Prajurit SMA

Prajurit SMA
108. Potongan tangan


__ADS_3

Tubuh pasukan Kekaisaran dan pembela kota mengotori tanah di kedua sisi tembok, tanah dicat merah dengan darah kering.


Orang-orang yang masih memiliki kekuatan bergegas untuk bolak-balik memadamkan api. Kobaran kecil bisa dipadamkan dengan air, tetapi bangunan yang terbakar terpaksa harus dibiarkan.


Para wanita berusaha membantu yang terluka sedang dan kritis, sementara anak-anak mengumpulkan anak panah dan senjata yang berserakan.


Orang-orang yang terluka ringan menguburkan yang mati, menggunakan cangkul untuk menggali tanah di pinggiran kota. Biasanya akan ada upacara untuk melepas kepergian orang yang mati, tetapi ada banyak mayat, jadi terpaksa mereka harus menguburkannya dalam kuburan masal. Tubuh pasukan Kekaisaran dibuang begitu saja di tanah lapang agar dimakan burung pemakan bangkai atau wyvern liar.


Keamanan duta besar diutamakan, beruntung pertempuran tidak terjadi di istana tempat duta besar berada. Memang, pasukan Kekaisaran telah dipukul mundur oleh 1.000 kesatria milik Sheyn, dan warga kota senang telah menang dan selamat.


Sheyn mati-matian untuk menggunakan otaknya dan mencari alasan mengapa Kekaisaran menyukai hal yang bernama ‘perang’.


**


Sekelompok penunggang kuda melaju menuju ibukota negara baru yang sebentar lagi akan memiliki nama resminya.


Tangan mereka menggenggam tombak berhias bendera berlambang mawar hitam pada bagian tengahnya, kemudian mawar merah, putih dan kuning. Suara derap langkah kaki terdengar dari sepatu kuda perang mereka.


Pelindung dada dan helm mereka yang dipoles memantulkan cahaya emas dan perak, dan bendera yang terikat pada tombak yang terangkat melambai ketika pasukan pasukan ini melaju dengan kecepatan tertinggi yang bisa para kuda lakukan.


Kesatria yang memimpin mereka sangat penting, dan terkuat kedua setelah Sheyn.


Dia adalah kesatria perempuan berzirah mewah yang rambut kepirangannya bergoyang tertiup angin. Dia mencambuk kudanya berkali-kali. Tunggangannya membungkam rasa sakit dan berlari kencang kedepan sebagai respon.


“Mawar Kuning, kamu terlalu cepat!”


Yang berbicara tadi adalah kesatria berambut keperakan, atau dipanggil dengan Mawar Putih. Kesatria perempuan ini menyusul si Mawar Kuning yang melaju lebih cepat darinya.


Di belakang mereka ada sekelompok pejuang berkuda, yang akan menyusul rekan-rekan mereka yang sudah terlebih dulu tiba di tempat diselenggarakannya acara.


“Kita sudah terlambat, Mawar Putih!”


“Pasukan tidak akan bisa menyamai kecepatanmu kalau seperti ini.”


“Tidak masalah, waktu adalah hal paling penting sekarang.”


Hanya itu yang bisa Mawar Kuning katakan untuk menekan kegelisahan di hatinya. Dia memerintahkan kudanya untuk memfokuskan energinya pada jalan yang terus membentang di depannya, dan istana yang menjadi tempat diselenggarakannya acara mulai terlihat sebagai sebuah titik kecil.


Tapi, sesuatu seperti gerobak telah mereka dekati.


Lima gerobak berwarna hijau melaju dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari pada kuda. Dari kejauhan mereka tidak bisa tahu persis apa itu, tapi tampaknya semacam kereta.


Kedua komandan pasukan ini mengangkat tangan sebagai kode kepada pasukannya agar berhenti, dan kedua Mawar ini memerintahkan kuda mereka untuk berjalan.


Para kesatria di belakang mereka terlihat lega, karena mereka memiliki kesempatan untuk memberikan tunggangan waktu beristirahat. Minum air adalah hal yang paling melegakan setelah perjalanan jauh, itu berlaku bagi manusia dan hewan.


“Ah! Menyebalkan! Minta mereka menyingkir!”


“Mereka juga akan menuju istana, apa mereka pasukan hijau yang menguasai Gerbang?”


Dengan begitu, kedua Mawar perlahan memerintahkan kuda mereka berjalan ke depan.


Nio menghubungi anggota Regunya melalui komunikasi nirkabel, dan mereka sudah menyiapkan senapan sebagai sikap siaga. Nio memerintahkan mereka untuk menahan tembakan agar tidak terjadi hal yang diinginkan, karena jumlah pasukan perempuan ini sekitar 500 orang.


Mawar Kuning mendekati Nio sebelum berbicara, dia menatap pemuda ini seakan-akan dia pria yang idiot.


“Kemana kalian akan pergi?”


“Ke istana Yang Mulia Sheyn.”


Ketika mendengar jawaban Nio, Mawar Kuning berteriak, “Apa yang kau bilang!?”


Mereka hanyalah pasukan yang ingin menyusul rekan mereka untuk menghadiri undangan. Selain itu, mereka memiliki gerobak yang bisa bergerak tanpa ditarik oleh kuda, dan mereka membawa pedang kecil di punggung.


Nio menyadari jika mereka bukanlah sekelompok perempuan yang sedang bermain tentara-tentaraan, tetapi kelompok militer yang terlatih secara profesional. Dan pasukan ini telah membentuk barisan pertahanan.


Anggota Regu penjelajah 1 mengambil sikap menyerang dengan senapan mereka, dan Chandra menyiapkan senapan mesin berat ke arah mereka, dengan dentingan logam dari pengaman senapan mesin.


Mawar Kuning menyambar pipi Nio dan menekannya dengan sangat kuat, tapi Nio bisa melepaskan diri dan membuka pintu kendaraan taktis pengangkut untuk menemui perempuan ini.


Kemudian dia memanggil Mawar Kuning dalam bahasa setempat.


Namun, perempuan itu menjadi marah karena nada santai dari kata-kata itu.


Nio tiba-tiba merasa mereka menatapnya seperti penjahat, dan dengan santai berkata, “Tenang, ayo bicarakan ini.”


Mawar Putih mengarahkan pedangnya pada ujung jakun Nio, dan menyuruh Nio untuk menyerah.


Pasukan ini tidak akan merasa puas sebelum melucuti dan menyiksa kelompok misterius ini.


Mereka tidak tahu mengapa ada pasukan hijau di sini, tetapi pemimpin pasukan ini tidak akan mengambil resiko. Tapi, Nio terus berbicara, “Tenang lah, Nona. Ayo kita bicara dengan baik-baik.”


“Tutup mulutmu!” Mawar Kuning membentak dan menampar Nio dengan tangannya yang dilinduingi dengan sarung tangan logam.


Regu penjelajah 1 sudah dipenuhi dengan niat membunuh ketika melihat ini, tapi Nio berteriak untuk mencoba menghentikan mereka, “Kabur! Sekarang! Kalian semua Kaburlah!”


Deru suara mesin kendaraan lapis baja ini menyebabkan kuda-kuda para kesatria panik, dan Regu penjelajah 1 mundur. Karena mereka melaju begitu cepat, para kesatria tidak bisa mengejar mereka.


Dan Nio ditinggal sendirian di tengah ratusan kesatria perempuan.


**


Ini sudah malam, dan upacara sebentar lagi akan dimulai. Tetapi, Nio dan anggota Regunya belum juga tiba di istana, dimana Radit dan Regu penjelajah 32 sudah menunggu.


Sementara itu, para kesatria mencapai istana dengan perasaan lega setelah melihat upacara dapat diselenggarakan dengan damai, tanpa gangguan dari Kekaisaran dan pasukan hijau. Namun, saat melihat 32 prajurit hijau dan seseorang yang mengenakan pakaian ‘aneh’ berada di dekat Sheyn, mereka seketika menarik pedang, seperti yang dilakukan saat menghadang laju Regu penjelajah 1.


Dengan tindakan mereka ini, mereka berharap jika Sheyn dan panglima Ragh akan memuji sikap mereka terhadap ‘musuh’ ini.


Si Mawar Kuning mengatakan jika dia berhasil membawa salah satu dari pasukan hijau yang sama dengan pengawal orang berpakaian aneh itu, dan dia berpikir akan mendapatkan pujian atas perbuatannya ini.


Tapi, Nio diseret dengan tali yang diikat pada pelana kuda, seragamnya sobek di sana sini, dengan wajah yang hampir tidak dikenali. Alias, Nio dikeroyok oleh ratusan kesatria perempuan ini saat sedang dalam perjalanan.


Nio berbaring di samping singgasana, bersama anggota medis Regu penjelajah 32 yang berusaha mengobatinya. Tubuh pemuda ini tanpa kekuatan, karena dihajar ratusan perempuan berpakaian logam.


Para bangsawan dan Ragh menggoyangkan tubuh Nio sambil berteriak, “Tuan Nio! Tuan Nio!”. Tetapi disekujur tubuh Nio dipenuhi dengan luka memar dan lecet, sehingga secara fisik dan mentalnya sudah berkurang, hingga dia tidak bisa merespon panggilan yang ia terima.


Tidak sulit mambayangkan apa yang kesatrianya lakukan pada Nio, yang pasti seluruh hadirin melihat tangan Nio terikat di sebuah tali dan diseret menggunakan kuda yang melaju dengan kecepatan sedang.


“Apa yang kau lakukan pada Tuan Nio!?”


“Kami membawanya ke sini seperti halnya tahanan biasa.”

__ADS_1


Cara memperlakukan tahanan, yang para kesatria dan prajurit lakukan, biasanya akan menyeret tahanan di belakang kuda, dan ketika tahanan itu pingsan karena kelelahan, dia akan ditusuk dengan tombak atau dicambuk dengan cambuk logam, dan memaksa tahanan untuk bangkit dan kembali berjalan. Bahkan jika tahanan masih bisa berdiri, dia sudah menerima tinju dan tendangan dari tangan dan kaki yang dilapisi sepatu dan sarung tangan logam. Dengan cara ini, para tahanan akan kehilangan kemauan dan kekuatan untuk melawan dan melarikan diri, itu juga merupakan bagian dari proses menghancurkan mental tahanan sebelum menjadikannya sebagai budak.


“Ini buruk, benar-benar buruk.”


Tapi, itu bukanlah masalah bagi kedua Regu penjelajah dan Radit. Karena prajurit yang mereka perlakukan secara brutal adalah anggota pasukan khusus yang pastinya sudah melewati hal yang jauh lebih buruk dari hanya sekedar dikeroyok ratusan kesatria perempuan.


Tapi, bagaimana pun, para kesatrianya telah melukai salah satu prajurit dari pasukan yang bisa membunuh dua raja naga api.


Dengan tenang, Radit berbicara pada Sheyn, “Jangan terlalu dipikirkan, Yang Mulia. Nio tidak akan semudah itu dikalahkan.”


“Apa maksud anda, Tuan Radit? Apa dia kesatria yang sangat kuat.”


Radit tidak bisa membeberkan identitas asli Nio, karena itu memang pelanggaran jika disebarkan kepada pihak asing.


Mawar Putih dan Mawar Kuning sebelumnya mentertawakan bawahan Nio yang lari, dan bukannya mencoba menyelamatkannya. Namun, mereka sekarang tahu mengapa mereka memilih untuk tidak membalas, tapi memilih mundur.


Udara menjadi dingin, dan wajah para bangsawan menjadi pucat setelah melihat Nio diseret ke kamar perawatan untuk mendapatkan pertolongan pertama.


Lalu, Sheyn berkata, “Yah, situasinya tergantung pada keputusan Tuan Nio.”


Dengan kata lain, dia memberitahu semua wanita yang hadir untuk ‘menyenangkan’ Nio dengan segala cara.”


**


Mawar Kuning dan Mawar Putih sudah merasakan murka sang Mawar Hitam, Sheyn. Sedangkan Mawar Merah hanya bisa tertunduk lesu dan berdoa agar rekan-rekannya mendapat pengampunan dari Nio.


Lalu, dipinggir kompleks istana, Regu penjelajah 1 bersembunyi tanpa komandan mereka.


Seluruh prajurit bergidik dengan perlakuan yang Nio terima saat dirinya ditinggal sendirian. Mereka telah menyaksikan Nio diseret dan dipukuli oleh para kesatria, sehingga kemungkinan Nio untuk hidup mereka perkirakan sangat kecil.


“Dia tidak akan mati semudah itu kok.”


Liben mengangguk sebagai tanda persetujuan atas perkataan Chandra. Tapi itu membuat seluruh anggota kebingungan.


“Maksudku, dia anggota Pasukan Pelajar Khusus.”


“Siapa dia?” terlihat dari wajah Dinda ekspresi ketidakpercayaan.


“Siapa lagi selain Peltu Nio.”


“Jangan bicara omong kosong sekarang.”


Liben kemudian menyela, “Itu serius.”


Hampir seluruh anggota Regu penjelajah 1 yang mengidam-idamkan lencana PPK merasakan mimpi mereka ternoda saat itu juga.


Bagaimanapun, kesan semua orang terhadap Nio adalah dia seorang prajurit yang hanya bisa bersikap tenang, dan pengambil keputusan yang hebat, dan penemu penyelesaian masalah dengan mudah dari masalah yang rumit.


Intinya, dari tampang Nio memang cocok menjadi anggota pasukan khusus, tapi untuk beberapa hal dia masih terlihat seperti remaja biasa.


**


“Brengsek! Kenapa dia selalu beruntung!”


Pintu tempat Nio dirawat terbuka, dan memperlihatkan puluhan prajurit dengan wajah yang sudah dicat loreng.


Dan orang yang berkata kasar seperti itu adalah Chandra, karena Liben sudah memiliki Ivy.


Nio tahu Chandra marah karena saat ini dia dikeliling puluhan pelayan cantik dan memiliki tubuh bagus. Nio diijinkan untuk memakai pelayan itu sesukanya.


Lagipula, tipe perempuan yang diinginkan Chandra tersedia di depannya. Tidak peduli apa tatapan seluruh anggota Regu penjelajah 1 padanya, Chandra mengalami kesulitan untuk memilih salah satu dari 10 pelayan yang dikenalkan Nio padanya.


Chandra hanya menyeringai konyol, dan mencoba berpikir matang-matang, karena dia, Chandra, bukanlah Nio yang mudah didekati para perempuan.


Tipe perempuan Chandra mungkin hampir sama dengan Nio, yakni yang sedikit lebih tua atau mbak-mbak. Saat melihat pelayan idamannya merawat Nio, Chandra tidak bisa menahan diri untuk mengutuk Nio.


“Cepatlah menyingkir dari incaranku, atau aku akan menembak bokongmu!” begitulah gerutu Chandra terhadap Nio.


Nio menyeringai ketika dia mendengar gerutuan Chandra, dan memutuskan berbicara, "Hei, Chandra, nona muda ini juga ingin berkenalan denganmu, kuharap kalian akur.”


Sama seperti yang dilakukan Chandra dan pelayan, yang lainnya juga bergaul dengan pasukan Regu penjelajah 1 dan 32.


**


Saat kembali ke benteng, wajah Nio yang babak belur menjadi bahan tertawaan para perwira.


“Nio, apa kau berkelahi lagi dengan si panglima?”


“Kali ini siapa yang menantangmu? Jangan katakan kau kalah dengan mereka.”


“Diamlah! Aku dikeroyok 500 orang tahu!”


Jika ada orang yang membuatnya kesal, baik itu lebih tua atau muda darinya, Nio akan bersikap arogan terhadap pihak yang sudah membuatnya kehabisan kesabaran.


Setelah pekerjaan hari ini selesai, bendera diturunkan, dan suara terompet dibunyikan untuk mengatakan kepada Pasukan Ekspedisi untuk menghentikan apa pun yang mereka lakukan, kecuali buang air.


Siapapun yang bisa melihat bendera, harus memberi hormat, tanpa memperhatikan di mana mereka berada. Setelah bendera diturunkan, mereka dapat kembali ke kegiatan masing-masing.


Pada saat ini, para prajurit akan mendatangi pemandian untuk mandi, atau pergi ke ke kantin untuk makan. Sebagian prajurit memilih memoles sepatu mereka, mencuci dan menyeterika pakaian mereka, memperbaiki lubang di seragam mereka atau membaca buku dan sebagainya untuk menghabiskan waktu.


Pada dasarnya, mereka bebas melakukan apa pun yang mereka inginkan sampai lampu dimatikan.


Nio menuju kantin, setelah merawat lukanya di pusat kesehatan prajurit.


Dia hanya pergi dua hari, tapi kamp pengungsian hampir sama ramainya dengan alun-alun Karanganyar ketika malam hari.


Ketika Nio memasuki kedai atau kantin, penduduk yang lain menyambut Nio dan memberitahu teman mereka mengenai Nio.


“Selamat datang, bos Nio!”


Meski para pekerja kantin adalah orang bertampang sangar, tapi mereka cukup humoris, membuat suasana hidup di sini lebih ramah.


Di tempat duduknya, Nio memperhatikan jika Edera selalu mengawasinya, tapi tidak bergabung dengannya untuk makan malam.


Baik Nio dan Edera tidak saling membenci. Tidak, sebenarnya mereka saling menyukai, ya, saling menyukai.


Edera cantik, dia tidak perlu riasan wajah untuk menjadi menarik. Wajahnya cantik, rambutnya kemerahan, kulitnya halus dan lembut, dan tubuhnya ramping. Mata kucingnya memiliki pesona misterius yang tidak bisa ditahan Nio.


Namun, Nio merasa ada dinding yang tidak bisa diatasi olehnya, jadi dia tidak bisa mendekati dan berbicara begitu saja dengan Edera.


**

__ADS_1


Di ruangan yang merupakan tempat tinggal Edera.


Edera terlihat berlutut di depan patung kecil yang merupakan bentuk dari dewa perang, pengorbanan, dan dewa pembalasan. Meja kecil di kamarnya telah diubah menjadi altar kecil milik Edera.


Gadis ini mengenakan pakaian perangnya, lengkap dengan pedang besi yang panjang.


Wajahnya yang cantik, kini dihiasi dengan rajah yang terbuat dari cat berbahan alami berwarna merah.


“Bebaskan aku dari ketakutan, dari belas kasihan, dari kebingungan. Tapi jangan hindarkan aku dari cinta. Tubuh ini, dengan pedang ini, akan mencabut nyawa musuh.”


Itu adalah doa pejuang suku asal Edera.


Suatu ketika, suku asal Edera memiliki wilayah kecil di dataran utara Kekaisaran.


Menurut catatan, suku asal Edera adalah sekumpulan Demihuman setengah kucing yang kejam dan penuh nafsu membunuh. Namun, itu catatan manusia yang ketakutan terhadap mereka. Suku ini adalah suku yang subur, tetapi mereka menghasilkan sedikit pria. Dengan demikian, pria dalam suku ini langka.


Karena mereka hanya memiliki sedikit pria, perempuan akan bersetubuh dengan pria dari suku Demihuman maupun manusia biasa untuk mendapatkan keturunan. Karena mereka tidak memiliki konsep suami-istri, mereka akan tidur dengan siapapun yang mereka sukai.


Namun,suku asal Edera dihancurkan ketika Kekaisaran menyerang mereka.


Yang terakhir dari suku tersebut yang masih bisa dilawan, dibunuh setelah ‘dipermainkan’. Setelah itu, sebagian dari mereka yang tidak melawan, akan dijual ke pasar budak, seperti sayuran.


Tentu saja tidak semua orang ditangkap. Beberapa dari mereka berhasil melarikan diri. Namun, kehidupan dalam pelarian jauh lebih sulit daripada menjadi budak.


Mereka meninggalkan rumah dan menyebar ke segala arah untuk menghindari penangkapan. Bertahan dari hari ke hari sangat menguras kekuatan mereka. Mereka mencuri dan menjual tubuh hanya untuk mendapatkan makanan yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup. Beberapa dari mereka memilih untuk memotong telinga dan menyerah daripada menjalani kehidupan yang menyedihkan.


Tekad mereka mudah goyah, termasuk Edera yang masih terikat dengan ‘suku asalnya’.


Daripada menjalani hidup yang menyedihkan untuk mempertahankan martabat yang kecil, mereka memilih menjadi budak yang memiliki kehidupan yang pasti.


Apa yang Edera terima adalah kamp pengungsian yang ramai, dan berada di dekat benteng pasukan hijau yang brutal dalam berperang. Dia memperlakukan tempat ini sebagai rumah kedua.


**


Nio melihat Radit pergi setelah menemaninya menjenguk 50 korban yang diculik Kekaisaran.


Nio kembali ke barak untuk berkomunikasi dengan kakaknya dan teman-temannya, dan mempersiapkan diri untuk tugas ekstra dari Jendral.


Wajah Nio rasanya seperti dipelintir, dan beberapa luka lecet masih belum mengering.


Sementara para bawahannya masih melakukan kegiatan masing-masing, Nio masih harus menemui Komandan Grup Tempur 1 untuk misi pengawalan besok, karena duta besar untuk Kerajaan Arevelk akan dikirimkan ke sana.


Serta, terlihat beberapa perwira yang meminta bantuan Nio untuk mengurus kedatangan pasukan tambahan yang akan tiba setelah tahun baru. Nio harus menuntut kenaikan gaji karena pekerjaan yang terus bertambah, itu yang dia pikirkan.


Nio adalah salah satu prajurit yang pekerjaannya masih belum selesai pada jam selarut ini.


Kantin tidak menyediakan mi instan yang berharga murah, jika Nio terus membeli makanan yang memiliki harga diatas 20.000 rupiah, dia tidak akan bisa menabung untuk masa depannya. Dia juga tidak bisa meminta makanan pusat perawatan, karena makanan rumah sakit pasti rasanya tidak enak.


Pusat perawatan prajurit dirancang untuk menampung 100 orang, dan sekarang masih dihuni oleh korban penculikan yang sebentar lagi akan dikembalikan ke keluarga masing-masing. Salah satu anggota Regu penjelajah 1 adalah pembantu pada unit ini.


Ada bangku yang di dekat pintu masuk pemeriksaan, dan seorang pria duduk disitu.


Radit belum kembali ke tempat tinggalnya di sini.


Dia tidak bisa merokok di ruangan yang seluas kamar biasa, dia juga ingin seseorang menemaninya merokok.


“Oh, Nio ya,” Radit berbicara seperti itu sambil menyodorkan sekotak rokok kepada Nio.


Nio bukanlah prokok aktif, jika beruntung, dia akan merokok satu minggu sekali. Paling sering dia menggunakan rokok elektrik daripada rokok tembakau, tapi kedua jenis rokok tersebut sama-sama memiliki kenikmatan masing-masing.


Rokok juga bisa digunakan untuk mengurangi stres yang menumpuk, jika dikonsumsi dalam batas wajar.


Dengan menggunakan korek gas milik Radit, Nio menghisap rokok pemberian duta besar ini setelah dinyalakan. Sebelum kedatangan Nio, Radit merokok dalam keadaan kesepian.


Mereka berdua sama-sama memiliki beban kerja yang membuat mereka ingin membenturkan kepala ke tembok. Merokok adalah salah satu cara bagi mereka untuk mengurangi stres dan lelah setelah bekerja.


Lalu, tiba-tiba Radit menahan tawa hingga ludahnya menyembur keluar. Tanpa bertanya Nio bisa tahu apa yang ditertawakan si duta besar.


“Aku terkejut, anggota pasukan khusus sepertimu masih bisa hidup setelah dikeroyok 500 orang.”


“Jangan ungkit itu lagi, kumohon.”


Saat mengingat kejadian itu, tulang-tulang Nio langsung linu dan tidak ingin berurusan dengan para kesatria milik Sheyn itu lagi.


“Rasanya aku bisa hampir mati saat itu.”


Nio mencoba memikirkan cara dia akan mati jika terus menjadi prajurit dan perang ini tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Sementara Radit, dia mencoba menyemangati Nio agar bisa melalui semua pekerjaan yang sama menguras mentalnya saat menjadi siswa pasukan khusus.


“Aku mengharapkanmu mati, Nio. Kalau kamu tidak menginginkannya, aku siap mengejarmu dan membunuhmu.”


Seorang Demihuman setengah kucing berdiri di depan mereka berdua. Dia mengenakan penyamaran yang bisa menggetarkan hati lawannya, tapi tidak mempan jika dengan Nio.


“Siapa!”


Nio mengeluarkan pistolnya, dan mengarahkannya ke arah kepala gadis kucing ini.


Nio merasa jika suara dan tatapan gadis kucing ini hampir sama dengan Edera, tapi dia masih belum begitu yakin.


“Siapa yang memerintahkan mu!?”


“Kepala suku.”


Nio berdiri di depan Radit yang gemetar setelah melihat ada seseorang yang menyerupai pembunuh bayaran.


“Kau adalah ancaman, Nio.”


“Untuk beberapa hal, kau terlihat mirip dengan Edera. Atau mungkin kau itu memang Edera?”


Gadis ini bergerak dengan cepat setelah Nio menyebutkan nama seseorang.


Nio mengarahkan pistolnya ke gadis ini, dan menarik pelatuknya hingga setengah pelurunya habis dengan tanpa ragu-ragu. Namun, gerakan gadis ini jauh lebih cepat dari apa yang dipikirkan Nio. Gadis kucing ini berjungkir balik di udara dan menghindari peluru Nio, lalu mengayunkan pedangnya ke arah lengan Nio yang menggenggam pistol.


Nio menghindari tebasan itu karena kebetulan belaka, dan dia terus mencoba melindungi Radit yang mungkin menjadi target pembunuhan juga.


Ujung pedang yang sangat tajam menggores dahi Nio, lalu dia mengarahkan tendangan ke gadis kucing yang meringkuk. Lapisan logam di sepatunya bisa digunakan sebagai senjata mematikan. Namun, gadis kucing kembali melompat kebelakang.


Nio tahu dia tidak akan sempat menghajar atau semacamnya, dia akan tetap menembak.


Gadis kucing melesat maju secara cepat ke arah Nio yang dibelakangnya ada Radit.


Karena gadis kucing menyerang dari bawah, Nio tidak bisa bereaksi dengan cepat. Lengannya tertusuk pedang hingga menembus, membuat Nio merasa jika tangannya terbakar.

__ADS_1


Namun, setelah itu Radit melihat darah keluar dengan deras seperti dari kran air dari tangan kanan Nio yang terpotong. Itu adalah serangan yang sangat cepat, hingga Nio tak sadar jika tangan kanannya sudah tergeletak di lantai. Dia hanya bisa berkata, “Eh," saat melihat potongan tangannya sendiri di lantai.


Tanpa tahu sasaran yang dia tembak, Nio menembakkan pistolnya hingga peluru di magasinnya habis, hingga dia benar-benar pingsan dan tergeletak di kubangan darahnya sendiri.


__ADS_2