
10 September 2321, pukul 12.24 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, siang hari.
**
Penduduk desa bertanya-tanya siapa mereka sebenarnya. Mereka bukan tentara negara ini atau penduduk desa ini.
Alih-alih menggunakan ancaman, orang-orang asing ini menggunakan senyuman yang ramah, meski senyum itu tidak bisa dipercaya apa makna dibaliknya.
Mereka terlihat sangat ‘berbahaya’ dengan pakaian hijau loreng, dan beberapa senjata yang terpasang. Dan salah satu dari mereka mendekati kepala desa ini, dia tidak terlihat berbahaya sama sekali, meski dipunggungnya terpasang sebuah pedang dan dia menenteng sebuah senjata.
Anggota yang lain membuka kamus untuk mencoba bercakap-cakap dengan beberapa penduduk desa ini. Nio sesekali juga melihat catatanya yang memuat percakapan dasar dengan menggunakan bahasa dunia ini.
“Ots aimi aksoiv ateh? (apa nama desa ini?)” Nio bertanya pada orang yang menurutnya adalah kepala desa yang Regu ini datangi.
Semua orang yang berkumpul di tempat datangnya Regu 1 terlihat tenang, karena tidak perlu mendengar bahasa asing.
“Aimi aksoiv Uschod (nama desa ini adalah Uschod),” anggota Regu mencari arti dari kata-kata yang diucapkan pria paruh baya tersebut.
“Uschod?” Nio mengulangi pertanyaannya karena untuk memastikan agar dia tidak salah mencatat nama desa ini.
“Ya, benar. Lalu, kalian ini berasal dari mana?” Nio diam sejenak untuk berpikir dengan cepat.
Nio berbalik untuk berdiskusi bersama anggota Regu mengenai identitas mereka. Seluruh anggota sepakat untuk memberikan identitas palsu terhadap pertanyaan kepala desa itu. Jika mereka tidak berbohong, mungkin saja hal buruk akan terjadi. Bahkan bentrokan kecil yang tidak perlu mungkin bisa terjadi.
Atribut yang dikenakan seluruh anggota Regu 1 tidak menunjukkan jika mereka bukan berasal dari kerajaan-kerajaan yang berdiri di benua ini. Lagipula, hal semacam informasi di dunia ini hanya bergantung dengan apa yang dilihar secara langsung, bukan dengan rekaman untuk siaran TV dan wawancara atau liputan untuk berita pada surat kabar.
“Kami dari negara yang jauh,” jawaban yang diberikan Nio membuat beberapa penduduk desa hanya bertanya-tanya.
“Apa kalian dari benua tetangga?” Nio seketika mengiyakan pertanyaan kepala desa tanpa basa-basi.
Ini adalah desa pertama yang Regu 1 temui, setelah perjalanan yang seperti tidak ada hentinya. Walau begitu, bahan bakar bagi kendaraan dan logistik personel cukup untuk persediaan selama satu bulan.
Penduduk desa bercerita jika mereka takut terhadap pasukan dunia lain yang membantai pasukan gabungan lima negara di benua ini, juga pasukan yang menguasai Gerbang. Tidak ada prajurit Kekaisaran yang waras setelah kembali seusai bertempur dengan pasukan dunia lain.
Seluruh anggota Regu 1 hanya saling tersenyum kecut, mendengar mereka ternyata sangat ditakuti penduduk yang tinggal di Kekaisaran ini. Bahkan jika pasukan TNI dapat berperang dengan kasar, jika dalam situasi tertentu mereka bisa menjadi teman dan sahabat.
“Jangan takut, mereka tidak akan menyakiti kalian,” Nio mencoba menenagkan penduduk desa ini yang masih terlihat pucat saat mendengar pasukan dunia lain yang menguasai Gerbang.
__ADS_1
Tidak ada alasan penduduk desa ini untuk mempercayai satupun perkataan dari pasukan ini, karena mereka belum tentu dari mana asalnya.
Apalagi atribut yang mereka gunakan sangat jauh berbeda dengan yang dikenakan kesatria Kekaisaran Luan. Tidak ada zirah besi yang dikenakan, pedang yang dipasang di pinggang, tombak yang dipegang maupun kuda sebagai tunggangan. Bagi militer dunia ini, berperang tanpa baju besi sama saja berperang sambil telanjang.
Bahkan tidak ada yang tahu jika senjata yang ditenteng setiap prajurit adalah senapan, mereka menyebut senjata ini dengan ‘tongkat baja hitam panjang’.
Cukup ambigu bagi beberapa orang yang baru mendengar istilah itu, bahkan saat Nio menerjemahkan kalimat itu, semua anggota laki-laki langsung tertawa dengan keras. Sementara anggota perempuan hanya menatap sinis anggota laki-laki. Meski begitu, kebanyakan dari mereka adalah masih dalam usia muda, jadi candaan semacam ini adalah hal yang lumrah.
Meski situasi sekarang masih berbahaya karena perang, para prajurit mencoba untuk tertawa untuk melepas stres.
**
Mempertahankan Gerbang adalah alasan TNI ada disini, karena tempat di balik Gerbang adalah tanah air mereka. Dengan mengunakan kekuatan militer dan politik, mereka harus dapat menaklukan tanah di sekitar Gerbang, ini adalah tugas TNI. Memetakan wilayah di sekitar Gerbang dengan mengambil foto udara dan menyebarkan penjelajah adalah rencana TNI.
Selain itu, membangun benteng, yang dianggap sebagai peninggalan peradaban kuno, termasuk dalam rencana. Sudah beberapa minggu setelah TNI mengambil alih tanah di sekitar Gerbang, kini benteng tersebut menjadi pertahanan yang tak tertembus.
Ketika seorang warga sipil menjadi prajurit TNI, mereka akan membaca buku sejarah tentang peperangan, dan mendiskusikan tentang cara mempertahankan serta menyerang bangunan samacam itu.
Namun ada beberapa rahasia yang tersimpan di dunia ini, yaitu keberadaan sihir. Itu benar, kebanyakan orang-orang Indonesia akan menganggap jika sihir adalah bagian dari ilmu perdukunan yang mencangkup ilmu santet, guna-guna dan sebagainya. Tidak ada yang tahu mengenai sihir, tetapi itulah mengapa penjelajah disebarkan.
Untuk saat ini, mari kita ubah sudut pandang.
Regu 1 setelah keluar dari desa sebelumnya belum menemui hal berbahaya, semacam kawanan monster dan bandit.
Berkat pengetahuan yang didapat dari novel fantasi, pasukan bisa menemukan cara untuk melawan sisik keras naga dan wyvern, mengimbangi kekuatan tak masuk akal para monster, serta mempelajari strategi perang jaman kerajaan.
“Liben, aku sangat bosan nih,” Nio mengeluh sambil menutup wajahnya menggunakan helm dan bersandar sesantai mungkin di tempat duduk.
“Bertahanlah sebentar, Komandan,” Liben mencoba menenagkan Komandannya yang sudah benar-benar frustasi dengan kebosanan ini.
Tidak ada menara pemancar sinyal radio di tempat ini, tidak ada hiburan selain pemandangan indah di luar kendaraan.
Ketika melihat pemandangan-pemandangan itu dari luar jendela, tiba-tiba kilatan yang menyilaukan dan ledakan yang memekakkan telinga. Ledakan itu seperti pasukan ini menginjak ranjau yang tertanam di bawah tanah, lagipula hal itu tidak akan terjadi.
Nio dan seluruh anggota bangkit setelah mendunduk untuk menghindari kemungkinan serangan. Di luar kendaraan, debu-debu masih berterbangan yang mengurangi jarak pandang. Nio berkeringat dingin, menyeka dahinya yang berkeringat. Telinganya masih sakit karena gelombang kejut yang dia dan anggotanya dapatkan.
Namun, kendaraan yang pasukan ini tumpangi tidak akan hancur semudah itu. Setidaknya jika terkena sebuah ledakan dari mortir, kendaraan-kendaraan ini hanya akan mengalami kerusakan ringan.
__ADS_1
Semua anggota turun dari kendaraan, kecuali operator senjata yang terpasang di atap kendaraan. Mereka menyiapkan senjata masing-masing, dan maju secara perlahan melewati awan debu yang berterbangan. Siluet buram terlihat dan bergerak dengan cepat, itu mengisyaratkan jika ada sesuatu yang mendekati pasukan Regu 1.
Seluruh anggota bergerak maju secara perlahan dengan perasaan cemas, anggota yang bersiaga di atas kendaraan menyiagakan senapan mesin masing-masing untuk melindungi rekan-rekan mereka yang maju.
Mereka tidak memiliki penyesalan untuk hal buruk yang menimpa mereka di dunia lain, prajurit TNI telah menyiapkan diri untuk semua kemungkinan terburuknya.
Sheyn telah mendapatkan bantuan dari Regu penyihirnya, kini pasukan pengintai yang dia pimpin telah diperkuat dengan penyihir militer yang sebagian besar menguasai sihir elemen api dan sihir alam petir.
Ada banyak sihir yang terbagi menjadi beberapa jenis.
Mereka tidak perlu memperkirakan lokasi rombongan pasukan Regu 1 akan melintas, karena mereka secara kebetulan berpapasan dengan mereka lagi.
Sihir kombinasi petir dan api adalah serangan yang merepotkan. Gabungan kedua tipe sihir yang berbeda itu akan menciptakan ledakan dan gelombang kejut yang besar. Namun serangan semacam ini tidak berguna saat bertempur melawan pasukan yang menguasai Gerbang, karena musuh memiliki senjata yang memiliki daya ledak yang jauh lebih besar dari sihir ledakan mereka.
“Serangan pertama berhasil mengenai musuh,” prajurit perempuan berambut kuning, atau oleh pasukan ini disapa dengan Mawar Kuning, melaporkan dampak yang dihasilkan setelah penyihir mereka melepaskan serangan.
Sheyn menahan napas untuk berpikir tindakan selanjutnya yang akan dia perintahkan kepada pasukannya. Pasukannya terlihat tenang, karena merasa yakin jika serangan barusan mampu untuk menggentarkan musuh.
“Kita tidak akan kembali sebelum mengusir mereka dari wilayah ibukota, ayo maju…!!!” Sheyn memacu kudanya secepat yang binatang itu mampu.
Pasukannya mengikuti Sheyn dengan cepat dan yakin jika dapat mengalahkan bagian kecil pasukan yang menguasai Gerbang. Menghiraukan pikiran mengenai kekuatan pasukan dunia lain, pasukan Barisan para Mawar merasa yakin untuk dapat mengalahkan pasukan yang mereka temui.
Regu penyihir menaiki tongkat yang mereka gunakan untuk melepaskan serangan, dengan sihir khusus, tongkat mereka dapat melaju secepat kuda perang.
Seorang Komandan memang bertanggung jawab dengan apa yang terjadi pada anggotanya, tetapi mereka juga tidak dapat memperkirakan apa yang terjadi di tempat berbahaya seperti ini. TNI adalah senjata hidup terkuat di dunia asal, dengan alasan yang tepat, mereka dapat bertempur selama berjam-jam melawan pasukan dunia ini.
Betapa mengerikannya sihir yang Regu 1 lihat dan rasakan dampaknya, Regu-Regu penjelajah belum diijinkan kembali ke markas sebelum mendapatkan informasi yang cukup. Jika mereka kembali tanpa perintah, mereka akan dipindahkan di markas pusat dan ditahan seperti burung. Di sana, mereka tidak akan melihat medan laga, dan melupakan hasil latihan selama ini.
Nio mendengar suara gemuruh yang semakin lama semakin jelas, saat itu juga terlihat hal semacam badai pasir yang membumbung tinggi. Sebelum tahu apa yang terjadi, Nio belum memerintahkan anggotanya untuk mundur.
Anggota perempuan mulai menunjukkan wajah pucat, sedangkan anggota laki-laki mulai gugup karena bisa saja sebuah pasukan besar mendekat kearah mereka. Sebelumnya, pasukan yang besar pernah mereka lawan. Namun saat itu mereka juga bersama sebuah pasukan besar, saat ini Regu 1 hanyalah bagian kecil dari pasukan besar itu.
Jika jumlah musuh diperkirakan ribuan, Regu 1 terpaksa mundur dan melaporkan pada atasan mengenai apa yang mereka lalui.
Nio berpikir jika sebuah serangan yang langsung dilepaskan dalam jumlah besar, itu hanyalah tipuan musuh untuk membuat pasukan TNI mengerahkan pasukan juga. Saat kedua pasukan bertemu, kontak senjata yang besar akan terjadi lagi.
“Betapa liciknya pasukan dunia ini…,” Nio bergumam dengan cukup keras hingga anggotanya menoleh kearahnya.
__ADS_1
Tetapi dengan mengrimkan prajurit yang hebat TNI jauh kedalam wilayah musuh, itu adalah tindakan yang salah dan membahayakan. Namun, mengapa hal ini masih bisa terjadi?