Prajurit SMA

Prajurit SMA
98. Luka baru


__ADS_3

24 Oktober 2321, pukul 03.52 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, dini hari.


**


“Apa yang sedang terjadi?”


Suara tegang memenuhi komunikasi nirkabel seluruh prajurit. Anggota Grup Tempur sangat cemas sehingga mereka langsung bertindak dengan cepat.


Anggota Grup Tempur 1 dan 2 memperbaiki posisi mereka, dan beberapa orang melihat ke arah tembakan, yang lain melihat ke arah lain untuk mencegah siapapun lolos dari penglihatan mereka.


“Di sana! Mereka mundur ke arah alun-alun!”


Peringatan dari seorang anggota Regu dari Grup Tempur 1 membuat beberapa prajurit melepaskan tembakan yang menumbangkan beberapa prajurit musuh.


Monitor yang terdapat pada beberapa kendaraan komando memperlihatkan perkiraan jumlah dan persebaran musuh di ibukota. Ratusan drone berkamera disebar ke seluruh penjuru ibukota Kekaisaran. Itu membuat operasi menajadi mudah.


Setelah menerima perintah dari Komandan Grup Tempur, Komandan Regu membawa anggota mereka ke tempat musuh melarikan diri.


Menyebar!


Mematuhi kode tangan para pemimpin mereka, anggota Regu menyebar untuk menyambut kedatangan musuh.


Musuh yang telah menyerang Regu-Regu penjelajah yang mengawal perwakilan terlihat seperti bukan pasukan Kekaisaran. Karena mereka mengenakan atribut yang berbeda dengan pasukan Kekaisaran. Dengan begini, seluruh Grup Tempur tidak punya plihan selain memperlakukan siapapun yang menyerang mereka sebagai musuh. Tidak, bahkan jika mereka tidak bersenjata, mereka harus dianggap sebagai musuh potensial.


“Siapapun yang membawa senjata adalah musuh!” kalimat itu digunakan dalam film perang untuk mengejek segala ketidakmungkinan alasan di medan perang. Ketika seseorang memikirkannya, bagaimana ada yang bisa merasionalkan pembunuhan manusia? Siapapun yang bisa tenang mengambil keputusan lebih menakutkan dari orang gila. Jadi wajar saja jika dalam perang, orang-orang didorong oleh kegilaan, dan orang yang tidak bisa mengendalikan kegilaan akan dianggap sakit mental.


Selain itu, sudah menjadi peraturan jika orang-orang yang tidak mengidetifikasi diri mereka bisa dianggap sebagai musuh, serta mereka yang tidak mengenakan atribut militer setempat tidak akan diberikan hak-hak sama seperti prajurit bersenjata.


Namun, ada hati yang berdarah dari orang yang memihak orang-orang yang melanggar aturan perang itu, dan bersimpati terhadap orang yang menggunakan sipil sebagai perisai. Orang-orang yang menggunakan warga sipil sebagi perisai akan dihancurkan. Tetapi pihak yang dijadikan perisai, justru menunjuk pasukan yang memburu mereka dan menyebut mereka dengan “pembunuh” dan “hewan berdarah dingin”.


Memang, TNI disini bukan untuk mengusir pasukan Kekaisaran dan Kerajaan Hrabro, tetapi untuk memusnahkan mereka. Siapapun yang menggunakan warga sipil sebagai perisai, mereka tidak akan mendapatkan apa-apa selain pemusnahan. Biasanya, orang akan menyalahkan mereka yang bersembunyi di belakang warga sipil karena melibatkan mereka dalam pertempuran.


Medan perang adalah tempat di mana semua hal seperti kesenangan, kesengsaraan, kegagalan, kegilaan, dan romantis menyatu menjadi satu. Untuk melindungi kawan dan bertahan hidup, ada satu aturan ketat seperti, “Jika itu musuh, tembak lah!”. Namun prajurit diharuskan untuk memiliki diskriminasi yang baik dengan target mereka, seolah-olah mereka membunuh robot. Jika mereka tidak bisa melakukan itu, mereka dicap sebagai orang “cacat”.


Ratusan prajurit yang membentuk barisan, ditembak dari depan oleh puluhan prajurit bersenjata senapan serbu dan mesin berat. Hati prajurit TNI merasa bersalah saat menghadapi musuh dengan teknologi sangat jauh dari mereka. Pasukan Kekaisaran dan Kerajaan Hrabro secara mental telah dikalahkan bahkan sebelum menghadapi peluru dan granat prajurit hijau.


Dukungan tembakan telah dimulai….


Puluhan helikopter serang menembakkan roket dan meriam mereka, sementara pasukan infanteri melepaskan tembakan juga. Ledakan terdengar di mana-mana, membuat seluruh warga sipil yang mendengarnya bersujud sambil menutup telinga mereka.


“Ini buruk! Para raksasa sudah muncul!”


“Oh, mereka semacam minotaur.”


Bentuk-bentuk raksasa berkepala benteng dengan zirah berat menjulang diantara ratusan prajurit Kekaisaran yang menyeringai terhadap penembak Grup Tempur 1.


Para raksasa ini memegang tongakt sebesar tiang telepon. Siapapun yang cukup bodoh untuk mendekati mereka, akan dihancurkan oleh kekuatan mereka yang luar biasa.


Berbaris dan membentuk pertahanan seperti tembok berjalan, puluhan minotaur maju melalui badai peluru dan roket seperti infateri berat. Kehadiran para monster ini terasa lebih mengintimidasi daripada satu kavaleri penuh dengan tank tempur utama.


Karena mereka tidak memiliki pertahanan yang cukup kuat untuk menahan para monster itu, Komandan penembak Grup Tempur 1 memerintahkan anggotanya untuk tidak segera mundur. Dia memilih agar pasukannya mengapit musuh dari kedua misi dan menghancurkan mereka. Para prajurit beraksi setelah menerima perintah mereka.


“Cepat-cepat! Kita harus bergabung dengan Grup Tempur 3 sebelum pengeboman dimulai!”


Komandan penembak Grup Tempur 1 mendapatkan panggilan dari penerbang helikopter serang agar segera melakukan serangan sebelum pengeboman dimulai.


Satu Regu pasukan penuh dengan monster, yang sebagian besar terdiri dari monotaur semakin mendekat ke para penembak Grup Tempur 1. Seperti yang dikatakan Komandan mereka, yang bisa dilakukan hanyalah terus menyerang dan berdoa agar musuh habis setelah seluruh magasin yang para prajurit bawa kehabisan peluru.

__ADS_1


Lima helikopter serang yang melayang di atas penembak Grup Tempur 1 meluncurkan serangan ganas. Bahkan serangan roket mereka mampu menghancurkan 2 Regu pasukan monster sekaligus, ini adalah cara terbaik untuk memusnahkan monster.


Namun, pasukan monster yang lain terus berdatangan selain pasukan manusia. Peluru dari senapan mesin bahkan tak mampu menembus ogre raksasa lapis baja. Peluru-peluru itu hanya memantul setelah mengenai zirah mereka, dan tangan para ogre menebaskan pentungan dengan liar dan mungkin bisa menghancurkan segalanya.


Beberapa ogre bahkan mencoba melempar pentungan mereka, dengan harapan menjatuhkan helikopter serang. Namun semua lemparan mereka meleset, tetapi jika ada kemungkinan salah satu pentungan mengenai helikopter, itu dapat memotongnya menjadi dua. Hanya membayangkan hal itu mampu membuat penerbang helikopter serang berkeringat dingin.


Bahkan prajurit berpengalaman merasa jika pasukan ini tidak tahan terhadap gerombolan musuh yang berupa monster. Para penerbang dan operator senjata pada helikopter serang menembakkan roket mereka, menghancurkan puluhan ogre raksasa lapis baja.


Debu dan serpihan kayu menghujani salah satu bagian ibukota Kekaisaran, namun monster yang berbentuk mirip badak muncul dan menghancurkan rumah-rumah warga sipil.


**


Hal pertama yang ditanyakan penerbang jet tempur yang berjumlah 5 orang adalah situasi di udara.


Ketika operator radio dari markas pusat menjawab jika puluhan kadal terbang merupakan kekuatan udara musuh, mereka mengangkat kepala seolah-olah tidak percaya jika yang mereka hadapi adalah hewan fantasi, dan bukannya sesama pesawat perang.


Ibukota sepenuhnya tanpa pertahanan anti-pesawat? Perwira penerbang seolah-olah tidak percaya dengan pernyataan semacam itu. Beberapa saat kemudian, salah satu penerbang berpangkat Lettu teringat, jika mereka sedang bertempur di dunia lain yang memungkinkan untuk tidak adanya pertahanan udara.


Kata-kata itu begitu menggoda, bagaimana?


Tetapi, ada baiknya menghindari kesalahan bodoh dengan meremehkan musuh, namun jangan terlalu memuji musuh. Ada banyak hal tak terduga yang bisa terjadi di medan perang, namun seluruh penerbang jet tempur dengan senang hati menyambutnya.


Mengingat perbedaan kekuatan antara TNI dengan aliansi Luan dan Hrabro yang begitu sangat jauh, dan seluruh Grup Tempur diperintahkan untuk memusnahkan semua yang membahayakan warga Indonesia, tapi kita tidak ada waktu untuk memikirkan dampak dari pertempuran hari ini.


Kekaisaran kembali mengobarkan perang, mempertaruhkan segalanya dalam perang ini atas nama balas dendam. Sepertinya pemimpin negara ini setengah berharap jika pasukannya bisa memenangkan pertempuran ini.


Tapi untuk dampak baik maupun buruk yang ditimbulkan dalam perang ini, seluruh Grup Tempur tidak peduli jika Kekaisaran Luan dan Kerajaan Hrabro memulai perang.


Unit Grup Tempur 6 yang merupakan tambahan kekuatan udara Pasukan Ekspedisi baru-baru ini terbentuk dengan kekuatan 5 jet tempur dengan sayap selebar 18 meter. Itu muat jika dimasukkan kedalam Gerbang, dan tidak harus dirakit seperti pesawat pengangkut.


**


Regu penjelajah 1 berhasil menghabisi satu Kompi pasukan Kekaisaran yang menghalangi mereka untuk menemui Nio.


Ketika puluhan musuh mengelilingi Nio yang hanya bersenjata pisau tarung, Chandra dengan tenang menarik senapan mesin berat yang dia opersikan. Ratusan peluru yang ditembakkan mampu untuk menumbangkan musuh dalam waktu kurang dari 20 detik.


Nio yang terkejut dengan suara tembakan yang tiba-tiba segera tiarap di tanah sambil melindungi kepalanya.


Namun, beberapa musuh masih bisa berdiri dan kembali mengepung Nio. Tapi, makhluk yang mereka kepung adalah seorang prajurit yang pemalas dan beringas.


Nio menatap tajam ke arah 15 prajurit Kekaisaran dan berkata, “Yang mau melawanku, silahkan maju!”. Namun tak ada satupun dari mereka berani mengambil langkah maju. Para prajurit bawahan si panglima bingung, dan mereka memandang si panglima.


Mata si panglima membelalak tak percaya ketika ratusan prajurit Kekaisaran yang mengepung alun-alun dibantai, dan sisanya melarikan diri dengan serangan mental.


Tubuhnya gemetar tak terkendali saat Nio berjalan mendekat ke arahnya sambil menghajar satu persatu prajuritnya yang mencoba melawan makhluk ini. Badan tegap Nio kini dipenuhi dengan sayatan dari pedang musuh yang dia hajar.


Senjata yang dibawa Nio bukanlah tongkat baja hitam panjang yang meledak dan bisa membunuh prajuritnya, di tangan Nio hanyalah sebuah pisau tarung. Apakah dia akan mati? Kenapa rencana ini berjalan tidak sesuai rencana?


Meski dia berpangkat panglima, dia seharusnya mampu melawan prajurit bawahan seperti Nio. Dan kemudian, Nio mengarahkan ujung pisaunya ke arah si panglima, dan berbicara.


“Baiklah, Tuan Panglima. Seperti yang kamu katakan, gadis-gadis ini adalah orang yang kamu tangkap dari negaraku. Itu berarti seharusnya kamu memiliki lebih banyak tawanan bukan?”


Sambil senyum mengejek, si panglima menjawab, “Heh! Aku tidak perlu menjawab pertanyaan dari orang bajingan biadap sepertimu!”


Si panglima mengatakan hal seperti itu demi mengembalikan harga dirinya yang runtuh setelah dihajar Nio. Jika Nio berlutut di depannya dan meminta maaf, maka si panglima akan menjadikan Nio bawahannya selamanya. Tetapi jika Nio tetap menunjukkan niat membunuh, pemuda ini bisa terus maju dan melakukan hal itu.


Sucipto yang mendengar jika Nio terus dipanggil dengan panggilang yang tidak mengenakan kemudian berkata, “Nio, buat dia bicara!”

__ADS_1


“Siap!”


Ini adalah pertama kalinya Nio sangat senang mematuhi perintah atasannya.


Sesaat Nio melangkah, si panglima menghunus pedangnya dan menggores wajah Nio hingga mengeluarkan darah cukup banyak. Nio sempat terkejut, namun dia segera menenangkan diri saat si panglima sudah memastikan kemenangannya setelah berhasil melukai wajah Nio.


"Jingan! Wajahku sudah penuh dengan luka tahu!"


Adegan ini agak kasar, dan kita perlu mematuhi batasan usia publikasi adegan ini. Namun, mari kita menggambarkannya dengan menuliskan potongan adegannya saja.


Di atas panggung, Nio berkali-kali menghajar si panglima yang memiliki tinggi sekitar 196 cm dengan beringas, wajahnya hampir tidak berbentuk, suara seperti ranting yang patah terdengar, darah keluar dari lubang hidung dan mulutnya, beberapa jari si panglima terlihat patah, sementara Nio berwajah gembira.


Ribuan prajurit di alun-alun terkena serangan mental setelah panglima mereka dihajar hingga hampir sekarat oleh Nio.


Karena tak tahan melihat pemandangan ini, Sheyn memalingkan wajah. Sementara Bogat dan Lukav terlihat geram karena rencana mereka ternyata membuat banyak pasukan berkurang.


Tentu saja pasukan yang ada di alun-alun ibukota berpikir untuk menghentikan Nio. Namun, saat Nio menghajar si panglima, suara ledakan terjadi di mana-mana tanpa henti, mereka mengira jika Nio yang melakukan hal ini.


“Berhenti! Tunggu, berhenti! Itu sakit! Tangan dan jari-jariku rasanya sudah patah, biarkan aku pergi.”


Sebagai serangan penutup, Nio menghajar wajah si panglima dengan sangat kuat hingga suara teriakan terdengar sangat keras dan menggetarkan hati. Beberapa gigi terlihat di dekat kepala si panglima yang tersungkur dengan wajah yang hampir hancur.


Adegan mengerikan ini akhrinya berakhir ketika Nio mengusap-usap tangannya yang terlumuri darah milik si panglima.


Mayat-mayat yang berserakan di alun-alun, tidak begitu buruk daripada bentuk wajah si panglima setelah dihajar berkali-kali oleh Nio. Sucipto kemudian memerintahkan seluruh pasukannya untuk mengehentikan serangan, karena dia tahu jika kondisi sedikit mereda.


Hanya dengan tindakan Nio, pasukan yang hendak menuju alun-alun lebih memilih untuk mundur dan menyiapkan kekuatan kembali.


Gigi milik si panglima tercecer di atas panggung, darah keluar dari mulut dan hidungnya, setiap orang yang melihat ini ketakutan.


Nio melirik si panglima dengan tatapan datar, dan mengarahkan ujung pisaunya di lehernya.


“Jika anda tidak menjawab pertanyaan saya, ini mungkin akan menjadi pertanyaan terakhir yang akan anda dengar untuk terakhir kalinya.”


Si panglima tidak bisa berbicara karena rasa sakit yang luar biasa, dan hanya bisa mengangguk lemah sambil merintih kesakitan. Lalu, dia bersujud di kaki Nio meski ini tindakan yang memalukan bagi orang sepertinya.


“Kekaisaran mendapatkan 100 budak yang diambil dari negeri anda, dan Kerajaan Hrabro mendapatkan 120 budak dari negeri anda.”


Di dalam hati, Nio bergumam, “Itu jumlah yang sesuai dengan korban hilang.”


Setelah menjawab pertanyaan itu, si panglima memuntahkan darah dan mengotori sepatu Nio.


Mendengar pernyataan si panglima Kekaisaran, Lukav seketika berkeringat dingin saat seluruh perwakilan pasukan hijau melirik dirinya. Perkataan si panglima bisa saja menjerumuskan Kerajaan Hrabro ke perang yang meruntuhkan negerinya.


Sucipto menghadap Kaisar yang berdiri dengan kepala dipenuhi keringat dingin. Bukan hanya Bogat yang ketakutan, seluruh bangsawan fraksi militer juga sangat ketakutan, bahkan perempuan bangsawan jatuh pingsan saat mendengar suara ledakan yang terjadi cukup lama tadi.


“Yang mulia, tidak hanya menculik warga negara kami, tapi anda juga berniat ingin berperang dengan kami lagi. Saya tidak tahu tuhan apa yang anda sembah, tapi saya ingin anda berdoa untuk keselamatan Kekaisaran.”


Setelah mengatakan itu, Sucipto bertukar pandang dengan Nio agar perkataannya diterjemahkan.


“Terlalu mencintai rakyatnya, itu adalah kelemahan terburuk sebuah bangsa. Negerimu tak cukup kuat untuk melawan pasukan Kekaisaran!”


“Memang negeri kami memiliki banyak kelemahan. Itulah mengapa kami melatih orang-orang seperti Nio. Semua orang juga tahu, jika perdamaian adalah persiapan untuk perang selajutnya. Satu lagi, negeri kami telah melewati banyak sejarah berdarah dari pada Kekaisaran. Apa anda berniat bertempur dengan kami sekali lagi?”


Kata-kata Sucipto adalah ancaman, meskipun jendral ini telah menghentikan operasi tempur setelah matahari telah bersinar sedikit.


Bogat dengan tenang mendecakkan lidahnya dan berbicara, “Kamu sendiri yang mengatakan itu, pasukan Kekaisaran jauh lebih besar dari kalian! Jadi Indonesia, ayo kita berperang!”

__ADS_1


__ADS_2