Prajurit SMA

Prajurit SMA
Selamat menempuh kehidupan baru


__ADS_3

Beberapa menit setelah helikopter terbang, muncul gerimis dan tiba-tiba semakin deras. Hujan deras turun di luar. Tidak ada ekspresi gugup di wajah Nio, namun Zefanya dengan tatapan mata gelisah berulang kali menatap ekspresi Nio. Di dalam helikopter, suasana sunyi lebih mengganggu dibanding hujan deras dengan langit gelap di luar.


Di bawah helikopter merupakan area tujuan, bekas pabrik gula Colomadu yang hancur setelah perang. Reruntuhan bangunan yang jauh dari pemukiman utama dapat menjadi persembunyian yang aman bagi kelompok preman yang dipersenjatai pihak tertentu. Nio memutuskan berdiri, dan berjalan ke pintu samping. Karena Zefanya tidak menyukai pertempuran kota, dimana banyak bangunan tinggi tempat penembak runduk dan jitu, serta operator misil anti-personel bertebaran. Dia merasa ‘target’ Nio memiliki kemampuan semacam itu.


Nio menatap titik lokasi yang dikirim Sonia padanya. Namun, karena titik dikirim beberapa menit yang lalu, terdapat kemungkinan bahwa target sudah pindah dari posisi mereka sebelumnya.


Saat helikopter mendekati bangunan bekas pabrik gula, Nio melihat radar berbasis darat kecil. Seharusnya Kompi 406-32 memiliki akses atas radar itu, namun mereka menyatakan tidak menemukan target seperti yang Nio maksud. Bahkan, jika Kompi 406-32 mau, mereka dapat mendeteksi target personel dari jarak 200 kilometer.Namun, target layaknya pesawat berkemampuan siluman.


“Untuk apa drone itu di sini?” tanya pilot helikopter.


Nio melihat benda terbang di depan helikopter yang ditunjuk pilot. Dia menyipitkan mata kirinya, dan mengeluarkan kepalanya setelah membuka sedikit pintu samping. Sekitar sepuluh meter di depan, Nio melihat benda dengan empat baling-baling dan sesuatu berbentuk segitiga di atasnya, seperti sistem radar pada pesawat peringatan dini.


“Drone khusus…” Nio berusaha mengingat nama perangkat tanpa awak yang digunakan militer untuk mendeteksi target dari jarak jauh atau mengacaukan sinyal radio dan radar. “Sial, mereka ternyata menggunakan alat penghancur sinyal radar. Sebaiknya kita kejar benda itu.”


“Kau tahu apa itu?” tanya pilot.


“Ya,” jawab Nio. “Seharusnya benda itu digunakan mendeteksi pesawat atau drone musuh. Tapi, benda segitiga di atasnya dapat berfungsi mengacaukan kemampuan radar. Itu sebabnya kami tidak mendapatkan lokasi terkini dari target.”


Bagaimanapun, Nio tahu mengapa Kompi 406-32 tidak dapat menerima pesan dari radar.


Target mungkin menggunakan pesawat tanpa awak untuk mengawasi daerah sekitar, dan menghalangi pihak yang memiliki niat memburu mereka seperti Nio. Dapat mengacaukan kemampuan radar, mereka cukup cerdas bagi sekelompok orang yang bekerja untuk pihak yang telah ditandai dalam ‘daftar pencarian khusus’. Jika tertangkap, Nio yakin pihak yang melindungi Desa Bacem dapat dihukum seperti pengkhianat.


“Apa yang akan kita lakukan?” kata pilot dengan ragu-ragu.


“Turunkan ketinggian, dan kurangi sedikit kecepatan untuk mengikuti benda itu,” jawab Nio.


Sesaat setelah mendengar pilot melakukan saran Nio, Zefanya mendengar suara pintu samping terbuka keras saat helikopter terbang ke samping dan menurunkan ketinggian. Air hujan yang masuk membuat wajahnya basah dan tidak nyaman. “Apa yang terjadi?” tanya Zefanya, namun tidak ada Nio di dalam kabin yang membuatnya terkejut.


“Pintu samping dibuka paksa, Lettu Nio yang melakukannya,” jawab pilot.


“Nio? Apa kita sudah sampai di tujuan? Apa yang dia coba lakukan?” saat Zefanya bertanya-tanya di dalam hati, dia tiba-tiba perasaannya menjadi tidak nyaman, dan wajahnya memucat. “Tunggu, Nio!” Zefanya berteriak.


Pada saat dia berteriak, sudah terlambat untuk mencegah Nio. Pria itu terjun ke bawah menggunakan tali vinil yang tidak diketahui oleh Zefanya kapan dia memasangnya. Melihat Nio semakin jauh saat dia terjun ke dalam area pabrik yang hancur, Zefanya hampir terduduk lemas.


Bertujuan untuk mengurangi kemampuan operator drone peringatan dini mendeteksi adanya target, Nio memutuskan turun dari helikopter setelah memasang tali vinil dan memakai sarung tangan yang dia temukan di bangku saat penerbangan dan memasangnya tanpa disadari Zefanya dan pilot. Dia yakin Skadron 11/Serbu akan melakukan latihan Fast Roping sebelum Kompi 406-32 meminta mereka mengirimkan helikopter.


(olog note: Fast Roping merupakan metode turun dengan cepat menggunakan tali dari helikopter. Dengan menggunakan teknik tersebut, maka penerjunan pasukan akan lebih cepat dan tepat.)


Tujuan Nio turun untuk melumpuhkan benda terbang itu, meski kemungkinan dirinya ditemukan tetap ada. Terjun ke bawah dari ketinggian 40 meter menggunakan satu tangan bukanlah tindakan keren, dan Nio tidak memikirkan apapun selain patah tulang dan mati. Tali basah karena hujan, dan sarung tangan yang dia pakai tidak terlalu menahan panas karena gesekan dan menyebabkan telapak tangannya terkelupas namun tidak begitu parah hingga membuatnya tidak dapat menggenggam pistol.


Dengan sasaran sebuah pesawat tanpa awak, Nio perlu menembak total 10 peluru untuk menjatuhkannya. Nio mengganti magasin pada pistolnya, dan Zefanya melihat pesawat tanpa awak jatuh ke dalam area bekas pabrik, hanya beberapa meter di dekat Nio.


“Turunkan ketinggian kita,” kata Zefanya pada pilot. “Cepat!” setelah memaksa pilot melakukan keinginannya, Zefanya melihat sekeliling dan memegang tali vinil yang dipasang oleh Nio. Dia tidak punya waktu untuk berpikir. Karena pintu samping terbuka dan angin mempengaruhi keseimbangan helikopter, itu situasi yang tidak cocok untuk melakukan penerjunan.


Sekarang, Zefanya menjuntai dengan berpegangan pada tali vinil. Selain itu, tali vinil terlalu mengerikan untuk operasi penerjunan, seharusnya dia menggunakan tali rappelling. Garis antara hidup dan mati hampir tak terlihat, dan Zefanya pusing ketika dia melihat ke bawah.


“Aku sudah melakukannya, jadi aku sama gilanya dengan Nio,” pikir Zefanya. Dia berdoa pada Tuhan yang ia imani, dan mencengkeram erat tali dengan kedua tangan dan kaki, kemudian turun ke bawah.


Namun, angin kencang yang menerpanya membuat keseimbangan Zefanya terganggu. Pada saat dia menyadari apa yang terjadi, itu sudah terlambat. Dia terjun bebas dalam kecepatan yang mengkhawatirkan. “Ini mudah, dan aku tidak akan mati hanya karena terjatuh dari ketinggian ini,” gumamnya. Zefanya berencana membiarkan pohon menghambat kecepatannya.


Zefanya memaksa otaknya berfungsi dengan kecepatan tinggi, membuatnya merasa waktu sedikit melambat. Setelah menghantam ranting pohon, Zefanya jungkir balik dan mengarahkan kedua kakinya ke tanah. Segera setelah itu, Zefanya mendarat. Dia merasakan getaran sampai ke organ-organnya. Setelah berdiri terhuyung-huyung seperti dilempar, dia telentang di air lumpur.


Menghirup dan menghembuskan napas dengan berat untuk mengembalikan kesadaran, Zefanya akhirnya dapat duduk dan meludahkan tanah dan kerikil yang masuk ke mulutnya. Dia tidak dapat berdiri sebelum kepalanya yang terasa berputar kembali normal. Setelah kesadarannya sepenuhnya kembali, Zefanya berusaha berdiri dan merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Dia turun dari ketinggian sekitar 20 meter lebih rendah dari yang Nio lakukan. Saat dia teringat bahwa manusia masih terhindar dari kematian bila terjatuh dari ketinggian 20 meter, tapi Nio terjun menggunakan tali dari ketinggian 40 meter. Jadi, Zefanya merasa aneh mengapa dirinya dan Nio masih hidup.

__ADS_1


Saat Zefanya menyadari dia belum bergerak dari tempatnya berdiri, dia bertanya-tanya di mana posisi Nio, “Nio… di mana dia?”


Saat dia berjalan mencari kekasihnya, Zefanya berjalan di dalam area bekas pabrik gula. Hujan deras membasahi kepalanya, dan pandangannya kabur akibat air. Selain tidak nyaman karena rambutnya yang basah menutupi pandangannya, pakaiannya terasa berat karena meresap air. Tidak peduli dingin yang dia rasakan, dia terus berjalan hingga Nio ditemukan.


Di balik reruntuhan bangunan, terdengar bunyi tembakan dan pertarungan. Saat Zefanya melewati penghalang, menopang dirinya pada tiang besi, dia melihat pertarungan yang terjadi di depan matanya.


Pihak yang bertarung adalah sebuah pesawat tanpa awak bersenjata pistol mitraliur 9mm, dengan rentetan tembakan menghujani Nio tanpa henti. Senjata itu seperti memiliki persediaan amunisi tak terbatas, mengingat ukurannya tidak melebihi sepeda anak-anak. Seperti yang dibayangkan Zefanya, senjata ‘impor’ itu akan dikurangi kemampuannya daripada varian asli, namun tidak menghilangkan ancaman utama senjata tersebut.


Namun, satu-satunya mata Nio menatap pesawat tanpa awak bersenjata seperti binatang berdarah dingin. Menghindari tembakan dengan terampil, Nio dengan cepat bersembunyi di balik reruntuhan, kemudian berlari cepat ke bawah pesawat tanpa awak dan menembakinya hingga peluru pada pistolnya habis. Tembakan itu hanya ditujukan pada pistol mitraliur milik pesawat tanpa awak, sehingga menghilangkan kemampuan bertarung senjata tersebut. Pesawat tanpa awak terbang tak terkendali, berputar beberapa kali sebelum menghantam tanah. Percikan lumpur saat drone jatuh mengenai Zefanya.


Tidak hanya merusak senjata pada drone, Nio juga berhasil menembak jatuh. Pria itu menang melawan mesin. “Aku tidak tahu mereka memiliki drone udara bersenjata. Ada kemungkinan mereka masih memiliki yang lain,” Nio berbicara seperti itu, seolah-olah menyadari keberadaan Zefanya.


Zefanya menghela napas lega dan berkata, “Jangan terlalu ceroboh, Nio. Kupikir aku sudah sama gilanya seperti dirimu…” Zefanya berhenti berkata saat Nio mendekati dan mendekapnya.


“Apa kamu terluka?” Nio bertanya lembut, tidak seperti biasanya.


“He-hei, tanyakan itu pada dirimu sendiri. Aku baik-baik saja, meski sedikit pusing setelah terjun dari ketinggian 20 meter. Perlu persiapan seperti menghadapi malaikat maut saat mengikuti caramu terjun cepat, tahu!”


Nio segera meraih kedua tangan Zefaya, dan melihat telapak tangannya yang dilumuri darah.


“Hei, apa yang kau lakukan?” Zefanya mencoba menghentikan Nio, dan tentu saja gagal.


“Jangan berpura-pura kuat. Apa yang kau pikirkan saat memutuskan terjun cepat tanpa menggunakan sarung tangan?”


Melihat Zefanya yang tertekan setelah dia bertanya, Nio berjalan ke bongkahan drone udara. Dia belum puas pada pertarunganya melawan mesin. Setelah beberapa menit menghadapi benda tersebut, senjata impor tidak sekuat yang dia duga. Seperti informasi yang dia peroleh, dalam perjanjian transaksi pembelian senjata, pihak produsen dapat mengurangi kemampuan asli senjata yang dipesan calon operator, sehingga sedikit di bawah milik militer negara asal produsen. Tapi, setelah produk diterima, operator bebas memodifikasi senjata yang dibeli.


"Ada lambang?” gumam Nio.


Sebagai pelindung sebuah kelompok yang berlindung dari negara yang memburu mereka, Pelindung Desa Bacem kemungkinan besar mendapatkan senjata yang dibeli maupun sumbangan dari luar negeri. Hal itu membuat negara meningkatkan status mereka ke dalam ‘Daftar Pencarian Khusus’.


Suara hujan saat sore hari yang suram menyebabkan kebencian pada diri Nio semakin besar. Dia menunjukkan tatapan dingin pada logam yang dia kalahkan beberapa menit lalu. Dia tidak peduli apa yang dikatakan orang-orang di kemudian hari. Dia hanya ingin melakukan ‘pekerjaan’, dan menyelesaikannya sesegera mungkin untuk melanjutkan pekerjaan lain yang tertunda.


Nio memutar tubuhnya untuk melihat sekitar. Tidak ada tanda-tanda siapapun di tempat ini, meskipun keberadaan senjata asing di garnisun ini akan mengundang Kompi 406-32. Luka setelah pertarungan membuatnya tidak nyaman.


Kemudian, Nio mendengar suara tawa dan ucapan seseorang, “Seperti yang kuharapkan, Nio…”


“Siapa?!” saat Nio menoleh ke sumber suara, wajah perempuan cantik mendekatinya. Kemudian, tangan kanan perempuan itu mencengkram wajahnya sebelum Nio menghindarinya.


Meski Nio berusaha melepaskan diri, tapi perempuan itu melemparkannya dengan kuat dan menghantam reruntuhan dengan kekuatan menakutkan. Nio tidak dapat menghentikan tubuhnya saat terlempar, dan berhenti setelah punggungnya menghantam dinding beton. Dia merasakan panas dan sakit menjalar ke seluruh tubuh, dan penglihatannya menjadi pudar saat kesadarannya perlahan menghilang.


“Nio!” Zefanya berteriak.


“Aku menemukanmu, jelek!” mendengar suara perempuan itu, Zefanya secara refleks berguling ke samping. Beberapa tebasan membelah udara, dengan kemungkinan kepala dan bagian tubuh Zefanya terpotong jika terkena serangan itu sehingga wajah Zefanya berubah pucat. Edelweis muncul dengan kedua tangan menggenggam dua pedang, mengambil sikap seolah menginginkan pertarungan dengan Zefanya.


Nio berdiri disertai batu, memelototi pria yang masuk dalam salah satu ‘target’ dengan mata kirinya, “Darsono!”


Darsono berbicara, “Meskipun pemerintah berusaha memburu seluruh buronan yang merugikan Indonesia di perang sebelumnya, mereka tetap memiliki niat buruk di baliknya. Mereka memburu siapapun yang bahkan tidak ada kaitannya dengan proyek gagal sebelumnya. Aku melakukan ini untuk melindungi keberadaan orang-orang yang setia dengan keluargaku. Mereka ingin orang-orang yang ‘memburu’ mereka segera dibereskan.”


Nio tidak peduli apakah yang dikatakan Darsono adalah tujuan pria itu untuk melindungi keluarganya atau pengikutnya, dia hanya ingin menyelesaikan dendamnya. Dia memegang gagang pistolnya, dan berjalan mundur beberapa langkah.


“Apa kau mengharapkan bantuan datang? Seharusnya kau tidak banyak berharap. Kami sudah menghabisi semuanya yang berusaha membantumu.”


“Kami?” Nio mulai paham jika masih ada banyak ‘target’ yang harus dia urus selain Desa Bacem, pendiri proyek Obat Kuat, dan Darsono.

__ADS_1


Nio melihat pakaian Darsono dan Edelweis dinodai cipratan darah, dengan beberapa drone udara bersenjata seperti yang dirusak Nio beberapa saat lalu terbang di atas mereka. Nio menunjukkan ekspresi gentar, dan mengangkat pistolnya lalu menembak.


Namun, Darsono sama sekali tidak menghindar. Edelweis dengan cepat berdiri di depan pria tersebut, dan menahan laju peluru dengan tubuhnya. Tidak adanya darah atau ekspresi sakit yang keluar dari perempuan itu membuat Nio yakin Edelweis merupakan salah satu subjek dari proyek Tentara Super meskipun ada tanda-tanda perempuan itu belum kehilangan sepenuhnya sisi manusianya.


Nio berlari ke arah mereka berdua, dan melompat untuk melakukan tendangan memutar. Yang dia lakukan adalah tendangan dengan memusatkan seluruh kekuatan pada kaki kanannya. Namun, sebelum mencapai Edelweis, Darsono menarik pistol dan pisau tarung dari sarungnya, dan menikam pundak Nio dilanjutkan tiga tembakan.


Nio mengerang. Menahan rasa sakit yang kuat di bahunya, dia terjatuh. Sesuatu menghalangi dirinya, reruntuhan menghambat pergerakan mundurnya.


Darsono berjalan perlahan, dan sengaja menekan luka Nio dengan kakinya. Lalu, tiba-tiba tendangan dengan kekuatan besar melempar Nio dan membuat tubuh Nio menghantam batu. Darah menyembur dari kepala dan mulutnya, kulitnya terkoyak, dan tulang-tulangnya berderit seolah-olah telah hancur semuanya. Nio merasakan tubuhnya hancur, namun dia sepenuhnya belum pingsan.


Saat Nio mengerang, dan hampir menyerah dengan rasa sakit yang dia dapatkan, dia akhirnya mengerti. Apa yang dilakukan Darsono dan Edelweis adalah cara untuk melawan pihak yang berpotensi mengancam keamanan orang-orang yang membayar mereka untuk melindungi.


Tiba-tiba tekanan perlahan berkurang, Nio berlutut setelah memuntahkan seteguk darah.


“Oh, kau masih hidup. Benar-benar seperti mayat hidup yang susah dibunuh,” kata Darsono.


Pandangan Nio kabur, dan kepalanya sakit. Dia merasa seperti dapat hancur kapan saja. Dia telah melihat seberapa kuat Darsono dan pelayannya. Selain perbedaan besar antara kemampuan tempur Nio, Edelweis, dan Darsono, Zefanya belum sepenuhnya pulih. Otak Nio dengan tenang menyusun strategi yang paling masuk akal, dan dia mengarahkan pandangannya pada Zefanya kemudian berteriak, “Zefanya, lari!”


Zefanya melebarkan kedua matanya dan mengelengkan kepalanya, “Tidak!”


Melihat Edelweis yang bersiap bertarung dengan Zefanya, Nio melepaskan sebuah tembakan yang mendarat di depan kaki Zefanya. Gadis itu secara refleks melompat ke belakang.


Nio membuat sinyal dengan matanya, meminta Zefanya membawa bantuan ke tempat ini.


Zefanya menghilang, menjauhi tempat pertarungan dengan ekspresi sedih di wajahnya.


“Tuan, si jelek kabur! Saya ingin mengejar dan membunuhnya!” ucap Edelweis, yang duelnya dibatalkan.


“Tidak. Jika mereka memanggil bantuan, itu akan menyusahkan kita. Kita akan menyelesaikan pekerjaan ini sekarang juga.”


Edelweis memelototi Nio, dan tiba-tiba perempuan itu menghilang dari pandangannya. Namun, beberapa detik kemudian, dia merasa perutnya ditusuk sesuatu. Dua bilah pedang menyembul, menembus perutnya dari belakang.


“Sangat lemah! Kau sangat lemah! Sangat lemah! Dasar lemah!” Edelweis mengejek.


Darah kembali keluar dari mulut Nio. Dengan susah payah, Nio menyikut perut Edelweis lalu melarikan diri. Saat berlari, dia melepaskan tembakan dari pistolnya. Setiap tembakan yang dia lakukan, seluruh luka di tubuhnya menciptakan rasa sakit yang mengganggu keseimbangan. Nio menggertakkan gigi saat berlari, menembak tanpa membidik target yang jelas.


Sambil menekan perutnya yang terluka, Nio melewati reruntuhan bangunan, dan tiba di tempat terbuka. Pandangannya kabur, dan hujan belum berhenti meski hari semakin gelap.


Di hadapannya adalah sungai dengan arus deras, dengan aliran cepat yang tidak mungkin berenang melewatinya. Berbalik perlahan, dia melihat Edelweis dan Darsono.


Darsono mengarahkan pistolnya pada Nio, namun dia menatapnya dengan gentar. Nio menutup matanya.


“Semuanya, aku minta maaf,” ucap Nio di dalam hati.


“Ada kata-kata terakhir, calon adik ipar yang segera mendapatkan gelar almarhum?” tanya Darsono dengan ekspresi mengejek.


“Kau… akan mati bersamaku,” jawab Nio.


“Selamat menempuh kehidupan baru…” setelah mengatakan hal itu, Darsono menembak ke dada, perut, paha Nio.


Mata Nio jelas menunjukkan ekspresi penyesalan, dan darah mengalir dari setiap peluru menembus tubuhnya.


Tubuh Nio terjun dan menghantam air, arus deras sungai yang banjir membawanya pergi dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


__ADS_2