
13 Juni 2321, pukul 05.10 WIB.
**
Pagi hari sudah tiba, sinar matahari sedikit demi sedikit menghangatkan pagi yang dingin ini. asap abu-abu hingga hitam terus membumbung di beberapa tempat. Termasuk jet tempur, pesawat pengangkut dan helikopter tempur melintas di beberapa tempat di Indonesia yang menjadi medan tempur.
Tidak ada suara burung berkicau, entah apa alasannya mereka tidak bernyanyi pada pagi yang mungkin akan bercuaca cerah ini.
Di pagi yang bising ini, para pasukan TNI berbagai Satuan terus melakukan misi yang berkaitan dengan operasi pembebasan wilayah yang dikuasai pasukan dunia lain, dan terus melakukan serangan dengan artileri berat hingga ringan. Itulah penyebab para burung bisa saja tidak berkicau pagi ini.
Para burung mungkin stres dengan bunyi ledakan dari senapan dan peledak yang berlangsung lama, hingga mereka mati karena stres. Atau pepohonan yang tumbuh tidak terlalu banyak, sehingga para burung lebih memilih area yang banyak ditumbuhi pepohonan.
Burung-burung bisa juga memilih untuk menjauhi area yang banyak manusianya, karena para manusia akan menimbulkan kebisingan sehingga mereka tidak dapat tenang.
Namun, pada masa ini tempat yang jarang dengan manusia tidak banyak. Apalagi di pinggiran kota, pepohonan yang tumbuh hanya sebatas sebuah pohon didepan perkarangan rumah, itu juga belum tentu satu rumah memiliki satu pohon.
Jika dihitung sejak 300 tahun yang lalu, penduduk Indonesia sudah bertambah sebanyak 80 juta jiwa.
Namun, pada masa perang seperti sekarang, mungkin penduduk Indonesia yang menjadi korban perang sangat banyak.
Itu sebabnya pemerintah RI membentuk suatu organisasi yang berfungsi menghitung kerugian perang. Kerugian yang dihitung mencangkup infrastruktur umum yang hancur atau rusak, serta korban perang dari pihak militer dan warga sipil.
Organisasi ini memperkirakan jumlah korban dari sipil yang tewas tidak hanya berjumlah ratusan ribu jiwa saja, bisa mencapai jutaan korban. Namun di pihak militer, personil yang gugur berkisar diangka ratusan saja.
Ya… itu sudah jelas, karena para penduduk tidak memiliki alat pertahan dan kemampuan bertahan jika dalam keadaan perang seperti TNI.
Karena sejak kemerdekaan hingga sekarang, Indonesia hanya terlibat beberapa konflik kecil yang dapat diselesaikan dengan mudah oleh TNI.
**
Di tempat peristirahatan tim 2, kedua pasukan masih terus mengawasi satu sama lain. Meski kedua pasukan tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerang, namun kewaspadaan tetap diperlukan.
Jika pasukan penunggang naga milik Sigiz menyerang, mereka bisa dikalahkan dengan mudah menggunakan peluncur roket dan senapan mesin berat yang berpeluru besar dan dapat menembus kulit tebal naga-naga itu. Itulah yang dipikirkan pasukan penunggang naga.
Sementara pasukan tim 2, mereka terlihat antara kagum dan takut saat melihat puluhan kadal terbang yang terdapat seorang pawang yang menungganginya.
“Komodo tidak ada apa-apanya kan?”
“Benar, mungkin sekali injak para komodo bisa mati seketika oleh naga-naga itu.”
“Bukan Cuma mungkin, tapi bisa mati seketika.”
Para pasukan tim 2 menggumamkan hal seperti itu dengan para wyvern sebagai objek pembicaraan.
Tentu saja pasukan Sigiz yang mendengarnya tidak mengerti apa yang mereka katakan, itu berlaku juga sebaliknya. Manusia memang banyak sekali ketidaktahuannya tentang hal yang baru mereka lihat sekali.
Di kendaraan komando tim 2, terlihat 4 orang prajurit dan 2 prajurit milik pasukan Sigiz berjaga di sekeliling kendaraan berlapis baja dengan senapan mesin berat diatasnya.
Pengemudi kendaraan diperintahkan untuk keluar atas permintaan Sigiz, karena dia ingin pembicaraan ini hanya segelitir pihak saja yang mengetahuinya. Bahkan prajurit yang berjaga diperintahkan berada pada jarak 5 meter dari kendaraan.
Nio dan Herlina sudah berkali-kali menguap sejak pembicaraan ini berlangsung selama 2 jam.
Jika tidak ada pertemuan dengan pihak dunia lain seperti sekarang, tim 2 bisa melanjutkan penggiringan pasukan musuh ke tim 1. Namun rencana itu dapat ditunda sebentar, lagipula tidak akan mengacaukan rencana yang sudah dibuat.
“Ivy, tanyakan pada Ratu mu. Apa pasukan yang kami hadapi adalah pasukan miliknya?” ucap Nio yang kemudian dibalas anggukan oleh Ivy.
Ivy kemudian menerjemahkan perkataan Nio, Sigiz hanya mengangguk-angguk dan Ilhiya hanya terus mengelus kucing yang ia temukan dipangkuannya.
Sigiz kemudian membalas perkataan Nio dengan bahasa yang tidak dimengerti sebelum diterjemahkan oleh Ivy.
“Bukan, pasukan itu milik kerajaan tetangga kami. Kerajaan Arevelk bersumpah tidak akan berperang dengan dunia ini, terutama negara ini,” ucap Ivy setelah Sigiz memberitahu kata balasan atas pertanyaan Nio.
Herlina menatap dan berpikir serius setelah perkataan Ivy. Dia mencatatat beberapa poin penting yang dikatakan orang-orang dunia lain ini setelah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ivy.
“Arevelk? Apa itu negara asal kalian?” tanya Herlina.
“Ya, itu negara asal kami,” jawab Ivy.
Nio kemudian bertanya kepada Ivy agar diterjemahkan oleh Sigiz. Dia bertanya mengenai tujuan sebenarnya Ratu Kerajaan Arevelk datang langsung ke dunia ini.
Pertanyaan itu belum sempat dibahas pada pembicaraan sebelumnya. Karena Sigiz terus melakukan pembicaraan yang sedikit ‘keluar jalur’ dari tujuan sebenarnya melakukan pembicaraan.
Sigiz terlihat cukup terkejut setelah Ivy menerjemahkan perkataan Nio padanya. Bahkan dia tidak berani lagi menatap Nio yang duduk tepat didepannya. Dia sesekali hanya melirik Nio dengan wajah penuh kegugupan khas anak remaja. Padahal dari penampilannya, Sigiz mungkin seumuran dengan Arunika atau Herlina, mungkin sedikit lebih muda.
Tapi itu hanya jika terlihat dari luarnya saja. Karena hanya penduduk kerajaan Arevelk saja yang tahu tentang umur asli sang ratu.
Sigiz tidak langsung menjawab pertanyaan Nio seperti menerima pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. Wajah Sigiz sudah tidak menunjukkan rasa santai seperti sebelumnya, justru kegugupannya sangat terlihat.
“A-aku ingin bertemu denganmu, orang yang diramalkan,” jawab Sigiz yang kemudian diterjemahkan Ivy.
Ilhiya dan Ivy terlihat hanya tersenyum kecil setelah mendengarkan jawaban dari ratu mereka. Sementara Herlina dan Nio belum tahu apa arti dari perkataan Sigiz sebelum diterjemahkan oleh Ivy.
“Dia bilang ingin bertemu dengan mu, orang yang diramalkan,” jawab Ivy dengan senyum yang bermaksud menggoda Nio.
Herlina tentu saja terkejut, dan memandang Nio dengan tatapan penuh kecurigaan.
Sementara Nio tidak terkejut sama sekali, justru dia terlihat kebingungan dengan jawaban yang diberikan Sigiz.
“Hei, Ivy. Kau tidak salah menerjemahkan kan?” tanya Sigiz dengan tidak tenang.
__ADS_1
“Tenang saja Ratu, dengan bersumpah saya menerjemahkan dengan jujur dan sesuai dengan perkataan anda,” jawab Ivy.
“Lalu, kenapa dia masih terlihat tenang?”
“Bukankah karena dia seorang prajurit?”
Nio kemudian kembali bertanya kepada Ivy.
“Memangnya, bagaimana ciri-ciri orang yang diramalkan itu?”
“Seorang prajurit dunia lain yang memiliki luka di wajahnya, sangat tidak menyukai angka dan hitung-hitungan, serta yatim-piatu,” jawab Ivy yang seketika membuat alis Nio menurun dan menunjukkan tatapan tajam yang merubah suasana di tempat ini.
“Aku tidak yatim-piatu, aku masih punya keluarga meski hanya kakakku,” jawab Nio dengan mengeluarkan aura yang sangat dingin saat dilihat oleh Sigiz dan Ilhiya.
“Apa itu benar, apa kakakmu itu saudara kandungmu?” tanya kembali Ivy tanpa rasa takut meski dia diberi tatapan tajam oleh Nio.
Herlina juga baru pertama kali melihat Nio menunjukkan wajah seperti ini. Dia sering melihat Nio tegas, namun tidak memperlihatkan tatapan yang sangat tajam dan bersifat mengintimidasi.
Nio merasa ragu-ragu dengan perkataan Ivy, didalam hatinya berbagai perasaan bercampur aduk hingga membuatnya gelisah dan cemas terhadap kakaknya.
Nio juga merasa jika kakaknya tidak menyembunyikan rahasia apapun darinya, bahkan rahasia paling remeh sekalipun. Arunika selalu membicarakan berbagai hal dengan Nio, bahkan mengenai keluarga saat kedua orang tua mereka masih ada.
Nio segera bangkut dari duduknya dengan wajah cemas dan berkata, “Kita lanjutkan pembicaraan ini setelah pertempuran kami selesai. Jika tidak ada urusan dengan kami, lebih baik kalian membuat perkemahan. Tenang saja, keselamatan pasukan milik kalian kami jamin,”
Nio tidak menjawab pertanyaan Ivy dan berjalan keluar dari kendaraan komando. Sigiz terlihat kecewa saat Nio tidak berkata apapun lagi, namun Herlina menenangkan dia.
Sigiz mulai sedikit tenang setelah mendengarkan kata-kata yang menenagkan dari Herlina setelah diterjemahkan oleh Ivy.
Mereka berempat kemudian keluar dari kendaraan komando, kemudian disambut oleh matahari yang mulai meninggi dan pasukan yang sudah bersiap untuk kembali bertempur.
Pasukan penunggang naga milik Sigiz terlihat tenang saat ratu mereka kembali dengan selamat.
Sigiz memerintahkan pasukannya untuk membuat perkemahan di tempat ini, dan tetap menunggu hingga pasukan tim 2 dan 1 kembali dari pertempuran agar dapat melanjutkan pembicaraan.
**
Seluruh prajurit tim 2 kembali melanjutkan operasi yang sempat tertunda karena kedatangan pasukan Sigiz. Itu membuat target waktu untuk menyelesaikan operasi sedikit lama.
Seluruh prajurit ada yang berjalan dan menaiki kendaraan, karena jalan yang mereka lalui tidak dapat dilewati oleh kendaraan semacam truk pengangkut.
Maka truk pengangkut akan ditinggalkan di tempat, dan menghimbau agar pasukan Sigiz tidak menyentuh kendaraan itu.
Pasukan penunggang naga mulai menurunkan barang bawaan mereka dan mulai mendirikan perkemahan.
Dengan cepat, beberapa kemah berukuran sedang dapat berdiri di tanah dekat perkemahan pasukan kerajaan Luan dan tempat peristirahatan tim 2. Termasuk sebuah tenda yang terlihat paling besar dari yang lain.
Di dalam tenda ada 3 perempuan yang sedang duduk saling berhadapan. Suasana tenda penuh dengan perlengkapan tempur milik Sigiz, dan jangan lupakan sebuah tombak yang merupakan senjata andalannya.
“Aku merasa jika dia memang mengeluarkan aura kemarahan yang besar,” jawab Ilhiya sambil mengelus kucing dipelukannya.
Ivy menyambung, “Tapi, dia tidak mengusir kita. Justru keselamatan kita mereka jamin.”
Setelah itu, mereka bertiga kembali cemas dengan sifat Nio setelah mendapatkan pertanyaan seperti itu.
Seperti tidak dipikirkan dulu sebelum mengatakannya….
**
Tim 2 kembali berpencar dengan 4 kelompok, Nio kini memimpin kelompok 1 yang terdapat Arista dan Tania serta Jo. Kelompok ini dilengkapi dengan seorang penembak jitu dan dua orang yang menenteng senapan mesin berat dan ringan.
Sedangkan Rio memimpin Kelompok 4, dan Herlina mengkomandani tim 2 dari kendaraan komando.
Drone berkamera mulai diluncurkan dan mengirimkan rekaman dari atas. Melalui monitor di kendaraan komando, mereka bisa mencari kembali pasukan musuh yang sempat kabur.
Nio memperkirakan jika pasukan musuh tidak dapat keluar dari wilayah kecamatan Mojogedang. Karena jika mereka melewati perbatasan, itu artinya memasuki wilayah musuh. Lagipula wilayah ini tidak terlalu luas, dan dengan cepat dapat ditemukan dari udara melalui drone berkamera.
Jika lokasi pasukan musuh berada sudah ditemukan, seluruh komandan kelompok akan mendapatkan kabar dari komunikasi nirkabel mereka.
Drone berkamera sudah terbang selama kurang-lebih 10 menit, dan rekaman yang dikirimkan masih berupa perkebunan yang rusak dan hutan kecil.
Sementara keempat kelompok tersebut masih terus berjalan sambil mencoba menemukan keberadaan pasukan musuh.
Halangan seperti tanaman jagung dan ketela batang yang patah dilewati begitu saja, seperti tidak merasakan adanya halangan. Bahkan rasa gatal dan tidak nyaman saat tidak mandi selama 2 hari dirasakan para prajurit perempuan, namun mereka mencoba untuk menghiraukan itu.
Saat cat berwarna loreng hijau-hitam yang mewarnai wajah para pasukan belum dibersihkan dan harus ditambah lagi untuk memperbaiki cat yang rusak, para prajurit tidak dapat menolak kewajiban itu.
Namun para prajurit tetap tenang, karena cat yang mewarnai wajah mereka dapat dihilangkan dengan mudah dan aman meski tidak dihilangkan selama berhari-hari.
Jam tangan seluruh prajurit menunjukkan sudah pukul 11 siang lebih 21 menit dan 13 detik, namun keberadaan musuh masih belum ditemukan oleh pengendali drone berkamera.
Walau pepohonan yang tumbuh tidak terlalu lebat, namun pencarian pasukan musuh memakan waktu yang cukup lama.
Nio kemudian menghentikan pasukannya, setelah mendengar suara semut di alat komunikasinya. Komandan kelompok yang lain juga melakukan hal yang sama dengan Nio setelah mendapatkan suara semut di alat komunikasi mereka.
“Pasukan musuh ditemukan, di arah pukul 3. Kelompok yang sudah menemukan musuh harap menyalakan suar agar kelompok yang lain mengetahui lokasi,” ucap pengendali drone berkamera setelah diperintahkan oleh Herlina.
Seluruh kelompok kemudian berjalan ke arah yang dimaksud, tentu saja dari lokasi mereka masing-masing.
Mereka bergerak dengan pelan dan sesenyap mungkin, bahkan ranting dan daun kering yang terinjak tak menimbulkan suara.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, suasana berubah. Saat ini suasana terlihat teduh, seperti sedang berada di hutan.
Itu karena seluruh kelompok mulai memasuki hutan karet, lokasi pasukan musuh berada. Di tempat ini, daun dan ranting kering semakin banyak. Namun suara yang ditimbulkan dari injakan tidak terlalu terdengar.
Samar-samar terdengar orang-orang yang sedang bercakap-cakap, namun mereka seperti menggunakan bahasa yang asing.
Nio seperti sudah pernah mendengar bahasa yang semakin terdengar jelas percakapannya. Ya… itu adalah bahasa seperti yang digunakan Sigiz.
Sesaat kemudian terlihat orang-orang yang sedang berkumpul dengan jumlah besar, semuanya mengenakan zirah besi.
Seluruh anggota kelompok 1 melihat keberadaan musuh, mereka serentak berhenti. Jarak antara mereka sekitar 50 meter.
Nio yang memegang pistol berisi suar mengarahkan pistolnya keaatas dan menimbulkan suara ledakan yang tidak begitu kuat.
Sialnya, pasukan musuh mendengar suara itu. Mereka seketika melarikan diri dengan beraturan.
Suar dengan lintasan asap berwarna merah terbang keatas dengan ketinggian puluhan meter, suar itu bersuara seperti peluit saat terbang. Itu bertujuan agar pasukan yang lain dapat melihat jika suar sudah diluncurkan.
Seluruh kelimpok kemudian bergegas ke tempat suar diluncurkan. Kurang dari lima menit seluruh tim 2 bersatu.
Namun mereka merasa kecewa karena musuh sudah melarikan diri. Tetapi mereka juga merasa lega karena musuh berlari tepat kearah tim 1 dan pasukan sukarela berada.
Tugas tim 2 kini hanya mengejar dan memastikan jika pasukan musuh benar-benar lari kearah tim 1 dan pasukan sukarela berada.
**
Tim 1 dan pasukan sukarela sedang melakukan acara makan siang. Mereka memakan ransum yang dibawa masing-masing prajurit dan memakannya bersama.
Mereka terlihat tenang, namun itu sebelum suara gemuruh terdengar. Suara itu seperti ada ratusan orang lari bersamaan.
Surya yang sedang menyantap ransum nasi ayamnya mendengar suara semut di alat komunikasinya, dia kemudian mencari tempat dengan sinyal terbaik.
Beberapa saat kemudian terdengar suara perempuan, itu adalah Herlina yang memberi informasi kepada Surya jika musuh mendekat kearah pasukannya.
“Seluruh pasukan, bersiap tempur…!!!” teriak Surya yang membuat seluruh pasukan kehilangan selera makan.
Surya yang masih berada di dalam kendaraan komando segera keluar dengan menenteng senapannya dan membenarkan helm tempurnya.
Seluruh prajurit, baik prajurit tim 1 maupun pasukan sukarela bersiap di posisi masing-masing.
Ada yang bersembunyi di dalam parit, berlindung di balik tembok karung yang berisi tanah. Ada juga yang menggunakan pohon karet sebagai tempat perlindungan bagi pasukan sukarela.
Suara gemuruh terdengar semakin kuat, namun kali ini disertai dengan bunyi gemerincing besi yang berbenturan. Itu menandakan jika pasukan musuh benar-benar mendekat kearah pasukan tim 1 dan pasukan sukarela.
Seluruh prajurit sekarang berwajah tegang, tak terkecuali bagi Surya yang sudah pernah membawakan kemenangan. Namun kali ini dia bertempur dengan orang lain yang menyusun rencana.
Rentetan peluru yang melesat dari senapan mesin berat dan ringan, serta senapan serbu dari seluruh prajurit membuat pasukan musuh yang tidak siap dengan serangan menjadi kacau.
Itu terbukti dengan puluhan prajurit pasukan musuh yang tewas sebelum mendekat dengan jarak 50 meter dari parit pertahanan terdekat.
Senjata pelontar granat dari kendaraan taktis melemparkan puluhan peledak kearah pasukan musuh yang sedang membuat barisan pertahanan.
Namun yang pasukan musuh lakukan hanya membuat mereka kehilangan banyak prajurit. setelah puluhan granat meledak, ada banyak potongan zirah besi yang terbang keatas.
Jangan lupakan puluhan tubuh yang dalam keadaan tidak utuh dan dengan bagian tubuh yang terpisah.
Suara teriakan orang-orang yang zirah besinya tertembus peluru terdengar sangat keras, karena yang terkena peluru tidak hanya satu dua orang saja.
Peluru yang dikeluarkan dari senapan mesin berat dan ringan membantu pasukan tim 1 dan pasukan sukarela menghabisi pasukan musuh yang baris belakangnya sedang menyiapkan serangan balasan.
Serangan balasan yang mereka lakukan hanya sekedar menarik busur dan melepaskan anak panahnya.
Puluhan anak panah melesat cepat diantara pohon-pohon karet. Namun tidak ada satupun anak panah yang mengenai sasaran.
Seluruh pasukan, baik tim 1 maupun pasukan sukarela sudah menyadari jika pasukan musuh sedang menyiapkan serangan balasan. Mereka kemudian berlidung dengan tameng maupun berlindung di balik pohon karet.
Rentetan tembakkan kembali terdengar, namun bukan berasal dari persenjataan milik tim 1.
Tim 2 menembakkan ratusan peluru dari senapan mesin dan senapan serbu yang membuat baris belakang musuh hancur. Hal itu membuat musuh tak dapat lagi melakukan serangan balasan.
Pasukan tim 1 dan pasukan sukarela terlihat lega setelah pasukan tim 2 melepaskan tembakkan yang membuat mereka tidak mendapatkan serangan balasan dari musuh.
Kemudian dari kedua sisi, secara perlahan pasukan musuh dihujani dengan peluru berbagai ukuran.
Beberapa prajurit musuh memang tidak terkena serangan peluru dari senapan mesin maupun senapan serbu. Tetapi mereka mendapatkan serangan dari peluru yang disiapkan penembak jitu yang dapat menembus helm baja dan menghancurkan kepala.
Suara tembakkan dan ledakkan peledak dapat didengar hingga perkemahan pasukan Sigiz. Mereka terlihat cemas dan gugup saat tembakkan dan ledakan terus terdengar.
Beberapa prajurit bergumam mengenai pasukan yang melepaskan tembakkan sebagai objek pembicaraannya.
Mereka berharap tidak berhadapan dengan musuh yang memiliki sihir yang dapat meledak. Namun mereka sebenarnya hanya belum mengetahui jika senjata yang digunakan tim 1 san tim 2 serta pasukan sukarela bukanlah sihir.
“Mereka pasti terbantai oleh pasukan tuan Nio,” ucap Sigiz dengan wajah cemas.
“Itu sudah jelas, senjata sihir milik mereka terlalu kuat. Sebuah keputusan yang sangat tepat sudah diambil oleh anda, Ratu,” jawab Ivy.
Rentetan tembakan dan ledakan baru berhenti setelah dua jam berlalu, dan membuat pasukan Sigiz dan ketiga perempuan itu menghilangkan kecemasan mereka.
Di hutan karet, ratusan potong zirah yang hancur, dan ratusan tubuh yang tak bernyawa tergeletak di atas tanah. Jika harus membersihkannya, itu membutuhkan waktu yang lama.
__ADS_1
Pertempuran telah selesai, dengan hasil pasukan dunia lain di Kecamatan Mojogedang telah ‘dibersihkan’.