
24 April 2321, pukul 09.12 WIB.
**
Hari ini adalah hari lanjutan dilaksanakannya tes ujian bertahan hidup. Saat ini Regu yang memimpin adalah Regu 3 yang sudah melewati 6 titik pertemuan. Masih ada 6 titik pertemuan yang harus Regu ini lalui.
Regu 3 membereskan tempat tidur yang berupa matras lapangan. Para anggota Regu 3, lebih tepatnya seluruh peserta tes tidur tidak menggunakan pelindung semacam tenda karena tidak diijinkan untuk membawanya. Satu lagi, tempat beristirahat Regu 3 berada jauh dari pemukiman penduduk tepatnya berada di hutan karet.
Untuk penghangat dari dinginnya malam, para anggota menggunakan pakaian ganti dan menyalakan api unggun sebagai penghangat tambahan.
Sedangkan konsumsi, anggota Regu 3 memakan mi instan yang benar-benar dalam kondisi hancur sebagai penunda rasa lapar. Karena mereka harus benar-benar kekurangan bahan makanan untuk dapat memakan ransum yang dibawa. Itu adalah peraturan yang Nio buat dan tidak ada yang mengeluh tentang itu.
Selain itu jika kekurangan bahan makanan para prajurit dapat mencarinya di sekitar hutan seperti buah-buahan liar, ayam liar atau burung yang dapat dimakan. Jangan lupakan jika ada beberapa jenis serangga yang dapat dimakan langsung.
Para anggota pasukan khusus diharuskan dapat membedakan tumbuhan, hewan yang beracun dan tidak. Termasuk Pasukan Pelajar Khusus yang akan lebih banyak melakukan misi di dalam hutan.
Namun ini masih pada hari kedua, dan Regu ini belum benar-benar kekurangan makanan. Dan para anggota belum berani untuk ‘mengeluh’ agar dapat memakan ransum yang dibawa Nio.
Nio juga dapat memerintahkan anggotanya untuk mencari bahan makanan tambahan, seperti yang dilakukan saat ini.
Para anggota Regu 3 yang sedang melanjutkan perjalanan dan menemui pohon buah liar memetik beberapa buah sebagai tambahan bahan makanan. Tentu saja buah yang diambil dapat dimakan langsung dan tidak beracun.
Termasuk seekor ayam yang belum dapat dipastikan apakah itu ayam liar atau ayam milik warga yang sengaja dilepaskan agar dapat mencari makan sendiri.
**
Regu 3 hampir tiba di titik pertemuan ketujuh dan terlihat berhenti untuk melakukan sesuatu.
“Komandan, ada apa?” tanya satu orang anggota Regu 3.
Nio menghitung anggotanya sambil bergumam. Regu yang semula berjumlah 32 anggota telah berkurang 2 orang. Alasan yang umum terjadi saat mengikuti pelatihan menjadi pasukan khusus adalah sakit atau semacamnya.
“Tidak ada, ayo lanjutkan,” kata Nio.
Beberapa kilometer lagi mereka akan tiba di titik pertemuan ketujuh dan tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan di sana.
Karena di titik sebelumnya seluruh peserta tes akan selalu bertemu dengan kubangan lumpur dan menyebabkan pakaian yang kotor semakin kotor.
Meski banyak noda lumpur yang mengering, para anggota Regu 3 tidak ada yang mengganti pakaiannya sebelum tiba di titik terakhir.
Hanya jika bertemu dengan sungai mereka akan membersihkan diri, itu juga hanya sekedar berendam sejenak tanpa melepaskan perlengkapan.
Beberapa prajurit dapat beranggapan jika pelatihan yang mereka jalani tidak ada bedanya dengan kemah pramuka namun lebih ‘parah’.
Saat kemah pramuka akan ada pembina yang mengawasi agar tetap aman. Sedangkan saat menjalani pelatihan hanya ada pelatih yang keras dan harus dapat menjaga diri sendiri serta rekan di masing-masing Regu.
__ADS_1
Jika tidak paham dengan rute yang dilalui untuk ke titik pertemuan bisa saja peserta kesasar dan tanpa sadar berada di pengkalan musuh.
Jika hal itu yang terjadi orang yang sangat disalahkan adalah Komandannya, jika Komandannya mati sebagai gantinya adalah prajurit yang paling berpengalaman atau berpangkat tertinggi setelah Komandan sebelumnya.
**
Ada hal yang membuat seluruh anggota Regu 3 heran, karena mereka harus menunggu hingga satu Regu selanjutnya tiba untuk melakukan satu hal.
Ada sebuah kotak transparan yang tertutup kain hitam dan ada 2 buah dan dijaga tiga orang pelatih. Entah ada apa didalamnya hingga ditutup dengan kain.
Seluruh anggota Regu 3 bertanya-tanya tentang hal itu. Bahkan Nio tidak tahu tentang itu meski dia beberapa kali sudah melakukan ‘keajaiban’ untuk Regunya.
Selama setengah jam menunggu, seluruh anggota Regu 1 telah tiba setelah mendahului Regu 4 di titik pertemuan kelima.
Setelah itu mereka juga bertanya-tanya saat ada dua buah kotak didepan mereka.
Pelatih kemudian menyingkirkan kain yang menutup kotak tersebut hingga memperlihatkan isinya.
Sesuatu hal yang tidak akan disukai beberapa orang, bahkan itu adalah hal yang berbahaya.
Satu kotak berisi beberapa ekor kelabang hidup dan terlihat berukuran sedang hingga besar. beberapa jenis kelabang dapat tumbuh hingga sepanjang 40 cm. Namun yang dering ditemukan di Indonesia kebanyakan berukuran sedikit lebih kecil dari 40 cm.
Kelabang yang ada di dalam kotak berwarna merah gelap hingga beberapa berwarna gelap sepenuhnya hingga mendekati hitam.
Hal itu membuat beberapa prajurit bergidik dan prajurit perempuan terlihat menahan takut. Mungkin sebagian orang beranggapan jika kelabang adalah hewan yang sangat berbahaya dan lebih baik dibunuh saja.
Pelatih kemudian menyingkirkan kain yang menutup kotak yang satunya.
“Apa ini lelucon?” gumam Nio saat isi kotak yang satunya diperlahatkan sambil sedikit tersenyum.
Kotak yang berada di sebelah kotak berisi kelabang itu adalah akuarium yang berisi es buah lengkap dengan sendok untuk mengambil es buah dan gelas yang cukup bagi masing-masing prajurit.
Seluruh prajurit tentu saja terlihat lega setelah diperlihatkan hal yang tidak semengerikan hal yang ada di kotak yang satunya.
Peserta tinggal menunggu hal selanjutnya yang akan mereka lakukan.
Tentu saja memakan kelabang hidup yang ada di dalam akuarium adalah hal yang akan dilakukan seluruh peserta yang berada di titik pertemuan ketujuh.
Sebagian besar peserta yang berada di tempat ini terlihat menunjukan ekspresi enggan melakukan hal itu. Kebanyakan tentu saja para prajurit perempuan, namun juga terdapat prajurit laki-laki yang sudah terlihat pucat saat ketiga pelatih mengambil satu ekor kelabang secara langsung dengan tangannya.
Nio hanya menunjukkan wajah pucat saat dihadapannya sudah ada seekor kelabang yang diberikan pelatih untuknya.
“Jika tidak mampu, lebih baik kalian pulang ke Kesatuan awal!” ucap salah satu pelatih saat mulai membagikan kelabang hidup ke masing-masing peserta tes.
Badan seluruh peserta masil lelah fisik, ditambah mereka harus menerima hal yang membuat lelah mental.
__ADS_1
“Ini tes individu, kalian tidak boleh membantu rekan masing-masing. Kalau rekan kalian memakan bagian yang beracun, itu salah mereka yang tidak membaca buku komik yang kami berikan!” ucap salah satu pelatih.
Nio tiba-tiba teringat salah satu halaman komik yang memperlihatkan tokoh memakan kelabang hidup. Beberapa peserta juga terlihat lega, dan sisanya tetap berwajah pucat karena tidak menyentuh komik dan novel setelah dibagikan pada mereka.
Nio dan beberapa peserta memegang tubuh kelabang sebelum merayap menjauh dari mereka dan memutus kepala dan sebagian taring kelabang.
Tiba-tiba beberapa orang terkejut karena Arista yang tak sadarkan diri. Bukan hanya Arista yang tidak sadarkan diri, ada 3 orang termasuk dia yang pingsan sebelum menyentuh kelabang.
Hal yang terjadi pada ketiga orang yang pingsan sudah jelas, yaitu dikembalikan ke Kesatuan awal dan tidak lulus menjadi PPK.
Seakan tidak terjadi apa-apa pelatih tetap memerintahkan peserta untuk menyantap kelabang yang sudah dibagikan.
Tanpa pikir panjang Nio menyantap kelabang yang sudah dihilangkan bagian kepala dan taringnya.
Diikuti anggotanya yang lain dengan wajah pucat tetap memaksakan diri untuk memakan kelabang.
Tidak semua peserta sanggup melakukan hal itu, ada 10 orang yang tidak lulus tes ini karena tidak sanggup memakan kelabang dan langsung dikembalikan ke Kesatuan awal.
Di Regu 3 ada empat orang yang dikembalikan ke Kesatuan awal, termasuk Arista.
Setelah semua peserta yang sanggup memakan kelabang dapat melakukannya, salah satu pelatih memanggil Nio untuk berdiri di sampingnya.
“Sersan Nio, bagian kelabang manakan yang beracun?” tanya salah satu pelatih.
“Siap, bagian yang beracun adalah taringnya. Tapi untuk menghindari hal yang tak diinginkan bagian kepala juga dapat dihilangkan,” jawab Nio dengan wajah pucat setelah memakan seekor kelabang sepanjang 18 cm.
“Bagus, silahkan kembali!” ucap pelatih dan kemudian mengambil es buah dengan sendok sayur dan memberikannya pada Nio.
Nio semula hanya menatap sendok sayur yang berisi es buah dan ada satu potong mangga kecil. Dia kemudian menyadari jika pelatih mengijinkannya untuk meminum es buah itu dan benar-benar memunumnya dari sendok langsung.
“Padahal ada gelas, tapi kenapa tidak digunakan?” para peserta bertanya-tanya mengenai hal itu.
Dua orang pelatih meraih tumpukkan gelas plastik sekali pakai dan membuangnya ketanah. Tidak hanya itu, kedua pelatih juga menginjak-injak gelas plastik hingga sangat rusak.
Hal itu membuat peserta terkejut, lebih tepatnya kesal.
Setelah meminum es buah yang pastinya hanya cukup untuk satu tegukkan saja, Nio kemudian kembali ketempatnya duduk tadi.
Peserta yang berhasil memakan kelabang juga diijinkan meminum es buah dari sendok sayur dan meminum secara bergantian.
Menurut pelatih, meminum es buah dengan satu sendok sayur dan digunakan secara bergantian dilakukan untuk melatih ‘jiwa korsa’.
Meski beberapa peserta tidak menganggap jika yang mereka lakukan adalah semacam ‘jiwa korsa’, termasuk Nio.
Jiwa korsa adalah suatu konsep militer mengenai kesadaran seorang individu dalam suatu korps yang memiliki perasaan sebagai suatu kesatuan.
__ADS_1
(Catatan: bagi pembaca yang tidak mengerti makna beberapa hal dapat mencarinya di googl*. Terimakasih telah membaca episode ini).