
Beberapa keluarga bangsawan daerah, pemerintahan, maupun bangsawan fraksi perdamaian Kekaisaran Luan akhirnya mendapatkan perlindungan di daratan melayang, tempat Istana Awan berdiri. Seluruh tamu undangan perwakilan kontingen Korea Utara dan Rusia telah dalam kondisi siaga, dan menyiapkan diri dan senjata jika musuh berhasil mencapai daratan melayang ini. Mereka telah diperintahkan oleh markas pusat untuk menjaga Presiden Suroso, dengan bantuan Paspampres dan pasukan Arevelk di tempat kejadian.
Arunika akhirnya bernapas lega setelah mengikuti prosedur evakuasi yang menegangkan, meski tidak lebih menegangkan daripada proses evakuasi ketika bangsa dunia lain memasuki wilayah Kota Karanganyar dan menguasai beberapa wilayah. Dia membayangkan jika musuh yang menyerang secara tiba-tiba malam ini sama dengan musuh yang berperang dengan Indonesia sebelum konflik dengan Aliansi dimulai. Setelah berada di halaman Istana Awan, Arunika dan lainnya hanya dapat menunggu di sini hingga tim Nio dapat menangani musuh yang mengganggu pesta tanpa permisi.
Arunika bersama Lisa dan Nike hanyalah tamu undangan biasa yang telah dijamin keamanannya oleh tuan rumah, dan adanya kontingen Rusia dan Korea Utara di sini menambah tingkat keamanan. Namun, tetap saja keberadaan musuh membuat mereka resah, dan apa yang terjadi selanjutnya tergantung pada tim pimpinan Nio dan Pasukan Arevelk di ibukota.
Lisa terlihat lebih tidak nyaman dengan situasi ini dibanding Arunika yang sedikit lebih tenang darinya. Ekspresi resah di wajahnya sangat jelas, dan dia sendiri tidak memiliki cara untuk mengatasi perasaan tersebut. Dia hanya mengkhawatirkan Nio dan timnya yang sedang menghadapi musuh yang selalu mengandalkan jumlah besar dalam menyerang. Meski wajahnya terlihat berbeda ketika gugup atau resah, beberapa pria bangsawan malah meliriknya seakan-akan kecantikan Lisa tidak menghilang.
Nike sesekali membenarkan posisi kacamatanya yang membuatnya tidak nyaman, kemudian kembali mondar-mandir dengan perasaan tidak tenang, dia melakukan hal yang sama sejak tiba di tempat ini. Lisa dan Arunika yang sama-sama tidak tenang dengan situasi ini mencoba menenangkannya. Tetapi, hal itu tidak membantu, dan perasaan resah dan tidak tenangnya ternyata menular ke Arunika dan Lisa.
Suroso telah terlihat lebih tenang setelah dievakuasi di pusat pemerintahan dan tempat tinggal pemimpin Kerajaan Arevelk. Dia dikelilingi puluhan personel Paspampres-nya, dan semua telah siap mengorbankan diri jika musuh menyerang tempat ini. Karena prosedur evakuasi terjadi dengan mendadak, dan kabar jika musuh menyusup didapatkan ketika musuh sudah berada di dalam wilayah Kota Iztok. Tetapi, reaksi kapten Tim Ke-12 yang memberitahunya adanya musuh dan meminta seluruh personel kontingen Rusia dan Korea Utara di kota ini untuk mengevakuasi seluruh kepala keluarga bangsawan dan tamu undangan lainnya meninggalkan kesan ‘khusus’ di hatinya.
Personel Paspampres-nya selalu mengikuti kemanapun Suroso berjalan, karena mereka tahu harus mengikuti dan melindungi Suroso apapun yang terjadi. Sebagai pengawal Suroso, mereka terlihat seperti tameng hidup untuk orang yang mereka lindungi. Mereka dilengkapi dengan senjata berupa sebuah pistol, dan dilatih dengan keras salah satu aliran beladiri di Indonesia.
Selain itu, Suroso percaya pada pemimpin negara sekutu Indonesia di dunia lain. Dia tidak berpikir jika Sigiz dan Sheyn merencanakan hal yang membuat seluruh orang resah dan panik ini.
Bahkan jika mereka berdua berpikir akan melakukan hal yang dipikirkan Suroso, tentu saja mereka menganggap jika hal itu sangat bodoh dan sia-sia. Kedua ratu tersebut telah melihat sendiri kekuatan dan daya tempur pasukan ‘dunia lain’, karena itu tentu saja mereka tidak memiliki rencana untuk membahayakan Suroso atau mereka akan kehilangan banyak prajurit – sama seperti yang diderita Aliansi.
Tetapi, Sigiz masih berpikir jika musuh yang berhasil memasuki Kota Iztok adalah salahnya. Dia tidak memobilisasi pasukan dengan benar, sehingga penjagaan menjadi sangat renggang di wilayah utara kota. Dia berjalan di lorong istana sendirian dengan wajah resah dan kecewa yang menjadi satu, tentu saja dia kecewa terhadap dirinya sendiri. Nio yang sedang berjuang menangani musuh adalah salah satu penyebab perasaan resah pada hatinya.
Dia akhirnya berhenti di depan pintu ruang senjata miliknya, mengambil tombak kesayangannya, kemudian keluar lagi dari ruangan yang berfungsi sebagai ruang ganti dan penyimpanan zirah dan senjata milik Sigiz. Namun, dia tidak mengganti gaunnya ke zirah logam miliknya. Dia tetap mengenakan gaun pesta berwarna putih sambil menenteng rombak sepanjang empat meter, dan berjalan menuju luar istana.
Dengan tombak miliknya, Sigiz akan bertanggung jawab dengan caranya setelah melibatkan Suroso dan kontingen ‘dunia lain’ pada masalah ini. Disisi lain, dia tidak menyangka adanya serangan mendadak dari musuh, sehingga menurutnya akan aman-aman saja jika mengundang Suroso, Arunika, Lisa, dan Nike di pesta penutupan upacara Pergantian Tahun.
Para pelayan dan penjaga istana tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran mereka. Mereka tetap bertugas memberi minuman atau makanan bagi seluruh orang yang dievakuasi ke Istana Awan ini, dan bagi prajurit berjaga di beberapa titik di daratan melayang ini. Puluhan prajurit penunggang kadal terbang berlalu-lalang beberapa kali untuk memastikan tidak ada musuh di seluruh penjuru daratan melayang.
Seorang prajurit yang bertugas menjaga kandang naga angin milik Sigiz heran dengan ratunya yang berjalan ke tempat ini sambil menenteng tombaknya – dan mengenakan gaun pesta bukannya pakaian tempur yang biasa gadis itu pakai ketika bertempur. Kemudian dia memerintahkan prajurit penjaga kandang naga miliknya untuk membuka pintu dan mengeluarkan naga angin miliknya.
“Yang Mulia, apa Anda berniat melawan musuh juga?”
“Itu bukan hal yang harus ditanyakan lagi.”
Prajurit penjaga kandang naga angin milik Sigiz segera mengerjakan perintah ratunya, dan membuka pintu kandang yang berukuran delapan meter. Namun, penjaga kandang tersebut dapat membuka pintu kandang sebesar itu sendirian tanpa masalah. Setelah kedua pintu kandang terbuka, terlihat seekor naga angin dengan sisik keperakan berjalan perlahan mendekati Sigiz.
Sigiz telah merawat naga angin miliknya sejak kadal terbang tersebut dilahirkan, sehingga dia tidak perlu melatih lebih keras naga angin miliknya. Naga angin tanpa nama itu terlihat sangat merindukan Sigiz, dan terakhir kali dikeluarkan dari kandang ketika penyambutan rombongan gelombang pertama Pasukan Perdamaian, alias sekitar satu setengah bulan lalu. Tak heran jika naga angin muda tersebut terlihat sangat ingin dimanja oleh pemiliknya, dan nampak sangat nyaman ketika jari tangan kanan Sigiz membelai kepalanya yang tertunduk. Sementara itu, prajurit penjaga kandang memasang pelana khusus untuk menunggangi kadal terbang di punggung naga.
Naga angin milik Sigiz bisa dibilang cukup kecil dan memiliki tinggi sembilan meter. Dimana rata-rata tinggi naga bersayap seperti naga angin memiliki tinggi dua belas meter, dengan bentang sayap lebih panjang dari tubuhnya. Setelah naga miliknya telah puas akan belaian tangannya, Sigiz menaiki punggung naga yang telah dipasangi pelana khusus.
Saat dia akan memerintahkan naganya untuk terbang, Sigiz melihat ayahnya dan Penyihir Agung berjalan ke arahnya dengan wajah penuh dengan pertanyaan.
“Bukankah lebih baik kau tetap di sini, Sigiz? Yang Mulia Suroso tidak bisa dilindungi hanya dengan pasukan kecil.” ucap Hin. Meski dia menyadari sifat Sigiz yang keras kepala, tapi menurutnya tidak ada salahnya mencoba membujuk Sigiz agar tida bergabung dalam pertempuran.
“Ratu, saya yakin jika ‘orang yang diramalkan’ tersebut mampu menghadapi musuh bersama teman-temannya,” sambung Penyihir Agung.
“Tapi, membiarkan wilayah timur kota tanpa penjagaan adalah salahku, sehingga musuh bisa memasuki kota dan memulai pertempuran. Jadi, yang melibatkan Tuan Nio dalam pertempuran ini adalah aku. Tidak ada salahnya memberinya sedikit bantuan?”
Meskipun dia tahu jika kemampuan tempur pasukan dunia lain, terutama Indonesia, khususnya tim yang dipimpin Nio, jauh berbeda dengan kekuatan tempur pasukan Arevelk yang masih mengandalkan bertarung sambil berlindung di balik perisai. Indonesia adalah sekutu paling berharga bagi Arevelk, dan Sigiz tahu jika ada sesuatu hal yang buruk menimpa anggota Tim Ke-12, maka itu masalah buruk untuk hubungan antar kedua negara. Jadi, gadis itu tidak akan berubah pikiran.
“Yah… aku sudah menduga kalau kau tetap akan bertarung bersama ‘orang yang diramalkan’,” bahkan Hin tidak bisa melakukan tindakan tambahan yang dapat mencegah anak semata wayangnya tersebut terjun ke pertarungan.
Sementara itu, Penyihir Agung tidak ingin ‘orang yang diramalkan’ tertimpa nasib buruk ketika bertarung menangani musuh. Dia merasa Hevaz dan para dewa/dewi akan sangat marah jika hal itu benar-benar terjadi, mengingat musuh masih memiliki pahlawan dan pasukan penyihir yang berkekuatan sihir melebihi senjata milik kontingen ‘dunia lain’, sementara dunia ini akan terbelah menjadi dua kelompok besar, dan salah satu kelompok dikatakan dalam ramalan memerlukan ‘pahlawan’ untuk menghadapi peristiwa besar di masa depan.
Sigiz merasa sebagai manusia biasa, Nio sudah cukup kuat, dan akan jauh lebih kuat jika pria itu memiliki energi sihir di tubuhnya – dan itulah yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya selama dia hidup. Meski begitu, dia merasa tidak bisa membiarkan Nio menyelesaikan masalah yang diakibatkan kecerobohannya.
Naga angin yang ditumpangi Sigiz lepas landas setelah puluhan kali mengepakkan sayapnya, setelah berada pada ketinggian yang pas naga itu terbang ke arah utara, tempat pertempuran terjadi.
Sheyn yang melihat Sigiz meninggalkan daratan melayang ini dengan naganya merasa kesal, dia berpikir jika setelah pertarungan berakhir yang akan mendapatkan pujian dari Nio adalah Sigiz. Jika dia memiliki naga dan memiliki kemampuan mengendalikan kadal terbang akan memudahkannya untuk menyusul Sigiz ke tempat pertempuran. Dia sama sekali tidak memiliki pengalaman semacam itu, dan hanya mahir mengendalikan kuda di medan perang. Meski Yekirnovo telah memiliki angkatan udara walau berupa negara baru, Sheyn tidak berpikir untuk mencoba mengendalikan naga atau wyvern.
Di lain tempat, Hin berjalan setelah kembali dari kandang naga angin milik Sigiz, dan menuju ke tempat Suroso berada. Suroso adalah pemimpin negara sekutu terpenting milik Arevelk, sehingga dia ingin keselamatan pria itu tidak dikawal hanya dengan puluhan pengawal saja. Wajah pria itu terlihat sangat tenang ketika ada pertarungan yang bisa saja membahayakan dirinya.
Bagaimanapun, dia pernah menjadi pemimpin negara ini – meski hanya beberapa bulan, dan hanya menggantikan Sigiz hingga gadis itu cukup umur untuk menduduki takhta Kerajaan Arevelk. Segala kekacauan ini termasuk ke dalam tanggung jawabnya, Hin merasa perlu bertanggung jawab.
“Yang Mulia Suroso, maafkan kualitas pengamanan kami yang menurun.”
__ADS_1
“Oh, Yang Mulia Hin. Kejadian ini bukan salah pengamanan kota ini yang menurun, tetapi musuh sepertinya selalu memiliki taktik yang tidak terduga. Lagipula, saya memiliki prajurit yang luar biasa di sekeliling saya.”
Hin menghela napas lega ketika Suroso tidak menuntut apapun atas peristiwa ini. Dia pernah mendengar informasi mengenai kekuatan pasukan Indonesia. Dia beruntung Sigiz berhasil menjalin hubungan dengan pemerintah Indonesia. Menurut Hin, jika Arevelk terlibat dengan perang melawan Indonesia, maka kekuatan yang luar biasa TNI akan mengalahkan kekuatan penuh mereka dalam hitungan hari.
Tidak ada yang berencana menyusul Tim Ke-12 yang sedang menangani musuh di utara Kota Iztok, kecuali tamu undangan perwakilan kontingen Rusia dan Korea Utara, dan jangan lupakan Jonathan dan Liben. Tetapi, mereka berdua sama sekali tidak memiliki senjata, dan itulah masalah terbesar yang dimiliki keduanya. Selain itu, Ivy dan Kambana tidak mengijinkan pasangan mereka bertarung tanpa senjata. Lalu, kontingen Korea Utara dan Rusia tidak membawa senjata cadangan yang dapat mereka berdua gunakan, jadi yang bisa mereka lakukan di sini adalah duduk diam dan menunggu kabar baik dengan perasaan campur aduk.
Sementara itu, salah satu personel kontingen Rusia mencoba berkomunikasi dengan markas pusat mengenai masalah yang mereka dapatkan di Kota Iztok. Saat sinyal telah terhubung ke markas pusat, dia segera mengatakan semuanya yang terjadi di kota ini. Dia juga mengatakan jika Tim Ke-12 Korps Pengintaian dan Pertempuran sedang bertempur dengan musuh yang jumlahnya belum diketahui. Namun, musuh yang selalu mengandalkan jumlah besar adalah masalah meski di kota ini terdapat helikopter serang dan meriam otomatis 20mm pada panser milik Tim Ke-12.
Lalu, pertempuran dalam kota terlalu beresiko jika bertindak tanpa ijin penguasa setempat, selain itu evakuasi warga sipil adalah hal yang penting. Setelah mendapatkan ijin memberikan bantuan bagi Tim Ke-12, dua helikopter serang segera lepas landas dan membawa masing-masing personel. Sisanya tetap berada di Istana Awan untuk menjaga kepala keluarga bangsawan dan tamu-tamu dari ‘dunia lain’.
**
Saat terbang di atas bangunan yang menjadi tempat diadakan pesta, terlihat ribuan prajurit Arevelk memblokir seluruh jalan menuju tempat itu, dengan prajurit elit Arevelk sebagai pejuang garis depan. Selain itu, ribuan warga berkumpul di sekitar bangunan lokasi pesta dengan perlindungan ribuan prajurit tersebut. Hal itu tentu saja mengejutkan keluarga bangsawan yang masih mengadakan pesta. Tetapi, adanya ribuan prajurit di sini menurut mereka sebagai bentuk pengamanan tambahan, sehingga mereka memutuskan melanjutkan pesta tanpa tahu dengan apa yang sedang terjadi di luar sana.
Melihat lokasi pesta dilindungi oleh ribuan prajurit, warga yang mendengar adanya serangan musuh segera berlindung ke tempat itu. Seluruh prajurit memerintahkan warga yang ingin berlindung untuk segera ke lokasi pesta atau ke tempat yang aman. Karena penduduk kota ini tidak hanya manusia biasa saja, terdapat pula ras Demihuman atau manusia setengah monster lainnya. Beberapa pria manusia dan Demihuman memegang kapak atau senjata tajam yang ada di rumah sebagai pertahanan diri. Bagaimanapun mereka adalah warga sipil, yang berhak mendapatkan hak dilindungi, tetapi jika keadaan sudah mendesak setidaknya mereka dapat mempertahankan diri dengan senjata yang dibawa oleh beberapa pria.
Kebanyakan warga yang berlindung adalah perempuan dan anak-anak, sementara para pria menjadi pagar terakhir jika pasukan kerajaan tidak dapat menahan serangan musuh dengan maksimal. Para perempuan dan anak-anak menangis tersedu-sedu, beberapa kelompok masyarakat berlutut di jalan untuk berdoa agar menyelamatkan para pejuang yang sedang bertarung dengan musuh dan melindungi mereka.
Suara bayi dan anak-anak yang menangis yang mengganggu telinga terdengar di penjuru tempat perlindungan warga Kota Iztok, serta suara beberapa orang yang berdoa agar musuh segera dikalahkan dan pejuang mendapatkan kemenangan. Mereka telah memenuhi jalan dan halaman bangunan lokasi pesta sejak kabar penyerangan musuh tersebar, dan kini mereka terlihat seperti kerumunan demonstran dengan berbagai keluhan dan kritik terhadap pemerintah.
Sekarang, seluruh jalur masuk menuju dan keluar Kota Iztok diblokade, dan menutup semua jalur mundur musuh. Para prajurit telah bersedia untuk menjadi tembok perlindungan bagi warga yang membutuhkan perlindungan mereka, sehingga mereka melakukan tugas dengan sepenuh hati. Tetapi, TNI lebih sopan daripada kebanyakan pasukan di dunia ini.
Setelah melihat pemandangan yang sama menyedihkannya dengan para pengungsi akibar perang di dunia asal mereka, komandan masing-masing helikopter meminta penerbang mereka untuk melanjutkan penerbangan. Kedua helikopter serang segera melanjutkan penerbangan ke titik pertempuran berlangsung dengan kecepatan penuh. Menggunakan perangkat inframerah, penerbang bisa dengan mudah menemukan lokasi Tim Ke-12 berada.
**
Nio berusaha melepaskan diri dari Zefanya yang sudah menggila, dia mendorong beberapa kali bahu gadis itu agar dia menyingkir darinya. Tetapi, selama beberapa detik melakukan ciuman yang dalam itu, Nio bahkan tidak sanggup membuat Zefanya tidak menyukai dirinya yang terus memberontak, justru dirinya yang memberontak membuat gadis itu semakin liar. Dia mencoba cara lain, seperti menepuk bahu Zefanya beberapa kali sebagai kode untuk segera menghentikan aksinya, namun hal itu justru membuat Zefanya memasukkan lidahnya semakin dalam.
Zefanya menarik kerah kemeja Nio semakin kuat, hingga dia dapat memasukkan lidahnya dan bermain-main dengan lidah Nio. Pemuda itu mengerang dan berusaha mengucapkan “Hentikan!”, namun bibir dan lidahnya terjebak oleh ciuman liar Zefanya. Mata Nio tetap terbuka sejak ciuman panas itu dimulai oleh Zefanya, dan melihat mata gadis itu terpejam, namun dia tidak tahu ekspresi apa yang dibuat gadis itu.
Entah puas atau merasa nikmat, perasaan itu membuat Zefanya merasa tidak ingin menghentikannya sekarang. Pikiran itu membuat bayangannya gelap… tapi dia tetap mencurahkan isi hatinya dengan memberikan ciuman pertamanya dengan Nio. Fakta bahwa dia berhasil melakukan hal yang ingin dia lakukan dengan Nio sejak pemuda itu memilihnya dalam Tim Ke-12, itu jelas membuat Zefanya merasa lega. Dia tidak terlalu pintar untuk menyusun kata-kata, sehingga memilih dengan melakukan tindakan secara langsung.
Dia tahu jika yang dilakukannya sekarang akan membuatnya mendapatkan hukuman setelah pertempuran selesai, dan Zefanya tidak peduli akan hal itu. Dia tidak ingin terlambat melakukan tindakan sebagai ganti kata-kata ini. Hingga mereka mendengar suara tembakan yang bersumber dari senapan mesin berat otomatis 12,7mm yang terpasang pada kendaraan taktis. Nio segera memegangi kepala Zefanya, dan mendorongnya ke belakang untuk menghentikan aksi gadis itu setelah dia mendengar suara tembakan beruntun pendek.
“Da, tebya lyublyu.”
Zefanya pada akhirnya jelas merasa lega setelah mengucapkan kata-kata itu. Dia yakin jika Nio tidak akan mengerti dengan apa yang dikatakannya. Dia mungkin lancar dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, tapi dia ragu apakah Nio dapat berkomunikasi dengan bahasa Rusia. Dia berjalan mendahului Nio ke arah suara tembakan, saat Nio masih berdiri mematung.
“Hah?! Ty ser’yeznyy?!”
Zefanya menghentikan langkahnya, mata birunya terbuka lebar, dan tidak bisa mengatakan apapun, pikirannya sekarang kosong setelah mengetahui Nio dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Rusia.
“Sudahlah, Letnan Nio. Ayo cepat, mereka mungkin sudah menunggu kita.”
Nio mengerutkan alisnya dengan tajam karena tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Dia menyusul Zefanya yang berlari kecil di depannya, gadis itu bahagia setelah Nio menanggapi perkataannya. Tapi dia belum merasa jika Nio benar-benar sudah menerimanya.
Dia hanya senang sudah mengatakan perasaannya pada Nio, meski pemuda itu belum tentu memiliki perasaan yang sama dengannya.
Wajah Nio terlihat pucat setelah kejadian tak terduga yang dia alami kurang dari lima menit yang lalu, dia bergerak ke tempat rekan-rekannya berada bersama Zefanya yang ada di depannya. Matanya menunjukkan ekspresi terkejut yang sama sekali tidak menunjukkan kebohongan. Dia tidak mengerti mengapa Zefanya melakukan hal itu padanya, dan secara tiba-tiba disaat mereka harus segera menyusul yang lain untuk menangani musuh yang belum meninggalkan kota ini.
Mereka berdua berada di ujung sebuah gang yang menghubungkan kepada lokasi baku tembak rekan-rekan mereka melawan musuh yang terus melawan. Di balik tembok, Nio melihat tiga orang personel musuh sedang bersembunyi di ujung gang. Dikejar oleh perasaan yang tak karuan, Zefanya berlari kecil mendahului Nio yang bersembunyi di balik tembok bangunan untuk memantau situasi. Namun, ujung sepatu Zefanya mengenai sebuah lubang kecil dan membuatnya terjatuh. Hal itu disadari oleh tiga personel musuh, dan mereka langsung mengarahkan senapan ke arah Zefanya kemudian melepaskan rentetan tembakan.
Nio langsung keluar dari perlindungannya setelah menyadari musuh mengarahkan moncong senapan ke arah Zefanya yang masih tersungkur, dan segera meraih tangan Zefanya untuk menyeretnya. Dia berhasil menyelamatkan Zefanya, dan seluruh proyektil yang ditembakkan musuh meleset. Ketika akan kembali ke tembok perlindungannya, jumlah musuh yang menyerang bertambah hingga lima orang, mereka langsung menembaki Nio. Seluruh tembakan kembali meleset, namun sebuah proyektil menyerempet bahu kirinya hingga mengeluarkan darah. Melihat Nio berhasil menyelamatkan diri, lima orang personel musuh bergerak untuk memburunya dan Zefanya.
Darah yang keluar membasahi bagian bahu kemeja putih Nio, untungnya Nio berhasil kembali ke perlindungannya. Zefanya yang melihat itu tentu saja sangat merasa bersalah, dan nampak darah terus keluar dari bahu kiri pemuda itu. Sebagian lengan kemeja telah dibasahi oleh darah, namun Nio nampak tidak bergeming sama sekali. Dia menyiapkan pistol mitraliur-nya ke mode siap tembak, dan siap menyambut musuh yang hendak memburu mereka. Zefanya mengeluarkan pistol 9mm-nya, dan siap melakukan hal yang sama.
Seorang personel musuh tiba di ujung gang – tempat Nio dan Zefanya berada. Dia langsung melepaskan tembakan hingga peluru di magasinnya tersisa hanya untuk melawan satu orang lagi. Satu orang berhasil dihabisi dengan menghabiskan setengah kapasitas peluru, dan menurut Nio itu adalah serangan paling boros yang pernah dia lakukan selama ini.
Mendengar suara tembakan yang membuat seorang rekan mereka tersungkur di tengah genangan darahnya, personel musuh yang tersisa empat orang memilih mundur dan mencari tempat perlindungan. Namun, Nio tidak membiarkan mereka melarikan diri, dia menembak lagi musuh yang berlari menjauhinya dengan bantuan Zefanya.
Nio hanya diberi dua magasin untuk pistol mitraliur-nya, sehingga dia sudah menghabiskan peluru di magasin terakhir. Melihat Nio berhenti menembak, Zefanya juga menghentikan tembakannya yang tidak ada satupun yang mengenai musuh.
Dia mengeluarkan karambit dari rompinya dan menggenggamnya dengan kuat dengan tangan kanan bionik-nya. Dia mengejar musuh yang berusaha menyelamatkan diri daripada melawan dirinya dan Zefanya, dan tatapannya seperti binatang buas yang mengejar mangsanya. Melihat perubahan sifat Nio, membuat Zefanya hanya bisa berlari di belakangnya sambil membawa senapan penembak jitu-nya di punggungnya.
__ADS_1
Tanpa mengenakan pakaian tempur lengkap membuat Nio bergerak lebih cepat, dan dapat menarik pakaian musuh terdekatnya dan menariknya hingga punggungnya membentur tanah dengan keras akibat tarikan Nio. Rekan-rekannya meninggalkannya setelah dia berhasil ditangkap oleh Nio dengan sekali tarikan.
Nio melayangkan pukulan secepat kilat ke wajah musuhnya, lalu mengapit lehernya dengan lengan kirinya. Orang itu memberontak dan berusaha melepaskan diri, namun lengan Nio mengapit lehernya dengan sangat kuat, bahkan tidak membiarkannya berteriak. Nio menusukkan ujung mata karambitnya di leher musuhnya, lalu menyayat nya menyamping dan berhenti ketika pisau karambit mengenai jakun musuhnya. Darah mengucur deras seperti air mancur dari area sayatan, kemudian Nio menjatuhkan tubuh musuhnya ke tanah begitu saja. Pakaian Nio terkena sedikit cipratan darah, namun dia tidak mempedulikannya.
Zefanya tidak dapat bereaksi apapun saat melihat Nio menyayat leher musuhnya, dan mengikuti Nio di belakangnya sambil melewati tubuh tanpa nyawa musuh yang baru saja dihabisi oleh Nio.
Setelah tiba di ujung gang, Nio melihat puluhan tubuh tanpa nyawa yang tergeletak di jalanan, puluhan jasad tersebut berada di tengah genangan darah mereka sendiri. Jasad-jasad tersebut tidak mengenakan pakaian tempur seperti milik musuh atau pasukan kerajaan, di antara tubuh-tubuh tanpa nyawa tersebut terdapat beberapa tubuh anak kecil dan orang tua. Sehingga, Nio tahu siapa penyebab pembunuhan puluhan warga sipil itu.
Nio dan Zefanya dapat melihat seluruh anggota Tim Ke-12 berlindung di berbagai tempat, seperti di balik kendaraan taktis, di belakang gerobak, maupun di celah bangunan seperti yang dilakukan Nio dan Zefanya. Mereka terlihat tenang setelah melihat keberadaan Nio dan Zefanya, dan melanjutkan menembaki musuh yang berlindung juga.
Nio memberikan kode tangan kepada pengemudi kedua kendaraan taktis yakni Herman dan Arif agar penembak senapan mesin otomatis di kedua kendaraan dapat menembak tanpa menimbulkan kerusakan besar akibat tembakan mereka. Mereka berdua mengerjakan perintah Nio, dan melaju ke tempat musuh berada.
Dari kamera pada senapan otomatis penembak pada kendaraan pertama, Hassan, mengarahkan laras senjata pada tiga musuh yang berlindung di celah bangunan. Senapan mesin otomatis mampu menembakkan lebih dari 1.000 putaran permenit, dan proyektil 12,7mm mampu melubangi armor baja panser dengan mudah. Ketiga musuh menerima puluhan tembakan, dan beberapa bagian tubuh mereka berlubang akibat lesatan proyektil dengan kecepatan 900 meter per detik.
“Zefanya, berapa sisa peluru yang kau miliki?”
“Untuk peluru senapan penembak jitu tersisa sepuluh, kalau peluru pistol sisa dua magasin.”
PM22 V7 milik Nio dapat menggunakan magasin pada pistol yang memuat peluru kaliber 9mm, kemudian dia meminta sebuah magasin yang masih terisi penuh milik Zefanya dan memasangnya pada senjata miliknya.
Nio mengintip dari tempat perlindungannya, dan melihat beberapa musuh menembaki anggotanya dari tempat persembunyian mereka. Kebanyakan musuh berlindung di balik kios pedagang atau gerobak kuda dengan muatannya yang bermacam-macam.
Ketika Nio kembali mengintip, beberapa tembakan hampir mengenai kepalanya jika Nio tidak memiliki refleks yang baik untuk segera menghindar. Nio membalas tembakan yang hampir mengenai kepalanya ke arah musuh berada. Musuh memiliki refleks yang buruk, sehingga tembakan Nio berhasil mengenai kepala salah satu personel musuh.
“Zefanya, kau tetap di sini…”
Nio langsung keluar dari tempat perlindungannya dan meninggalkan Zefanya tanpa memberi gadis itu kesempatan untuk menjawab. Dia terpaksa melindung Nio dengan tembakan dari pistol 9mm-nya. Selain tembakan perlindungan dari Zefanya, Nio bergerak dengan tembakan perlindungan dari senapan serbu anggotanya.
Tiga personel musuh yang bersembunyi di balik kios pedagang terkejut dengan kemunculan Nio yang tiba-tiba, dan tidak dapat berbuat apapun ketika PM22 V7 Nio menembaki mereka dengan beberapa proyektil 9mm. Nio menyasar bagian kepala musuhnya, sehingga tidak memberikan kesempatan mereka untuk membalas serangannya.
Seorang personel musuh yang sudah kehabisan amunisi berlari ke arah Nio dengan teriakan penuh semangat. Dia mengarahkan bayonet ke depan dan menyerang Nio dengan melakukan beberapa gerakan menusuk, namun semua itu dapat dihindari dengan mudah olehnya. Nio kemudian meraih senapan tanpa amunisi milik lawannya, dan menusuk wajah musuhnya beberapa kali dengan bayonet hingga tertutupi oleh darah dan akhirnya tidak bergerak lagi. Nio tidak peduli dengan teriakan kesakitan dan penderitaan dari lawannya ketika dia menusukkan bayonet ke wajah lawannya. Dia akan melakukan apapun untuk melindungi orang paling penting Indonesia yang ‘nyasar’ di dunia ini, serta bertarung untuk Arunika dan yang lainnya. Sebagai serangan terakhir, sebuah tembakan tunggal menembus kepala lawan Nio yang sudah dalam kondisi wajah penuh darah.
Tak lama kemudian, tiga personel musuh yang sudah kehabisan amunisi berusaha melawan Nio dengan bayonet dan pedang mereka. Tanpa pikir panjang Nio menembak salah satu dari mereka, lalu dengan cepat menghindari tebasan pedang dari seorang lainnya yang menyasar kepalanya, dan kemudian menembakkan dua proyektil ke kepala musuhnya.
Tidak peduli seberapa kuat prajurit atau seberapa baik teknik bertarung jarak dekatnya, semua itu tidak akan berguna jika tidak bisa melukai musuhnya. Personel musuh terlalu yakin dengan jumlah besar, mereka dapat memenangkan pertarungan ini. Tetapi, meski Nio sekarang dikepung enam personel musuh, dia tetap melawan dan melumpuhkan mereka dengan tembakan atau tendangan keras di kepala. Satu-satunya cara untuk menang melawan Nio adalah dengan mengeroyoknya dengan kekuatan minimal delapan kompi, tetapi itu hanya akan membuat Nio babak belur dan tak sadarkan diri untuk sementara saja. Itu terbukti ketika lima ratus ksatria Barisan para Mawar Sheyn memukulinya hingga pria itu hampir terkena serangan mental.
Selain itu, Nio dilindungi oleh rekan-rekannya yang siap memberinya tembakan perlindungan.
Ketika musuh yang sudah kehabisan amunisi mengepungnya dan mengarahkan bayonet kearahnya, bawahan Nio dengan tenang menarik pelatuknya. Proyektil 7,62mm sudah cukup kuat untuk menembus pelat baja setebal 10 mm. Ketika puluhan proyektil yang ditembakkan dari SS20 G2 milik bawahan Nio mengenai tubuh musuh yang kini hanya dilindungi oleh zirah logam tipis, proyektil menembus logam tipis yang melindungi tubuh mereka dan menembus ke sisi satunya.
Tak lama kemudian Nio memberi perintah seluruh bawahannya untuk menghentikan tembakan setelah melihat musuh bergerak mundur. Itu adalah hal yang bagus, namun mereka belum mengurangi sebagian besar musuh, dan hanya menghabisi beberapa dari mereka saja.
Beberapa saat kemudian, Nio melihat seorang yang tak asing baginya sedang berlari bersama personel musuh yang berusaha melarikan diri. Nio terus memperhatikan orang yang pernah dia temui beberapa waktu lalu, ketika penyerbuan besar pertama Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi. Setelah kurang dari lima detik mengamati, Nio segera berlari cepat ke arah orang itu sebelum kehilangan jejak.
Di lain sisi, Rio tidak menyangka dengan adanya kontingen ‘dunia lain’ di Kota Iztok. Dia dengan panik memerintahkan sisa bawahannya untuk mundur sebelum panser mengepung mereka. Sebuah keajaiban ketika musuhnya tidak membunuh sebagian besar bawahannya, dan dengan panik terus berteriak agar bawahannya segera meninggalkan kota.
Melawan kontingen ‘dunia lain’ menggunakan taktik biasa hanya membuat Peleton Khusus Aliansi yang dipimpin Rio membuang-buang amunisi dengan sia-sia, dan hanya membunuh beberapa warga sipil dan prajurit Arevelk. Jika dia memutuskan melanjutkan pertempuran, kemungkinan besar musuh akan menghabisi seluruh bawahannya tanpa sisa.
Dia dapat berlari lebih cepat dari bawahannya, tetapi rasa gugupnya membuat Rio merasa larinya sedikit melambat. Lalu, ketika berhasil mencapai jalur yang mereka gunakan untuk memasuki kota, seorang gadis bersayap mencegat mereka dengan sabit raksasanya. Tentu saja itu membuat seluruh bawahan Rio berhenti berlari, dan dengan wajah ketakutan menatap gadis itu.
“Tembak dia dengan sisa amunisi kalian!” teriak Rio setelah memastikan jika gadis itu berpihak pada Persekutuan.
“Coba saja. Sebanyak apapun kalian menyerang ku, itu semua hanya akan sia-sia,” Hevaz berkata seperti itu sambil berjalan perlahan ke arah mereka.
Tentu saja sisa personel Peleton Khusus Aliansi milik Rio yang tersisa mematuhi perintahnya, dan menembakkan sisa peluru yang dimiliki. Tetapi semua proyektil yang ditembakkan tidak mengenai tubuh gadis itu, dan dengan mudah ditangkis dengan mata sabit yang besar. Gadis itu melangkah lebih dekat, dan memperlihatkan ancaman yang sangat besar.
“Tuan Nio, Anda akan melawan si pemimpin. Sedangkan saya akan melawan bawahannya.”
Rio segera menoleh ke belakang setelah mendengar gadis itu mengucapkan nama seseorang yang sangat dia kenal. Dia melihat Nio berdiri di belakangnya dengan kondisi bahu kiri terluka. Namun, kurang dari satu detik setelah mereka bertatapan, tangan kanan bionik Nio langsung menghajar wajah Rio hingga dia tersungkur dengan keras ke tanah.
**
Punggung dah nggak kuat, jadi ceritanya agak nanggung... terus dilanjut besok.
__ADS_1