
1 Juni 2321, pukul 10.42 WIB.
**
Merebut, adalah mengambil sesuatu dengan kekerasan atau dengan paksa. Bisa juga mengambil sesuatu dengan kekuatan senjata.
Salah satu cara untuk merebut kemerdekaan negeri ini dari penjajah menggunakan kekuatan senjata. Indonesia memberikan status pasukan dunia lain dengan sebutan ‘penjajah’. Beberapa kota penting Indonesia dikuasai oleh pasukan dunia lain.
Kompi 406 dan Kompi 32 sedang merencanakan sebuah operasi militer atas perintah pusat. Operasi militer yang akan mereka lakukan adalah merebut kembali Kecamatan Mojogedang dari kuasa pasukan dunia lain yang menguasai wilayah itu beberapa bulan terakhir.
Para prajurit sedang berlatih untuk menyiapkan diri untuk pertempuran yang hanya tinggal menghitung hari saja.
Terutama bagi Nio yang kembali memimpin Regu 3 Kompi 406 setelah beberapa bulan mengikuti pelatihan.
Untuk menghadapi pertempuran yang jauh lebih berat, para prajurit berlatih dengan semangat hingga berteriak.
Teriakan itu mengganggu orang-orang yang sedang melakukan pekerjaan terkait militer.
Menembak adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh prajurit. Meski beberapa dari mereka tidak perlu mahir dalam bidang ini, seperti pasukan medis yang berada di garis belakang untuk menolong prajurit yang terluka.
Namun tetap saja, menembak adalah sebuah kemampuan dasar seorang prajurit selain kemampuan fisik.
Penembak terbaik di pasukan ini adalah Tania, sudah jelas karena dia seorang penembak jitu dari Kompi 32.
Selain mahir menembak menggunakan senapan runduk dan jenis sniper, Tania juga mahir menggunakan senapan serbu. Meski berbadan cukup kecil, Tania banyak orang dewasa yang mengaguminya.
Terutama Nio yang sedang berlatih bersama dengannya, dia hanya bisa terkagum-kagum meski nilai yang mereka dapatkan terpaut tipis.
Satu lagi, Tania juga telah mendapatkan brevet sebagai tanda mahir menembak jitu. Sedangkan Nio mendapatkan brevet tanda mahir menembak pistol dan tanda mahir senapan serbu.
Itu artinya, pesaing terberat Tania adalah Nio itu sendiri.
“Sepertinya kemampuanmu meningkat,” ucap Nio setelah selesai berletih menembak menggunakan senapan serbunya.
“Kau juga, sepertinya pelatihan yang kau ikuti tidak sia-sia,” jawab Tania sambil menenteng senapan serbu yang sejenis dengan Nio.
Nio sambil sedikit tertawa berkata, “Ya, aku disana Cuma mendapatkan siksaan saja.”
Bersama prajurit lain yang sudah selesai berlatih menembak, Nio kemudian kembali ke kantin untuk makan siang.
Namun sebelum tiba di depan pintu kantin, Herlina menghadang jalan masuk Nio sambil menyilangkan tangan di depan dada.
“Ada apa?” ucap Nio dengan nada malas.
“Ikut aku,” jawab Herlina dengan wajah serius.
Nio mengikuti Herlina dari belakang dan berpikir jika ada hal yang harus ia tangani. Mereka berdua berjalan ke markas komando Kompi 406.
Saat tiba di ruangan kerja Herlina, Nio tidak langsung diijinkan untuk duduk. Herlina duduk di kursinya dan menatap tegas Nio yang berdiri dihadapannya.
“Nio, aku ingin bertanya,” ucap Herlina yang membuat Nio meneguk ludahnya.
__ADS_1
“A-apa?” jawab Nio dengan gugup.
“Apa kau tahu tentang Satuan Topografi?”
Nio memutar matanya dan mengingat kembali mengenai hal yang ditanyakan Herlina padanya.
“Satuan yang fungsi utamanya membuat peta tempur dan kepengurusan topografi. Kira-kira itu maknanya,” jawab Nio dengan penuh keyakinan jika jawabannya sangat tepat.
Herlina kemudian tersenyum yang membuat Nio semakin heran dan kembali tidak memahami dari senyum Herlina itu.
“ Sebagai persiapan operasi merebut kembali Kecamatan Mojogedang, aku ingin kau memimpin Regumu dan Regu 1 untuk mengintai pasukan musuh dan mencatat jumlah-…,” ucapan Herlina terhenti saat Nio mengangkat tangannya.
“Tunggu sebentar, aku perlu mencatatnya,” kata Nio sambil mengeluarkan buku catatan kecil dari saku seragamnya.
Setelah Nio siap dengan pena dan bukunya Herlina menyambung perkataannya, “Aku memerintahkanmu untuk memperkirakan jumlah musuh, lokasi markas utamanya dan kondisi para warga Kecamatan Mojogedang.”
Nio mencatat poin penting yang diucapkan Herlina sambil mengangguk-angguk dan bergumam sendiri.
“Hmm… hmmm… hmm… hmmmm…,”
Tidak ada pertanyaan lagi yang Nio katakan, karena perintah atasan mutlak dan tidak dapat dibantah. Kecuali jika perintah atasan mempertaruhkan jiwa kemanusiaan, seorang bawahan berhak untuk menolak perintah atasan.
Mengeksekusi dan menyerbu warga sipil adalah salah satu hal yang dilarang saat pertempuran.
“Siap, aku paham. Jadi kapan kami akan berangkat?” tanya Nio setelah memasukkan kembali buku catatannya kedalam saku seragam.
“Dua hari lagi, persiapkan semuanya hari ini. Pergilah ke bagian perlengkapan tempur untuk meminta perlengkapan yang kau inginkan,” kata Herlina sambil memberikan beberapa rekomendasi peralatan yang akan dibawa Nio.
“Siap…!”
“Satu lagi, kalian diijinkan bertempur jika diperlukan. Kalau tidak, kalian harus segera kembali dalam 5 hari.”
“Siap…!”
**
Nio sudah mengumpulkan seluruh anggota Regu 3 dan 1 yang sudah selesai makan siang. Tentu saja untuk memberikan arahan misi yang akan mereka laksanakan dua hari lagi.
Komandan Regu 1 sekarang adalah Sima, jadi itu tidak terlalu menyulitkan Nio untuk mengorgansir pasukan ini.
“Kapten memberikan misi pada kita, yaitu menjadi Kesatuan Topografi. Kita akan berangkat 2 hari lagi. Anggap saja misi ini sebagai menu latihan tambahan. Persiapkan semuanya dari sekarang, paham!?” ucap Nio dengan tegasnya.
“Siap, Paham…!” jawab serentak seluruh anggota yang akan menjadi Kesatuan Topografi.
Setelah memberikan beberapa arahan tambahan, Nio membubarkan barisan agar dapat melanjutkan latihan.
Saat kembali untuk melakukan latihan, beberapa prajurit terlihat bersemangat karena misi yang akan mereka laksanakan bisa dibilang cukup menantang.
“Sima, tunggu!” ucap Nio sebelum Sima menjauh darinya.
“Ada apa?”
__ADS_1
“Bisa tolong aku mengambil perelngkapan yang akan kita bawa ke Bagian Perlengkapan?”
“Tentu saja.”
Nio dan Sima berjalan menjauhi tempat latihan dan meninggalkan bawahan masing-masing.
Bagian Perlengkapan adalah kelompok yang mengembangkan dan merawat persenjataan milik Kompi 406 dan 32.
Nike dan Rika adalah bagian dari kelompok ini dan bertugas membantu merawat persenjataan. Mereka melakukan ini agar mendapatkan perlindungan dari pasukan yang menghuni kota bawah tanah.
Di garasi terparkir beberapa mobil lapis baja yang terpasang senapan mesin maupun rudal anti tank. Terdapat juga perlengkapan lainnya seperti dua drone, peluncur roket personil dan senapan cadangan bagi prajurit.
Nio membaca rekomendasi perlengkapan yang diberikan Herlina untuk dibawa.
Seorang penjaga tempat ini mendekati Nio dan Sima yang masih berdiskusi tentang perlengkapan yang akan dibawa.
“Ada yang bisa dibantu?” tanya penjaga tempat ini.
“Apa semua ini ada?” tanya Nio sambil menyerahkan lembar kertas yang berisi rekomendasi perlengkapan yang akan dibawa.
“Ya, semuanya ada. Tapi untuk drone masih dalam masa perbaikan. Perkiraan waktu selesai besok. apa tidak apa?”
“Tidak apa, lagipula kami baru akan berangkat dua hari lagi.”
Selesai mengecek perlengkapan Nio dan Sima kemudian kembali ke tempat latihan. Namun sepertinya mereka berdua terlalu lama untuk memeriksa perlengkapan.
Seluruh prajurit sudah selesai melakukan latihan tanpa adanya mereka berdua. Namun itu bukan masalah bagi Nio, karena tugas utamanya saat ini adalah mengawasi para prajurit yang berpangkat lebih lebih rendah darinya.
**
Nio kemudian memutuskan untuk kembali ke asrama setelah berlatih sendiri, yaitu berlari. Hanya olahraga itu yang bisa dia lakukan setelah berlatih.
Tapi sebelum kembali ke asrama, Nio terlebih dahulu ke pemandian untuk membersihkan diri.
Setelah membuka pintu asrama, Nio disambut oleh Arunika yang sedang menyiapkan makan malam.
Sambil tersenyum Arunika berkata, “Kalau sudah mandi, ayo makan.”
“Aku sudah mandi kok,” kata Nio sambil menunjukkan rambutnya yang masih terlihat basah.
Mereka berdua makan malam dengan sesekali bercanda. Lagipula itu hal yang sering mereka lakukan.
“Dua hari lagi aku ada misi,” ucap Nio sambil melahap tempe gorengnya.
“Lalu?” ucap Arunika dengan wajah masa bodoh.
“Kenapa kau tidak khawatir? Sebelumnya kau sampai menangis kalau aku keluar dari kota bawah tanah.”
“Ya, sekarang kau sudah menjadi bagian dari pasukan khusus. Jadi mengkhawatirkanmu mungkin akan sia-sia.”
“Jahat banget sih.”
__ADS_1