
Setelah pertempuran melawan lusinan goblin yang berakhir dengan kemenangan mereka, kelima gadis berada di dalam goa kecil, dan Nio berdiri di depan mulut goa memantau sekitar dengan mata tajam dan area sekitar matanya yang menghitam. Nio diberitahu Sakuya jika gadis itu akan mengobati Nefe dan Sabole yang hampir mendapatkan pelecehan dari goblin-goblin kotor yang mereka lawan beberapa jam lalu. Mampu menang melawan lusinan monster bukan lagi hal yang baru bagi prajurit ‘dunia lain’ seperti Nio. Setelah Aliansi menyatakan perang terhadap Indonesia dan sekutunya, TNI kini telah menjadikan pertarungan melawan monster sebagai tradisi.
Goa ini mereka temukan setelah berjalan selama beberapa jam, melewati berbagai rintangan seperti tumbuhan berduri setajam jarum. Tumbuhan yang memiliki duri runcing banyak ditemukan di hutan-hutan Indonesia, namun untuk pertama kalinya Nio melihat duri tumbuhan yang memiliki tingkat kekerasan setara logam. Di sekitar mulut goa juga ditumbuhi tumbuhan seperti itu, dan Nio mengambilnya beberapa dan memasukkannya ke dalam kantung rompinya. Dia berniat menggunakan duri tumbuhan tersebut sebagai senjata, dan dia kini hanya memerlukan satu bahan lagi.
Sebagai prajurit pasukan elit, Nio dituntut dapat memanfaatkan semua hal yang berguna di alam liar, termasuk membuat senjata dengan memanfaatkan tanaman yang memenuhi syarat untuk dapat digunakan sebagai alat pertahanan diri. Setelah memasukkan puluhan duri tumbuhan yang memiliki panjang dua puluh centimeter ke dalam kantung rompinya, Nio memakai lagi mantel yang telah dikembalikan Sabole dan Nefe setelah kedua gadis tersebut mendapatkan pakaian ganti dari Sakuya.
“Benda yang melilit ku ini apa?” Nio mendengar pertanyaan itu dari Nefe yang telah keluar dari dalam goa, disusul gadis-gadis yang lain. Nio dapat bernapas lega setelah mereka benar-benar mendapatkan perawatan, dan Sakuya benar-benar membantu merawat kedua gadis Penjelajah itu dan bukannya melarikan diri.
“Itu kain penutup luka untuk pertolongan pertama,” jawab Nio dengan nada datar.
“Kain berwarna putih seperti ini hanya digunakan untuk menutup luka?!” reaksi yang diberikan Kardas setelah mendengar jawaban Nio mengingatkan pemuda itu pada seseorang. Di lain sisi, Nefe dan Sabole berniat akan menyimpan perban yang melilit sebagian tubuh mereka, lalu membersihkannya lagi sebelum dijual. Karena perban yang mereka gunakan berwarna putih, pasti akan sangat mahal jika dijual, atau mungkin bahkan lebih mahal dari barang berharga yang mereka temukan.
Sementara itu, Nio melihat Sakuya tersenyum dengan wajah bangga, seakan-akan dia memiliki bakat sebagai prajurit medis lapangan. Setidaknya Nio dapat memaklumi hal itu, dan dirinya juga telah memberikan obat-obatan untuk luka Sabole dan Nefe, seperti obat merah untuk mencegah luka terinfeksi dan perban. Dia juga telah memberikan beberapa arahan bagi Sakuya tentang cara merawat luka dan lebam, setelah itu Sakuya telah menjadi prajurit medis lapangan amatiran yang dapat mengobati luka ringan.
Meski harus dibantu Kardas dan Sayf untuk berjalan, setidaknya kondisi Nefe dan Sabole mulai membaik setelah mendapatkan perawatan singkat dari Sakuya. Keempat gadis Penjelajah itu kagum dengan cairan penyembuhan (obat merah) yang dapat menghentikan luka yang terus mengeluarkan darah dan mencegah infeksi dan banyak fungsi lainnya. Dan itu membuat mereka bingung untuk membalas semua yang Nio berikan pada mereka.
“Apa yang harus aku berikan padamu setelah menyelamatkanku? Kau adalah prajurit musuh, namun kau memberi kami makanan dan obat. Menurutku, rasa terimakasih saja tidak akan cukup.”
Nio menoleh dan menatap wajah Nefe yang menderita banyak lebam, dan harus dibantu berjalan oleh Kardas. Dia baru bertemu kelima gadis itu beberapa jam yang lalu, saat lingkaran sihir berwarna putih memindahkan dirinya ke tempat berbahaya ini. Ekspresi keempat gadis Penjelajah sama sekali tidak tenang, atau tepatnya mereka takut jika Nio akan meminta bayaran yang sangat besar dari mereka.
“Jadi begini, bukannya kalian sudah menemukanku beberapa jam yang lalu? Kalau tidak, mungkin aku sudah menjadi santapan monster penghuni tempat ini. Kalian seharusnya menganggap bantuan ku sebagai balasan dari apa yang kalian lakukan kepadaku.”
Nio bahkan tidak terkejut saat salah satu gadis Penjelajah tersebut menanyakan hal seperti itu. Mungkin karena dia telah membaca cerita pada novel ringan dan komik Jepang yang menceritakan tokoh perempuan utama ingin memberikan balasan kepada tokoh utama yang telah menyelamatkannya.
Bagaimanapun, dia dan kelima gadis tersebut telah berhasil melalui perjuangan hidup dan menjaga kehormatan dengan bertarung bersamanya, prajurit Persekutuan. Pemuda itu juga memiliki beberapa pertanyaan tentang jenis-jenis monster penghuni tempat yang disebut dengan Labirin lantai sepuluh ini.
“Sayf, apa di tempat ini masih ada banyak monster kuat dan pintar seperti goblin tadi?”
“… Iya.”
Kepala Nio tertunduk, lalu jari telunjuk dan jempolnya memegangi dagu yang telah ditumbuhi jenggot tipisinya. Dia merasa monster-monster yang dimiliki Aliansi dalam penyerangan pertama beberapa bulan yang lalu cukup pintar untuk menggunakan senjata manusia, seperti pedang dan panah. Meski kualitas belati yang dimiliki goblin yang menyerang mereka tadi buruk, namun itu menandakan jika mereka adalah monster yang memiliki akal setara manusia. Dunia asalnya mencatat para monster yang digunakan selama penyerangan memiliki akal setara balita hingga anak-anak usia dua belas tahun. Hal itu berdasarkan cara bertarung, dan pergerakan mereka yang cukup teratur seperti anak Pramuka dan prajurit reguler.
Orang-orang menganggap monster yang muncul di dunia mereka ketika penyerangan bangsa dunia lain sebagai ‘cerita fantasi yang nyata’. Kemudian, Gerbang sempurna yang sempat terbuka di Karanganyar membuat pemuja agama aneh yang disebut ‘Otaku’ atau ‘Wibu’ mendesak pemerintah untuk mengijinkan warga sipil agar diijinkan memasuki Gerbang dan menjelajahi dunia lain tanpa pembatasan dari pemerintah. Para anggota agama aneh itu percaya jika di dunia lain terdapat makluk bernama elf, atau makhluk fantasi cantik yang sering muncul dalam cerita anime atau komik serta novel. Namun, tetap saja pemerintah menganggap penyembah makhluk dua dimensi tersebut sudah gila hingga batas yang tak wajar, dan menolak memberikan ijin biasa bagi warga sipil. Tapi, bukan itu yang membuat Nio memikirkan betapa luasnya dunia ini.
Namun, Nio tidak tahu apakah monster sejenis goblin memiliki kecenderungan untuk memperkosa gadis yang lemah, alias dapat memanfaatkan situasi yang sama dengan manusia laki-laki jika dihadapkan pada situasi yang sama. Ia telah melawan banyak monster dengan berbagai kemampuan uniknya, tapi tidak dengan kemampuan memperkosa gadis seperti yang dimiliki para goblin sebelumnya. Hal itu membuat monster tersebut sama berbahayanya dengan pasukan Eropa abad pertengahan yang memenangkan suatu pertempuran, yakni memperkosa gadis suatu daerah yang mereka taklukan.
TNI belum memiliki senjata khusus yang hanya digunakan untuk menghadapi monster, karena mereka benar-benar sangat berbeda dengan manusia. Satu-satunya cara untuk menghadapi makhluk fantasi tersebut adalah menggunakan cara yang sama saat menghadapi prajurit manusia biasa. Bisa dikatakan menghadapi musuh non-manusia adalah pemborosan uang pajak, namun hal itu terpaksa dilakukan jika seorang prajurit masih ingin terus berjuang.
Para gadis merenungkan situasi yang mereka hadapi sebelumnya, dan tidak mengira jika para goblin tadi hampir merenggut kehormatan Sabole dan Nefe. Jika Nio tidak bersama mereka, lalu Sakuya, Kardas, dan Sayf sibuk menghadapi lusinan goblin yang terus berdatangan, mungkin Nefe dan Sabole tidak akan terselamatkan. Kemenangan ini mungkin sesuatu yang luar biasa, dan pencapaian yang sangat besar bagi keempat gadis Penjelajah tersebut. Seperti yang ditanyakan Nio beberapa menit yang lalu, tempat ini mungkin dihuni monster yang jauh berbahaya dan pintar selain goblin. Saat mereka melihat seorang prajurit Persekutuan berdiri dan wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu, kelima gadis tersebut merasa beruntung bertemu seorang prajurit musuh di sini.
Tentu saja, mereka akan melanjutkan perjalanan untuk membantu Nio menemukan jalan keluar, mencari barang berharga untuk keempat gadis Penjelajah tersebut, dan menjelajahi lantai sepuluh untuk pelatihan Sakuya. Ada tujuan dan kerjasama untuk mencapai tujuan masing-masing tanpa melupakan saling membantu satu sama lain. Sayangnya, kelima gadis tersebut merasa tidak ingin Nio cepat kembali ke asalnya, dan melanjutkan penjelajahan ini bersama-sama.
Meski mereka mengatakan hal tersebut kepada Nio, jawaban yang pria itu akan berikan sudah jelas. Penolakan atas keinginan tak masuk akal mereka adalah hal yang wajar, dan mereka tidak bisa memaksakan kehendak untuk menahan Nio kembali ke asalnya. Karena itulah mereka akan memanfaatkan momen ini sebaik mungkin, sebelum Nio menemukan jalan keluar dan kembali berperang dengan Aliansi.
Pertarungan dengan goblin dan minotaur adalah hal yang membuat mereka berpikiran seperti itu.
“Pokoknya, ekspetasiku terhadap prajurit negara ‘setengah maju’ sepertimu tetap sama. Meski aku punya kekuatan yang mampu mengalahkan ratusan monster sendirian, tapi kekuatan dan kemampuan bertempur mu tetap kami perlukan. Kau mendapatkan rasa kagum dan hormat dari ku, Nio.”
“Yah… tak kusangka prajurit musuh berkata seperti itu. Kalau kau tidak berhati-hati dalam berucap, kau mungkin sudah membuatku salah paham.”
“Aku serius. Atau kau memang ingin aku mengatakan yang kupikirkan sekarang?”
Nio menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, dan itu membuat Sakuya kehilangan mood untuk mengatakan yang ada di pikirannya sekarang. Situasi yang mereka hadapi memang membingungkan, namun hasil yang didapatkan dari situasi tersebut adalah kerjasama yang mengagumkan, meski keempat gadis Penjelajah tetap tidak dapat mengimbangi kekuatan Sakuya dan kemampuan bertempur modern Nio. Kemudian, kelima gadis menatap ke arah yang sama, yakni kulit Nio yang memiliki banyak bekas luka yang menandakan bahwa perjuangan pria itu di medan perang berada di garis tipis yang memisahkan kehidupan dan kematian.
**
Kau akan menerima takdirmu, sayangnya-
__ADS_1
Seseorang berbicara pada Nio, namun dengan wujud sama sekali tidak jelas apakah sosok itu manusia atau sejenisnya.
“Ini berita yang sangat bagus, orang yang diramalkan akhirnya muncul di dunia ini,” seseorang yang mengenakan pakaian bercahaya berbicara seperti itu, namun Nio sama sekali tidak bisa menanggapinya. Bahkan dia tidak tahu dimana dirinya sekarang, pandangannya kabur dan hanya bisa mendengar tanpa dapat berbicara atau menanggapi dengan gerakan apapun.
Terakhir kali, Nio teringat jika dirinya melakukan penjelajahan tempat yang disebut sebagai Labirin. Dia bersama lima orang gadis – yang berasal dari negara anggota Aliansi – bekerja sama melawan puluhan goblin, dan memenangkan pertarungan itu. Tetapi, pikiran Nio terasa melayang dan hanya dapat melihat orang-orang berbicara sesuatu dengan suara lembut, namun wujud sosok tersebut masih samar-samar.
Dia adalah prajurit dari sebuah negara ‘setengah’ maju yang bernama Republik Indonesia, dan tengah dikirim ke ‘Dunia Baru’ untuk menjaga negeri tersebut dengan berjuang dari dunia lain. Dia telah ditugaskan ke dunia ini selama satu tahun, dan sudah melalui berbagai peristiwa, mulai dari yang menyenangkan dan menyedihkan, serta menyakitkan hati dan fisik. Ketika berada di tempat ini, Nio tidak tahu apakah dirinya sedang duduk atau ditidurkan pada ranjang, dia merasa tubuhnya melayang dan terasa sangat ringan seperti tanpa beban.
Beberapa saat kemudian, dia mendengar keributan kecil dan tetap tidak bisa melihat dengan jelas siapa dan apa yang diributkan.
“Kalau tidak salah, dia anaknya-“ ucap seseorang, namun Nio tiba-tiba tidak mendengar bagian akhir yang dibicarakan orang itu, seolah-olah telinganya tuli dengan tiba-tiba, dan dari suaranya orang itu berjenis kelamin laki-laki.
“Nio Candranala, kan? Nama yang bagus, aku berharap dia bisa melihat kita dengan jelas. Tapi sayangnya waktu yang tepat belum tiba,” Nio mendengar jika yang mengatakan hal itu adalah seorang perempuan, dan berbicara dengan suara lembut seperti perempuan dewasa.
“Labirin yang dia jelajahi mungkin bisa membuatnya belajar beberapa hal,” ucap sosok lain dengan suara perempuan, namun sedikit berat layaknya suara prajurit perempuan.
“Takdir?”
“Nama yang bagus?”
“Dia anaknya...?”
Itu adalah pertanyaan yang selalu muncul di pikiran Nio sejak dia mendengar kalimat-kalimat tersebut, namun tetap saja dia tidak dapat berbicara untuk bertanya lebih jelas. Meski dia merasa sudah membuka mata lebar-lebar, tetap saja yang dia lihat hanyalah pemandangan beberapa orang yang mengelilinginya secara melingkar, dan berbicara sesuatu.
“Tentu saja aku anaknya-“ Nio ingin menjawab salah satu pertanyaan, namun dia merasa sebuah sentuhan lembut di bibirnya. Dia berpikir jika ada seseorang yang meletakkan jari telunjuknya di mulutnya agar dia diam.
Kemudian, tiba-tiba dia mendengar seperti tetesan air, lalu dia melihat riak air berwarna merah.
Tiba-tiba, suara teriakkan jutaan pria yang penuh semangat mengganggu pendengaran Nio, lalu terdengar suara ledakan berkali-kali. Itu adalah gambaran perang yang telah Nio lalui selama bekerja melayani negara dengan menjadi prajurit. Serta, genangan berwarna merah yang beriak adalah gambaran darah para prajurit yang gugur setelah berjuang dengan berani dan hati yang ikhlas. Beberapa orang mengatakan jika kematian di medan perang adalah cara mati yang mulia, dan para prajurit yang gugur akan mendapatkan surga yang hanya akan diisi oleh para pejuang serta wanita yang gugur setelah melahirkan penerus perjuangan para prajurit yang gugur.
Tetapi, Tuhan, Dewa, dan bahkan Rasul memang mengatakan hal tersebut, dan berkata perjuangan yang ikhlas dan menyakitkan akan membawa akhir yang membahagian dan memuaskan, tapi siapa yang tahu?
Manusia adalah makhluk yang memulai perang, kemudian membawa diri ke neraka dunia yang disebut sebagai medan perang, berperang untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan, lalu mengakhiri perang. Urutan tersebut seperti lingkaran setan yang tidak akan terputus sebelum ‘orang yang diramalkan’ turun ke dunia dan membawa kemenangan bagi pihak yang diperangi. Namun, turunnya ‘orang yang diramalkan’ mungkin tidak akan menghentikan perang begitu saja. Karena setelah perang, pasti akan ada sekelompok orang yang tidak puas dengan hasil perang dan mencoba memulai perang kembali.
Bahkan, jika dewa telah menunjukkan kebenaran bahwa mereka adalah keberadaan yang nyata dengan cara mengijinkan Aliansi untuk memanggil pahlawan dari dunia yang sama dengan Nio, manusia adalah makhluk yang menginginkan hal yang jauh lebih besar jika hasrat tertentu mereka belum terpenuhi dengan sempurna. Terkadang, mereka akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan hal tertentu, termasuk dengan berperang.
Membunuh, menghancurkan, merenggut kehormatan, menjarah, dan hal keji yang sering terjadi di medan perang lainnya adalah hal yang dilarang oleh Dewa Perang, sosok yang dipuja oleh orang-orang yang bekerja sebagai prajurit atau ksatria. Namun, ketika manusia merasa diri mereka telah mendapatkan apa yang diinginkan, tiba-tiba mereka melupakan sosok yang telah membantu mereka mendapatkan keinginan tersebut. Dan itulah hal yang membuat Dewa Perang murka – dan meminta saran kepada dewa-dewi serta Sang Pencipta untuk membalas perbuatan para manusia yang sepertinya menyukai kerusakan.
Salah satu sosok terkuat di jajaran para dewa dan dewi, Dewa Perang, dia adalah sosok yang digambarkan sebagai pembawa kehancuran bagi pasukan yang kalah dan kemuliaan yang menang. Namun, konsep seperti itu ditemukan oleh sekelompok manusia yang menganggap kemenangan di atas segalanya, dan mempengaruhi kelompok-kelompok manusia lainnya jika perintah pihak yang menang adalah mutlak. Menurut mereka, pihak yang menang bebas memperlakukan pihak yang kalah sesuka hati meski itu adalah perlakukan tidak wajar.
Dewa Perang meminta pada Sang Pencipta untuk menghentikan tindakan golongan manusia yang memuja kemenangan, dan dia menyarankan untuk menghancurkan mereka. Namun, sosok yang menciptakan para dewa dan dewi, Sang Pencipta, memerintahkan Dewa Perang untuk menurunkan sebuah ramalan.
Salah satu dewa terkuat tersebut menurunkan ramalan bersamaan dengan terciptanya Bencana Terburuk. Ramalan itu berisi jika pada ribuan tahun ke depan akan turun seorang pahlawan yang memikul beban berat, yakni untuk memerangi satu golongan yang akan melakukan berbagai cara untuk mencapai kemenangan. Orang yang diramalkan tersebut akan dibantu oleh sosok terkuat yang diciptakan para dewa, yakni Bencana Terburuk dan sosok tersebut akan bangkit kembali untuk membantu perjuangan 'orang yang diramalkan'.
Ramalan yang diturunkan ribuan tahun silam masih berlaku hingga Nio menginjakkan kaki di dunia lain. Setelah perwira muda tersebut berhasil bertahan hidup di pertempuran dimana kualitas senjata dan prajurit mengalahkan jumlah besar prajurit dan senjata, pada akhirnya seluruh dewa mengakui dan mengangkat Nio sebagai ‘orang yang diramalkan’ dengan bukit turunnya Utusan untuk membantu dan mendampingi pria itu selama perjuangannya.
Meski Dewa Perang seakan-akan berat sebelah dalam mengatur seluruh peperangan yang terjadi, namun dia tetap berbuat seadil mungkin dan hanya melaksanakan tugas yang diberikan Sang Pencipta padanya. Sang Pencipta adalah sosok yang paling adil dalam membantu manusia.
Setelah tetesan darah yang menciptakan riak di genangan darah serta suara ledakan yang perlahan berhenti, Nio merasa kulitnya terbakar seperti disiram air mendidih. Dia berteriak sekuat tenaga hingga merasa tenggorokkannya mau pecah, memberontak untuk menghilangkan rasa sakit yang membakar tersebut, dan merasa dagingnya mengelupas sedikit demi sedikit.
“Para dewa dan dewi sekalian, kita telah melihat manusia yang kita lindungi secara adil hampir terbelah menjadi dua golongan. Saya takut bahwa situasi sekarang sedang genting-gentingnya.”
Sayangnya, Nio tidak dapat melihat sosok yang berbicara itu, meski pakaiannya terlihat berkilauan dan sangat indah, namun wajahnya sama sekali tidak terlihat layaknya tersangka kriminal yang bagian wajahnya terkena sensor.
Beberapa dewa bertugas menyeimbangkan dunia, dengan perang salah satunya. Namun, perang untuk menentukan apa golongan terbaik bukanlah perang yang baik. Beberapa dewa membimbing manusia menghindari kehancuran, namun beberapa kelompok manusia justru bernafsu untuk membawa kehancuran. Sayangnya, para dewa dan dewi tidak akan bekerja kecuali mendapatkan perintah dari Sang Pencipta. Mereka adalah makhluk yang abadi dan mendapatkan anugerah dari Sang Pencipta untuk bersama mengatur dunia. Mereka bebas memilih manusia untuk menjadi Utusan atau Rasul yang diturunkan ke dunia dan akan menjadi pembimbing umat manusia. Namun, terakhir kali mereka menurunkan Rasul dan Utusan adalah seribu tahun setelah penyegelan Bencana Terburuk, dan mulai berhenti menurunkan Rasul karena banyak kelompok manusia yang membunuh mereka.
Sedangkan untuk para Utusan, mereka bertugas mendampingi manusia yang ditunjuk secara langsung oleh dewa dan dewi untuk membawa perubahan pada dunia. Sayangnya, kebanyakan dari mereka tidak menghormati para Utusan, dan mengambil kesempatan untuk memanfaatkan kekuatan besar para Utusan sebagai senjata.
__ADS_1
Sayangnya, Nio tidak tahu apa yang dibicarakan sosok-sosok misterius tersebut, dan hanya diam mematung tanpa tahu apa yang akan terjadi. Dia merasa jika pembicaraan mulai mengarah pada hal agama dan keyakinan – yang dilarang dilibatkan dalam dan untuk perang. Tetapi, dia pernah mendengar adanya perang untuk memperluas ideologi suatu negara ke negara yang lain, dengan memilih jalur pertumpahan darah.
Ya, sebagai dewa mereka mendapatkan anugerah untuk berbicara pada manusia pilihan mereka. Tapi, sejak mereka diciptakan, para manusia memperlihatkan sifat asli mereka. Hal itu membuat para dewa dan dewi merasa tidak dapat menemukan manusia yang benar-benar memenuhi syarat yang mereka berlakukan.
Terkadang, manusia juga akan berdoa kepada mereka.
“Apa mereka benar-benar percaya dengan keberadaan kita?” ucap salah satu sosok dengan suara perempuan yang lembut. Namun, Nio hanya bisa mendengar tanpa dapat menanggapi pertanyaan itu karena merasa mulutnya telah terpisah dari tubuhnya.
“Hanya manusia yang berasal dari dunia pemuda ini yang mempercayai keberadaan Tuhan,” ucap salah satu sosok dengan suara laki-laki yang tegas.
Tidak hanya itu, beberapa manusia juga akan berdoa kepada keberadaan yang mereka yakini sebagai ‘Tuhan’ tentang harapan, keinginan, dan lain-lain. Tetapi, mereka melihat suatu golongan manusia yang memanfaatkan kekuatan para pahlawan, dan justru menganggap jika pahlawan tersebut dewa yang sebenarnya. Karena pernah ada suatu masa di mana manusia menyembah sesuatu yang dipercaya memiliki kekuatan seperti pohon, batu, bahkan sesama manusia.
Di masa lalu, sebelum para Utusan mengajari manusia salah satu sihir terkuat atas ijin dewa, para dewa turun tangan dan melindungi manusia dari malapetaka yang mustahil mereka hindari dengan hanya mengandalkan kemampuan mereka sendiri. Namun, Gerbang seakan-akan telah menjadi kesalahan terbesar para dewa, dan salah satu golongan manusia memanfaatkan sihir tersebut untuk berperang dengan golongan yang lebih kuat. Parahnya, mereka melupakan para dewa dan dewi yang pernah mereka puja, dan beralih bersekutu bersama setan dan pahlawan.
Untuk menebus kesalahan mereka, para dewa memohon pada Sang Pencipta untuk turun ke dunia, dan menghapus beberapa sihir yang berpotensi membawa dunia kepada kehancuran. Namun, keberadaan tertinggi daripada para dewa dan dewi tersebut menolak permintaan mereka, dan akan mendapatkan kesempatan untuk turun ke dunia jika waktunya telah tepat, yakni munculnya ‘orang yang diramalkan’.
Sang Pencipta memerintahkan seluruh dewa dan dewi untuk menghormati seorang manusia muda yang akan membantu golongan yang diperangi golongan lain. Semua dewa dan dewi setuju, sehingga membawa jiwa Nio yang berada di alam mimpi ke alam mereka dan memperlihatkan pada pemuda itu tempat yang akan dihuni pemuda itu sebagai bayaran telah mambantu salah satu golongan menghadapi golongan yang memerangi mereka, yakni surga para pejuang.
“Apa itu? Sepertinya perjalananku dimasa depan akan sangat sulit,” gumam Nio.
Para dewa dan dewi termenung setelah mendengar ucapan Nio, tetapi mereka hanya bisa mengembalikan potongan daging yang sempat terpisah, memberi pria itu sedikit kekuatan, dan menjadi sosok manusia seperti sebelumnya dengan sedikit perubahan. Kekuatan kecil yang mereka berikan pada Nio hanyalah hadiah kecil bagi manusia ‘dunia lain’ yang akan berjuang untuk para dewa dan dewi. Meski mereka memiliki kekuatan untuk mengatur dunia, mereka tetaplah makhluk Sang Pencipta yang memiliki kelemahan.
Para dewa dan dewi adalah makhluk yang mendapatkan beberapa unsur manusia. Mereka memiliki nafsu, mereka takut terhadap sesuatu, dan mereka memiliki perasaan layaknya manusia pada umumnya.
“Waktunya tinggal sedikit lagi, dan aku akan tetap menunggu mu, sayangku,” Nio merasa kedua pipinya disentuh dengan lembut oleh dua telapak tangan yang begitu halus, lalu sebuah kecupan mendarat di dahinya. Suara sosok yang mengatakan hal itu memiliki suara perempuan yang begitu dewasa dan menggoda, namun Nio hanya dapat melihat tubuh sosok tersebut tanpa dapat melihat wajahnya.
“Kau mendapatkan ‘Karya Tuhan’, dan kekuatan yang menandingi para pahlawan yang musuh-musuhmu miliki, sayangku.”
Lalu ledakkan yang jauh lebih besar terdengar, dan Nio merasa dirinya terkena dampak ledakan. Namun, tetap saja dia tidak dapat merasakan apapun.
Karena dia telah kembali dari suatu tempat yang begitu mulia bagi orang-orang Dunia Baru.
Dunia di mana para dewa dan dewi melaksanakan tugas mereka sebagai makhluk ciptaan Sang Pencipta untuk memerintah dunia.
Rasa sakit yang begitu menyiksa tiba-tiba menghilang, dan penglihatan Nio yang sebelumnya buram kini dapat melihat dengan jelas.
Seorang gadis dengan wajah seperti perempuan Asia Timur, dan terlihat lebih tua darinya berada pada jarak begitu dekat dari wajahnya. Nio bahkan dapat merasakan napas gadis itu, dan perlahan matanya melotot dengan lebar.
“Tidurmu sangat nyenyak, ya?” tanya Sakuya setelah menjauhkan wajahnya dari wajah pria itu.
Jadi itu hanya mimpi? Nio bertanya pada dirinya sendir di dalam hati. Kedua matanya kemudian beralih dan menatap ke segala arah untuk meverifikasi posisinya saat ini.
Begitu dia menyadari sesuatu, Nio teringat dengan tugasnya yang menjaga kelima gadis tersebut dengan cara memantau sekitar dari atas pohon. Namun, hingga hari telah berganti, Nio melalaikan tugasnya dan tertidur dan mengalami mimpi yang begitu nyata.
“Aku menyukaimu.”
“Oh, pasti aku masih bermimpi.”
Dia baru bertemu Sakuya beberapa saat lalu, dan merasa dirinya masih bermimpi setelah mendengar ucapan dari gadis tersebut. Setelah mengalami mimpi yang tak masuk akal, Nio percaya jika dirinya beralih ke adegan selanjutnya dalam mimpinya, yaitu Sakuya yang mengatakan menyukai dirinya.
Nio seharusnya merasa senang dengan kejadian itu, namun rasa sakit yang dia alami di ‘mimpinya’ begitu nyata, serta masih dapat dia rasakan saat terbangun. Meskipun itu hanyalah kata-kata dari Pahlawan Empati, namun wajah yang ditunjukkan Sakuya memperlihatkan jika dia serius mengatakan hal itu.
Tiba-tiba saja, tiada angin tiada hujan, Sakuya berkata, “ Aku merasakan kau memiliki kekuatan yang sama dengan para pahlawan” dengan wajah serius.
“Kau pasti sudah gila, aku ini prajurit TNI yang akan tetap setia pada negaraku. Mana mungkin aku menjadi pahlawan seperti mu!”
**
__ADS_1
(ilustrasi Nanaharu Sakuya, sumber gambar pinterest)