Prajurit SMA

Prajurit SMA
67. Menuju dunia lain 2: perasaan sang kakak


__ADS_3

20 Agustus 2321, pukul 19.41 WIB.


**


Pusat Pemerintahan Sementara, Jakarta, Indonesia.


7 unit bus yang mengangkut seluruh personel Kompi 406 dan 32 telah tiba di tempat pertemuan, yang tak lain dan tak bukan adalah Istana Negara. Seluruh Prajurit turun dari bus dengan tertib, dan wajah yang menunjukkan rasa kagum terhadap tempat ini. Karena, seluruh personel Kompi 406 dan 32 baru pertama kali ini berada di Istana Negara.


Selain bus yang mengangkut para prajurit, 10 kendaraan lapis baja juga diberangkatkan yang ditugaskan untuk mengawal keamanan mereka. Kendaraan lapis baja tidak diijinkan memasuki area dalam Istana Negara, itu sebabnya mereka diparkirkan di pinggir jalan tanpa takut didenda.


Prajurit yang bertugas menjaga area Istana Negara cukup banyak, sehingga hanya perwira saja yang ditugaskan untuk menyambut mereka. Wajah para prajurit itu menunjukkan rasa antara ‘senang’ dan ‘iri’. Karena personel yang mendatangi tempat ini pengalaman tempurnya lebih banyak daripada mereka.


Selain perwira yang ditugaskan menyambut, puluhan wartawan dan reporter lapangan juga berada di tempat ini dan langsung mendekati mereka. Para kelompok pencari berita dari stasiun TV yang berbeda harus mengenakan pakaian setelan rapi jika memasuki area Istana Negara.


Seorang reporter lapangan yang masih terlihat masih muda bersama kameramannya memilih tempat yang paling strategis untuk siaran langsung mereka. Para pencari berita ini harus berebut hanya untuk sekedar mengambil sebuah foto saja. Karena itu, mereka cukup beruntung karena mendapatkan tempat strategis, yang bahkan kameraman tersebut mendapatkan gambar Nio.


“Saya menyiarkan langsung dari Istana Negara, para prajurit dari Garnisun Karanganyar sudah tiba disini untuk menghadiri undangan dari Presiden. Baru saja mereka tiba di tempat ini, namun wajah mereka tidak menunjukkan rasa lelah sama sekali. Terlihat juga seorang prajurit yang cukup sering fotonya terpampang di koran-koran, dialah prajurit yang bernama Nio….”


Lampu sorot dari kamera dan para reporter yang memberitakan situasi saat ini membuat para personel ini semakin gugup. Mereka berpikir jika wajah mereka terlihat, maka ketenaran akan semakin mendekati. Karena seluruh kamera tersambung ke siaran berita yang ditayangkan secara on time alias langsung dari lokasi.


Nio seketika bergidik saat mendengar para reporter berbicara mengenai dirinya. Dia kemudian masuk kembali kedalam bus, namun Rio, Sima dan Jo justru menarik dan memaksanya keluar dengan cara mengangkat tubuhnya.


“Sialan, kenapa kau lebih terkenal hah?” tanya Rio dengan nada yang benar-benar kesal. Perkataan Rio disetujui prajurit yang lainnya.


“Mana aku tahu hah!?” Nio menjawab dengan nada yang tak kalah kesalnya.


Terlihat ada puluhan tank medium dan artileri anti-pesawat yang disiagakan disekitar Istana Negara. Tidak mengherankan terdapat banyak peralatan tempur di tempat ini, karena Indonesia masih dalam kondisi ‘Gawat Darurat Perang Nasional’.


Puluhan helikopter tempur beberapa menit sekali juga melintas di atas Istana Negara.


Para prajurit tidak memiliki waktu untuk menjawab pertanyaan dari para wartawan dan reporter.


Secara bersama-sama, seluruh prajurit laki-laki dan perempuan Kompi 406 dan 32 berjalan memasuki Istana Negara untuk pertama kalinya.


**


Entah mengapa Suroso lebih memilih untuk mendekati Nio terlebih dahulu, padahal di tempat ini diundang juga prajurit yang memiliki pangkat Jendral bintang 3 dan 4. Dan jangan lupakan seorang Jendral berbintang 5 ditempat ini. Beberapa perwira tinggi TNI AL dan AU juga diundang di pertemuan ini.


Pembantu Letnan Satu Nio, seorang Komandan tim pengawas pasukan kerajaan Ratu Sigiz, sekarang berdiri dengan tegap di depan Presiden. Sikapnya yang sempurna, membuat kegugupannya hampir tidak terlihat. Meski jantungnya berdetak sangat kencang karena berhadapan langsung dengan Presiden, wajah tegasnya menyembunyikan rasa gugup yang ia rasakan.


Memang terasa sulit bagi dirinya bisa sampai ke Istana Negara, namun semua prestasinya di medan tempur adalah bukti jika dia pantas berdiri berhadapan dengan Presiden.


Awalnya dia tidak berminat bergabung dengan militer, apalagi hampir menjadi seorang perwira seperti sekarang.


“Alasan saya menjadi prajurit, adalah ingin melindungi keluarga saya dan negara ini!” itulah yang dikatakan oleh Nio saat mengikuti perekrutan prajurit untuk Satuan Tentara Pelajar.


Itu memang membuat petugas perekrutan keheranan terhadap jawaban Nio. Karena kebanyakan calon prajurit jika ditanyai alasan mereka bergabung di militer adalah “Ingin melindungi negara!” atau “Ingin membuat musuh kita menyesal telah berperang dengan kita!”.


Sangat jarang mendapati prajurit yang menempatkan negaranya di urutan kedua sebagai hal yang ingin dilindungi.


Mungkin Nio satu-satunya prajurit yang menempatkan keluarganya pada urutan pertama sebagai hal yang ingin dilindungi. Karena memang hanya Arunika satu-satunya keluarga yang dia miliki sekarang.

__ADS_1


Suroso kemudian menanyakan tujuan Nio menjadi seorang prajurit. Beberapa wartawan yang diundang di pertemuan ini seketika mengerumuni Nio dan Suroso setelah Presiden itu menanyakan hal tersebut.


“Tujuan saya menjadi prajurit adalah melindungi kakak saya, hingga dia menemukan kebahagiaannya! Juga, melindungi negara ini dari semua musuh yang berani berperang dengan kita!” jawaban Nio yang terdengar tegas cukup untuk membuat Suroso tersenyum kecil.


Sulit menebak apa yang dipikirkan Nio, namun entah bagaimana dia berhasil hingga sekarang.


Seseorang dulu pernah berkata pada Nio, dan perkataannya selalu diingat di otak Nio, “Selamanya, kau hanya akan menjadi beban kakakmu!”. Namun, Nio bisa menjawab pertanyaan Presiden dengan santai dan gugup tentang tujuannya menjadi seorang prajurit.


Orang yang pernah mengatakan hal tersebut, seperti ingin mencari masalah dengan Nio.


Karena, setelah Suroso bertanya, “Apa ada kata-kata lain yang ingin kamu ucapkan?”


Nio segera menghadap kepuluhan kamera dan reporter, kemudian berkata dengan senyum miring, “Semoga saja kakakku tersayang, Arunika, menyaksikan adikmu yang payah ini di sana bersama teman-teman. Juga, terimakasih untuk tetangga di tempat saya tinggal dulu karena membantu kami setelah keluarga kami tertimpa musibah. Balasan yang bisa saya berikan pada kalian, hanya menjadi prajurit dan melindungi kalian. Satu lagi, aku ucapkan terimakasih untuk seseorang yang membuat luka diwajahku ini.”


Suara jepretan kamera terdengar berkali-kali setelah Nio mengatakan hal itu, apalagi dia mengatakan perkataan terakhir dengan menunjuk bekas luka di wajahnya, dia berbicara dengan nada seperti mengancam.


Para petinggi militer mengurungkan niat mereka untuk mendekati Nio, karena mereka merasakan sesuatu setelah Nio mengatakan hal tersebut. Seperti hal yang sangat ‘mengancam’.


Nio menggunakan momen ini seperti untuk sekedar mengeluarkan unek-uneknya saja, dia begitu tenang meski hatinya tidak. Karena setelah mengatakan hal itu, mungkin orang yang dia singgung semakin memendam dendam kepadanya.


Pertemuan ini sebenarnya adalah pemberian penghargaan bagi seluruh prajurit Kompi 406 dan 32, setelah pertempuran terbesar melawan pasukan dunia lain.


Kenaikan pangkat di terima 50 prajurit anggota Kompi 406 dan 32, karena mereka mempertaruhkan nyawa untuk mengarahkan para warga yang berada di tengah medan tempur untuk ke tempat yang aman. Tidak termasuk Nio karena dia hanya memberi perintah kelimapuluh prajurit untuk menyelamatkan warga sipil.


Kenaikan pangkat yang diterima adalah naik satu pangkat, dimana 15 prajurit yang berpangkat Kopral Dua diangkat menjadi Kopral Satu, dan sisanya yang berpangkat Sersan Dua diangkat menjadi Sersan Satu.


Penyematan tanda pangkat baru mereka, dilakukan langsung oleh Presiden dan Jendral Besar dan disaksikan langsung oleh seluruh orang yang menghadiri acara ini.


Bagi prajurit yang hanya terlibat pada pertempuran, mereka juga akan menerima hadiah, yakni promosi kenaikan pangkat jika kembali membuat prestasi.


**


Anggota Kompi 406 dan 32 telah kembali di kota bawah tanah dengan keadaan sangat kelahan, namun Nio terlihat masih bisa berlari ke asramanya dengan cepat. Lagipula, mereka semua pada hari ini memiliki jatah cuti selama dua hari.


Tanpa mengetuk pintu asramanya, Nio membuka pintu yang tidak terkunci dan segera memeluk orang yang sangat ingin ia temui.


Arunika membalas pelukan Nio dengan erat juga, meski Nio tidak memberi tahu waktu kedatangannya. Tetapi Arunika bisa tahu jika orang yang memeluknya dari belakang itu adalah Nio.


Cukup lama bagi mereka berdua untuk berpelukan, lebih tepatnya mereka berdua tidak ingin segera melepaskan momen yang akan jarang mereka dapatkan kembali ini.


Karena Nio sebentar lagi akan dikirimkan sebagai bagian dari pasukan yang akan memasuki Gerbang.


Berita itu dinyatakan langsung oleh Presiden saat pertemuan dengan pasukan Kompi 406 dan 32 di Istana Negara. Tentu saja seluruh rakyat Indonesia dapat mengetahui berita ini.


Sepuluh menit kemudian, mereka berdua baru melepaskan pelukan.


“Sebelum aku berangkat, apa yang kakak inginkan?” Nio memberikan tatapan terhadap Arunika jika dia sekarang telah memiliki cukup uang untuk membahagiakan kakaknya.


Nio memiliki ratusan juta di tabungannya dari hadiah yang dia terima dari prestasi yang ia buat di perang sebelumnya. Uang yang dia miliki cukup untuk membeli sebuah rumah lengkap dengan sebuah mobil. Tapi bukan itu yang Arunika inginkan.


Arunika tidak dapat meminta Nio untuk pergi ke dunia lain, karena tidak ada yang tahu tempat seperti apa di sana. Meski hal itu adalah keinginannya daripada sekedar ‘berkencan’ dengan Nio.

__ADS_1


“Memangnya apa yang ingin kau beli?” setelah pertanyaan Arunika itu, Nio memutar matanya seperti memikirkan banyak barang untuk dibelanjakan.


Hal pertama yang Nio pikirkan adalah, dia sekarang dapat memiliki kendaraan pribadi.


“Beli sepeda motor, memesan rumah, dan bayar hutang nasi uduk mbok Yem dulu,” jawaban terakhir Nio lontarkan cukup untuk membuat Arunika tertawa.


Sebenarnya, Arunika baru teringat tentang hal itu sekarang. Karena dia sudah terlalu lama ikut bersama Nio di kota bawah tanah, dan tidak tahu keadaan lingkungan tempat tinggal mereka di pinggiran kota dulu.


Nio dan Arunika juga khawatir, karena setelah bencana ‘ledakan Gerbang’ ada sangat banyak korban jiwa dan kerusakan berat bagi bangunan.


“Tapi kalau rumah, lebih baik untuk sekarang jangan dulu.”


“Kenapa? Kalau nunggu lama, harga rumah bakalan tambah mahal loh,” Arunika tidak dapat menjawab apapun dari perkataan Nio itu.


“Kan, aku masih bisa tinggal di kota bawah tanah?” setelah jawaban kakaknya itu, wajah Nio tiba-tiba berubah menjadi datar.


“Kak, kau tahu apa yang berada di dunia lain? Tidak ada yang tahu bahaya apa yang akan aku hadapi di sana, kak. Kalau terjadi hal buruk padaku, paling tidak aku meninggalkan sesuatu untukmu…,” Nio menghentikan perkataannya karena Arunika memperlihatkan wajah sedih.


Tanpa berkata apapun lagi, Arunika membuka lemari dan mengeluarkan isinya. Seperti sedang mencari sesuatu yang memang dia sembunyikan di situ.


Setelah itu, Arunika membawa sebuah amplop berwarna cokelat dan kembali mendekat kepada Nio. Wajah Arunika masih menunjukkan rasa sedih karena ucapan Nio tadi, namun hatinya tetap mencoba kuat untuk memberikan amplop yang dia bawa kepada adiknya.


“Ayah dan ibu juga meninggalkan ini untuk kita,” Arunika memberikan amplop tersebut kepada Nio.


Amplop itu tidak disegel, jadi Nio bisa langsung mengeluarkan selembar kertas buku yang terdapat tulisan. Nio berpikir jika kertas yang ia pegang adalah ‘wasiat’ dari orang tuannya, kemudian dia membacanya didalam hati dengan perlahan.


Arunika seketika gugup saat Nio mulai membaca tulisan yang ada di kertas itu. Karena dia sudah membaca lebih dulu tulisan diatas kertas itu.


Namun Arunika juga merasa bersalah kepada orang tua mereka, karena membuat Nio mengetahui surat ini belum pada waktunya. Dia sudah terlanjur kesal kepada Nio yang seakan-akan bisa mati di dunia lain, sehingga ingin meninggalkan sesuatu untuknya.


Tangan Nio seketika gemetar dan matanya melebar karena terkejut dengan isi dari surat itu ia baca. Bukan karena Nio harus membaca surat ini saat dia akan menikah. Dia menelan ludah karena tidak percaya jika orang tuannya memberikan fakta ini kepadanya.


Nio merasa harus mempercayai isi dari surat ini, karena tulisan ini memang hasil dari ibu mereka yang meninggal selang beberapa tahun setelah ayah mereka yang telah meninggal lebih dulu karena kecelakaan di tempat kerja mereka bedua.


“Apa kau serius kak? Kita bukan saudara kandung? Kenapa kau merahasiakan hal ini padaku? Apa tujuanmu memberikan surat ini sebelum aku menikah?” pertanyaan Nio yang beruntun itu menurut Arunika sama saja dengan ancaman karena tatapan yang diberikan Nio. Air matanya tidak berhenti keluar setelah sesaat sebelumnya.


“Itu karena kau berpikir akan mati di dunia lain, aku bahkan sebelumnya tidak setuju kau menjadi prajurit, aku tidak ingin kau pergi ke dunia lain yang mungkin sangat berbahaya, aku sangat ingin terus bersamamu. Anggap saja aku gila, karena aku mencintai adikku sendiri…!!!”


Tanpa basa-basi Nio juga berkata, “A-aku juga mencintaimu kak, itu sebabnya aku akan terus berjuang hingga kau menemukan kebahagiaanmu.”


“Sudah kuduga, perasaan cinta kita akan berbeda,” alis Nio menurun tajam setelah mendengar jawaban dari Arunika.


Dia tidak menyangka jika perasaan cinta kakaknya akan seperti itu. Bahkan jika mereka berdua benar-benar bukan saudara kandung, Nio akan menyebut kakaknya sudah gila karena mencintai adiknya sendiri.


Nio mencengkram kepalanya karena sudah tidak paham dengan kejadian ini, dia benar-benar sudah pusing hingga urat dikepalanya muncul. Tanpa pikir panjang, Nio memberikan pelukan yang jauh lebih erat dari pada yang dia lakukan di awal.


Arunika merasa jika Nio juga sedang menangis, seperti dirinya. Arunika telah merasa lega karena sudah mengatakan perasaan yang terus membuat hatinya sakit ini.


Kemudian dengan berbisik, Arunika bertanya kepada Nio.


“Bagaimana jawabanmu?”

__ADS_1


“Apa kau bisa menunggu?”


“Bisa, tapi berjanjilah kalau kau akan kembali kesini dalam keadaan hidup.”


__ADS_2