
Sebelum membaca, mohon maaf atas ketidak nyamanan yang aku buat. Tapi, ijinkan aku mempromosikan cerita baruku. Aku tidak memaksa para pembaca untuk membacanya.
Jika ada yang bertanya alasanku membuat cerita baru, tentu saja jawabannya sudah jelas yaitu... duit...
**
Dua hari setelah informasi bergeraknya pasukan pemberontak, kondisi Benteng Girinhi masih aman dan beberapa prajurit tampak masih dapat bercanda satu sama lain.
Lusa kemarin, tepatnya ketika Pusat Komunikasi dan Kontrol memberi kabar kekalahan pasukan Kerajaan Arevelk terhadap pemberontak, Donem mulai merasakan sesuatu. Perkataannya dan salah satu bawahannya tampak berakibat pada hubungan mereka dengan Nio. Pria itu sama sekali tidak berbicara dengan Donem dan keempat komandan pasukan di Benteng Girinhi lainnya, dan memilih menjauh ketika bertemu lalu bercengkrama bersama tentara Arevelk maupun para pengungsi.
Perkataan yang seakan-akan membuat bantuan Nio sama sekali tidak dibutuhkan membuatnya pusing, dan tidak tahu harus menggunakan cara apa agar Nio mau kembali membantu mereka mengatasi masalah mengenai pengiriman pasukan bantuan. Tidak ada gadis di dalam benteng, dan jika mengambil beberapa perempuan muda dari desa-desa sekitar rasanya terlalu berlebihan. Terlebih lagi pasukan ‘dunia lain’, khususnya tentara Indonesia menjunjung tinggi kehormatan manusia lain.
“Ya Tuhan! Aku benar-benar tidak tahu dengan diriku sendiri. Mulutku tiba-tiba berbicara seperti itu, seolah-olah Tuan Nio lebih lemah dari kita!” ucap salah satu bawahan Donem yang sempat mengatai Nio dengan kata ‘sialan’.
“Syukurlah waktu itu kami bertiga tidak terlalu paham dengan situasi yang dikabarkan pusat komunikasi Persekutuan itu,” ucap salah satu komandan yang lain.
Mereka bisa membayangkan apa yang Nio lakukan setelah perlakuan yang mereka berikan terhadap pria itu. Beberapa batu yang membentuk tembok benteng pecah dan berserakan di berbagai tempat. Padahal sebelum kedatangan Kompi Bantuan 002 dan Tim Ke-12, tidak ada kerusakan sedikitpun pada dinding benteng, kecuali tanah yang sedikit demi sedikit tergerus dan memperlemah pondasi pada beberapa titik.
“Jangan sampai benteng lemah ini dihancurkan oleh satu orang, dan itu Tuan Nio,” ucap Donem sambil membayangkan apa yang dilakukan Nio terhadap bentengnya jika Nio mulai benar-benar marah dan mengeluarkan kekuatan sebenarnya ‘orang yang diramalkan’.
Seperti biasa, Donem dan empat komandan pasukan militer Arevelk di Benteng Girinhi berdiskusi maupun berkumpul membahas hal penting bahkan membahas hal sepele pada salah satu ruangan yang paling luas dan bagus di fasilitas militer negara tersebut. Sebagian besar barang yang terdapat di dalam ruangan, seperti meja yang tampak terbuat dari kayu bagus dan mahal serta bendera nasional Kerajaan Arevelk yang dihiasi dengan benang emas dibeli menggunakan uang pribadi kelima komandan tersebut.
Menjadi komandan yang memimpin ribuan tentara, terlebih lagi kau adalah komandan yang memimpin tentara-mu memenangkan banyak pertempuran, maka secara otomatis statusmu naik dan menduduki posisi bangsawan militer. Itu artinya, kau akan mendapatkan banyak uang dari posisimu menjadi komandan.
“Itu tidak mungkin, aku sama sekali tidak memiliki satu Valiki-pun. Bahkan jika kita memberikan sebagian besar harta kita sebagai permintaan maaf untuk Tuan Nio, mungkin itu tidak cukup,” Donem benar-benar serius saat mengatakan hal itu.
Donem bahkan tidak dapat meminum anggur beralkohol dari piala peraknya dengan tenang, dan gemetar ketika memegang gelasnya dan meletakkannya kembali ke atas meja. Dia membayangkan jika Nio tidak akan puas setelah dia menyerahkan ratusan Kalipti dari tabungannya hanya untuk kalimat “Terimalah permintaan maaf dari saya”. Terlebih lagi seluruh harta miliknya tidak sebanding dengan sepuluh Valiki yang diberikan Nio atas jasanya terhadap Kerajaan, walau dia tentara dari ‘dunia lain’.
“Tuan Donem, jangan sampai Yang Mulia Sigiz tahu informasi ini. Jika beliau tahu Lariq Sodur-nya kita sakiti, entah apa yang terjadi pada kita.”
“Bahkan jika kami bertiga tidak melakukan apapun, kami juga akan mendapatkan hukuman.”
Keberadaan Nio dan ‘pelayan pribadinya’ yang merupakan seorang Utusan, akan menambah masalah jika informasi bahwa Donem dan salah satu bawahannya berkata kasar dan membuat Nio kesal dan merusak benteng.
Jika pakaian mereka yang terbuat dari sutra terbaik yang diproduksi oleh peternak dan perajin dari wilayah timur Kerajaan diberikan oleh Nio, mereka yakin pakaian mahal mereka hanya akan dijadikan lap senjata atau sepatunya saja. Mereka akan sangat beruntung jika pakaian-pakaian yang terbuat dari sutra milik mereka dijadikan ****** ***** alih-alih digunakan membersihkan senapan dan sepatu dari debu.
Meskipun adalah tradisi jika seorang yang memiliki harta banyak memberikan sebagian harta mereka untuk seseorang yang telah mereka sakiti atau semacamnya, tapi kelima komandan tersebut tetap memikirkan posisi Lariq Sodur yang Nio terima setelah menyingkirkan musuh yang menyerang ibukota. Mereka sama sekali tidak merasa tenang, apalagi senang meski adanya alkohol bernama vodka yang dibawa tentara kontingen Rusia sebagai hadiah.
“Bahkan minuman dengan kadar alkohol tinggi asal negeri Rusia ini tidak dapat menyingkirkan kegelisahan kita.”
Salah satu komandan meletakkan kembali gelas peraknya yang masih terisi seperempat dengan vodka ke atas meja, lalu kembali menatap satu persatu wajah keempat komandan lainnya. Ketegangan yang semula sangat tidak nyaman, secara tiba-tiba meningkat lebih tinggi.
Dia berpikir “Kenapa orang-orang berkulit putih dan berhidung panjang itu meminum minuman ini?”. Sensasi terbakar akan terasa ketika kelima komandan mencoba oleh-oleh dari Rusia tersebut, dan mereka merasa perut dan tenggorokan terasa panas. Mungkin dampak yang mereka rasakan berasal dari kadar alkohol vodka yang tinggi.
Di lain sisi, kelima komandan tersebut memiliki pertanyaan yang sama, yakni tentang tentara Indonesia yang kebanyakan akan menolak jika ditawari alkohol yang terkenal mampu menambah stamina dan mengurangi rasa takut dan cemas akan sebuah pertempuran.
“Benar,” Donem menanggapi dengan punggung yang ditegakkan dan suara tegas. Dia mencoba untuk mempertahankan martabat seorang bangsawan militer, serta agar tidak memperlakukan pasukan Kerajaan di Benteng Girinhi.
“Yah, sebagai tentara kuat, aku yakin Tuan Nio tidak akan tersinggung dengan mudah hanya dengan perkataan.”
Jelas-jelas perkataan dari salah satu komandan akan berdampak buruk pada dirinya sendiri… jika Nio sengaja atau tidak sengaja mendengarnya. Meski begitu, dia melihat jika Nio sudah beraktivitas dengan ekspresi biasanya. Tetap saja, dia tidak memiliki kemampuan membaca perasaan dan maksud seseorang hanya dengan melihat ekspresi saja.
Donem menyipitkan matanya ke piala perak yang memantulkan bayangan ekspresinya saat ini yang resah.
Dan dia bersama keempat bawahannya terus menatap satu sama lain.
Memikirkan tindakan tanpa martabat mereka kemarin, hanya kemungkinan buruk yang dapat Donem dan bawahannya bayangkan. Diberhentikan secara paksa adalah hukuman paling ringan yang mungkin dapat mereka terima, jika Nio benar-benar melaporkan tindakan mereka ke ratu mereka.
“Tapi, sepertinya Tuan Nio bukanlah orang yang akan mengambil keuntungan dari situasi buruk yang menimpanya. Aku pernah mendengar bahwa 500 ksatria Barisan para Mawar pernah menyakiti dia, dan Tuan Nio sama sekali tidak menuntut apapun meski Kerajaan Yekirnovo sudah berdiri.”
“Mustahil, itu adalah kesempatan yang besar untuk menuntut Ratu Sheyn dan ksatria-ksatria-nya yang telah menyakiti Tuan Nio. Atau mungkin Tuan Nio memang benar-benar sudah tidak normal.”
Kedua komandan bawahan Donem berkata seperti itu tidak dengan nada menyenangkan. Ekspresi gentar mereka benar-benar terlihat jelas, mengingat ksatria Barisan para Mawar Kerajaan Yekirnovo cukup kuat untuk mengalahkan satu kompi pasukan kavaleri menggunakan tongkat meriam mereka. Namun, itu adalah peristiwa ketika Yekirnovo baru berumur beberapa hari, sehingga senjata tersebut baru dalam fase prototipe dan belum diproduksi secara terbatas.
__ADS_1
Donem ingin segera mengakhiri kegelisahan yang melanda dirinya dan keempat komandannya. Keringat dingin dan wajah yang memerah setelah mengkonsumsi alkohol dalam kadar melebihi batas, mereka berlima tetap memasang ekspresi bingung dan keras.
“Tuan Donem, apa Anda ada di dalam?”
Ucapan seseorang yang berasal dari balik pintu seketika mengejutkan Donem yang melamunkan sesuatu. Suara ketukan tanpa henti akhirnya berakhir setelah Donem mengijinkan seseorang yang memanggil namanya untuk memasuki ruangan. Mungkin karena dia dalam keadaan pusing, sehingga Donem nampak tidak menyukai seseorang yang tiba-tiba menggedor pintu itu.
“Ada apa? Apa kau tidak lihat kami sedang tidak ingin diganggu?”
“Maaf sebelumnya, Tuan Donem. Tapi, Nona Luhe (Lux) mengirimkan surat untuk Anda.”
Prajurit Arevelk tersebut berlutut ketika melaporkan apa yang dia terima ketika bertugas. Dia berbicara se-sopan mungkin, namun Donem dan keempat komandan tampak memasang ekspresi yang lebih rumit dari sebelumnya. Tentu saja yang membuat mereka seperti itu adalah berita yang dikirimkan komandan mereka yang pasti berhubungan dengan pengiriman pasukan bantuan yang ditentang oleh Nio.
“Apa isi surat yang kau terima?”
Prajurit tersebut membuka gulungan surat yang terbuat dari kertas HVS ukuran A4 yang dapat dibeli di minimarket yang berdiri di benteng kura-kura, dan tulisan ditulis menggunakan tinta yang biasa digunakan untuk menulis pada kulit hewan sebelum kedatangan pasukan ‘dunia lain’ di sini. Prajurit tersebut memiliki perasaan khawatir yang sama dengan yang dialami Donem dan keempat komandan di depannya.
Pasukan tambahan untuk pasukan yang ditempatkan di Benteng Girinhi mengalami kekalahan telak atas pasukan pemberontak. Namun, itu adalah hal yang sudah membuat Donem dan bawahannya khawatir sejak dua hari lalu, dengan artian berita yang dikirimkan Lux (Luhe) sangat terlambat.
“Dia benar-benar membutuhkan bantuan sekarang, tapi kita masih terjebak dalam dilema yang membingungkan. Tindakan mengirimkan bantuan untuk memerangi pasukan pemberontak sangat berisiko, dan jika kita mengirimkan sebagian kekuatan akan melemahkan pasukan di benteng. Jika terjadi penyerangan musuh terhadap benteng, akan lebih baik jika sisa pasukan dapat bertahan ketika sebagian pasukan ikut membantu memerangi pemberontak. Aku tidak mengira jika kedua hal itu benar-benar rumit, seperti yang dikatakan Tuan Nio.”
Donem baru saja mendapatkan kembali ketenangannya, dan setelah mendengar kabar dari Lux dia baru sadar jika perkataan Nio ada benarnya. Dia sadar sangat terlambat menyadari hal itu, sama seperti dia menganggap kabar dari Lux sangat terlambat.
Permintaan Lux adalah meminta sebagian pasukan untuk menuju Kota Tohora, lokasi yang menjadi tempat peristirahatan pasukan Arevelk setelah mundur dari penyerangan pasukan pemberontak. Gadis itu tidak mempermasalahkan jumlah pasukan yang akan dikirimkan, selama itu dapat mengalahkan pemberontak yang berperilaku kejam terhadap kawan sendiri.
“Haruskah kita keluar untuk menghirup udara segar?” Donem bertanya pada seluruh pria di ruangan itu.
**
Meskipun tugasnya adalah sebagai tentara yang membantu pasukan di Benteng Girinhi, namun menendang kursi dapat membuktikan jika Nio masih memiliki sifat remaja yang labil, sehingga emosinya tidak stabil. Dia tidak memiliki banyak waktu di tempat ini, sehingga Nio merasa ingin mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk membantu seluruh sekutu Indonesia di dunia lain.
“Tuan Nio, apa Anda benar-benar akan pergi?” ucap seorang tentara Arevelk yang sedang membelai bulu seekor elang yang berwarna merah. Ada beberapa jenis burung yang dapat mengeluarkan api dari mulutnya dengan temperatur tak jauh berbeda dengan korek gas milik Nio, salah satunya elang merah yang dia lihat di depan matanya sendiri.
Burung tersebut adalah pengirim surat dari Luhe (Lux) bagi kelima komandan di Benteng Girinhi. Kecepatannya dalam terbang dan mudah dilatih adalah salah satu alasan kenapa elang merah tersebut digunakan untuk mengirim pesan dengan cepat di saat situasi darurat.
Dia berdiri bersama beberapa Pembunuh Senyap, salah satunya Huvu yang tampak terlalu sering memperhatikan Nio sejak dia bertemu pria tersebut. Edera memang belum terlihat memiliki hubungan apapun dengan Nio, dan dia merasa jika Nio bukanlah tentara biasa mengingat kemampuan menyusun taktik dalam waktu singkat sehingga dapat meraih kemenangan dalam waktu singkat. Itu adalah salah satu hal yang membuat Huvu tertarik, dan berjuang bersama Nio dan pasukannya.
Meskipun posisinya saat ini adalah pengungsi yang berasal dari negara musuh, namun Nio dan bawahannya memperlakukan dirinya dan para pengungsi lainnya seperti warga biasa. Dia tidak mengerti dengan ungkapan ‘memperlakukan warga negara asing dengan adil’ yang menjadi dasar bawahan Nio untuk membantunya dan para pengungsi. Bahkan Nio mengancam anggotanya jika lalai dalam merawat beberapa pengungsi lansia dengan serius.
“Tuan Nio, bagaimana jika kami, para Pembunuh Senyap ikut dengan Anda sebagai bantuan?” tanya Huvu.
Dari atas salah satu sisi benteng, Nio dan Huvu dapat melihat beberapa anak-anak pengungsi bermain bersama Sersan Hassan maupun Kopral Bima yang terkenal galak dengan sesama prajurit. Beberapa remaja yang tidak tergabung dalam tim Pembunuh Senyap melihat Ratna dan gadis-gadis Tim Ke-12 memasak menggunakan berbagai jenis bumbu. Sementara para pria membantu para lansia makan atau mendampingi mereka berjalan menggunakan tongkat. Kompi Bantuan melakukan tugas seperti memperbarui tungku memasak yang masih berupa batu dengan kompor lapangan yang baru saja tiba pagi ini dan mengganti tenda dapur lapangan dengan yang lebih besar. Tim pembawa perbekalan tambahan sekaligus bertugas mengambil para tawanan untuk dipindahkan ke kamp tawanan di Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Baru.
Di sisi lain, Nio merasa terlalu berlebihan mengancam bawahannya jika lalai dalam memperhatikan pengungsi. Seharusnya dia tidak menggunakan ancaman, sehingga para anggotanya akan melakukan perintahnya tanpa rasa terpaksa sedikitpun.
“Tapi, kalian bukan warga Kerajaan Arevelk, dan kalian bukan sekelompok orang yang bisa ku mintai tolong begitu saja,”Nio berbicara dengan ekspresi bingung.
“Jika kami menyatakan akan menjadi pasukan setia Anda, apakah Anda bersedia membawa kami ke setiap medan perjuangan yang akan Anda datangi?” ucap salah satu Pembunuh Senyap perempuan bertelinga kelinci.
“Bukannya bagus mendapatkan banyak bantuan, Tuanku?”
Nio menatap datar ke arah Hevaz yang mendarat di sampingnya, dan memeluk tangan kirinya, dan sayap besar gadis itu menghilang dengan beberapa helai bulu terbang setelahnya. Perkataan Hevaz memperlihatkan jika dia benar-benar cocok menerima penawaran dari grup Pembunuh Senyap yang belum dia lihat kemampuannya. Tapi, dia sudah melihat kemampuan bertarung Edera, dan kemungkinan beberapa dari mereka memiliki cara bertarung seperti Edera.
Jelas sekali bahwa Nio telah mendapatkan kepercayaan dari para Pembunuh Senyap yang sebelumnya hanya bekerja untuk pihak yang membayar mereka, atau diperintahkan dengan paksa oleh pemilik mereka sebelumnya. Mereka mengatakan hal itu seolah-olah berjuang bersama Nio adalah tujuan mereka kabur dari negara asal, atau setelah mengetahui jika ‘orang yang diramalkan’ adalah Nio setelah Edera membicarakan hal itu dengan kakaknya dan Ebal. Mereka adalah grup yang dilatih khusus untuk membunuh dengan cepat dan efektif, dan mereka tampak selalu waspada dan siap untuk diperintahkan ke mana saja dan kapan saja dalam situasi apapun.
“Tidak. Karena aku berencana akan membantu Lux dengan kemampuan berpikir dari otakku, bukan kemampuan bertarung dengan ototku. Kalian tetaplah pengungsi yang tidak dapat menentukan siapa pemilik dan pemimpin kalian begitu saja.”
“Tapi, para manusia setengah binatang dan manusia setengah monster sudah diramalkan untuk membantu ‘orang yang diramalkan’ mengakhiri Periode Perang Besar,” ucap salah satu gadis Demihuman bertelinga kucing.
“Bukannya para dewa mereka terlalu banyak meramalkan tentang ‘orang yang diramalkan’ itu? Selain itu, apa lagi yang para dewa itu rencanakan terhadapku? Lama-lama aku malah dijadiin presiden sama mereka.”
Nio bergumam di dalam hatinya dengan perasaan dongkol terhadap para Dewata yang begitu banyak memberikan tugas untuk ‘orang yang diramalkan’ tersebut. Dia sendiri bahkan tidak yakin bahwa sosok itu adalah dirinya sendiri, meski di sisinya terdapat Hevaz. Dia berpikir akan ada banyak pihak yang tidak menyukai hal itu, dan akan mengobarkan perang yang sia-sia untuk mendapatkan kekuatan besar.
“Tuan, maafkan saya yang kurang sopan santun. Sebenarnya, bersama Utusan Dewi Kematian dan Dewa Perang, Yang Mulia Hevaz, kami mendengar apa yang telah Anda lalui selama berjuang di dunia ini. Meski Anda tidak mengetahuinya, sebenarnya Yang Mulia Hevaz melihat Edera melukai Anda. Tapi, Anda justru berusaha untuk membebaskan Edera. Anda pernah melalui perang besar yang membunuh banyak rekan-rekan Anda, tapi Anda tetap bertarung dengan tenang meski dilukai oleh orang yang Anda cintai.”
Seorang Demihuman pria bertelinga rakun berbicara seperti itu dengan sopan sambil berlutut di depan Nio, dan kepalanya mendongak dengan tatapan lurus ke arah mata kiri Nio.
__ADS_1
Nio merasa perkataan pria tersebut cukup berat, dan membuat beban pikirannya bertambah selain perkataan Donem yang membuatnya teringat sesuatu.
Ya, Nio merasa jika saran darinya terlalu membatasi wewenang yang dimiliki Donem dan keempat komandannya, sehingga lebih tepat untuk mengatakan jika dia merasa memiliki saran yang lebih unggul dari mereka dan membuatnya sangat bersalah. Mungkin karena dia berpikir jika saran darinya adalah yang paling tepat, sehingga dia merasa para komandan tersebut akan menggunakan saran darinya.
Tetap saja, Nio adalah tentara dari dunia lain, dan sama sekali tidak tahu bagaimana cara orang-orang dunia ini berperang. Mungkin saja mereka adalah pasukan yang masih mengandalkan panah dan tombak, tetapi dia tetap tidak tahu taktik apa saja yang dijalankan oleh pasukan dunia ini, khususnya Arevelk dan Yekirnovo selaku sekutu Indonesia dari dunia ini.
“Wajar mereka terlihat begitu mempercayai Anda, Tuan Nio. Mereka mungkin merasa seperti saya, yaitu melihat jika Anda akan membuat seluruh Demihuman dan manusia setengah monster di dunia ini hidup damai bersama manusia murni. Tentu saja saya tahu jika ada ramalan yang menyatakan bahwa ‘orang yang diramalkan’ akan memiliki pasukan yang besar dari kalangan manusia setengah hewan dan manusia setengah monster. Dan mungkin kami adalah awal dari pasukan besar milik Anda.”
“Edera, apa ramalan itu akan membuatku menjadi pemimpin pasukan besar di perang besar yang akan terjadi di masa depan nanti? Apa dunia ini dan dunia ku benar-benar akan terus berperang tanpa tujuan dan hasil yang jelas? Aku hidup tidak hanya untuk berperang! Aku masih memiliki keinginan dan tidak mau mati muda di medan perang. Aku masih ingin melakukan banyak hal. Jadi jangan katakan tentang ramalan apapun, padahal aku masih memiliki pekerjaan yang bahkan belum kusentuh sama sekali.”
Entah bagaimana kata-kata dari tuannya menyentuh hati Hevaz. Dia telah merasakan sesuatu dari kekhawatiran yang Nio katakan. Wajar jika Nio mengatakan hal itu, karena perang bukanlah hal yang baik dan hanya menyebabkan kerusakan. Namun, menjelang Periode Perang Besar yang akan melibatkan banyak negara, dunia asal Nio juga akan terlibat di dalamnya. Itu adalah ramalan mutlak dan akan menyebabkan kekuatan di kedua dunia kembali seimbang. Artinya, tidak ada pasukan yang akan bertempur menggunakan artileri railgun maupun meriam partikel.
Sepertinya, Hevaz benar-benar tidak merasa bahwa para Dewata salah salam memilih ‘orang yang diramalkan’. Namun, perkataan Nio yang menyatakan bahwa dirinya benar-benar tidak menyadari potensi tersebunyi yang dia miliki membuat Hevaz cukup gemas.
“Kalau begitu, mungkin saya harus segera mengirimkan Anda untuk berlatih menggunakan kekuatan yang ada di dalam diri Anda.”
“Kekuatan apa yang kau maksud, Hevaz? Yah, aku merasa ada sesuatu yang aneh denganku. Kalian mengatakan jika para pahlawan adalah orang-orang yang sangat kuat, tapi aku bisa bertarung melawan salah satu dari mereka dan melukainya. Apa itu ‘kekuatan’ yang kau maksud?”
Meskipun Nio lebih memilih menghindari suatu perkelahian jika dirinya tidak memiliki kesempatan untuk menang, namun dia sama sekali tidak memiliki pemikiran seperti itu ketika menghajar Pahlawan Amarah beberapa bulan lalu. Saat itu, Nio bertarung menghadapi Pahlawan Amarah seperti berkelahi dengan teman sekelas.
Bertarung memang tugas Nio sebagai pelayan rakyat sebagai pelindung mereka, namun alih-alih mensyukuri takdir yang dia terima setelah bertugas di dunia ini, Nio justru merasa jengkel dengan ramalan yang membuatnya seolah-olah akan menjadi sosok yang sangat penting untuk dunia ini. Terkadang dia juga merasa risih dengan beberapa orang yang terobsesi pada seseorang yang memiliki kemampuan khusus. Sepertihalnya atlet terkenal dan klub sepak bola yang memiliki sangat banyak penggemar fanatik, Nio merasa orang-orang yang kuat akan sangat dipuja dan dihormati di dunia ini.
Jadi, Nio tidak ingin ramalan atau apapun yang berhubungan dengan dirinya yang akan membuatnya menjadi terkenal dan mendapatkan semakin banyak tanggung jawab yang belum tentu dapat dia tangani.
“Anda bilang ingin segera mengakhiri perang ini. Jadi, Anda perlu mengeluarkan seluruh potensi dan kekuatan di dalam diri Anda yang sudah para Dewata berikan.”
“Kekuatan pemberian, ya? Bukannya itu akan membuatku tidak perlu bekerja keras untuk mengeluarkan kekuatan yang kau maksud?”
“Apa Anda pikir kekuatan bisa digunakan secara otomatis begitu Anda mendapatkannya? Ini bukan cerita fiksi biasa, Tuan. Anda tidak akan mendapatkan ‘sistem’ atau melakukan ‘kultivasi’ ketika Anda mengalami kesulitan. Memang sudah banyak cerita yang menggambarkan seseorang untuk menjadi lebih kuat dari sebelumnya, dan anda adalah salah satu tokoh dalam genre cerita seperti itu.”
Nio tersenyum kecil dengan wajah resah, karena yang dikatakan Hevaz mungkin bisa saja menyinggung penulis cerita dengan tema yang telah disebutkan oleh gadis itu, dan berimbas pada alur cerita ini.
Sayangnya, Hevaz sama sekali tidak peduli meski apa yang dikatakan olehnya bisa saja akan mengakibatkan Nio diserang oleh tokoh-tokoh pada cerita dengan genre yang ia singgung melalui perkataannya barusan. Dia dengan percaya diri melanjutkan ceramahnya agar Nio paham dengan kekuatan yang masih tertidur di dalam dirinya.
“Untuk menjadi prajurit yang hebat seperti sekarang, Anda pasti mendapatkan pelatihan yang keras dan menyiksa bukan? Tentu saja ada banyak orang yang kagum dengan kekuatan fisik Anda dan tentara khusus asal negara Anda, karena mereka tahu jika kalian menerima pelatihan hingga melampaui batas wajar manusia biasa. Sehingga, untuk dapat mengeluarkan dan membuat Anda dapat menggunakan kekuatan tersebut, saya harap Anda bersedia menjalani latihan yang berat sekali lagi.”
Dari puncak dinding pada salah satu sisinya, Nio dapat melihat cakrawala pada siang menjelangh sore pada hari ini. Hari ini cukup cerah hingga seluruh orang di Benteng Girinhi dapat melihat sebuah titik kecil, dan titik tersebut merupakan Istana Awan yang berdiri di daratan melayang. Kemudian, Nio mendesah dengan wajah lelah sambil menatap pemandangan hutan yang berjarak lima kilometer dari desa terdekat maupun gerbang utama Benteng Girinhi. Padahal dia pada hari ini hanya melakukan pekerjaan ringan seperti membuat laporan dan menyusun rencana.
“Tidak apa-apa Tuan, Anda pasti dapat melalui semuanya seperti ketika Anda melalui berbagai jenis proses hingga menjadi tentara hebat seperti sekarang,” ucap Edera dengan senyuman hangat seperti udara siang hari ini.
Wajah pasrah Nio muncul di wajahnya, “Baiklah, aku mungkin akan melakukan seperti yang kalian sarankan. Para Pembunuh Senyap juga dapat bekerja tanpa diriku, kalian bebas memilih siapa pemimpin hingga kalian mendapatkan jawaban dariku. Tapi yang paling penting, mari kita selesaikan masalah kudeta dan pemberontakan yang dialami Kerajaan ini! Yah, walaupun itu terkesan aku terlalu ikut campur pada masalah negeri ini.” Nio mengatakan bagian terakhir dengan senyum penuh perasaan gelisah dan takut akan sesuatu jika dia benar-benar membantu Arevelk menangani pemberontak.
Sesaat setelah Nio mengatakan hal itu, seluruh Pembunuh Senyap tiba-tiba berlutut, dan perasaan semangat dari mereka dapat terlihat dari wajah masing-masing.
“Kami dengan rendah hati meminta pada Anda: tolong perlakukan kami, Pembunuh Senyap, seperti Anda memperlakukan pasukan Anda sendiri.”
Mereka semua mengucapkannya hampi bersamaan, dan menarik perhatian beberapa tentara di bawah maupun yang bertugas memantau di menara pengawas terdekat.
Nio dengan cepat dapat memahami bahwa tujuan para pengungsi pemaja Demihuman, alias para Pembunuh Senyap itu sendiri berbicara seperti itu karena mereka telah melihat bahwa Persekutuan memperlakukan orang-orang seperti mereka dengan baik dan memberikan kehidupan yang layak. Selain itu, Nio yakin mereka menyatakan diri akan berjuang dengan dirinya tidak lain dan tidak bukan adalah karena dia salah satu tentara Persekutuan yang sedang memerangi Aliansi.
Kehidupan mereka di Kekaisaran Luan berbanding terbalik dengan para Demihuman yang diselamatkan pasukan Indonesia beberapa tahun lalu. Keinginan mereka untuk menyusul teman dan saudara yang tinggal bersama tentara-tentara ‘dunia lain’ tak tertahankan lagi, sehingga memutuskan melarikan diri meski dengan risiko pengejaran oleh tentara Aliansi dan dihukum mati jika tertangkap. Hukuman mati masih jauh lebih baik, karena mereka tidak akan merasakan penderitaan lebih lama daripada dijadikan pekerja paksa tanpa upah maupun pemuas hasrat hewan para tentara pria yang jauh dari keluarga.
Memanfaatkan sekelompok orang yang tujuan awalnya adalah mencari perlindungan sebagai rekan berjuang tambahan adalah tampaknya hal yang menguntungkan bagi Persekutuan. Menambah unit yang memiliki kemampuan khusus dan memahami dengan baik medan wilayah musuh tentu saja dapat sedikit meningkatkan kekuatan Persekutuan.
Seluruh Pembunuh Senyap di hadapannya masih muda, dan tampak seumuran dengannya. Mereka benar-benar terlihat sangat siap menghadapi pertarungan setelah menawarkan diri menjadi bawahannya. Tujuan mereka ingin berjuang bersamanya mungkin tetap sama ketika mereka memutuskan melarikan diri dari wilayah negara bawahan Kekaisaran Luan.
Nio masih memiliki pandangan seseorang yang berasal dari peradaban modern, dan dia masih kesulitan untuk menerima sekelompok orang yang ingin berjuang bersamanya. Ini bukanlah masa kolonialisme yang pernah diderita rakyat Indonesia ratusan tahun lalu. Tapi, para Demihuman yang melarikan diri ini mungkin telah diperlakukan sama seperti para babi putih dari barat dan negeri matahari terbit yang menyembah kaisar mereka sendiri memperlakukan rakyat Indonesia di masa kolonialisme. Nio sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada mereka adalah sungguhan atau hanya akting semata.
Bisa dikatakan, Nio masih tidak dapat mempercayai mereka sepenuhnya. Sehingga masuk akal dia merasakan kecemasan seperti itu.
“Baiklah. Tapi aku tidak janji kepada kalian bahwa perang ini akan berjalan mudah. Tapi, mari berjuang bersama memenangkan perang ini.”
Senyum penuh keberanian terukir di wajah masing-masing Pembunuh Senyap, dan mereka merasa yakin jika yang dikatakan Nio akan terwujud di masa depan. Mereka tetap tidak mengetahui bagaimana ‘dunia lain’ memperlakukan ras manusia setengah hewan seperti mereka, tapi Nio tampak akan memperlakukan semua orang sama adil.
Pada saat ini, Nio mulai paham mengapa ada cukup banyak yang dia rasa cukup mengagumi dirinya. Bukannya sombong atau semacamnya, tapi Nio benar-benar merasa ada beberapa orang yang memujanya. Dia hanya harus melakukan apa yang perlu dilakukan untuk menjaga hubungan baik Indonesia dengan sekutu mereka di dunia ini, dan tidak mengharapkan akan menjadi terkenal seperti sekarang.
__ADS_1
**
Funfact#18: Nio pernah solo vs squad, tepatnya 1 lawan 500. Tapi berakhir kekalahan + babak belur + kena mental + hampir patah tulang + gak bisa udud dua minggu + gak bisa senam lima jari ampe episode ini.