Prajurit SMA

Prajurit SMA
Taktik yang biasa


__ADS_3

Mempersiapkan tempat tinggal untuk para kontingen, sukarelawan, dan tawanan adalah tugas yang sangat merepotkan. Tetapi begitu mereka tiba di dunia ini, para pekerja yang didatangkan dari Indonesia bekerja dengan cepat.


Dalam sekejap mata, mereka menebang pohon dengan mesin yang bersuara keras, dan setelah mengeruk tanah lalu memindahkannya dengan peralatan berat, mereka dengan mudah membangun sebuah rumah beratap.


Para pekerja dari ras Ipotxak (manusia kerdil/ para pembaca bisa menyamakannya dengan Dwarf) yang disewa kontingen Arevelk dan Yekirnovo melihat pekerjaan para pekerja ‘dunia lain’ itu dengan mulut terbuka dan tanpa bisa berkata-kata seakan-akan lidah mereka diikat.


Satu kilometer dari bangunan tiga tingkat yang akan dijadikan tempat tinggal perwira kontingen Indonesia, Rusia, dan Korea Utara adalah ‘benteng kura-kura’ yang tengah dibangun kembali. Beberapa pekerja merupakan sukarelawan Demihuman dan pekerja (kuli) yang bekerja dengan cepat. Benteng ini akan mendapatkan peningkatan, sehingga akan lebih kokoh dan luas daripada sebelumnya.


Capung besi kontingen Korea Utara membumbung tinggi di langit untuk memanaskan mesin sambil membuat suara yang mengerikan menurut para pekerja ras Ipotxak. Namun, bagi para pekerja asal Indonesia, ketika perang masih terjadi mereka sering mendengar suara ledakan dan mesin jet tempur yang menggetarkan hati, sehingga mereka masih bisa bekerja dengan tenang sambil menghisap rokok ketika para pekerja bertubuh pendek itu ketakutan saat helikopter melintas di atas mereka.


Cara para pekerja asal Indonesia yang disebut ‘kuli’ mengubah pohon besar menjadi komponen rumah dalam waktu singkat adalah hal yang menakjubkan bagi ras Ipotxak yang dikenal sebagai suku dengan kemampuan pengrajin dan pembangunan terbaik daripada manusia biasa di dunia ini. Dimana, tim pekerja ras Ipotxak yang berjumlah beberapa orang harus menghabiskan setengah hari hanya untuk menebang pohon dengan diameter tiga rangkulan orang dewasa.


Alat raksasa mereka dengan sekop besar (excavator) bisa melakukan pekerjaan seratus orang dalam sekejap.


Lalu, setelah meminum minuman berwarna ungu dan menghisap batang berasap serta memakan beberapa makanan berminyak, para kuli membangun sebuah bangunan lebih cepat dari waktu yang ditentukan.


Wajah galak dari para ‘kuli’ menyebabkan para pekerja ras Ipotxak ragu untuk berbicara dengan mereka, apalagi tubuh mereka yang berkulit gelap dan berotot dengan urat yang muncul dari lengan. Namun, tetap ada pria dari ras manusia kerdil tersebut yang memiliki keberanian untuk berbicara dengan beberapa kuli.


Seorang kuli yang berasal dari Papua menatap tajam seorang pekerja bertubuh lebih pendek darinya. Dia bersama beberapa kuli menatap mereka juga, namun sambil tetap melanjutkan pekerjaan.


“Apa masalahmu?” ucap seorang kuli asal Papua tersebut.


Pekerja yang dikirimkan untuk membantu pembangunan fasilitas Persekutuan dan Pasukan Perdamaian mayoritas berasal dari Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Tapi tetap ada pekerja yang didatangkan dari wilayah dari Kalimantan, Kepulauan Maluku, dan Papua. Lalu, pekerja yang berkulit lebih gelap dengan tubuh besar membuat pekerja bertubuh kerdil lainnya merasa penasaran.


Kuli-kuli lainnya memang memiliki warna kulit yang gelap, termasuk prajurit asal negara mereka. Namun, kulit gelap dan tubuh besar beberapa kuli dan prajurit kontingen Indonesia adalah sumber rasa penasaran beberapa pekerja ras Ipotxak di sini.


Setelah teman-temannya memberinya motivasi, salah satu pekerja ras Ipotxak berbicara. Dia adalah orang tertinggi di antara pekerja ras Ipotxak lainnya, dengan tinggi tubuh 120 centimeter. Namun, tetap saja dia masih kalah tinggi dari para kuli asal Indonesia, namun mereka lebih pendek dari para prajurit mereka.


“Apa rahasia kalian untuk membuat sebuah rumah dalam waktu kurang dari satu minggu?”


Wajah pria pendek tersebut terlihat gugup ketika mengatakan pertanyaannya. Teman-temannya berlindung di belakang punggungnya, dan melihat wajah kuli tinggi besar di depan mereka memegangi dagunya.


Lalu, kuli asal Papua tersebut memanggil seorang prajurit kontingen Indonesia untuk menerjemahkan kata-kata pria bertubuh pendek dan teman-temannya, lalu dia menanyakan pertanyaan serupa seperti yang ditanyakan pekerja pendek sebelumnya setelah prajurit yang mereka panggil menerjemahkan kata-kata sebelumnya. Mereka berkumpul sekaligus beristirahat sebentar sambil mencari ‘rahasia’ yang diinginkan pekerja ras Ipotxak tersebut.


“Rahasia? Apa mereka pikir kita punya rahasia yang membuat kita membangun rumah dalam waktu singkat?”


“Kami tidak memiliki rahasia apapun. Kami hanya ingin segera menyelesaikan tugas lebih cepat agar bisa beristirahat lebih lama.”


Prajurit yang dipanggil tadi menerjemahkan kata-kata kuli asal Jawa Timur tersebut.


“Tidak punya?! Lalu cairan ungu yang kalian minum, batang berasap yang kalian hisap, dan makanan berminyak yang kalian makan sebelumnya benda sihir apa? Bukannya itu sumber kekuatan kalian?!”


Prajurit kontingen Indonesia yang bertugas menerjemahkan kata-kata antara kedua kelompok pekerja menahan tawanya, dan itu membuat kuli asal Indonesia penasaran. Dia tidak yakin jika para kuli-kuli itu akan serius menanggapi perkataan pekerja bertubuh pendek tersebut.


Para pengawas melihat beberapa kuli dan pekerja ras Ipotxak berhenti bekerja sebelum waktu istirahat tiba, namun mereka membiarkan para kuli dan pekerja bertubuh pendek berinteraksi satu sama lain.


“Lalu, kudengar kalian berasal dari ras ’Kuli’. Apakah ras kalian pekerja dan pengrajin seperti kami?”


Prajurit yang menerjemahkan hampir tertawa lagi setelah mendengar perkataan salah satu pekerja.


“Yah… maksud kalian cairan ungu, batang berasap yang dihisap, dan makanan berminyak adalah minuman penambah stamina, rokok, dan gorengan? Itu bukanlah sumber sihir, dan hanya sumber energi selingan ketika waktu makan siang belum tiba. Lalu, di dunia kami tidak ada yang namanya ras ‘Kuli’. Masing-masing daerah di negara kami memiliki keunikan masing-masing dalam membangun dan membuat sesuatu, termasuk rumah.”


Prajurit itu mengulangi kata-katanya agar para pekerja bertubuh pendek itu paham dengan maksudnya. Lalu, setelah tahu arti dari pertanyaan yang ditujukan pada mereka, para kuli tertawa dan tidak percaya jika benda yang mereka konsumsi menurut para pekerja ras Ipotxak adalah sumber sihir yang membuat mereka cepat dan kuat dalam bekerja.


Meskipun jawabannya tidak terlalu mereka mengerti, karena mereka tidak mengenal istilah ‘minuman penambah stamina’, ‘rokok’, maupun ‘gorengan’, setidaknya mereka bisa bernapas lega jika para kuli tidak menggunakan sumber sihir dalam bekerja. Mereka juga ingin mengetahui dan belajar menggunakan alat-alat yang para kuli gunakan, serta teknik apa yang mereka gunakan. Jadi, beberapa pekerja bertubuh pendek itu mulai berbicara pada prajurit tersebut agar dia mengatakan kepada para kuli-kulinya untuk mengajari mereka sesuatu yang bisa meningkatkan kemampuan mereka.


Para kuli berotot dan berwajah galak itu tersenyum pada mereka setelah prajurit tersebut menerjemahkan permintaan para pekerja ras Ipotxak, dan memamerkan keterampilan yang mereka banggakan dalam membangun sebuah bangunan.


Orang-orang bisa mengatakan bahwa Indonesia dapat membanggakan ‘kuli’ yang mereka miliki, dan orang-orang bisa mengatakan kalau kerja sama antara kuli asal Indonesia dengan pekerja yang berasal dari ras Ipotxak adalah perpaduan yang sangat sempurna.


**


“Yang Mulia, apa Anda telah selesai melakukan persiapan diri?”


Ilhiya berdiri di depan tenda yang ditempati Sigiz, dan merupakan tenda paling besar daripada tenda-tenda kontingen Kerajaan Arevelk lainnya. Untuk sementara, pasukan kontingen Arevelk dan Yekirnovo akan tinggal di dalam tenda hingga rumah yang masih dalam pembangunan telah selesai dan dapat dihuni.


Kontingen Indonesia, Korea Utara, dan Rusia tidak bisa membiarkan kedua kontingen tersebut tinggal di tempat tinggal yang masih berupa kerangka, tanpa atap dan dinding. Lagipula, kontingen Arevelk dan Yekirnovo terbiasa tinggal di dalam tenda ketika melakukan misi atau tugas non pertempuran.


“Apa pasukan kita sudah siap?”


“Semua persiapan telah dilakukan, Yang Mulia. Ratu Sheyn dan Barisan para Mawar nya juga telah siap.”

__ADS_1


Sambil memeluk kucing peliharaannya sambil sesekali mengusap-usap bulu-bulu berwarna oranye nya, Ilhiya dengan sabar menunggu atasannya selesai mengenakan pakaian tempurnya, padahal Sigiz sudah melakukan hal ini sejak dua jam lalu.


Dia memang memerlukan bantuan setidaknya dua pelayan untuk mengenakan pakaian tempur yang memiliki beberapa bagian yang disambungkan dengan ikatan dari rantai atau benang kuat. Dia akan kesulitan untuk mengikatkan bagian-bagian tak terjangkau oleh tangannya, namun dia bisa memasang beberapa bagian tanpa bantuan pelayannya.


Dia sebelumnya secara ‘tak sengaja’ telah mendapatkan kabar jika tim yang dipimpin Nio berada di tengah bahaya, karena musuh yang berada di benteng di dekat perbatasan yang mereka jaga bergerak dengan seluruh kekuatannya. Rencananya, pasukannya bersama beberapa prajurit kontingen Yekirnovo akan menuju Zona Perbatasan Ke-21 dengan membuka Gerbang tak sempurna. Hal ini hanya diketahui kedua kontingen ketika kontingen Indonesia masih bersiap mengirimkan bantuan untuk Tim Ke-12.


Sheyn dengan 500 ksatria Barisan para Mawar dengan senjata senapan sundut adalah kekuatan yang dia kirimkan bersama 2.000 prajurit kavaleri dan 4.000 infanteri lapis baja Kerajaan Arevelk. Dia telah mengatakan alasan dirinya dan Sigiz mengumpulkan kekuatan adalah untuk berlatih bersama, karena berlatih dengan kontingen Indonesia, Korea Utara, dan Rusia hanya akan membuat kekuatan mereka terlihat sangat kecil. Alasan itu cukup untuk membuat ketiga kontingen tersebut percaya, sehingga pengiriman bantuan untuk Tim Ke-12 tidak ada kendala.


Infanteri lapis berat milik Arevelk memiliki perisai persegi panjang yang menutupi seluruh tubuh, dan terbuat dari material yang hanya bisa ditambang di wilayah yang memiliki aliran ‘Energi Magis’, sehingga logam yang digunakan untuk pembuatan perisai tersebut dinamakan ‘Baja Magis’. Setelah melalui beberapa tes, termasuk ditembaki dengan peluru 7,62mm dan 12,7mm dari senapan mesin, hasilnya perisai milik infanteri lapis baja Arevelk tak tertembus oleh lesatan peluru yang bisa secepat 1.000 meter per menit.


Karena mereka berasal dari negeri yang berbeda, mereka berkompetisi melalui kemegahan dan kualitas senjata mereka. Tapi tetap saja senjata mereka tak sebanding dengan persenjataan milik kontingen ‘dunia lain’.


Hingga akhirnya penyihir elit Yekirnovo dan Arevelk dengan bantuan Sigiz dan Ilhiya membuka Gerbang tak sempurna berdiameter 20 meter. Tidak ada orang yang curiga dengan alasan yang diberikan Sheyn, dan mereka membiarkan apa yang akan dilakukan kedua pasukan itu selama tidak merugikan Persekutuan dan Pasukan Perdamaian.


Seluruh pasukan bantuan memasuki Gerbang tak sempurna dengan tertib, dan benda sihir tersebut tertutup setelah barisan terakhir memasuki Gerbang.


Di tempat lain, 5 helikopter serang dan 2 jet tempur masih dalam pengisian bahan bakar. Sekali pengisian, seluruh capung besar dapat bolak-balik Merauke-Moskow sebanyak tiga kali.


Perkiraan waktu mereka tiba ke Zona Perbatasan Ke-21 adalah 3 jam untuk helikopter serang dan 10 menit bagi jet tempur jika mereka melaju dengan kecepatan penuh, sehingga mereka harus merasa yakin tim yang ada di sana dapat bersabar hingga bantuan tiba.


Setelah selesai mengisi bahan bakar, dua jet tempur lepas landas dari pangkalan udara yang telah dibangun kembali dengan kerja sama kuli asal Indonesia dengan pekerja ras Ipotxak dan sukarelawan.


Sesaat kemudian, kelima helikopter serang berangkat sambil mendapatkan sorakan iri beberapa anggota Grup Tempur yang tidak mendapatkan jatah pertempuran sejak kedatangan mereka ke dunia ini.


**


Dari teropong yang dia gunakan, dari jarak 3 kilometer Nio melihat sebuah helikopter pengangkut besar tengah mengangkut sebuah panser dengan senjata meriam otomatis 20mm yang terpasang di bagian atapnya. Kendaraan tersebut bergelantungan di udara, dan diikat dengan kawat baja yang dapat menahan beban setara kapal kelas penghancur. Lalu, dua helikopter serang yang bertugas mengawal helikopter pengangkut terlihat, dan mengangkut seluruh anggota baru Tim Ke-12.


Musuh bisa saja tidak paham dengan namanya ‘wilayah udara’, sehingga mereka seenak udel melintasi wilayah udara Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Baru. Jadi, jika ada misi lintas udara, markas pusat memutuskan untuk mengirimkan pengawal yang berupa beberapa helikopter serang maupun jet tempur.


Mereka datang tepat waktu, jadi Nio bisa mengerjakan sesuatu ketika menunggu anggota barunya. Anggotanya sore-sore melakukan misi tak biasa, yakni menyambut anggota baru mereka yang datang pada hari ini.


Setelah mendarat, kedelapan anggota baru Tim Ke-12 turun dengan tertib sambil membawa ransel besar di punggung mereka. Semua anggota baru tim ini adalah prajurit pria yang berasal dari kontingen Indonesia, sehingga mereka menenteng Senapan Serbu 20 generasi kedua di depan dada.


Jadi dia adalah komandan baru kami? Ternyata dia masih muda seperti yang kami pikirkan.


“Selamat datang di wilayah kami. Dan jangan lupakan jika garis depan adalah medan perang potensial.”


Seluruh kru helikopter serang dan pengangkut turun dari kendaraan mereka, total mereka berjumlah 15 orang. Dengan beberapa luka di wajah, membuat mereka dengan mudah mengenali keberadaan Nio.


Nio cukup dikenal di antara personel kontingen Indonesia, meski Nio berharap dirinya tidak terlalu terkenal di kalangan orang lain.


Ngomong-ngomong, Edera telah berusia delapan belas tahun, dan dianggap sebagai usia dewasa di dunia ini. Meski dia berasal dari salah satu ras Demihuman dan bukanlah manusia sepenuhnya, para anggota baru Nio cukup tertarik dengan pesona gadis bertelinga kucing itu. Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian, Edera bersembunyi di belakang punggung Nio dan membuat beberapa orang terlihat menahan kesal, termasuk beberapa gadis Tim Ke-12.


Ketika anggota dan kru ketiga helikopter berada di dalam salah satu tenda, Hendra turun dari pohon untuk menyambut mereka, dan tugasnya akan digantikan Hevaz bersama Ika.


Perkemahan yang digunakan Tim Ke-12 pada rencana awal adalah bangunan semi permanen yang bisa dibongkar jika situasi di perbatasan berbahaya. Tetapi mengingat jumlah personel Persekutuan dan Pasukan Perdamaian akan bertambah, ada rencana untuk mendirikan bangunan yang dibuat untuk bertahan selama sepuluh tahun kedepan. Selain itu, jumlah personel yang akan menjaga Zona Perbatasan Ke-21 akan terus bertambah secara bertahap, dan Tim Ke-12 tidak bertugas hanya untuk menjaga perbatasan saja.


Kru helikopter diijinkan untuk beristirahat sebelum kembali ke benteng, sementara itu kedelapan anggota baru mengenakan pakaian tempur lengkap untuk melakukan tugas pertama mereka di wilayah berbahaya ini. Mereka tampak melakukan tugas dengan ringan, dan langsung bertukar kata dengan yang lain.


Karena tempat di sini cukup berdebu, beberapa anggota pria mengenakan ‘kaffiyah’, dan melakukan tugas selayaknya berada di wilayah gurun berpasir. Beberapa perempuan membawa logistik tambahan ke dalam salah satu tenda yang berfungsi penyimpanan makanan, bahan bakar, dan amunisi.


Mesin panser dinyalakan, dan turret di atasnya yang dipasangi meriam otomatis 20mm berputar 360 derajat untuk melihat apakah senjata itu berfungsi dengan baik atau tidak. Beberapa dari mereka memiliki keahlian khusus memperbaiki senjata berat, sehingga Nio merasa cukup beruntung dirinya mendapatkan tambahan anggota yang berbakat.


“Pratu Sigit, apa kau bisa bertugas memantau benteng itu?”


Prajurit Satu Sigit dengan kode nama masih dipikirkan oleh Nio melihat ke arah jari telunjuk Hendra menunjuk. Dia melihat sebuah bangunan yang dari kejauhan seperti tembok besar, dan bisa melihat dengan yakin jika itu benteng setelah Hendra meminjamkan teropongnya pada Sigit.


“Siap. Lalu, bagaimana cara saya untuk memantau benteng itu?”


“Kau bisa memanjat pohon kan?”


Jawaban Sigit hanya berupa anggukan, kemudian Hendra menunjuk wilayah… alias sebuah pohon yang biasa dia gunakan untuk memantau keadaan perbatasan dari sana.


Adapun kegiatan pertama yang anggota baru laki-laki lainnya adalah mencoba untuk berkenalan dengan Nam Ae Ri, Ro Ga Eun, Hevaz, serta Edera. Mereka tidak mencoba untuk mendekati Zefanya, mungkin karena perban yang melilit beberapa bagian tubuh gadis itu, termasuk bagian wajahnya.


Tanpa mengeluh, Sigit memanjat pohon setelah Hendra memberikan beberapa penjelasan mengenai tugas ini. Di lain sisi, Hendra merasa berat untuk memberikan tugas ini kepada anggota baru itu meski hanya untuk sementara, karena hanya ini kesempatan baginya untuk menjauhi anggota lain yang berisik.


Lalu, Prajurit Satu Bayu dan Prajurit Satu Agus menghadap Sersan Mayor Hassan untuk diberikan instruksi mengenai tugas patroli perbatasan. Sementara itu, Yandi, Yogi, Ardi, Kaikoa, dan Herman berdiri di depan meja kerja Nio. Setelah mengunci tatapan pada mereka yang sama-sama berpangkat Prajurit Dua, Nio merasa yakin jika mereka telah siap melakukan tugas pertama di sini. Prajurit bernama Kaikoa berasal dari Papua, dan Nio merasa ini merupakan kebetulan untuk dirinya karena memimpin seorang prajurit yang asalnya sama dengan mantan bawahannya.


Kelima anggota baru menatap ke arah yang sama, yakni tangan kanan Nio yang berupa tangan pengganti yang sangat keren menurut mereka. Lalu mata kanan Nio… yang sudah tidak ada ditutupi dengan penutup mata seperti telah menjadi ciri-ciri paling menonjol dari pemuda itu. Namun, mereka bisa membayangkan apa yang pernah Nio lalui hingga kehilangan tangan dan mata kanannya. Menurut mereka, perpaduan antara penutup mata dan tangan bionik adalah hal yang keren, dan mereka berharap bisa mencobanya meski mereka tidak kehilangan anggota badan.

__ADS_1


Sebelumnya, Nio telah mengijinkan anggotanya untuk melepaskan beberapa tembakan peringatan jika melihat musuh bergerak mendekati garis perbatasan. Dia dan kelima anggota barunya terkejut setelah mendengar suara empat kali tembakan yang sepertinya berasal dari peluru pistol.


“Musuh terlihat! Mereka bergerak ke sini dengan cepat!”


Sigit tidak percaya jika baru beberapa menit di tempat ini dia langsung melihat ribuan musuh bergerak ke arah mereka.


Nio melihat ke arah benteng musuh menggunakan teropong, sehingga dia benar-benar melihat jumlah besar musuh bergerak ke arah wilayah tim ini. Maka situasinya semakin menegangkan ketika Nio meminta bantuan kepada kru kedua helikopter serang untuk menghalau pergerakan musuh, lalu Hassan berkomunikasi dengan pusat setelah pergerakan musuh semakin mendekat. Dia meminta markas pusat untuk mengirimkan beberapa bantuan, dengan alasan musuh dengan jumlah perkiraan sebanyak 6.000 prajurit bergerak ke Zona Perbatasan Ke-21. Setelah menghubungi markas pusat, Bima segera menghubungkan sinyal tim ini dengan tim terdekat agar Hassan dapat berkomunikasi dengan tim lainnya agar mendapatkan bantuan tambahan.


Seluruh personel telah berada di dalam kendaraan dengan wajah penuh kewaspadaan, dan kedua helikopter serang mulai dihidupkan mesinnya dan terbang 20 meter di atas permukaan tanah. Operator senjata di kendaraan taktis serta panser memeriksa kondisi dan jumlah amunisi yang telah dimuat. Setelah semua persiapan kendaraan, senjata, dan personel telah dalam kondisi siap tempur, Nio memasuki salah satu kendaraan taktis yang dikemudikan Arif.


Sementara itu, helikopter pengangkut hanya dilengkapi dengan dua meriam otomatis 40mm, sehingga Nio meminta kru helikopter tersebut sebagai pasukan bantuan tembakan jika pasukan bantuan datang terlambat.


Operator meriam otomatis pada panser mengarahkan laras senjata ke barisan musuh, namun belum menembak sebelum mendapatkan perintah dari Nio. Kedua helikopter serang menyambungkan komunikasi ke Nio, dan meminta perintah darinya namun Nio meminta agar semua orang untuk menunggu hingga musuh berada dalam jarak efektif untuk menembak. Dia yakin jika hal itu akan menambah daya hancur di pihak musuh, lalu mengakibatkan musuh mundur setelah pertarungan singkat.


Hanya ada sedikit pohon yang menghalangi bidang penglihatan, namun terdapat rintangan berupa beberapa batu sebesar rumah, dan tidak ada sungai yang menghalangi rute maju. Zona Perbatasan Ke-21 hanyalah hamparan tanah datar yang luas dan berdebu.


Pasukan Aliansi yang berada di benteng diberitahu bahwa menghancurkan musuh yang berjumlah sedikit tersebut merupakan jalur untuk mendapatkan kemenangan selanjutnya. Menurut pengintai yang dikirim, kelompok kecil musuh terlihat melakukan hal-hal aneh seperti memanjat pohon sebelum melepaskan tembakan peringatan untuk mengusir mereka.


Dengan pasukan lebih dari 4.800 prajurit berkuda dan infanteri, musuh yakin pemenangnya adalah pasukan dengan jumlah besar.


Musuh dengan jumlah kurang dari 100 orang seharusnya bisa dengan mudah dihancurkan dengan kekuatan mereka sendiri. Sebenarnya, mereka telah memanggil pasukan bantuan yang berupa puluhan penunggang naga dan wyvern. Sehingga menyebabkan seluruh prajurit yakin dapat menghancurkan kelompok kecil musuh seperti menghancurkan cangkang telur.


Mereka mulai membentuk garis pertempuran pada jarak aman dari musuh. Mereka harus memperkirakan jarak efektif untuk pemanah menembak, sehingga mereka tidak bisa sembarangan menentukan garis pertempuran. Mereka tidak memiliki penyihir, sehingga untuk pertarungan jarak jauh mereka mengandalkan pasukan pemanah yang berjumlah ratusan prajurit.


Mereka akan menggunakan taktik yang biasa.


Pemanah mereka yang tersebar menembak, dan kemudian kavaleri mereka yang perkasa akan menghancurkan pertahanan musuh. Selanjutnya, infanteri akan maju dalam formasi rapat, perisai persegi panjang mereka akan menjadi dinding perisai bergerak, dan terus bergerak hingga mencapai pertahanan musuh lalu menghabisi musuh satu persatu.


Jika mereka memiliki penyihir, mereka yakin akan mendapatkan kemenangan dalam waktu singkat.


Hingga pada akhirnya, ratusan anak panah dilepaskan dari busurnya, dan terbang dengan lintasan melengkung ke arah barisan gerobak besi musuh dan tiga capung besi raksasa mereka.


Namun, hujan anak panah mereka sepertinya tidak berpengaruh apapun pada musuh. Itu sebabnya mereka tidak mengerti apa yang digunakan musuh sehingga hujan panah seperti tidak ada gunanya.


Lalu, meriam otomatis 20mm dari panser dengan 2.000 tembakan per menit menyapu barisan depan musuh yang berupa pasukan kavaleri. Nio terpesona dengan kemampuan senjata pada kendaraan pengangkut personel tersebut, yang pernah dia lihat di pertempuran besar pertama melawan Aliansi. Mereka menghujani musuh dengan peluru, dengan beberapa ledakan yang disebabkan rudal dan roket dari kedua helikopter serang.


Mereka melakukan tembakan untuk menghancurkan musuh yang berada di zona bunuh mereka. Oleh karena itu, Nio mengandalkan senapan mesin otomatis dan meriam otomatis pada seluruh kendaraan (termasuk helikopter) untuk menghancurkan barisan depan musuh hingga pasukan bantuan tiba.


Asap tebal yang disebabkan debu dan ledakan menutupi bidang penglihatan kedua pasukan, namun Tim Ke-12 dan ketiga helikopter tidak menghentikan tembakan dan luncuran artileri. Sayangnya, musuh masih sempat-sempatnya berhenti untuk memastikan keadaan, tetapi yang mereka lihat di depan hanyalah asap hitam dan debu tebal.


Dengan tertatih-tatih, musuh menyusun kembali barisan di tengah serangan menyebar dari meriam dan senapan mesin otomatis. Mereka beruntung Tim Ke-12 tidak mengejar, namun dalam kondisi ini menyusun kembali formasi adalah hal yang sulit dan menyakitkan.


“Kendaraan kedua dan keempat menyebar, kendaraan ketiga tetap di sampingku.”


Kedua kendaraan taktis, kecuali yang ditumpangi Nio bergerak dan berada dalam jarak masing-masing 20 meter. Ujung tombak serangan adalah kedua helikopter serang yang membawa beberapa roket dan rudal.


“Letnan, apa kami diijinkan melintasi wilayah musuh?” itu pertanyaan yang berasal dari penerbang salah satu halikopter serang. Dia merasa tidak bisa menghasilkan dampak serangan jika berada dalam jarak 2 kilometer dari barisan musuh.


“Yah… ini situasi yang memperbolehkan kita melakukan itu. Kalian diijinkan mendekat ke barisan musuh. Tenang saja, aku yang bertanggung jawab.”


Dengan pemikiran yang seperti itu, anggota baru Tim Ke-12 merasa jika Nio tidak hanya menjalani beberapa pertarungan saja.


“Tuanku, ijinkan saya keluar dari kereta baja ini dan saya akan membantu pasukan Anda.”


Nio sudah menebak jika Hevaz akan mengatakan hal seperti itu, dan itu sebenarnya adalah rencana yang bagus setelah dirinya melihat pertarungan yang dilakukan Hevaz.


Lalu, Hevaz berkata lagi, “Saya akan melakukan apa saja jika itu akan menyenangkan hati Tuanku.”


Nio masih tidak mengerti gadis itu menabahkan kata ‘tuan’ di depan namanya, dan dia masih belum sempat menanyakan asal, tujuan, dan orang yang mengutus Hevaz.


Selain itu, Nio dapat merasakan ketegangan dari anggota baru dan ketiga helikopter yang membantu tim ini. Bahkan mereka seperti ada yang bersemangat melakukan pertempuran, karena jarang mengeluarkan peluru dalam jumlah besar seperti hari ini atau adrenalin yang terpacu di medan perang.


Ledakan yang dihasilkan rudal cukup kuat untuk mengguncang hati dan bergema di telinga anggota di darat.


Tanpa ruang yang cukup untuk menyusun kembali formasi, pasukan musuh dipaksa untuk menjadi peleton-peleton yang lebih kecil dan kehilangan keunggulan jumlah mereka. Melihat musuh yang tidak diberikan kesempatan untuk membalas serangan, mengakibatkan beberapa anggota baru menganggap ini bukanlah pertempuran, namun hal yang jauh lebih buruk.


“Awasi sekeliling, jangan biarkan mata kalian melewatkan musuh yang berhasil mendekat!”


Seluruh personel, kecuali operator senjata mengangkat senapan mereka, Edera dan Hevaz membantu personel yang ada di kendaraan yang sama dengan Nio mengawasi sekitar.


Dengan senyuman menyeringai, Hevaz menempelkan tubuhnya pada Nio sambil berkata, “Ada darah segar di depan sana”. Sabit yang sebelumnya tak ada, tiba-tiba muncul begitu saja seperti disimpan si saku yang bisa memuat apa saja oleh Hevaz.

__ADS_1


Tidak peduli pertempuran macam apa yang sedang dilakukan, musuh telah melakukan pertempuran yang sia-sia tanpa melakukan hal yang bertujuan mengukur kekuatan musuh mereka. Dengan serangan menjepit, Tim Ke-12 dan ketiga helikopter serang terus menyerang hingga dua jet tempur melintas seratus meter di atas mereka.


__ADS_2