
Gerbang tak sempurna terbuka dengan diameter enam meter, dan bercahaya dengan warna kemerahan hingga dapat menerangi langit malam di sebuah area kosong dekat Kota Iztok. Pasukan dengan kekuatan dua peleton – sekitar sembilan puluh prajurit, satu persatu keluar dari Gerbang dengan tertib dan melihat pemandangan ibukota Kerajaan Arevelk yang sepertinya lebih besar dari ibukota Kekaisaran Luan atau negara-negara anggota Aliansi lainnya. Sejauh mata mereka memandang, yang terlihat dari tempat mereka sekarang adalah ratusan bangunan dengan ribuan cahaya terang yang dihasilkan dari api obor.
Langit bagian timur sudah sedikit terang, yang menandakan jika fajar beberapa saat lagi akan tiba. Meski waktu bisa dikatakan masih tengah malam, Peleton Khusus Aliansi yang dikirimkan untuk menyerang ibukota Arevelk sudah dapat mendengar suara orang-orang yang telah melakukan aktivitas. Meski hanya segelintir orang yang sudah bangun ketika jam tangan milik komandan peleton masih menunjukkan pukul 03.09. Biasanya, ini adalah waktu yang pas untuk melakukan serangan malam. Pada waktu itu, warga sipil dan pasukan musuh sedang beristirahat, paling-paling hanya segelintir orang yang sudah beraktivitas atau beberapa prajurit yang melakukan kegiatan patroli, sehingga musuh bisa saja tidak siap untuk serangan mendadak mereka.
Peleton khusus bentukan Pahlawan Amarah, Rio, tidak lagi mengenakan zirah logam yang menutupi hampir seluruh tubuh. Jika tidak dilakukan latihan atau pembiasaan diri, orang akan sangat kesulitan untuk mengenakan zirah logam yang melindungi diri dari ujung kepala hingga telapak kaki. Selain itu, menggunakan pelindung logam di sekujur tubuh akan sedikit menghambat pergerakan jika pemakai tidak terlatih sama sekali. Selain itu, bunyi gesekan logam yang dihasilkan zirah logam cukup berisik meski si pemakai bergerak sehati-hati mungkin, dan tidak cocok digunakan dalam misi penyusupan.
Karena itu, peleton khusus milik Rio hanya mengenakan pelindung logam di area vital seperti dada, punggung, lengan, kaki, dan helm logam untuk melindungi kepala. Sehingga mereka terlihat seperti pasukan reguler Aliansi, tetapi tanpa mengenakan pelindung tubuh lengkap. Itu demi pergerakan personel menjadi lebih cepat, dan tidak menimbulkan bunyi gesekan logam ketika bergerak saat menjalankan misi penyusupan.
Senjata utama peleton khusus yang dikirimkan untuk menyerang Kota Iztok adalah senapan ‘modern’ dari dunia asal Pahlawan Amarah. Mereka memasang gendongan pada senapan masing-masing, dan membawa senjata itu di punggung. Selain senapan, mereka tetap membawa senjata cadangan berupa pedang yang disarungkan di pinggul dan sebuah pisau untuk pertempuran jarak dekat. Sehingga mereka mirip dengan pejuang pada masa Perang Dunia 1, atau masa-masa ketika senjata api sejenis senapan diciptakan.
Peleton dipimpin langsung oleh pembentuk mereka, yakni sang Pahlawan Amarah yang terlihat telah sangat siap untuk melihat pasukannya melakukan pekerjaan pertama mereka sejak dibentuk. Dia keluar dari Gerbang tak sempurna, kemudian menenteng Senapan Serbu 20 generasi pertama di depan dada dengan wajah penuh kepercayaan diri. Hal itu ternyata menular pada seluruh bawahannya, sehingga mereka yakin dapat meraih kemenangan di tugas pertama mereka.
“Semuanya, siapkan bayonet!” perintah Rio dengan suara lantang hingga orang dalam radius dua puluh meter darinya bisa mendengarnya.
Seluruh prajurit mengeluarkan pisau bayonet sepanjang lima puluh centimeter dari tempat masing-masing, lalu memasangkannya di ujung laras senapan. Pedang pendek bermata satu itu menambah panjang senapan yang memiliki panjang total 109 centimeter, namun tidak melebihi tinggi prajurit.
Meski pedang pendek yang berfungsi ganda sebagai bayonet bisa dikatakan tidak sebanding dengan pedang biasa, tetapi bayonet hanyalah perlengkapan tambahan jika prajurit terpaksa melakukan pertarungan jarak dekat. Senapan SP-1 dapat menembakkan peluru 7,62mm – sama seperti Senapan Serbu 20 generasi pertama dan kedua, namun hanya mampu menembakkan 750 proyektil dalam waktu satu menit. Dan telah teruji mampu menembus zirah logam pasukan infanteri reguler Aliansi.
“Tuan Rio, kita akan menyerang sekarang bukan?”
Rio senang jika bawahannya terlihat ingin segera menunjukkan kekuatan baru Aliansi pada musuh mereka, namun dia masih menunggu waktu yang dirasa cocok untuk bergerak.
Menurut informasi yang dia dapatkan, Kota Iztok tidak dilindungi oleh dinding yang berfungsi menghambat pergerakan penyerbu. Sehingga, penyerbuan yang mereka lakukan dapat berlangsung tanpa masalah kecuali ketika menghadapi prajurit Arevelk yang menyadari keberadaan mereka.
Selain itu, jarak kota itu dengan kota-kota atau benteng terdekat cukup jauh. Kota terdekat berjarak dua puluh kilometer dari Kota Iztok, lalu benteng terdekat berjarak lima belas kilometer. Jika mereka meminta bantuan, waktu yang diperlukan untuk mengirim perintah pengiriman bantuan dan pengiriman bantuan akan cukup lama, mengingat mereka masih berjalan kaki atau menaiki kuda untuk dapat mencapai ke tujuan.
Menurut Rio, menangani pasukan dengan persenjataan ‘primitif’ bukanlah masalah yang sulit baginya sekarang. Senapan SP-1 yang masih dalam proses penyebaran ke seluruh prajurit Aliansi menurutnya bisa akan merubah alur pertempuran, dimana selama ini mereka selalu kalah oleh pertarungan jarak jauh dengan senapan kontingen ‘dunia lain’ Persekutuan. Selain itu, Rio kagum dengan peleton khususnya yang dapat dilatih dengan waktu singkat untuk mengoperasikan senapan atau melakukan teknik pertempuran modern.
“Baiklah, aku menyerahkan semuanya pada kalian. Bawakan kemenangan bagi Aliansi, dan buat Persekutuan ketakutan dengan kekuatan kita. Jangan lupa… jika kalian bertemu dengan ratu kerajaan ini, bawa dia ke hadapanku.”
Personel peleton khusus Rio tersenyum miring, menyaksikan komandan mereka sangat mempercayakan tugas ini kepada mereka.
Saat itulah mereka berpikir dengan betapa mudahnya mengalahkan musuh dengan persenjataan mereka yang sekarang. Selain itu, mereka membayangkan jika kekuatan senjata yang disebut senapan itu dapat mengimbangi atau bahkan melebihi kekuatan tongkat baja hitam panjang milik pasukan ‘dunia lain’.
Sumber kekalahan terbesar Aliansi ketika penyerbuan besar pertama melawan Pasukan Ekspedisi adalah daya tembak dan dampak yang dihasilkan senjata-senjata baja milik musuh mereka. Ketika merencanakan pembuatan senapan SP-1 bersama Baron, Rio berharap dengan adanya senjata modern dapat mengatasi kelemahan Aliansi terhadap pertempuran jarak jauh kontingen ‘dunia lain’. Rio bisa mengatakan jika SP-1 bisa mencegah pertarungan satu sisi yang sangat menguntungkan Persekutuan dengan berbagai senjata jarak jauh milik mereka, SS20 G2 varian reguler misalnya.
Melihat peleton khusus miliknya berangkat melaksanakan tugas yang dia berikan – menyerbu Kota Iztok dan membawa Sigiz untuk dimilikinya, Rio berpikir akan lebih bagus jika dia membuat senjata-senjata modern untuk memperkuat Aliansi. Bahkan senjata pada masa Perang Dunia 2 menurutnya bisa mengimbangi senjata modern milik kontingen ‘dunia lain’ Persekutuan.
Rio berjalan di belakang pasukan elitnya untuk menyerbu Iztok, dia tidak ingin hanya berdiri di depan Gerbang tak sempurna yang dia buka dan menunggu hasil baik yang akan bawahannya berikan untuknya. Dia merasa perlu ikut bertarung, meski sudah melihat kemampuan menggunakan senjata dan teknik bertarung yang telah dipelajari bawahannya dengan cepat.
Dia membayangkan dapat memiliki ratu Kerajaan Arevelk setelah memenangkan pertarungan, dan memenangkan pertempuran melawan Persekutuan selanjutnya. Dia akan memanfaatkan otoritasnya sebagai salah satu komandan tertinggi Aliansi, sekaligus pemilik kekuatan Pahlawan Amarah untuk memenangkan pertempuran demi pertempuran dan mendapatkan apapun yang dia inginkan, seperti wanita atau kekuasaan.
Rio tidak berasal dari Kekaisaran Luan, Kerajaan Biez, Kekaisaran Duiwel, atau negara anggota Aliansi lainnya. Dia tidak memiliki siapapun untuk dilindungi di dunia ini, dan merasa tidak perlu berjuang terlalu keras untuk melindungi siapapun. Dan dengan kekuatan serta gelar Pahlawan Amarah yang dia miliki sekarang, dia akan mendapatkan apapun yang diinginkan menggunakan kekuasaan yang dia dapatkan selama berjuang bersama Aliansi. Dia bahkan tidak perlu menggunakan energi ekstra untuk mendapatkan wanita incarannya.
“Tinggal menunggu waktu, dan aku akan benar-benar mengalahkan kalian, termasuk membunuh orang itu.”
Rio memegangi area kiri lehernya yang terdapat luka sayatan benda tajam – seperti milik Nio. Bekas luka itu memang dia dapatkan saat bertarung melawan Nio, namun dengan kekuatan pahlawan yang dia miliki luka itu bisa dengan mudah dan cepat menghilang meski meninggalkan bekas. Dia masih ingat ketika Nio dapat dengan mudah mengalahkannya meski dalam kondisi kelelahan dan terluka setelah menghadapi gelombang serangan tiga kali sehari selama satu minggu Aliansi. Intinya, seorang pahlawan yang memiliki kekuatan besar seperti dirinya tidak ingin kalah oleh prajurit biasa yang memiliki kekuatan biasa.
Bahkan, jika dia berhasil mengalahkan atau membunuh Nio jika mereka berdua bertemu di pertempuran selanjutnya, Rio akan mengambil semua yang dia miliki… apapun itu.
Meski udara di sekitar cukup dingin, tetapi nafsu di hati Rio tetap membara, membuat dia tidak sabar untuk melakukan pertempuran selanjutnya untuk mendapatkan kemenangan… dan membunuh Nio kemudian merebut semua yang dia miliki sebagai bentuk balas dendam.
**
Di dunia ini, belum tercipta sistem peringatan dini untuk memberitahu masyarakat adanya musuh yang menyusup atau menyerbu. Satu-satunya yang mereka andalkan untuk mengetahui adanya musuh adalah unit yang sedang berpatroli, meski itu tidak terlalu berguna. Jika musuh yang menyerbu memiliki kekuatan lebih besar, unit yang sedang berpatroli bisa saja akan dihabisi, sehingga tidak ada yang memberitahu masyarakat adanya pertempuran.
Dan bahkan musuh berhasil menyerbu ke tempat tinggal mereka, warga sipil sepakat untuk berjuang bersama melawan musuh untuk mempertahankan hidup dan keluarga. Berjuang untuk membela negara, keluarga, dan saudara mereka adalah tugas dan hak rakyat, dan mereka tidak membiarkan musuh mengambilnya dari mereka. Namun, pada negara-negara tertentu di dunia ini, konsep seperti itu tidak berlaku. Kebanyakan rakyat di suatu dengan di dunia ini tinggal di wilayah yang bisa direbut dan dikuasai pihak yang merebut, sehingga mereka tidak memiliki kesetiaan terhadap negara yang mereka tepati.
Alarm peringatan memang belum hadir di dunia ini, namun suara ledakan dan teriakan orang-orang adalah kode adanya serangan musuh. Sebagian warga yang mendengar suara tersebut terbangun dari tidur belum pada waktunya, dan memutuskan untuk mengunci pintu agar musuh tidak memasuki kediaman mereka. Beberapa pria memutuskan menenteng senjata seperi kapak atau pedang jika sewaktu-waktu musuh masuk kedalam rumah dan membahayakan keluarga mereka. Sebagian dari warga memang tidak memiliki pengalaman tempur, tetapi berkorban untuk keluarga adalah sebuah kebanggan. Selain itu, mereka yakin jika kontingen ‘dunia lain’ akan membantu menghadapi musuh yang mengganggu ketenangan tidur mereka.
“Bajingan Aliansi itu tidak pernah berhenti membuat masalah.”
“Kenapa mereka memiliki senjata yang dimiliki pasukan dunia lain?”
Sebuah regu pasukan elit Arevelk menahan peluru yang ditembakkan Peleton Khusus Aliansi. Perisai persegi panjang yang melindung seluruh tubuh mereka sangat kuat saat menghadapi badai timah, meski harus sedikit tersentak kebelakang ketika puluhan hingga ratusan peluru menghantam perisai mereka dalam beberapa menit. Mereka harus menahan salah satu jalan di utara Kota Iztok hingga pasukan bantuan datang untuk menghadapi musuh.
Peleton Khusus Aliansi memilih jalur utara Kota Iztok sebagai titik awal untuk penyerangan yang mereka lakukan, karena pertahanan di sini cukup lemah dan hanya beberapa regu yang berpatroli di sini. Daerah-daerah sempit dan penuh dengan persembunyian akan berfungsi sebagai pertahanan bagi Peleton Khusus Aliansi untuk menghadapi pasukan elit Arevelk dengan perisai kuat mereka, yang dikirim untuk menahan serangan dari mereka.
Tembakan Peleton Khusus Aliansi menyapu pasukan elit Arevelk yang berlindung di balik perisai kuat mereka seperti badai timah, tidak peduli apakah serangan itu mampu menembus perisai pasukan elit Arevelk atau tidak. Serangan mereka tidak beraturan, berantakan, putus-putus, namun tanpa henti.
Di belakang pasukan bertahan, ada puluhan warga yang berusaha menyelamatkan diri dan menjauh dari daerah pertempuran. Adanya warga yang berusaha menjauh dari pertempuran, regu pasukan elit yang menahan serangan musuh berusaha terus bertahan hingga bantuan datang. Setidaknya begitu, meski itu harus berakhir dengan gugurnya salah satu atau seluruh regu yang bertahan di balik perisai mereka agar para warga dapat berada di tempat aman.
__ADS_1
Melihat ada puluhan warga sipil yang berlarian, Peleton Khusus Aliansi menghentikan tembakan, dan berlari ke arah barisan tembok perisai pasukan elit Arevelk. Mereka berniat menghemat amunisi, dan memutuskan melakukan pertarungan jarak dekat. Mereka berlari kencang ke arah barisan rapat perisai tebal dan kuat pasukan elit Arevelk.
Mereka sudah berhenti? Begitulah pikir seluruh personel regu yang bertahan di balik perisai kuat mereka.
Salah satu personel regu pasukan elit Arevelk mengintip dari celah perisai untuk memantau situasi, setelah musuh tidak menembaki mereka. Namun dia sedikit terlambat untuk melakukannya. Puluhan personel Peleton Khusus Aliansi melompati barisan perisai mereka disertai dengan teriakan yang penuh semangat – seperti pasukan Kekaisaran Jepang pada era Perang Dunia 2. Mereka menghantamkan popor senapan ke kepala prajurit Arevelk yang terkejut dengan serangan mendadak itu berkali-kali, beberapa personel menusukkan bayonet ke leher atau bagian wajah yang tak terlindungi oleh apapun atau hanya dilindungi oleh kain dan pelindung yang terbuat dari kulit. Keunggulan jumlah dan kelincahan musuh membuat mereka hanya bisa bertarung dengan putus asa sambil berusaha mempertahankan diri dan melindungi kawan.
Peleton Khusus Aliansi mengulangi serangan itu, dan melelahkan stamina dan moral pasukan elit Arevelk. Mereka melakukan pertempuran jarak dekat setelah menyadari perisai pasukan elit Arevelk terlalu keras, dan peluru 7,62mm hanya terpental tanpa menimbulkan kerusakan yang berarti pada musuh. Mereka dilatih bertarung jarak dekat dengan memanfaatkan bayonet atau bagian senapan lainnya. Mereka benar-benar dapat memanfaatkan pergerakan mereka yang lebih lincah daripada ketika masih mengenakan pelindung tubuh lengkap, dan terus melawan musuh yang tidak diuntungkan dalam hal kelincahan karena mengenakan zirah logam lengkap yang agak membatasi pergerakan.
Setelah mereka berhasil melukai dan membuat beberapa personel musuh tak dapat bergerak, seluruh personel Peleton Khusus Aliansi menembaki mereka yang sudah tak sadarkan diri beberapa kali. Beberapa dari mereka masih sadar ketika tembakan menembus zirah logam dan membuat mereka mati. Hingga akhirnya salah satu regu pasukan elit Arevelk mereka kalahkan sebelum bantuan musuh datang. Saat itu, masih banyak warga sipil yang berlari ke tempat yang aman sambil membawa barang berharga yang bisa di bawa.
Seluruh prajurit Aliansi didoktrin untuk menghabisi musuh di depan mereka, baik itu prajurit bersenjata atau warga sipil tanpa senjata. Mereka percaya jika melakukan hal itu, maka musuh akan menjadi gentar dan tidak ada warga sipil yang akan menjadi prajurit di kemudian hari karena telah mereka habisi sebelumnya atau takut dengan kekuatan mereka. Karena itu, para pahlawan lainnya menjuluki Pasukan Aliansi sebagai ‘Pasukan Salib dari dunia lain’. Karena yang mereka lakukan hampir sama dengan Pasukan Salib ketika berperang melawan pasukan muslim, yakni membunuh siapapun yang mereka lihat di wilayah musuh, baik itu pria, wanita, anak-anak, warga lansia, dan hewan ternak milik rakyat di negara musuh mereka.
Langit di Kota Iztok – tempat pertempuran masih diselimuti warna gelap dan bintang-bintang yang berkelap-kelip – seperti ujung laras SP-1 milik Peleton Khusus Aliansi yang menghujani warga Kota Iztok yang berlarian berusaha menyelamatkan diri dan menjauh dari mereka dengan peluru secara acak. Beberapa warga yang malang tertembak di kepala, kaki, dan bagian tubuh lainnya dan menyebabkan kematian instan bagi mereka. Teriakan yang berisi kutukan terhadap Aliansi terdengar, namun Peleton Khusus Aliansi tidak menanggap hal itu dan terus menembaki orang-orang yang meneriakkan kebencian terhadap mereka.
Dalam menghadapi warga sipil, mereka tidak perlu taktik khusus karena mengandalkan keunggulan kekuatan yang luar biasa, dan menembaki warga sipil sesuka hati asalkan tidak membuang amunisi secara berlebihan, sehingga mereka menembak dalam mode putaran tunggal. Itulah mengapa ada beberapa anak-anak di antara korban tewas di pihak warga sipil.
Peleton Khusus Aliansi terus bergerak setelah menghabiskan puluhan peluru untuk menghabisi puluhan warga sipil… yang bahkan tidak berusaha melawan mereka. Dengan wajah penuh kebanggan, mereka melangkahi mayat-mayat warga sipil yang tergeletak di genangan darah mereka sendiri. Beberapa personel Peleton Khusus Aliansi menusukkan bayonet mereka ke tubuh beberapa warga sipil, sebagai antisipasi jika ada warga yang masih sadar. Kemudian, mereka kembali bergerak dengan bayonet berlumuran darah milik warga sipil.
Rio menyaksikan dari belakang bawahannya, dan merasa miris dengan keadaan warga sipil tak bersalah yang dihabisi bawahannya. Tetapi, ini adalah doktrin yang tidak akan mereka khianati, sebagian dari mereka menganggap membunuh warga sipil sebagai bentuk antisipasi adanya gerakan dari pihak yang memusuhi Aliansi dan berniat membalas perbuatan mereka. Lalu, alasan mereka membunuh anak-anak adalah mencegah adanya generasi penerus yang dikhawatirkan akan membahayakan Aliansi. Sedangkan membunuh warga lansia menurut mereka karena golongan tersebut tidak akan berguna, bahkan tidak dapat dijadikan atau dijual sebagai budak.
Memiliki keunggulan jumlah yang luar biasa memungkinkan Aliansi untuk mengurangi kelemahan dan kurangnya persenjataan modern mereka.
Kadang-kadang Rio berpikir, apakah kita melakukan perbuatan yang melanggar hak asasi manusia dan Hukum Perang Internasional?
Tetapi, dia telah memutuskan untuk berjuang bersama Aliansi – untuk dapat pulang ke dunia asalnya hidup-hidup. Dia telah memutuskan untuk tidak akan kalah dengan pasukan yang memiliki mesin pembunuh yang disebut Persekutuan. Dia tidak memiliki alasan untuk menolak segala perintah untuk bertarung melawan musuh, bahkan jika itu mengharuskan membunuh warga sipil tak berdosa juga. Dia berperang di dunia yang belum mengenal Hukum Perang Internasional. Sebelum berjuang bersama Aliansi, Rio tidak setuju pada beberapa poin di Hukum Perang Internasional yang menurutnya tidak cocok dengan kejamnya perang. Dia merasa tak masalah membunuh warga sipil – yang berpotensi berkhianat, atau menggunakan warga sipil sebagai tameng hidup ketika melawan musuh. Dan dia telah mendapatkan kesempatan tersebut setelah menjadi Pahlawan Amarah dan berjuang bersama Aliansi melawan Persekutuan.
“Tuan Rio! Jangan melamun! Apakah Anda ingin mati?!”
Dia tersentak setelah berjalan di antara mayat-mayat warga sipil dan berusaha menghindari darah agar tidak mengenai sepatu bot-nya. Kata-kata itu berasal dari salah satu bawahannya yang bersembunyi di balik gerobak kuda yang masih terdapat muatan berupa sayuran bersama beberapa anggotanya. Untuk beberapa saat dia hanya berdiri mematung, lalu mendengar suara mesin kendaraan yang semakin dekat dengan pasukannya. Dia merasa jika ada kontingen ‘dunia lain’ di Kota Iztok, dan itu tidak sesuai dengan informasi yang dia dapatkan. Dia tidak mendapatkan informasi jika ada kontingen ‘dunia lain’ di Kota Iztok dari mata-matanya, sehingga dia memutuskan hanya membawa dua peleton untuk menyerbu ibukota Kerajaan Arevelk ini.
Pertempuran kemungkinan tidak akan berjalan baik setelah dia mendengar suara kendaraan lapis baja yang semakin dekat dengan pasukannya. Peleton pertama yang bertanggung jawab sebagai pemukul utama pertahanan musuh, mungkin berada di dekat rombongan kendaraan lapis baja tersebut. Peleton kedua ada di dekatnya, dan bertugas sebagai penyerang kedua dalam pertempuran jarak jauh dan dekat. Kalau itu terjadi, peleton pertama berada dalam bahaya yang tidak terduga. Rio tidak memiliki perangkat komunikasi, lalu jika dia berteriak suaranya akan bergema ke segala arah, dan menyebabkan keberadaannya dan peleton kedua akan diketahui oleh musuh.
“Kita menyusul peleton pertama, aku punya firasat buruk tentang ini.”
Seluruh bawahannya hanya menanggapi perintahnya dengan anggukan, dan bergerak ke arah peleton pertama berada. Jika bayangannya benar-benar terwujud, Rio harus merelakan peleton pertama menjadi bulan-bulanan senjata kontingen ‘dunia lain’ yang jauh lebih modern dan brutal dari milik mereka. Dia hanya berharap pada peleton pertama-nya untuk tidak melawan senapan mesin berat milik musuh dengan bayonet dan pertempuran jarak dekat yang sia-sia. Hingga akhirnya mereka dapat menemukan peleton pertama yang bersembunyi di salah satu jalan sempit – dengan wajah resah setelah mendengar suara kendaraan lapis baja yang terus bergerak untuk mencari keberadaan mereka.
**
Entah kenapa Nio berpikir jika tim-nya selalu muncul di medan perang yang sama sekali tidak diharapkan, dan pertarungan yang paling berbahaya. Kendaraan taktis yang dia tumpangi dikendarai oleh ‘Parkour’ alias Herman dengan kecepatan melebihi 70 kilometer perjam di jalanan Kota Iztok yang tidak rata, sehingga Nio merasakan perutnya mulai tidak membuat perasaannya nyaman. Kendaraan taktis kedua bergerak di lokasi lain, begitu pula dengan panser yang berpencar untuk mengepung musuh dan memblokir jalur yang diperkirakan akan menjadi jalan musuh untuk kabur.
“Pengajar kepada Mayat Hidup, ada kekuatan yang berkekuatan satu peleton bergerak ke arahmu, kemungkinan itu adalah musuh. Kami sedang menghadapi satu peleton lainnya bersama panser. Musuh benar-benar memiliki senapan, harap hati-hati.”
Headfree komunikasi di telinga kanan Nio memperbarui status yang diberikan Pengajar, alias Ferdi. Dia bisa dengan jelas mendengar suara tembakan yang saling membalas satu sama lain, dan suara tembakan khas senapan mesin berat.
“Anjing! Mereka benar-benar datang. Semuanya bersiap melakukan pertempuran dalam kota, musuh memiliki senapan.”
Nio bersuara dengan keras setelah melihat sebuah peleton bergerak ke arah mereka dengan mobilitas yang terlatih, dan seluruh bawahannya menjawab dengan serempak, “Siap!”
Seluruh orang turun dari kendaraan sambil menenteng senjata masing-masing. Sedangkan operator senapan otomatis 12,7mm tetap berada di dalam kendaraan untuk memberikan bantuan, ia adalah ‘Pembalap’ alias Yogi. Sementara itu, ‘Mata Biru’ alias Zefanya menenteng senapan penembak jitu produksi negaranya, dan bergerak dengan cepat ke arah salah satu bangunan berlantai tiga yang sudah kosong. Setelah tiba di atap bangunan, Zefanya menyiapkan amunisi yang berupa peluru anti-personel 7,62mm, dan mengaktifkan senapan ke mode siap tembak sambil membidik sasaran.
“Hevaz, apa kau sudah selesai melakukan persiapan?”
Nio belum terjun ke pertarungan, dan Hevaz masih ‘menahannya’ hingga dia benar-benar telah selesai melakukan persiapan.
“Saya sudah selesai melakukan persiapan, Tuanku. Setelah ini, saya akan melakukan persiapan untuk melayani hasrat Anda.”
“Terimakasih, tapi aku sekarang lebih membutuhkan kau untuk segera menyingkir dari pangkuanku.”
“Tu-Tuan Nio, saya juga akan melayani Anda,” sambung Edera dengan wajah sedikit memerah.
Nio mengerang dari tempat duduknya, dan tidak tahu harus bahagia atau tersiksa atas perilaku dua orang gadis yang menyatakan diri sebagai ‘pelayan pribadinya’. Beberapa saat ketika pikirannya berdebat apakah dia harus menerima pelayanan dari mereka berdua, kaca depan kendaraan taktis terkena tembakan beberapa peluru dari musuh. Untungnya, kaca anti-peluru mampu mementalkan proyektil yang ditembakkan musuh, sehingga dia dan kedua gadis tersebut masih hidup – meski Edera terlihat sangat syok. Sementara operator senjata, Yogi, menatap Nio dengan tatapan ingin membunuh kaptennya, meski sebelumnya juga terkejut setelah beberapa peluru musuh mengenai kaca depan kendaraan.
Hevaz melompat keluar dari dalam kendaraan, dan langsung mengeluarkan sayapnya kemudian melesat dan terbang dengan kecepatan tinggi sambil menenteng sabit besarnya. Sementara itu, Nio masih ragu jika Edera akan selamat jika gadis itu memutuskan ikut bertarung.
Dia menggunakan pintu penumpang sebagai tameng, dan menembaki musuh yang bersembunyi di berbagai tempat. Edera menatap Nio yang sedang mencari-cari keberadaan musuh yang bersembunyi tanpa bisa melakukan apa-apa, dan merasa jika pertarungan jarak jauh bukanlah keahliannya. Karena itu, dia akan menggunakan kemampuan penciuman dan penglihatannya yang lebih baik dari manusia biasa. Karena dia berasal dari ras kucing, Edera mampu melihat dengan cukup jelas pada kegelapan. Dia kemudian duduk di bangku penumpang, dan akan menjadi penunjuk Nio agar pemuda itu bisa dengan mudah menemukan musuh.
Peleton pertama benar-benar bertemu dengan musuh, dan dengan panik mencari tempat persembunyian dari musuh yang mempersiapkan serangan untuk menghadapi mereka. Dengan gerakan cepat, mereka menggunakan gerobak dan sisi bangunan sebagai tempat perlindungan.
Seorang personel peleton pertama melepaskan serangkaian tembakan pada gerobak baja musuh, dengan harapan membunuh orang yang masih berada di dalamnya. Namun, serangannya sia-sia, dan kaca kendaraan dengan mudah mementalkan peluru yang dia tembakan, dan penumpang yang masih berada di dalam selamat. Dia dan seluruh rekannya kesulitan menyerang musuh ketika suasana masih gelap, dan penerangan hanya mengandalkan obor yang terpasang di rumah-rumah warga.
“Sialan, tidak ada yang bilang ada pasukan dunia lain di sini, kan?!”
__ADS_1
“Apa masalahnya, kita bisa mengimbangi mereka sekarang!”
“Sial, apa yang dilakukan peleton kedu-“
Kedua personel peleton pertama terkejut ketika salah satu rekan mereka tidak menyelesaikan ucapannya, dan telah dalam kondisi kepala berlubang. Mata rekan mereka yang tertembak secara misterius masih terbuka mengejutkan mereka berdua hingga berlari meninggalkan tempat tersebut.
Nio melihat dua orang yang berlari dari balik gang mengarahkan pistol mitraliur-nya ke arah mereka berdua, dan menekan pelatuk beberapa detik hingga kedua orang musuh tersebut lumpuh dan tidak bergerak lagi. Berlindung di balik kendaraan membuatnya tidak dapat menemukan musuh dengan cepat, sehingga dia memutuskan bergerak dan bersembunyi di balik kios pedagang bersama Agus. Edera yang melihat tuannya memutuskan berpindah tempat persembunyian membuatnya berpikir ingin mengikutinya, tetapi Nio menggelengkan kepalanya beberapa kali sebagai kode jika dia tidak diijinkan keluar kendaraan, apalagi menyusul pemuda itu.
Peleton pertama berhadapan dengan Nio dan anggotanya yang telah menyebar, dan bersembunyi dengan cepat sehingga mereka tidak sempat menemukan keberadaan anggota Nio tersebut. Sasaran utama mereka tetaplah kendaraan taktis yang terparkir di tengah jalan, namun seluruh usaha mereka tetaplah sia-sia.
“Jangan gentar, musuh lebih sedikit dari kita!”
Beberapa peluru melesat dari tempat yang belum diketahui, seakan-akan si penembak bersembunyi di suatu tempat dengan sangat baik. Zefanya menembakkan sebuah peluru dan melesat ke arah seorang musuh yang berjarak paling dekat dengan Nio dan Agus berada. Peluru 7,62mm yang melesat dengan kecepatan 3.000 meter per detik menembus kepala musuh malang yang membidikkan senapannya ke arah rekan-rekannya tersebut.
Keributan kembali terdengar setelah kepala seorang personel peleton pertama hampir pecah, Nio akhirnya bisa mendengarnya dari tempatnya. Ketika dia memutuskan bergerak untuk mendekati musuh, beberapa tembakan terdengar dan mereka berdua hampir terkena peluru yang ditembakkan musuh. Nio dan Agus kembali ke tempat persembunyian mereka sebelumnya. Hanya mengandalkan kemampuan melihat dalam malam, mustahil bagi Nio dan Agus menembak dengan tepat sasaran.
“Dasar anjing-anjing Persekutuan! Hei! Kita mundur ke tempat peleton kedua berada!”
Komandan peleton pertama yang masih hidup menggerutu atas musuh-musuhnya yang terus mengepung dan membunuh bawahannya secara misterius. Komandan peleton tentu saja menyadari jika keputusannya sangat berbahaya. Dia dan sisa anggota peleton pertama bergerak ke tempat peleton kedua berada dengan senyap.
Zefanya membidik anggota yang bergerak di barisan paling belakang, menghembuskan napas dari mulut dengan sangat tenang, dan jari telunjuk indahnya menekan pelatuk untuk menembakkan sebuah peluru yang akan melubangi kepala seorang personel musuh tersebut. Dia berhasil membunuh satu orang musuh lagi, tetapi sisa musuh berhasil melarikan diri yang menyebabkan dia harus turun dari tempatnya berada dan menyusul rekan-rekannya.
Nio kemudian menyuruh Herman mendekati dirinya.
“Herman, kau bergerak bersama yang lain untuk mengejar musuh yang kabur.”
“Siap, tapi bagaimana denganmu, Letnan?”
“Aku akan menyusul kalian sambil berjalan, ada satu hal yang ingin aku ambil.”
“Siap, harap hati-hati, Letnan Nio.”
Nio mengawal pergerakan anggotanya agar semua memasuki kendaraan dengan aman. Kendaraan taktis melaju melewatinya, dan terlihat Edera melihatnya dengan tatapan sedih. Kendaraan taktis yang dikemudikan Herman melaju ke arah yang sama dengan arah musuh yang mundur.
“Ah, sepertinya mereka melupakan Zefanya.”
Nio bergerak dengan senyap ke arah seorang musuh yang telah dibunuh oleh penembak jitu Tim Ke-12, ‘Mata Biru’ alias Zefanya. Dia penasaran dengan senapan yang digunakan musuh, karena senjata milik musuh juga dapat melakukan mode tembakan otomatis penuh yang tentu saja berbeda dengan senapan abad pertengahan seperti senapan sundut milik Yekirnovo.
Setelah menyelempangkan pistol mitraliur PM-22 V7 Kal 9mm-nya di punggung, Nio bergerak mendekati beberapa senapan milik musuh yang telah terbunuh. Setelah berada di dekat senjata musuh, dia berjongkok untuk mengamatinya. Dia merasa familiar dengan senjata yang digunakan musuh – seperti senapan yang pernah dia lihat di museum.
“Senapan tipe SP-1? Apa ada orang dari masa Orde Baru di dunia ini?” ucap Nio di dalam hati sambil mengambil senapan itu untuk diamati lebih lanjut.
Nio mendengar suara langkah kaki dari belakangnya, dan dengan tiba-tiba Nio mengarahkan senjatanya pada seseorang yang berdiri di belakangnya.
“… Zefanya, kenapa kamu tidak menyusul yang lain?”
Wajah Zefanya hanya menunjukkan ekspresi datar, dan menatap lurus ke arah mata Nio. Dia yang melihat perilaku gadis Rusia tersebut tiba-tiba berubah, berdiri di hadapan Zefanya sambil membawa senapan musuh. Melihat senapan penembak jitu di punggung Zefanya membuat Nio yakin jika yang membunuh tiga orang prajurit musuh adalah gadis itu, namun ekspresi Zefanya yang berubah dengan cepat membuat Nio resah.
Dia belum mendengar suara tembakan lagi sejak musuh yang dihadapi beberapa saat lalu mundur, sehingga suasana yang tenang ini membuat Nio curiga.
Nio lebih tinggi dari Zefanya, sehingga gadis itu harus mendongakkan wajahnya sedikit ke atas untuk bisa melihat wajah Nio.Kedua tangan Zefanya kemudian mencengkram kerah kemeja Nio, sehingga membuat Nio sedikit terkejut.
Zefanya mencengkram kerah kemeja Nio dengan kuat, seakan-akan dia mengerahkan seluruh tenaganya pada cengkeramannya. Gadis itu merasa tubuhnya tiba-tiba panas, dan rasanya seperti akan meledak jika tidak melakukannya sekarang.
“Zefanya, kita harus menyusul yang lain.”
“… Diam.”
“Hah? Ada apa dengan dirimu-“
Zefanya senang mendapatkan atasan seperti Nio, yakni seseorang yang tidak menjauhinya dengan menggunakan fisiknya sebagai alasan. Meski Nio cukup sulit untuk benar-benar akrab dengan rekan-rekan barunya, pemuda itu bahkan berusaha keras untuk memahami karakter setiap bawahannya, termasuk dirinya. Sehingga, itu membuatnya bahagia karena merasa ada seseorang yang benar-benar menghargai dirinya apapun kondisinya.
Dia senang bertemu Nio di medan perang potensial yang disebut ‘dunia lain’.
Tanpa sadar Zefanya merasa tubuhnya terdorong ke depan, dengan sebuah perasaan yang membuat hatinya sesak jika tidak melakukannya sekarang juga. Kata-kata tidak akan cukup, sehingga Zefanya memutuskan untuk melakukannya secara langsung.
Mata Nio membulat karena terkejut dengan apa yang dilakukan Zefanya padanya. Zefanya menarik kerah kemejanya dengan kuat, sehingga Nio terpaksa mengikuti arah tarikan yang dilakukan gadis Rusia tersebut. Perbedaan tinggi keduanya hanya dua kepala, tetapi berkat tarikannya membuat Nio menunduk. Bibir mereka berdua mendekat secara perlahan dan semakin dekat, lalu…
… Zefanya melakukan ciuman pertamanya dengan Nio.
**
__ADS_1
(ilustrasi pistol mitraliur, sumber gambar pinterest)