Prajurit SMA

Prajurit SMA
49. Mantan


__ADS_3

11 Juni 2321, pukul 09.07 WIB.


**


Rencana yang Nio buat benar-benar digunakan dalam pelaksanaan operasi perebutan wilayah kecamatan Mojogedang. Dia sendiri juga tidak menyangka tentang hal ini sebelumnya, dan menatap tim 1 yang berangkat hari ini keluar dari kota bawah tanah dengan menaiki 2 unit truk pengangkut dengan ekspresi kagum.


Prajurit yang berangkat hari ini berwajah semangat karena mendapatkan persenjataan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Hal itu tentu saja membuat para prajurit merasa percaya diri, tidak lupa mereka juga sangat yakin mengenai strategi yang dibuat Nio akan sangat bekerja di pertempuran mendatang.


Seluruh anggota unit yang ada di kota bawah tanah juga ikut melepas keberangkatan tim 1 dengan penuh harapan. Meski bukan pertempuran terakhir, namun suasananya memang seperti itu.


Tak terkecuali bagi Surya. Dia mengatakan pada dirinya sendiri jika merasa malu kepada Nio. Dia merasa jika terlalu banyak diam dan tak melakukan banyak hal yang menguntungkan bagi pasukan.


Surya merasa kecewa saat tidak memilih untuk bergabung dengan Pasukan Pelajar Khusus. Namun sudah terlambat bagi Surya, dia harus menunggu hingga tahun depan jika ingin mengikuti pelatihan PPK.


Ada hal lain yang membuat Surya ingin memanfaatkan rasa percayanya pada Nio.


Di dalam hati dia berkata sambil tersenyum sendiri, “Sepertinya Nike memang tidak salah memilih cowok yang disukainya.”


**


Tim 1 dikomandani oleh Surya dengan wakil komandan Sima, jumlah pasukan sebanyak 4 Regu. Sementara Tim 2 yang akan berangkat besok akan dikomandani oleh Herlina dengan wakil komandan Nio.


Wakil komandan biasanya akan ditunjuk langsung oleh komandan yang tertunjuk, dan itu yang terjadi pada Nio. Herlina merasa percaya terhadap Nio dibandingkan prajurit lainnya di Kompi 406. Syarat mendasar bagi seorang prajurit yang mendapatkan posisi ini adalah dibutuhkan pangkat dan pengalaman yang sesuai.


Tim 1 berangkat dengan membawa 2 truk pengangkut, 2 kendaraan taktis dan 1kendaraan angkut personil lapis baja. Kedua kendaraan tersebut dipersenjatai dengan senapan mesin ringan dan berat terbaru.


Mengenai persenjataan, pada jenis kendaraan tempur memang tidak banyak pembaharuan. Kecuali pada hal kualitas perlindungan personil, saat ini sudah memakai armor pelindung yang lebih kuat dari baja.


Pada jenis kendaraan tempur lain, semacam helikopter tempur dan jenis kendaraan tank banyak dilakukan pengembangan.


Prajurit yang tergabung dalam tim 2 yang masih berada di kota bawah tanah masih melakukan seluruh persiapan yang diperlukan.


Sementara Nio terlihat masih berjalan tak tentu arah, dia tidak kembali ke asrama untuk melakukan persiapan. Dia terlihat seperti memiliki persoalaan yang belum ada jawabannya, atau terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


Dia terus berjalan, bahkan tidak sadar jika beberapa prajurit memberinya hormat dan memanggilnya.


“Kenapa Peltu Nio?”


“Entahlah, sepertinya dia sedang berpikir serius.”


“Bukannya itu bagus, dia memikirkan strategi hingga sangat matang. Bahkan memikirkannya sambil berjalan.”


Nio tidak mendengarkan perkataan bawahannya itu, hingga dia tak sadar sudah berada di depan Unit Kesehatan Prajurit.


Dina yang melihat Nio langsung memanggilnya dan langsung menyadarkan Nio dari beberapa pikiran yang membuatnya kebingungan.


“Ada apa?” tanya Nio sambil mendekat ke fasilitas kesehatan prajurit itu.


“Ada hal yang ingin ku bicarakan,” balas Dina sambil menyuruh Nio untuk dengannya.


Bangunan ini memang muat bagi puluhan orang dengan 5 kamar rawat. Seluruh tenaga medis disini juga memiliki sertifikat perawat atau murid SMK jurusan keperawatan dan semacam itu. Prajurit medis diharuskan memiliki setidaknya merawat luka berat dan melakukan operasi kecil, semacam mengangkat peluru yang mengenai tubuh prajurit.


Karena seluruh perempuan muda yang deselamatkan sewaktu pelaksaan misi beberapa hari yang lalu, itu membuat tenaga medis di kota bawah tanah tidak lagi menganggur.


Ada banyak orang yang memerlukan perawatan, baik fisik maupun mental. Namun untuk merawat mental, tenaga medis hanya memiliki ilmu dasarnya saja.


Itu sebabnya menyembuhkan luka mental bagi korban pelecehan yang diselamatkan akan memakan waktu yang belum diketahui lamanya.


Bahkan jika orang itu telah sembuh dari traumanya, bisa saja dia akan mengingatnya kembali dan kembali memilki tekanan mental.


Korban pelecehan dirawat di ruangan tersendiri dan terpisah dari perempuan muda lainnya.


Nio dan Dina tiba di suatu ruangan yang terdapat beberapa perempuan muda yang diselamatkan. Mereka bukan korban pelecehan, namun trauma yang mereka alami juga sama seperti korban pelecehan.


Pelecehan yang perempuan muda alami tidak berbeda dengan pemerkosaan beramai-ramai.

__ADS_1


Terlihat 6 orang perempuan muda sedang duduk di tepi ranjang dan saling mengobrol satu sama lain seperti biasanya. Mereka berbicara dengan santai, seperti sedang mengobrol dengan teman dekat. Tapi bisa saja mereka tidak saling kenal, namun tetap membutuhkan seseorang untuk diajak berbicara.


“Mereka baik-baik saja,” ucap Nio dengan wajah tenang.


“Ya, dari luar mereka memang baik-baik saja. Tapi apa kau memikirkan apa yang sudah mereka lalui sebelum kalian selamatkan?” balas Dina yang membuat Nio terdiam seketika.


“Karena mereka akan dijadikan budak seks musuh?”


“Ya, itu benar. Tapi bukan hanya itu yang membuat mereka trauma dan mentalnya terganggu.”


“Aku hanya tahu jika yang mereka hadapi akan membuat trauma. Tapi selain itu aku tidak tahu apa-apa.”


Nio melihat Dina seperti ada pertanyaan yang tidak disebutkan dan harus ia jawab.


“Pembalasan,” ucap Dina yang membuat Nio berhenti untuk berpikir.


“Apa mereka sampai memikirkan hal itu?” tanya Nio dengan wajah yang terlihat terkejut.


“Ya, mereka pasti tidak akan rela jika masih ada musuh yang tersisa. Mereka akan berpikir akan ada korban lain yang akan bernasib sama dengan mereka jika musuh terus ada.”


Nio diam sejenak untuk mencari makna dari perkataan Dina itu. Dia memikirkan sambil melihat para perempuan muda yang sedang tertawa dari balik kaca pintu.


“Apa balas dendam jalan terbaik?” tanya Nio.


Sambil tersenyum Dina menjawab, “Balas dendam adalah sifat naluriah manusia.”


“Tapi, bagi beberapa orang balas dendam bukan jalan terbaik.”


“Mungkin ada benarnya juga. Tapi sebagian orang dapat bertahan hidup setelah memenuhi hasrat balas dendamnya itu.”


Nio seketika termenung setelah mendapatkan jawaban dari Dina. Dia tidak menyangka jika balas dendam memilki makna yang cukup dalam.


Dina kemudian melanjutkan pembicaraan bersama Nio.


Di bangku yang diletakkan di lorong ruang perawatan, mereka berdua hanya mengobrol mengenai operasi masal yang dilakukan TNI untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai musuh sejak dimulainya perang.


Hari ini memang jadwal para perempuan muda untuk melakukan perawatan rutin sejak mereka dibawa ke kota bawah tanah.


Prajurit medis perempuan itu memberi hormat kepada Nio, dan Nio membalasnya. Kemudian, dia kembali memimpin barisan perempuan muda itu ke ruangan untuk melakukan perawatan rutin.


“Nio, kau Nio kan…!?” tanya salah satu perempuan muda dengan sangat antusias.


Nio langsung mengenali perempuan muda itu.


“Indah?” jawab Nio dengan ekspresi tidak percaya.


**


Selesai melakukan perawatan rutin, Nio dan Indah duduk di bangku yang diletakkan di lorong ruang perawatan.


“Aku tak menyangka kalau kau bergabung dengan TNI. Jadi kamu yang menyelamatkan kami?” ucap Indah dengan wajah bahagia.


“Bukan aku, tapi rekan-rekanku yang menyelamatkan kalian. Aku hanya memerintah saja,” jawab Nio.


“Memerintah? Apa kau sekarang seorang perwira?”


Sambil sedikit tertawa Nio menjawab pertanyaan Indah, “Bukan, aku masihlah Bintara Tinggi. Tapi aku akan berusaha untuk menjadi Perwira Pertama dulu.”


Mata Indah terlihat menunjukkan tatapan kagum, namun sesaat kemudian dia menunduk seperti merasakan sesuatu.


Nio juga terlihat seperti itu, seperti merasakan sesuatu saat sudah bertemu dengan Indah lagi.


Indah adalah teman sewaktu SMA Nio. Itu artinya Jo dan Rio juga mengenali Indah.


Namun mereka bedua tergabung kedalam tim 1 dan sudah berangkat terlebih dahulu, sehingga tak dapat bertemu teman mereka yang satu ini.

__ADS_1


Indah melihat Nio yang penuh dengan perubahan, mulai dari penampilan hingga ‘auranya’. Intinya, Indah merasa jika Nio saat ini sudah sangat berubah dibandingkan saat sekolah dulu.


Beberapa saat kemudian, Herlina datang bersama Arunika.


“Pacarmu ya…?” tanya Herlina dengan tatapan sedikit kesal.


“Indah, kau Indah kan?” ucap Arunika dengan perasaan senang.


“Iya, Bu Arunika,” jawab Indah.


Indah adalah salah satu murid kebanggan Arunika karena kepandaiannya dalam pelajaran matematika. Sangat berbanding terbalik dengan Nio yang tidak mau mempelajari mata pelajaran yang satu itu.


“Hei, pertanyaanku yang tadi kapan akan kau jawab?” tanya Herlina yang membuat Nio semakin tertekan.


Dengan menahan kegugupannya Nio menjawab, “Bu-bukan….”


Arunika hanya membiarkan adiknya itu terus tertekan oleh Herlina.


Herlina kembali bertanya sambil melipat kedua tangannya didepan dada, “Lalu…?”


Nio mengumpulkan keberanian untuk menjawabnya, dia sesekali melirik Indah yang juga terlihat tidak tenang. Nio dan Indah seperti memiliki rahasia yang bahkan Arunika sendiri tidak mengetahuinya.


“Mantan-…,” ucapan Nio terhenti saat Herlina berada sangat dekat didepannya.


“Hah…!” teriak Arunika dan Herlina bersamaan yang mengejutkan seluruh orang ditempat ini.


“Tunggu dulu, aku belum menyelesaikan perkataanku tahu! Indah itu mantan gebetanku…,” jawab Nio dengan mengeluarkan seluruh keberanian yang terkumpul.


**


Saat sekolah, Nio memang sempat menyukai Indah. Selain memang terlihat cantik, Nio juga sering diperitahkan untuk mengajari Indah pelajaran diluar matematika.


Indah memang tidak terlalu menguasai beberapa mata pelajaran, sejarah misalnya. Nio sering mengajari Indah mengenai pelajaran yang sangat dia kuasai itu.


Sebenarnya Nio sudah memendam perasaan itu sejak kelas 11 SMA, namun ada banyak hal terjadi hingga membuatnya tidak dapat mengungkapkan perasaan. Seperti kejadian yang membuat Nio memiliki bekas luka yang parah di wajahnya. Bekas luka itu masih ada hingga sekarang.


Nio sendiri jarang berkomunikasi dengan Indah karena dia tidak memiliki smartphone. Dia baru mendapatkan perangkat itu saat memasuki kelas 12 SMA.


Namun Nio sedikit terlambat, meski dia hanya berselang beberapa hari setelah Indah memiliki kekasih.


Nio melihat Indah sangat senang saat pulang bersama dengan seorang murid laki-laki kelas sebelah.


Nio sendiri juga tidak mengetahui jika Indah memiliki perasaan yang sama dengannya.


Lalu sepulang sekolah, Indah mencegat Nio di jalan yang sering ia lalui untuk berangkat dan pulang sekolah.


“Ada apa, bukannya pr sejarah sudah kuberitahu halaman yang ada jawabannya?” tanya Nio yang mencoba tidak ada sesuatu yang terjadi hari ini.


“Kenapa kau begitu terlambat? Kenapa kau begitu pengecut?”


“Jadi perasaan kita sama ya? Kalau begitu, yang kau katakan itu tidak salah.”


“Hah!? Apa kau tidak akan melakukan sesuatu?”


“Untuk apa? Bukannya kau sudah bahagia sekarang. Jika kau merasakan hal itu, aku sudah merasa seperti memiliki mu.”


**


Kembali ke peristiwa sebelumnya….


Akibat dari perkataan Nio, suasana sekarang menjadi sangat canggung. Hanya ada dua orang yang masih terlihat terkejut, yakni Herlina dan Arunika.


Nio dan Indah sekarang sudah saling memunggungi dan tidak berani untuk saling tatap lagi.


“Syukurlah kalau dia Cuma mantan gebetan…,” ucap Herlina dengan wajah yang benar-benar menunjukkan perasaan lega.

__ADS_1


Nio hanya menatap Herlina dengan wajah yang terkejut dan kebingungan, begitu juga dengan Indah.


Arunika yang juga terkejut berkata, “Jangan-jangan kau juga-....”


__ADS_2