran yang ada di Indonesia, pinggiran kota Karanganyar masih terdapat beberapa kejahatan, yang paling sering adalah pencurian.


Indah memimpin Nio untuk menuju rumahnya sekarang, pemuda itu berjalan di belakang Indah dengan kepala ditutupi tudung jaket dan kepala menunduk. Dia berharap tidak ada orang yang mengenalnya, meski beberapa orang terdengar membicarakan Nio.


“Kenapa Nio kabur dari rumah sakit? Bukannya bagus dapat tangan buatan?”


“Hadiahnya juga lumayan sih, tapi kayaknya susah juga mencari si Nio.”


“Hadiahnya sudah cukup buat melunasi hutang nasi uduk Nio.”


Nio hanya tersenyum kecut setelah mendengar suara seorang ibu yang merupakan langganannya membeli nasi uduk, meski lebih sering berhutang. Dia berniat ingin membayarnya sekarang, tapi bisa saja perempuan itu justru menyerahkan Nio kepada rumah sakit supaya pemasangan tangan bioniknya cepat dilakukan.


Sesekali Indah menyapa sekelompok ibu-ibu yang sedang membicarakan sesuatu sambil menjaga dagangan mereka. Badan seorang pemuda di belakang Indah yang cukup tinggi, dan wajahnya yang ditutupi membuat para ibu-ibu penasaran dengan laki-laki yang dibawa Indah.


Nio melirik suasana pinggiran kota yang hampir hancur setelah bencana ledakan Gerbang, hanya ada rumah semi permanen yang merupakan bantuan pemerintah untuk warga pinggiran kota. Setidanya rumah semi permanen yang didapatkan para warga lebih layak dari rumah-rumah mereka sebelumnya.


Beberapa rumah yang terbuat dari terpal juga berdiri di area ini, dan dihuni oleh satu keluarga, dan rumah terpal yang lebih besar dihuni lebih dari satu keluarga.


Mereka berdua melanjutkan perjalanan, dan beberapa saat kemudian tiba di depan bangunan semi permanen yang dihuni beberapa keluarga. Bangunan ini sebenarnya bangunan tunggal, yang ruangannya dipisah menggunakan triplek.


Melihat tempat tinggal warga pinggiran kota sekarang, membuat Nio merasa jika kehidupan di barak lebih baik. Makanan dan minuman yang didapatkan terjamin, tapi entah dengan para warga pinggiran kota. Meski kamar mandi barak harus digunakan bersama, tapi itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali.


“Ayo masuk, memang tidak sebesar tempat tinggal di kota bawah tanah sih.”


Nio mengikuti Indah dari belakang untuk memasuki rumah gadis itu. Setelah lampu dihidupkan, Nio bisa melihat keadaan tempat ini. Meski Indah hidup sendiri, namun tempat tinggalnya sangat rapi dan terawat. Hanya ada beberapa barang yang belum Indah bereskan.


Nio duduk di ruang tamu tanpa meja dan kursi, yang juga menjadi kamar tidur Indah. Tidak ada hiburan apapun di sini, kecuali smartphone bekas milik Indah. Hanya itu, bahkan barak jauh lebih berisik daripada tempat tinggal ini.


Nio menyandarkan tubuhnya di pembatas yang terbuat dari triplek, dan bernapas lega setelah mendapatkan tempat persembunyian. Dia sama sekali tidak menyesal sudah kabur dari rumah sakit, tapi dia menyesal sudah menolak tangan pengganti yang didapatkannya. Tapi, meski dia tidak harus mengganti uang yang digunakan membuat tangan bionik tersebut, Nio tetap menganggap jika berkorban saja tidak akan mengganti semua yang diterimanya.


“Maaf, hanya ini yang aku punya.”


Indah membawa dua gelas yang berisi air putih dan beberapa minuman serbuk.


“Tidak apa-apa, seharusnya kau tidak perlu repot-repot begini.”


“Tidak merepotkan sama sekali kok, kita sudah lama tidak bertemu kan?”


Nio tersenyum kecil sambil menerima minuman yang sudah dibuatkan oleh Indah untuknya. Dia merasa jika gadis yang duduk bersila di depannya tidak banyak berubah, kecuali gaya rambutnya yang telah dipotong sebahu.


“Sekarang kau sedang bekerja atau lainnya?”


“Aku kerja paruh waktu di minimarket. Hasilnya lumayan buat makan sehari-hari.”


Nio merenung pekerjaannya menjadi tentara sekarang, dia memang tidak memiliki cita-cita menjadi prajurit. Dia berpikir seluruh pekerjaan sama melelahkannya, dan tidak ada yang bisa dicapai dengan mudah.


Nio melihat Indah yang sesekali mengambil lirikan ke arahnya, dengan wajah gadis itu sedikit memerah. Tapi, Nio tidak mengerti arti dari lirikan Indah dan menghabiskan minuman di gelas yang dia genggam.


Selain melirik wajah Nio, Indah juga melirik ke arah lengan jaket Nio yang terurai lemas di lantai. Hanya tangan kiri yang Nio gunakan, dan dia sama sekali tidak terganggu dengan keadaanya saat ini.


“Kenapa kamu kabur dari rumah sakit?”


“Yah…. Aku sudah berhutang banyak pada negara. Jadi aku tida mau menambah hutangku karena mereka ingin memberiku tangan pengganti.”

__ADS_1


“Bukannya itu bagus, mendapatkan tangan pengganti? Lagipula itu bukanlah hutang yang dibebankan padamu, itu adalah hadiah untukmu Nio…. Aku tahu, kau kehilangan tangan kanan karena melindungi duta besar kita untuk dunia lain kan?”


Nio sedikit menundukkan kepalanya, dan mendengus saat mengingat pertarungannya melawan Edera. Itu adalah pertarungan paling sulit yang pernah dia lalui, bahkan bertarung dengan pelatih tidak pernah sesulit itu.


Nio berpikir sejenak untuk menilai apakah yang dia lakukan sekarang tepat atau justru merepotkan banyak orang. Perasaan untuk terus melarikan diri tidak bisa Nio pertahankan, dia juga ingin mengambil kesempatan yang didapatkan, yakni tangan pengganti. Nio sebelumnya mengira jika keputusan untuk memberikannya tangan pengganti adalah keputusan yang terlalu cepat, seperti tidak dipikirkan dampak maupun hal lain karena pemberian tangan bionik padanya.


“Hei, Nio…. Sebenarnya aku masih menyimpan perasaan itu.”


Nio hampir tersedak setelah mendengar perkataan Indah, dia tidak menyangka jika pembicaraan langsung mengarah pada hal tersebut. Hatinya seketika terasa sesak setelah mengingat kepayahannya untuk urusan perempuan.


“Ya, bagaimanapun kau cinta pertamaku dari kalangan lawan jenis yang bukan saudaraku.”


Meski begitu, Nio merasa hatinya masih terasa sesak saat mengingat Indah bersama laki-laki lain karena dia terlambat menyatakan perasaannya.


“Eh…?”


Hanya itu reaksi yang diberikan Indah, tentu saja dengan wajah merah dan jantungnya berdetak cepat.


Nio tidak berpikir jika sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengatakan hal itu. Bahkan saat melihat reaksi Indah, Nio tidak yakin jika gadis itu percaya dengan yang dia katakan. ‘itu hanyalah gombalan biasa’ itu yang Nio pikirkan saat mengatakan hal itu.


“A-apa kita bisa mengulang sekali lagi? Saat kita berdua sama-sama saling menyukai?”


“Kalau kau bersedia, kita bisa mencobanya.”


Sekarang mereka berdua sama-sama merasa tenang setelah mengatakan hal yang sudah lama disimpan. Dan Nio sudah merasa senang setelah kesempatannya untuk mendapatkan lagi cinta pertamanya tiba sekali lagi.


Indah semakin mendekat ke tubuh Nio, dan pemuda itu melakukan hal yang sama. Setelah mereka berdua berhasil menyatakan perasaan, mereka berpikir pantas mendapatkan hal yang akan mereka lakukan.


Wajah mereka berdua semakin dekat, dan bisa merasakan napas masing-masing. Napas keduanya yang terasa panas, membuat wajah mereka memerah.


“!!!”


Indah terkejut saat Nio bersin saat hendak melakukan ciuman, dia terpaksa membatalkan niatnya untuk menyerahkan ciuman pertamanya pada Nio setelah pemuda itu bersin cukup keras.


“Maaf, sungguh. Aku tidak sengaja bersin, padahal kita mau melakukan itu.”


“Y-ya, kita bisa melakukannya lain kali.”


Nio benar-benar kesal dengan bersin yang tidak bisa dia tahan, dan tidak bisa melakukan hal yang paling dia ingin lakukan bersama ‘pacarnya’. Bahkan wajah Indah juga tidak bisa menyembunyikan rasa malu dan kesalnya dengan bersin Nio.


Gangguan itu membuat mereka kembali saling mendiamkan satu sama lain. Tidak ada kata yang diucapkan dari mereka berdua setelah Nio bersin saat hendak melakukan ciuman dengan Indah. Pemuda itu sangat mengutuk hal penyebab dirinya bersin.


“Eh, apa itu?”


Asap hitam muncul dan membentuk tubuh manusia secara perlahan, itu membuat mereka berdua terkejut. Secara perlahan, asap itu berubah menjadi dua sosok manusia dengan kelamin perempuan, dengan salah satu perempuan memiliki tubuh yang sangat sempurna, sampai-sampai sanggup membuat Indah iri.


Ini adalah fenomena fantasi, itu adalah yang dipirkan Indah saat melihat asap yang dapat berubah menjadi manusia. Gadis ini terus meyakinkan dirinya, dan menyuruh dirinya sendiri untuk terbiasa dengan hal berbau fantasi.


“Tuan Nio, akhirnya kami menemukanmu….”


Dengan senyum menyeringai yang terlihat kejam, Sigiz dan Zariv menahan tangan dan kaki Nio dengan sihir milik mereka berdua. Meski Nio memberontak sekuat yang ia bisa, hal itu hanya membuang tenaganya, dia merasa kaki dan tangannya diikat dengan sangat kuat.


“Tuan Nio, siapa perempuan ini?”


“Eh…. Dia, dia adalah-….”


“Kau bisa menjelaskan setelah selesai pemasangan tangan pengganti, Tuan Nio. Kecepatan sangat diperlukan sekarang.”


Tanpa memberikan Nio kesempatan untuk berpisah dengan Indah, Zariv mematuhi perintah Sigiz untuk kembali ke rumah sakit.


Sementara itu, Sigiz merasakan sesuatu di hatinya saat melihat Nio hampir melakukan ciuman, rasa itu hampir mirip dengan sakit hati.


Setelah berhasil ditemukan oleh Sigiz dan Zariv, Nio sudah tidak lagi menjadi buronan, dan pemberian tangan pengganti bisa segera dilakukan.


**


Kerajaan ini sepakat menjalin kerjasa bersama Kekaisaran Luan untuk memerangi pasukan hijau yang menguasai Tanah Suci. Pasukan negara ini didominasi dari ras monster yang lemah hingga berbahaya.


Kerajaan ini merupakan kerajaan yang menguasai sebuah benua, yang dikenal sebagai Benua Hayvan. Penduduk asli benua ini sebenarnya berasal dari ras Demihuman dan ras monster, dan mereka sebagian besar dipekerjakan menjadi prajurit yang memiliki daya tempur besar. Bisa dikatakan, pasukan negara ini memiliki jumlah terbanyak daripada negara lain.


Tetapi, Kerajaan ini tidak benar-benar menguasai seluruh Benua Hayvan, ada satu wilayah kecil di wilayah utara benua ini. Negara itu merupakan rumah bagi ras yang memiliki usia panjang, beberapa dari mereka bahkan hampir abadi, yakni Ras Telinga Panjang.


Namun, negara yang menjadi sekutu Kekaisaran Luan bukanlah negara tersebut, karena para Telinga Panjang hanya ahli dalam sihir alam dan pemanah. Kemampuan semacam itu tidak diperlukan Kekaisaran yang berambisi menghancurkan negara asal pasukan hijau itu.


Singkatnya, Kekaisaran telah membangun aliansi dengan kerajaan besar ini, dan siap untuk dikirmkan ke Kekaisaran Luan agar bisa segera menghancurkan pasukan hijau.


Sebenarnya ada satu negara yang sangat ingin Bogat dan pasukannya hancurkan, yakni negara baru yang dipimpin Sheyn. Dia menganggap jika anaknya sudah beralih menjadi penghianat, dan membentuk pasukan untuk menghancurkan Kekaisaran.

__ADS_1


Jadi, negara Yekirnovo juga menjadi target penyerangan pasukan aliansi yang dibentuk Bogat dan raja negara ini, selain Pasukan Ekspedisi dan negara asalnya.


__ADS_2