
Keesokan harinya, jam 9 pagi, di depan pembatas Gerbang yang berupa tembok beton setinggi 2 meter. Sinar matahari hari ini cukup hangat, namun hawa sejuk masih terasa. Nio berdiri diam, dengan ekspresi kosong di wajahnya.
Dia menggunakan PDU 1, tetapi mengingat iklim masih hangat di dunia ini, rasanya terlalu panas mengenakan pakaian ini. Namun di Indonesia dikabarkan sedang musm hujan, jadi dia tidak akan terlalu tersiksa karena mengenakan pakaian berlapis-lapis ini. Bisa saja dia melepas jas dan hanya mengenakan kemeja, namun dia terlalu malas untuk melakukannya.
Nio juga mengenakan masker berwarna hitam, untuk menutupi wajahnya yang terluka. Pejabat yang akan melihatnya mungkin akan tidak nyaman melihat luka jahitan di hidung Nio. Apalagi dengan beberapa luka sayatan kecil, mungkin Nio akan dianggap telah melewati pertarungan yang sengit.
“Maaf, kami terlambat.”
Semua orang-orang di mana-mana memiliki waktu untuk melakukan sesuatu, tapi dia tidak tahu bagaimana kebiasaan orang dunia lain mengenai waktu. Lagipula mereka tidak tahu apa itu jam, jadi mereka mungkin tidak punya kebiasaan tepat waktu. Nio menyeka keringat yang mengalir di dahinya, sambil di lihat orang-orang yang dia tunggu.
“Liben, Chandra, kalian terlalu lama!”
“Maaf Komandan, kami terlambat karena mereka.”
Berbeda dengan Nio yang mengenakan PDU, Liben dan Chandra mengenakan pakaian setelan rapi sipil dengan jas hitam.
Tidak ada yang bilang kalau Lux sudah ada di markas, Nio melihat gadis itu membawa pedang di pinggangnya. Alasan Lux dikirimkan kesini adalah untuk mengawal Sigiz yang akan pergi ke Indonesia, dan sebagai perwakilan penduduk dunia lain.
Namun, Chandra berhasil memaksa Lux untuk memasukkan pedangnya kedalam koper. Sigiz menatap Nio dengan pandangan panjang dan intens, sementara Edera berpakaian sederhana mengikuti mereka, tentu saja.
Lux tidak menyukai prosedur yang mengharuskan pedang miliknya disembunyikan kedalam koper, jadi dia terus mencibir dan terus mengeluarkan suara protes dengan wajah dinginnya. Nio terpaksa memutar otaknya untuk menemukan alasan agar Lux mau menerima peraturan ini.
“Mau bagaimana lagi, kalau pedangmu tidak disembunyikan setelah melewati Gerbang, kau akan dianggap melanggar peraturan kepemilikan senjata tajam dan senjata api. Lalu, polisi akan menangkapmu. Polisi dan militer akhir-akhir ini berjaga di sekitar Gerbang dengan ketat. Sebenarnya kau harus meninggalkan pedangmu kalau mau ikut dengan kami.”
“Dan bagaimana aku bisa melindungi Ratu?”
“Itu sebabnya aku bilang, kau harus menanggung ini sebentar.”
Untuk Lux, dia tidak punya pilihan lain jika ingin pergi ke dunia di balik Gerbang.
Nio, prajurit yang paham dengan bahasa lokal dan melewati beberapa pertempuran dengan kekaisaran, bukan satu-satunya yang dipanggil pemerintah. Pemuda ini harus membawa beberapa penduduk lokal maupun saksi untuk menghadiri Pertemuan Nasional.
Kehadiran Edera bisa dibilang cukup penting, karena dia mengatakan melihat Bogat menyatakan perang dengan TNI. Sigiz ‘terpaksa’ diajak karena dia kini sudah cukup fasih berbahasa Indonesia. Lux hanyalah pihak tambahan yang tidak termasuk ke dalam perwakilan orang dunia lain, jadi Jendral mememinta Nio untuk memantaunya. Sucipto bahkan mengatakan kepada Nio secara pribadi jika setelah Pertemuan Nasional, sebagai bayaran atas pekerjaannya, Jendral ini sudah mengatur supaya Nio bisa bersenang-senang dan bersantai di Indonesia sebelum kembali ke markas Pasukan Ekspedisi.
Edera akan ikut karena akan menjadi bukti hidup bahwa dunia lain berisi makhuk lain selain manusia. Keberadaanya akan menjawab banyak pertanyaan media, itu akan berdampak besar bagi Indonesia sendiri.
Bagaimana dengan Sigiz dan Lux? Mereka terlihat seperti perempuan muda yang sedang ber-cosplay. Meskipun yang mereka kenakan adalah pakaian untuk mendatangi pertemuan resmi.
Selain itu, keberadaan Liben dan Chandra untuk penjaga penduduk dunia lain ini.
“Oke, ayo berangkat.”
Tepat setelah Nio mengatakan ini, sebuah mobil melaju di depan Nio dan berhenti didepannya.
Gio turun dari kursi pengemudi dan mengangkat tangan untuk memberi salam.
“Maaf, maaf, ternyata ada satu orang lagi yang akan ikut.”
Di dalam hati Nio menggerutu, “Apa yang dilakukan orang ini!?”. Lalu Gio membuka pintu penumpang di bagian belakang mobil, dan meminta seseorang untuk turun.
“Gadis ini mengatakan kalau dia penyihir milik guru Yang Mulia Sigiz. Dia akan menemani Ratu ketika di Indonesia, tolong urus dia juga.”
Nio hanya bisa pasrah dan membiarkan Ivy bersama Sigiz dan Lux. Dia tidak ingin waktu keberangkatan semakin terlambat.
“Aku tahu kau pasti kesal. Bagaimanapun, Ratu akan menjadi salah satu perantara penting antara pemerintah kita dengan Indonesia, jadi biarkan dia dan bawahannya untuk mempelajari pemerintahan kita.”
“Lalu, kenapa aku tidak diberi uang yang cukup jika ada tambahan orang?”
“Hal itu bukan masalah sekarang.”
Gio mendekati Nio dan berbicara lembut kepadanya sambil memasukkan amplop putih yang tebal ke saku Nio.
Dengan perintah Jendral Sucipto, uang yang diterima Nio harus cukup untuk ‘mengurus’ orang-orang yang ikut bersamanya.
**
Setelah melawati batas yang disebut sebagai ‘Gerbang’, orang-orang dunia lain melihat deretan menara yang menggores langit. Terutama Lux, dia berpikir apa yang dipikirkan pasukan Kekaisaran saat pertama kali menginjakkan kaki disini.
Orang-orang harus khawatir bahwa Kekaisaran telah menyatakan perang dengan negara yang membangun bangunan luar biasa seperti ini.
Lagipula, gedung-gedung di Kota Karanganyar tidak memiliki lebih dari 50 meter. Jika dipikir-pikir, sebagian besar bangunan tinggi di Indonesia terdapat di kota-kota besar seperti Jakarta dan Ibukota.
Menurut Lux, benteng dengan tinggi 8 meter sudah merupakan bangunan menakjubkan yang pernah dia lihat. Sehingga, saat ia melihat bangunan dengat tinggi lebih dari 30 meter, Lux akan melihat dengan tatapan bodoh dan kagum.
Dari sudut pandang Ssigiz, pembangunan sebuah ibukota harus direncanakan sehingga harus ada bangunan yang menakjubkan di tengahnya. Namun, kota di ‘dunia lain’ berbeda. Sigiz melihat hampir semua gedung adalah bangunan pencakar langit besar.
Saat di dalam mobil, hati Sigiz dan pengikutnya masih merasa terguncang, meski sudah pernah mengunjungi wilayah ini sebelumnya.
Tentu saja bukan hanya mereka yang terguncang, tetapi Edera menatap dengan mata terbuka lebar, dan tidak menyadari jika gerimis kecil membasahi kaca bagian luar mobil.
“Anda pasti Peltu Nio, Serma Liben dan Serda Chandra.”
“Ya, itu kami”
Orang yang menjemput mereka adalah pihak TNI yang belum lama menyelesaikan pendidikan menjadi anggota Kopassus. Liben dan Chandra bisa merasakan jika pria ini penuh dengan tekanan, tetapi bagi Nio, orang ini tidak ada bedanya dengan pelatihnya dulu.
Namun, orang ini penuh dengan atribut tokoh antagonis, dimana pria ini terlalu sering menujukkan senyum liciknya ketika menemui Nio. Tatapannya juga terlalu tajam dengan prajurit di depannya.
“Anda tahu, Panglima memerintahkan saya untuk membaca latar belakang anda.”
“Kuharap hal yang jelek tidak disebutkan.”
“Tidak mengerjakan soal matematika saat ujian pengetahuan umum untuk menjadi Pasukan Pelajar Khusus, namun mendapatkan nilai sempurna di ujian psikologi. Hampir tidak lulus, dan pada akhirnya lulus karena satu siswa malah jatuh sakit.”
Pria yang belum disebutkan namanya ini membolak-balik buku catatannya. Dia terus membacakan pekerjaan Nio menjadi prajurit, dan hanya sedikit dia membacakan prestasi yang dimiliki Nio.
“Jadi, kenapa orang yang tidak bisa matematika sepertimu bisa menjadi salah satu Pasukan Khusus?”
Nio selalu tidak menyukai orang yang menyinggung dirinya yang tidak pandai dalam pelajaran matematika. Nio berpikir jika dirinya lebih baik membenturkan kepala di tembok dari pada mengerjakan 40 soal essay matematika.
Tatapan penuh pertanyaan dari belakang Nio ditunjukkan oleh Chandra dan Liben, seperti melihat orang yang bisa lompat kelas meski kebodohannya tidak bisa ditolerir.
Yang di katakan Letnan Bagus bukanlah lelucon, mereka berdua seakan-akan ingin mengutuk dunia ini karena tidak menyangka dengan posisi sebenarnya Nio.
Dari mata mereka bedua, Nio bahkan tidak memperlihatkan tanda-tanda pernah mengikuti pelatihan sekeras Kopassus itu. Itu tidak mengherankan, karena Nio bisa mengikuti pelatihan dengan ‘santai’ tanpa berpikir berlebihan.
Nio menepuk bahu kedua bawahannya itu, tapi mereka berdua nampak tidak bisa menerima kenyataan ini. Nio mencoba menghibur mereka, tetapi Liben dan Chandra sama sekali tidak bergerak.
“Saya benar-benar mengagumi anda, prestasi anda tidak main-main meski beberapa orang meragukan.”
Bagus menegakkan tubuhnya dan menjabat tangan pemuda di depannya. Nio juga merasa jika pria di depannya juga bukan pria biasa.
Sekali lagi, Chandra dan Liben tidak bisa menyangkal kenyataan. Mereka memancarkan aura kesuraman dan keputusasaan. Untungnya, kendaraan penjemput telah tiba, bus ini terlihat cukup besar untuk ditumpangi tujuh orang.
__ADS_1
Para perempuan berebut ingin duduk di samping Nio, agar tidak terkontaminasi aura kesengsaraan yang dikeluarkan Liben dan Chandra.
Pengemudi yang merupakan bawahan Bagus bertanya tujuan pertama kelompok ini.
“Bawa kami ke toko yang menjual jas, kita tidak bisa membiarkan tamu kita memakai pakaian seperti ini.”
Edera dan Lux membutuhkan pakaian yang pantas sebelum berangkat menuju Jakarta. Secara umum, T-shirt dan rok biasa tidak pantas untuk dipakai saat pertemuan resmi.
Karena tidak ada anggota perempuan yang dibawa Nio, dan kedua anggotanya hampir menderita gangguan mental, Nio menangani tugas memilihkan pakaian bagi mereka. Jika Dinda maupun Triana di sini, mereka pasti akan menghentikan Nio untuk melakukan sesuatu yang bodoh mengenai pakaian perwakilan dunia lain ini.
Sopir lalu memberi tahu Bagus tentang tujuan pertama, lalu mengemudikan bus ke tujuan.
Dareah seluas 5 km yang mengeliling Gerbang adalah wilayah yang kini berada di bawah wewenang TNI. kini orang-orang lebih mengenal Garnisun Karanganyar setelah insiden penyerangan beberapa waktu lalu. Jadi, daerah ini kini menjadi daerah terlarang bagi sipil.
Setelah insiden penyerangan, Kota Karanganyar semakin banyak yang mengenalnya. Berbagai hal dilakukan agar orang-orang mengunjungi Karanganyar, terutama tempat wisatanya. Orang-orang juga bisa melihat Gerbang dari atas gedung dengan bantuan teropong khusus.
Kini, Karanganyar sudah tidak terlihat seperti tempat yang telah menjadi medan perang.
Ada toko-toko yang belum buka setelah insiden tersebut, dan beberapa toko ditutup secara permanen. Pemilik toko-toko yang ditutup secara permanen adalah korban tewas setelah penyerangan beberapa bulan yang lalu. Toko-toko lain kehilangan karyawan karena peperangan, lalu terpaksa gulung tikar.
Meski begitu, masih ada banyak orang yang ingin mengembalikan Karanganyar ke kejayaannya.
Bus berhenti di sebuah toko pakaian yang cukup besar, dan barang dagangan yang terlihat premium.
Seorang pramuniaga menghampiri Nio, lalu pemuda ini menyerahkan Lux dan Edera padanya agar bisa mendapatkan pakaian resmi untuk pertemuan resmi pula. Yang terpenting, pakaian itu memiliki harga yang termurah, lalu gadis pramuniaga membawa Lux dan Edera ke deretan pakaian resmi berharga murah.
Lagipula Nio tidak perlu memikirkan tagihannya, karena untuk beberapa hal dia bisa mengirimkan tagihan ke Markas Pusat Pasukan Ekspedisi.
“Ratu Sigiz dan Ivy, kalian ingin memakai pakaian resmi juga?”
Keduanya kemudian menggeleng, meskipun ada banyak pakaian yang sangat cocok bila dikenakan kedua gadis ini.
“Tidak, ini adalah pakaian resmi kerajaan, jadi terimakasih atas tawarannya.”
Ivy menjawab, “Tidak perlu.” Tidak seperti Sigiz, dia tampak benar-benar tidak tertarik dengan pakaian baru.
Sigiz berkeliling di deretan pakaian wanita, dan melihat pakaian yang dikenakan pada boneka torso. Tapi dia hanya tertarik pada kain yang digunakan untuk membuat pakaian.
Pakaian yang dikenakan Sigiz terbuat dari bahan yang menyerupai sutera, dan ditenun oleh pengrajin berkualitas tinggi, dan dirancang untuk dikenakan di pesta dan pertemuan penting negara.
Chandra memegang sebuah koper panjang yang berisi pedang milik Lux, dia bersama Liben berjaga di pintu masuk toko untuk memastikan tidak ada bahaya yang mendekati perwakilan dunia lain.
Namun, satu bahaya yang tidak bisa dikendalikan oleh mereka berdua datang, dan bahaya itu adalah kakak Nio.
“Nio….~”
Aura yang mencekam dapat dirasakan Nio, meski dia tidak memiliki kemampuan sihir seperti Sigiz dan Ivy. Dia dapat merasakan orang yang mengeluarkan aura penuh dengan nafsu pembunuh ini. Perlahan-lahan Nio berbalik untuk menatap kakaknya.
“Kakak, ke-kenapa kau tidak menunggu untuk dijemput?”
“Halah, kau pasti tidak ingin aku ikut dan berangkat begitu saja kan?”
Nio hanya menunjukkan senyum kecut, dan bersikap agar kakaknya bisa luluh dan memaafkannya, meski itu harus membuat dompetnya pendarahan. Walau begitu, prioritas utamanya adalah ingin menemui kakaknya.
Namun, saat tatapan Arunika dan Sigiz bertemu, Nio merasakan jika mereka berdua akan berkelahi meski keduanya terlihat tenang.
“Selamat siang, kakak….”
Nio tidak bisa bernapas untuk beberapa detik setelah Sigiz mengatakan perkataan itu, sudah pasti Sigiz sengaja menyapa Arunika.
Badan Nio digoyang-goyangkan dengan keras oleh Liben, sementara Chandra meminta agar Arunika diperiksa, karena terlihat mengganggu kenyamanan Sigiz.
“Aku masih punya urusan dengan si Ratu yang mungkin punya hubungan dengan adikku ini.”
Mendengar kata ‘adik’ dari Arunika, Chandra dan Liben paham jika Nio adalah saudara perempuan ini. Lalu, mereka berdua membiarkan Arunika untuk berbicara dengan Sigiz, dan yang bertanggung jawab adalah Nio.
Sesaat kemudian, dua gadis muda keluar dari ruang ganti dan mengenakan pakaian formal untuk pertemuan resmi. Lux dan Edera mengenakan jenis pakaian yang sama seperti yang dikenakan Liben dan Chandra, namun itu khusus untuk perempuan.
“A-ayo kita makan dulu sebelum berangkat pada jam 12, dan kita harus tiba di Jakarta pukul 5 sore.”
“Apa sempat, jarak sini ke Jakarta ratusan kilometer loh?”
“Dari yang aku tahu, jalan tol ditutup. Dan pengemudi bus pastinya akan mengemudi dengan kecepatan tinggi. Jadi kita mungkin akan sedikit terlambat.”
“Lalu, ke mana kita akan pergi makan?”
Nio hanya menyeringai, dan memberi pengarah arah.
**
“Tunggu, kenapa kita memilih mi ayam?”
Liben menggerutu, tapi dia melakukan ini untuk alasan yang pas. Mereka sudah mengawal tamu dari dunia lain, tidak bisakah mereka menghibur tamu mereka dengan sesuatu yang lebih baik?
Tentu saja untuk urusan makanan akan ditanggung TNI, itu mengapa Nio tidak ingin membebankan tempatnya bekerja dan malah memilih makan di restoran mahal. Lagipula, harga makanan di Karanganyar dan di Jakarta perbandingannya cukup jauh. Dimana mi ayam yang di jual di Karanganyar lengkap dengan es teh nya, rata-rata seharga 7.000-10.000 rupiah. Sementara di Jakarta, rata-rata harganya berkisar antara 12.000-20.000 rupiah.
“Kita akan berlibur sebelum kembali. Makanya anggaran makan masing-masing orang untuk sehari hanya sekitar 30.000 rupiah . Apa kau ingin mabes TNI terbebani hanya karena kita membawa para tamu makan di restoran mahal?”
Yah, mungkin bisa saja harga segelas es teh di restoran besar bisa mencapai 20.000 rupiah, dan harga makanannya lebih dari 80.000 rupiah. Bakso maupun mi ayam sama-sama seharga 7.000 rupiah hingga 12.000 rupiah, dengan segelas es teh seharga 2.000 rupiah.
Saat mereka mendebatkan anggaran makan, Arunika sudah menghabiskan semangkuk mi ayam yang dilengkapi dengan 3 buah bakso, dan meminum habis es teh nya.
Sigiz dan yang lainnya memakan makanan itu dengan garpu dengan wajah senang. Untuk orang dunia lain yang baru merasakan makanan seperti ini, ini adalah pengalaman tambahan bagi mereka.
“Tapi apa tidak apa-apa untuk Ratu Sigiz makan mi ayam?”
“Dia di sini untuk belajar tentang kita kan? Karena itu, kenapa tidak membiarkan dia merasakan apa yang warga biasa makan?”
Sigiz dengan hati-hati menggulung mi dengan garpu sebelum memasukkannya ke dalam mulut. Dia dan Ivy sudah berkali-kali makan nasi, tapi mereka baru pertama kali memakan mi ayam lengkap dengan sambal dan kecap dan tambahan 3 buah bakso.
“Ivy, apa bisa koki istana kita memasak makanan seenak ini?”
**
Mereka menunggu di ruang tunggu dengan penjagaan lima orang prajurit Tentara Pelajar. Tidak ada konsumsi tambahan saat Pertemuan Nasional, kecuali beberapa botol air mineral.
Arunika adalah tamu tambahan yang termasuk kedalam tamu VIP, jadi dia tidak perlu menghadiri acara yang dihadiri adiknya. Dia sekarang berada di hotel yang akan digunakan mereka nanti untuk menginap setelah melaksanakan Pertemuan Nasional.
Pertemuan ini dihadiri semua Kementerian, dan yang paling menunggu adalah Kementerian Pertahanan dan Kementerian Luar Negeri. Selain itu, beberapa pemimpin daerah dan tokoh-tokoh negara juga diundang pada pertemuan ini.
Kehadiran tamu dari dunia lain mungkin bisa menyebabkan banyak masalah jika langsung diumukan ke publik. Begitu pemerintah membuka rencana diplomatik dengan negara-negara di dunia lain, militer jelas akan langsung berpendapat.
Pembicaraan diplomatik, terutama yang dikhususkan untuk membereskan konflik militer, akan membutuhkan pihak militer untuk membuat keputusan itu. Namun, pihak yang memprotes tindakan militer di dunia lain bisa memilih untuk mengabaikannya.
__ADS_1
Pemerintah Indonesia tidak bermaksud membatasi pergerakan TNI pada kegiatan diplomasi. Untuk menghindari campur tangan pihak luar, maka pemerintah memutuskan untuk menolak perwakilan yang berasal dari pemerintah musuh, yakni Kekaisaran Luan.
Namun, Edera menjadi pengecualian, karena dia hanya warga biasa yang kini belum jelas kewarganegaraannya. Sementara Sigiz, dia adalah pemimpin negara yang melakukan perjalanan di Indonesia untuk mempelajari pemerintahan negara ini.
Pemerintah akan sangat terbuka dengan Pertemuan ini, terutama masalah tawanan perang dari pihak Kekaisaran setelah insiden penyerangan Karanganyar.
**
Hampir seluruh saluran TV yang ada di negara ini berkumpul untuk meliput Pertemuan Nasional, bahkan saluran TV yang memiliki pemirsa rendah.
Berita utama yang dilihat di TV publik adalah ‘Kedatangan tamu dari dunia lain’, dan dalam sekejap jumlah pemirsa meroket di seluruh saluran TV.
Nio, Liben dan Chandra tidak terlalu banyak diperlihatkan. Sementara para kameraman tertuju pada gadis-gadis ini. Namun, Chandra yang sedang membawa koper panjang adalah pertanyaan seluruh reporter.
“Pembantu Letnan Satu Nio, saya akan bertanya untuk yang pertama. Saya ingin bertanya, berapa korban di pihak sipil saat penyerangan ibukota Kekaisaran?”
Salah satu anggota dewan memiliki pertanyaan yang cukup sensitif, dimana jutaan rakyat akan mengetahui jika Pasukan Ekspedisi melakukan penyerangan dengan negeri di dunia lain. Yang ditekankan adalah korban pada pihak sipil.
“Saudara Nio, silahkan menjawab.”
Ketua DPR memanggil namanya, dan Nio melakukan perintahnya dengan wajah datar.
Karena Nio mengenakan PDU nya, dia terlihat tidak seperti biasanya, mungkin karena dia terlihat mengenakan masker, jadi dia terlihat lebih tampan.
“Saudara Nio, bisa anda buka masker yang anda kenakan?”
Nio terpaksa melaksanakan perintah anggota dewan yang mengajukan pertanyaan padanya. Setelah dia melepas masker yang dia kenakan, seluruh orang bergumam tentang bekas luka yang ada di wajah Nio. Kamera mengeluarkan suara yang menandakan jika foto Nio sedang diambil tanpa seijinnya.
Nio berdiri tegak di mimbar yang disediakan, dan sorot kamera terpusat kepadanya. Yah, meski dalam keadaan seperti apapun, pemuda ini akan menjawan dengan nada biasa.
“Saya tidak tahu jumlah pastinya. Tapi saya adalah prajurit yang bertanggung jawab atas siaran perintah evakuasi terhadap warga sipil. Setidaknya saya sudah memperingatkan mereka untuk mengevakuasi diri. Jadi jika ada korban di pihak sipil, saya benar-benar berberla sungkawa.”
Jawaban tak terduga itu membuat anggota dewan tersebut terdiam. Pemuda seperti Nio terkenal di media sebagai ‘salah satu pahlawan’. Namun, Nio masihlah seorang warga negara yang membutuhkan pembelaan diri.
“Apa anda tidak merasa bertanggung jawab sama sekali!? Apa anda benar-benar bisa menggunakan bahasa dunia lain saat anda mengatakan sudah melakukan perintah evakuasi?”
Liben dan Chandra terlihat geram dengan anggota dewan perempuan itu, seakan-akan dia ingin memojokkan Pasukan Ekspedisi dengan menyalahkan Nio yang terpasuk bagian pasukan itu. Secara bersamaan, mereka berdua ingin menyatakan kesaksian.
“Maaf jika saya menyela. Tapi yang dikatakan Peltu Nio adalah fakta yang tak terbantahkan. Dia benar-benar fasih berbicara bahasa dunia lain.”
“Heh, apa anda bisa membuktikannya, Peltu Nio?”
Tidak ada yang percaya dengan Nio yang dikatakan bisa berbahasa dunia lain dengan lancar. Beberapa anggota dewan menggumamkan hal itu, namun para tamu ingin melihat mulut mereka yang meremehkan Nio terbuka lebar setelah Nio berbicara menggunakan bahasa dunia lain.
Saat Nio hendak berbicara, seluruh orang memasang pendengaran mereka agar tidak salah mendengar. Ada beberapa ahli bahasa juga dihadirkan disini, jadi mereka bisa mengoreksi perkataan Nio.
“Eseid e ngwar, menk zork’ery Indonesia, denwer nachalo ataka ka udobstva kaysrut’yun. Menk iskapes krrvel hamapataskhan zakon mezhdunarodnyy, (ini adalah peringatan, kami pasukan Indonesia akan memulai serangan terhadap fasilitas Kekaisaran. Kami benar-benar akan bertempur sesuai hukum perang internasional)”
Anggota dewan yang mendesak Nio untuk berbicara menggunakan bahasa dunia lain, dia kini berwajah pucat. Sementara orang-orang lain, sebagai respon setelah Nio berbicara menggunakan bahasa dunia lain, mereka semua bertepuk tangan dengan meriah.
Seluruh orang yang melihat siaran langsung dari TV mereka, seketika bergidik dan kagum dengan orang yang mampu berbicara menggunakan bahasa dunia lain. Banyak komentar di media sosial mengenai siaran langsung seorang prajurit yang bisa berbahsa dunia lain dengan lancar.
“Saya siap untuk pertanyaan selanjutnya.”
“Ti-tidak ada, silahkan kembali ke tempat anda.”
Nio sedikit terengah-engah, dia hampir melupakan beberapa kata di perkataannya tadi. Kedua bawahannya mengacungkan kedua jempol mereka.
Nio menganggap jika anggota dewan yang hadir akan bersikap ‘nakal’ terhadapnya dan para tamu dari dunia lain.
Anggota dewan yang memberikan pertanyaan kepada Nio menghela napas, setelah berhasil dibungkam oleh seorang remaja. Lalu, dia memutuskan untuk bertanya dengan para tamu.
Orang yang dipanggil adalah Edera, dengan Nio sebagai penerjemah. Setelah berdiri di depan mimbar, Nio menyuruh Edera untuk memperkenalkan diri.
“Sa-saya Edera, manusia setengah kucing yang diselamatkan pasukan Tuan Nio.”
Ekspresi Edera saat berbicara hampir mendekati ‘ketakutan’, badannya menggigil hingga hampir ingin menangis. Nio merasa bersalah sudah melibatkannya pada masalah ini.
Pakaian yang dikenakan Edera adalah jas hitam yang didapatkan di toko sebelumnya, hasil dari pramuniaga memilih secara acak setelah yang cocok untuk gadis ini. Namun, karena fisik Edera hampir sama dengan siswa SMA, sekarang memiliki aura seperti seorang mahasiswa karena pakaian yang ia kenakan.
“Mohon maaf sebelumnya, ini pertanyaan yang mungkin agak kasar. Tapi, apa telingamu nyata?’
Setelah mendengar terjemahan Nio, wajah Edera menunjukkan kebingungan. Nio berkata kepada Edera jika orang-orang ini penasaran dengan penampilannya yang berbeda, yang dimaksud disini adalah bagian telinganya.
“Y-ya, telinga ini nyata….”
Dengan sedikit tersenyum, Edera memperlihatkan telinga kucingnya. Dia berhasil memenangkan hati orang-orang dengan ekspresinya yang lucu. Saat ini, kamera-kamera mengambil banyak gambar Edera yang membuat gadis ini tidak nyaman.
Pertanyaan yang Edera terima selanjutnya adalah mengenai deklarasi perang yang dilakukan Kaisar Bogat.
“Ya, saya mendengar sendiri Kaisar menyatakan perang terhadap negara ini. Itu tepat setelah Tuan Nio menghajar panglima hingga sekarat.”
Nio menerjemahkan perkataan Edera secara jujur, meski pada bagian akhirnya hati Nio merasa sesak. Seluruh petinggi militer yang hadir, dan mendengar perkataan Edera yang sudah diterjemahkan, tidak tahu apa yang dilakukan si panglima Kekaisaran hingga dihajar oleh Nio sampai hampir sekarat.
Nio tidak bisa berbohong saat menerjemahkan, karena di beberapa titik telah dipasangi alat pendeteksi kebohongan. Jika Nio sengaja salah mengartikan perkataan yang dikatakan para tamu yang tidak bisa berbahasa Indonesia, itu adalah akhir dari kehidupan Nio menjadi prajurit.
Saat ini, beberapa anggota dewan tertuju pada pesona seorang perempuan yang nampak dewasa. Pakaian yang dikenakan Sigiz terlihat mewah dan memperlihatkan jika dia benar-benar seorang ratu dari salah satu negara di dunia lain.
Saat berjalan untuk menjawab pertanyaan, Sigiz memancarkan pesona feminim yang setara dengan perempuan dewasa. Kebanyakan pria disini sudah memiliki pasangan, namun mereka terpikat oleh kecantikannya. Dia secantik kristal yang dipahat, dan Sigiz akan terlihat seperti itu hingga usia ratusan tahun lamanya. Itulah kutukan yang diterima keluarga Kerajaan, yakni ‘setengah abadi’.
Sigiz adalah wanita yang sempurna dan cantik, dia memancarkan aura kesempurnaan yang setiap wanita akan berusaha mendapatkannya.
“Apa anda ratu dari negara yang melakukan perjanjian perdamaian dengan kami?”
“Ya, itu benar. Jika hubungan kedua belah pihak harmonis, saya ingin bersektu dengan Indonesia.”
“Apa anda mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan pertempuran yang dilakukan pasukan kami di sana?”
“Hampir setiap saat, pasukan ini melakukan pertempuran. Dan yang paling membuat saya terkesan, adalah saat pasukan negara ini mengalahkan dua raja naga dengan mudah.”
Jawaban seperti itu membuat anggota dewan yang mengajukan pertanyaa diam. Seluruh orang pasti menginginkan jawaban yang ‘nyata’, dan tidak mengarah pada pertempuran melawan hewan fantasi.
Raja naga api memiliki kulit sekeras baja tank tempur medium, sehingga bisa disebut jika hewan ini seperti tank terbang. Jadi, untuk ukuran teknologi pasukan di dunia lain, bisa mengalahkan dua raja naga adalah hal yang mustahil, namun pasukan hijau bisa melakukannya seperti membunuh wyvern.
Setelah itu, tidak ada lagi politisi yang mengajukan pertanyaan terhadap para tamu dan perwakilan Pasukan Ekspedisi Dunia Lain.
Sesi tanya jawab bagi anggota dewan sudah berakhir, tetapi ada banyak orang yang memiliki perasaan dengan pertanyaan mereka yang belum diajukan.
Setelah itu, para tamu undangan yang bukan berasal dari kalangan politisi mengajukan pertanyaan mereka. Tujuan mereka mengajukan pertanyaan adalah mencari tahu tentang kehidupan dan budaya di dunia lain.
Bagaimanapun, Nio adalah orang yang pernah menghajar orang penting di Kekaisaran, jadi tidak ada seorangpun yang berani bertanya padanya. Tidak ada hal lain yang didapatkan Nio selain pujian karena keberaniannya menghajar panglima Kekaisaran dan menyelamatkan korban yang diculik musuh.
Sebelum sesi benar-benar berakhir, seluruh orang berterimakasih dengan Pasukan Ekspedisi yang berhasil menemukan sebagian korban hilang, serta berdoa bersama agar warga negara yang belum ditemukan masih dalam kondisi selamat.
__ADS_1
**
Funfact#2: Seluruh anggota Regu penjelajah 1 belum mengetahui jika Nio anggota Pasukan Pelajar Khusus, kecuali Liben dan Chandra. Sementara Keempat gadis menganggap Nio sebagai kesatria yang kuat.