Prajurit SMA

Prajurit SMA
93. Budet farsh2


__ADS_3

23 Oktober 2321, pukul 13.45 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, siang hari.


**


Acara seperti ini menciptakan kesempatan bagi pasukan TNI untuk mengenal lingkungan Kekaisaran, terutama wilayah ibukota. Namun, mereka harus tetap waspada meski keadaan tidak mengancam.


Tidak ada alasan lain untuk meningkatkan kewaspadaan, selain keberadaan ribuan pasukan Kerajaan Hrabro dan Kekaisaran yang menjaga ibukota. Bahkan penunggang naga milik kedua pasukan terlihat berlalu-lalang dalam jumlah puluhan ekor wyvern dan naga.


Operator senapan mesin di kendaraan tempur dan para prajurit perwakilan telah menyiapkan senjata masing-masing dalam mode otomatis penuh. Bahkan prajurit yang berada di dalam kendaraan pengakut personel lapis baja terlihat menyiapkan peluncur roket disposable. Puluhan pelontar granat tengah disiapkan di dalam kendaraan tempur, jika saja sewaktu-waktu terjadi sebuah ancaman seluruh persenjataan yang tengah disiapkan bisa langsung digunakan.


Bukan berarti para prajurit Kekaisaran yang mengawal mereka terlihat gentar, justru mereka terlihat tenang saat para prajurit hijau meningkatkan pengawasan.


Apa yang dipahami militer Kekaisaran dan Kerajaan Hrabro adalah jumlah pasukan hijau ini yang sedikit. Sedangkan jumlah pasukan mereka puluhan kali lipat lebih banyak daripada pasukan hijau ini.


Apa yang dipikirkan para bangsawan militer Kekaisaran dan Kerajaan Hrabro, adalah senjata-senjata yang disebut senapan ini adalah sebuah tongkat berat dengan sekumpulan bagian yang rumit dan tak terhitung jumlahnya. Itu adalah teknologi yang jauh lebih maju daripada hadiah yang diberikan para prajurit perempuan kepada para perempuan bangsawan kedua negara.


Meski dalam keadaan siaga penuh, Nio dan Sucipto serta para perwira lainnya harus tetap terlihat ramah terhadap bangsawan militer kedua negara yang menemani mereka berkeliling ibukota Kekaisaran. Hati Nio dipenuhi dengan kesuraman dan firasat buruk yang sangat kuat.


“Nio, entah kenapa firasatku sangat buruk.”


Akhirnya Sucipto mengatakan apa yang dirasakan oleh Nio juga.


“Saya mohon anda tetap tenang, Jendral. Semoga saja semua ini cepat selesai.”


Karena perkataan Nio ada benarnya, Sucipto memutuskan untuk mencoba menenangkan hatinya yang gundah. Nio juga tak bisa hanya menanggapi perkataan Sucipto, karena para perwira membutuhkan bantuannya untuk menerjemahkan perkataan mereka maupun perkataan para bangsawan militer.


Para bangsawan fraksi perdamaian mengutuk tindakan para bangsawan fraksi militer yang menurut mereka sangat membahayakan ibukota Kekaisaran. Banyak yang tidak menyukai tindakan tolol mereka yang berusaha menurunkan moral pasukan hijau.


Meskipun seluruh bangsawan militer merasa keberatan untuk menemani pasukan hijau ini, karena terlalu bersiko untuk keamanan mereka. Bisa saja saat penyerangan telah terjadi, para bangsawan militer menjadi salah satu korban.


Jika Bogat dan Lukav benar-benar ingin pasukan mereka bertempur di ibukota, maka mereka memutuskan untuk menyerahkan tugas itu kepada para pasukan dan jendral mereka. Kedua pemimpin negara tersebut perlu memastikan keselamatan mereka, daripada nasib pasukan mereka.


Ketika memikirkan itu, semuanya terlihat geram dengan tindakan Bogat dan Lukav yang seakan-akan memerintahkan pasukan mereka untuk melakukan pertempuran bunuh diri.


Namun, menurut Bogat ini menyangkut masa depan Kekaisaran. Jika dia sudah tiada, maka para bangsawan dan keluarga Kaisar berebut tahta. Bogat sendiri tidak rela jika tahta diduduki oleh anak tertuanya, Sheyn.


Takanan yang Bogat terima semakin besar saat mengetahui perwakilan pasukan hijau ternyata membawa pasukan yang besar.


“Namun itu bukan jumlah yang sebanding dengan pasukanku.”


Hanya karena jumlah pasukan hijau yang dibawa hanya berjumlah ratusan, Bogat merasa kemenangan telah dia raih.


Kaisar yang duduk di Singgasananya memandang para bangsawan yang terdengar memuji hadiah yang diberikan perwakilan pasukan hijau.


**


Istana Negara, Pusat Pemerintahan Sementara, Jakarta.

__ADS_1


“Pak, laporan dari Pasukan Ekespedisi dunia lain telah tiba.”


Sekretaris dari Kementrian Pertahanan menyerahkan dokumen tersebut langsung kepada Suroso.


Presiden muda ini meninggalkan sesaat pekerjaannya untuk memeriksa tumpukan kertas dengan jumlah puluhan lembar ini.


“Saya rasa, langkah pertama untuk perdamaian telah didapatkan. Secepatnya, kita bisa mengirimkan perwakilan Kemenhan dan Kemenlu ke dunia lain.”


“Apa kedua Kementerian sudah memilih orang untuk menjadi perwakilan?”


“Sudah, masing-masing Kementrian mengirimkan dua orang perwakilan. Akhir bulan nanti bisa diadakan penjemputan.”


Suroso membolak-balik halaman dokumen. Setelah itu dia mendapatkan beberapa kesimpulan.


“Sepertinya ada beberapa pihak yang menentang perdamaian.”


“Yah, itu seharusnya baik-baik saja. Seharusnya ada jalan.”


“Bukankah itu tujuan kita menjadikan Pasukan Ekspedisi menjadi perwakilan?”


Pria dari Kementrian Pertahanan memiringkan kepalanya. Suroso telah menjabat menjadi presiden hampir tiga tahun, dan selama itu dua kapal induk terbesar di dunia hampir selesai dibuat. Itu membuat dunia internasional terkejut, tidak ada sebuah negara yang bisa membangun sebuah kapal induk dalam waktu tiga tahun.


Ada banyak orang yang berharap kepada Suroso menjadi presiden muda yang bijaksana dan berpandangan jauh, dan itu sudah terwujud. Beberapa pihak mungkin tidak menyukai Suroso karena menduduki jabatan Presiden saat usia muda. Sekumpulan pihak berpikir apakah Suroso mampu dan becus menjadi seorang presiden.


Selama Suroso menjadi presiden, dua kapal induk terbesar di dunia hampir selesai dibangun. Dalam pembangunan senjata tersebut, puluhan ribu pekerja dikerahkan. Itu berarti proyek ini membuka sangat banyak lapangan pekerjaan bagi rakyat.


Saat Gerbang terbuka sempurna di Garnisun Karanganyar, dan pemerintah memutuskan untuk mengirim pasukan kesana, sebenarnya ada banyak pihak yang mempermasalahkan langkah ini.


“Jangan lupakan Uni Eropa, pak.”


Banyak negara yang meminta gambaran rinci mengenai dunia lain pada sidang luar biasa PBB saat TNI dikirimkan ke dunia lain. Terutama Amerika Serikat, mereka sulit dikendalikan dan terus mendesak Indonesia untuk membuka Gerbang bagi dunia internasional.


Jika Amerika, Cina dan Uni Eropa mengetahui sumber daya apa yang ada di dunia lain, mereka akan semakin sulit dikendalikan daripada saat mengancam akan mengobarkan perang dunia ke-3.


Nilai sumber daya sebuah plenet secara khusus tidak terbatas. Setiap negara di dunia ingin bekerjasama dengan Indonesia, tempat dimana Gerbang berada, dan mencari sumber daya di dunia lain.


Jika pemerintah Indonesia berusaha menghindari tekanan dunia internasional karena merahasiakan gambaran umum menganai dunia lain, itu akan menjadi tanda jika Indonesia ingin memonopoli Gerbang itu sendiri. Yang bisa dilakukan pemerintah hanyalah tetap berusaha rendah hati dan membuat negara-nagara tetangga tenang.


Jika seluruh dunia mengetahui tentang semua yang ada di dunia lain, mereka pasti akan menuntut akses masuk secara gratis ke Gerbang.


Namun, yang menunggu di dunia lain hanyalah tekanan dan kekerasan tiada akhir. Jika beruntung, setiap hari mereka hanya akan mendapatkan sabotase ringan.


Setelah itu, penawaran dan perjanjian perdamaian tidak akan berguna. Ada hal-hal yang mirip jika Indonesia membuka Gerbang agar pasukan negara tetangga memasuki dunia lain, mungkin negara semacam Amerika akan menindas rakyat dunia lain. Itu akan mirip seperti Israel yang terus menerus menindas rakyat Palestina yang menentang dekrit PBB, juga Amerika yang berperang dengan Iraq dan merebut segalanya dari negara tersebut hanya karena khawatir jika negara itu memiliki senjata nuklir.


Jika kejadian seperti itu benar-benar terjadi, Indonesia akan bernasib seperti Iraq, yakni menjadi medan perang bagi negara besar. Negara semacam Amerika dan Cina pastinya membutuhkan sumber daya yang besar, demi mendapatkannya mereka pasti akan menggunakan cara kekerasan, perang contohnya.


Satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan mendukung pendapat seseorang dengan paksa.

__ADS_1


Jika sekarang, Indonesia dan negara-negara lainnya tengah melakukan perundingan yang lebih mirip seperti perebatan anak kecil.


Bangsa lain(bisa disesuaikan menurut masing-masing pembaca): “Oh, Gerbang telah terbuka, biar aku melihatnya, bairkan aku masuk!”


Indonesia: “Tidak, Gerbang ada di wilayahku, ini adalah miliku. Mereka (TNI) telah menderita disana!”


Bangsa lain: “Tutup mulut anda! Aku tidak akan memaafkan siapa pun yang menyimpan hal-hal besar untuk diri mereka sendiri!”


Indonesia: “Jangan seperti anak-anak! Bukan berarti saya akan mengklaimnya sendiri.”


Bangsa lain: “Baiklah, jika itu yang anda katakan, saya akan mengambilnya dengan paksa!”


Indonesia: “Jika itu yang anda pikirkan, kami akan memanggil sekutu-sekutu kami. Dimana sekutuku….”


(Sekutu Indonesia saat ini, Rusia dan Korea Utara mengangkat tangan): “ Kami memiliki perjanjian…., tolong, Indonesia, tunjukkan perjanjian kita.”


Jika Cina dan Uni Eropa melihat ini, kebanyakan dari mereka akan mengangkat tangan juga, dan mengaku sebagai sekutu Indonesia.


Bahkan semua negara akan berkata, “Aku, aku juga temanmu, biarkan aku masuk” jadi pada akhirnya tidak akan ada musuh yang dimiliki Indonesia.


Lalu semua permainan tersebut terus terulang dari awal.


Tugas Kemenlu dan Kemenhan adalah mencegah negara-negara mengatakan, “Hei! Indonesia ingin membuat Gerbang menjadi miliknya sendiri. Mari kita semua bersatu dan mengendalikannya bersama-sama!” dan mencegah hal-hal tersebut terjadi.


Karena itu, segala informasi mengenai Gerbang dan kegiatan TNI disana harus dirahasiakan. Jika banyak negara yang mengendalikan dunia lain, tidak ada yang tahu kelanjutannya. Jadi, pemerintah akan merahasiakannya dan membocorkan sangat sedikit informasi kepada sekutu agar mereka tetap bersahabat dengan Indonesia.


Lagipula Indonesia belum melakukan ekspedisi terhadap seluruh dunia lain.


Jika Amerika mendatangani perjanjian dengan sebuah bangsa di dunia lain, maka perwakilan mereka di Indonesia dapat mengambil tindakan yang berhubungan dengan ekonomi dengan bangsa tersebut. Tentu saja tanpa perlu untuk mempertahankan keuntungan tersebut dengan pendudukan militer.


Saat ini, menangani Iraq dan Afghanistan sudah cukup merepotkan pemerintah dan militer Amerika, jadi mereka akan memikirkan serius masalah dunia lain.


Sebenarnya, militer Amerika telah memikirkan jika memasuki Gerbang yang berada di tengah kota adalah hal yang tidak mungkin terjadi.


Gerbang itu tidak terlalu besar, hanya muat satu pesawat tempur atau tiga tank tempur utama jika berjalan berdampingan.


Pasukan Amerika akan membawa sangat banyak senjata, amunisi, makanan dan bahan bakar jika rencana ini terwujud. Ini akan mengharuskan mereka untuk sepenuhnya memblokade wilayah Karanganyar dan mengubah jalan menjadi jalur khusus bagi pasukan mereka.


Artinya, TNI telah membuat keputusan yang tepat dengan membangun pertahanan di sekitar Gerbang. Setelah membangun kekuatan, TNI akan melaksanakan tujuan mereka dikirimkan ke dunia lain, ini adalah cara terbaik.


Memikirkan hal itu saja sudah membuat Suroso hampir murka.


“Ini adalah hal yang sangat serius, jadi kami telah memikirkan cara untuk menanganinya dengan tepat. Jadi, jangan khawatir.”


Itulah yang dipikirkan Suroso setelah kemungkinan-kemungkinan tersebut. Tetapi jika segalanya berjalan buruk, DPR/MPR mungkin akan memberikan informasi dengan santai karena keadaan yang sudah terlanjur kacau.


**

__ADS_1


“Kemuliaan terbesar kami adalah tidak pernah jatuh, tetapi meningkat setiap kali kami terjatuh.”


-Soeharto


__ADS_2