Prajurit SMA

Prajurit SMA
Target 1


__ADS_3

Mata Nio agak goyah, ketika menyadari bahwa pasukan kawan tidak memiliki tenaga cukup untuk menghadapi seluruh pasukan yang dikirim Aliansi. Melepas helm tempur-nya, Nio mencabut pedang dari sarung yang terpasang di rompi angkut, dan memasang magasin pada pistol miliknya. Panas medan perang terserap ke dalam tubuhnya, kedua tangan yang menggenggam menghangatkan gagang pedang yang sebelumnya mendingin.


Yang paling tidak bisa dia lakukan adalah berjuang sendirian, dan memaksakan diri untuk tetap tersenyum setelah mendapatkan kemenangan melelahkan yang menyakitkan.


“Seharusnya mereka memeriksa ada yang ketinggalan atau tidak.”


Nio bergumam kesal kepada bawahannya yang meninggalkannya di tengah desa terbakar, saat musuh masih berkeliaran di sini. Kemudian, sebuah tembakan tunggal dari pistol 10mm-nya mencabut nyawa seorang komandan infanteri lapis baja Aliansi, yang berusaha memenggal kepalanya.


Tangan Nio tersentak kebelakang ketika menyerap recoil dari pistol, dan ujung pistol yang masih mengeluarkan asap tampak goyah. Dia lemah saat sendirian, walau dikenal sebagai Prajurit SMA terbaik yang berjuang di dunia fantasi ini.


Ketika melaksanakan tugas biasa, Nio selalu memeriksa kelengkapan tim, termasuk personel dan hal-hal sepele seperti apakah seluruh anggotanya sudah buang air. Para gadis dan Demihuman Pembunuh Senyap melawan seluruh infanteri Aliansi di desa terbakar ini, tanpa perintah dari ketua mereka. Hal tersebut memebuat situasi menjadi sangat jelas, yakni mereka akan melakukan apapun untuk menjaga Nio – orang paling penting untuk Persekutuan di Periode Perang Besar nanti.


Tidak ingin dirinya sendiri kerepotan, Nio menyebut para senjata hidup lapis baja itu dengan infanteri berat. Mereka adalah pejuang yang bertarung sambil menerapkan taktik konvensional, seperti peperangan abad pertengahan. Menurunkan peluru kendali anti-personel portabel dalam usaha menghancurkan infanteri lapis baja, serangan itu belum mampu menusuh jantung formasi infanteri yang rapat dan terpecah-belah.


Hanya menghujani mereka dengan peluru dan peledak sebagai cara tercepat untuk menghabisi gerombolan Aliansi bodoh itu.


Sistem alat utama persenjataan Aliansi adalah prajuritnya. Ancaman infanteri Aliansi berada di tingkat paling rendah, menurut standar peperangan modern. Daya serang dan kualitas mereka lemah jika berhadapan dengan prajurit ‘dunia lain’, namun sebanding dengan infanteri Arevelk dan Yekirnovo. Dan ketika bertarung dengan sekutu Indonesia itu, para tentara Aliansi tidak memiliki cara selain bertarung seperti biasa, menggunakan taktik gelombang manusia dan formasi kura-kura.


Arevelk, Yekirnovo, dan pasukan tradisional Aliansi ahli dalam pertempuran jarak dekat, dan kini mereka tengah berada dalam pertarungan sengit di dekat Benteng Girinhi. Kemampuan tempur ketiganya tidak jauh berbeda satu sama lain, hanya satu perbedaan yang mempengaruhi kemampuan tempur, yakni moral masing-masing prajurit.


Dua kompi infanteri ringan dan berat Aliansi dihancurkan dalam pertempuran selama 3 jam dalam pertempuran di depan gerbang utama Benteng Girinhi. Namun, korban di pihak Yekirnovo dan Arevelk semakin bertambah,seiring lamanya pertempuran. Namun, peluan kemenangan Persekutuan lebih besar, dengan adanya pasukan ‘dunia lain’. Namun, meminta bantuan kepada mereka tidak seperti harapan, pertempuran terjadi di seluruh area sekitar Benteng Girinhi.


“Hancurkan benteng lemah ini, dan dapatkan target!” seorang komandan infanteri lapis baja Aliansi berteriak, dibalas sorakan dari para prajuritnya yang bertarung melawan Persekutuan.


Ancaman utama Aliansi bukanlah Persekutuan dan Pasukan Perdamaian, namun sosok yang akan muncul di akhir Periode Perang Besar, Pahlawan Harapan yang dijanjikan. Ancaman itu akan didapatkan oleh mereka, melalui berbagai usaha, seperti berbagai pertempuran yang semakin sering mereka kobarkan ini. Senjata kuat itu akan dimanfaatkan dalam perang terbesar di kedua dunia, demi menguasai kedua dunia juga.


Namun, peluang mereka dalam pernyerangan terhadap Benteng Girinhi tidak menguntungkan. Bantuan dari para Pahlawan akan memakan waktu, dan jalan keluarnya adalah terus berjuang.


Setelah keluar dari desa yang terbakar, Nio bersama para gadis, Pembunuh Senyap, dan peleton Sigiz menyaksikan pasukan Arevelk serta Yekirnovo kesulitan menahan serbuah Aliansi yang berusaha menjebol gerbang utama benteng.


Begitu target terlihat, seluruh komandan pasukan Aliansi bergerak ke tempat lain, tanpa menghiraukan serangan balik Arevelk dan Yekirnovo.


“Itu dia! Orang yang ditunjuk sebagai Pahlawan Harapan!”


Pergerakan musuh mengarah ke Nio, mengejutkannya dan orang-orang yang tidak menduga berubahnya tujuan lawan.


Nio menyadari bahwa walau dia sudah mengalahkan musuh di desa, walau berakhir terbakarnya desa itu, Aliansi bisa merubah pola serangan mereka. Wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut dan gugup yang bersatu.


Ketika melakukan pertempuran di benteng, baik itu pertempuran langsung atau pengepungan, sudah menjadi rahasia umum untuk mengerahkan seluruh pasukan dalam satu gelombang besar sedemikian rupa sehingga sesama kawan saling membunuh dapat dicegah. Dan itu seharusnya sudah dilakukan Aliansi setelah target mereka telah muncul, lalu menyerang seluruh pasukan di Benteng Girinhi sekaligus.

__ADS_1


Infanteri berat, ringan, ditambah sejumlah peleton kavaleri biasa menghalangi jalannya menyusul bawahannya. Yang berarti, musuh telah memisahkan pasukan kawan menjadi dua, dan terjebak dalam zona serang Aliansi. jarak musuh yang semakin dekat, memungkinkan Nio harus mengandalkan para gadis, Peleton Sigiz, dan Pembunuh Senyap.


Jika seluruh kekuatan musuh bergabung, maka pasukan akan kesulitan.


Menghindari tebasan seorang infanteri musuh, Nio melepaskan sebuah tembakan ke arah kepala lawannya, lalu menusuk dadanya yang dilindungi zirah logam tipis. Barisah musuh benar-benar rapat, dan dia harus menemukan celah untuk menerobos kepungan musuh. Beberapa bagian seragam lapangan Nio robek, dan luka sayatan pedang yang disebabkan musuh tercipta di berbagai tempat di tubuhnya. Rasa sakit di sekujur tubuhnya membuatnya meringis, namun berusaha hingga pertarungan ini berakhir.


“Anda sekarang adalah target Aliansi, Tuanku. Mereka akan terus berperang hingga Anda kelelahan, lalu menangkap Anda.”


Hevaz terbang di atas kepala pasukan Aliansi, memenggal satu persatu kepala tentara lawan hingga jumlahnya tak bisa dihitung dengan jari. Dia meneriakkan kata-kata itu untuk Nio yang tampak hampir kelelahan.


Mata Nio menyipit, dan mulutnya tersenyum kecut saat menyadari bahwa dia merupakan ‘target’ penting bagi musuh. Dia menilai musuh menganggapnya sangat berharga, daripada orang-orang yang dikenalnya menganggap dirinya. Musuh mengejar dirinya, untuk dijadikan senjata hidup atau menjadikannya seperti Pahlawan-Pahlawan Aliansi.


“Aku tidak bisa mengalahkan mereka …”


Mantan kekasih dan sahabatnya dipaksa musuh untuk berjuang bersama mereka, dan membunuh banyak rekan-rekannya di penyerbuan besar pertama Aliansi yang tercatat sejarah. Dibentuknya pasukan tentara muda adalah sebagai tenaga tambahan untuk menekan musuh, tanpa maksud mengorbankan banyak darah para remaja.


Tapi, Nio bisa merasakan bahwa tujuan musuh benar-benar untuk mengambil dirinya. Tatapan semua musuh tertuju padanya sekarang.


Perang ini mungkin bukan hanya untuk sebagai panggung pertunjukan siapa yang kuat lalu dapat berkuasa, serta yang lemah yang patut untuk ditindas dan dikalahkan.


“Apa?!” tiba-tiba perasan Nio berubah, dan merasakan sesuatu yang memiliki kekuatan luar biasa mengincar dirinya. Sosok yang pernah dekat dengannya, namun sekarang berubah menjadi gelap dan dipenuhi amarah.


“Aku akan mengalahkan semua musuh …”


Mungkin itu kata-kata yang keren dan diucapkan para tokoh utama novel dan film aksi, namun membuat Nio bertanya-tanya apakah dirinya mampu melakukannya walau mendapatkan berbagai dukungan.


Nada suaranya sama seperti perasaannya, takut terhadap hal ‘itu’ terulang kembali.


Tangan bionik kanannya menggenggam pedang dan pistol pada tangan kiri, dan mampu menciptakan ancaman bahkan sebelum kedua senjata itu diperlihatkan fungsi aslinya sebagai alat pencabut nyawa.


“Tuan Nio, saya merasakan sesuatu yang sangat buruk,” ucap Hevaz cemas.


“Apa yang Anda rasakan, Yang Mulia Hevaz,” Ebal bertanya, namun Hevaz masih memejamkan matanya, untuk memastikan apa tebakannya benar atau meleset.


“Seperti kekuatan salah satu Pahlawan milik Aliansi, namun sangat suram. Seperti yang dimiliki Tuan Nio,” Hevaz mengatakan bagian akhir kalimat dengan nada suara lirih, berdoa agar sebagian ucapannya tidak didengar tuannya.


Menahan serbuan puluhan infanteri Aliansi, Sigiz bertanya pada Nio, “Apa mundur pilihan bagus?”


Seluruh orang menolah ke arahnya, namun tindakan yang Nio tunjukkan masih berupa perlawanan terhadap musuh-musuhnya. Dia harus menyelesaikan tujuannya, atau pertarungan ini mengakhiri dirinya.

__ADS_1


Langit mendung, dan awan-awan hitam serta abu-abu bergerak, disertai angin berkekuatan sedang, dan mempu menerbangkan debu-debu dan dedaunan kering. Panji-panji Persekutuan dan Aliansi yang menjadi kain kotor dan robek, serta beberapa bagian benteng yang hancur menjadi bongkahan batu terlihat jelas.


Aliran darah, suara dentingan dua logam serta ledakan dari pemboman menggetarkan hati, membuat pikiran seluruh pejuang bercampur. Dengan latar belakang abu-abu, pertempuran di Benteng Girinhi seperti penyerbuan besar pertama Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi TNI, menurut Nio.


Namun, Nio tetap berusaha berpegang teguh pada berbagai tujuannya berjuang, diawali dengan mengalahkan semua musuh di pertempuran ini. Itu termasuk pemimpin-pemimpin negara anggota Aliansi, bangsawan, dan prajurit lawan yang memiliki semangat juang rendah, serta seluruh musuh Indonesia.


Beberapa jalur cahaya berwarna merah gelap terlihat di langit, dan melesat dalam lintasan parabola.


“Semua prajurit, mundur sementara!” sejumlah komandan Aliansi meneriakkan kalimat itu, dan para prajurit bergerak ke arah hutan beramai-ramai.


Nio pernah melihat dampak dari jalur cahaya merah itu, yang membuat banyak korban di pihak TNI pada penyerbuan pertama Aliansi, yang menyebabkan pertahanan hancur berkeping-keping.


“Menghindar dari tempat ini, semuanya! Cepat!”


Para Pembunuh Senyap melompat, para gadis berlari cepat, dan beberapa pasukan Arevelk serta Yekirnovo bergerak secepat mungkin untuk menjauhi area tumbukan jalur cahaya berwarna merah yang sedang melesat turun ke arah mereka.


Apakah itu insting pejuangnya atau pengalaman bahwa dia pernah melihat serangan Sihir Artileri? Apapun itu, serangan itu memaksa Nio melompat demi menyelamatkan diri dari dampak tumbukan Sihir Artileri. Dengan kecepatan mach-5, hantaman jalur-jalur cahaya itu menghasilkan dampak seperti peluru kinetik. Gelombang kejut yang melesatkan tanah dan batu ke segala arah dalam kecepatan tinggi, memakan tubuh tanpa nyawa tentara Aliansi dan Persekutuan kontingen Arevelk dan Yekirnovo, menciptakan enam buah kawah sedalam lima meter yang membara layaknya hantaman meteorit.


Area padang rumput berubah menjadi hangus dalam sekejap mata.


Ledakan Sihir Artileri itu sangat keras, dan Nio yakin tank tempur utama akan hancur jika terkena serangan magis tersebut. Asap hitam tebal menutupi sebagian besar area terbuka di sisi utara benteng, mengurangi jangkauan penglihatannya.


Terpesona dengan hasil serangan sihir musuh, Nio sendiri hampir gagal menyelamatkan diri dari radius efektif ledakan yang menghancurkan. Tapi, dia terluka di beberapa bagian. Sebagian perbannya robek, memperlihatkan luka bakar yang belum sepenuhnya sembuh. Seragam lapangannya dinodai oleh tanah dan warna hitam.


Serangan mematikan itu menarik perhatian Kompi Bantuan 002 yang berjuang membersihkan sisa kavaleri senapan musuh, batalyon kavaleri gabungan berusaha mundur dari ribuan kavaleri senapan Aliansi, dan Tim Ke-12 yang belum selesai menangani serbuan monster terlatih lawan.


Nio menggunakan pedangnya sebagai tongkat untuk membantunya berdiri, dia sudah kehilangan banyak tenaga. Dia tidak akan menjawab “Aku oke, jangan khawatirkan aku!” jika ada yang bertanya dengan balasan seperti itu.


“Gaya bertarungmu yang selalu asal-asalan, akan membuatmu terbunuh jika kau lengah!”


Cemoohan yang berkali-kali Nio dengar hingga membuat dirinya akrab bergema di telinga Nio, membuatnya langsung menoleh ke sumber suara.


Berjalan melalui kepulan asap hitam, seorang Rio berjalan ke arah Nio yang terluka, dengan ribuan tentara di belakangnya. Menatap rendah Nio yang lemah, dia mengucapkan kata-kata mantra yang menyebabkan senapan miliknya bercahaya putih.


Nio tersenyum setelah melihat kawan lama lagi setelah waktu lama berpisah, dan sebagai senyuman akhir sebelum sahabatnya membunuhnya.


**


Olog note: untuk episode selanjutnya, aku akan mengganti nama Nio dengan ‘Candranala’, karena namanya dengan Rio mirip, sehingga aku takut jika pembaca salah membaca. Penggantian nama hanya sementara, dan akan kembali normal setelah pertempuran Nio melawan Rio berakhir.

__ADS_1


__ADS_2