
“Apa yang…?”
Nio meratapi dua bawahannya yang tergeletak di tanah dengan keadaan wajah tertancap masing-masing dua dan empat anak panah. Sedangkan dua penyihir tewas dengan sebuah anak panah yang menancap di dada dan perut mereka.
“Aku… membiarkan mereka mati lagi…?”
Suara Nio terdengar gemetar, tapi itu tidak akan membuat kedua bawahan dan penyihir hidup kembali.
“Tenang! Wajar jika orang mati di medan perang!”
Sersan Liben menegur Nio dan seluruh anggota Regu penjelajah 1 yang tersisa seakan-akan dia adalah veteran perang, tetapi situasinya berbeda dengan saat kematian Chandra. Sebelumnya Nio tidak menyaksikan bagaimana bawahannya gugur, tetapi kini dia melihat bagaimana mereka berdua tak lagi bernyawa di tangan pasukan dunia lain.
Namun, mereka bukan sekedar bawahan yang bisa diperintah, mereka adalah teman. Nio melihat kematian kedua temannya. Meskipun Nio sudah siap untuk menerima jika dia mati sekarang, dan dia tidak akan menyesal dengan itu. Tapi, Nio masih diberikan kehidupan untuk melihat kembali teman-temannya mati seperti saat menjadi prajurit amatir.
“Brengsek! Sialan…!!!”
Tanpa diperintah, beberapa anggota menembakkan amunisi pada senapan serbu masin-masing. Hampir 30 tentara musuh mati dan menyemprotkan darah akibat lesatan peluru 7,62 mm dalam kecepatan 900 meter per jam yang ditembakkan dari jarak 30 meter.
“Semuanya, pertahankan formasi! Jangan tinggalkan posisi!”
“Para tentara hijau itu menggunakan senjata iblis!”
Pasukan musuh tidak mencoba menghentikan pengejaran, dan tetap mempertahankan barisan untuk mencegah pelarian Regu penjelajah 1. Tidak ada tentara Kekaisaran yang mati setelah terkena peluru, dan dengan putus asa tetap mempertahankan posisi dengan wajah ketakutan.
“Pasukan primitif ini… mereka mencoba untuk menang rupanya!” gumam Nio sambil mencoba menguatkan pijakan kakinya di tanah.
Jumlah sebenarnya dari korban meninggal dunia saat insiden penyerangan pasukan dunia lain saat peringatan kemerdekaan mencapai ribuan, itu adalah rahasia yang disembunyikan pemerintah demi mencegah kepanikan publik. Di sisi lain, hingga pertempuran hari ini telah tercatat sekitar 300.000 tentara manusia musuh tewas, jumlah itu belum termasuk korban dari pasukan monster yang jika dijumlahkan dapat mencapai 550.000 korban gabungan tentara manusia dan monster.
Apakah itu tekad atau obsesi musuh demi meraih kemenangan atas TNI? Untuk pertama kalinya, Nio merasakan tekad mengalir deras dari punggungnya saat mengingat hal itu.
Bagaimanapun, 29 prajurit remaja di depan pasukan Kekaisaran jauh lebih kuat soal persenjataan. Musuh yang masih menyusun formasi melakukan segala daya mereka untuk menutup celah yang sangat besar dalam persenjataan. Ini berbeda saat mereka datang ke Indonesia dengan begitu saja seperti orang bodoh. Nio yakin musuh masih berputus asa.
Nio memiliki tempat khusus di hatinya untuk menyimpan rasa bencinya terhadap seluruh musuh Indonesia, khususnya Kekaisaran yang telah membentuk Pasukan Aliansi. Jika dia harus menyusul Chandra, dan kedua temannya yang gugur, Nio akan merasa bangga.
Tapi, tekad Nio mengatakan jika dia harus tetap hidup untuk melindungi satu-satunya keluarga yang pemuda ini miliki, Arunika.
Nio mengambil granat dari kantung rompinya, dan melemparkannya ke arah barisan ratusan prajurit musuh di depannya. Saat mengangkat granat tangan yang berbobot 400 gram, Nio merasakan ada beban yang jauh lebih berat dari bobot sebenarnya senjata ini.
“Semuanya, ikuti Komandan. Lempar seluruh granat yang kalian miliki!”
Yang memerintah tadi adalah Liben, dia tahu jika Nio masih sulit untuk berbicara dan melempat granat tanpa memperingatkan anggotanya.
Puluhan granat peledak melayang di udara, pasukan Kekaisaran menganggap jika itu adalah sinyal kalau pasukan hijau di depan merea sudah mulai putus asa, dan melemparkan ‘kentang-kentang’ mereka. Tapi, kentang-kentang itu bukan sekedar kentang.
Itu adalah kentang yang menyebabkan kerusakan yang sangat besar.
Puluhan granat mendarat di tengah-tengah barisan rapat yang disusun pasukan Kekaisaran, beberapa detik kemudian senjata itu menyebabkan rentetan ledakan yang sangat keras dan kuat. Darah, potongan daging, tangan, kaki, lempengan zirah logam, dan lain-lain terbang dan berserakan selama granat meledak.
__ADS_1
Pasukan pemanah yang ada di atap bangunan nampak ketakutan saat beberapa potongan anggota tubuh melayang dan mengenai kepala mereka, dan pengepungan yang mereka lakukan menjadi kacau.
Nio berteriak setelah melihat pasukan musuh yang nampak berantakan, “Kabur…!!!”
Seluruh anggota Regu penjelajah 1 kabur bersamaan setelah perintah Nio. beberapa dari mereka melempar seluruh granat yang tersisa, dan beberapa lagi menembak hingga magasin masing-masing kosong.
Nio menembakkan senapan serbu nya sambil memegang anggotanya yang gugur, dia bernama Tomi dan membawa prajurit yang gugur itu di pundaknya. Tapi, tiba-tiba sesuatu yang besar menembus pundaknya.
Tidak hanya panah, pasukan elit Kekaisaran juga memiliki senjata yang mirip dengan crossbow. Tentu saja senjata itu lebih mematikan ketimbang panah biasa, karena bisa melesatkan anak panah jauh lebih cepat.
Anak panah sepanjang 1 meter menembus bahu kiri Nio, pemuda itu kehilangan keseimbangan dan jatuh yang menyebabkan tubuh Tomi terlempar.
“Komandan…!!!” Fariz dan beberapa anggota berhenti setelah melihat Nio terjatuh.
“Lari…!!! Cepat…!!!”
“Tapi…!”
Beberapa anggota merangkak supaya terhindar dari hujan anak panah dari pasukan elit musuh, dan menyeret tubuh tanpa nyawa Tomi. Luka Nio begitu parah sehingga dia tidak mungkin bisa melanjutkan pelarian.
“Jangan hiraukan aku, sialan! Cepat selamatkan diri kalian…!!!” Nio berteriak seperti itu dengan harapan anggotanya meninggalkan dirinya dan menyelamatkan diri.
“Tidak apa-apa…! Jika musuh tahu yang namanya hukum perang, paling tidak aku akan dijadikan tawanan perang! Dengan begitu aku tidak akan dibunuh!”
Nio memaksa seluruh otot wajahnya untuk memperlihatkan senyuman, meski itu senyuman yang dibuat secara terpaksa. Dia mempercayakan pesan kepada Liben yang berlari ke arahnya, dia mencoba menyelamatkan Nio.
“Liben, maafkan aku, tapi aku memintamu untuk membawa semuanya ke benteng dengan selamat. Beri tahu semua orang, terutama Jendral bahwa bahaya mendekat!”
Nio terduduk sambil menahan sakit di bahunya yang mengalirkan darah hingga seragamnya berubah warna menjadi merah. Dia mengatur ulang senapan serbu nya, dan melihat beberapa prajurit musuh mendekat.
“Apa aku akan mati sekarang? Seharusnya begitu kan?”
Wajah seseorang yang pertama terlintas di pikirannya di tengah kemungkinan hidup dan mati ini adalah Arunika. Nio berpikir jika kakaknya tidak akan memaafkannya jika harus mati sekarang.
Nio tersenyum seolah-olah sedang mengejek dirinya sendiri, dan kemudian mengerahkan kekuatannya ke jari yang menekan pelatuk.
Namun, magasin pada senapan serbu Nio tidak berisi peluru, alias kosong.
“Anjing! Apa aku harus kehabisan peluru sekarang?”
Nio tidak mungkin mengeluarkan pistolnya, karena dia menggunakan magasin pistol yang cocok digunakan pada senapan serbu generasi terbaru itu.
Tentara musuh yang mengepung Nio tersenyum puas, seolah-olah telah berhasil mengalahkan raja naga api. Beberapa detik kemudian, mereka melayangkan ratusan tendangan dan tinju ke tubuh Nio, dan membuatnya pingsan.
**
“Langit-langit yang asing.”
__ADS_1
Nio perlahan membuka matanya yang terasa sakit, dia memeriksa kacamatanya yang retak. Dia mencoba membuka mata kanannya, namun Nio berteriak kesakitan. Dia meletakkan telapak tangannya di mata kanannya, dan melihat bercak darah di telapak tangan setelah menyentuh mata kanannya. Selanjutnya, dia tidak akan mencoba membuka mata kanannya lagi, ini sebagai antispasi jika rasa sakit yang ia rasakan semakin menjadi-jadi.
Hal pertama yang dia lihat adalah ruangan yang nampak terbuat dari susunan batu. Batu yang tersusun dan membentuk ruangan ini, dan menutupi seluruh bidang pandang.
Nio yang akhirnya bisa menggerakkan tubuhnya, mencoba melihat sekeliling dengan mata kirinya. Kali ini dia melihat jeruji besi.
Tidak diragukan lagi, Nio berada di penjara bawah tanah. Dia tak sadarkan diri selama empat hari, dan belum ada tim penyelamat ke tempat ini. Dan Nio sendirian di penjara bawah tanah, tapi dia ditemani dengan hewan sejenis kecoak dan tikusnya dunia lain.
Anak panah yang menancap pada bahu kirinya sudah tidak ada, dan digantikan dengan lilitan perban yang hampir menutupi setengah tubuhnya. Tapi, darah yang keluar sepertinya tidak bisa ditahan oleh lilitan perban dua lapis itu, dan memperlihatkan bercak darah yang menembus perban putih tersebut.
Nio mengangkat tubuhnya dengan memaksa otot-ototnya yang sakit. Dia memandang sekilas ke depan, seperti tebakannya, dia dikurung di penjara bawah tanah seperti yang dia lihat pada film dan novel.
Ruangan ini cukup gelap, tapi hanya pos penjaga yang nampak terang dengan dua obor yang menyala. selain para penjaga, ada juga sosok pria dengan baju besi mewah yang dengan jelas menjelaskan jika posisi orang itu penting di negara ini.
Pria yang nampak berusia 30-an menatap dengan tatapan tajamnya, dan Nio membalas tatapan orang itu tak kalah tajamnya. Wajah pria di depan Nio seperti perpaduan orang Asia Timur dengan Eropa, dengan warna kulit putih meski cukup sering berada di luar ruangan. Beberapa saat kemudian, seorang pria tua yang nampaknya atasan pria itu berjalan dengan lambat.
“Anjing sialan!” Nio mengatakan itu saat melihat sosok Bogat di depannya.
“Selamat datang, tentara dunia lain. Seperti yang anda lihat, kami tidak menyambut anda dengan sopan.”
Di kata pembuka tersebut, Bogat tua itu tersenyum dan memasang wajah menyindir.
Nio tetap diam, meski hatinya menyuruh otaknya untuk mengucapkan beberapa kata yang kasar terhadap Bogat.
Nio, yang mementingkan tindakan, nampaknya memilih diam daripada bertindak. Sambil memegang tangan di belakangnya, Bogat berbicara dengan bahasa yang lucu.
“Apa anda tidak mengerti bahasa dunia lain? Jadi mari kita ulangi sehingga anda bisa memahaminya. ‘selamat siang’.”
Nio tertegun, dalam hati dia berkata. “Apa yang keluar dari anjing tua itu adalah bahasa Indonesia. Tidak salah lagi, dia barusan mengucapkan salah satu kata dalam bahasa Indonesia.”
“Kau anjing tua, dari mana kau belajar bahasa Indonesia!?”
“Seharusnya kau bisa memikirkannya sendiri. Aku, dan beberapa orang Kekaisaran mengetahui bahasa menjijikan ini dari orang-orang mu yang masih kami tahan.”
“Anjing tua ini…!”
Nio mengepalkan tangan ‘asli’ dan tangan ‘logamnya’ dengan erat, jantungnya berpacu dengan cepat saat Bogat mengatakan hal yang menghina Indonesia.
Ekspresi Bogat dan Maslac membuat Nio tampak bodoh di depan mereka berdua. Nio merasa mual saat melihat ekspresi keduanya, dan merasa ingin segera menghancurkan wajah mereka dengan tangan logamnya.
“Kau seharusnya menjaga kata-katamu dengan Yang Mulia! Atau kau mau aku membuat tidak bisa melihat sepenuhnya?” Pria yang tidak Nio kenal, tepatnya Maslac, dia berkata sambil membawa sebuah benda yang berbentuk bola.
Mata kiri Nio terbuka lebar setelah tersadar jika yang dibawa Maslac adalah bola mata.
“Tenang saja, penyihir penyembuh sudah menghentikan pendarahan pada mata kanan mu. Paling-paling kau hanya merasa kesakitan. Dan, mata ini, sepertinya bisa menjadi pajangan yang indah!”
**
__ADS_1
Fundact#6: Nio dikasih plot armor gak nih?
Maaf, ane belum bisa menulis 2.000 kata untuk sementara ini. Selanjutnya, bakal ane usahain buat nulis lebih dari 2.000 kata.