
Nio, yang mencoba membuka matanya perlahan setelah menjalani pemasangan tangan bionik, perlahan-lahan menyadari jika ada orang-orang disekitarnya menggumamkan sesuatu. Saat dia telah berhasil membuka mata sepenuhnya, dan kesadarannya mulai terkumpul, Nio dengan cepat menyadari jika dia tidak sedang berada di ruang operasi, lebih mirip tempat ini dikatakan sebagai ‘bengkel’. Tapi, bengkel ini nampak sangat rapi, dengan beberapa model tangan bionik yang tergantung di tembok ruangan.
Dia tidak merasa ada perubahan yang berarti setelah tangan logam itu mengisi tempat tangan kanannya yang telah dikubur. Meski tangan bionik ini hampir sepenuhnya materialnya terbuat dari campuran logam yang sangat kuat, namun perangkat ini benar-benar seperti tangan asli, terutama pada beratnya. Logam yang digunakan hampir sekuat dengan lapisan baja pada tank meriam railgun, namun kekuatannya setingkat lebih tinggi dari logam pada alat tempur.
Ada tiga orang yang ahli pada bidang ini, dan telah sukses memasang tangan logam di tubuh Nio. Seluruh orang tentu saja bahagia dengan hal ini, dan semakin bahagia setelah Nio bangun dari efek obat bius anestesi.
“Tepat waktu, dia bangun setelah efek anestesi habis.”
Salah satu dokter yang menangani hal ini adalah Dina, dia secara sukarela menjadi asisten karena tidak ada dokter yang berani menangani hal sesulit ini. Sigiz mengirimkan dua orang tabib yang bertugas menjadi dokter cadangan, meski pada akhirnya mereka menerima gaji buta karena tidak mendapatkan tugas.
Sambil menahan menguap, Nio mencoba menggerakkan tangan barunya, dengan diperhatikan beberapa orang di ruangan ini.
“Ayolah, apa aku harus dilihat seperti itu?”
Seluruh orang melihat Nio seperti bayi yang sedang belajar merangkak saat pemuda itu mencoba menggerakan tangan bioniknya dengan pikirannya. Dia bisa mengangkat dan menggerakkan jari-jari pada tangan pengganti miliknya, dan itu adalah adaptasi yang sangat cepat terhadap perangkat tersebut bagi penerima tangan bionik seperti Nio.
Nio mengangkat telapak tangannya ke atas, dan sebuah pedang pendek mencuat begitu saja yang mengejutkan Nio dan orang-orang.
“Kenapa dipasangi pedang segala?”
Wajah Nio berubah pucat saat mencoba menyembunyikan kembali pedang. Dia khawatir dengan keberadaan senjata tersembunyi tersebut, karena bisa saja saat makan atau melakukan suatu kegiatan, Nio akan mengeluarkan pedang tersebut dan melukai orang lain, termasuk dirinya sendiri.
“Itu adalah perangkat tambahan pada tangan bionik militer. Kalau mau, kita bisa memasangkan roket kecil pada tangan bionikmu.”
Suroso yang masuk begitu saja ke dalam ruangan ini terlihat senang setelah Nio mendapatkan tangan penggantinya. Tentu saja Nio langsung menolak hal itu, karena pedang saja sudah termasuk senjata berbahaya, jangan sampai Nio tidak sengaja meluncurkan roket kecil jika senjata itu benar-benar dipasangkan.
Suroso yang patah hati menghela napas. Kemudian, dari pintu yang sama keluar beberapa gadis yang sangat ingin bertemu Nio. Kedatangan para gadis memang tidak direncanakan, tapi tidak ada penolakan karen Sigiz membawa puluhan pengawal, termasuk Zariv yang memiliki kemampuan semacam ‘assasin’.
Sigiz membawa beberapa penyihir terhebatnya yang menjadi pengawalnya. Para penyihir adalah tandingan militer negara ini, namun jika dihadapkan dengan artileri dan rudal akan menjadi cerita yang berbeda.
Sekarang, Nio melihat jika kakaknya mulai bisa sabar menghadapi Sigiz yang terus memanggilnya ‘kakak’. Di belakang Sigiz, selain berdiri Ivy di sana, seorang pengawal perempuan yang baru pertama kali Nio melihatnya juga berdiri di sana. Gadis itu terlihat masih dalam usia remaja, diantara 18-25 tahun-an, tapi Nio sudah tidak ingin menebak usia seseorang karena dia berasal dari dunia lain.
Zariv berjalan mendekati Nio, namun langkahnya yang aneh membuat pemuda itu menyipitkan matanya. Nio mengamati kaki gadis yang berjalan mendekatinya, dan dia menemukan jika kaki gadis tersebut nampak panjang sebelah.
Berdebar, alas sepatu gadis itu terdengar dan membuat Nio menatap gadis itu dengan waspada.
“Ha-halo….”
Sigiz dan Arunika segera menoleh ke arah Nio yang menyapa Zariv, sementara Lux mencoba menahan diri, dan Ilhiya masih sibuk dengan kucing miliknya dan tidak tertarik dengan ‘kecemburuan’ ketiga gadis tersebut. Fisik gadis itu hampir sama dengan orang Asia Timur, atau perpaduan antara orang Asia Timur dengan Eropa. Tapi, Nio tidak banyak berpikir tentang bentuk fisik seseorang, selama perempuan itu cantik, Nio akan menyukainya.
Meski ada prajurit perempuan di depannya, dan memiliki paras tak kalah dengan ratunya, Nio merasa punggungnya menggigil, dan dia dengan cepat mengalihkan pandangannya.
Tentu saja jika mereka merasa diabaikan, atau tidak dianggap keberadaanya, para perempuan akan merasa kesal hingga ketingkat yang sangat tinggi. Zariv dengan kuat menekan kedua pipi Nio, dan memaksa Nio untuk memandang dirinya hingga terdengar suara patahan dari leher Nio.
“Aku Zariv, pengawal Yang Mulia Sigiz.”
“A-aku Nio, prajurit biasa.”
Kedua alis Zariv menurun dengan tajam setelah mendengar Nio menyatakan jika dia hanyalah prajurit biasa. “Tidak mungkin, dia adalah orang yang diramalkan. Pasti orang ini memiliki kekuatan yang sangat besar,” itulah yang dikatakan Zariv di dalam hatinya saat dirinya menatap dengan serius bola mata Nio.
Bisa mengalahkan Lux, yang merupakan jendral Kerajaan Arevelk adalah pencapaian yang ‘tidak masuk akal’. Karena Lux memiliki kekuatan dalam bertarung menggunakan pedang yang sangat hebat, dan petarung tanpa sihir karena Lux tidak memiliki kemampuan itu. Sementara itu, menurut kabar yang Zariv dengar, Nio hanya menggunakan pisau kecil saat bertarung melawan Lux.
“Luhe, kenapa kau bisa kalah dengan orang ini?”
__ADS_1
Wajah Lux seketika berubah pucat setelah Zariv menyebutkan nama aslinya, begitu pula dengan Sigiz yang tidak menyangka ada orang yang memiliki keberanian untuk memanggil Lux dengan nama aslinya. Tapi, Lux tidak bisa melakukan sesuatu terhadap Zariv, karena jika dia memutuskan bertarung dengan Zariv, bisa dikatakan Lux akan kalah jika Zariv menggunakan sihir andalannya.
“I-itu karena dia menggunakan bela diri yang aneh.”
Zariv menatap tajam mata Nio yang juga tajam dari lahir, dan merasakan jika Nio hanya memiliki aura dingin. Namun, dia tidak bisa merasakan jika Nio memiliki kekuatan fisik yang bisa mengalahkan jendral sekuat Luhe/Lux.
Dalam situasi terancam seperti ini, Nio akan melihat apa yang akan gadis itu lakukan padanya selanjutnya. Zariv melepaskan genggamannya pada pipi Nio, dan mengatakan beberapa kata dengan sangat cepat hingga Nio tidak mengerti maknanya.
“Sekarang kau sudah ku tandai.”
“Eh? Apa maksudmu aku sudah kau tandai?”
Zariv menghela napas setelah Nio bertanya dengan wajah polos yang menjijikan, tidak ada laki-laki yang lucu saat berwajah polos. Wajah Zariv yang tidak terkesan datar, membuat gadis itu tidak sulit untuk menebak ekspresinya. Berbeda dengan Lux yang selalu memasang wajah datar, dan cukup sulit ditebak.
Tapi, Lux dan Sigiz terlihat mematung dan tidak manyangka jika Zariv akan melakukan sesuatu yang mengejutkan. Sementara itu, Ilhiya masih sibuk dengan kucing miliknya, meski dia sedikit terkejut saat Zariv telah menandai Nio.
“Artinya, Zariv sudah menandai dirimu untuk dijadikan pasangannya di masa depan nanti.”
Jawaban Ilhiya yang terdengar tanpa beban membuat Nio bereaksi sama seperti kakaknya, mereka berdua hanya bisa mematung, dan mencoba mencerna kata-kata itu.
“Tapi dia juga sudah ditandai seseorang.”
Zariv menatap tajam ke arah Ratunya dan Lux, Sigiz hanya membuang pandangan, dan wajahnya merona setelah Zariv mengatakan kebenaran itu. Ya, Sigiz juga telah melakukan hal yang sama seperti Zariv, yakni menandai Nio untuk dijadikan pasangannya di masa depan nanti.
Tentu saja Lux tidak terima dengan hal ini, karena kedua perempuan itu memiliki sihir, yang membuatnya tidak tahu cara semacam menandai seperti yang dilakukan kedua perempuan tersebut. Bahkan jika dia melakukan cara yang dilakukan klannya untuk menandai seseorang yang disukai, bukan berarti dia bisa ‘memuaskan’ Nio.
“Tidak, kalian tidak boleh menggunakan cara itu untuk mendapatkan adikku. Kalian harus berhadapan dengan ku jika kalian memang menginginkan Nio…!”
Arunika tidak bisa menahan diri untuk mengatakan itu, dia telah membuat situasi ini menjadi sulit dipahami oleh Nio.
Untuk beberapa hal Arunika memang kalah jauh daripada para gadis dunia lain, termasuk kekuatan. Dia hanya manusia biasa, yang tidak memiliki sihir atau kemampuan bertarung. Kecuali suatu hal, yakni dia jauh lebih lama bersama dan mengenal Nio.
Nio benar-benar tidak bisa memahami situasi sekarang, dan dia lebih memilih menyelimuti tubuhnya dengan sarung dan melarikan diri dari konflik para gadis itu. Sementara itu, Suroso telah keluar dari ruangan ini sejak ‘konflik’ para gadis dimulai, presiden muda itu tidak ingin mengganggu Nio untuk urusan ini, dan meninggalkan pemuda itu sendirian di ruangan bersama para gadis.
Beberapa saat setelah suasana yang tidak nyaman ini berlangsung, pintu ruangan terbuka dan seorang perempuan dengan seragam pramuniaga memasuki ruangan sambil menenteng kantung plastik yang entah apa isinya. Kedatangan Indah membuat perasaan Nio sedikit lega, tapi Zariv menatap tajam Indah dan membuat gadis itu gemetar, padahal dia masih berjarak tiga meter dari Zariv.
“Maaf, Nio. Aku cuma mau mampir, dan tidak tahu kalau sedang ada pertemuan penting di sini.”
“Tidak, disini tidak ada pertemuan seperti yang kau pikirkan.”
Arunika tentu saja tidak menyangka kalau Indah tahu tempat Nio melakukan perawatan sekarang, tidak ada orang yang memberitahunya. Sementara itu, para gadis dunia lain menatap Indah seperti melihat orang baru di kelompok mereka.
Ini adalah kali pertama Indah melihat dan bertemu langsung dengan para gadis dunia lain, dan dia merasa jauh dibawah mereka tentang penampilan. Tapi, dia tidak menyangka jika Nio dikelilingi banyak gadis, apalagi gadis-gadis yang ada di tempat ini sangan menawan. Indah ragu jika Nio benar-benar menjadikannya kekasih saat pemuda itu dikelilingi banyak gadis.
Seluruh orang memberikan jalan kepada Indah untuk mendekat ke tempat Nio, tentu saja keberadaan mereka membuat Indah tidak nyaman. Arunika bukan masalah yang besar, tapi mantan gurunya itu terlihat memberikannya tatapan yang mengintimidasi.
Setelah Indah meletakkan kantung plastik di meja samping ranjang, dia bertanya pada Nio dengan berbisik, “Nio, siapa gadis-gadis dunia lain ini?”
“Mereka orang-orang Kerajaan Arevelk, salah satu negara di dunia lain. Tenang saja, aku tidak memiliki hubungan dengan mereka.”
“Tapi, kau menyukai gadis cantik seperti mereka kan?”
“Apa kau mau aku seperti itu?”
__ADS_1
Indah kemudian diam, dan melihat sekeliling yang membuatnya ingin segera kembali ke tempat kerja. ‘Benar-benar tidak ada apa-apanya aku ini, mungkin Nio memiliki hubungan dengan mereka’, itulah yang ada di pikiran Indah sekarang. Setidaknya kepercayaan dirinya masih ada, dan dia mencoba untuk tidak merendahkan diri sendiri dengan gadis-gadis dunia lain.
Satu lagi, setidaknya seluruh orang di ruangan ini belum mengetahui jika Indah adalah pacar Nio. Hal rahasia seperti itu tidak mungkin terbongkar hanya dengan sihir.
**
Kastil negara ini selalu dikunjungi oleh para bangsawan sejak kedatangan Kaisar Bogat di sini.
Dalam pertemuan ini, mereka semua setuju jika orang-orang barbar dari dunia lain harus diperangi, dan mengusir kembali mereka ke asalnya, lalu menguasai lagi Gerbang.
Tapi, kekalahan yang didapatkan Kekaisaran Luan dengan mudah menghantui pikiran mereka, masing-masing dari mereka memilki berbagai ekspresi. Tanpa banyak bertarung, pasukan barbar hijau itu dengan mudahnya menghancurkan pasukan monster dan kekuatan udara aliansi Luan dan Hrabro.
Sekarang, bisa dikatakan jika aliansi Luan dan Hrabro kehilangan banyak kekuatan. Itulah mengapa Bogat memutuskan untuk ‘bertamu’ ke negara ini untuk meminta bantuan pasukan monster mereka yang terkenal dengan kebrutalannya.
Perjalanan laut yang ditempuh dari Kekaisaran Luan untuk bisa mencapai Benua Hayvan adalah dua minggu, dan itu adalah waktu tersingkat jika tidak ada gangguan, seperti serangan mendadak raja naga laut. Negara ini memilki banyak kapal perang, yang bisa digunakan sebagai pengangkut tentara maupun bantuan tembakan.
Jenis naga dan wyvern negara ini lebih beragam daripada yang ada di Benua Andzrev, bahkan lebih kuat dan memiliki kekuatan yang sangat besar. Konon, jika diperlukan, seluruh pasukan penunggang naga di negara ini bisa mengalahkan sebuah negara dalam waktu beberapa hari saja.
Di ruang pertemuan yang mirip dengan istana raja iblis ini Bogat dan bangsawan dari kalangan ras Demihuman yang sangat ia benci berkumpul. Dia terpaksa berkumpul bersama manusia ras Demihuman demi mendapatkan bantuan perang, agar dia bisa segera menghancurkan pasukan hijau dan negara Yekirnovo.
Tanah Suci kini berubah menjadi garis depan yang berbahaya, tempat ribuan tentara tewas. Sekarang, raja negara ini harus mengirimkan pasukan ke sana demi tujuan yang sama, yakni berperang dengan negara asal pasukan hijau yang menguasai Gerbang.
“Kaisar Bogat, apa anda menerima tawaran ini.”
Tawaran yang dimaksud si raja negara ini adalah jumlah pasukan, persenjataan dan kekuatan militer pendukung lainnya. Jumlah pasukan yang dikirimkan jauh lebih besar dari yang diperkirakan Bogat. Dia yakin, dengan jumlah pasukan yang hampir berjumlah setengah juta itu bisa untuk menghancurkan negara asal pasukan hijau.
Tawaran selanjutnya yang diberikan adalah, penyihir kedua negara akan melakukan upacara ‘pemanggilan pahlawan’, yang tentu saja mereka akan dipanggil dari dunia asal pasukan hijau. Tujuannya adalah menurunkan moral pasukan hijau karena harus melawan orang yang berasal dari dunia yang sama dengan mereka.
Upacara akan dilakukan saat penyihir pilihan dari Kekaisaran Luan dan Kerajaan Harabro tiba di negara ini, perkiraan waktu sekitar dua bulan lagi karena harus melakukan beberapa persiapan.
“Aku menerimanya.”
Setelah mengucapkan kata itu dengan bangga, raja negara ini merespon dengan senyum menyeringai.
“Aku akan menyaksikan kemenangan yang akan diraih pasukan aliansi kita.”
Dengan begitu, Kekaisaran Luan, Kerajaan Hrabro, dan pasukan negara ini sepakat membentuk aliansi untuk memerangi pasukan hijau, dan berperang dengan negara asal mereka.
**
Funfact#5: Luhe adalah nama asli Lux, yang berarti pedang tumpul. Karena dia tidak menyukai namanya sebelumnya, Lux mengganti namanya dengan nama yang digunakannya sekarang, yang menurut bahasa dunia ini bermakna ‘pedang tajam’.
Sedikit informasi: Jumlah Kompi yang ada di Garnisun Karanganyar berjumlah 3 Kompi.
(Ilustrasi Indah, sumber gambar pinterest)
(Ilustrasi Zariv, sumber gambar pinterest)
__ADS_1
(Ilustrasi tangan bionik, sumber gambar pinterest)