Prajurit SMA

Prajurit SMA
30. Menangkap monyet lepas


__ADS_3

16 April 2321, pukul 10.42 WIB.


**


Seluruh anggota Regu 3 telah tiba di tempat pemuda yang terluka tadi berjaga. Wilayah barat Desa Kwangsan berbatasan langsung dengan kecamatan tetangga. Sebuah jembatan menjadi pembatas antar dua desa dan dua kecamatan.


Di tempat ini juga banyak ditumbuhi pohon jati sehingga warga Desa Kwangsan menyebut tempat ini sebagai hutan jati.


Regu 3 tidak langsung melakukan pencarian prajurit musuh yang menyerang, dan mereka justru melihat beberapa warga tergeletak di tengah jalan dengan berbagai keadaan.


Jumlah warga yang menjaga bagian barat desa sebanyak 13 orang, dengan satu orang tewas karena diserang prajurit dunia lain.


Sisanya terluka sedang hingga berat di berbagai bagian tubuh, dan luka tersebut disebabkan sabetan senjata tajam. Itu sudah jelas karena musuh masih menggunakan senjata semacam pedang dan panah.


4 orang prajurit perempuan yang memiliki kemampuan di bidang medis segera mendekati warga yang terkapar dan banyak cipratan darah di sekitar mereka.


“Beri laporan pada pelatih jika para warga melaporkan ada 3 orang prajurit musuh menyerang!” perintah Nio pada anggota yang membawa alat komunikasi.


“Siap,” jawabnya yang kemudian menyalakan alat komunikasi yang ada di ranselnya.


Bunyi saluran radio yang akan segera terhubung terdengar dan anggota yang Nio perintahkan untuk melapor pada pelatih mulai berkomunikasi dengan menggunakan bahasa kode militer.


“Bagaimana?” tanya Nio saat anggotanya yang ia perintahkan untuk melapor sudah selesai berkomunikasi.


“Mereka bilang kita yang harus menyelesaikan masalah ini,” jawabnya dengan wajah cemas.


Nio memutar bola matanya untuk memikirkan hal selanjutnya. Karena dia Komandan Regu ini, itu artinya di harus bertanggung jawab terhadap seluruh anggotanya dan hal strategi.


Meski dia pernah menjadi Komandan Regu, namun itu bukan dalam pertempuran langsung. Karena saat melawan pasukan penunggang naga dia hanya kejar-kejaran dan membunuh seorang prajurit musuh.


Dia hanya bisa menyusun strategi jika sudah ada persiapan sebelumnya. Namun hal yang dihadapi sekarang berbeda karena musuh berkeliaran di sekitar desa ini.


Dan seorang prajurit dari pasukan khusus diharuskan dapat menyusun startegi dengan cepat dan efektif dalam keadaan paling sulit sekalipun.


Nio memanggil 10 orang anggotanya untuk mendekat dan kemudian berkata, “Kalian kembali ke tempat para warga tadi berkumpul dan berjaga di sana!”


“Siap!” jawab ke-10 orang itu dengan serempak dan kemudian berlari meninggalkan tempat ini.


Nio berbalik ke 20 anggota Regu 3 yang tersisa dan siap untuk di beri perintah. 4 orang anggota perempuan juga sudah selesai melakukan pertolongan pertama pada warga yang terluka.


Warga yang terluka terlihat sudah dapat untuk diberi pertanyaan karena keadaannya yang sudah semakin membaik.


Nio mendekati salah satu warga dengan keadaan terbaik untuk ditanyai, “Musuh lari ke arah mana paman?”


“Mereka kesana…,” jawab warga laki-laki yang menunjuk ke arah hutan jati dan dia dengan keadaan sebagian tangan kanannya terlilit perban.


Sementara itu beberapa anggota Regu 3 yang berasal dari Kompi 302 membicarakan Nio sambil berbisik. Tentu saja pembicaraan mereka terdengar tidak mengenakan bagi seseorang yang mereka bicarakan jika orang itu mendengarnya, yaitu Nio.


“Apa dia bisa diandalkan?”


“Aku tidak mau mati dibawah perintahnya.”


“Dia seperti melakukan pekerjaan sesukanya.”


“Aku pernah melihatnya berbicara sendiri.”


Masih banyak hal yang mereka bicarakan tentang hal buruk dan ketidakpercayaan mereka pada Nio.


Namun pembicaraan mereka terdengar Rio dan Sima yang kebetulan ada di dekat kumpulan orang yang membicarakan Nio.

__ADS_1


Meski berada didalam satu Regu dan berasal dari Satuan berbeda, namun bukan berarti tidak seluruh anggota Regu percaya pada Nio.


“Sepertinya orang yang mereka bicarakan adalah Nio,” ucap Rio.


“Aku merasa mereka tidak akan lulus dalam pelatihan,” lanjut Sima.


Sementara itu Arista dan prajurit dari Kompi 406 melirik Nio dengan tatapan kagum.


“Apa dia bisa membuat strategi untuk menangkap musuh?” tanya Ika yang kebetulan penasaran terhadap Nio dan menanyakan pada orang yang satu Kompi dengannya.


“Tidak tahu, tapi dia cukup hebat loh, meski wajahnya seperti pemalas. Apalagi saat dia sedang serius,” jawab Arista.


“Memangnya dia pernah melakukan apa?”


“Berkat usulannya, Kompi kami bersama Kompi 32 berhasil memukul mundur pasukan penunggang naga musuh.”


“Meski aku tidak melihat yang sebenarnya, sepertinya dia memang bisa diandalkan memimpin Regu ini meski belum tentu kita lolos di pelatihan ini.”


“Ya, setidaknya kita sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjadi pasukan khusus ini.”


Beberapa saat kemudian Nio kembali ke anggotanya yang sudah menunggu untuk diperintahkan.


Dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu dengan cukup keras hingga sesekali menekan kepalanya.


Anggota yang tidak ‘menyukai’ Nio tersenyum sinis pada Nio karena dia terlihat tidak bisa memikirkan strategi sama sekali.


Namun Nio kembali ke wajah biasanya dan mengeluarkan sebuah novel yang diberikan pelatih sebagai bahan pengetahuan ilmu fantasi prajurit yang mengikuti pelatihan.


Dia menemukan halaman yang sudah ia tandai dengan cara melipatnya dan memberikan beberapa kata di atas halaman.


“Pasukan seperti mereka jika dalam keadaan sangat terdesak akan melukai warga sebagai ancaman. Sepertinya itu juga yang dilakukan musuh yang akan kita cari, karena pangkalan mereka berada cukup jauh dari desa ini dan kurang mengenal jalur.


Namun hutan jati sepertinya cukup luas, jadi mungkin mereka masih berada di dalam area hutan. Tapi mereka sepertinya cukup cerdik karena meninggalkan sangat sedikit jejak…,” ucap Nio yang sesaat hanya terfokus pada novelnya.


Nio sebenarnya hanya bergumam sendiri karena dia merasa pendapatnya masih kurang lengkap. Namun gumamannya ternyata didengar oleh seluruh anggota yang terlihat hanya diam mematung, termasuk beberapa orang yang membicarakan Nio tadi.


“Kenapa kalian?” tanya Nio yang melihat seluruh anggotanya yang masih tersisa untuk melakukan pengejaran terlihat hanya diam seperti sehabis mendengarkan seorang ahli berbicara sesuai keahliannya.


Seluruh anggotanya hanya menggeleng yang membuat Nio semakin tidak mengerti dengan perilaku mereka.


Namun ada hal lain yang lebih penting daripada menanyakan kenapa anggotanya terlihat hanya ‘melongo’.


“Baiklah, kita akan melakukan pengejaran monyet lepas. Tanpa perlu bantuan para pelatih pasti kita dapat menangkap mereka,” ucap Nio dengan yakinnya.


Rio dan Sima sama-sama menahan tawa karena perintah Nio yang diselingi dengan hinaan terhadap musuh.


Nio menyadari kedua rekannya itu yang sedang menahan tawa dan kemudian mendekati mereka berdua.


“Kenapa kalian terlihat mentertawakanku?” tanya Nio dengan wajah kesal.


“Tidak tidak, sepertinya kau memang sudah pantas menjadi Komandan Regu siap tempur,” jawab Sima yang diiringi anggukan setuju Rio.


Nio tersenyum dan berkata, “Terimakasih, tapi sebenarnya aku tidak mau menjadi Komandan.”


“Kalau gitu, kau ingin jadi Komandan Kompi? Atau mungkin Batalyon?”


“Tidak keduanya, mendapatkan kepercayaan anggota sangat sulit tahu!”


“Tenang saja, kau bisa mengawalinya dengan mendapatkan kepercayaanku,” ucap Rio sambil tersenyum penuh kepercayaan terhadap Nio.

__ADS_1


“Aku juga,” sambung Sima.


“Kalau begitu kita harus lulus pelatihan ini lebih dulu.”


Saat mereka bertiga sedang melakukan pembicaraan, para anggota Regu yang lain hanya bisa diam menunggu.


“Kapan berangkatnya nih? Musuh ntar keburu jauh.”


**


Sementara itu di ruangan pelatih, Sugeng terlihat tenang-tenang saja. Meski beberapa saat yang lalu terjadi perdebatan antara Sugeng dengan para pelatih lainnya dan akhirnya para pelatih dapat ditenangkan olehnya.


Namun beberapa pelatih lainnya masih tidak dapat tenang. Bahkan mereka sudah menyiapkan perlengkapan tempur jika sewaktu-waktu ada hal buruk yang terjadi pada Regu 3.


“Apa anda yakin mereka dapat menangkap musuh, Mayor?” tanya salah satu pelatih.


“Tenang saja, lagipula di Regu itu ada satu orang yang membuatku tertarik,” jawab Sugeng sambil menunjukkan salah satu berkas hasil tes ujian psikologi dan pelajaran umum milik seorang prajurit bernama Nio.


Salah satu pelatih menerima berkas itu dan membacanya bersama ketiga rekannya.


“Dia, hampir mendapatkan nilai sempurna di ujian umum jika mengerjakan soal matematika. Selain itu dia mendapatkan nilai lebih dari yang ditetapkan dalam ujian psikologi ,” ucap salah satu pelatih dengan wajah kagum.


Meski beberapa nilai tes Nio hanya berada di rata-ratanya saja.


“Ah, aku tahu dia. Dia hampir menembak kepalaku saat akan melakukan ujian kewaspadaan,” ucap salah satu pelatih yang kepalanya ditodong senapan oleh Nio karena mengira dia seorang penyusup.


Seluruh orang di ruangan ini serentak mentertawakan pelatih yang kepalanya sempat ditodong senapan oleh Nio.


“Kenapa dia tidak sekalian menembak kepalamu?” tanya salah satu pelatih lainnya dengan masih tertawa.


Sambil menyeringai dia berkata, “Itu mungkin dia masih membiarkan ku untuk ‘menyiksa’ para prajurit saat melakukan ujian survival.”


**


Di sebuah ruangan yang cukup besar dan ada 5 orang yang berada di depan meja pertemuan.


Jika dilihat dari ornamen yang terpajang di ruangan ini terlihat seperti ilustrasi pada novel dan komik fantasi milik prajurit pelatihan Pasukan Pelajar Khusus.


Karena tempat ini memang berada di balik Gerbang, tepatnya salah satu kerajaan ‘di dunia lain’.


Seluruh orang di ruangan ini sedang melakukan pembicaraan tentang jalannya perang dengan dunia lainnya mereka, yaitu Bumi. Tentu saja mereka menggunakan bahasa kerajaan ini.


Didepan mereka sudah ada sebuah peta dunia Bumi hasil rampasan dari perang sebelumnya dan dikirimkan ke dunia ini.


“Meski butuh waktu bertahun-tahun untuk menguasai seluruh negara di dunia itu, aku yakin dengan perlahan kita bisa mengalahkan seluruh negara di dunia itu,” ucap salah satu orang yang memakai pakaian khas kerajaan jaman pertengahan.


“Apa kita sudah menguasai pulau itu?” tanya orang yang ada disampingnya yang mengenakan pakaian hampir serupa namun beda warna sambil menunjuk Pulau Jawa.


“Pulau itu terdiri dari banyak wilayah dan bukanlah wilayah utuh. Pasukan kita baru menguasai beberapa wilayah di pulau itu.”


“Apa wilayah yang berhasil dikuasai memiliki sumber daya yang banyak?”


“Sepertinya tidak. Kemungkinan sumber daya di wilayah itu sudah diambil lebih dulu untuk memperkuat militer negara itu,” kata seseorang lagi sambil menunjuk wilayah kepuluan Indonesia.


“Apa pasukan dunia itu semakin kuat?”


“Sepertinya begitu. Mereka juga telah menciptakan senjata baru yang dapat menembus zirah yang sudah ditingkatkan itu.”


“Sepertinya menarik, tapi yang akan menang tetap kerajaan kita.”

__ADS_1


“Ya. Kita akan menguasai dunia itu dan segera memanggil ‘Sang Raja Asli Dunia’.”


__ADS_2