
10 September 2321, pukul 18.09 WIB/ tahun 1914 kerajaan Arevelk, malam hari.
**
Seragam tempur pasukan abad pertengahan tidak menggunkan pakaian yang dapat digunakan untuk berkamuflase di medan paling dominan negeri tersebut. Karena strategi perang mereka yang bertarung menggunakan senjata jarak dekat, dan menggunakan cara bertarung yang serupa.
Sementara di dunia asal, ada banyak militer dunia yang mengenakan seragam loreng dengan warna hampir sama, hanya atribut pelengkapnya saja yang membedakan asal pasukan tersebut. Kebanyakan pertempuran dilakukan dari jarak jauh, dan membutuhkan kamuflase yang baik.
Sementara penggunaan pakaian tempur yang mencolok, seperti yang dikenakan kedua pasukan yang mengepung Regu 1, berfungsi agar musuh menjadi gentar dan menunjukkan asal pasukan tersebut.
Berkat pengetahuan mengenai cara membedakan pasukan di dunia asing, Nio dapat mengetahui asal pasukan kavaleri berat yang mendekat ke arah Regu 1.
“Mereka berasal dari Kerajaan Arevelk…,” Nio termenung untuk memikirkan apa mereka kawan atau bukan.
Jika Sigiz berada di pasukan tersebut, Nio akan segera mengenalinya diantara ribuan penunggang naga. Karena kadal terbang yang ditunggangi Sigiz terlihat paling mencolok diantara yang lain.
“Apa mereka kawan?” Chandra terlihat semakin cemas karena ribuan pasukan kavaleri berat dan penunggang naga semakin mendekat dan menciptakan badai debu.
Nio segera mengambil teropongnya, dan mengarahkan pandangan ke arah penunggang naga yang berjumlah ratusan ekor kadal terbang, lengkap dengan pawangnya. Seluruh pasukan, baik kavaleri dan penunggang naga sama-sama membawa bendera berlambang Kerajaan Arevelk.
Pasukan TNI memang sudah menjadikan bertempur melawan monster sebagai tradisi Namun jika pasukan yang berjumlah 32 orang melawan ratusan ekor kadal terbang, akan menjadi berbeda ceritanya. Senjata yang dibawa pasukan ini tidak cukup untuk melumpuhkan seekor wyvern, kacuali 8 peluncur roket disposable yang sudah di gunakan 1 buah.
Nio masih memantau pasukan Kerajaan Arevelk untuk mencari satu sosok yang sangat ia harapkan keberadaannya. Nio berharap Sigiz memimpin pasukan itu, dan tidak memliki tujuan untuk menyerang Regu 1.
Jika Sigiz dan pasukannya justru memiliki tujuan menyerang Regu 1 karena mendekati perbatasan, maka tidak ada pilihan selain kabur.
Bagi pasukan dunia lain, keberadaan TNI seperti monster misterius. Mereka dapat dengan mudah menghancurkan kapal induk Kekaisaran Luan dan Kerajaan Hrabro, menembus sisik naga yang keras dan mengalahkan ratusan ribu pasukan dalam waktu beberapa jam saja.
Penunggang naga pasukan Sigiz nampak kagum dengan Regu 1 yang mereka lihat dari atas. Karena menurut berita yang dikatakan langsung oleh Sigiz, ciri-ciri pasukan TNI berupa seragam loreng berwarna hijau dengan lambang berwarna merah dan putih di lengan kiri seragam mereka.
Sigiz kemudian memberikan kode terhadap seluruh pasukan penunggan naganya untuk turun ke arah pasukan yang membawa gerobak lapis baja. Tidak ada yang ragu untuk mematuhi perintah Ratu mereka, karena terdapat pasukan yang sangat ditakuti negara di benua ini yang bersedia menjadi sekutu Kerajaan Arevelk.
“Tuan Nio,kita bertemu lagi,” Nio dan pasukannya hanya berdiri mematung dengan perasaan yang masih cemas karena pasukan dengan penyihir masih mengejar mereka, sementara Sigiz masih bisa menyapa Nio dengan senyuman tenang.
Ratusan kadal terbang mendarat perlahan, seperti helikopter yang hendak mendarat dan menerbangkan debu. Jika dilihat dari rupa fisik para kadal terbang, mereka berasal dari jenis yang berbeda.
Ribuan kuda pasukan kavaleri berat melaju begitu saja melewat Regu 1 yang hanya bisa berdiri mematung. Kuda-kuda yang berlari menimbulkan kepulan debu yang mengganggu, dan suara hentakan kaki mereka sangat menggetarkan hati. Jangan lupakan para prajurit kavaleri berat juga meneriakkan suatu kata dengan keras.
Regu 1 barusan melihat cara bertempur pasukan dunia ini dari jarak 30 meter.
Sheyn melihat pasukan Kerajaan Arevelk bergerak dengan cepat ke arah pasukannya, jumlah pasukan kavaleri yang mendekat adalah ratusan ribu, dan semuanya mengenakan perlengkapan berat. Sementara pasukan yang ia bawa hanya berjumlah 120 orang, tetapi sudah berkurang beberapa puluh orang karena pertempuran melawan pasukan Regu 1.
__ADS_1
Beberapa prajurit meminta Sheyn untuk segera memerintahkan mereka mundur, karena nyawa mereka sedang sangat terancam. Mereka juga tidak menyangka jika pasukan Kerajaan Arevelk akan memulai pertempuran pertama kali.
Jika pertempuran ini benar-benar terjadi, ini adalah kali pertama kerajaan Arevelk bertempur melawan negara lain.
Sheyn mengangkat tangan kirinya, dan segera memberi kode mundur. Pasukannya berbalik dan bergerak mundur ke arah ibukota Kekaisaran Luan.
Sheyn sangat terkejut karena tidak akan menyangka akan bertemu pasukan Kerajaan Arevelk sebelum terjadinya peperangan. Dia harus kembali ke istana dengan tanpa membawa informasi mengenai pasukan yang menguasai Gerbang, tetapi dia memiliki sebuah informasi yang jauh lebih penting. Yaitu pasukan Kerajaan Arevelk sudah memasuki wilayah Kekaisaran Luan.
Pasukan pimpinan Sheyn tetap bergerak mundur, meski pasukan yang mengejar mereka justru berhenti.
Komandan pasukan kavaleri memberikan perintah kepada pasukannya untuk menghentikan pengejaran, karena pasukan yang menjadi target mereka sudah bergerak mundur. Tidak ada perintah untuk melanjutkan pengejaran, karena Sigiz hanya memberi perintah untuk sekedar memukul mundur pasukan yang membahayakan Regu 1.
Kemudian pasukan ini kembali ke tampat keberadaan pimpinan mereka.
**
Nio dan anggota Regu 1 tidak menyangka akan mendapatkan bantuan yang tidak terduga. Mereka akan berpikir jika bantuan yang didapatkan adalah berasal dari Regu penjelajah yang kebetulan berada di dekat keberadaan Regu 1.
Sementara pasukan yang membantu Regu 1 untuk membuat pasukan Kekaisaran Luan mundur berjumlah ratusan ribu pasukan, dengan semuanya bersenjata berat.
Jika terjadi pertempuran melawan ratusan ribu pasukan ini, tentu saja Regu 1 mengalami kekalahan telak.
Mereka mencoba untuk memikirkan hal itu, dan berpikir bagaimana menanggapi situasi canggung sekarang. Mengingat Nio cukup fasih berbahasa dunia ini, jadi anggota Regu 1 sangat bergantung padanya.
Tentu saja mereka bukan bandit, dan TNI tidak akan melakukan hal itu terhadap semua orang di dunia ini. Meski pasukan TNI mengalahkan pasukan gabungan lima negara, namun mereka tidak melanjutkan penyerangan hingga ke ibukota Kekaisaran Luan, negeri tempat terbukanya Gerbang.
Tidak hanya itu, walaupun mereka berhasil mengalahkan sebuah pasukan dari lima negara besar di Benua Andzrev, pasukan Sigiz melihat anggota Regu 1 memiliki wajah yang ‘suram’, dan akan membuat orang akan berpikir jika mereka berada di pihak yang kalah.
Ada banyak hal yang didapatkan TNI di negeri mereka sendiri, bahkan hal buruk sekalipun.
Tidak peduli apapun, para ‘bangsawan’ di negara asal TNI tidak sebodoh yang dikira. Meskipun memikirkan hal itu, pasukan yang dibawa Sigiz benar-benar prihatin dengan wajah suram yang mereka tunjukkan. Para bangsawan memiliki kesamaan sifat serakah yang tidak dapat dipadamkan.
Lagipula, kisah novel fantasi tidak akan sama seperti yang akan di alami pasukan TNI di dunia ini.
**
Regu 1 pada akhirnya di bawa ke dalam wilayah Kerajaan Arevelk, dengan pengawalan pasukan yang di bawa Sigiz. Tidak ada yang tahu hal ini melanggar aturan atau tidak. Karena tidak ada larangan ‘bahwa prajurit tidak boleh memasuki wilayah selain negara tempat terbukanya Gerbang’.
Meski mereka berada di dekat perbatasan dengan Kerajaan Arevelk, namun jarak tersebut masih sekitar 10 kilometer untuk bisa memasuki wilayah Kerajaan Arevelk.
Nio masih menghadap canggung Sigiz yang sama-sama duduk berhadap-hadapan. Karena dalam perasaannya, dia sekarang telah membawa pasukannya jauh dari markas pusat. Dan mungkin saja sinyal radio komunikasi tidak akan sampai ke tempat ini.
__ADS_1
Itu adalah hal yang harus dikhawatirkan, karena jika Regu 1 terlambat kembali ke markas mereka akan mendapatkan hukuman. Hukuman yang paling ringan hanyalah potong gaji, dan yang berat adalah di skrors dengan waktu yang lama.
Tidak ada percakapan selama mereka duduk berhadapan, sebelum Sigiz memulai percakapan.
“Kenapa kalian bisa di kejar pasukan Barisan para Mawar?” Nio memiringkan kepalanya karena tidak tahu pasukan yang mengejar pasukannya.
“Barisan para Mawar? Pasukan seperti apa itu?” Nio segera menyiapkan buku catatanya untuk mencatat setiap hal penting yang diucapkan Sigiz.
“Mereka adalah pasukan yang seluruh anggotanya perempuan. Salah satu pasukan elit yang dimiliki Kekaisaran Luan. Mereka cukup kuat, meski seluruh anggotanya perempuan,” tangan Nio bergetar saat mengetahui jika pasukannya tadi melawan sekumpulan perempuan.
Namun itu bukan hal yang harus dipikirkan, karena dalam sebuah kesatuan pasti ada beberapa orang perempuan. Namun, bagaimana jika sebuah kesatuan tersebut diisi seluruhnya oleh perempuan?
“Lalu, pasukan anda akan menuju kemana. Tidak mungkin kan pasukan sebesar ini hanya dikirim untuk membantu kami?”
“Sayang sekali, tujuan kami kesini memang untuk membantu pasukan anda. Namun ada satu tujan lagi dari keberangkatan pasukan kami.”
“Apa itu?”
“Pasukan gabungan lima negara juga menyatakan perang terhadap kami. Sebelum mereka menyerang kami, kami akan mengerahkan pasukan untuk menyerang mereka satu persatu.”
“Jadi anda akan memerangi Kekaisaran Luan terlebih dahulu?”
“Benar, namun kami harus meminta ijin kepada komandan anda untuk melintasi wilayah di sekitar Gerbang.”
Nio tahu mengapa Sigiz ingin menemui Komandannya, jika tidak mengatakan alasan pasukan sebesar ini untuk melintasi wilayah di sekitar Gerbang, bisa-bisa pasukan Sigiz akan di anggap sebagai ancaman, dan kontak senjata kembali terjadi.
“Tapi jarak ke Gerbang sangat jauh, akan membutuhkan waktu satu bulan perjalanan dengan berkuda,” Nio seperti melihat ‘peluang’ setelah mendengat keluhan Sigiz mengenai jarak yang jauh jika ingin mencapai Gerbang.
Nio juga berpikir, jika ada beberapa syarat yang akan di berikan komandannya jika Sigiz dan pasukannya ingin melintas di wilayah sekitar Gerbang yang sudah menjadi bagian dari Indonesia. Meski wilayah sekitar Gerbang adalah tanah kosong, bisa saja di situ terdapat barang tambang yang berharga.
Tentu saja negosiasi antara Sigiz dan komandannya akan menguntungkan bagi kedua pihak.
Jika Sigiz mendapatkan ijin untuk melintasi wilayah di sekitar Gerbang, maka pasukan yang dia pimpin dapat mencegah pasukan musuh untuk menyerang Kerajaan Arevelk. Sementara keuntungan yang di dapatkan Indonesia adalah dapat melakukan penjelajahan yang lebih luas, tidak terbatas pada wilayah Kekaisaran Luan.
“Kami bisa mengantarkan anda jika ingin menemui komandan kami. Namun, kami juga tidak tahu apakah dia akan memberi ijin atau tidak. Jika menumpang kendaraan kami,” wajah Sigiz tiba-tiba menjadi cerah setelah mendengar tawaran Nio, karena dia akan bersama Nio lebih lama.
Dia sudah senang saat berbincang-bincang dengan Nio, meski dia harus tetap memperhatikan etika seorang ratu. Dia tidak bisa berbicara seperti orang yang seumuran dengan Nio, meski umurnya sekarang yang sudah 60 tahun. Namun, umur 60 tahun menurut ras asal Sigiz adalah umur yang masih seperti manusia pada fase remaja.
Itu artinya, jika menggunakan sudut pandang Sigiz, dia yang berusia 60 tahun sebaya dengan Nio yang berusia 19 tahun.
Sigiz menyetujui usulan Nio, namun hanya Sigiz yang akan berangkat menuju benteng tempat markas pusat berada. Pasukan Sigiz harus bersedia untuk menunggu di perkemahan ini hingga Sigiz berhasil mendapatkan ijin untuk melewati wilayah di sekitar Gerbang.
__ADS_1
“Baiklah, kita akan berangkat besok pagi.”