
Hari pertama liburan yang damai.
**
Seorang gadis setinggi 155 centimeter, namun telah berusia 21 tahun bulan lalu berjalan dengan pelan. Wajahnya menunduk menatap layar ponsel pintar, namun dengan ekspresi lelah dan tanpa senyum. Bahkan walau yang dia lihat media sosial rekan-rekannya yang telah bekerja atau menikah yang seharusnya membuatnya ikut senang, dia tampak tidak merasakan hal itu.
Dia hanya mengenakan celana olahraga dan hoodie hitam, dengan kacamata bundar dan rambut sebahu. Memang terlihat tidak seperti gadis seusianya yang memperhatikan penampilan agar terlihat menarik, tapi dia lebih menyukai pakaian sehari-hari seperti itu, terutama ketika sedang bekerja.
Namun sekali lagi, dia berjalan tanpa perasaan senang seperti kumpulan gadis-gadis muda yang berjalan mendahuluinya.
Karena belum dibayar selama berbulan-bulan, layanan internet di rumahnya diputus sehingga mengharuskannya menggunakan data seluler. Karena memiliki batas waktu atau jumlah yang dia beli sedikit, jumlah kuota data yang tersisa hanya cukup untuk dua hari.
Pesan dan panggilan terus masuk dari perusahaan penyedia layanan air konsumsi, menuntut pembayaran tagihan air. Membuat situasi yang dialaminya semakin buruk.
Pembayaran pajak listrik dan asuransi? Ya, sudah waktunya sejak dua hari lalu.
Namun, tanpa listrik semuanya akan berakhir, sehingga tagihan pajak listrik harus segera dibayar, sehingga mungkin dia mengesampingkan pembelian kuota data yang hampir berakhir. Selain itu, dengan uang yang tersisa, dia hanya bisa membeli 3 bungkus mi instan.
Dia masih memiliki persediaan beras di rumah sebanyak 5 kilogram dengan harga 55.000 rupiah, yang dia beli sebelum berbagai tagihan berdatangan dan menghabiskan uangnya. Satu bungkus mi instan varian ayam bawang dikenai harga 2.500 rupiah, untuk tiga buah berarti 7.500 rupiah.
Selain itu, dia bisa menggunakan mi instan sebagai lauk darurat sebelum hari pembayaran gaji tiba dua minggu lagi. Lalu, ada banyak pohon pepaya yang tumbuh liar di sekitar desa, sehingga dia dapat memanfaatkan daun dan pepaya muda sebagai bahan lauk murah.
Dia sangat berterima kasih terhadap tetangga yang mengajarinya mengolah pepaya muda dan daun pepaya sebagai lauk, Indonesia adalah negara yang makmur. Namun, jasa pencipta mi instan tak kalah besar. Terimakasih bagi pencipta mi instan, Anda telah menciptakan ‘lauk darurat’ murah yang menyelamatkan banyak orang.
Sejak kemarin, dia hanya memakan nasi dan tumis daun pepaya, seperti seseorang yang menjalani diet paksa. Namun, jika dia tetap membeli tempe atau tahu, dia akan kehilangan uang 4.000 rupiah yang rencananya akan digunakan sebagai dana darurat. Jadi, tidak peduli banyaknya godaan untuk perutnya, keterbatasan ini harus ia hadapi.
“Aku harus bertahan sampai hari gajian. Tetap semangat!”
Beberapa ratus meter lagi, dan dia akan tiba di rumah sepulang kerja dari tempat penitipan anak dan paruh waktu.
Tapi, nyatanya dibutuhkan banyak pengeluaran untuk bertahan hingga hari gajian tiba. Tagihan harus segera dibayar, tunggakkan harus dilunasi, dan kehidupan masa mudanya dihabiskan untuk menghadapi semua itu. Berlibur dan jajanan sudah cukup menyenangkan dan mengenyangkan dengan hanya melihatnya.
__ADS_1
“Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menahannya untuk sementara, tapi ini akan membunuhnku jika terus berlanjut. Aku hanya bisa makan enak sampai kenyang bersama Nio di dalam mimpi. 1.000 rupiah di akhir bulan jauh lebih berharga daripada 1.000.000 saat hari gajian, kenapa aku baru menyadarinya sekarang…”
Di rumah gadis itu, lemari es yang kosong dicabut karena takut menambah tagihan pajak listrik. Semua lampu kecuali untuk teras dan dapur harus dimatikan. AC? Apa bisa aku menggunakkannya dengan gaji pas-pasan? Jika cuaca sedang panas, aku bisa berbaring di lantai dengan santai.
Setelah dia membuka pintu, hanya sinar matahari dan jendela sebagai pencahayaan ketika pagi hingga sore.
Dia menatap datar rumah yang sepi, tapi itulah yang dia lalui setelah kepergian Surya untuk selama-lamanya. Akhir bulan yang menyiksa melengkapi kesedihannya.
“Apa aku bisa meminjam uang Kak Arunika dan Kak Tania?...”
Dia memang memiliki pemikiran seperti itu, tapi dia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk melakukannya. Dia tahu bahwa semua orang memiliki kebutuhan hidup masing-masing, sehingga tidak mungkin dia meminjam uang pada orang-orang ketika masa akhir bulan. Akibatnya, dia memutar otak untuk memikirkan cara bertahan hingga awal bulan.
Setelah masa perang di Indonesia berakhir, orang tuannya dan Surya bahkan tidak pernah menghubunginya lagi, bahkan tidak mengucapkan bela sungkawa atas gugurnya Surya. Dia tidak bisa menghubungi kerabat-kerabatnya untuk meminta bantuan. Semua itu terjadi seolah-olah orang tua dan semua saudara tidak ingin mengenalnya dan Surya lagi.
Hidup dan bekerja sendiri adalah pilihannya. Jika akhir bulan seperti ini terjadi setiap hari jika dia tidak segera menemukan pekerjaan tetap, dia berpikir apakah perlu mengais di tempat sampah atau menjual diri.
Ketika dia memikirkan hal itu, dia melihat bayangan dirinya di pantulan kaca cermin lemari di kamarnya.
Saat memikirkan semua itu, dia menghela napas panjang yang terdengar memprihatinkan.
“Laki-laki macam apa yang mau membayar dan tidur bersama perempuan jelek sepertiku. Bahkan Nio pasti lebih memilih gadis-gadis dunia lain yang jauh lebih sempurna.”
Situasi keuangan yang parah membuatnya ingin segera menemukan seseorang yang ‘rela’ menikahinya, atau kembali ke masa SMA yang damai sebelum perang pecah.
Di masa itu, dia memiliki banyak teman yang baik hati, seorang pujaan hati yang sering melanggar peraturan sekolah, dan kakak serta orang tua yang perhatian padanya.
Pada saat itu, dia menyadari memiliki kemampuan khusus akan menyelamatkannya pada masa-masa sulit seperti sekarang. Namun, hobi membuat ilustrasi tidak bisa membuatnya bisa membeli ayam bakar yang katanya lezat itu. Seluruh ilustrasi bergaya ‘anime’ hanya mendapatkan ‘suka’ dan ‘komentar’ yang baik pada salah satu media sosial, tanpa mendapatkan uang bahkan donasi dari orang-orang baik dari pekerjaannya.
“Nio tolong pinjami aku uang. Aku kelaparan setengah mati,” keputusan apakah meminta bantuan jika Nio pulang sewaktu-waktu seperti berdebat tentang peluncuran senjata nuklir.
Seharian ini dia hanya minum air keran dan roti ketika bekerja paruh waktu di minimarket dan penitipan anak. Makanan layak terakhirnya adalah kemarin, yakni mi instan varian ayam bawang dengan tambahan nasi yang membuatnya mampu bertahan sampai hari ini.
__ADS_1
Kepalanya sakit memikirkan hari-hari esok, dan kelopak matanya berat karena ingin tidur. Meski begitu, dia masih ingin mencoba menghibur diri, namun yang terjadi adalah tangisan dan teriakkan, “Aku ingin mati!”
Jam dinding menunjukkan pukul 18.03, dan tepat saat itu seseorang membuka pintunya. Bahkan jika yang membuka pintu adalah pencuri atau pembunuh berantai yang akan menikmati tubuh dan hidupnya sebelum melancarkan aksi, dia tidak akan melawan.
“Nike, aku masuk. Aku khawatir padamu karena kamu berteriak seperti itu. Kenapa kamu ingin mati? Ah, lupakan, kenapa kamu tidak menghidupkan lampu?”
Suara itu terdengar sangat familiar, seperti pujaan hati yang tidak bertemu selama bertahun-tahun.
“Nio?”
“Nio…!”
Nike berlari keluar dari kamarnya, dan memanggil nama Nio seolah-olah pria itu penyelamat hidupnya ketika semangat hidup tak ada lagi, atau mungkin kata itu tidak cocok karena memang itulah tugas Nio untuk melindungi warga negara Indonesia seperti dirinya.
Nio membawa kantong plastik transparan yang berisi berbagai bahan makanan, tentu saja Nike sangat menginginkannya. Tapi, Nio masih memiliki Arunika, sehingga dia tidak ingin memintanya dari Nio walau keadaan memaksanya.
Beberapa saat kemudian, beberapa orang muncul dari belakang Nio walau satu orang di antara mereka dikenal olehnya.
“Ni-Nio, kamu pulang membawa banyak wanita lain?”
Walau wajah Nio tertutup masker buff berwarna hitam, tetapi suara pria itu tetap dikenal oleh Nike. Namun, dia tidak mengenal perempuan-perempuan ‘sempurna’ yang dibawa masuk oleh Nio ke dalam rumahnya, dan hanya Tania serta Edera yang dikenal olehnya. Sisanya benar-benar wajah asing.
Pada pemeriksaan lebih mendalam dan jelas setelah Nio menghidupkan lampu ruang tamu, Nike menyadari jika para perempuan kecuali Tania adalah gadis-gadis dunia lain.
Di saat yang bersamaan, Nike melihat lengan kanan hoodie Nio berkibar, seperti pria itu kehilangan lagi tangan kanannya.
**
Beberapa ilustrasi Nike, tinggal pilih mana yang kamu suka. Sumber gambar pinterest.
__ADS_1