Prajurit SMA

Prajurit SMA
Perang batin: mengalahkan semuanya


__ADS_3

Setelah Dina mendapatkan laporan dari tentara medis kompi, bahwa salah satu anggota terluka akibat diserang sekelompok orang bersenjata tajam, dia bergegas menuju klinik kota bawah tanah dan meninggalkan Herlina dengan Nio. Nio memeriksa jam di ponselnya. Dia masih memiliki banyak waktu sebelum melakukan ‘aksinya’.


“Geng? Nio, apa menurutmu kelompok Baron terlibat dalam penyerangan salah satu anggota kita? Kupikir setelah berita menghilangnya Baron, kelompoknya tidak lagi membuat ulah di Karanganyar,” ucap Herlina.


Satu nama lain yang mengganggu pikirannya membuat Nio tidak menikmati kopi yang sudah dingin. Dia berpikir bukan kelompok Baron yang melakukan penyerangan salah satu anggota kompi, setelah bukti polisi telah menangkap semua orang-orang Baron Nio dapatkan dari tim jurnalis. Mungkin pekerjaan yang dia lakukan nanti jauh lebih merepotkan dari yang dia bayangkan.


“Semua anggota kelompok Baron sudah ditangkap oleh polisi, kan? Karena, mereka tidak lagi memiliki perlindungan dari dia,” jawab Nio.


“Baron sudah lama menghilang, begitu juga Rio. Apa kau mengetahui sesuatu tentang keanehan itu?” tanya Herlina lagi.


“Tidak. Aku bertugas sangat lama di dunia lain, tidak mungkin aku tahu berita terkini di Indonesia. Bahkan, aku sangat terkeut setelah komandan Pasukan Perdamaian memberitahuku kalau Rio menghilang tiba-tiba.”


Jawaban penuh kebohongan darinya sukses membuat Herlina percaya. Nio dengan tenang menyesap kopi hitam dingin, walau yang dia rasakan hanya pertarungan pertamanya dengan Rio yang membuatnya kembali memiliki satu tangan.


Herlina mempertimbangkan apakah jawaban Nio masuk akal atau tidak, dia bergaya dengan memegang dagu dan menunjukkan ekspresi seorang jenius berpikir. Dia percaya jika informasi yang diterima Pasukan Perdamaian jauh lebih terlambat dibanding seharusnya. Dia memaklumi Nio yang tampak terkejut dan tidak tahu apapun mengenai menghilangnya Baron dan Rio.


“Selain kelompok Baron, geng yang menyatakan diri ‘Pengawal Desa Bacem’ juga membuat Soloraya gempar.”


“Oh, apa kamu tidak mencoba menyelidikinya? Ada satu kelompok jurnalis yang mencoba mengupas kasus itu, loh,” jawab Nio atas pernyataan Herlina.


“Sekelompok pemberani yang berusaha membongkar rahasia Desa Bacem?! Jika mereka berhasil melakukannya, pemerintah harus memberi mereka gelar pahlawan. Jika mereka perlu bantuan kami, aku akan memberikannya dengan hati sukacita. Omong-omong, kenapa kamu tahu ada sekelompok jurnalis yang akan menyelidi Desa Bacem?”


“Jadi mereka benar-benar ada dan merupakan ancaman kalau kau bisa berkata seperti itu, ya? Jadi, pekerjaanku nanti benar-benar akan meninggalkan noda.”


Herlina mengambil teko berisi kopi yang telah dihangatkan pada kompor gas kecil, lalu menuangkannya pada gelasnya dan cangkir kertas Nio. Dia menunjukkan ekspresi terkejut ketika Nio mengatakan bahwa dia bekerja sama dengan sebuah tim jurnalis untuk membongkar rahasia Desa Bacem. Yang dia tahu hanyalah ada rumor buruk tentang desa itu.


Baik militer dan polisi telah mengirimkan orang untuk menyelidiki mengenai keberadaan Desa Bacem. Begitu mereka menemukan keberadaan dan informasi tentang penduduk dan desa, orang suruhan militer dan kepolisian tidak pernah kembali dan jejaknya tidak ditemukan. Pemerintah telah menyatakan Desa Bacem adalah kasus besar, dan sangat berbahaya jika melakukan pemeriksaan terhadap desa tersebut. Ada sejumlah kasus besar yang Herlina ketahui, salah satunya proyek Obat Kuat dan Desa Bacem itu sendiri.


“Kenapa kau menerima pekerjaan itu?”


Ancaman yang dihasilkan dalam operasi menyelidiki Desa Bacem sama mematikannya bertempur di medan perang. Pemerintah bisa mengirimkan jet tempur untuk menghancurkan desa tersebut, namun ada beberapa kendala. Salah satu halangan adalah informasi bahwa sebuah kompi membantai ribuan tentara musuh yang sudah menyerah, sehingga oleh organisasi dunia dianggap sebagai kejahatan perang. Karena adanya ‘perlindungan’ tak langsung dari luar negeri, walau menimbulkan banyak kegaduhan, keberadaan Desa Bacem tetap bertahan hingga hari ini.


Dari perkataan Nio, Herlina menilai ada potensi Nio akan menggunakan kekuatan dalam pekerjaan penyelidikan, sehingga tidak mungkin akan berakhir secara ‘bersih’.


“Mereka… tim jurnalis itu, menjanjikan royalti jika berita besar semacam itu berhasil disebarkan,” jawab Nio.

__ADS_1


“Termasuk kasus proyek Obat Kuat?”


“Ya.”


Obat Kuat telah memberi TNI berbagai macam pandangan dari dunia, yakni memanfaatkan para tentara muda mereka sebagai kelinci percobaan proyek dengan tingkat kegagalan sangat tinggi. Jika tidak segera menemukan pihak-pihak yang terlibat dalam kasus tersebut, nama militer Indonesia belum dianggap bersih. Menyelidiki kasus semacam itu dengan satu orang sangat mustahil, pemerintah bahkan hampir menyerah mengungkap kasus itu.


Herlina berkata setelah meminum seteguk kopinya, “Omong-omong, tentang proyek ‘Tentara Unggulan’ bersiap ke level selanjutnya. Kamu mungkin bisa mengajukan diri menjadi bagian proyek itu, tentu saja kalau kamu ingin tangan dan mata kananmu kembali.”


“Ada kemungkinan aku menjadi salah satu kelinci percobaan proyek itu lagi. Pada dasarnya, kita bisa menganggap penciptaan Tentara Unggulan sebagai versi final dari proyek penciptaan senjata super, kan?”


“Militer tidak akan melepas orang berpotensi sepertimu, dan kamu mungkin akan mendapatkan fasilitas semacam itu. Kalau kamu ambil bagian dari proyek Tentara Unggulan, kamu bisa berjalan-jalan dengan tubuh berteknologi tinggi. Otot kawat tulang besi tidak lagi menjadi omong kosong. Yah, walau ada kemungkinan proyek itu akan memanfaatkan orang tidak beruntung, dengan mengganti seluruh tubuhnya dengan mesin, kecuali otak.”


Dina tiba-tiba memasuki ruang pertemuan, duduk dengan tenang dan menghabiskan sisa kopinya yang belum dibuang oleh Herlina. Dia mengabaikan tatapan heran Nio serta Herlina, dan menjawab pertanyaan Nio.


“Kalau begitu, tingkat keberhasilan proyek Tentara Unggulan sama rendahnya dengan Obat Kuat, kan? Jika kita berusaha mengganti seluruh tubuh dengan mesin…”


Dina menyela perkataan Nio, menyipit ketika mengetahui fakta masih banyak kekurangan pada tangan buatan yang digunakan Nio sebelumnya, “Memang, dan tangan bionik yang pernah kau gunakan adalah versi prototipe sebelum versi final yang akan digunakan dalam proyek Tentara Unggulan. Sama rendahnya bukan berarti tingkat keberhasilannya nol. Jika masih ada kesempatan walau hanya 0,1 persen, ilmuan akan mengambil kesempatan itu.”


“Padahal kau cuma dokter, bukan ilmuan,” ucap Herlina dengan ekspresi mengejek.


“Cuma dokter, ya? Kalau begitu, siapa yang ikut menangani operasi pemasangan tangan bionik untuk Nio? Keingintahuan seperti candu bagi orang sepertiku, tahu.”


“Mari kembali ke topik yang lebih serius,” kata Herlina sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Aku tahu kamu harus melakukan dua pekerjaan, mengungkap beberapa kasus sekaligus melindungi tim jurnalis yang bekerja bersamamu. Orang-orang jurnalis itu mungkin memiliki informasi yang membuatmu mendapatkan petunjuk, jadi keselamatan mereka adalah prioritas. Jika rencana kalian bocor, dan ada pihak luar yang mendengarnya, kalian bisa dalam masalah serius.”


Nio menunjukkan tatapan serius, seolah dia ingin bekerja dengan caranya sendiri. Dia membayangkan melakukan pekerjaan seperti agen atau detektif, lalu tertangkap dan diinterogasi tanpa mempedulikan hak asasi manusia. Sebagai militer, Nio tahu bagaimana cara menghadapi interogasi yang melibatkan penyiksaan fisik hingga melewati batas manusia normal, namun bagaimana dengan sipil seperti Sonia, Buyung, dan Upik?


“Satu hal lagi,” yang berkata adalah Dina. “Aku masih belum tahu satu hal lagi. Apa yang akan kau lakukan untuk kakakmu?”


Nio membeku di tempat duduknya, lalu menjawab lima detik kemudian, “Aku tidak akan melakukan apa pun.”


“Tidak akan? Jadi kamu hanya akan duduk manis, dan menatap lemah saat Arunika duduk di pelaminan bersama pria lain?”


Nio berdiri dari tempat duduknya, lalu menatap Dina yang mengajukan pertanyaan itu. Dia berkata, “Dokter Dina, bukankah kau tahu aku tidak memiliki kekuatan cukup untuk melawan keluarga Arunika dan Mayor Darsono?”


“Ya…” jawab Dina singkat.

__ADS_1


Selain itu, Nio tidak memiliki kuasa untuk melaporkan seluruh tindakan Darsono selama perang – di mana dia juga terlibat sebagai prajurit bawahan yang ‘penurut’ – walau demi mengembalikan nama baik militer Indonesia.


“Aku… aku masih menyayangi Arunika. Aku siap melakukan apapun untuk dia. Tapi, aku tidak bisa membiarkan patah hati mendominasi perasaanku.”


Ketika perang berlangsung belum lama, setelah Nio melihat banyak teman dan orang-orang dibunuh musuh yang datang dari dunia lain, setelah Nio melihat Arunika ketakutan melihat perlakuan musuh terhadap warga sipil, Nio seperti hilang kontrol atas diri sendiri dan akhirnya menemukan alasan hidup. Dia mendaftar sebagai anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar, mengawali perjuangan dari tamtama, dan berkembang dalam kecepatan yang menakjubkan.


Satu hal yang menggerakkan hatinya dan membuat Nio tetap bertahan hidup adalah kebencian terhadap musuh-musuhnya, dengan cara menumpas satu persatu dari daftar musuh miliknya. Dia tetap mempertahankan rasa sakit hati dan dendam untuk mengalahkan orang-orang yang menghancurkan hidupnya.


“Alasan utamaku tetap bertempur adalah menjaga Arunika hingga dia menemukan kebahagiaannya. Kupkir dia akan bahagia dengan pria pilihannya sendiri, tapi ternyata aku salah…”


Untuk apa aku berjuang hingga akhirnya seperti ini? Demi kebenaran? Kebenaran akan hal apa? Kebenaran Arunika tidak menemukan kebahagiaan sejatinya? Kebenaran tidak bisa mengalahkan kejahatan. Hanya kejahatan yang bisa mengalahkan kejahatan. Aku sekarang memiliki kekuatan itu.


Nio mengatakan hal tersebut di dalam hati, dengan tatapan mata tajam, sehingga membuat Dina dan Herlina gentar. Mereka berdua merasakan perubahan suasana menjadi agak tidak menyenangkan setelah Nio mengatakan hal tersebut.


“Semua yang kukatakan tidak sampai padanya…”


Saat berbicara, semua pikiran Nio perlahan-lahan bergabung. Sekarang, dia tahu apa yang harus dilakukan untuk menghadapi Darsono yang ingin menikahi Arunika.


“Sejak kami hidup berdua, tanpa tahu Arunika sering berhubungan dengan keluarga ibunya, aku berutang banyak pada Arunika. Kupikir aku tidak akan bisa mengembalikannya seumur hidupku. Aku akan melakukan apa saja demi dia bahagia. Aku ingin Arunika menyadari sesuatu. Meski aku memiliki banyak dendam yang tak tertahankan, tapi dia berhak menemukan kebahagiaan sejatinya. Tapi, jika saja aku bisa mewujudkannya…”


Kemudian, Nio menyadari sesuatu. Dia memiliki rasa dendam dan benci yang mendalam terhadap mantan atasannya, yang berarti dia harus bersiap menyerah untuk perasaan yang telah dia pertahankan untuk Arunika.


Nio memejamkan mata kirinya. Di tengah kegelapan, dia melihat Arunika yang sedang tersenyum manis. Namun, dia tidak tahu untuk siapa senyuman sempurna itu.


Aku akan melakukan apapun untuk mengalahkan semuanya…


Ekspresi Nio tampak tenang, walau pria itu memiliki rencana mengerikan untuk membalas perbuatan semua pihak yang membuatnya memiliki perasaan dendam dan sakit hati.


Herlina lalu angkat suara, “Jika lamaran berjalan lancar, lalu Arunika menikah, punya anak, dan hidup bahagia, tapi dia tidak mungkin melupakan perasaanmu. Kamu bisa memperbaiki bagian tubuh yang hancur, tapi bagaimana dengan perasaan? Kamu tidak bisa memperbaiki perasaan yang hancur. Lalu, jika semuanya sudah terlambat, dan kamu tidak memiliki kekuatan untuk melawan, bisakah kamu merelakannya? Bisakah kamu melakukan itu?”


“Aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kembali Arunika, walau tindakanku akan dibenci banyak orang… Aku akan pergi untuk melakukannya. Terimakasih untuk obrolan singat setelah cukup lama tidak bertemu.”


Aku akan melakukan apa saja untuk mengalahkan semua musuh-musuhku… apa pun…


Herlina tiba-tiba menepuk pundak kanan Nio, dan berkata dengan ekspresi lembut;

__ADS_1


“Untuk mengurangi beban pikiranmu, apa besok kamu bisa ikut denganku?”


Ketika Herlina mengatakan hal itu, dia dan mayor tersebut melihat seseorang melintas di ruang pertemuan yang cukup tertutup untuk anggota berpangkat bintara tinggi ke bawah.


__ADS_2