Prajurit SMA

Prajurit SMA
76. Kesempatan yang didapatkan Sigiz


__ADS_3

13 September 2321, pukul 14.09 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, siang hari.


**


Di dalam benteng kura-kura, beberapa bangunan terlihat baru dibangun, sehingga cat baru mereka belum mengering. Terlihat beberapa truk pengangkut yang baru keluar dari Gerbang, sekelompok prajurit menyemprotkan desinfektan ke seluruh badan kendaraan.


Di luar benteng kura-kura, di sekitar Tanah Suci, tanah datar ini di bentuk menjadi pertahanan yang berupa parit yang saling terhubung dan memanjang, rintangan yang diisi dengan kawat berduri dan bunker beton yang berisi sepuluh prajurit dan puluhan turret yang dipasang mengelilingi benteng.


Di sebelah timur benteng, sekelompok kuli membangun landasan pacu pesawat dan helikopter. Beberapa jet tempur terlihat sedang dirakit oleh para ahlinya.


Tidak ada yang menarik saat melewati Gerbang, kecuali sebuah terowongan panjang yang gelap. Tidak ada taman hiburan di tempat ini bagi para prajurit, mereka mungkin akan sangat kecewa.


Namun bukan berarti TNI tidak memiliki kesenangan di dunia ini, hampir setiap hari mereka akan melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat, alias berpetualang. Namun bagi beberapa orang, taman hiburan jauh lebih menarik daripada Garnisun seperti ini.


Orang-orang mungkin bisa mengatakan jika tidak ada perbedaan pemandangan di kedua ‘dunia’ di sisi Gerbang.


Karena itu, Sigiz melihat Tanah Suci seperti dunia lain baginya. Dia menerima tawaran Nio untuk bertemu Jendral Sucipto, dan meminta ijin agar pasukannya dapat melewati wilayah sekitar benteng.


Sebenarnya beberapa bawahan Sigiz ingin menemani ratu mereka menuju benteng milik TNI. Namun dia berkata bahwa “Aku akan pergi sendiri” dengan penuh tekad dan percaya diri. Lagipula, tidak ada tempat di kendaraan yang dimiliki Regu 1 untuk memuat ratusan bawahan Sigiz.


Sigiz sebelumnya telah memerintahkan pasukannya untuk kembali ke perbatasan, sebelum dia mendapatkan ijin untuk melewati wilayah sekitar benteng, pasukannya tidak akan diberangkatkan untuk menyerang ibukota Kekaisaran Luan. Nio juga telah mengatakan tidak punya waktu untuk menunggu bawahan Sigiz perlahan-lahan menyusul mereka dengan menunggang kuda.


Dengan kecepatan tinggi, seluruh kendaraan dalam waktu dua hari dapat tiba di benteng. Pemandangan di Tanah Suci sudah tidak asing lagi bagi Sigiz. Tanah yang dulunya kosong, sekarang telah berdiri sebuah benteng.


Grup Tempur 3 melakukan penerbangan dengan enam helikopter tempur mereka. Mereka melewati jalan yang baru dibangun, dan menyebabkan rumput dan pasir beterbangan.


Hal pertama yang dilihat Sigiz adalah beberapa Regu Grup Tempur bergerak dengan cepat sambil membawa bendera unit di tangan Komandannya. Sigiz mendengar mereka seperti sedang melantunkan ‘mantra’ yang tidak ia mengerti. Namun itu hanyalah perintah Komandan Regu terhadap bawahannya, dan para bawahan itu hanya mengulang perintah agar lebih jelas dan tidak melakukan kesalahan saat melakukan latihan tempur.


Kecepatan kendaraan meninggalkan para Grup Tempur yang sedang melakukan latihan tempur.


TNI telah mempertimbangkan kemungkinan pertempuran terbuka sebelum melakukan ‘invasi’ ke negara-negara yang berperang dengan Indonesia. Jadi, mereka telah meminta beberapa Regu penjelajah untuk mengirimkan foto bangunan yang umum berdiri di tempat ini.


Para pekerja membuat tiruan bangunan rumah dengan bahan sisa, yang akan digunakan para prajurit untuk berlatih taktik pertempuran dalam kota mereka.


Awalnya, Sigiz tidak tahu cara tempur pasukan ini.


Di dunia ini, bentuk serangan yang paling banyak digunakan adalah menyerang kavaleri atau infateri dalam jarak dekat sambil berteriak dengan penuh semangat, atau dengan pertempuran berdarah dan mengerikan lainnya.


Setiap prajurit akan bertarung satu lawan satu dengan musuh mereka, atau saling bekerja sama untuk saling menghancurkan musuh masing-masing. Mereka akan menghabisi lawan di hadapan dengan senjata pedang baja, tombak atau pentungan berpaku.


Taktik tempur dasar ini tetap sama, meski mereka bertempur di medan terbuka maupun di tengah kota. Tugas Komandan adalah untuk membangkitkan semangat para prajurit, melatih keterampilan bertarung mereka, dan memimpin pasukan menuju kemenangan.


Namun, TNI berbeda. Mereka tidak menggunakan perisai dan tombak, apalagi kuda serta membentuk sebuah formasi. Mereka akan berlari dan menyebar, berhenti kemudian bersembunyi di semak-semak, dan berkomunikasi dengan kode-kode yang telah dipelajari saat masih di akademi. Mereka adalah senjata hidup, yang bertempur diantara keheningan dan gerakan yang tenang.


Pada yang sama, mereka berdiri sambil menenteng senjata tongkat baja hitam panjang.


“Apa senjata yang kalian gunakan?” “Apa itu salah satu dari sihir yang kalian gunakan?” Sigiz berpikir, tetapi tidak menemukan jawaban.


Sigiz dapat membayangkan bagaimana tongkat-tongkat itu menghancurkan musuh dengan sinar cahaya yang meledak. Setelah itu dia mengerti untuk apa TNI dilatih, gerakan mereka dilatih untuk menyembunyikan diri, kemudian menemukan musuh dan membunuh mereka di tempat atau lingkungan apapun.


Nio menolak pernyataan Sigiz yang menyebut senapan dengan ‘tongkat baja hitam panjang’, itu membuatnya menahan tawa karena makna yang terlalu ambigu.


“Kami menggunakan senjata ini sebagai dasar bertempur. Untuk memanfaatkan kemampuan penuh senjata ini, kami telah dilatih dan mengembangkan keterampilan ke tingkat sangat tinggi.”


“Apa itu salah satu sihir yang kalian gunakan?”


“Bukan, di dunia kami tidak ada yang namanya sihir. Prinsip kerja senapan sederhana. Kami memasukkan potongan timah dengan serbuk yang dapat meledak kedalam tabung logam. Kemudian pelatuk ditarik untuk melepaskan potongan timah tadi.”


Nio sendiri juga tidak yakin dengan penjelasannya yang sok tahu itu.


“Apa kalian memberikan senjata ini ke setiap prajurit?”


Nio tidak percaya akan bercerita mengenai hal ini kepada Sigiz. Namun hal ini mungkin bisa sekalian untuk memberitahu Sigiz agar pasukannya tidak mencoba bertempur dengan TNI.


“Ya, setiap prajurit dipersenjatai dengan sebuah senapan.”


Tidak peduli seberapa banyak prajurit yang bertempur dengan zirah kuat dan bersenjatakan pedang paling tajam sekalipun. Jumlah besar mereka tidak akan berguna dihadapan pasukan yang bertempur dengan cara seperti ini. Begitulah Sigiz menilai TNI yang sesungguhnya ia lihat.


Beberapa kendaraan lapis baja pengangkut personel melintas di jalur sebelah kendaraan rombongan Regu 1. Pintu belakang kendaraan terbuka, dan mengeluarkan puluhan prajurit bersenjata lengkap.


Para prajurit bergegas keluar dari kendaraan dan dengan cepat membentuk garis tembak yang rapi, mereka mengarahkan senapan ke lawan imajiner.


Pada saat ini, Sigiz bisa membayangkan dengan jelas Kavaleri berat dan infanteri di tembak jatuh sebelum bergerak oleh pasukan seperti ini. Dia mengerutkan alis dengan perasaan cemas.


Dia takut karena dia sekarang bisa memahami pasukan macam apa TNI itu.


Sigiz kemudian melihat ke arah Nio yang juga memegang sebuah senapan. Jika itu benar-benar senjata, dia harus dapat menggunakannya jika bisa mendapatkan sebuah senapan.


Jika dia benar-benar bisa mendapatkan sebuah senapan, maka setidaknya tidak ada lagi pertempuran dan pembantaian sepihak seperti apa yang dia lihat dulu saat membantu pasukan Garnisun Karanganyar. Tujuannya sekarang adalah mendapatkan sebuah senapan, dan membawanya ke pengrajin terbaik untuk membuat lebih banyak, dengan biaya berapa pun.


Nio melirik ke arah Sigiz yang terus memperhatikan senapannya. Selain melirik wajah cantik Sigiz, dia seolah-olah bisa membaca pikiran Sigiz yang terus memperhatikan senapannya.


Dia segera menggelengkan kepalanya agar tidak terlanjur tergoda dengan Sigiz, kemudian menunjuk keluar jendela.


“Itu tidak ada gunanya, jika anda ingin mengambil sebuah senapan dari kami.”


Di tanah terbuka, sesuatu seperti meriam namun dapat bergerak dengan roda berantai. Itu adalah puluhan unit tank tempur utama dengan meriam railgun dan meriam biasa.


“Ketika anda berpikir senjata kecil ini mematikan, jadi itu berarti harus ada senjata besar yang jauh mematikan.”


Nio memperlihatkan tank dengan meriam raligun memutar turret, dengan ujung meriam yang siap menembakan peluru.


Tidak ada pengrajin di dunia ini yang dapat membuat hal seperti tank, bahkan pistol sekalipun. Tetapi, inilah ‘monster’ dari dunia lain, dan Sigiz bisa percaya sepenuhnya jika negara asal TNI bisa mengalahkan pasukan gabungan lima negara sendirian.


Capung besi, meriam yang dapat bergerak, gerobak lapis baja yang dapat bergerak sendiri?. Apa itu TNI? Kekuatan apa yang bisa menghasilkan hal-hal seperti ini dalam jumlah yang besar?


Mengapa pasukan gabungan lima negara menyerang mereka?


Kebijakan kelima negara yang memutuskan untuk membuka Gerbang dan menghubungkannya ke dunia yang salah, telah mengarah pada situasi seperti ini.


**


“Apa yang kau lakukan hah!?” Nio tidak menyangka jika reaksi Sucipto saat dia membawa Sigiz ke pusat komando pasukan akan seperti ini.


Sigiz dibawa ke sebuah bangunan yang berfungsi sebagai pusat komando pasukan yang dikirmkan ke dunia lain.


Seluruh anggota Regu 1 berpisah dengan Nio dan Sigiz di sini.


Nio berada di ruangan Sucipto untuk melapor, sedangkan Sigiz menunggu di ruang tunggu yang kecil, namun dengan kursi dengan sandaran yang sangat nyaman.


Nio menjelaskan tujuannya membawa Sigiz ke markas pusat secara lengkap dan sesuai dengan yang dia rencanakan sebelumnya. Sucipto mendengarkan penjelasan Nio dengan tatapan tajam dan wajah tegas.


Nio berkata pada Sucipto jika Sigiz ingin meminta ijin kepadanya agar pasukannya dapat melintasi wilayah sekitar Gerbang agar bisa menuju ke ibukota Kekaisaran Luan.

__ADS_1


“Untuk apa mereka menuju ibukota Kekaisaran?” Nio menahan napas untuk menemukan jawaban yang tidak akan membuat gajinya dipotong.


“Siap, kalau soal itu lebih baik anda tanyakan langsung kepada Ratu Sigiz.”


Nio kemudian melanjutkan penjelasannya.


“Jika anda mengijinkan pasukan Ratu Sigiz untuk melintasi wilayah sekitar benteng, kita bisa meminta syarat untuk hal ini,” Sucipto mengangguk-angguk karena mulai mengerti arah pembicaraan ini.


“Syarat seperti apa yang kamu maksud?”


“Siap! Jika anda mengijinkan pasukan Ratu Sigiz untuk melintasi wilayah sekitar benteng, anda dapat mengajukan beberapa syarat. Saya sarankan anda memberikan syarat agar penjelajahan kita lebih luas, tidak sebatas pada wilayah Kekaisaran Luan. Untuk syarat lainnya, itu bisa anda atur sendiri.”


Selesai mendengarkan penjelasan dari Nio, Sucipto terlihat diam sambil melipat tangannya di depan dada. Hal itu membuat Nio gugup dan menelan ludah hingga jakunnya bergerak naik turun.


Butuh beberapa menit hingga Sucipto menanggapi penjelasan Nio.


“Persiapkan tempat untuk pertemuan sekarang juga!”


**


“Mau kemana kamu!?” Sucipto mencengkram kuat bahu Nio.


Setelah selesai menyiapkan ruang pertemuan, Nio berencana untuk beristirahat di barak yang baru selesai dibangun. Namun, Sucipto semakin kuat mencengkram bahunya dan membuatnya mengeluarkan keringat dingin dengan deras.


“Apa kamu akan membiarkanku sendirian tanpa mengerti apa yang dikatakan tamu kita?” Nio menunjukkan wajah penasaran karena perkataan Jendralnya itu.


“Jadilah penerjemahku!”


“Siap! Saya akan mengganti seragam terlebih dahulu,” Nio baru bisa bernapas lega setelah Sucipto melepaskan cengkraman tangan dari bahunya.


Dia harus kembali ke barak untuk berganti seragam tempur lengkap ke seragam dinas upacara yang lebih rapi dan sopan.


Saat Sigiz telah bosan dengan ruangan ini, suara ketukan terdengar dari luar. Sigiz seketika berdiri dari tempat duduknya.


Pria yang masuk tampak telah berusia setengah baya. Rambut hitamnya bergaris abu-abu, dan dia bersama seorang ajudan yang lain, dia adalah Nio. Dia memiliki senyuman yang hangat dan tampak lembut, tetapi ada sedikit kekuatan di balik senyuman itu.


Sigiz merasa jika seragam mereka terlalu jarang dihiasi, selain dari tanda pangkat di kerah seragam.


Sebenarnya, dia merasa sulit untuk percaya bahwa dia adalah Jendral pasukan. Lagipula, dalam pengetahuannya, dada, bahu dan seluruh bagian pakaian perwira tinggi akan dihiasi dengan medali, perhiasan dan hiasan lainnya.


Namun sejak dia tiba disini, Sigiz menyadari jika pasukan ini tidak menyukai hal-hal yang mencolok dan lebih menghargai kesederhanaan.


Di belakang Sucipto, berdiri seorang prajurit yang sangat dikenal Sigiz. Sucipto nampak membisikkan sesuatu ke telinga Nio.


Mereka berdua kemudian masuk untuk melakukan pertemuan dengan Sigiz. Mereka berdua mengenakan seragam hijau yang sama, meskipun ada beberapa perbedaan di antara mereka.


Dari pengamatan Sigiz, ia menyimpulkan bahwa seragam loreng yang berwarna hijau gelap berfungsi sebagai penyamaran dengan medan sekitar, dan itu berbeda dengan seragam yang berwarna hijau juga yang digunakan untuk keperluan upacara.


Sucipto kemudian tersenyum kepada Sigiz, dan mengatakan sesuatu kepada Nio.


Nio kemudian mengangguk, kemudian menerjemahkan kata-kata Sucipto untuk Sigiz dengan bahasa yang dia kuasai.


“Dia adalah Jendral pasukan ini, Sucipto,” setelah itu Sigiz memperkenalkan diri kepada Sucipto. Karena Nio tidak bisa sepenuhnya berbahasa dunia ini, dia menggunakan beberapa kata yang maknanya mendekati dengan kata yang belum dia mengerti.


“Dia adalah Ratu Kerajaan Arevelk, yang mulia Ratu Sigiz,” setelah mendengarkan perkataan Nio, Sucipto memberikan isyarat kepada Sigiz untuk duduk.


“Silahkan duduk, Ratu Sigiz.”


Setelah itu, Sucipto dan Nio duduk bersampingan, berhadapan dengan Sigiz. Nio kali ini bertugas sebagai penerjemah mereka berdua.


“Tujuan kami adalah ibukota Kekaisaran. Jumlah pasukan yang akan melintasi sejumlah 142.210 prajurit,” pernyataan Sigiz yang terlalu terbuka menyebabkan mata Nio dan Sucipto melebar.


Jumlah tersebut lebih banyak dari jumlah keseluruhan prajurit Kesatuan Tentara Pelajar yang berjumlah 124.290 prajurit. Jika pasukan sebesar itu melintas di dekat benteng, itu pasti akan menyebabkan kehebohan bagi para prajurit. Tentu saja jika Sigiz meminta ijin Sucipto agar pasukannya dapat melintasi wilayah sekitar Gerbang, karena inilah jalur terdekat untuk menuju ibukota Kekaisaran Luan.


Jika pasukan yang dia pimpin memilih jalan memutar, perjalanan akan memakan waktu 2 bulan. Para prajurit tentu saja membutuhkan istirahat, dan kuda serta wyvern harus memperoleh makanan.


“Jika begitu, saya harap anda sudah dapat menebak sebelumnya, jika kami akan mengajukan beberapa syarat agar pasukan anda dapat melintasi wilayah sekitar Gerbang.”


“Ya, saya sudah memikirkan hal itu, anda pasti akan mengajukan beberapa syarat.”


Sucipto memandangi Nio yang sedang menuliskan sesuatu, mereka berdua kemudian mengangguk bersamaan.


Sigiz baru pertama kali melihat Nio tersenyum licik kearahnya, namun dia tidak melihat ada unsur jahat pada senyum licik Nio.


“Semoga saja syarat yang anda berikan menguntungkan kedua pihak.”


“Ya, saya juga berharap demikian. Jadi, apa bisa kami mengajukan persyaratannya sekarang?”


Tanpa pikir panjang Sigiz menjawab pertanyaan Sucipto.


Sikap Indonesia terhadap perwakilan negara lain adalah meresponnya dengan terbuka. Artinya, perwakilan Indonesia akan langsung mengatakan syarat bila terdapat unsur seperti itu, to the point.


Sigiz sudah bisa mengira, jika pasukan TNI dan pasukan gabungan lima negara belum menandatangani perjanjian damai. Hal ini juga merupakan masalah bagi Kerajaan Arevelk, kemungkinan negaranya terlibat pada perang ini bisa saja menjadi besar.


Itulah mengapa, Sigiz berharap syarat yang diajukan tidak mengandung unsur militer.


“Kami akan mengijinkan pasukan anda untuk melewati wilayah sekitar Gerbang, jika anda juga mengijinkan kami untuk melakukan penjelajahan di negeri anda.”


Pada akhirnya, Sigiz tidak bisa bernapas lega karena syarat yang diajukan Sucipto, karena hal itu masih mengandung unsur militer. Jika pihak militer Kerajaan Arevelk mengetahui hal ini, kebanyakan dari mereka pasti akan menolaknya.


Namun, jika syarat ini tidak diterima oleh Sigiz, dia tidak dapat melindungi negaranya dan harus rela wilayah Kerajaan Arevelk menjadi medan perang.


“Apa saya juga boleh mengajukan sebuah syarat?”


Sucipto dan Nio langsung saling bertatapan, mereka tidak menyangka sebelumnya jika Sigiz juga akan mengajukan syarat.


“Kalau boleh tahu, bisa anda katakan syarat apa yang anda ajukan?”


“Perjanjian perdamaian.”


Nio memotong pembicaraan, “Tapi negara kita tidak berperang kan?”


“Peltu Nio, kamu membuat tamu kita tidak nyaman!”


“Siap! Maafkan perilaku saya yang kurang sopan,” Sigiz hampir tidak bisa mengeluarkan jawaban jika dia tidak memikirkan hal ini sebelumnya.


Namun dia juga tidak menyangka jika prajurit bawahan harus bersikap tegas pada prajurit atasan, bahkan untuk meminta maaf sekalipun.


Nio berpikir jika Sigiz mengajukan perjanjian perdamaian karena pihaknya terlibat di perang ini, walau hanya dalam hal kecil.


“Ya, pasukan Kerajaan Arevelk tidak berperang dengan dunia asal kalian, karena kami sudah tahu kekuatan militer kalian. Namun, ini demi keamanan kerajaan saya, jika tidak ada perjanjian perdamaian maka pasukan kalian tidak dapat menjelajahi wilayah kami.”


Sucipto mengelus dagunya yang telah ditumbuhi jenggot yang sudah dia potong, jenggot miliknya nampak sudah berwarna abu-abu. Dia tidak menyangka jika pertemuan ini akan berjalan cukup lama.

__ADS_1


Sucipto berpikir jika TNI sendiri belum melakukan pertemuan dengan pemimpin negara yang berperang dengan Indonesia, namun pihak Kerajaan Arevelk justru ingin mengajukan perdamaian terhadap TNI.


“Nio, apa kamu punya jawaban yang pas?”


Pertanyaan yang Nio dapatkan dari Sucipto, membuatnya berpikir jika dirinya terlalu banyak diandalkan Sucipto. Namun dia tidak merasa kesal atau semacamnya, karena jika seorang atasan terlalu banyak mengandalkan bawahannya, itu merupakan kebanggaan bagi bawahan tersebut.


“Siap! Ya, karena bisa saja jika kita melakukan penjelajahan di wilayah Kerajaan Arevelk tanpa sepengetahuan militer negara tersebut, bisa-bisa kita dianggap pasukan yang hendak menginvasi negara tersebut. Lebih baik kita cari aman.”


“Maksudmu, perjanjian perdamaian bisa digunakan sebagai proposal supaya kita bisa menjelajahi kerajaan itu?”


“Siap! Benar,” Sucipto mengangguk kecil setelah cukup mengerti dengan penjelasan Nio.


Dia tidak salah memilih pendamping pada pertemuan ini.


“Baiklah, setelah pasukan anda selesai berperang dengan Kekaisaran Luan, kita bisa mengadakan upacara penandatangan perjanjian perdamaian.”


“Perkataan anda bisa saya anggap jika pasukan saya diijinkan melintasi wilayah sekitar Gerbang?”


“Tentu saja, semoga setelah ini kita bisa terus melakukan perjanjian yang menguntungkan bagi kedua negara,” Sucipto melakukan pose ingin menjabat tangan Sigiz. Namun Sigiz tidak mengerti apa yang dilakukan Sucipto.


Kemudian Nio berbisik kepada Sigiz jika ini adalah salam persahabatan, dan dia harus menjabat tangan Sucipto.


“Saya juga berharap demikian.”


**


“Oke, sepertinya tinggal makan malam terus tidur.”


Namun pekerjaan Nio belum selesai, dia masih harus menulis laporan dengan batas waktu lima hari pengerjaan. Tidak hanya itu, dua hari lagi dia harus mengantarkan Sigiz ke wilayahnya. Hanya memikirkan hal itu sudah cukup untuk membuat Nio berjalan dengan lemas.


Namun, Nio akan mengkhawatirkan hal itu belakangan. Dia kemudian membuka laci meja kerjanya dan memeriksa beberapa lembar kertas yang berisi laporan yang belum selesai direvisi. Nio juga menyimpan smartphone nya di laci tersebut, kemudian dia melihat jika smarphone nya menerima banyak pesan.


Nio sudah bisa menebak siapa yang akan mengiriminya hingga ribuan pesan pendek, dia kemudian membuka aplikasi pesan singkat dan melihat jika Arunika mengirimkan 1124 pesan, Indah 23 pesan, Lisa 12 pesan, Nike 41 pesan, Surya 18 pesan dan 1 pesan dari Presiden Suroso.


“Siapa yang memberikan nomorku padanya?” pastinya Nio sudah bisa menebak pihak yang memberikan nomor teleponnya, karena presiden bisa melakukan apa saja untuk menemukan orang yang dia incar.


Dia tidak bisa mengabaikan pesan dari orang nomor satu bangsa Indonesia itu, dia seketika membaca pesan yang cukup panjang itu. Pesan itu dikirim beberapa jam yang lalu, dan Nio merasa tidak sopan jika mengabaikan pesan itu.


[Selamat siang waktu Indonesia, Peltu Nio. Aku harap keadaan di sana baik-baik saja. Kamu sebenarnya cukup terkenal disini, pastinya kan? Lagipula adikku juga sangat mengagumi dirimu dan langsung mendaftar sebagai bagian dari Tentara Pelajar.


Kamu pasti tidak suka pesan yang terlalu bertele-tele. Kalau begitu langsung saja, awal bulan November nanti akan ada beberapa perwakilan dari Kementrian Luar Negeri dan Kementrian Pertahanan yang akan mengujungi dunia lain. Aku memerintahkan dirimu langsung untuk menjemput mereka dan membawa beberapa prajurit bawahanmu.


Kau adalah salah satu dari sekian orang yang mendapatkan kabar khusus ini, sebentar lagi kita akan mengadakan perjanjian perdamaian dengan negara yang berperang dengan Indonesia. Kita harus melakukan hal itu bagaimanapun caranya, bahkan harus bertempur lagi sekalipun.


Saat kamu membaca pesan ini, pasti keadaanmu sekarang sangat kelelahan. Semoga kamu mendapatkan perlindungan tuhan disana, sampai jumpa.]


Saat memikirkan pesan dari Presiden Suroso, membuat Nio semakin pusing walau tugas itu masih cukup lama untuk dikerjakan.


Saat baru mengetik beberapa kata untuk laporannya, lampu di tempat ini dan sekitarnya telah dipadamkan.


Sudah terlambat bagi Nio untuk ke kantin, karena pastinya tempat itu sudah tutup jika lampu telah dimatikan.


Karena tidak ada yang bisa lakukan, Nio mengambil sebuah ransum nasi rendang dan sebotol teh.


“Peltu Nio, apa anda ada di dalam?” terdengar suara ketukan dari pintu dan suara perempuan yang memanggilnya.


Ketika Nio melihat keluar, dia tidak melihat siapapun di situ. Dia mengira jika ada seseorang yang mengerjainya, sebelum menolehkan kepalanya ke sisi kiri pintu.


“Dinda, dan kenapa kamu bersama Ratu Sigiz?”


Ternyata setelah pertemuan selesai, Sigiz tidak langsung kembali ke wilayahnya. Tetapi dia justru berkeliling di sekitar benteng seperti pengembara gila, dan terus mengatakan “Tuan Nio…!” berkali-kali hingga membuat prajurit yang melihatnya akan mengira jika Sigiz benar-benar sudah gila.


Sigiz masih mengenakan pakaian resmi kerajaan yang sama saat dia melakukan pertemuan tadi.


Sigiz tiba-tiba mendekat kepada Nio dan bersembunyi di belakang punggungnya. Nio memerintahkan Dinda untuk mengatakan kejadian ini.


“Saya menemukan dia di ruang tahanan, karena prajurit yang melihat mengira jika dia orang gila dan langsung membawanya ke ruang tahanan.”


Nio seketika tersenyum kecut setelah mendengarkan penjelasan Dinda, setelah itu dia mengijinkan Dinda untuk kembali ke barak.


Lagipula, Sigiz adalah tipe orang yang dengan mudah menunjukkan perasaannya. Jika dia berkata “Aku menyukai Nio” maka dia benar-benar menyukai orang yang dia maksud.


“Anu, apa anda sudah makan?”


Nio menoleh kebelakang untuk melihat jawaban Sigiz, dia hanya menggelengkan kepalanya. Nio hanya bisa pasrah saat Sigiz terlalu dekat dengan dirinya, dan dia merasakan sesuatu yang lembut mengganjal di punggungnya.


Lagipula di dekat tempat kerja Nio sekarang, terdapat barak kosong yang akan dihuni bagi pasukan yang akan dikirimkan setelah tahun baru. Karena itu, lebih baik mencari tempat tidur bagi Sigiz agar dia bisa tidur di sini.


Sigiz nampaknya telah mempercayai setiap tindakan Nio terhadapnya, mengingat dia hanya menempelkan wajah dan dadanya di punggung Nio dan berhasil membuat jantung pemuda itu terpacu dengan cepat dan wajahnya berubah menjadi merah.


Saat merasakan sesuatu yang lembut dipunggungnya, Nio hanya bisa menelan ludah berkali-kali sambil menahan dirinya.


Nio menyiapkan tempat tidur bagi Sigiz di salah satu barak yang masih kosong.


Selesai menata tempat tidur di sarang kecil yang nyaman ini, Nio melihat Sigiz hanya berdiri mematung di pojok ruangan. Dengan tubuh yang disinari cahaya dua buah bulan, Nio bisa melihat Sigiz dengan tatapan kagum, karena belum pernah melihat tingkat kecantikan seperti ini.


Kulit yang putih dengan badan yang sepertinya ideal, orang-orang pasti akan mengira jika Sigiz seusia 20-an.


Nio membenturkan kepalanya ke pinggir ranjang karena hampir memikirkan hal yang berbau seksual dengan Sigiz sebagai objeknya. Dia mencoba menenangkan pikirannya dan berpikir secara rasional dengan menahan hasratnya. Dia teringat dengan seorang adik kelas yang bersekolah di SMA yang sama dengan Nio yang sudah hamil hingga melahirkan bayi.


Nio belum pernah menanyakan usia Sigiz secara langsung, tetapi inilah saat yang tepat baginya untuk menanyakan hal itu.


“Maaf, apa bisa saya menanyakan satu pertanyaan?”


“Kamu tidak perlu bersikap sopan seperti itu, anggaplah aku seumuran dengan mu. Apa yang ingin kamu tanyakan, tuan Nio?”


“Anu, kalau boleh tahu, berapa usia anda?”


“60 tahun.”


Suara angin malam yang sejuk, dan langkah sekelompok prajurit yang sedang berpatroli, dan wajah datar Nio setelah mendengar jawaban Sigiz.


Jakunnya bergerak naik turun karena tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Selama ini, dia belum pernah meleset soal menebak usia seseorang, namun inilah kegagalan pertamanya dalam hal ini.


Nio merasakan Badannya mulai berat setelah beberapa menit berdiam diri. Kelelahan yang dia tanggung terlalu banyak bagi Nio untuk dia tahan.


Setelah menghabiskan 15 menit untuk mematung, Nio akhirnya tertidur dengan pose terduduk di pinggir ranjang.


Sigiz menatap Nio yang sedang tertidur seperti wanita dewasa yang telah menemukan ‘mangsanya’.


Perasaannya terhadap Nio tidak akan pernah dia khianati, meski baru beberapa bulan mereka bertemu dan mengetahui jika Nio adalah orang yang diramalkan. Saat mengetahui Jika pemuda ini adalah orang yang diramalkan, Sigiz merasa sedih. Karena Nio akan menanggung tanggung jawab yang sangat besar di masa depan jika perang ini belum berakhir dalam waktu dekat.


Sigiz kemudian duduk di dekat Nio dan belum memulai tidurnya, dia melihat sebuah kesempatan.

__ADS_1


Sigiz mendekatkan wajahnya ke wajah Nio dan melakukan hal yang sering di lakukan oleh sepasang kekasih. Meski bibir Nio terlihat kering, namun Sigiz nampak menikmati ciumannya.


__ADS_2