Prajurit SMA

Prajurit SMA
56. Nasi rendang dan hubungan baik


__ADS_3

13 Juni 2321, pukul 13.42 WIB.


**


Hingga siang ini, operasi perebutan wilayah yang dikuasai pasukan dunia lain masih diusahakan oleh pasukan TNI berbagai Satuan.


Pertempuran di darat, air dan udara masih berlangsung ditengah teriknya sinar matahari hari ini. Ledakan dan beberapa benda yang terbakar menambah panasnya siang saat ini.


Jet tempur dan helikopter tempur terus melakukan pengejaran terhadap kadal-kadal terbang beserta pawangnya yang berusaha kabur. Namun dengan roket dan artileri ringan, mereka dapat dengan mudahnya dilumpuhkan.


Peperangan di wilayah perairan tidak terlalu sengit, karena armada laut musuh yang jumlahnya ratusan dapat dihancurkan dengan ratusan KRI yang dimiliki TNI AL. Itu adalah penyebab 5 kapal induk tidak dapat terlibat penuh di pertempuran.


Pertempuran paling banyak dilakukan di darat.


Kata ‘pertempuran’ mungkin tidak cocok digunakan, lebih tepatnya adalah ‘pembantaian sepihak’. Alasannya karena pasukan dunia lain dapat dengan mudahnya dikalahkan dengan persenjataan yang sudah ditingkatkan.


Ada sangat banyak pasukan dunia lain yang menjadi korban atas kebodohan mereka sendiri. Jika dihitung, pemakaman yang diperlukan untuk mengubur pasukan dunia lain yang tewas sekitar 100 hektar. Itu belum termasuk untuk mengubur bangkai kadal terbang yang digunakan pasukan dunia lain.


Di beberapa wilayah RI, pasukan dunia lain yang mendapatkan kabar kalau rekan-rekan mereka di pasukan lain terbantai lebih memilih untuk mengibarkan bendera putih. Itulah sebab ada ribuan tempat yang dialihfungsikan sebagai lokasi menawan pasukan dunia lain.


Pasukan dunia lain yang tertawan merasa heran dengan pasukan yang menawan mereka. TNI tidak melakukan hal yang menyakitkan kepada mereka.


Karena TNI masih mematuhi hukum perang internasional yang tidak memperbolehkan untuk menyiksa tawanan perang, itu juga termasuk prajurit musuh. Tawanan harus diperlakukan dengan baik, dijamin keselamatan juga harus memenuhi hak-hak mereka.


Hak-hak yang harus dipenuhi TNI saat menawan pasukan musuh adalah kehormatan, agama, kesehatan, makanan dan minuman serta tidak boleh menyiksa. Prajurit medis TNI juga harus bersedia untuk merawat prajurit yang terluka.


Ini adalah kewajiban militer dunia ini, khususnya TNI. Mau tidak mau, terpaksa atu dengan senang hati, mereka harus merawat juga prajurit musuh setelah mengobati rekan-rekan mereka.


Namun pasukan dunia lain melakukan hal yang sangat berbanding terbalik. Mereka melakukan hal yang bersifat merampas kehormatan para wanita, menyiksa warga hingga jumlah yang sangat banyak dan merampas semua harta benda milik warga yang wilayahnya mereka kuasai.


Mungkin di dunia lain belum dibentuk yang namanya hukum perang internasional seperti di dunia ini. Karena itu pasukan dunia lain dapat melakukan hal yang mereka sukai saat menyerang wilayah Indonesia.


Namun semua itu berakhir saat TNI seluruh Satuan melakukan operasi militer yang bertujuan untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai pasukan dunia lain.


Operasi ini memang tidak sedikit pihak yang tidak menyetujuinya, namun mayoritas suara menyetujui jika TNI melakukan operasi ini.


Pihak yang tidak menyetujui jika TNI akan melakukan operasi merebut kembali wilayah yang dikuasai pasukan dunia lain, beralasan yang mungkin menguntungkan pasukan musuh. Karena persenjataan pasukan dunia lain yang sangat kalah canggih, mungkin yang terjadi adalah pembantaian dan bukannya pertempuran. Indonesia mungkin akan dipandang jelek oleh dunia ini, tapi sudah terlanjur banyak negara yang tidak menyukai Indonesia yang tumbuh sebagai negara adidaya.


Namun operasi tetap disetujui dengan ijin Presiden, tidak ada yang berani menantang keputusan ini.


Perang memang tidak berlangsung lama, jika dihitung sejak kemunculan Gerbang perang baru terjadi satu tahun lebih. Dan selama itu, pasukan dunia lain sudah melakukan kerusakan yang besar daripada saat perang merebut kemerdekaan Indonesia.


Itu adalah sebab operasi ini harus dilaksanakan, agar pasukan dunia lain tidak melakukan kerusakan yang lebih jauh lagi.


**


Sebelumnya, Surya memang sangat khawatir saat pasukan musuh terlambat tiba di pertahanan tim 1. Kemudian dia sangat lega setelah tim 2 berhasil menggiring pasukan musuh dan melakukan perlawanan dari dua sisi, dan menyebabkan pasukan musuh dikalahkan dengan bantuan pasukan sukarela.


Ini adalah siang pertama yang dilalui Sigiz dan pasukannya di dunia lain. Mereka merasa jika suasana di dunia lain tidak berbeda dengan dunia asalnya. Meski untuk beberapa hal ada yang membuat dunia lain dan dunia mereka terasa sangat berbeda.


Hal yang membedakan adalah fauna, flora bahasa, dan yang paling mencolok adalah teknologi militernya.


Meski wyvern dan naga adalah alat perang yang kuat, dengan semburan api temperatur tinggi dan kulit yang sangat keras, naga dan wyvern hampir mendekati tank terbang. Tapi kedua jenis hewan fantasi tersebut dapat dikalahkan dengan sebuah tongkat besar dengan panjang 150 cm, atau yang lebih umum disebut dengan peluncur roket personil.


Pasukan kerajaan Arevelk yang dibawa Sigiz memang belum tahu senjata yang dapat membunuh naga dan wyvern dengan sangat mudah, namun mereka lebih memilih untuk tidak mencari gara-gara.


Mereka sudah cukup takut dengan ledakan yang ditimbulkan dari tembakkan senapan serbu dan peledak. Apalagi mereka juga sempat bertemu dengan meriam yang dapat bergerak, atau lebih umum disebut dengan tank.


Meski pasukan penunggang naga yang dibawa Sigiz bisa selamat dari artileri penangkis rudal, itu memang bisa disebut dengan suatu keberuntungan. Apalagi keselamatan mereka dijamin oleh pasukan Kompi 406 dan 32, kurang beruntung apalagi mereka ini?.


Nio berani berkata jika keselamatan pasukan Sigiz dan Sigiz sendiri dijamin karena adanya Ivy, dia sudah tahu jika Ivy bukanlah orang yang melakukan kejahatan atau semacamnya. Apalagi mereka bedua sudah cukup sering bertemu sebelumnya.


Namun bukan berarti Nio dan pasukannya telah mempercayai penuh pasukan dunia lain yang dibawa Sigiz. Beberapa prajurit masih saling menatap dengan tatapan penuh waspada. Bahkan prajurit Kompi 406 dan 32 ada yang masih mengaktifkan senapan serbu mereka pada mode otomatis penuh.


**


Seluruh pasukan Kompi 406 dan Kompi 32 kembali ke kota bawah tanah. Pertempuran telah selesai dan seluruh pasukan dapat beristirahat setelah tiba di kota bawah tanah.


Pasukan pulang sambil menumpang di truk pengangkut, bergelantungan di kendaraan taktis. Tapi, tidak sedikit pula yanng lebih memilih untuk berjalan kaki hingga tiba di kota bawah tanah.


Namun, Herlina membentuk sebuah tim yang bertugas menjaga pasukan Sigiz yang belum kembali ke asal mereka. Lebih tepatnya, tim ini akan bertugas mengawasi pasukan milik Sigiz.

__ADS_1


Yang menjadi komandan tim ini tentu saja Nio, karena dia adalah orang yang sudah mengenal salah satu orang dunia lain, yakni Ivy. Apalagi Si ratu sendiri yang berkata ingin bertemu dengan Nio.


Meski dengan sedikit rasa terpaksa, prajurit yang tergabung di tim ini kemudian melaksanakan perintah komandan mereka.


Arista, Tania dan Rio termasuk anggota tim yang dipimpin Nio. Sedangkan Sima dan Jo kembali ke kota bawah tanah, itulah yang membuat keempat orang itu terlihat kesal, sampai-sampai Rio menendak roda kendaraan taktis.


Setelah seluruh pasukan kembali ke kota bawah tanah, tim yang bertugas memantau pasukan milik Sigiz langsung melaksanakan tugasnya.


Meski dengan pakaian loreng yang mulai berwarna gelap karena keringat, anggota tim ini berusaha mendirikan tenda menggunakan tenaga yang tersisa.


Ivy dan Sigiz kemudian mendekati Nio, sementara Ilhiya masih bermain-main dengan kucing yang ia temukan di tendanya.


“Kenapa kalian masih disini?” tanya Ivy yang mengatakan pertanyaan Sigiz yang diperitahkan untuk diterjemahkan nya.


“Untuk mengawasi dan melindungi kalian,” jawab Nio sambil mencatat inventaris Kompi yang digunakan timnya.


Ivy tidak menanyakan lebih dalam lagi, karena Nio masih terlihat kesal karena kejadian yang menyinggung keluarganya sebelumnya.


Sigiz masih merasakan aura dingin yang keluar dari diri Nio, itu membuatnya terlihat cemas.


“Oh ya, naga-naga kalian itu apa makanannya?” tanya Nio dengan wajah biasa.


Melihat Nio yang sudah bersikap biasa, Ivy dan Sigiz terlihat tenang.


“Yang ditunggangi pasukan kami bukanlah naga, tetapi wyvern. Tapi yang berwarna perak itu baru dapat disebut dengan naga,” jawab Ivy sambil menunjuk naga yang ditunggangi Sigiz sebelumnya.


Nio melihat sekilas kadal-kadal terbang tersebut sambil mencari perbedaannya.


“Apa bedanya?” tanya Nio setelah menyerah mencari perbedaan kedua hewan yang terlihat hampir sama itu.


“Wyvern berukuran lebih kecil dari naga, dan mereka hanya memiliki dua kaki. Sedangkan naga berukuran lebih besar dan memilki empat kaki. Naga milik Ratu Sigiz masih kecil, itu yang membuatnya terlihat hampir sama dengan wyvern milik pasukan kami,” jelas Ivy yang dibalas anggukan Nio yang terlihat sedang mencatat sesuatu.


Kemudian Ivy melanjutkan penjelasannya, “Lalu untuk makanannya, wyvern dan naga memiliki selera makan yang sama. Jika menggunakan istilah duniamu, mereka adalah binatang karnivora. Tapi sekali makan wyvern dan naga sanggup untuk tidak makan selama satu bulan.”


Setelah selesai mencatat penjelasan Ivy, Nio menyimpan lagi buku catatan kecil di kantong rompinya.


**


Setelah kembali dari sungai terdekat untuk membersihkan diri, pasukan tim ini kemudian membagikan ransum ke seluruh anggota. Termasuk pasukan Sigiz yang juga kebagian ransum nasi rendang.


Nio dan Arista sebagai perwakilan untuk memberikan bagian ransum mereka kepada Pasukan milik Sigiz. Nio menunjukkan wajah santai meski hatinya tidak begitu, sementara Arista terlihat gemetar saat berada didekat wyvern yang terlihat berbahaya jika dilihat dari dekat.


Nio menahan tawa saat melihat Arista yang badannya semakin gemetar saat pawang wyvern memberikan sepotong daging berukuran 5 kilogram, mulut wyvern yang terbuka lebar membuatnya ketakutan.


Ivy yang lagi-lagi bersama Sigiz keluar kemah untuk menemui Nio dan Arista.


“Mohon terima makanan dari kami,” ucap Nio sambil menyodorkan kotak berwarna hijau yang berisi ransum nasi rendang dan nasi ayam.


Ivy menerjemahkan perkataan Nio, seketika mata Sigiz terlihat berbinar setelah Ivy selesai menerjemahkan.


Sigiz kemudian berkata kepada Ivy agar diterjemahkan untuk Nio.


“Terimakasih, pasukan kami memang tidak membawa perbekalan yang cukup. Bagaimana cara kami untuk membayarnya?” kata Ivy yang menerjemahkan perkataan Sigiz.


Nio dan Arista hanya tersenyum saat mendengar kata ‘membayarnya’.


“Tidak perlu membayarnya, berbagi adalah tugas pasukan negara ini,” ucap Nio dengan wajah bangga yang membuat Arista terlihat heran.


Sigiz kemudian tersenyum kecil setelah Ivy menerjemahkan perkataan Nio, dia kemudian dengan cepat masuk kedalam kemahnya.


Sesaat kemudian dia keluar lagi, namun kali ini dia menggenggam sebuah kantong yang berbunyi gemerincing.


“Sudah kubilang kan, kalian tidak perlu membayarnya atau aku bakal dapat hukuman karena meminta bayaran setelah membagi makanan kami,” ucap Nio setelah Ivy menerjemahkan perkataan Sigiz yang memberikan sekantong koin emas kepada Nio.


Arista meyetujui perkataan Nio sambil mengangguk-angguk.


Dengan wajah murung, Sigiz menyimpan lagi uang tersebut. Dia kemudian memanggil beberapa prajuritnya untuk menerima makanan yang dibawa Nio dan Arista.


Tiga prajurit kemudian datang dengan cepat, namun dengan wajah curiga menerima dua kotak yang dibawa Nio dan Arista.


“Sepertinya mereka terlihat curiga terhadap kita, Komandan,” ucap Arista yang disetujui oleh Nio.

__ADS_1


Ivy memanggil Ilhiya yang masih bermain dengan kucingnya untuk makan bersama. Sambil menggendong kucing di pelukannya, Ilhiya ikut makan bersama Ivy dan Sigiz setelah mendapatkan makanan ransum dari pasukan tim yang bertugas mengawasi pasukan mereka.


“Apa makanan ini aman?” tanya Ivy.


“Tentu saja. Kalau aku berbohong, kalian dapat membunuhku,” jawab Nio dengan penuh keyakinan.


Tapi Arista tidak berani berkata seperti Nio, karena tidak ada yang tahu yang akan terjadi kedepannya.


Mereka bertiga kemudian hanya melihat-lihat bungkus ransum yang berwarna hijau dan terdapat tulisan berbahasa Indonesia.


Arista kemudian menyadari sesuatu, yaitu mereka tidak paham bagaimana cara membuka bungkus yang melindungi makanan didalamnya.


Arista kemudian meminta kembali bungkus ransum yang dipegang Ilhiya, kemudian meyobek bagian tepi plastik.


Saat dikeluarkan, masih terdapat banyak plastik berwarna perak yang membungkus makanan didalamnya. Menggunakan piring lipat yang terdapat di dalam bungkus ransum, Arista membuka satu persatu bungkus yang mengeluarkan nasi dan rendang ayam.


“Kalau mau dihangatkan, cukup direbus di air panas sebentar saja,” ucap Arista yang kemudian diterjemahkan oleh Ivy agar Sigiz mengerti.


Sigiz kemudian berkata perkataan yang sama seperti Arista, tapi dengan bahasa kerajaan Arevelk kepada pasukannya.


Pasukannya kemudian memasukkan begitu saja bungkus ransum kedalam panci besar yang sudah berisi air panas.


Nio dan Arista hanya tersenyum kecut melihat tingkah pasukan dunia lain milik Sigiz tersebut.


Seluruh anggota tim yang dipimpin Nio kemudian mendekati perkemahan pasukan Sigiz, tentunya sambil membawa makanan masing-masing. Jumlah mereka seluruhnya ada 30 orang, termasuk Nio dan Arista.


“Sepertinya kau sudah membuat hubungan baik dengan salah satu pasukan dunia lain,” ucap Rio sambil duduk di samping Nio.


“Memang itu tujuanku, supaya perang ini cepat berakhir,” jawab Nio sambil mengeluarkan satu persatu bungkus yang melindungi nasi dan rendang serta makanan dan minuman pendamping lainnya.


Sigiz menghimbau pasukannya untuk segera mengangkat ransum yang sudah direbus sedikit lama dari waktu seharusnya.


Setelah itu, satu persatu prajurit kerajaan Arevelk menerima satu bungkus ransum yang sudah lengkap dengan makanan dan minuman pendamping.


Untuk meyakinkan Sigiz dan pasukannya jika makanan yang dibagikan aman, Nio dan pasukannya memakannya terlebih dahulu. Sigiz meniru cara makan Nio, kemudian memasukkan nasi dan sepotong daging rendang kedalam mulutnya.


Suara orang yang merasa keenakan dengan makanan yang mereka makan terdengar, itu berasa dari pasukan Sigiz dan ketiga perempuan itu.


“Makanan macam apa ini?, kenapa ini sangat enak?” tanya Ivy sambil memasukkan lagi beberapa suap makanan.


“Ini nasi rendang dan nasi ayam,” jawab Nio sambil menyuapi dirinya sendiri dengan sabar. Tidak seperti pasukan Sigiz yang makan dengan tergesa-gesa saking enaknya makanan yang mereka terima.


**


Setelah makan, ada hal lain yang hampir terlupakan. Yaitu minuman pendamping yang masih terbungkus plastik perak.


Didalam plastik perak terdapat serbuk kopi dan jenis minuman lainnya yang disukai masyarakat Indonesia. Jika beruntung, prajurit dapat mendapatkan serbuk minuman berpersia wedang jahe.


Sigiz dan pasukannya sudah berkumpul bersama tim pengawas mereka. Sudah tidak terlihat kecurigaan dari kedua pasukan.


Nio dan anggota tim melakukan tutorial menyeduh minuman serbuk agar Sigiz dan pasukannya dapat meniru.


Serbuk minuman dituangkan ke gelas milik masing-masing prajurit, kemudian diseduh dengan air hangat atau air dingin bagi yang mendapatkan minuman serbuk berperisa jeruk.


Pasukan Sigiz kemudian melakukan hal yang sama, tetapi mereka menggunakan gelas kayu yang berukuran sedikit lebih besar.


Selesai melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan pasukan Nio, pasukan Sigiz mencoba sedikit minuman yang sudah mereka buat. Setelah itu, mereka dengan cepat meneguk minuman di gelas masing-masing dengan wajah merasakan enak yang belum mereka rasakan sebelumnya.


Tawa lepas terdengar dari pasukan dunia lain yang sudah selesai meminum minuman serbuk.


Kata-kata yang mereka ucapkan memang tidak dimengerti oleh tim pengawas, tetapi tim ini juga terlihat tertawa bersama pasukan Sigiz.


Mereka mengatakan perkataan yang hampir sama seperti, “Minuman apa ini?” “Ini rasa yang belum pernah kurasakan sebelumnya!”


Intinya, pasukan kerajaan Arevelk yang dibawa Sigiz telah merasakan hal yang belum mereka rasakan sebelumnya.


Melihat kedua pasukan yang terlihat tertawa lepas bersama, Nio sudah merasa yakin jika telah memulai hubungan baik dengan dunia lain.


Sementara itu, kedua pipi Sigiz terlihat sedikit memerah saat melihat Nio tertawa.


Didalam hatinya, Sigiz juga memikirkan hal yang sama seperti Nio. Yaitu telah membuka hubungan baik dengan dunia lain.

__ADS_1


__ADS_2