
Mi instan yang dibutuhkan untuk membuat kue ulang tahun itu cukup untuk semua orang yang hadir di acara ini. Kedatangan mereka memang tidak diharapkan Nio, tapi ini adalah rencana Arunika. Nio sendiri memiliki rencana sebelumnya untuk menghabiskan sendiri tumpukan mi instan yang dibentuk seperti kue ulang tahun itu.
Beberapa dari mantan anggota Regu penjelajah 1 akan kembali ke kesatuan awal besok pagi, dan beberapa lagi masih tetap di kota ini hingga perintah untuk kembali ke kesatuan awal diberikan. Liben akan bertugas lagi ke dunia lain, karena dia adalah orang mungkin akan diperlukan di sana karena memiliki hubungan yang sangat dekat dengan orang Arevelk.
Mantan anggota Regu penjelajah 1 yang akan kembali ke kesatuan awal mengucapkan perpisahan dengan Nio, dengan disertai ucapan terimakasih untuk Nio karena menjadikan petualangan bersama Regu penjelajah 1 adalah hal yang paling berkesan, meski ada beberapa hal yang membuat mereka marah dan sedih.
Lalu, sebuah sepeda motor bermesin listrik terparkir di teras rumah, dan merupakan hadiah ulang tahun dari Arunika untuk Nio. Meski bukan sepeda motor yang Nio inginkan, tapi setidaknya Arunika ingin memberikan sesuatu yang nilainya sama dengan semua yang diberikan Nio untuknya. Juga, Arunika membelinya tidak dengan metode mencicil dalam jangka waktu tertentu, dia langsung membayar lunas ketika memesan sepeda motor itu. Gadis itu tahu jika membeli sepeda motor dengan cara dicicil hanya akan membuat harganya sedikit lebih tinggi dari harga seharusnya, meski langsung membayar lunas sepeda motor itu membuat tabungannya hampir habis.
Namun, dengan entengnya Nio mengatakan, “Jangan khawatir, kau bisa menggunakan uangku.”
Jujur saja, Arunika merasa sangat jahat jika selalu bergantung pada Nio, meski pemuda itu menggunakan alasan ‘ingin membalas semua yang dia berikan sebelumnya’. Tapi, dia tidak tahu berapa jumlah nominal angka di tabungan Nio, yang dia ingin tahu dari mana Nio mendapatkan uang untuk membeli rumah tanpa dengan metode dicicil dalam jangka waktu tertentu.
Sebelumnya, dia juga sangat marah pada Nio saat pemuda itu menyuruhnya untuk berhenti bekerja, dan memilih bersantai di rumah bersama Lisa sekaligus menemani Nike yang sendirian di rumah.
Lemari es tidak lagi kosong seperti dulu sebelum perang dengan bangsa dunia lain dimulai, dan sejak Nio mendapatkan bayaran dari pekerjaan menjadi prajuritnya mereka bisa membayar semua tunggakkan. Saat dia mendapatkan perintah Nio untuk berhenti bekerja, Arunika berkata, “Bukankah menambah tabungan untuk masa depan kita adalah hal yang sangat bagus?”
Meski alasan yang dikumpulkan Nio ada sangat banyak, bahkan untuk pernyataan Arunika tersebut, dia tetap merasa jika Arunika akan terus menjawab jika terus ditekan. Dia ingat jika Arunika adalah orang yang keras kepala, dan cukup sulit untuk ditekan. Dia sudah bersama Arunika lebih dari sepuluh tahun, jadi dia cukup mengenal sifat dari Arunika. Jadi, dia tidak mungkin terus memaksa Arunika untuk berheti bekerja, dan membiarkan gadis itu melakukan hal yang dia suka selama masih berada di batas kewajaran.
Jika pembangunan sekolah telah selesai dan dibuka kembali, Arunika berencana ingin kembali menjadi guru, meski itu bukan di tempatnya bekerja sebelumnya. Begitu juga Lisa yang memiliki rencana yang sama dengan Arunika, karena ambisi mereka yang ingin memiliki penghasilan yang stabil. Pekerjaan di rumah penitipan anak dan bimbingan belajar menurut mereka memiliki kelemahan pada bagian upah yang tidak sama setiap bulannya. Sementara itu, keinginan Lisa untuk memiliki pekerjaan tetap karena dirinya telah diperbolehkan tinggal bersama Arunika atas perintah Nio, jadi dia berencana membalas kebaikan orang itu. Namun, Nio meminta agar Lisa tinggal bersama Arunika selain tidak memikirkan biaya sewa bulanan kost, dia juga memikirkan keamanan gadis itu.
Intinya, Nio ingin apa yang dimiliknya saat ini menjadi kebahagiaan untuk orang lain, dan orang lain itu adalah Arunika yang telah berbuat banyak untuknya sebelumnya. Lalu, Lisa juga pernah memberikan beberapa bantuan kecil pada mereka berdua, dan masih ada banyak orang lain yang ingin Nio balas kebaikannya.
**
Bagi Nio, pemandangan di depannya hampir sama seperti wahyu yang mengguncang bumi.
“Kak---Arunika, kenapa? Ada apa denganmu?”
Arunika menempelkan tubuhnya pada Nio di salah satu sudut ruangan yang disebut ‘kamar milik Nio’. Namun, sebenarnya ruangan ini masih sangat berantakan meski belum di gunakan. Lalu, orang itu juga telah memasang perangkat yang memungkinkan orang tidak bisa mendengar suara dari dalam ruangan ini, dan itu menurut Nio adalah sebuah kesalahan karena Arunika memanfaatkannya dengan benar.
Tampaknya, Arunika tidak mempedulikan wajah Nio yang terlihat tercengang, dan semakin memendamkan wajahnya di dada Nio. Dia cukup kesulitan untuk melingkarkan tangannya ke tubuh Nio, dan berpikir asupan gizi yang pemuda itu dapatkan jauh lebih baik daripada ketika tinggal berdua dengannya.
Nio merasa situasi yang dia alami sekarang jauh lebih berbahaya daripada berperang dengan 300.000 Pasukan Aliansi beserta pahlawan-pahlawannya, karena yang terancam sekarang bukanlah nyawanya tetapi masa depannya yang suci. Menurutnya, menjaga kesucian hingga mendapatkan pasangan yang sah adalah keharusan, dia tidak ingin menjadi orang yang naif meski ada kesempatan di depannya, atau dia akan menerima panggilan dari pengadilan militer dan mendapatkan hukuman yang tidak bisa dibayangkan.
Dan yang lebih penting, Nio tidak memiliki sedikitpun pengalaman dengan perempuan. Namun, dia akan selalu mengeluh merasa iri dengan orang-orang yang sedang berboncengan di sepeda motor bersama pacar mereka. Jika Nio dipaksa untuk memilih, dia akan langsung memilih melaksanakan misi berbahaya dan menghabiskan hampir setiap hari di lapangan. Meski dia telah membaca beberapa novel fantasi yang memiliki unsur romantis yang berakhir indah, tapi di dunia nyata hal itu bisa saja mustahil terjadi.
“Ini bukan hal yang bagus…”
__ADS_1
Arunika kemudian memperlihatkan wajahnya yang sedikit memerah, dan mata yang memperlihatkan tatapan perempuan dewasa yang hampir sama dengan milik Hevaz menusuk jiwa Nio.
“Apa kamu tidak mau melakukan sesuatu sebelum berangkat?”
“Aku mau melakukannya, tapi sepertinya itu bukan ide yang bagus.”
Arunika bisa membayangkan apa yang ingin dilakukan Nio terhadapnya, namun baginya Nio tetaplah pacar yang lebih muda darinya. Dia juga tidak memiliki pengalaman apapun mengenai pria, dan dia tidak yakin tubuhnya bisa memikat pria tingkat atas seperti Nio.
Alarm peringatan di kepala Nio memerintahkannya untuk berlari, namun tubuhnya mengkhianatinya. Nio dengan mudah melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Arunika, dan dia sedikit mendorong tubuh gadis itu. Permainan seperti apa terserah padanya, dan sekarang sasaran tepat berada di depan mata dan berjarak sangat dekat.
Nio tidak memiliki pengalaman dewasa apapun, namun dia memiliki ilmu yang cukup mengenai artis AV. Sekarang, dia melihat wajah Arunika yang semula memerah sedikit-demi sedikit memerah seperti tomat hingga ke telinganya. Kemudian, Nio semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Arunika, sementara gadis itu hanya bisa memejamkan mata dan mengikuti alur yang dimulai Nio. Jantungnya berdetak lebih kencang, dan jari-jarinya meremas kaos hitam polos Nio.
“Ahn…~”
Itu adalah suara yang sangat menggoda dari Arunika ketika bibirnya bertemu dengan bibir milik Nio. Bulu kuduk Nio terasa seperti berdiri, dan membuat pemuda itu segera melepaskan ciumannya dari gadis itu sebelum mereka benar-benar melakukan hal dewasa yang melebihi ciuman.
“Itu ciuman pertamaku.”
“Itu… aku juga.”
(olog note: ya iyalah, lah wong padahal ciuman pertama Nio sama Sigiz, tapi pas dia tidur, jadi Nio menganggap ciuman dengan Arunika adalah ciuman pertamanya:v)
**
Benjamin, Presiden Amerika Serikat, dengan marah menendang keranjang sampah di kantornya. Dia mendapatkan telepon dari pemimpin negara sekutunya, dan layar TV raksasa di depannya menayangkan siaran langsung dari Karanganyar. Tidak ada lagi agen CIA dan lainnya di Indonesia, dan tidak ada lagi phak yang bisa merebut para tamu sekarang. Pukulan fatal yang penyebutan “Kami telah menangkap personel Amerika keturunan Asia,” telah didengar ke seluruh rakyat AS dan sekutunya. Selain itu, orang Karanganyar yang dihasut CIA dan penghasut dari negara lain telah ditangkap.
Begitu kabar seperti itu disebarkan, akan timbul permusuhan di dalam negeri dan internasional. Benjamin sendiri tidak menyangka pemerintah Indonesia akan berani dan benar-benar ganas untuk melakukan hal seperti ini. Indonesia telah menyegel kemampuan Amerika untuk bertindak, dan membuat mereka tidak mengambil tindakan apapun lagi. Dan militer dan polisi Indonesia telah menangkap seluruh kegiatan agen luar negeri seperti AS, Cina, Jepang, dan Inggris yang pastinya akan membuat negara-negara tersebut mendapatkan celaan dan kesulitan.
Washington bisa saja dapat mengatakan kepada pemerintah Indonesia “Jangan katakan omong kosong seperti itu!” Namun, Suroso juga memiliki kartu andalannya untuk masalah dengan AS, yakni agen mereka yang didapatkan dan menjadi tawanan di Indonesia. Agen AS keturunan Asia telah dibuat membocorkan beberapa informasi penting mengenai rencana negaranya untuk mengambil para tamu lewat jalur kekerasan.
Suroso telah mengirimkan pesan singkat dari sebuah media sosial untuk Benjamin, “Jika kamu mencoba dan melakukan hal yang bisa melukai rakyat dan tamu kami, Amerika sebaiknya mempersiapkan diri…”
“Sial, sial! Suroso sialan! Bajingan itu!”
Dia menginjak-injak isi dari keranjang sampah yang tumpah, hingga karpet mewah di Ruang Oval Gedung Putih dikotori dengan sampah.
Presiden Federasi Rusia, Czarin Leonid, bersulang di depan layar TV raksasanya di dalam kantornya dengan sebotol vodka yang dipegangnya dan berkata, “Tidak buruk, Indonesia. Ternyata bersekutu dengan kalian adalah yang terbaik.”
__ADS_1
**
Gerbang tak sempurna dengan diameter 12 meter terbuka di atas Penghubung, dan para penyihir yang melakukan sihir ini mengatakan jika mereka hanya bertahan selama lima jam saja untuk mempertahankan Gerbang tak sempurna agar tetap terbuka. Itu adalah waktu yang lebih dari cukup, dan seluruh prajurit bergegas menaiki kendaraan pengangkut untuk mempecepat pergerakan.
Hari ini jam 9 pagi, kontingen Pasukan Perdamaian gelombang pertama akan diberangkatkan, bersama ‘Dewa Baja’ milik Rusia. Meskipun ada keraguan jika pasukan ini bisa menghentikan konflik dengan musuh, namun masih ada banyak rakyat yang mendukung dengan doa dan harapan jika perang dengan musuh bisa cepat berakhir, dan perdamaian di kedua dunia bisa tercapai. Ini bukan berarti jika negara ini kecanduan dengan perang dan sangat menyukainya hingga kembali mengirimkan pasukan ke dunia lain. Ada beberapa orang yang sengaja dititipkan pemerintah kepada Pasukan Perdamaian untuk mengamati politik musuh, dan melakukan hal yang diperlukan untuk berperang di meja perundingan.
Jadi terlepas dari situasi di dunia lain yang berbahaya, para prajurit terlihat tidak sabar dan dengan senang hati pergi ke medan perang lagi. Namun, mereka bukanlah prajurit yang jatuh cinta dengan perang, mereka hanya ingin negara yang mereka layani tidak berkonflik dengan musuh, jadi mereka akan melakukan segalanya dengan kekuatan mereka untuk tidak gugur di medan perang dunia lain.
Bagi prajurit yang berasal dari Tentara Pelajar, mereka masih mengenakan ikat lengan berlambang di lengan kiri mereka di bawah lambang merah putih. Sebagian besar dari mereka memiliki kebanggan di hati karena negara memilih mereka untuk berjuang di dunia baru. Itu berarti peluang bagi mereka untuk menunjukkan potensi tersembunyi mereka terbuka luas.
Barisan pertama telah memasuki Gerbang tak sempurna, itu membuat beberapa prajurit terlihat gugup karena tidak mengetahui bagian dalam Gerbang yang mungkin saja cukup menakutkan. Sangat merepotkan harus menjelaskan bagian dalam Gerbang tak sempurna bagi tentara Rusia dan Korea Utara, serta Prajurit TNI yang baru pertama kali dikirim ke dunia lain, jadi membiarkan mereka mengetahuinya sendiri adalah hal yang tidak buruk, hitung-hitung menambah pengalaman yang bisa diceritakan pada anak cucu mereka di masa depan.
Prajurit yang terpilih menjadi personel Pasukan Perdamaian dilengkapi dengan perlengkapan terbaru yang dipasok dari perusahaan dalam negeri ketiga negara tersebut, dan bukan perlengkapan yang seharusnya masuk museum. Dengan begitu, kualitas perlengkapan dan tempur mereka meningkat secara drastis.
Di dalam kendaraan pengakut personel lapis baja yang bersenjata meriam otomatis 20mm, terdapat 35 prajurit yang menumpanginya termasuk pengemudi dan operator senjata, salah satunya Letnan Satu Nio. Dia terlihat bersandar santai di kursi penumpang, dan menunggu giliran kendaraan yang dia tumpangi untuk memasuki Gerbang. Dia adalah satu-satunya orang yang terlihat sangat tenang disaat seluruh prajurit gugup untuk menuju dunia lain.
“A-apa kalian gugup?”
Seorang prajurit berpangkat Kopral Dua bertanya dengan wajah gugup yang sangat jelas, dan sepertinya ada beberapa temannya yang menumpangi kendaraan ini.
“Letnan Nio, ijin berbicara…”
“Apa, tidak perlu formal begitu, kita sama-sama dari Tentara Pelajar kan?”
“Eh… baiklah. Tolong-kata-katamu untuk kami yang gugup ini.”
Nio melirik ke sekitarnya untuk memastikan jika yang dikatakan prajurit itu adalah kebenaran, dan dia menahan tawa ketika melihat sebagian besar penumpang sangat terlihat jelas perasaan gugupnya. Dia berpikir apakah mereka benar-benar prajurit yang terpilih untuk berjuang ke dunia lain yang keras, padahal mereka belum memasuki Gerbang. Nio menganggap hal ini sebagai ‘permintaan yang tak terduga’, dan memikirkan kata-kata yang keren menurutnya. Dia melihat sekali lagi ke seluruh penumpang, dan mendapati dirinya berpangkat paling tinggi di antara para penumpang.
Langit di pintu masuk garis depan perjuangan di dunia lain mulai tidak terlihat setelah kendaraan sedikit demi sedikit, dan itu membuat para penumpang semakin gugup hingga beberapa sampai mengeluarkan keringat dingin di dahi dan telapak tangan mereka.
Sambil tersenyum miring Nio berkata, “Baiklah teman-teman, gerbang neraka yang pernah kumasuki terbuka ‘lagi’. Sebaiknya kalian tidak mengecewakan penjaga gerbang, dan berjuanglah dengan penuh kebanggaan sebagai prajurit TNI dan Tentara Pelajar.”
**
(ilustrasi 'Dewa Baja' milik kontingen Rusia, sumber gambar pinterest)
__ADS_1
(ilustrasi seragam dan perlengkapan pengaman baru Pasukan Perdamaian, jangan hiraukan helm dan senapannya, fokus saja pada seragam dan perlengkapan pengamannya saja! sumber gambar pinterest)