Prajurit SMA

Prajurit SMA
Berbagai macam luka


__ADS_3

Siaran TV nasional melaporkan tentang situasi di garis terdepan perang, alias dunia lain, dan apa saja yang terjadi saat hari itu. Seorang pria reporter menyampaikan bahwa pasukan gabungan Arevelk dan Yekirnovo, ditambah bantuan seorang prajurit TNI, berhasil mengalahkan pasukan pemberontak yang memiliki tujuan memisahkan Arevelk dari Persekutuan, dan menguasai negeri tersebut untuk bergabung bersama Aliansi.


Sedikitnya korban di pihak kawan, bagaimana cara prajurit TNI tersebut membantu Arevelk menangani pemberontak, dan kemenangan yang diraih diharapkan meningkatkan kepercayaan rakyat jika perang ini bukanlah ajang untuk ‘menghabiskan’ anggaran secara sia-sia.


Arunika mengangkat kepalanya ketika rekaman kondisi pasukan di dunia lain diputar. Hanya bangunan dan kendaraan tempur pasukan di sana, dan prajurit kelima kontingen yang sedang berlatih bersama yang terekam, tanpa adanya tanda-tanda Nio di sana. Sudah hampir setengah bulan dia tidak mendapatkan surat dari Nio.


Tidak adanya Gerbang sempurna membuat mereka berdua tidak bisa bertukar kabar secara langsung, sehingga terpaksa mengandalkan media tulis seperti surat dan tenaga kurir.


Poster-poster yang penuh simbol nasional dan kata-kata patriotisme kini terlihat semakin banyak, terutama poster yang memperlihatkan bahwa militer membuka perekrutan prajurit baru. Entah apa yang terjadi, namun hati Arunika merasa tidak nyaman dengan adanya perekrutan prajurit baru itu.


Yang menarik perhatian adalah ilustrasi dua buah tangan di atas dan bawah, dengan tangan di atas membentuk simbol pistol dan tangan yang dibawah sedang menengadah.


[Kemuliaan NKRI dan Sang Merah Putih tidak akan ada tanpa perjuangan penuh kerelaan para pemuda!], begitulah kata-kata yang menghiasi ilustrasi dua tangan tersebut. Masih ada beberapa poster dengan ilustrasi dan kata-kata yang penuh pesan propaganda.


Didirikan dengan terburu-buru selama masa perang, Tentara Republik Indonesia Pelajar tidak sebaik satuan TNI lainnya yang jauh lebih terlatih dalam pertempuran. Hal itu sama dengan ironi, namun tidak sedikit pemuda 17 tahun hingga 29 tahun yang rela mempertahankan tanah air dengan risiko kehilangan nyawa sangat besar, atau tidak bertemu orang tersayang meski berhasli memenangkan perang.


Warga sipil tidak meragukan keaslian berita yang menunjukkan kemenangan para tentara terhadap musuh, walau banyak kabar burung di dalamnya. Namun, mereka tidak peduli berapa banyak nyawa dan darah yang terbuang demi hal tersebut. Mereka hanya akan menerima dengan senyum dan tangan terbuka para pejuang jika membawakan kemenangan, dan akan bersikap mengerikan jika para prajurit gagal mengalahkan musuh.


Banyaknya korban pada insiden tertutupnya Gerbang sempurna yang mengawali penyerangan besar pertama Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi TNI dianggap kegagalan terburuk negara, namun ‘tidak ada’ yang disalahkan dalam peristiwa tersebut.


Ada banyak orang yang secara optimis mempercayai bahwa para prajurit dapat mengalahkan musuh dengan cepat dan mudah seiring berkembangnya teknologi persenjataan. Hal yang agak tidak realistis itu telah disiarkan berkali-kali sejak perang dimulai.


Wajah Nio yang menyembunyikan kepahitan prajurit terbayang di pikiran Arunika.


Tapi, perkataan kakek tercintanya membuat suasana hatinya yang sebelumnya mendung bertambah parah. Beberapa murid perempuannya yang menyapanya dengan nada ramah tidak mampu membuat perasaan Arunika membaik.

__ADS_1


Dia belum melihat Nio sejak pengiriman pasukan baru ke dunia lain. Nio tersayangnya yang dia yakini berjuang seperti ksatria dalam dongeng.


Jika militer mengijinkan keluarga prajurit untuk memasuki Gerbang tak sempurna untuk mengunjungi pasukan di dunia lain, sebenarnya tidak mustahil hal tersebut dilakukan. Namun, demi mencegah kerahasiaan penting hingga paling sepele bocor, sampai saat ini kesempatan tersebut belum juga terealisasikan.


“Hmmm?”


Arunika merasakan getaran pada ponsel pintarnya, dan terdapat notifikasi pesan dari Nio. Dia percaya jika pria itu mengirimkan pesan dengan isi yang diharapkan. Tetapi, dia hanya membeku saat membaca pesan yang dikirimkan Nio.


Jari-jarinya bergetar, matanya menunjukkan ekspresi terkejut yang sama sekali tidak disembunyikan. Dia tahu, Nio tidak akan mengirimkan pesan seperti yang sedang dia baca saat ini,


“Apa yang salah?”


“Pesan ini bukan dari Nio, kan?”


Pada saat yang bersamaan, liputan berita di TV nasional beralih ke terlukanya prajurit yang membantu Arevelk menangani pemberontak bersama Kerajaan Yekirnovo. Perang yang dipenuhi kejutan tidak bisa membuat siapapun tenang. Medan perang yang bernama ‘dunia lain’ bukanlah dunia fantasi yang dipenuhi kedamaian, seperti yang diharapkan para ‘otaku’ di seluruh dunia.


**


Pusat Kesehatan dan Perawatan Prajurit jarang didatangi orang, karena prajurit dilatih untuk jarang jatuh sakit, kecuali cedera saat bertugas. Yang menempati kamar inap atau pemeriksaan biasanya warga sipil Arevelk dan Yekirnovo, serta tawanan perang.


Suara ledakan peluru berdaya besar membangunkan Nio dari tidur siangnya, namun dia tidak bisa kemana-mana.


Luka bakar derajat 2 membuat Nio harus menjalani operasi, dan efeknya membuat pria tersebut tak sadarkan diri selama beberapa hari. Saat tak sadarkan diri, ingatannya saat bertempur sebagai prajurit amatir diputar kembali, termasuk kenangan buruk salah satu pertempuran terberatnya.


Sudah lebih dari setengah tahun sejak dia dikirim ke medan perang sebagai bagian dari kontingen Indonesia untuk Pasukan Perdamaian dan Persekutuan. Dia sudah terbiasa dengan rasa sakit – sebelumnya dia sangat membencinya – setelah melalui berbagai pertarungan.

__ADS_1


Berbagai macam rasa sakit sudah Nio rasakan, termasuk kawan yang berpihak kepada musuh. Luka fisik yang ia derita dapat hilang seiring berjalannya waktu, namun luka mental yang didapatkan dari pengkhianatan membutuhkan usaha dan pengorbanan untuk mengobatinya.


Seakan-akan sudah terbiasa dengan berbagai jenis luka, dia tidak berekspresi apapun saat melihat pantulan wajahnya yang tertutupi perban dari kaca jendela ruangannya dirawat. Satu-satunya hal yang bisa ia khawatirkan saat ini adalah keadaan para bawahannya.


Tapi, ada sejumlah bekas tinjuan di beberapa sisi tembok, dan kaca yang retak. Dengan berbagai luka yang ia dapatkan hingga detik ini, tidak mungkin Nio tetap mempertahankan kesabaran dan kewarasannya. Dia bahkan tidak bisa menangis.


Hanya wajah datar penuh ratapan di dalam hati yang ada pada diri Nio sekarang, tetapi dia harus tidak selalu meratapi nasib buruk yang menimpanya.


Pemberontak telah dibasmi, dan seharusnya saat ini Nio berada di Benteng Girinhi bersama para bawahannya. Namun, dia saat ini tidak berdaya, diam di kamar rawat, meratapi kekurangannya – yang tidak lebih dari tindakan prajurit lemah. Dia mungkin sudah terbiasa berperang, tetapi dia tetaplah prajurit remaja seperti siswa SMA. Mentalnya belum sepenuhnya seperti prajurit elit TNI, meski untuk beberapa aspek dia melebihi personel pasukan khusus. Sebuah keajaiban dia masih hidup setelah sebagian tubuhnya terpanggang.


Di medan perang, prajurit yang mati sudah menjadi hukum alam. Rakyat, pemerintah, yang memerintahkan para prajurit untuk bertarung dan mati dengan rela, sementara mereka berlindung di kota bawah tanah dan dilindungi sistem pertahanan yang menghalangi para prajurit untuk mundur.


Ketika memutuskan mendaftar sebagai prajurit TRIP, Nio tahu jika dia diperintahkan mati dengan ikhlas demi tanah air, dan karena itu dia terbiasa dengan ancaman kematian tanpa henti yang tetap ada hingga perang berakhir.


Hal itu merupakan fakta menyakitkan yang tidak ada pilihan lain bagi prajurit selain menerimanya.


Di ingatan saat pingsan, Nio melihat unit pertamanya hampir dimusnahkan. Saat awal-awal pertempuran dimulai, tidak ada apapun yang yang dia ingat, kecuali tubuh tanpa nyawa, aroma bubuk mesiu, dan genangan darah busuk. Dia berhasil melalui berbagai pertempuran berat, dan berakhir selamat. Nio hanya menerima kode nama ‘Mayat Hidup’ yang didapatkannya, karena seharusnya begitu.


Meskipun pikirannya saat ini hanya dipenuhi kata-kata dan membayangkan bagaimana jika dia mati lebih cepat, dia memutuskan untuk hidup lebih lama untuk terus bertugas sebagai pelayan rakyat, dan pelindung seseorang.


Nio melihat wajah mengerikannya di pantulan kaca, dia tahu tidak ada cara untuk mengembalikan keadaanya seperti semula.


“Aku ingin segera pulang, sialan!”


**

__ADS_1



Ilustrasi terkini Nio, aku menggambarnya sendiri dengan pose mengambil dari pinterest.


__ADS_2