
Tidak ada yang bisa mengeluh ketika tibanya hari terakhir ‘liburan’ atau tugas mereka menjadi tamu undangan perwakilan kontingen ‘dunia lain’. Sebagai perayaan hari terakhir Pergantian Tahun mereka di Kota Iztok, semua undangan harus menghadiri pesta malam nanti.
Semua orang di penginapan sudah sibuk sejak pagi tadi, termasuk staf, grup musik yang kerajaan panggil untuk menghibur para undangan, dan tentu saja para undangan dari ‘dunia lain’ itu sendiri.
Baik prajurit perempuan dan laki-laki sama-sama mengenakan seragam upacara untuk menghadiri upacara semacam ini. Para laki-laki mengenakan setelan jas, kemeja putih, dan ikat pinggang hitam, dan senjata tersembunyi di balik pakaian mereka... seperti senjata tajam atau pistol. Pakaian untuk acara formal yang tidak berhubungan dengan pertempuran, diijinkan untuk dimodifikasi sesuai selera pemilik selama tidak melanggar aturan. Namun, hampir seluruh pakaian yang dikenakan perwakilan ‘dunia lain’ seragam, karena disesuaikan asal negara masing-masing.
Kebanyakan dari mereka hanya memodifikasi pada ukuran atau bagian tertentu pada pakaian agar terasa lebih nyaman, meski seragam mereka bukan produksi dari perusahaan fesyen terkenal yang terkenal dengan harga mahalnya. TNI melakukan kontrak kepada beberapa perusahaan menengah kecil dan swasta untuk membuatkan setelan seragam upacara bagi personel mereka. Sehingga penggunaan dana dapat dihemat, tanpa perlu mengontrak perusahaan besar yang telah terkenal.
“Oh, Letnan, kau tampak beda.”
“Menurutku masih sama saja.”
Dengan kata lain, ini adalah pakaian yang dimaksudkan untuk menonjolkan fisik seorang prajurit – seorang pejuang. Dan, Tentara Pelajar menghabiskan masa remaja mereka di medan perang, sehingga tubuh mereka ditempa untuk bertempur. Karena itu pakaian yang mereka kenakan tampak sangat pas.
“Kenapa kita melakukan ini? Aku tidak ingin pergi ke pesta-pesta seperti ini,” Hendra mengeluh sambil mengutak-atik pakaiannya.
Sebagai orang yang lebih menyukai ketenangan daripada harus menghadiri acara yang pastinya akan dihadiri banyak orang. Jika diijinkan untuk memilih, Hendra akan memilih untuk tetap tidur di kamarnya.
Beberapa orang mengatakan sesuatu untuk memotivasi Hendra yang nampak lesu, sedangkan beberapa lagi menyamakan pemuda itu dengan seseorang yang memiliki kesenangan untuk mengurung di kamar daripada bersosialisasi. Karena menurut orang-orang yang lebih memilih untuk berdiam diri di kamar, berada di keramaian akan membuat energi mereka terkuras.
“Jangan khawatir, acara ini hanya dihadiri tamu undangan dari negara anggota Persekutuan saja. Tidak ada yang akan menilaimu hanya karena penampilanmu. Aku yakin ada banyak orang yang akan menatap kita dengan kagum,” ucap Ferdi karena membayangkan jika pesta yang akan dia hadiri nanti akan didatangi banyak gadis-gadis.
“Ini sedikit sesak,” kata Nio sambil beberapa kali mengatur kerah pakaiannya.
Kerah kemeja yang hanya menutupi setengah bagian lehernya, masih dapat memperlihatkan bekas luka pada bagian kanan leher Nio. Menurut beberapa orang mungkin itu adalah bekas luka yang keren, namun tidak mencoba untuk memilikinya. Sementara bagi Nio, bekas luka yang ada di beberapa bagian tubuhnya, termasuk leher, berawal dari rasa sakit yang harus dia tahan hingga pertarungan berakhir.
**
Di tempat lain, tepatnya ruang ganti para perempuan, yang terdengar suara bersemangat mereka, beberapa gadis melihat diri mereka di cermin sebelum berangkat ke tempat diadakannya pesta. Mereka hampir tidak mengenakan riasan secara berlebihan, dan hanya menggunakan pelembab bibir atau lainnya.
(olog note: author nya kagak tahu soal kosmetik:v)
Mereka merasa sangat berbeda dari biasanya saat berseragam harian atau tempur lengkap. Sebenarnya pihak tuan rumah telah menyiapkan pakaian untuk para tamu undangan dari ‘dunia lain’ mereka, namun mereka memilih mengenakan seragam upacara.
Semua gadis menantikan hari ini, ketika mereka mendengar jika upacara Pergantian Tahun akan ditutup dengan pesta. Selain acara ini, mereka belum pernah menikmati pesta apapun sejak bergabung dengan militer.
Di sudut ruang ganti, Sheyn menatap dirinya di depan cermin besar. Dia mengenakan gaunnya, rambutnya dirapikan, dan beberapa gadis memutuskan untuk sedikit merias dirinya.
Dia mengenakan gaun pesta berwarna biru yang dibelinya hanya untuk acara ini. Pakaian pesta telah disiapkan pelayan untuknya dan gadis-gadis lainnya selama kunjungan mereka di Arevelk, tetapi dia tidak berniat memakainya, karena dia akan berhadapan dengan Nio.
Meskipun tidak adil, namun gadis-gadis lainnya telah ‘mengijinkan’ dirinya untuk menyatakan perasaannya mendahului mereka. Dia belum mengatakan hal itu kepada gadis-gadis bawahan Nio yang tertarik dengan pemuda itu, mengingat kendala bahasa yang diderita Tim Ke-12. Hanya Nio yang benar-benar fasih dan sangat lancar berbicara bahasa dunia ini, sementara yang lain baru dalam fase belajar. Mereka berada di tingkat paling bawah jika dibandingkan dengan Nio mengenai masalah komunikasi menggunakan bahasa dunia ini.
Dia mendengar jika Sigiz akan mengenakan pakaian berwarna putih yang dia dapatkan ketika mengunjungi Indonesia, dan dia sangat menantikan hal itu. Karena di dunia ini, warna putih sangat jarang diaplikasikan pada pakaian, dan hanya sebatas pada bangunan mengingat mereka belum menemukan teknik untuk mewarnai kain dengan warna putih.
Kain di dunia ini mayoritas terbuat dari serat tumbuhan, dan tidak terbuat dari kapas atau kepompong penghasil sutra. Benang yang dihasilkan akan berwarna kecoklatan atau hijau lumut, sehingga kebanyakan pakaian masyarakat dunia ini berwarna tersebut. Itulah yang menyebabkan ada ungkapan jika pakaian berwarna putih adalah harta paling berharga dibawah harga diri dan wilayah. Konon, pernah ada cerita jika sepotong kain berwarna putih seluas satu meter dapat ditukarkan sebuah tanah seluas Pulau Madura.
Sigiz, Lux, Edera, Hevaz, dan Zariv mendukungnya untuk menyatakan perasaannya yang sebenarnya kepada Nio. Meski mereka semua tahu jika Nio sudah memiliki kekasih yang sesungguhnya, mereka sepakat untuk menjadi ‘simpanan’ atau selir ‘rahasia’ dan menjadikan tetap Arunika kekasih utama Nio. Setidaknya, hukum Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo tidak ada yang mengatur mengenai batasan seseorang memiliki pasangan, selama seseorang yang memutuskan memiliki banyak pasangan dapat bersikap adil dan baik itu bukanlah masalah selama mereka saling mengerti dan memahami.
Sheyn khusus membeli gaun yang dia kenakan sekarang untuk pesta hari ini. Dia menghabiskan waktu lama untuk memikirkan warna dan desain yang tepat. Dia butuh waktu lama untuk merias wajahnya sehingga bekas luka di wajahnya hampir tidak terlihat, dan memilih gaya rambut mana yang akan menjadi pelengkap yang sempurna.
Dia pernah ke pesta sebelumnya, di saat dia masih berpihak pada Kekaisaran Luan. Kedudukannya sebagai calon kaisar selanjutnya akan memaksanya untuk menghadiri suatu acara, bahkan yang paling tidak dia sukai. Dia tidak pernah aktif mengambil peran dalam acara semacam pesta yang dihadiri bangsawan dari luar negeri. Bangsawan yang pernah mendekati Sheyn, mereka tidak lebih dari alat politik, pura-pura mendekatinya untuk mendapatkan status atau harta semata.
Dia membenci pesta yang melibatkan keluarga bangsawan, dan jika para anak laki-laki bangswan mendekatinya, mata mereka tertuju hanya pada status dan kekayaan keluarga kaisar. Para bangswan senang mencari muka. Dia lelah menghadapi pujian setengah hati dari mereka, apalagi dia harus menanggapinya dengan senyuman. Baginya, itu semua tak ada bedanya dengan siksaan. Dia membenci pesta-pesta sejenis itu.
Tapi, hari ini berbeda. Dia telah lepas dari Kekaisaran Luan dan menjadi ratu Kerajaan Yekirnovo. Dia dikelilingi orang-orang yang berasal dari berbagai kalangan yang mau menerimanya. Dia memimpikan momen memiliki teman yang sebenarnya, dan bukan teman ‘palsu’. Lalu, ekspresi yang akan dia buat ketika menghadapi Nio nanti menghabiskan pikirannya.
Sebelum kedatangan Nio di dunia ini, Sheyn belum pernah memiliki pria idaman. Pada akhirnya, dia jatuh cinta untuk pertama kalinya pada seorang prajurit dunia lain yang pernah menghajar panglimanya hingga hampir sekarat.
Hanya Nio, seorang pria yang tidak memasang ekspresi ‘jijik’ yang tersembunyi ketika berbicara sambil menatap wajahnya secara langsung. Sebenarnya, dia senang setelah mendapatkan bekas luka di wajahnya. Karena berkat itu jumlah pria yang mendekatinya hampir tidak ada karena kondisi fisiknya tersebut.
__ADS_1
Dia dan Nio sama-sama memiliki bekas luka di wajah, meski milik Nio tak separah miliknya, tapi pemuda itu hanya memiliki satu mata. Tetapi, Nio terlihat ‘biasa saja’ saat berbicara dengannya dan tidak mencoba menjaga jarak ketika berada didekatnya. Ketangguhan Nio ketika bertarung telah dibuktikan saat pertempuran besar pertama Aliansi dengan Pasukan Ekspedisi, dan menurut pandangannya Nio telah berhasil memenuhi syarat menjadi ksatria yang sebenarnya. Bahkan, jika dia menemukan pria dengan sifat mirip dengan yang dimiliki Nio, Sheyn yakin pria itu tidak akan berhasil membuatnya memiliki perasaan jatuh cinta seperti yang dia alami sekarang.
Dia sangat berterimakasih dengan adanya fenomena Gerbang yang menghubungkan dunianya dengan dunia asal Nio, meski itu memunculkan banyak masalah untuk kedepannya.
Dia harus mengakui perasaannya sekarang, meski Nio telah memiliki seorang perempuan ‘utama’. Dia tidak akan memalingkan wajah karena malu atau cemas… karena dia akan benar-benar akan mengatakan perasaannya yang sesungguhnya. Kekagumannya terhadap Nio tidak hanya saat mereka bertemu di medan perang, tapi juga di hari-hari biasa. Ketika dia membuang muka, bisa saja dia akan kehilangan Nio dan kesempatannya untuk mendapatkannya kembali tidak ada, dan itu membuatnya takut. Tapi, dia akan membenci dirinya sendiri jika tidak mengatakan perasaan sesungguhnya, namun dia sudah kehilangan Nio tanpa pernah tahu tentang perasaannya.
Jadi, dia memutuskan akan melakukannya, dengan begitu dia tidak akan menyesal.
Dia kemudian mengenakan kalung buatan tangan di lehernya. Kalung tersebut terbuat dari emas murni – yang memiliki nilai sama dengan sebuah kendaraan taktis lengkap dengan senjata dan perlengkapan pendukungnya. Perhiasaan itu dihiasi dengan batu permata berwarna merah. Setelah itu, dia melihat ke cermin lalu mengangguk untuk meyakinkan dirinya sendiri.
**
Tempat diadakannya pesta memiliki fungsi sebagai tempat acara sosial seperti rapat warga atau perayaan semacam upacara Pergantian Tahun atau lainnya.
Di dalam ruangan, terdapat karangan bunga yang tak terhitung jumlahnya, dan meja dengan makanan pembuka. Beberapa tamu undangan sudah mulai berdansa dengan pasangan pilihan mereka atau sekedar melakukan obrolan bertopik ringan.
Uniknya, hampir tidak ada bangsawan pemerintahan dan daerah yang hadir pada pesta malam ini yang mengenakan pakaian berwarna putih. Kedatangan tamu dari ‘dunia lain’ membuat mereka merasa harus mengenakan pakaian terbaik yang mereka miliki – atau memesan pakaian pada tukang jahit terbaik negeri asal mereka untuk mendapatkan desain terbaru. Melihat kemeja putih yang dikenakan para laki-laki tamu undangan perwakilan kontingen ‘dunia lain’, beberapa bangsawan laki-laki yang tertarik langsung mengerumuni mereka.
Pada salah satu sudut ruangan pesta, Hendra terlihat berdiri di pojokan sambil memakan menu pembuka sejenis sate – dengan daging dan bumbu khas Arevelk. Dia merasa jika keramaian telah menyatakan diri sebagai musuhnya, dan Hendra tinggal menerima tantangan keramaian dengan cara menarik diri dari kerumunan tamu undangan yang mengelilingi rekan-rekannya.
“Sayang.”
Liben melihat Ivy mendekatinya setelah keluar dari ruang ganti dan mengulurkan tangan padanya, dia membeku di tempat. Rambut kecoklatan gadis itu lurus, dan cocok dengan gaun berwarna biru gelap, yang melengkapi kulit putih dan rambutnya yang cerah.
Liben menatap Ivy seperti seorang dewi, dan aksesoris yang dipakai gadis itu berkilau. Bahkan aksesoris pada jas seragam upacaranya tidak ada apa-apanya dengan aksesoris yang dihiasi batu mulia milik Ivy.
“Ah… aku lupa kalau kita akan bertunangan,” ucap Liben di dalam hati setelah menatap Ivy dengan mematung di tempatnya.
Melihat lengan ramping dengan kulit putih terulur dan ingin menggandeng tangannya – yang berkulit coklat gelap – membuat Liben merasa udara dingin mengepungnya. Dia merasa jika keberuntungan terlalu berpihak padanya, sehingga gadis sempurna seperti Ivy jatuh cinta padanya.
Dia melihat sekeliling ruangan pesta, dan mendapati jika di sini ada cukup banyak anak bangsawan atau bangswan muda yang dia rasa akan cocok dengan Ivy. Namun, dia tidak ingin menyia-nyiakan keberuntungan yang dia dapatkan meski itu sedikit sesuatu menurutnya.
“… Apa kau tidak apa-apa denganku, Ivy?” akhirnya Liben bertanya, meski dengan bahasa yang terkesan agak berantakan.
Liben dengan hati-hati meraih tangan ‘calon’ tunangannya. Dia adalah prajurit asal Papua yang dikirimkan kembali ke dunia ini, dan karena dia memiliki hubungan dengan Ivy, Liben diperlakukan seperti ksatria bangsawan (tanpa sepengetahuan markas pusat). Meski kebanyakan ksatria adalah bangsawan rendah sampai menengah, dia tetap saja dianggap sebagai bangswan oleh kebanyakan orang Arevelk yang mengenal Liben sebagai orang beruntung yang memenangkan hati Ivy.
Anggota Tim Ke-12 yang melihat Liben menggandeng seorang gadis sempurna, menatapnya dengan tatapan penembak jitu yang penuh dengan dendam.
Prajurit Garnisun Jayapura, Kaikoa, melihat Liben – yang berasal dari tanah yang sama dengannya dengan tatapan iri. Namun, ada lima anak gadis bangsawan pemerintahan yang menatap Kaikoa dengan tatapan kagum, atau tepatnya mereka telah menetapkan pemuda itu sebagai pria incaran, dan dia tidak menyadarinya dan tetap duduk di tempatnya sambil menatap iri Liben.
Begitu pula dengan puluhan anak gadis bangsawan pemerintahan dan daerah lainnya, seluruh prajurit laki-laki tamu undangan perwakilan kontingen ‘dunia lain’ mereka incar. Namun, keberadaan mereka seperti tak dianggap oleh para laki-laki, hingga mereka memilih menggunakan cara ‘agresif’ untuk mendapatkan perhatian para laki-laki.
Beberapa laki-laki terlihat lebih memilih memakan hidangan yang tersedia, sambil sesekali menanggapi gadis-gadis bangsawan yang tertarik dengan mereka.
Kemudian, Nio muncul di ruangan pesta sambil membawa jas yang tidak dia kenakan, sehingga dia hanya mengenakan kemeja putih dengan dasi berwarna hijau. Dia tidak menata rambutnya dengan benar – karena memang sudah benar-benar susah diatur. Sebagai pengharum tubuh, dia menggunakan parfum yang dapat ditemukan di warung atau toko serba ada di Indonesia, tentu saja berharga murah.
“Hei.”
“Apa?”
Lengan Jonathan dan Kambana saling menggandeng sejak mereka berdua berjalan menuju ruangan pesta. Jonathan menatap orang yang dia gandeng.
“Apa memang kita harus bergandengan seperti ini?”
“Yah, tinggi kita memang hampir sama. Apa itu masalah untukmu?”
Kambana menjawab sesuai dengan apa yang ingin dia katakan. Untuk seorang perempuan, dia cukup tinggi. Dia lebih pendek dari Nio, namun dia sedikit lebih tinggi dari Zefanya yang memiliki tinggi badan 170 centimeter.
Jonathan tentu saja mengenakan seragam upacara yang sama dengan yang dikenakan Nio dan bawahannya. Kambana memakai gaun merah yang cocok dengan rambut pirang dan kulit putihnya. Itu adalah pakaian yang ‘berani’, karena memperlihatkan belahan dada dan memperlihatkan punggungnya yang kencang. Kambana memandang Jonathan dengan senyum bangga.
__ADS_1
“Tidak perlu menahannya. Katakan apa yang kamu pikirkan tentang penampilanku.”
Kambana jelas menginginkan pujian dari kekasihnya, meskipun dia telah menambah kesan feminimnya.
“Kamu semakin cantik… kurasa.”
Pesta ini dihadiri hampir seratus keluarga bangsawan pemerintahan dan daerah, seluruh tamu undangan perwakilan kontingen ‘dunia lain’, dan tamu undangan dari Kerajaan Yekirnovo. Para hadirin mengenakan pakaian dengan berbagai warna – kecuali warna putih. Suara tawa keras serta obrolan menyaingi musik yang keras.
Obrolan para bangsawan terdengar seperti membicarakan pakaian putih yang akan dikenakan Sigiz pada pesta ini. Mereka sangat menantikan hal itu, dan telah memenuhi syarat untuk membuat banyak orang merasa sangat penasaran. Bahkan Nio berpikir seberapa berharganya pakaian berwarna putih bagi dunia ini, seakan-akan sebuah kemeja putih yang dia kenakan dapat ditukar dengan sebuah negara. Bahkan jika hal itu benar, Nio tidak akan menukarkan kemeja putih miliknya untuk sebuah negara. Dia merasa mengatur sebuah Regu masih cukup sulit baginya, dan dirinya tak bisa membayangkan jika harus mengatur sebuah negara di dunia ini setelah menukarkan kemeja putihnya.
Nio melihat seluruh anggotanya berkumpul bersama pada suatu tempat, dan dia melihat beberapa bangsawan menatap mereka dan berbicara mengenai sesuatu tentang anggotanya. Tatapan bangsawan laki-laki dan perempuan terhadap anggotanya seperti orang yang tertarik terhadap mereka, meski dalam artian tertarik pada hal yang romantis. Lagipula, dia belum tahu dan pernah membaca bahwa prajurit Pasukan Perdamaian dilarang untuk memiliki pasangan dari dunia ini. Jadi, dia akan membiarkan bawahannya untuk mengincar dan memilih orang asal dunia yang mereka pilih.
Para gadis dunia lain terlihat tidak ada di dekatnya, meski itu hal yang membuat perasaan Nio cukup tenang. Mereka ada di tempat yang terpisah, sambil bercakap-cakap dengan perempuan bangsawan. Wajah mereka tidak menunjukkan keberatan ketika berbicara dengan bangsawan, namun setelah topik beralih dan para perempuan bangsawan memperkenalkan anak laki-laki mereka, wajah para gadis langsung menunjukkan ekspresi ketidaksukaan yang sangat jelas. Tentu saja itu membuat anak laki-laki bangsawan menjauh dari mereka… dengan perasaan patah hati yang menyakitkan meski itu hanya sebatas tatapan, dan bukan ucapan penolakan yang kasar.
“Kenapa mereka memisahkan diri?”
Nio merasa jika Hendra yang memisahkan diri adalah hal yang wajar, dan dia tidak dapat memaksa Hendra untuk bergabung dengan yang lain. Wajah Hendra benar-benar menunjukkan orang yang sangat lesu, dan sangat ingin pulang. Dia bahkan tidak menanggapi beberapa perempuan yang mengelilinginya.
Namun, Nio melihat hal yang serupa, tapi sedikit berbeda dengan kasus Hendra yang memang sangat menyukai ketenangan. Zefanya dan Sheyn terlihat duduk pada salah satu tempat yang telah di sediakan. Nio hampir tidak menyadari keberadaan keduanya, karena tumpukan hidangan yang menghalangi wajah mereka berdua.
Di lain sisi, Zefanya berbicara dengan kemampuan seadanya bersama Sheyn. Sesekali Sheyn membenarkan perkataan Zefanya yang memiliki susunan salah atau terbalik. Nio memutuskan mendekati mereka berdua daripada berdiri tanpa melakukan apapun, meski dia menyadari ada sekitar 30 anak gadis bangsawan pemerintahan dan daerah yang ingin berkenalan atau undangan untuk makan malam bersama.
Di lain sisi, Sheyn masih belum memiliki keberanian untuk berbicara dengan Nio, meski beberapa saat lalu dia bisa berbicara dengan lancar dengannya. Sementara itu, Zefanya tidak mengerti dengan Sheyn yang memperlihatkan reaksi aneh. Dia menyadari jika Mayat Hidup (Nio) berdiri di dekat mereka.
Nio cukup terkejut setelah melihat Zefanya yang tidak mengenakan seragam upacara perempuan seperti kontingen Rusia yang hadir pada pesta ini. Gadis itu justru mengenakan seragam upacara laki-laki, bahkan dia mengenakan sepatu pantofel laki-laki dan bukannya sepatu hak tinggi seperti yang dikenakan para gadis. Zefanya juga memakai aksesoris tambahan berupa sarung tangan berwarna putih.
Sebagian wajah Zefanya tetap dililit dengan perban – seperti ketika melaksanakan tugas harian. Sebagai kapten tim unit khusus, Nio memiliki infomasi mengenai bawahannya, termasuk informasi mengenai kondisi fisik bawahannya.
Wajah bagian kanan Zefanya memiliki bekas luka yang cukup besar, dan gadis itu cukup beruntung karena luka yang dia dapatkan tidak sampai membuatnya kehilangan penglihatan pada mata kanannya. Selain pada bagian wajah, bagian dada dan tubuh lainnya memiliki bekas luka yang gadis itu dapatkan ketika bertarung dengan musuh dari dunia lain. Nio merasa jika perjuangannya melawan musuh dari dunia lain masih lebih mudah daripada perjuangan Zefanya yang dia rasa lebih sulit dan menyakitkan. Dia tidak tahu mengapa Zefanya memiliki bekas luka mengerikan seperti itu, namun dia membayangkan bagaimana ekspresi gadis itu saat dia kesakitan setelah mendapatkan luka yang menyebabkan bekas luka pada tubuhnya.
Sedangkan untuk Sheyn, luka pada wajah bagian kirinya menyebabkan mata kanan gadis itu kehilangan penglihatannya. Ketika mendapatkan bantuan untuk mengembalikan kondisi wajahnya seperti semula dan menghilangkan bekas luka pada wajahnya, Sheyn menolak dengan alasan jika bekas luka yang dia dapatkan adalah bukti perjuangannya. Intinya, dia tidak terima saat tanda perjuangannya dihapus begitu saja, meski itu membuat penampilannya berbeda.
“Kenapa kamu tidak duduk, Letnan Nio?”
Zefanya – yang telah mendengar banyak cerita Sheyn – mengenai Nio, mengambil kursi kosong di sampingnya, dan meletakkannya di samping Sheyn.
“Zefanyaaaa! Kenapa kamu masih di situ, ayo berfoto bersama…”
Zefanya berdiri setelah mendengar suara keras Ratna. Nio menoleh ke sumber suara, dan melihat beberapa gadis tamu undangan perwakilan kontingen Rusia dan Korea Utara bersama gadis Tim Ke-12 membentuk formasi berfoto yang telah mereka tentukan.
“Maaf Ratu Sheyn, sepertinya saya harus meninggalkan kalian berdua.”
Sheyn terlihat hanya bisa pasrah setelah Zefanya berjalan menjauhi mereka berdua, sementara itu Nio terlihat memandang anggota laki-lakinya berdansa dengan anak gadis bangsawan yang terpilih menjadi pasangan dansa mereka. Meski gerakan mereka nampak tidak karuan, bawahan laki-laki Nio terlihat berusaha keras agar gerakan mereka selihai pasangan dansa mereka.
Tapi dalam sekejap, kemeriahan pesta tiba-tiba berubah menjadi keheningan setelah seseorang berkata dengan suara keras bahwa Yang Mulia Sigiz telah tiba dan akan bergabung dengan pesta.
Sigiz menuruni tangga seperti perempuan bermartabat yang memancarkan kemurnian dan keanggunan sesungguhnya.
Nio dan seluruh anggota Tim Ke-12 – yang berasal dari Indonesia melihat Sigiz sambil mematung. Mereka tidak bergerak sama sekali setelah tahu ‘pakaian putih’ yang dikenakan Sigiz, bahkan mereka sendiri tidak tahu harus bereaksi seperti apa mengenai pemandangan ini. Memang, tidak ada orang yang tidak dapat menyangkal kecantikan milik Sigiz, namun bagi orang Indonesia yang hadir pada pesta ini pakaian yang dikenakan Sigiz benar-benar tidak terduga.
Seluruh bangsawan yang melihat Sigiz yang benar-benar mengenakan pakaian putih menatap dengan kagum, mereka juga mengeluarkan suara yang menandakan rasa terkejut dan kagum mereka.
Sheyn melihat Nio yang menatap Sigiz dengan ‘pakaian putih’ yang dikenakan ratu negara tuan rumah tanpa berkedip. Kemudian Nio berkata…
“Ini serius, atau hanya aku yang kurang tidur?”
Nio dan seluruh bawahannya – yang berasal dari Indonesia – memiliki pertanyaan yang sama mengenai pakaian yang dikenakan Sigiz.
“Jadi, pakaian putih milik Ratu Sigiz yang kami tunggu adalah seragam SMA Indonesia?!”
__ADS_1
“Bahkan dia juga memakai dasinya!”
“Tunggu, bukannya pakaiannya memang terlalu kecil buat Ratu Sigiz yang memiliki dada besar? Aku jadi kasihan sama kancingnya,” ucap Nio.