
12 Juni 2321, pukul 14.11 WIB.
**
Operasi masal untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai pasukan dunia lain dimulai. Setelah komando tertinggi TNI memberikan perintah untuk menyebarkan pasukan di wilayah yang dikuasai musuh, operasi militer terbesar yang dilakukan militer Indonesia pada abad ini dimulai.
Seluruh pasukan dengan percaya diri mulai berangkat ke wilayah yang dikuasai pasukan dunia lain. Dengan senjata dan peralatan baru mereka semakin percaya diri untuk mendapatkan kemenangan.
Ratusan kapal perang berbagai kelas yang baru selesai dibangun mulai keluar dari galangan. Termasuk 5 kapal induk mulai dikerahkan untuk membersihkan angkatan laut musuh yang masih berkeliaran di wilayah perairan Indonesia.
Kapal induk yang dimiliki Indonesia dinamai dengan 5 pulau besar di Indonesia, yakni dari yang terbesar adalah KRI Papua, KRI Sumatera, KRI Kalimantan, KRI Jawa dan KRI Sulawesi. KRI Papua merupakan salah satu kapal induk terbesar di dunia pada masa ini, dan dikomandoi oleh Laksamana Besar Indonesia saat ini.
Indonesia sudah mulai melakukan pengembangan kapal induk sejak 100 tahun lalu, hingga sekarang masih terus melakukan pengembangan meski masih dalam keadaan berperang.
Beberapa negara yang mendengar berita jika militer Indonesia melakukan operasi terbesar, mulai memberikan pendapat mereka. Kebanyakan adalah beberapa saran serta kritikan dan merasa jika Indonesia akan mengalami kekalahan di pertempuran.
Namun yang memberikan kritik tidak menyenangkan terhadap militer Indonesia hanyalah segelintir pihak yang hanya dianggap sebagai lalat lewat saja, salah satunya Amerika Serikat.
Mereka dengan percaya dirinya menganggap jika pasukan Indonesia akan mengalami kekalahan jika terus hanya menggunakan persenjataan hasil produksi dalam negeri. Padahal AS memiliki sistem persenjataan yang lebih baik dari Indonesia, namun peringkat militer mereka berada dibawah beberapa posisi dari Indonesia, bahkan dari beberapa negara Asean lainnya.
Mereka memberikan pendapat yang jelek terhadap militer Indonesia karena beberapa alasan. Salah satunya batalnya kerjasama untuk mengembangkan alat pertahanan yang disebut dengan 'robot perang'.
Jadi, intinya mereka hanya ingin melakukan beberapa hal yang bisa membuat Indonesia 'malu'.
Mereka menyiarkan kritikan melalui siaran TV internasional yang masih berdiri. Tujuannya tentu saja agar seluruh dunia tahu jika militer mereka jauh lebih kuat dari TNI.
Indonesia lebih memilih untuk mengembangkan senjata robot perang sendirian, dan menolak seluruh kerjasama yang diajukan beberapa negara yang juga berminat dengan proyek itu. Hasilnya Indonesia melakukan pengembangan senjata jenis ini dalam waktu yang cukup lama, yakni 20 tahun. Bisa dibilang cukup lambat dibandingkan negara yang juga melakukan pengembangan robot perang seperti Rusia, Jepang dan AS.
Robot perang yang digunakan ketiga negara itu sudah menggunakan teknologi kendali jarak jauh. Sementara robot perang Indonesia masih menggunakan sistem kendali manual.
(Informasi: mengenai robot perang akan dibahas beberapa chapter setelah ini)
**
Gerbang masih terlihat seperti biasanya, dihantam ombak kecil hingga sedang namun tetap berdiri kokoh.
Diatas Gerbang terbang helikopter tempur dan drone berkamera untuk mengawasi dari atas. Karena bisa saja di bagian atas Gerbang merupakan pintu masuk kedua.
Pasukan penjaga Gerbang yang dibentuk belum lama ini masih melakukan penjagaan dan tak melepaskan pandangan sedetikpun. Jumlah mereka sekitar 1.200 prajurit dengan senjata lengkap. Pasukan ini mendapatkan tugas khusus, sehingga dapat tidak mengikuti operasi militer yang dilakukan.
1 buah kapal cepat rudal dan 3 buah kapal Fregat mengitari Gerbang beberapa kali sehari dalam agenda pengintaian Gerbang. Tempat ini juga dilengkapi dengan fasilitas pendaratan helikopter, baik helikopter komersil dan helikopter tempur. Fasilitas itu dibangun demi kelancaran misi pengintaian Gerbang.
Beberapa prajurit terlihat sedang berlatih dan melakukan olahraga ringan daripada menganggur. Kebanyakan prajurit bercengkrama dengan prajurit lainnya untuk melepas kebosanan.
"Enak ya mereka. Bisa berhadapan dengan musuh. Lah kita, ngapain disini...? Cuma liatin benda yang nggak jelas itu," gerutu salah satu prajurit yang merupakan salah satu bagian dari Pasukan Pelajar.
"Tapi, musuh mungkin saja punya kejutan. Dan kejutan itu yang selalu membuat pasukan kita kalah," jawab rekannya sambil berbaring dan menutup wajahnya dengan helm.
Keduanya kemudian sama-sama menghela napas dan kembali melanjutkan aktivitas masing-masing.
Suasana di pantai benar-benar menenangkan hati jika tidak dalam kondisi perang. Langit yang sudah semakin berwarna oranye menambah kesan menenangkan.
Namun semua itu berubah menjadi kepanikan dari seluruh prajurit. Gerbang yang semula tenang, kini menunjukkan keanehan.
Gerbang terasa bergetar, seperti menimbulkan gempa kecil disekitar benda itu. Namun seluruh prajurit mencoba tenang dan bersiap untuk menghadapi hal yang mungkin saja keluar dari dalam Gerbang.
Ujung meriam dan senjata berat lainnya mulai mengarahkan ujung senjata kearah Gerbang.
Beberapa saat belum ada sesuatu yang keluar dari Gerbang, hanya getaran yang semakin meningkat kekuatannya dan membuat seluruh prajurit menjadi cemas.
Namun, beberapa saat kemudian terlihat beberapa hewan terbang dengan ukuran besar keluar dari dalam Gerbang dan mengejutkan seluruh prajurit. Mereka tidak sempat menyerang karena terkejut dan membiarkan sekelompok pasukan penunggang naga terbang cepat menjauhi mereka.
Kecepatan terbang naga hampir 88 km/j. Dengan kecepatan tersebut, sangat mudah didahului dengan helikopter tempur, apalagi dengan jet tempur.
Namun hanya ada satu buah helikopter tempur di tempat ini. Sedangkan pangkalan udara militer berada cukup jauh dari tempat ini dan menyebabkan tidak sempat untuk mengirimkan bantuan.
"Apa mereka pasukan musuh yang lain?" ucap komandan tim pengintai Gerbang.
"Apa maksud anda?" tanya salah satu bawahannya yang terlihat tidak memahami maksud dari perkataannya.
"Bendera yang mereka bawa berbeda dibanding pasukan yang pernah kita hadapi bukan?"
Si komandan kemudian meraih alat komunikasi nirkabel kemudian memberitahu kepada seluruh pasukannya untuk menahan serangan. Karena para penunggang naga tidak memperlihatkan tanda-tanda penyerangan, sehingga tidak keren jika menyerang pasukan yang tidak memiliki niat tersebut.
Pasukan penunggang naga yang keluar dari Gerbang, terbang ke arah utara.
**
Tim satu sejak tiba di titik penyerangan mulai membangun pertahanan di hutan karet yang ada di wilayah kecamatan Mojogedang.
Kemarin, saat mereka baru beberapa jam tiba di tempat ini sempat melakukan pertempuran kecil dengan pasukan musuh yang sedang melakukan patroli. Namun pasukan musuh dengan mudahnya dihabisi dengan senjata baru milik prajurit, dan mencegah pasukan musuh mendapatkan informasi mengenai keberadaan mereka ditempat ini.
Pertahanan yang dibangun cukup sederhana, namun setidaknya cukup untuk melindungi prajurit dan menambah daya tempur dari pemanfaatan jumlah prajurit yang terbatas.
Jumlah pasukan musuh diperkirakan mencapai 1.800 prajurit. Jumlah itu sudah dikurangi dengan pasukan yang telah dihabisi sebelumnya oleh Regu Satuan Topografi, sehingga jumlah perkiraan jumlah pasukan musuh sekarang sekitar 1.200 prajurit.
Sedangkan jumlah gabungan dari tim 1 dan tim 2 sekitar 260 prajurit. Pasukan ini diperkuat dengan 4 kendaraan lapis baja dengan senapan mesin berat, 4 kendaraan taktis dengan senapan mesin ringan dan persenjataan lainnya seperti peluncur roket kendali dan senapan mesin berat dan ringan, jangan lupakan drone serang dengan senapan mesin ringan yang terpasang.
__ADS_1
Pertahanan yang dibangun tim 1 adalah parit pertahanan dan pagar kawat berduri yang disusun cukup tinggi. Fungsinya sebagai penghambat pergerakan musuh untuk mencegah mereka untuk memasuki area pertahanan. Tanah dari galian parit dimasukkan ke karung beras dan disusun sebagai perlindungan prajurit, diatasnya dipasang senapan mesin berat dan ringan untuk menghabisi musuh.
Para prajurit mulai menempati posisi masing-masing, seperti masuk kedalam parit dan berlindung dibalik tembok karung maupun dibalik pohon. Bisa saja penggiringan musuh yang dilakukan tim 2 akan berjalan cepat dan operasi akan selesai dalam waktu singkat.
Dari kendaraan komando, Surya memerintahkan bawahannya untuk menyambungkan komunikasi dengan tim 2.
"Tim 2 masuk, ganti," ucap Surya dari alat komunikasi nirkabel yang terhubung dengan Herlina.
"Disini tim 2, apa kalian sudah selesai membuat pertahanan?, ganti," balas Herlina yang masih duduk didalam mobil komando dan mengawasi seluruh prajurit yang bersiap untuk menghadapi pasukan musuh.
"Siap, sudah. Seluruh prajurit sudah menempati posisi masing-masing. Kalian dapat melakukan penggiringan sekarang. Ganti."
"Baik, kami akan segera bersiap memulai penggiringan. Selesai."
Herlina kemudian menutup saluran komunikasi. Sebenarnya mereka tidak perlu takut jika saluran komunikasi akan diketahui oleh musuh, karena musuh tidak mungkin memiliki teknologi semacam ini. Namun daya yang digunakan untuk berkomunikasi harus dihemat, karena saluran listrik mungkin saja telah diputus.
Herlina kemudian keluar dari kendaraan komando untuk mencari wakilnya, yaitu Nio.
Nio terlihat masih berbicara dengan Rio, Jo dan Tania. Sedangkan pembicaraan yang mereka lakukan hanyalah sebatas candaan untuk mengurangi kegugupan saat pertempuran dimulai.
Sedangkan prajurit yang lain sedang menyiapkan perlengkapan masing-masing, seperti mengenakan rompi yang sebelumnya belum sempat digunakan dan memeriksa kondisi senjata.
Mereka tidak perlu khawatir akan kebingungan menggunakan senapan baru, karena senjata yang mereka gunakan tipe selanjutnya dari senapan serbu sebelumnya sehingga cara penggunaannya akan sama.
Saat Herlina menampakkan diri, seluruh prajurit seketika berlari dan membuat barisan dengan rapi. Nio berdiri di depan barisan dengan badan tegap dan wajah tegas. Dan Herlina memulai pembicaraan....
"Operasi akan dilaksanakan, saya yakin kalian sedang dalam keadaan baik dan sangat bersemangat. Sebentar lagi kita akan menghadapi pertempuran, dan bawa kebanggaan bagi diri kita sendiri saat berhasil mengalahkan pasukan musuh. Selanjutnya, Pembantu letnan satu Nio akan berbicara."
Nio maju empat langkah dari tempat semula, kemudian berbalik badan dengan tegas seperti yang diajarkan saat berlatih baris-berbaris.
Tiba-tiba Nio tersenyum, dan mulai berkata....
"Jangan dibawa pusing. Cara tempur musuh sangat berbeda, dan hanya membuat mereka menjadi media latih tembak nyata kita. Teman-teman cukup yakin saja kalau operasi ini akan berlangsung kurang dari dua hari. Saya sudah memperkirakannya sebelumnya, tapi mungkin akan ada beberapa hal yang akan membuat operasi berlangsung lebih dari dua hari...."
Nio melakukan pidato sedikit lebih lama dari yang dilakukan Herlina, itu membuat hari menjadi sedikit gelap karena sudah lewat pukul lima sore. Seluruh prajurit memasang night vision di helm masing-masing, agar mudah melihat dalam gelap. Lalu mereka juga mengecat wajah dengan warna hijau tua dan hitam, untuk menyempurnakan penyamaran.
Sebelumnya, Nio dan Herlina sudah membagi tim menjadi 3 kelompok.
Nio memimpin salah satu kelompok dengan persenjataan satu kendaraan lapis baja dengan senapan mesin berat. Dua orang prajurit menenteng senapan mesin ringan di pundaknya sebagai persenjataan tambahan, dan jangan lupakan Tania yang juga berada di kelompok Nio. Tania membawa senapan runduk terbaru yang panjangnya lebih dari tinggi badannya.
Herlina mengkomando dari kendaraan komando, namun tugas itu tidak mudah karena dia juga bertanggung jawab atas keselamatan prajuritnya. Jika dia salah memberi perintah, nyawa prajurit menjadi taruhannya.
Namun, undang-undang TNI masa ini dapat membuat prajurit bawahan untuk menentang perintah atasan jika dirasa mengancam jiwa mereka dan mempertaruhkan rasa kemanusiaan.
Ketiga kelompok kemudian diperintahkan untuk berpencar. Tujuannya untuk untuk mengepung musuh dan membuat pergerakan mereka menjadi terbatas karena ada tiga pasukan yang terus menyerang.
**
Kelompok yang dipimpin Nio tiba di pemukiman yang berada di dekat perkemahan pasukan musuh. Perkemahan musuh berada di sebuah lapangan desa.
Penduduk desa sudah pergi dari tempat tinggal mereka sejak kedatangan pasukan musuh di kecamatan Mojogedang.
Nio memberikan kabar kepada kelompok terdekat darinya dengan menggunakan alat komunikasi nirkabel.
"Ini kelompok 2. Kami sudah tiba di dekat perkemahan musuh, ganti."
Sesaat kemudian terdengar suara 'semut' dan kemudian terdengar suara manusia.
"Ini kelompok 1, kami juga sudah tiba di dekat perkemahan musuh."
Setelah itu, kelompok 3 juga melaporkan posisi mereka saat ini yang juga berada di dekat perkemahan musuh.
Nio kemudian memimpin Kelompok 2 untuk bergerak semakin dekat dengan perkemahan musuh. Dengan hati-hati dan se-senyap mungkin agar tidak diketahui musuh, mereka berlari kecil menyusul Nio yang ada di depan.
Kelompok 2 berlindung di balik pagar salah satu rumah warga. Tempat ini merupakan titik terdekat dengan perkemahan musuh, dengan jarak sekitar 50 meter.
Tania mengeluarkan ujung laras senapannya dari celah pagar, dan terlihat sedang membidik dari teropong optik senapannya. Ada dua orang penembak jitu dikelompok 2, termasuk Tania.
"Tania, jangan menembak dulu," cegah Nio saat Tania terlihat sedang menyiapkan sebuah peluru untuk ditembakkan.
"Baik," balas Tania dengan nada terdengar kesal.
Namun Tania terlihat tidak melepaskan bidikannya, dan masih meletakkan jari telunjuk di pelatuk.
Lapangan desa terlihat menjadi terang dan terdengar semakin ramai dengan sekelompok orang yang sedang berbicara dengan bahasa yang sangat asing. Pasukan musuh terlihat sedang menyalakan obor sebagai penerangan dan membagikan jatah makan malam.
Pasukan musuh terlihat sedang tidak bersiap untuk bertempur. Namun jika diperlukan mereka dapat mundur dengan cepat, karena mereka telah menentukan jalurnya.
Tak jauh dari perkemahan, terdapat kuda-kuda milik pasukan musuh yang sedang memakan pakan yang disediakan untuk mereka. Pastinya rumput yang mereka dapatkan dari sekitar perkemahan atau membabat daun di pohon yang tumbuh di pinggir jalan.
Nio mendapatkan sambungan komunikasi dari Herlina, dengan isi perintah untuk menyerbu perkemahan musuh.
Nio kemudian memerintahkan Tania dan satu orang penembak jitu lainnya untuk naik ke lantai dua rumah warga yang sudah menjadi bangunan kosong.
Seluruh anggota kelompok 2 mengaktifkan night vision agar lebih mudah untuk melihat.
Tania sudah memberi sinyal jika dia dan penembak jitu rekannya sudah berada di atas bangunan.
__ADS_1
Sesaat kemudian terdengar suara tembakan beruntun dan ledakan granat, itu berasal dari kelompok 1 yang sudah menyerang terlebih dulu.
"Sial, kita jangan sampai ketinggalan...!!!" seru Nio yang melompat keluar dari pagar rumah.
"Ya...!!!" seluruh prajurit berteriak dengan semangat dan mengikuti langkah Nio.
Pasukan yang tidak siap dengan serangan hanya bisa pasrah menjadi alat latihan tembak nyata bagi seluruh prajurit, sebenarnya mereka sudah puas berlatih menembak di kota bawah tanah.
Peluru baru yang dipakai pasukan dapat menghancurkan zirah besi pasukan musuh. Dengan efek bakar pada amunisi yang dapat menembus baju besi dan tubuh pasukan musuh.
Sehingga peluru baru lebih mirip dengan cara kerja amunisi tank, namun berukuran jauh lebih kecil.
(Ilustrasi peluru baru, sumber gambar pinterest.)
Sebagian besar pasukan musuh berhasil kabur dengan meninggalkan rekan-rekan mereka yang diserang dengan membabi buta. Ratusan peluru dari pasukan dan kendaraan taktis serta lapis baja dilepaskan dan membunuh puluhan prajurit musuh yang terkejut dengan serangan tiba-tiba.
Jalur yang terlihat berwarna kuning menyala terlihat melayang, dan itu merupakan peluru yang ditembakkan dan merupakan akibat dari pembakaran. Jalur yang berwarna kuning menyala itu juga membantu pasukan untuk menentukan arah tembakan agar tepat sasaran.
Sebelumnya, amunisi yang dapat membentuk jalur berwarna kuning menyala hanya terdapat pada peluru tank.
Seluruh penembak jitu membidik kepala musuh dengan teropong optik dan laser pembidik. Teropong optik sudah dilengkapi dengan teknologi semacam night vision, sehingga memudahkan untuk membidik sasaran.
Peluru yang dilepaskan akan melesat dengan kecepatan tinggi, kemudian menghancurkan kepala musuh yang dilindungi helm besi . Mereka semua terlihat 'senang' saat musuh dapat dihabisi dengan mudah daripada sebelumnya.
Dengan menggunakan bahasa dunia lain, pasukan musuh terdengar kebingungan dengan zirah besi yang digunakan rekannya dapat ditembus. Karena sebelumnya peluru biasa tidak dapat menembus zirah besi mereka.
"Berlindung...!!!"
Seluruh prajurit menyiagakan perisai untuk berlindung dari musuh yang terlihat menyiapkan serangan panah yang dibakar bagian ujungnya.
Hasilnya, tentu saja tidak ada panah musuh yang menembus perisai yang disiapkan beberapa prajurit tim 2. Hal itu membuat musuh bertambah bingung.
Musuh semakin kacau saat drone serbu menembakkan peluru dari atas mereka.
Para pengendali drone serbu terlihat sibuk dengan joystick mereka.
"Mampus, senjata baru memang hebat...!" seru salah satu pengendali drone serbu.
Rekannya yang lain hanya menggeleng keheranan.
Seluruh prajurit musuh mengumpat, dan kabur bersama rekan mereka melewati jalur yang ada. Sementara itu, jalur yang mereka lalui mengarah langsung ke hutan karet. Dimana tim 1 yang sudah tidak sabar untuk menyambut mereka.
"Tembak terus, anggap saja musuh alat latihan tembak nyata kalian...!!!"
Dengan perlahan, kelompok 2 mengurangi jumlah pasukan musuh untuk dihadapi tim 1.
**
Pertempuran sudah selesai setelah jam tangan tepat menunjukkan pukul 7 malam. Memang itu adalah batas waktu penyerbuan yang ditentukan oleh Herlina.
Suara jangkrik terdengar setelah pertempuran, seakan mereka tidak menyadari jika ada pertempuran disekitar mereka.
Seluruh prajurit kembali memeriksa perkemahan yang dalam keadaan hancur setelah serangan. Beberapa ekor kuda menjadi korban peluru nyasar, namun itu tidak merugikan tim 2 sama sekali. Tidak tahu harus diapakan kuda-kuda itu, karena jika untuk dimakan harus diolah dengan benar atau dagingnya akan terasa keras.
Para prajurit mengangkat tubuh tak bernyawa prajurit musuh dan mengumpulkannya pada satu tempat.
"Bagaimana...?" tanya Herlina sambil melepaskan helmnya yang membuat kepala menjadi panas.
"Musuh yang terbunuh berjumlah 164 orang, yang terluka dan berhasil ditawan berjumlah 204 orang," jawab Nio.
Herlina mengangguk mengerti kemudian memerintahkan Nio untuk beristirahat.
Di pihak tim 2 tidak ada korban sama sekali. Namun satu orang prajurit terluka di bagian kaki, karena melangkah di bekas tempat pertempuran sambil melepaskan sepatunya dan tidak sengaja menginjak paku.
Prajurit musuh yang berhasil ditawan terlihat ketakutan dan gemetar hebat. Mereka terikat satu dengan lainnya agar tidak dapat kabur.
Salah satu prajurit musuh berkata, "Ini namanya pembantaian kan?"
"Kenapa Raja mengirimkan kita ke dunia ini!?"
**
Ditempat lain, namun masih satu wilayah dengan Kota Karanganyar....
Ilhiya dan Ivy terlihat sedang menyambut sekelompok pasukan dengan membawa bendera kerajaan Arevelk.
"Selamat datang di dunia lain, Ratu...," ucap Ivy dan IIlhiya bersamaan dan sambil membungkuk.
"Terimakasih sudah menjemput kami, jadi dimana orang yang diramalkan?" tanya Sigiz tanpa basa-basi lagi.
Ilhiya menjawab, "Dia sedang bertempur melawan pasukan kerajaan Luan, Ratu."
Mata Sigiz dan pasukan yang dia bawa terlihat melebar karena terkejut.
Sementara pasukan yang dibawa Sigiz terlihat bergumam mengenai kekuatan pasukan dunia yang mereka kunjungi ini.
__ADS_1
Didalam hatinya, Sigiz berkata, "Mereka hanya menyerahkan diri untuk dibantai oleh pasukan negara ini."