Prajurit SMA

Prajurit SMA
Keputusasaan Pahlawan Amarah


__ADS_3

Hevaz menjilat bibirnya setelah sisa personel Peleton Khusus Aliansi yang telah kehabisan amunisi – hanya beberapa yang memiliki sisa amunisi, menatapnya sambil mengarahkan bayonet ke depan. Pasukan ini telah kehilangan 20 personel serta hampir kehabisan amunisi, dan yang tersisa terpaksa berurusan dengan Hevaz. Tembakan yang mereka lakukan barusan sama sekali tidak berguna, dan itulah penyebab sebagian dari mereka tidak memiliki peluru lagi untuk sekarang. Melihat ekspresi putus asa dan gelisah personel musuh tidak menghentikan langkah Hevaz untuk melaksanakan tugasnya sebagai utusan Dewi Kematian.


Kadang-kadang situasi seperti ini menjadi bahan penyemangat bagi pihak yang kemenangannya telah terjamin, namun bagi pihak lainnya nampak seperti tragedi karena kematian hanya tinggal menunggu beberapa tarikan napas lagi. Berita tentang turunnya seorang ‘Utusan’ telah menyebar ke seluruh penjuru negara-negara anggota Aliansi, terlebih yang mengirim Utusan tersebut salah satu keberadaan terkuat di dunia ini yang disebut sebagai Dewi Kematian. Tidak ada yang mampu menghindari kematian meski manusia telah melakukan berbagai cara, termasuk melawan utusan penguasa kematian itu sendiri. Dengan teriakan keras yang dipenuhi dengan perasaan putus asa, sisa personel Peleton Khusus Aliansi berlari ke arah Hevaz dengan bayonet mengarah ke depan… dengan harapan dapat melukai Utusan tersebut.


Ketika melihat hal ini, sayap besar Hevaz menghilang, dan gadis itu tersebut tersenyum – sebuah ekspresi yang cocok untuk julukannya ‘Pelahap Jiwa’. Ketika ujung bayonet salah satu personel musuh akan menusuk dadanya, pusaran hitam kematian mengamuk.


Sesuatu yang luar biasa dan mengerikan baru saja terjadi, seseorang yang tampak seperti gadis cantik mengayunkan sabit besarnya dan membelah tubuh musuh yang berusaha melukainya. Musuh berusaha menentang pikiran mereka mengenai kecantikan gadis tersebut, tetapi hal itu memang tak terbantahkan. Setiap ayunan dan tebasan yang Hevaz lakukan merenggut nyawa tiga orang musuh sekaligus.


Seorang personel musuh baru bernapas sebelas kali saat berhadapan Hevaz, dan setelah menghembuskan napas ke dua belas gadis itu memisahkan kepala musuh tersebut dari tubuhnya.


Bagi personel Peleton Khusus Aliansi yang masih memiliki sisa peluru hanya bisa mundur dan berlindung di balik perlindungan dan membalas serangan dengan tembakan tunggal. Namun, kecepatan gerak Hevaz saat menghabisi satu persatu rekan mereka dengan mudah hanya menambah kebingungan dan ketakutan.


Setelah memuat magasin terakhir dan merubah mode tembakan ke putaran tunggal, mereka mengarahkan senjata mereka pada Hevaz, dan berniat melumpuhkan gadis itu dengan proyektil 7,62mm mereka yang sangat mematikan. Tetapi pada saat gadis itu merasa senapan mereka mengarah padanya, dia melompat dengan sayap besar terbentang hingga menutupi sinar kedua bulan yang hampir lenyap karena matahari beberapa saat lagi akan terbit. Hevaz berhasil menghindari lesatan peluru musuh dengan lompatan yang anggun.


Mereka juga menembaki panser yang menutup jalur mundur mereka dan membalas serangan penumpang di dalamnya. Celah pada kendaraan lapis baja pengangkut personel tersebut terbuka agar penembak dapat melindungi Hevaz, dan menutup jalur pelarian musuh. Mereka tidak menggunakan meriam otomatis 20mm, mengingat pertempuran terjadi di tengah pemukiman penduduk. Jika mereka membersihkan sisa personel musuh dengan senjata tersebut, itu artinya akan ada kerusakan pada properti milk warga sipil.


Gadis Utusan dan pelayan pribadi ‘orang yang diramalkan’ tersebut terbang dengan anggun di udara, seperti manuver ‘gila’ pilot jet tempur kontingen Rusia. Ia Berputar dan menghindari setiap proyektil yang mengarah padanya. Jika dia terbang dan berjuang bersama sebuah skuadron, itu akan menjadi perpaduan dan kerjasama tim yang unik.


Setelah terbang sambil menghindari tembakan yang menyasar dirinya, Hevaz kemudian mendarat lalu berlari dengan gerakan gesit dan mendekati dua personel musuh dalam sekejap, kemudian memotong kedua tangan mereka dengan sabitnya.


Sisa personel Peleton Elit Aliansi bahkan melupakan taktik dan pelatihan mereka di tengah badai peluru dan amukan gadis yang merenggut nyawa satu persatu rekan-rekan mereka. Mereka hanya bisa melawan dengan putus asa untuk tetap menunjukkan kebanggan terhadap Aliansi. Mereka melawan dengan bayonet dan menembak dengan liar menggunakan sisa peluru, lalu ditembak mati oleh personel pasukan ‘dunia lain’ yang berlindung di berbagai tempat dan hampir tidak memperlihatkan wujudnya.


Kekuatan penghancur sabit raksasa gadis itu mengejek senjata baru – SP-1 mereka. Dalam setiap ayunan, dia membelah tubuh personel musuh menjadi dua, lalu memotong tangan personel musuh lainnya yang menyebabkan musuh putus asa.


Personel Peleton Elit Aliansi tidak dilatih untuk menghadapi kekuatan tak masuk akal Hevaz dan pasukan ‘dunia lain’ ini. Ketika mereka berpikir untuk melarikan diri dari pertarungan mengerikan ini, peluru 12,7mm mengoyak tubuh mereka.


Penembak kedua senapan mesin otomatis pada kendaraan taktis sangat berhati-hati ketika menembak target. Mereka tidak ingin seluruh anggota Tim Ke-12, khususnya Nio, mendapatkan sanksi karena merusak properti milik warga sipil, dan menyebabkan kapten mereka harus bertanggung jawab. Tetapi, beberapa peluru meleset dan melubangi jalanan yang terbuat dari batu. Penembak senapan mesin otomatis berusaha melindungi Nio yang melawan musuh dalam pertarungan jarak dekat.


Kemampuan bertarung jarak dekat Nio telah meningkat setelah berhasil bertahan dari serbuan tiga kali sehari selama seminggu yang dilakukan Aliansi. Saat itu dia mengandalkan pedang dalam pertarungan jarak dekat, namun sekarang dia mengandalkan karambit yang membuat pergerakannya lebih leluasa. Musuh yang telah kehabisan amunisi memberikan keuntungan baginya, dan dapat menyerahkan tugas menghadapi musuh yang masih memiliki sisa amunisi kepada bawahannya. Dia terus menyayat leher musuh yang menghalangi jalannya untuk mendekati Rio dengan karambit, hingga air mancur darah tercipta dari leher korbannya.


Seorang personel musuh berusaha menusukkan bayonet nya dari belakang, dan usahanya berhasil. Namun, rompi yang dikenakan Nio mampu menahan peluru penembak jitu anti-personel 12,7mm, sehingga serangan bayonet dari belakang yang dilakukan personel musuh tersebut sangat tidak berguna. Dia terlihat gemetar hingga menjatuhkan senjatanya saat Nio membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang berusaha menusuknya dari belakang.


Sebelum memutuskan bergabung dengan Pasukan Pelajar Khusus, Nio pernah menjalani pelatihan beladiri singkat selama dua minggu – bersama Rio dan Jonathan, ketika masih menjadi personel Garnisun Karanganyar, dan pelatihnya adalah mantan atlet MMA. Nio mendapatkan Refleks, tendangan, dan pukulan yang hebat melalui pelatihan tersebut, lalu mengkombinasikannya kemampuan beladiri beberapa aliran silat yang dia kuasai. Itu sebabnya orang-orang menganggap gaya bertarung jarak dekat Nio bervariatif, seperti menggabungkan seluruh gerakan beladiri dan menciptakan jenis beladiri baru.


“Ngajak gelut, hah!?” Nio berpikir jika dia seharusnya mengatakannya sejak pertarungan dimulai. Namun, musuh yang berani berusaha menusuknya dari belakang membuatnya baru mengatakan kalimat tersebut sekarang.


Melihat Nio yang semakin dekat dengannya, personel musuh yang mencoba menusuk Nio beberapa saat lalu mencoba melarikan diri. Tapi Nio dengan cepat menjegal dengan menendang kakinya dengan tendangan horizontal, hingga personel musuh jatuh dan menghantam tanah. Dia tidak melanjutkan pertarungan dengan musuh yang mencoba menusuknya dari belakang tersebut, karena bukan itu tujuannya.


Nio bergerak menyusul Rio yang berlari melalui jalur lain ketika jalur utama yang digunakan mereka untuk memasuki kota telah dikepung oleh ratusan prajurit elit Arevelk. Dia tidak ingin kehilangan jejak orang itu, dan tidak akan membiarkan Rio kembali ke asalnya dengan mudah sebelum menyelesaikan urusannya dengannya. Dia akan segera berlari, namun musuh yang dia jatuhkan tadi malah memeluk kaki kanannya.


Tanpa pikir panjang Nio segera menghantamkan tumit sepatunya dengan keras pada kepala personel musuh yang memegangi kakinya tersebut. Nio merasa dirinya tidak menggunakan tenaga penuh untuk serangan itu, namun dia bisa mendengar suara patahan setelah melakukan serangan itu. Personel musuh tidak bergerak, lalu ketika wajah musuh terlihat, tampak hidung dari personel musuh tersebut mengeluarkan darah sangat banyak. Tapi, Nio segera berlari untuk melakukan tujuannya menemukan Rio, dan meninggalkan personel musuh tak sadarkan diri dengan lubang hidung terus mengeluarkan darah.


‘Parkour’ alias Herman terlihat berlari di atap rumah warga sambil menembaki musuh di bawahnya. Dia melompat dari satu atap ke atap rumah yang lain dengan mudah sambil menenteng SS20 G2 dengan berat 4 kilogram, dia dapat menembak ketika melakukan hal itu. kemudian, dia melihat delapan personel musuh mengejar Nio setelah melihat salah satu rekan mereka dilumpuhkan oleh Nio dengan cara yang sangat keras. Dengan mode tembakan tunggal, Herman melepaskan tembakan perlindungan yang menghabiskan sisa peluru di magasinnya. Tapi, dia berhasil melumpuhkan musuh yang mengejar Nio, sehingga kaptenya dapat melanjutkan urusannya terhadap komandan musuh.


Ya, Nio mengejar komandan musuh seorang diri.


Kedua pihak saling bertukar tembakan, menyembunyikan diri, bergerak ketika ada celah, kemudian menembak lagi. Orang-orang Aliansi ini dan teknik mereka yang sangat dibanggakan dibunuh satu persatu oleh anggota Tim Ke-12 yang telah dilatih jauh lebih keras daripada mereka. Tujuan Tim Ke-12 bukanlah membunuh personel musuh yang jumlahnya semakin berkurang, namun mereka hanya menangani siapapun yang berpotensi membahayakan Presiden.


Rambut Sigiz berayun lembut ketika naga angin miliknya terbang di atas tempat pertarungan Tim Ke-12 dengan Peleton Khusus Aliansi. Dia melihat seluruh bawahan Nio berjuang dengan keras, dan merasa akan mengganggu jika bergabung dalam pertarungan. Namun, dia melihat seorang personel musuh mengarahkan moncong senapannya ke arah naganya.


Seorang personel musuh yang memiliki sisa amunisi di magasinnya membidik naga angin yang terbang pada ketinggian dua puluh meter di atas tanah, lalu menembakkan dua proyektil peluru ke arah naga angin tersebut dengan niat membunuh.


Mendengar ada suara tembakan yang dilakukan seorang personel musuh yang mengarahkan senapannya padanya, Sigiz segera mengendalikan naganya agar menghindari lesatan proyektil. Dia berhasil menghindari serangan tersebut, meski wajahnya tampak sangat terkejut.


**


Rio beruntung dapat melarikan diri dari Nio, meski dia merasakan sakit yang luar biasa di wajahnya setelah Nio meninju wajahnya dengan sangat keras. Dia tidak tahu kalau Nio memiliki kekuatan yang mampu membuat pahlawan sepertinya kesakitan. Dia melarikan diri untuk membuka Gerbang tak sempurna sebagai akses mundur, meski alasan utamanya adalah agar tidak terlibat urusan dengan Nio. Dia sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada orang yang mengejarnya.


Dia berharap sisa anak buahnya mampu melawan musuh hingga dia selesai membuka Gerbang tak sempurna. Jika dia kabur tanpa alasan – lagi, Rio mungkin benar-benar akan dicap sebagai pahlawan paling tidak berguna. Untuk memastikannya sekali lagi, Rio menoleh ke belakang dan tidak melihat siapapun yang mengikutinya.


Ketika Rio menoleh ke depan setelah tidak ada orang yang mengejarnya, sesuatu yang tak terduga menimpanya…


“Bajingan! aku benar-benar akan membunuhmu!”

__ADS_1


Sekali lagi, tangan kanan bionik Nio menghantam wajah Rio dengan kekuatan penuh yang sebelumnya sudah terkena serangan yang sama. Nio melepaskan pukulan secepat kilat yang mengenai hidung Rio dan teriakan yang menggelegar.


“Bangsat! Bangsat! Kenapa kau masih hidup!?”


Serangan Nio mengguncang dirinya, dan orang yang menyandang gelar Pahlawan Amarah itu jatuh ke tanah, dan merasakan rasa sakit yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Dia mengumpat dan mengutuk Nio berkali-kali di dalam hatinya.


Rio tidak mendapatkan jawaban dari Nio atas pertanyaan kasarnya tadi, kemudian dia menenteng senapannya di depan dada dan membidik ke arah tempat Nio berada. Namun, di titik kemunculan Nio sudah tidak ada siapa-siapa.


Biasanya, hanya menampar pipi seorang bangsawan rendah pada suatu negara adalah pelanggaran berat, bahkan menumpahkan minuman pada bangsawan tinggi dapat menyebabkan pelaku dihukum mati. Namun, Pahlawan Amarah yang mendapatkan pangkat bangsawan tinggi dari Aliansi mendapatkan tinju di wajahnya secara tak terduga. Dan sekarang, pelaku yang menyebabkannya merasa kesakitan tidak ada di tempatnya, yang membuatnya semakin resah. Rio telah memberikan Nio status sebagai orang yang paling dia waspadai dan paling berbahaya.


Dia tahu betul meski senapan miliknya mampu menembakkan ribuan peluru tanpa takut kehabisan, masih kalah dengan kualitas dan jumlah pasukan dan senjata milik Persekutuan. Dia memutuskan untuk mencoba membujuk Nio sebelum hal yang tidak dia inginkan terjadi.


Suasana benar-benar tidak nyaman, dan hanya terdengar suara teriakan putus asa dari personelnya yang menderita rasa sakit yang luar biasa ketika harus berurusan dengan personel ‘dunia lain. Tembakan yang dilepaskan bawahan Nio terasa seperti tidak ada habisnya, seperti baru akan berhenti jika seluruh personel Peleton Elit Aliansi di kota ini dihabisi tanpa sisa.


Nio mengintip dari balik gerobak kuda yang berisi muatan guci tanah liat ke arah Rio yang tampak kebingungan atas dirinya yang menghilang dengan tiba-tiba. Jika dia terjebak dalam situasi yang sangat berbahaya, Nio dapat mengambil keputusan dengan cepat untuk bersembunyi di suatu tempat. Faktanya, dia saat ini hanya berjarak enam meter dari Rio, dan Pahlawan Amarah tersebut terlihat kesulitan untuk menemukan keberadaannya. Nio hanya memiliki satu pemikiran, dan dia sudah bersiap melakukan pertarungan dengan Pahlawan Amarah. Dia tidak mempedulikan bahu kirinya yang masih mengeluarkan darah dan membuatnya merasakan perih dari tempat keluarnya darah.


Nio sadar keputusannya untuk melumpuhkan komandan musuh sangat beresiko, dan membuat kesempatan hidupnya berkurang 80% jika dia lengah dalam pertarungan. Dia akan memanfaatkan kelemahan Rio – yang belum menghilang meski pria itu telah menjadi pahlawan yang berjuang bersama Aliansi. Dia merasa euforia mengalir deras di tubuhnya bersamaan dengan persaan takut yang menyertainya.


**


Pertempuran jarak dekat (pencak silat sebagai beladiri utama TNI) dengan beladiri dan menggunakan senjata tajam seperti bayonet sebagai pertahanan utama masih digunakan sampai sekarang.


Sama seperti bagaimana meriam otomatis pada pesawat masih berguna ketika peluru kendali telah diciptakan dengan berbagai keunggulannya, pertempuran jarak dekat merupakan bagian inti dari kurikulum tempur infanteri. Beladiri itu penting dalam pertempuran jarak dekat, sekaligus mempertahankan budaya beladiri asli Indonesia, dan tidak bisa dibiarkan sia-sia.


Dalam penyerbuan besar pertama Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi, banyak prajurit TNI melawan monster dan pasukan manusia musuh dengan beladiri yang dikuasai masing-masing orang. Ketika senapan sudah tidak berguna, bertarung dengan beladiri sangat penting untuk menghabisi musuh mereka.


Selain itu, tidak seperti silat untuk kompetisi, silat militer diciptakan untuk pertempuran sesungguhnya. Itu adalah keterampilan yang dirancang untuk perang.


Ketika Rio berjalan melewati tempat perlindungannya, Nio melompat sambil memegang karambit di tangan kanannya. Dia menyasar bagian leher belakang Rio yang tidak dilindungi oleh apapun, dan melepaskan gerakan menebas secara horizontal. Namun, lawannya ternyata menyadari serangannya, dan Rio langsung melompat kedepan dan berguling kemudian mengarahkan senjatanya pada Nio.


Rio menatap Nio dengan wajah terkejut, dan merasa beruntung dapat menghindari serangan pria itu. Jika dia tidak menyadari serangan Nio, mungkin sayatan karambit darinya dapat mengenai bagian yang menjadi target.


Tanpa pikir panjang, Rio langsung menembaki Nio tanpa henti dan mengikuti kemanapun arah Nio menghindar. Dengan tenang Nio menghindari rentetan tembakan dari Rio, melompat ke berbagai arah dengan pertaruhan yang sangat besar, dan kemungkinan kehilangan nyawa sangat besar. Namun, kecepatan menghindar Nio menurutnya tidak masuk akal, dan tidak ada satupun Peluru Abadi-nya mengenai Nio. Beberapa tembakan mengenai jendela dan pintu rumah warga, dan membuatnya berlubang hingga beberapa pintu dan jendela hancur.


Tidak peduli apakah Rio seorang pahlawan atau prajurit musuh, Nio menganggap semua kemampuan Rio tidak berguna jika tidak bisa menembak sasaran yang bergerak.


“Nio, apa kau lupa kalau aku seorang pahlawan, kekuatanku jauh lebih besar darimu, tahu.”


Mendengar perkataan Rio membuat Nio bingung sejenak, dan menatap dengan tajam ke arah Pahlawan Amarah. Namun, ketika dia melihat Rio menarik kembali pelatuk senapannya, suara tembakan tunggal terdengar dari salah satu atap rumah warga.


Di atap salah satu rumah warga terlihat seorang yang berlutut sambil memegang senapan penembak jitu dalam posisi membidik, dia seorang penembak jitu Tim Ke-12. Membidik lawan dari jarak 50 meter merupakan hal yang sangat mudah bagi Zefanya, namun berbeda cerita jika lawannya seorang pahlawan. Dia sangat kesal ketika orang yang menjadi lawan Nio menggunakan Sihir Tameng untuk menahan putaran proyektil 7,62mm yang melesat hingga kecepatan 3.000 meter per detik.


Laju peluru memang dapat dihentikan dengan Sihir Tameng yang Rio ciptakan, namun kecepatan peluru mampu membuat pelindung tersebut retak. Jika dia tidak membuat Sihir Tameng yang kuat, proyektil yang ditembakkan penembak jitu mungkin akan melubangi kepalanya. Sehingga, pelindung yang retak setelah menahan laju proyektil mengejutkan Rio.


Setelah menyadari Zefanya adalah orang yang melakukan tembakan, Nio memberikan instruksi bagi gadis itu melalui kode tangan yang khusus dia ciptakan untuk tim-nya, sehingga mustahil bagi Rio memahami kode tangan tersebut. Selesai memberi instruksi, Nio mengambil beberapa tarikan napas, dan meyakinkan dirinya sendiri untuk menghadapi pertarungan yang 'berat sebelah' ini. Dia paham Rio sekarang adalah orang yang sangat kuat – berkat kekuatan Pahlawan Amarah, sehingga menggunakan taktik biasa hanya akan membuatnya kehilangan nyawa dengan mudah. Sehingga, Nio memikirkan beberapa cara untuk menghadapi musuh yang seorang pahlawan, seperti Rio.


‘Mata Biru’ alias Zefanya membidik kembali ke arah lawan Nio, tapi dia melihat Nio melakukan kode tangan untuknya agar melakukan tembakan semi otomatis. Zefanya merubah mode tembakan tunggal ke mode semi otomatis, dan memasukkan beberapa peluru di dalam magasin, kemudian membidik lagi untuk melakukan instruksi dari Nio.


Pelindung berwarna merah transparan mengikuti langkah cepat Rio yang berlari menghindari tembakan selanjutnya. Tapi, Nio mengejarnya dengan kecepatan yang sama, atau mungkin lebih cepat darinya. Tatapan Nio jelas-jelas memperlihatkan jika dia memiliki hawa membunuh yang sangat besar, menurut Rio.


Zefanya menarik pelatuknya beberapa saat, dan menghasilkan tiga tembakan yang melesatkan tiga proyektil dengan kecepatan sangat tinggi. Teknologi pada amunisi dan senapan membuat hentakan ketika menembak, alias recoil, sama sekali tidak ada. Sehingga Zefanya mampu menembak seperti menggunakan senapan serbu biasa, namun tanpa menimbulkan hentakan.


Proyektil melesat jauh lebih cepat dari Pahlawan Amarah dan Nio yang berlari, dan ketika menghantam Sihir Tameng yang melindungi Rio, dua proyektil mampu menghancurkan pelindung, lalu proyektil ketiga melesat melewati bagian pelindung yang dihancurkan kedua peluru sebelumnya dan menyerempet pipi kanan Rio. Ketika peluru yang melesat dengan kecepatan sangat tinggi itu menyerempet pipinya, langkah Rio menjadi tidak karuan dan menyandung kakinya sendiri lalu membuatnya terjatuh dengan keras ke tanah. Sihir Tameng miliknya membuat Rio tidak merasa sakit saat terjatuh. SS20 G1 – versi sihir miliknya terlempar beberapa centimeter darinya, Rio mencoba menggapai senjatanya untuk melawan balik. Namun…


“Apa kau benar-benar orang terkuat di dunia ini?”


Nio tiba-tiba berdiri di depannya, dan menendang senjatanya ke arah lain dan masuk ke dalam selokan. Rio yang masih tengkurap di tanah mendongakkan kepalanya ke atas, dan melihat Nio menatapnya seperti melihat kotoran. Namun, dia yakin jika yang dilakukan Nio hanya gertakan, dan sebenarnya Nio sangat takut dengan kekuatan besarnya.


Sayangnya, yang dilakukan Nio jauh berbeda dengan apa yang Rio bayangkan, bahkan pemuda itu sama sekali tidak merasa takut pada Pahlawan Amarah. Nio sama sekali tidak takut untuk menendang wajahnya dalam kecepatan tinggi dengan ujung sepatunya yang dilapisi dengan material keras. Tendangan kuatnya membuat hidung Rio mengeluarkan darah saat terpental setelah terkena serangannya, serta sebuah benda terlempar dari saku pakaian orang itu. Nio memungut senjata pertarungan jarak dekat milik Rio yang berupa keling, dan memasangnya di tangan kirinya karena tangan kanan bioniknya sudah sangat keras hanya untuk digunakan meremukkan kepala goblin – jika Nio tidak memiliki rasa kasihan terhadap monster tersebut.


Mata Rio membelalak tak percaya ketika dia melihat seorang prajurit ‘biasa’ mampu memberikannya rasa sakit separah yang dia rasakan sekarang, dan tatapannya semakin memperlihatkan jika dia merasa sangat takut. Tubuhnya gemetar tak terkendali saat Nio merampas keling miliknya, dan memakainya seakan-akan itu milik Nio. Apakah aku akan dibunuh dengan perlahan olehnya? Apakah aku akan mati sekarang di tangan Nio? Kenapa ini terjadi padaku yang seorang Pahlawan Amarah? Puluhan pikiran seperti itu memenuhi kepala Rio.


Dia adalah Pahlawan Amarah, salah satu orang terkuat di Aliansi. Seharusnya tidak ada yang berani melakukan ini padanya.

__ADS_1


“Kau bajingan, padahal kau orang yang sangat lemah! Kau bisa mengalahkan ku di pertarungan ini, tapi di pertempuran sesungguhnya Aliansi akan menghancurkan mu.”


Rio membayangkan jika Nio ragu untuk melawannya setelah mendengar ucapannya. Sayangnya, Nio tahu jika itu adalah perlawanan terakhir Rio jika dia telah dalam kondisi sangat terdesak. Dia merasa memiliki keberuntungan tersendiri setelah mengenal Rio sekian lama.


“Baiklah, sebagai sesama bajingan aku akan memberimu dua pilihan. Bertarung seperti prajurit sejati, atau kau lebih memilih mati sekarang?”


‘Parkour’ alias Herman berdiri di atap salah satu rumah warga, lalu disusul Zefanya, beberapa saat kemudian seluruh anggota Tim Ke-12, Hevaz, Edera, dan Sigiz tiba di tempat Nio dan Rio berhadapan. Seluruh personel musuh berhasil dibuat menyerah oleh mereka, dan sedang diurus oleh pasukan Arevelk.


Namun, Rio meludah dan mengenai sepatu Nio lalu berkata, “Hah! Aku tidak perlu menjawab pertanyaan orang yang akan segera mati!”


“Apa kau pikir kematianku ada di tanganmu? Bahkan tembakan mu tidak ada yang mengenai ku.”


Mendengar komandan musuh berbicara menggunakan bahasa Indonesia, membuat Tim Ke-12 yakin jika ada orang Indonesia di antara para pahlawan. Itu artinya, mereka harus bertempur dengan orang sebangsa – atau bisa disebut dengan mantan sesama orang Indonesia. Namun, mereka pernah mendengar jika Nio pernah mengalami hal yang jauh lebih buruk dari sekedar melawan satu orang Indonesia yang berpihak pada Aliansi. Mereka pernah mendengar jika Nio berhadapan dengan pasukan tawanan perang – yang sebagian besar tawanan berasal dari Indonesia pada perang sebelumnya. Menurut mereka, jika terpaksa menghadapi situasi seperti itu, kemungkinan untuk terkena serangan mental sangat besar.


Tubuh Rio berada di antara kedua kaki Nio yang berdiri di atasnya, ‘Mayat Hidup’ menatap Rio dengan ekspresi datar. Adegan yang dilakukan Nio terhadap sang Pahlawan Amarah sangat kasar, dan mungkin orang dewasa akan sangat terguncang ketika melihatnya. Dia berkali-kali menginjak-injak wajah Rio dengan sepatunya yang terkena ludah Rio. Dia terlihat tanpa ampun ketika melakukan hal itu, dan tentu saja Rio berteriak setelah menderita siksaan yang diberikan Nio padanya.


Karena tidak tahan melihat pemandangan ini, Sigiz dan Edera memalingkan wajah. Tentu saja mereka berpikir untuk menghentikannya, karena khawatir akan menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan di masa depan. Tetapi, mereka khawatir jika Nio akan semakin menjadi-jadi jika diperintahkan untuk berhenti.


“Dewa Perang, lihatlah orang yang Anda pilih menjadi ‘orang yang diramalkan’ bersama dewa-dewa yang lain. Bukannya pemandangan yang diberikan Tuan Nio sungguh indah? Tidak banyak orang yang berani melakukan hal seperti itu terhadap pahlawan.”


Hevaz tersenyum manis saat melihat pemandangan sambil terbang beberapa meter di atas Nio. Dia berkata seperti itu seolah-olah dapat berkomunikasi secara langsung dengan sosok yang dia layani, yakni Dewa Perang dan Dewi Kematian.


Seluruh bawahan Nio merinding ketika Nio memperlakukan salah satu orang terkuat di Aliansi seperti kecoa. Mereka gemetar dan berpikir seakan-akan Nio tidak akan berhenti sebelum Pahlawan Amarah mati. Mereka berterimakasih tidak berada pada posisi Rio.


Adegan mengerikan ini akhirnya berhenti setelah Nio memberikan ratusan injakan ke wajah Rio. Kemudian, dia duduk di atas perut Pahlawan Amarah dan menatapnya dengan tatapan dingin yang membekukan jiwa.


Nio melayangkan banyak pukulan ke wajah Rio yang penuh dengan luka, kira-kira dengan lima pukulan per detik. Keling pada tangan kiri dan tangan kanan bionik Nio yang sangat keras menambah penderitaan Rio yang masih tersadar. Teriakan Rio semakin keras daripada sebelumnya, dan itu tidak membuat Nio berhenti.


“Prajurit pengecut dan pengkhianat seperti mu tidak akan dibiarkan hidup! Kau adalah aib besar bagi Indonesia dan TNI!”


Darah muncrat ke segala arah ketika Nio meninju wajah Rio dengan sangat cepat, dan kedua tangan Nio terlumuri oleh darah lawannya.


“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaagh!”


Tetap saja, sekeras apapun Rio berteriak itu tidak akan membuat Nio gentar atau semacamnya. Namun, itu bukanlah teriakan keputusasaan yang dipenuhi dengan penderitaan. Sebuah bola seukuran kepala melayang di antara mereka berdua. Nio menghentikan aksinya ketika Rio menciptakan bola berwarna merah transparan tersebut.


Sesaat kemudian bola transparan yang diciptakan Rio meledak dan menimbulkan gelombang kejut. Nio terpental hingga punggungnya menghantam pintu kayu salah satu rumah warga hingga tubuhnya masuk ke dalam rumah dan menghantam dinding di dalamnya. Seluruh orang yang melihatnya terkejut, karena saking kuatnya gelombang kejut Nio sampai terpental seperti itu.


“Bajingan bangsat sepertimu seharusnya mati saja di perang sebelumnya.”


Rio berdiri dalam kondisi wajah yang mengerikan, hampir seluruh bagian wajahnya tertutupi oleh darahnya sendiri. Bola transparan peledak yang dia ciptakan tadi adalah serangan terakhirnya, dan sebuah hasil dari keputusasaan yang dia rasakan ketika Nio tidak memberikan kesempatan untuknya melawan.


Pintu rumah salah satu warga hancur ketika punggung Nio menghantamnya setelah terkena gelombang kejut dari serangan Rio. Untungnya, dinding di dalam rumah menghentikan tubuh Nio yang terpental, meski itu membuat pemuda itu sangat kesakitan. Dia membuka mata perlahan sambil menahan sakit yang luar biasa di tubuhnya.


Ketika dapat membuka mata sepenuhnya, dia kemudian berusaha berdiri meski dengan terhuyung-huyung. Dia melihat sebuah keluarga dengan anggota satu laki-laki dan tiga perempuan yang sangat ketakutan berada di sudut rumah. Seluruh anggota keluarga gemetar ketika sebuah serangan menghancurkan pintu rumah mereka, bahkan kedua anak perempuan keluarga itu menangis.


Nio berjalan perlahan dengan terhuyung-huyung dan langkah goyah sambil berkata, “Maaf, membuat pintu rumah Anda hancur, Tuan.”


Keluarga itu tentu saja terkejut dengan apa yang dikatakan orang yang terluka seperti Nio. Mereka tahu jika Nio berasal dari negara sekutu Arevelk, namun mereka tidak menyangka jika prajurit ‘dunia lain’ tersebut akan mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti itu.


“Tuhan-ku yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, berikan hamba-Mu yang lemah ini kekuatan untuk menyelesaikan pertarungan ini.”


Nio berdoa di dalam hati saat berusaha keluar dari rumah keluarga itu, punggungnya mengeluarkan darah hingga membasahi bagian belakang kemejanya. Nio merasa kondisinya sekarang lebih parah daripada bertarung dalam pertarungan panjang dan melelahkan melawan Aliansi beberapa bulan lalu.


Satu-satunya pria di keluarga yang pintu rumahnya hancur, alias kepala keluarga itu sendiri, memutuskan membantu Nio berjalan. Dia melingkarkan tangan kiri Nio di pundaknya, dan membantu pemuda itu berjalan sedikit lebih cepat. Pria itu tahu jika Nio tidak memiliki niat untuk menghancurkan rumahnya, dan merasa Nio sudah berjuang keras dalam pertarungan melawan musuh yang memasuki kota.


Ketika Nio dan si kepala keluarga berdiri di luar rumah, matahari sudah terbit dengan sinar berwarna oranye yang indah dan menenangkan hati, tetapi Nio harus menahan rasa sakit di punggungnya yang masih mengeluarkan darah.


Nio berterimakasih pada si kepala keluarga karena membantunya agar berjalan lebih cepat. Namun, mereka berdua kemudian melihat Bima berdiri sambil memegangi Rio yang sudah dalam kondisi sangat lemah ketika seluruh anggota Tim Ke-12 menghajaranya beramai-ramai. Menurut Nio, itu adalah pemandangan yang mengerikan baginya.


**


__ADS_1


(ilustrasi keling/ brass knuckles, sumber gambar pinterest)


__ADS_2