Prajurit SMA

Prajurit SMA
Apa dia sudah menambah cewek lagi di sana?


__ADS_3

Karanganyar tengah disinari oleh sang matahari dengan hangatnya, alih-alih terlalu panas karena musim kemarau belum beralih ke musim penghujan. Ada yang mengatakan manusia adalah penyebab terbesar perubahan iklim dunia, sehingga bisa saja hal itu yang membuat pergantian musim di Indonesia tidak teratur.


Salah satu jalan arteri yang melintasi SMA 1 Karanganyar, ada sebuah jalur trotoar yang mengarah ke utara yang membuat pejalan kaki dapat melewati salah satu tempat hiburan di kota tersebut, yakni Taman Pancasila. Memang ketika jam pulang kerja seperti sekarang pengunjung di tempat tersebut tidak terlalu ramai, dan baru akan didatangi pengunjung ketika menjelang malam.


Ketika pulang mengajar seperti sekarang, Arunika terkadang mengunjungi Taman Pancasila hanya untuk sekedar bersantai bersama Nio atau Lisa dan murid-muridnya. Ketika sekolah kembali dibuka dan dia bersama Lisa kembali mengajar di SMA 1 yang ketika perang hanya berupa puing bangunan yang ditutupi debu, Arunika dan Lisa kembali mengunjungi tempat itu.


Ketika menunggu di perempatan dan menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi merah, mereka berdua memperhatikan TV publik berdiameter empat meter yang sedang menyiarkan berita tentang Pasukan Perdamaian. Ada puluhan orang selain mereka berdua yang menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi merah agat dapat menyebrang jalan dengan aman sambil memperhatikan siaran TV nasional tersebut.


“Dan sekarang, kami memiliki informasi terbaru tentang perjuangan Pasukan Perdamaian di Dunia Baru.”


“Pada tanggal 23 September 2322, atau empat bulan setelah pengiriman pasukan ke Dunia Baru, pengirim kabar Persekutuan mengirimkan informasi jika Pasukan Perdamaian kembali menunjukkan pada kita jika mereka bukanlah pasukan kecil biasa. Dua batalyon artileri dengan bantuan sebuah tim kecil yang dipimpin seorang letnan satu TRIP berhasil memukul mundur pasukan Aliansi yang berencana ingin merebut kembali benteng yang sebelumnya dikuasai Persekutuan. Itu merupakan kebanggan dan kegembiraan bagi kita, tidak ada korban yang dilaporkan di pihak kita pada pertempuran tersebut.”


Jalan ketika menyebrang jalan untuk dapat mencapai Taman Pancasila, itu berarti penyebrang akan melewati jalan arteri yang menghubungkan Kota Karanganyar dengan kota-kota dan wilayah lainnya. Jalanan dipenuhi oleh pengendara dan pejalan kaki yang berjalan di trotoar dengan damai sehingga sulit dipercaya bahwa sedang ada perang yang belum berakhir hingga berita tersebut disiarkan.


Dengan mengenakan seragam guru mereka, Lisa dan Arunika berjalan di zebra cross bersama puluhan pejalan kaki lainnya. Mobil pribadi, angkot, bus umum, sepeda motor bermesin bensin dan listrik berhenti untuk menunggu lampu lalu lintas berubah hijau, serta mempersilahkan pejalan kaki menyebrang dengan aman.


Arunika satu tahun lebih muda daripada Lisa, dan mereka berdua sama-sama memperlihatkan sikap elegan guru perempuan muda. Sistem bangsawan dan rakyat jelata tidak lagi digunakan sejak republik ini merdeka, namun kecantikan mereka berdua jauh lebih tinggi dari gadis bangsawan meski mereka hanya menggunakan produk kecantikan murah.


“lima ratus prajurit TRIP kita dengan berani melawan musuh di garis paling depan, dan mempertaruhkan nyawa dalam pertarungan yang menentukan. Tidak ada keraguan dalam diri mereka, serta tidak ada yang meragukan kehebatan mereka. Semoga perang di Dunia Baru segera berakhir, dan prajurit kebanggan NKRI dapat kembali dengan membawa kemenangan yang gemilang.”


Pembawa berita tersenyum cerah setelah mengakhiri berita yang pastinya sangat ditunggu lebih dari 380 juta rakyat Indonesia, namun wajah Arunika justru sebaliknya. Berita yang disiarkan nampak optimis jika seluruh prajurit bertempur dengan berani di medan perang dunia lain, itu agak tidak realistis, dan tidak ada rakyat yang meragukan kebenarannya meski tidak ada satupun perusahaan media masa yang pernah pergi ke dunia lain. Rakyat mempercayai berita yang membuat mereka merasa bangga terhadap prajurit TNI di dunia lain. Sayangnya, mereka terlihat seperti telah melupakan Pasukan Ekspedisi yang hampir hancur di perang sebelumnya, dan lebih memilih memperhatikan pasukan baru dan lebih kuat yang dibentuk bersama Indonesia, Korea Utara, dan Rusia dengan nama Pasukan Perdamaian.


Pasca perjanjian yang terciptanya Persekutuan, Karanganyar kini hampir mirip seperti ibukota, dan menjadi tempat lalu lintas utama bagi kelima negara anggota organisasi tersebut yang ingin pergi atau kembali dari dunia asal masing-masing. Banyak orang-orang Rusia dan Korea Utara kembali dari dunia lain menggunakan Gerbang tak sempurna yang terbuka di Area Terlarang, begitu pula dengan utusan Yekirnovo dan Arevelk yang datang dan kembali melalui Gerbang tak sempurna, karena di tempat itulah Penghubung berada.


Ya, secara umum, masyarakat pasti menganggap seluruh prajurit yang dikirimkan ke Dunia Baru berjuang di tengah medan perang dan menghadapi kemungkinan hidup dan mati yang dipisahkan oleh garis transparan. Sehingga…


“…Itu berarti tidak semua prajurit di sana menghadapi pertempuran,” kata Arunika dengan ekspresi gelap.


“Apa kau teringat dengan Nio yang selalu mengeluh, karena dia merasa seperti terlalu sering dilibatkan ke dalam misi yang membuat dia dan bawahannya terlibat dalam pertempuran kecil dan besar?” tanya Lisa.


“Ya. Aku merasa letnan satu muda yang mereka maksud adalah Nio itu sendiri. Kenapa mereka selalu melibatkan orang seperti dia di pertempuran yang memusingkan.”


Dengan kata lain, Arunika mungkin merasa Nio selalu melibatkan bawahannya ke dalam bahaya karena taktik yang dia buat. Meski dia tahu jika Nio memiliki potensi tersembunyi, dia tetap ragu jika dia jarang membuat bawahannya berada di pertempuran yang berbahaya karena taktik buatannya.


Di sisi lain, Arunika sendiri mengakui tetap tidak tahu apa yang dilakukan Nio di dunia lain, sehingga namanya sering disebut pada setiap berita yang disiarkan meski hanya berupa deskripsi ‘Letnan Satu yang memimpin tim kecil’. Secara otomatis Arunika dapat menebak jika letnan satu tersebut adalah Nio, karena pria tersebut pernah memberitahunya jika dia kini memimpin sebuah tim kecil.


“Kenapa aku sangat kangen dengan dia…” Lisa berkata seperti itu dengan wajah lemas, meski di balik ekspresi tersebut dia sangat ingin melihat wajah asli Nio daripada foto Nio di ponselnya.


“Hei, seharusnya aku yang berkata seperti itu,” ucap Arunika dengan wajah terkejut bercampur kesal.


“Apa yang kau katakan? Bukannya aku pernah mengatakan kalau kau dan Nio cuma pacaran? Jadi aku masih punya kesempatan, kan?”


Arunika mengerutkan kening hingga kedua alisnya turun dengan tajam dan membuat ekspresi marah, dan tahu jika ucapan Lisa sangat serius. Sementara itu, Lisa memasang tatapan menantang, dan senyum menyeringai ketika melihat wajah Arunika yang kesal dengan tantangan darinya. Mereka berdua terus bercanda sambil berjalan untuk mencari bangku taman yang cocok untuk mereka berdua bersantai setelah bekerja.


“Aku tidak tahu tujuan asli Nio menjadi tentara, kupikir dia benar-benar tidak cocok dengan pekerjaan itu. Dia hanya bisa berkelahi, sering mengeluh, walau dia cukup kuat dan pintar, kecuali dalam hal yang melibatkan hitung-hitungan,” Arunika berbicara seperti itu sambil menatap foto Nio yang dia jadikan latar belakang ponselnya.


“Aku juga merasa seperti itu. Tapi, bukannya kita bisa melihat dia mulai berubah setelah menjadi tentara? Dia menjadi sangat disiplin, dan tidak berani mengeluh secara terang-terangan, meski dia yang sekarang merokok sangat ku benci,” Lisa menggambarkan Nio yang sedang merokok di pikirannya.


“Benar, merokok dengan alasan meringankan beban pikiran dari beratnya pekerjaan yang terus bertambah tetap tidak bisa dimaafkan.”


“Yah, mau bagaimana lagi, dia sangat keras kepala.”


Mereka berdua menghela napas bersamaan, dan memejamkan mata untuk lebih menikmati angin sejuk yang berembus di antara pepohonan di taman ini. Mereka berpikir untuk membuat Nio kembali bersemangat dalam bekerja daripada menggunakan cara tidak sehat, seperti merokok.


Ketika merasakan angin sore yang sejuk berembus dengan lembut dan membuat rambut hitam panjang mereka berdua melambai dan membuat mereka merasa nyaman, Arunika dan Lisa sama-sama berpikir apakah Nio menikmati suasana menenangkan seperti yang mereka berdua rasakan saat ini.


“Apa dia sudah menambah cewek lagi di sana?”


Pertanyaan Arunika cukup untuk membuat Lisa terkejut hingga kedua matanya membulat, dan membuat perasaannya menjadi tidak nyaman. Menurutnya, Arunika telah menjadi saingan terberatnya untuk mendapatkan Nio, dan dia tidak bisa membayangkan adanya rintangan lain yang jauh lebih berat daripada Arunika dan gadis-gadis dari dunia lain yang dekat dengan Nio yang dia tahu.


“Bagaimana dengan kita kalau dia didekati cewek yang lebih muda, lebih mantap, dan sesuai dengan yang Nio inginkan, dan dia lebih memilih mereka?”


Perkataan Arunika selanjutnya membuat Lisa tidak dapat berpikir jernih, dan tatapan matanya seperti orang yang terkena serangan mental, meski dia sungguh tidak mengalami hal itu saat ini. Dia hanya tidak bisa membayangkan ketika Nio kembali, pria itu justru membawa puluhan gadis muda alih-alih buah tangan setelah bertugas dari dunia lain.


“Jangan berbicara seolah-olah hal itu benar-benar akan terjadi,” ucap Lisa dengan wajah memelas.

__ADS_1


“Itu hal yang perlu kita khawatirkan. Karena sudah ada beberapa perempuan dunia lain yang mendekati Nio, kan? Dua ratu adalah lawan yang seharusnya paling kita waspadai, Bu Lisa.”


“Bagaimana dengan jendral dan pengawal pribadi ratu, Bu Arunika?”


Arunika tidak dapat menjawab pertanyaan Lisa, dan berharap Nio tidak melupakan jika di Indonesia masih banyak gadis-gadis muda yang dapat menjadi lawan mudah bagi mereka. Menghadapi dua ratu, pengawal, dan jendral perempuan yang terlihat sangat dekat dengan Nio bukanlah hal yang dapat dipikirkan dengan ringan.


“Tapi, bukannya masih ada satu orang lagi?”


“Oh, ya. Si pelayan bertelinga kucing kan?”


Menurut mereka, pelayan bukanlah lawan yang membuat mereka kerepotan. Sayangnya, kecantikan yang dimiliki gadis bertelinga kucing yang menyatakan diri sebagai pelayang pribadi Nio adalah hal yang membuat Lisa dan Arunika hampir putus asa.


Tepatnya, kecantikan seluruh gadis dunia lain yang dekat dengan Nio cukup membuat mereka frustasi.


Beberapa saat kemudian, Arunika kembali mengerutkan kening, dan menatap dua orang berpakaian rapi dengan kacamata hitam sebagai aksesoris penambah kesangaran dua pria yang berdiri di depannya dan Lisa. Sayangnya, mereka berdua tidak cukup sangar dan gagah daripada Nio, itu menurut Arunika. Uniknya, tinggi badan kedua pria tersebut sama meski jelas-jelas lebih pendek dari Nio.


Sementara itu, Lisa tidak dapat berkutik ketika dua pria bertubuh besar berdiri di depan mereka dengan tiba-tiba. Biasanya, orang yang berpakaian rapi dan berpenampilan gagah adalah pengawal pribadi seseorang yang memiliki kedudukan tertentu di masyarakat, seperti orang kaya yang terpandang . Dia sama sekali tidak ingin terlibat di dalam masalah apapun, dan merasa tidak memiliki masalah dengan orang yang kedua pria tersebut layani.


Namun, Arunika yang terlihat tenang justru membuat Lisa semakin tertekan. Saat ini, dia menarik-narik lengan pakaian Arunika sebagai kode jika dia mengajak Arunika menyingkir dari hadapan kedua pria tersebut.


“Non Arunika. Ndoro Kakung ingin bertemu dengan Anda dan Mas Nio. Beliau sepertinya sudah tidak dapat membendung kerinduannya dengan kalian berdua.”


(olog note: ‘Ndoro Kakung’ berarti: tuan laki-laki yang sudah berusia lanjut)


“Wah, langsung to the point, ya?”


“Tentu saja, Non Arunika. Ndoro Kakung sangat sedih karena belum pernah melihat Mas Nio hingga sekarang. Bahkan kami juga tidak pernah mendengar jika Mas Nio termasuk keluarga Ndoro Kakung.”


“Yah, dia memang bukan berasal dari keluarga yang sama denganku, karena ibuku menikah lagi dengan ayah Nio. Aku juga tidak tahu apa dia sudah menganggap Mbah Kakung kakeknya atau belum. Atau mungkin dia belum tahu kalau dia termasuk kita.”


“Kalau begitu, itu masalah serius, ya?”


Di sisi lain, Lisa masih duduk mematung dan menatap dengan wajah bingung yang teramat ketika Arunika berbicara dengan sangat akrab dengan kedua pria tersebut. Sebelumnya, dia mengira jika kedua pria itu ingin membawa paksa Arunika ke seseorang yang menginginkan gadis itu. Namun, setelah Arunika menyebutkan kata ‘keluarga’, Lisa menyadari jika mereka berdua tidak memiliki maksud buruk, tapi Lisa menyadari jika Arunika menyembunyikan sesuatu dari Nio.


Sementara itu, Arunika sudah lama tidak mengunjungi rumah ayah dari ibunya yang merupakan salah satu orang terkenal di wilayah Soloraya. Karena Nio sempat mengalami hilang ingatan sementara, bisa saja Nio tidak mengingat keluarga ibu tirinya. Arunika tahu jika Nio hanya hidup bersama ayahnya cukup lama, sehingga hanya dekat dengan ayahnya daripada ibu tirinya.


Perasaan tertentu di hati Arunika – karena menyimpan rahasia terlalu banyak dari Nio – bercampur dengan perasaan cemas dengan Nio yang sedang bertugas di medan perang potensial di Dunia Baru, sehingga membuat gadis itu tidak nyaman dengan perasaannya sendiri.


“Non Arunika, sepertinya Anda sedang mencemaskan sesuatu, ya?”


“Yah, benar. Mbah Kakung untuk sementara ini belum bisa bertemu dengan Nio.”


Rasa penasaran seketika hinggap di perasaan kedua pria tersebut, sekaligus bangga karena tebakan Arunika yang mencemaskan sesuatu benar.


“Jadi, di mana Mas Nio sekarang? Kita bisa menjemputnya kalau dia masih berada di wilayah Jateng.”


“Lebih baik kalian antarkan aku ke rumah Mbah Kakung saja, aku akan menjelaskan tentang keadaan Nio setelah perang kepada beliau.”


Sesuatu yang membuat Lisa kembali bingung adalah tentang Arunika yang menerima ajakan kedua pria tersebut ke rumah seseorang yang gadis tersebut panggil dengan ‘Mbah Kakung’. Lisa merasa dirinya tetap harus memiliki pikiran positif, dan tidak menganggap ‘mbah kakung’ tersebut adalah ‘sugar daddy’ Arunika atau sesuatu yang membuat Nio berpotensi untuk dikhianati, meski itu dapat dimanfaatkan olehnya untuk mendapatkan Nio.


“Lisa, kau ikut kan?”


“Eh? Anu, ah, ya, ummm… kalau boleh.”


**


“Sial, padahal belum ada dua hari kita di sini. Tapi kenapa kita harus melakukan misi patroli di wilayah musuh? Bukannya itu melanggar aturan?”


“Bukannya membantah perintah atasan termasuk melanggar aturan? Sebagai kuda pekerja yang dibayar, sebaiknya kita melakukan tugas dengan sepenuh hati”


Letnan Nio hampir seperti sedang menasehati Hassan – yang lebih tua darinya ketika wakil-nya mengeluh dengan perintah pusat yang memerintahkan mereka untuk berpatroli di sekitar Benteng Girinhi hingga di sekitar wilayah musuh. Regu A dari Kompi Bantuan 002 adalah personel yang juga melaksanakan patroli selain Tim Ke-12.


Mendengarkan bawahannya mengeluh bukanlah hal yang Nio harapkan, dia baru akan merasa puas jika bawahannya berteriak bersemangat seperti saat hendak bertempur. Semua yang dilakukan bawahannya akan memengaruhi hasil evaluasi Nio terhadap mereka.


Disisi lain, Nio merasa Hassan sebagai wakil kapten-nya tidak terlalu buruk – untuk memengaruhi anggota yang lain untuk mengeluh dan semacamnya yang membuat Nio ingin berteriak sekarang.

__ADS_1


Tidak ada yang suka pengeluaran yang sia-sia. Kuda pekerja diharapkan bekerja dengan keras dan baik sesuai keinginan pemiliknya selaku pihak yang memberi makanan para kuda pekerja. Tentu saja para pemilik kuda-kuda pekerja tidak ingin kuda mereka malas, atau pengeluaran mereka akan sia-sia. Jika Nio menjelaskan konsep tersebut ke seluruh bawahannya, kemungkinan untuk mereka terus mengeluh akan berkurang karena mereka akan menyadari pemilik mereka adalah rakyat.


“Patroli adalah pekerjaan yang ringan dari sekian pekerjaan berat yang selalu kita lalui. Setidaknya tugas ini jauh lebih ringan daripada terlibat dalam pertempuran.”


“Bagus, Gita. Kasih tahu mereka kalau masih ada tugas selain patroli yang menanti kita.”


“Ehhhhhhhh……!!!!!????~”


Mereka berkeliling di hutan yang sangat luas dan membentang di wilayah Kerajaan Arevelk dan Kekaisaran Luan. Benteng Girinhi, atau jika diterjemahkan berarti benteng hijau adalah nama yang sesuai, karena letaknya dekat dengan hutan, meski terdapat area terbuka yang cukup luas untuk pertempuran terbuka.


Tembok tersebut mengelilingi area seluas dua puluh hektare, dan melindungi tempat tinggal prajurit dan desa-desa dalam wilayah Arevelk yang terdapat di sekitar benteng tersebut. Disebut sebagai titik terlemah yang dimiliki Kerajaan Arevelk, itu karena hutan-hutan lebat yang menutupi tembok setinggi sepuluh meter Benteng Girinhi cukup untuk menutupi pergerakan orang dalam jumlah besar.


Pakaian kamuflase hutan khas TNI mampu menutupi seluruh personel Tim Ke-12 dengan sangat baik, dan membuat prajurit Arevelk yang bertugas memantau pergerakan mereka menjadi sangat kesulitan hingga hampir frustasi.


Sambil mengawasi seluruh bawahannya dan terus bergerak jauh ke dalam hutan, Nio memutuskan untuk menghentikan langkah mereka.


“Bagaimana jika kita membagi diri menjadi dua grup, sehingga membuat jangkauan patroli lebih luas?”


“Saran yang bagus, Let. Itu membuat anggota tukang ngeluh berkurang,” ujaran Gita cukup membuat orang-orang yang mengeluh ketika melakukan misi patroli menjadi resah, terutama Nio.


Ketika membentuk Tim Ke-12, Nio langsung membagi tim-nya menjadi dua grup sehingga untuk situasi seperti saat ini dia tidak perlu membagi anggota setiap grup lagi. Meskipun itu adalah kedok asli Nio agar tugas patroli berakhir secepat mungkin, jika para anggota Tim Ke-12 mengetahuinya, mereka akan memiliki pandangan yang berbeda terhadap Nio. Meski begitu, mereka tetap mematuhi saran Nio.


Tidak perlu dikatakan lagi, meski mereka merupakan bantuan yang telah dianggap cukup tangguh, namun anggota Tim Ke-12 berisi remaja berusia di bawah tiga puluh tahun yang masih labil.


“Tuan, apa kau tidak merasakan sesuatu?”


“Aku hanya merasa jika udara sangat sejuk dan menenangkan, Edera.”


Edera dan Hevaz selalu berjalan di samping kanan dan kiri Nio sejak tugas patroli diberikan, dan membuat beberapa gadis yang berada di grup A yang dipimpin Nio gelisah. Beberapa kali telinga kucing Edera bergerak-gerak dan hidungnya terlihat sedang mengendus sesuatu.


Sementara itu, Nio merasa Edera ingin memberitahunya tentang sesuatu yang mendekat ke arah tim-nya dan mungkin juga ke Regu A Kompi Bantuan 002. Namun, dirinya lebih memilih memasang wajah santai, dan berharap Edera dan Hevaz tidak berbicara tentang sesuatu yang akan membuatnya tidak memiliki niat melanjutkan tugas kembali, misalnya seperti kedatangan musuh yang berpotensi menyebabkan kontak senjata.


Masalah yang mungkin akan dihadapi nanti adalah pemberontakan bersenjata yang akan dilakukan oleh fraksi yang tidak ingin Arevelk bekerja sama dengan ‘dunia lain’. Tentu saja Nio khawatir jika hal itu akan dimanfaatkan oleh Aliansi, lalu benar-benar menyerang Benteng Girinhi dengan kerjasama bersama pemberontak.


Tentu saja jika Nio tidak ingin tim-nya terlibat di dalam masalah internal dan eksternal sekutu Indonesia di dunia ini, maka dapat dipastikan karir militernya akan berakhir. Di sisi lain, Nio tidak dapat membayangkan ekspresi Sigiz jika saja gadis itu mengetahui adanya pihak yang membuat militer di negaranya terbelah menjadi dua fraksi, yakni fraksi yang mendukung bersekutu bersama Indonesia dan fraksi yang menentangnya.


Persekutuan bertaruh pada pertempuran kilat dan mengakhiri suatu pertarungan dengan cepat, sehingga penting bagi unit khusus terlibat di dalamnya. Itu membuat Nio berpikir para perwira Pasukan Perdamaian menginginkan kemenangan yang buruk. Dengan kata lain, mereka hanya menginginkan hasil yang memuaskan dan dapat disiarkan di saluran berita Indonesia, Rusia, dan Korea Utara untuk membuat rakyat percaya jika mereka bekerja dengan efisien di dunia ini.


Nio menyadari para perwira menengah dan tinggi mungkin akan menggunakan taktik yang dia namakan ‘Ala Amerika’, yakni menghujani musuh dengan amunisi dan peluru dalam jumlah besar tanpa henti hingga musuh menyerah atau mengakui kekalahan, daripada menggunakan taktik gerilya yang mampu meruntuhkan moral musuh dengan konsumsi amunisi cukup kecil. Intinya, mereka tidak memandang taktik apa yang digunakan selama itu dapat membuat pasukan meraih kemenangan.


Pada kenyataannya, Nio tidak memiliki perasaan apapun pada perang, apalagi perasaan cinta terhadap tragedi tersebut. Jadi, dia merasa hanya harus melakukan segalanya dengan kekuatannya dalam setiap pertarungan agar tidak membebani orang lain.


Bagaimanapun, kegagalan tidak akan ditoleransi sedikitpun, dan itu yang Nio sadari ketika memutuskan mejadi pasukan elit TRIP, yakni Pasukan Pelajar Khusus. Untuk menghindari kekalahan yang menyebabkan kehancuran tim, Nio harus menyusun taktik jika mereka dihadapkan dalam pertempuran.


“Hutan ini cukup menguntungkan bagi kita kan?”


“Sepertinya kau dapat membaca pikiranku, Hendra.”


“Saya pikir para atasan mengirimkan kita ke tempat berhutan seperti ini agar kita bertugas sesuai keahlian kita.”


“Pertempuran senyap dan membunuh dengan cepat, begitu kan maksudmu, Let?”


Beberapa bawahannya ternyata mampu menilai keuntungan daripada sering mengeluh, seperti yang dia lakukan beberapa saat lalu.


Mereka mungkin telah memahami apa yang diminta perwira atasan terhadap mereka, jadi Nio merasa dirinya tidak perlu terlalu khawatir.


“Tuan, saya merasa ada sekelompok orang bergerak ke arah kita.”


“Apa mereka musuh, Hevaz?”


“Maaf, belum dapat saya pastikan apa orang-orang yang mendekat itu musuh atau bukan. Namun, jumlah mereka ada puluhan, lebih baik kita mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.”


“Pertempuran, kan?”


**

__ADS_1



(cocok gak nih buat seragam tempur baru Pasukan Perdamaian?)


__ADS_2