
Telinga kucing Edera, Huvu, dan kuping kelinci Ebal tiba-tiba bergerak, lalu wajah mereka menoleh dengan cepat ke tempat Nio bertarung melawan Pahlawan Amarah. Sigiz dan Hevaz membuka mata dengan lebar ketika mereka berdua merasakan aura yang dipancarkan Nio tiba-tiba melemah.
Korps lapis baja akhirnya mampu menekan pasukan utama musuh, dan seluruh pasukan akhirnya hampir selesai berurusan dengan Aliansi yang menghancurkan Benteng Girinhi. Artileri terus menembakkan proyektil yang di arahkan ke barisan pasukan utama Aliansi di perbatasan, namun dilindungi oleh Sihir Tameng kuat.
“Tuan Nio?!”
Hevaz dan Sigiz mencoba merasakan kembali aura dingin yang dipancarkan Nio, tetapi yang dirasakan tetap aura dingin dari prajurit lawan yang mati.
Nio terlihat berusaha kembali berdiri dengan lemah, seolah-olah telah mendapatkan hantaman kuat dari lawan.
Hevaz terbang cepat ke tempat Nio berada, lalu melihat Pahlawan Amarah mendekati Nio dengan tenang. Dia tidak menyerang Nio, namun Hevaz merasa harus tetap waspada pada si Pahlawan. Di sisi lain, Sigiz dan seluruh anggota Tim Ke-12 masih memiliki perasaan takut yang sangat besar terhadap Pahlawan Amarah, meski mereka telah menghabisi banyak tentara Aliansi.
Merasakan aura Nio masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan dari pria itu, Hevaz menggunakan energi magisnya yang telah menipis untuk melakukan komunikasi, menggunakan kemampuan telepati.
“Tuan! Tuan Nio! Kumohon bangunlah!”
Tapi, Nio tampak tidak merespon, dan tetap berusaha bangkit dengan wajah menderita.
Rio harus berhati-hati agar tidak membunuh Nio, tapi jika perlu dia diperbolehkan mematahkan satu atau dua tangan dan kaki Nio. Nio berdarah hebat di bagian kepala, dan dengan tubuh rentan berusaha berdiri. Itu bagus, Rio mungkin berhasil membuat Nio tak sadarkan diri beberapa menit lagi. Dia semakin mendekati Nio, dengan tetap menahan diri.
“Akhirnya,” pikiran Rio dipenuhi dengan sukacita. “Akhirnya aku bisa mengalahkanmu. Kita akan berjuang bersama-sama lagi. Jadi, mari kita mulai dengan mengambil otakmu, lalu mengisinya bahwa Aliansi adalah pihak yang seharusnya dilindungi…”
Para gadis dan seluruh anggota Tim Ke-12 menyaksikan dengan ekspresi ngeri saat Pahlawan Amarah mendekati Nio. Unit tank dan bantuan masih dalam usaha membereskan pasukan Aliansi yang keras kepala, dan masih akan melanjutkan dengan melawan pasukan musuh di perbatasan. Namun, jika terjadi pertempuran di antara Rio melawan Korps Tank dan Kompi Bantuan 002, yang terjadi adalah pembantaian sepihak.
Zefanya merasakan darah, terbukti dari wajahnya menunjukkan ekspresi getir. Rupanya dia telah menggigit bibirnya cukup kuat hingga kulitnya robek. Dia memiliki cara untuk membantu Nio, setelah pengalaman menghadapi Pahlawan Amarah di ibukota Kerajaan Arevelk. Tetapi Zefanya juga tahu jika semua orang akan berkembang sesuai situasi yang dihadapi.
“Apa tidak ada yang bisa kami lakukan?” ucap Hassan di dalam hati dengan ekspresi bingung luar biasa.
“Bangunlah Tuan Nio! Usaha untuk menjadikan Anda Pahlawan Harapan hampir selesai! Anda tidak perlu mati-matian berjuang dengan kemampuan biasa seperti itu lagi!”
Setelah Hevaz berteriak seperti itu, sebuah pekikan terdengar dari langit, membuat semua prajurit di dalam hutan menoleh ke atas.
Seluruh orang sebelumnya mengharapkan markas pusat mengirimkan bantuan, paling tidak sebuah batalyon infanteri. Pasukan penyelamat dengan kekuatan besar mungkin akan memancing Aliansi menyerbu, melewati perbatasan dan memicu pertempuran yang jauh lebih mematikan.
“Mohon maaf yang terdalam dari kami. Kami sama sekali tidak bermaksud datang terlambat.”
Kata-kata itu berasal dari Zariv, yang menunggangi seekor Naga Angin milik Sigiz. Di sekitarnya, terdapat puluhan prajurit penunggang Wyvern Arevelk dan Yekirnovo, berusaha tidak kalah gagah dengan capung dan naga besi milik angkatan udara sekutu dari dunia lain.
Dari atas, dia melihat sejumlah kavaleri senapan Aliansi menembaki bawahan Nio dan tentara Arevelk. Namun usaha lawan terhenti setelah ia memerintahkan naga jinak yang berhasil dikendalikan olehnya untuk membakar pasukan lawan dengan semburan api. mendengar perintah tulus dari bawahan pemiliknya, Naga Angin membuka kedua rahangnya, lalu menyemburkan api biru ke selurun prajurit lawan yang membahayakan.
“Dewa sialan!”
Seluruh tentara kavaleri senapan Aliansi meneriakkan kata-kata itu saat mereka akan terpanggang, lalu terdengar teriakkan memilukan saat api biru Naga Angin memanggang mereka. Dan setelah terbakar, yang tersisa hanyalah tubuh manusia dan kuda gosong yang mengenakan zirah logam membara merah akibat panas api yang disemburkan Naga Angin.
“Kita harus menyelesaikan pertempuran ini sekarang juga. Pertahankan wilayah ini sekuat tenaga, lemaskan otot-otot kalian untuk menghabisi Aliansi terkutuk!”
Kini terdengar teriakkan penuh semangat dari Lux, membuat seluruh pasukan kavaleri berat Arevelk bersorak.
Operator robot tempur hampir menganggap pasukan bantuan dari Persekutuan tersebut sebagai musuh, namun seorang prajurit kontingen Indonesia meneriakkan bahwa mereka merupakan kawan. Musuh yang sebenarnya adalah segerombolan monster raksasa lapis baja yang menghadang pergerakan para robot tempur untuk membantu pertempuran di dalam hutan, lalu menghancurkan pasukan Aliansi yang menunggu di perbatasan.
“Kita harus melakukan serangan artileri beruntun, jika perlu tembakkan semua rudal yang tersisa ke area tempat musuh berada…”
“Maaf, bukankah itu…”
“Apakah Anda berniat membombardir Tim Ke-12 juga?!”
Beberapa personel Kompi Bantuan 002 memotong perintah Kim Baek-ki secara tiba-tiba dan dengan wajah panik.
“Kupikir begitu, tapi aku ingat taktik ‘Ala Amerika’ yang Letnan Nio katakan. Dia menyarankan kita melakukan serangan menghujani musuh dengan sisa amunisi jika pertempuran dirasa hampir selesai. Kita akan melakukan serangan itu untuk membuat kesempatan bagi Tim Ke-12 dan batalyon tank … walau cara itu terlalu berisiko.”
__ADS_1
Mendengar perkataan tulus komandan mereka, seluruh operator artileri mengarahkan laras meriam ke arah barat, tempat musuh berada. Jangkauan artileri bisa mencapai ibukota Kekaisaran Luan, namun tak mengubah kemungkinan terjadi kesalahan dalam menembak sehingga peluru berdaya ledak tinggi jatuh ke area hutan, lalu membakarnya.
Helikopter serbu membabi-buta menembaki seluruh pasukan Aliansi di dalam hutan, dan seluruh tank mengikutinya. Peluru dan roket seluruh kendaraan tempur menembus armor logam prajurit lawan, dan serangan terus berlanjut tanpa hambatan. Seluruh prajurit bantuan terus menembaki infanteri berat Aliansi yang masih berkeliaran. Sementara itu, setiap peluru yang ditembakkan SP-1 dari kavaleri senapan Aliansi dibelokkan oleh armor baja kendaraan pengangkut dan tempur infanteri.
“Zefanya, tolong cari tempat untuk menembak dan bantu serangan.”
Perintah komandan pengganti membuat Zefanya seketika tersadar. Dia adalah penembak jitu Tim Ke-12, dan menyadari rencana Hassan tanpa pikir panjang. Selama usaha itu dapat menyelamatkan hidup Nio, gadis itu akan melakukan apapun dengan semangat.
“Kita harus menyerbu pengkhianat secara manual –“
“Sersan Mayor Hassan, apa kau pikir Pahlawan hanya musuh yang mengkhianati Indonesia? Dia sekarang musuh Persekutuan, kau tahu?!”
Ro Ga-eun memotong pembicaraan Hassan dengan tiba-tiba, membuat pria itu hampir menutup mulut prajurit perempuan muda Korea Utara tersebut.
“Kamu tidak berpikir tindakan kita akan membahayakan Letnan Nio, kan?” tanya Bima.
“Kupikir yang akan kita lakukan hanyalah memberi Letnan Kesempatan untuk bangkit. Dia pernah hampir mati untuk melindungi kita, aku tidak ingin dia menderita lagi tanpa perlu merelakan diriku kehilangan nyawa. Komandan memerintahkan kita untuk tetap hidup hingga perang selesai.”
Mendengar ucapan serius yang tulus dari Hassan, yang lebih mengarah pada seseorang yang hampir menangis, Hendra menyetujui usulan Hassan.
“Sialan, ternyata komandan dan si pengkhianat sama-sama merepotkannya,” kata Ratna dengan nada mengejek.
Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai, Rio akhirnya berbalik untuk menghadap ke bawahan Nio yang menghujani dirinya dengan tembakan otomatis penuh. Sebuah peluru dengan kaliber lebih besar dari proyektil 7,62mm yang ditembakkan SS20 seluruh personel Tim Ke-12 melesat ke arah kepala Rio, dan segera dihentikan oleh Sihir Tameng Pahlawan tersebut yang telah diperkuat. Setelah menghantam pelindung magis berwarna merah transparan tersebut, proyektil anti-material 12,7mm dari senapan penembak jitu meledak menjadi serpihan kecil.
Saat menyadari pengkhianat – panggilan resmi TNI untuk orang Indonesia yang berpihak pada musuh – bersiap melakukan serangan balasan, Hassan berteriak memerintahkan semua anggotanya menyebar, setiap anggota berjarak sekitar 10 hingga 16 meter.
Lengan bayangan di punggung Rio perlahan menghilang, setelah energi magis Rio terkuras saat mengeluarkan salah satu sihir barunya tersebut. Aliran energi magis di hutan tempat berlangsungnya pertempuran sangat lemah, dan membuat Rio lambat dalam mengisi kembali daya sihirnya.
Ketika Rio hampir menekan pelatuk senapannya, Hevaz dan Sigiz menghantamkan senjata masing-masing ke pelindung magis Pahlawan Amarah. Mereka melapisi diri dengan Sihir Tameng menggunakan sisa energi magis. Kekuatan luar biasa Hevaz meretakkan salah satu sisi pelindung, dan semakin menguatkan diri untuk melumpuhkan Rio.
Tangan kiri Rio diangkat, dan mengarahkan bagian telapaknya yang telah memunculkan lingkaran sihir ke Hevaz serta Sigiz yang tampak tersenyum yakin dapat menghancurkan Sihir Tameng-nya. Sebuah lembing cahaya di lesatkan dari lingkaran sihir di depan telapak tangannya, namun kedua gadis tersebut sudah selesai dengan urusannya.
Serangan Rio meleset, menumbangkan sebuah pohon setinggi enam puluh meter, dan membuatnya memasang wajah kesal.
Ketika itu terjadi, Sigit dan Ferdi mendekati pengkhianat dan menembakkan sejumlah perluru berdaya ledak ke arahnya. Mereka membidik bagian perut dan kepala Rio, dan jika keberuntungan berpihak peluru diharapkan menembus anu Pahlawan Amarah.
Mereka berdua kemudian berpindah tempat saat punggung Rio kembali mengeluarkan dua lengan bayangan. Dua prajurit elit TNI memang tidak sebanding dengan Pahlawan Amarah yang didukung oleh dua lengan tambahan, sehingga Ferdi dan Sigit tidak melepaskan tembakan beruntun yang boros.
Zefanya mengisi senapan penembak jitu dengan amunisi anti-material, menembak dari semak dalam jarak 100 meter dari Pahlawan Amarah, dan akhirnya lesatan 3.000 meter perdetik proyektil 12,7mm membuat Rio kehilangan konsentrasi dan melemahkan Sihir Tamengnya, yang berakibat peluru merusak pelindungnya. Gita dan Ika melepaskan beberapa tembakan, dan berhasil membuat kemajuan kecil dengan retaknya beberapa sisi Sihir Temeng yang melindungi pengkhianat.
Kemarahan Tim Ke-12 terhadap Pahlawan Amarah dan rasa haus darah semakin menjadi-jadi. Rio menggunakan sebagian energi magis untuk menambah jumlah lengan bayangan di punggungnya, hingga jumlahnya sama dengan anggota bawahan Nio.
Barista alias Hassan yang hanya berjarak 20 meter dari Rio dililit oleh salah satu tangan bayangan, dilemparkan dan menghantam Penulis atau Arif yang berusaha menyeret Nio.
“Kalian berdua!”
“Aku masih hidup, tenang saja.”
“Sama.”
Ratna merasa percuma mengkhawatirkan kedua rekannya tersebut, mereka sulit dibuat kalah karena pengaruh komandan mereka.
“Jangan lengah! Dia akan menyerang lagi!”
Pada saat Hassan memperingati rekan-rekannya, Rio telah mengunci sasaran padanya. Dia tidak punya waktu untuk menghindar. Barista menjadi takut dan wajahnya menunjukkan ekspresi marah. Tapi, tiba-tiba Pahlawan Amarah terkejut pada sesuatu, dan Peluru Abadi yang ditembakannya malah menghancurkan sebuah batu sebesar pria dewasa.
Zefanya mencegah Rio menembak wakil komandan Tim Ke-12, dan membuat lawannya menolah kearahnya dengan wajah marah.
“Kau masih utuh kan, Barista?”
__ADS_1
Hassan membalas pertanyaan tidak perlu dari ‘Mata Biru’ alias Zefanya, “Ya, aku berhutang nyawa padamu! Tapi, pindah tempat menembak sekarang. Jika penembak jitu penting tim terbunuh, aku tidak tahu apakah aku masih bisa menatap mata komandan.”
Lalu, terdengar suara komandan Kompi Bantuan 002 dari pengeras suara, “Salah satu artileri gagal ditembakkan dengan sempurna. Harap bersiap benturan, Tim Ke-12!”
Dampak ledakan dapat dihitung dalam satuan detik, dan tumbukan peluru meriam menghasilkan gelombang kejut dalam waktu 3 detik setelah pemberitahuan.
Seluruh orang berhasil berlindung di balik batang pohon besar yang kokoh, sebagian lagi dilapisi Sihir Tameng dari penyihir Arevelk.
Namun, tiba-tiba puluhan laser pembidik dari senapan serbu beberapa infanteri mengarah pada Rio, yang sekarang berdiri 6 meter dari Nio.
Ketika energi magis Pahlawan hampir habis, dia akan menjadi agak lemah dari sebelumnya. Dia tidak bisa merasakan serangan apa saja yang akan dilepaskan untuknya, namun dia telah memerintahkan bawahannya bergabung pada unit tempur di pertempuran utama. Sekarang, dia ingin pertempuran cepat berakhir, dengan perintah pada pasukannya untuk menyerbu secara besar-besaran pasukan Persekutuan. Mengambil Pahlawan Harapan adalah tujuan pertempuran ini, itulah sebabnya saat puluhan prajurit mengepungnya, Rio merasa dirinya terlambat.
Saat salah satu tangan bayangannya terulur untuk mengambil Nio, Nio tiba-tiba berdiri seolah-olah kembali normal setelah mengalami kematian singkat.
‘Mayat Hidup’ hampir bangkit sepenuhnya, dan sekarang berdiri di depannya Rio memerintahkan tangan-tangan bayangan di punggungnya untuk menjerat Nio.
Mata kiri Nio tidak mau terbuka sepenuhnya, membuat penglihatannya sangat buruk hanya dengan satu mata belum berfungsi secara normal. Nio merasa seluruh tubuhnya mati rasa dan lambat bereaksi, setiap usaha untuk bergerak membuat Nio harus mengeluarkan tenaga ekstra. Pandangannya masih kabur, dan berusaha melakukan apapun sangat membebaninya.
Nio berdiri dengan terhuyung-huyung, lalu memegangi kepalanya saat mendongak ketika menyadari langit di medan perang berubah menjadi kemerahan, akibat api pertempuran. Tampaknya, tangan kanan bioniknya mengalami kerusakan ringan, namun tetap dapat berguna untuk menenteng senapan.
Teriakkan banyak orang yang memintanya bangkit membuat Nio kembali sadar, tapi efek benturan masih sangat menyiksanya. Nio tidak mengerti kenapa dia masih hidup, dan dia tidak tahu apa yang terjadi sekarang.
Hanya dua hal yang masih bisa diketahui seluruh orang yang bertarung di hutan;
Tim Ke-12 berusaha melawan Pahlawan Amarah, Mayat Hidup yang sebelumnya hampir dikalahkan, dan kebangkitan Nio untuk melawan pengkhianat di depan matanya.
Tangan kirinya masih mati rasa untuk menyangga senapan, dan telunjuk logam tangan bioniknya mengalami masalah kecil, sulit untuk dikendalikan oleh otak Nio yang agak terganggu.
“Nio… bergabunglah bersamaku.”
Dia bisa mendengar bisikan halus dari Rio, di tengah medan perang ini. Suara Rio terdengar bersamaan dengan teriakkan memilukan prajurit yang menemui ajalnya, dan membuat keputusan Nio untuk mengalahkannya semakin kuat.
“Nio… berjuanglah denganku lagi.”
Wajah Nio menunjukkan ekspresi getir. Dia mengingat perjuangan bersama Rio, Jonathan, dan para siswa pelatihan militer saat perang belum lama dimulai. Rio mengatakan akan berjuang hingga perang benar-benar berakhir, bersama Nio dan seluruh temannya.
Sekarang, sangat mungkin bagi Rio untuk membunuh Nio, namun Rio tetap menahan diri demi terlaksananya tugas utama, yakni membawa Nio hidup-hidup. Bahkan jika dia berhasil membawa Nio dalam keadaan tak bernyawa, Aliansi akan mengadakan upacara untuk membangkitkannya dari kematian. Sebenarnya, lebih mudah membawa Nio dalam keadaan mati, namun Rio lebih memilih melihat perkembangan Nio hingga hari ini.
Membawa Nio dalam kondisi tanpa nyawa memudahkan Aliansi memberikan identitas baru baginya, dan memanfaatkannya sebagai senjata di masa depan.
Tapi, Nio bukanlah prajurit amatir lagi, dia tidak akan memaafkan kesalahan semua musuh Indonesia.
Dia sudah berdamai dengan banyak hal, namun tidak dengan apa yang telah pengkhianat di depannya lakukan selama perang ini.
“Nio… raih kemuliaan sebagai pahlawan bersamaku, ya?”
Kata-kata manis dari Rio menggelitik telinga Nio, tapi dia tidak termakan oleh rayuan lawannya.
Musuh hanyalah sekelompok dan seseorang menyedihkan yang akan melakukan segala cara untuk menang. Yang Aliansi lakukan hanyalah berteriak, bertarung, tanpa mempertimbangkan kekuatan lawan, lalu menangis karena menyesal.
Namun, para tentara Aliansi percaya bahwa lebih baik kehilangan nyawa daripada kehilangan tanah air.
Namun, di depan Rio adalah orang yang telah melihat banyak ratapan prajurit hantu, dan masih memiliki keinginan kuat untuk lanjut bertarung dengannya.
Nio dan Rio mengarahkan ujung laras senapan secara bersamaan, meletakkan jari telunjuk di pelatuk dalam waktu yang sama – dan membidik tempat yang sama.
“Ini perpisahan, sahabatku…” ucap Nio dengan nada lirih.
Mereka berdua tersenyum, lalu menarik pelatuk bersamaan – dengan banyak pasang mata menjadi saksi.
__ADS_1